Yongguk mengamati wajahnya yang terlihat suram dan tidak bersemangat di depan cermin. Ini bukan karena ia lelah. Ini bukan karena ia habis dimarahi Chungha.
Ini karena hari ini akan menjadi hari penentuannya. BA akan melakukan hiatus yang disesuaikan dengan persiapan pernikahan Yongguk. Ia harus menentukan apa ia benar harus menghadapi pernikahan ini begitu saja, atau membiarkan BA dalam kekacauan lainnya. Konser ini adalah konser terakhirnya sebelum hiatus.
Yongguk mendesah lemah. Kurun waktu sebulan ia harus menghadapi masalah demi masalah yang menempatkannya pada pilihan sulit. Ia harus menjalani semuanya. Sampai ia bahkan tidak bisa konsen selama beberapa latihan ini. Syukurlah para member tidak menyadari.
"Kau sedang tidak enak badan?" Daehyun baru saja masuk ke ruangan, membawakan sebotol minuman berenergi yang diinginkan. Minuman itu langsung ditegaknya.
"Tidak apa, aku baik-baik saja."
Daehyun tahu itu bukan baik-baik saja yang seharusnya. Ia selalu bersemangat di waktu sebelum konser, bahkan tidak akan bisa diam. Namun kali ini pria itu menjadi penyendiri, duduk lemas di atas meja rias seolah bingung apa lagi yang mesti ia perbuat.
Kacau. Itu kesan Daehyun. Pria itu lebih memilih menjauh meninggalkan Yongguk, dan memberi ruang untuknya. Saat keluar pintu, ia langsung memencet nomor di HP nya. Menghubungi seseorang.
"Kau sudah dimana, Youngjae?"
Youngjae memperhatikan jam tangannya. "Mungkin sekitar setengah jam lagi." Ia berbisik ke HP nya agar teman-temannya tidak terganggu dengan percakapannya.
"Aku hanya memastikan Himchan benar-benar datang."
Youngjae mendesah kecil. Ia memperhatikan pemandangan keluar mobil yang berlalu lalang. "Iya bersamaku sekarang. Tapi Himchan keliatannya sedikit tidak konsentrasi. Entah kenapa." Matanya agak melirik ke sampingnya dimana Himchan sedang tertidur.
"Yongguk juga disini. Ia terlihat tidak semangat untuk konser hari ini."
Youngjae mengerut dahi. Heran. "Tumben sekali. Yongguk itu kan seperti ayah buat kalian. Paling inisiatif di setiap konser yang diadakan. Paling mendukung. Bahkan mungkin moodbooster untuk menyemangati kalian. Dia bahkan mungkin masih cukup bertenaga hingga akhir konser, menemui para fans, dan para crew, juga—"
"Hei, hei. Aku juga tahu. Jangan puji-puji dia. Aku jadi iri tau, gak."
Mendengar dengusan Daehyun di seberang HP nya, membuat Youngjae latah tertawa kecil. Daehyun begitu menggemaskan ketika sedang menyatakan rasa cemburunya, seperti seorang anak kecil.
"Tapi aku tau, kau melakukan hal terbaik. BA tidak akan ada tanpamu."
Suara lembut Youngjae yang terasa berbisik di telinganya membuat hati Daehyun bergetar kalut. Ia ingin sekali mendekap erat Youngjae sebagai obat penyemangatnya. Namun batas yang ada, tidak memungkinkan. Kalimat Youngjae sudah cukup untuk membuatnya perform lebih maksimal nanti.
"Hati-hati, aku tak sabar bertemu denganmu."
Pipi Youngjae bersemburat. Untung saja ia tidak melihat langsung betapa lucu pipi bulatnya memerah malu saat ini, pikirnya.
Junhong mengamati dari spion, melihat dan mendengar Youngjae bercakap dari telepon. Melihat wajah segar sahabatnya yang kembali tersenyum, membuatnya lebih lega. Junhong menarik napas, ia pun juga rindu menghubungi Jongup. Namun ia berjanji, tidak akan menelpon sama sekali Jongup sebelum konser selesai.
Mobil yang mengantarkan mereka ke tempat konser telah terparkir. Wongjun membukakan pintu untuk ketiganya. Himchan baru saja terbangun, kelelahan karena menjaga ibunya seharian. Tapi sehabis terbangun, ia merasa perutnya rada tidak enak.
"Kau tidak apa-apa?" Junhong membantu Himchan yang agak tidak enak badan. Youngjae sudah melompat kegirangan mendekati venue seperti fanboy pada umumnya. Lupa diri.
"Aku tak tau. Perutku mual."
"Mau kubelikan sesuatu. Kau sudah sarapan, kan?"
Himchan mengangguk. Mengamati sekitar. Ia lebih mual ketika ia mendekati Venue. Bisa dibilang, gugup?
"Tempat duduk kita lebih nyaman. Kita juga tidak perlu berdiri. Nanti sampai dalam Hyug minum obat yang kubawa ya."
Himchan tersenyum, ia menyandarkan peganganya pada Junhong yang sedang menuntunnya. Ada perasaan tidak enak apa ini yang menganggunya. Apa karena bertemu Yongguk kembali membuat kesan yang begitu sulit dan mengkhawatirkan diembannya?
Di dalam venue, tersebar para penonton yang sudah antusias menikmati konser sebentar lagi. Konser ini berlangsung, mengumpulkan semua penonton dari berbagai fandom. Rasanya beda dari konser terakhir kali Himchan datangi sebelumnya. Lebih ramai, menyesakkan, lebih euphoria.
Venue lebih luas dan memiliki banyak tempat. VVIP mendapatkan tempat duduk jauh lebih nyaman. Tidak jauh, tidak terlalu dekat juga dengan panggung. Tapi cukup pas. Semua bisa menonton jelas tanpa harus dorong-dorongan.
Himchan dan teman-temannya mendapat tempat duduk di barisan tengah. Ia mengamati sekitar, mendapati beberapa penonton selain dirinya juga sudah duduk. Beberapa dari mereka sudah siap dengan kenaan nyentrik dan spesial. Beberapa ada yang pakai baju fashionable , entah model, aktor, atau partner kerja para artis jadi terlihat lain dan paling menarik perhatian. .
Himchan baru saja menikmati tempat duduk nyamannya, seseorang mengamati dari kejauhan. Dahinya berkerut, bibirnye mengerucut kesal.
Kemudian ia kembali memperbaiki duduknya, menghadap ke depan dengan tangan bersidekap sebal. "Kenapa Himchan datang juga kemari, Ayah!?"
Yongin rupanya duduk tepat di samping Chungha. Ia mengamati kekesalan calon menantunya dengan heran, kemudian mengamati ke belakang ia duduk. Mengawasi siapa yang dimaksud.
Benar saja Himchan sedang duduk melihat-lihat sekitar. Meskipun wajahnya terlihat gelisah. Yongin tidak tahu pemuda itu sedang tidak enak badan. Mungkin ia pun tidak peduli. Seringainya terbentuk begitu saja seperti menyimpan hiburan untuk dirinya sendiri. Ia kembali berbalik, duduk mengarah ke depan.
"Itu bagus." Ucapnya dengan nada rendah. Chungha berkelit. Ia melotot kasar tidak terima. "Ayah mendukung Himchan sampai mengejar-ngejar Yongguk lagi?"
Yongin mengeluarkan HP nya. "Ia datang justru untuk mengakhiri hubungan mereka."
"Aku tidak mengerti." Chungha masih terlihat bingung, namun lampu venue sudah dimatikan dimana berarti konser akan segera berlangsung.
Yongin belum konsentrasi melihat ke panggung langsung. Ia bermaksud menghubungi Himchan yang duduk di barisan belakangnya.
Himchan yang sedang fokus menonton keadaan di hadapannya, mendapati pesan masuk ke HPnya. Benar saja, pesan dari Yongin.
Menikmati tempat dudukmu? Aku duduk di bangku paling depan.
Himchan langsung menengok ke barisan paling depan. Kepala pria itu terlihat jelas. Dari perawakannya, punggung tegapnya sudah sangat keliatan. Itu Yongin. Duduk bersebelahan dengan seorang gadis yang begitu antusias juga dengan penampilan cantiknya. Himchan mengerut bibir. Ada rasa tidak suka mengusik dirinya.
Saya melihatmu Yongin-ssi.
Yongin sengaja menengok balik ke arah belakang kembali. Bertemu pandang dengan Himchan yang tersenyum ramah padanya. Yongin juga membalas ramah, meskipun hatinya tidak.
Kau akan bicara tentang kemarin kepada Yongguk?
Himchan menahan napas sejenak. Ada rasa khawatir macam apa ini.
Ya. Tentu.
Yongin mengetik secepat mungkin sebelum perform pertama dimulai.
Aku tahu kau akan mendukung pernikahan Chungha dan Yongguk. Kau adalah calon adik yang baik untuknya.
Dadanya terasa sesak dengan melihat kalimat di dalam hp nya. Ia berusaha menenangkan diri, sambil masih mengukir senyum. Dimasukkan HP nya. Fokus pada konser yang ada. Salah satu girl group sudah memasuki inti panggung mengundang gemuruh dari para fans. Himchan tidak mengenalnya, tidak bisa juga ia menikmati. Hasratnya menonton tidak ada sama sekali sejak awal. Meskipun dua sahabatnya, seperti Youngjae yang sudah mengangkat lighstick miliknya, Junhong sudah bersenandung dengan lagu yang dimainkan.
Himchan yang memang sejak awal merasa mual ingin sekali pergi ke kamar mandi.
"Ingin kuantar?" Junhong yang duduk tepat di sampingnya akan beranjak ikut. Tapi Himchan menolak. "Nikmati saja konsernya. Aku sebentar saja."
Junhong tidak bisa memaksa. Apalagi Youngjae tak boleh merusuh sendiri. Dia paling heboh di antara yang duduk di bangku VVIP. Jadi ia bisa diawasi. Lagipula sangat disayangkan artis ternama yang menarik ditontonnya, akan terlewat.
Himchan akhirnya berjalan keluar venue, mencari lokasi kamar mandi. Di lorong yang tidak terlalu ramai, hanya beberapa crew, dilewatinya. Ia sedikit canggung melewati orang-orang sibuk.
Ia jadi teringat masa-masa dirinya harus melewati para crew di saat konser BA terakhir kali. Sampai kebingungan itu berakhir, dengan bertemu Yongguk. Mungkin pada saat itu ia mengira bahwa itu adalah pertemuan berkesan dengan seorang artis tenar. Padahal Yongguk adalah Jongdae yang menyamar. Laki-laki yang mencuri hatinya sejak paling pertama sebelum 1Yongguk muncul dalam sosok 'Yongguk'.
Nostalgianya begitu jelas, padahal ia ingin lupa. Semua itu hanya jadi abu-abu lagi jika sudah melihat Yongguk menikah, dan ibunya menikahi Yongin. Semuanya akan jadi sia-sia untuk dikenang.
Pintu kamar mandi terlihat semakin jelas di depannya. Ia berjalan mendekat, namun terhalang 2 orang yang barusan keluar. Ia melangkah mundur sedikit memberi jalan para crew yang baru saja menyelesaikan 'tugas wajib' nya.
"BA hiatus, sayang sekali."
Obrolan crew barusan tak sengaja terdengar. Himchan mengurungkan niat untuk masuk ke kamar mandi.
"Kupikir cukup bijak untuk mengundurkan jadwal mereka agar bisa mempersiapkan pernikahan besar."
"Sebelumnya aku tak suka dengan pengumuman itu. Sangat tidak kuduga. Tapi mau gimana lagi."
"Aku penasaran. Pernikahan Chungha dan Yongguk pasti jadi the royal wedding tahun ini yang dihebohkan. Mereka berdua sedang di atas-atasnya, kan?"
Kemudian percakapan itu memudar seiring badan para crew menghilang di belokan. Himchan merasa mualnya semakin menjadi. Rasa takut, gusar, gelisah tak bisa didera. Ia masuk segera ke dalam kamar mandi, sampai ia tak sengaja menabrak seseorang. Pria yang ditabraknya tersungkur jatuh. Himchan terpekik.
"Astaga!" Himchan lekas membantu. Ia segera menolong pria itu bangun. "Maafkan aku. Benar-benar ini tidak disengaja."
Pria itu memang rada kesakitan. Untung saja bokongnya menyentuh duluan, bukan kepalanya. Namun masih bisa ditolelir sakitnya. Sikap berlebihan Himchan yang membuat pria itu jadi salah tingkah.
"Eh tidak apa-apa. Aku tahu rasanya sedang menahan buang air ke—" Pria itu terdiam seketika. Melihat wajah Himchan yang berseri begitu dekat dengannya. Ia kenal betul siapa pemuda yang begitu mencemaskannya itu. Tak salah lagi.
Tapi ia bungkam.
"Anda benar-benar tidak apa? Saya bisa minta tolong?"
"Tidak apa-apa, nak. Aku sedang terburu-buru juga." Pria itu bangun dengan bantuan Himchan. Ia sekali lagi mengamati penampilan pemuda itu dari bawah kaki hingga ujung kepala. Baru kali ini ia berbicara langsung.
Wajahnya manis. Semanis seseorang yang dikenalnya juga.
"Kau datang kesini untuk BA?" entah kenapa ia malah latah mempertanyakannya meskipun berniat awal ia tidak mau lebih lama melayaninya. Tapi ia penasaran.
"Eh.. I—iya." Himchan pasti sudah curiga. Tidak aneh jika pertanyaan itu meluncur ketika konser solo BA, tapi ini konser artis bermacam. Bagaimana ia tahu sekali BA adalah sasaran tontonan Himchan dari sekian banyak artis yang datang?
"Sama aku juga. Gelang merahmu menandakan kau suka Yongguk."
Himchan terkejut dengan pernyataan demikian. Ia segera mengamati gelangnya. Tidak sadar kalau gelang itu punya arti lebih. Youngjae memberikannya Cuma-Cuma, pasalnya aneh jika Himchan datang ke konser tidak pakai starter-kit menonton konser apapun.
"Aku harus segera pergi." Pria itu memperbaiki letak tas kameranya yang tadi tertidur di lantai. Barang-barangnya baik saja sejak terjatuh. "Aku ada urusan."
"Baik, Pak. Sekali lagi saya minta maaf"
Pria itu berlalu. Kamar mandi menjadi sepi hanya Himchan seorang. Percakapan sederhana itu membuat rasa mual Himchan bisa sedikit lega. Barangkali keberadaan gelang Yongguk di tangannya juga membuat efek yang lucu sehingga senyumnya terukir. Aneh rasanya.
Setelah Himchan sejenak mempergunakan kamar mandi sebagaimana mestinya. Ia keluar dari sana. Melewati keramaian yang tiba-tiba. Para crew berlari melintas, membawa banyak barang entah untuk apa.
Himchan sebaiknya kembali sebelum membuat gangguan lain. Ia berjalan cepat pergi.
"Yongguk, kau fokus tidak?"
Yongguk yang sedang kebingungan mencari-cari sesuatu yang terlirik olehnya kembali mengembalikan konsentrasi kepada Dongwook—manajernya—yang sedang membahas perform BA yang tinggal sebentar lagi.
"Yongguk, dari tadi kau terlihat tidak fokus. Apa yang kau cari?"
Yongguk tidak bisa mengaku kalau ia merasa melihat sesuatu yang familiar. Ia seperti menemukan sosok yang begitu dirindukannya lewat begitu saja di kejauhan. Tapi sama sekali ia tidak menemui itu. Mungkin ini hanya perasaannya yang menipu saja.
Ia menarik napas.
"Aku paham."
Daehyun dan Jongup yang sedari tadi terdiam, saling bertukar tatap. Mungkin tahu kecemasan apa yang dipikirkan Yongguk.
"Mari kita lakukan yang terbaik. Ini bukan konser kita yang terakhir. "
Konser berlangsung dengan sangat sukses. Total artis ada 5, termasuk BA yang menjadi artis penutup. Para penonton bersuka ria. Menikmati momentum yang luar biasa. BA sampai membungkuk dalam, menyapa para penggemar.
"Kami sangat menikmati malam ini. Tidak pernah terbersit kisah kami berakhir sampai disini. Doakan untuk kisah-kisah kami selanjutnya setelah hiatus ini berakhir." Kemudian para member membungkuk dalam, membuat beberapa fans menangis begitupun bersorak mendukung. Ini keputusan berat yang belum mereka dengar selama 4 tahun menghibur mereka. Namun kekuatan itu muncul dari perkataan mereka, bahwa mereka akan kembali. Para fans optimis.
Himchan, Youngjae, maupun Junhong tidak terkecuali ikut terharu. Bahkan Youngjae tidak bisa berhenti membersihkan ingus di hidungnya. Meneriaki nama Yongguk berkali-kali, meskipun ia sudah mendeklarasikan diri untuk berhenti menyukainya.
Junhong lebih tenang, air matanya sedikit menitik. Ia bisa bertahan untuk tidak merengek seperti anak kecil. Tapi ia berulang kali mengirimkan pesan pada Jongup. Dukungan yang tidak diketahui siapapun.
Himchan justru tidak menangis sama sekali. Matanya lemas. Menuju ke satu arah meskipun banyak artis yang menarik bisa diliat.
Yongguk tersenyum, melemparkan dadahan dan kiss flying yang membuat para fans lupa akan kesedihan. Ia tidak sadar Himchan di undangan VVIP (atau mungkin menghindari tatapan saja). Himchan menatap kosong dalam diam seperti sedang fokus bermain dengan jalan pikirannya saja.
Kemudian lirikannya berubah kepada Chungha yang duduk beberapa bangku di depannya. Ia melambai tangan antusias, entah dinotis atau tidak.
"AKU INGIN SEGERA BERTEMU DENGAN BA" Youngjae masih merengek. Matanya mengalir air mata terus menerus, sampai bajunya kebasahan. Junhong kalang kabut menenangkan Youngjae. Padahal mereka sudah berjalan mendekat di lorong yang dipenuhi para crew, dan mereka telah dipersilahkan untuk bertemu langsung para member.
"Kau ini kan sudah berkencan dengan Daehyun—"
Seketika Youngjae membekap mulut Junhong dan melempar tatap sengit yang penuh tuntutan. Tangisannya berhenti jadi sebuah scene horror menakutkan. "Ini beda urusan."
Junhong yang pasrah terbekap, hanya bisa mengangguk paham.
Himchan berjalan di belakang mereka dengan konsentrasi kemana-mana. Bahkan tidak sadar jalannya berbeda dari Youngjae dan Junhong yang telah meninggalkannya.
Bruk.
Suara debuman itu hampir saja melempar Himchan ke lantai. Namun ditangkap oleh seseorang. Ia dirangkul mendekat, hingga Himchan bisa merasakan hangat dada bidang itu di kepalanya.
Ia segera menjauhkan diri. Kemudian menengok ke arah tubuh tinggi itu.
"Ah, siapa ini?"
Pria itu tersenyum ramah. Himchan lupa, tapi ia sepertinya kenal.
"Ah, Himchannie~"
Himchan lagi-lagi harus menengok kea rah lain. Seorang wanita dengan pakaian fashionable nya seperti saat di panggung berjalan mendekat dengan sangat antusias. Barulah ia ingat siapa wanita itu.
"Aku amat merindukanmu." Sepertinya ia benar-benar senang mengekspresikan kerinduannya dengan memeluk erat Himchan.
"Diana-ssi.." Himchan memberontak karena pelukannya membuat napasnya tercekat.
"Uww, maafkan aku. Tapi selain si bocah Youngjae itu, yang mungkin sedang bercinta dengan Daehyun—" Himchan sampai mengernyit. Membuat lirikan Diana kearah lain. Ia keceplosan. "—aku juga merindukanmu, nak."
Himchan tersenyum. "Aku juga, Diana-ssi. Ngomong-ngomong, kudengar kau akan berkarir di Perancis?"
"Yah. Aku akan say goodbye dengan Korea. Well, I'll be back, kid. Don't worry." Diana mengelus kepala Himchan seperti seorang adik. "Aku mengkhawatirkan Daehyun saja."
"Youngjae akan menjaganya, jangan khawatir."
Diana mengangguk tentu saja. Perasaan yang tidak khawatir datang karena ada Youngjae yang memastikan rekan lamanya telah memiliki teman baru. Juga, kepada para member BA.
"Diana. Kita harus segera pulang. Besok penerbanganmu pagi-pagi sekali." Pria yang tadi ditabraknya memberikan arahan pada Diana.
"Baik, Jihak ahjussi." Eye smile nya terbentuk. Bahagia.
"Sudah kubilang jangan panggil aku ahjussi di depan orang lain dasar anak nakal" tangannya menoyor kepala gadis itu membuat membuatnya tertawa senang. Tatapan pria itu kembali pada Himchan. "Bisakah kau titipkan salam untuk manajer BA jika kau bertemu mereka nanti?"
Himchan tidak merasa dekat dengan pria itu, tapi keramahannya membuat Himchan hanya bisa mengangguk.
"Aku pergi dulu, ok! Titip salam untukku pada yang lainnya, aku sangat terburu-buru. Nanti liburan, aku kemari bawakan oleh-oleh." Diana segera memberikan kedipan cantiknya. Amat menggoda. Kemudian melanjutkan jalan mengikuti manajernya. "Jangan terus merayu Dongwook hyung. Dia baru saja cerai dari istrinya."
"Yah, siapa tahu mau move on kan? Dan kau bahkan memanggilnya hyung sedangkan aku 'ahjussi'."
Himchan melihat keduanya telah pergi menjauh. Kehadiran mereka mengingatkannya pada urusan awal. Ia sadar bahwa ia malah tersesat ke tempat lain. Terpaksa ia harus melihat sekeliling, dan mencari tahu dari satu pintu ke pintu lainnya.
"Mereka romantis sekali. Aku malu."
"Apasih, jangan sok polos begitu."
Seperti dejavu, percakapan para crew menarik perhatiannya. Ia mengikuti darimana para crew itu muncul. Ia mendekati belokan, dan memastikan bahwa disanalah ia bisa bertemu dengan Yongguk.
Namun ia menyesal setelahnya. Karena pada belokan yang ada, di sebuah lorong yang cukup sepi, seolah tempat itu hanya untuk mereka.
Kedua orang itu berciuman lama. Seperti sedang bercumbu tanpa malu, tanpa khawatir berapa pasang mata yang bisa melihat mereka. Hati Himchan tercabik. Sangat menyakitkan. Kekosongannya semakin jelas terisi oleh rasa sakit hati saja.
Ia lebih baik pergi.
((ps: coba sambil setel lagu Ran – Kokoro wa Sugu Soba Ni ("Dekat di hati" Japanese ver). Garem :'))
"Hei, lagipula aku tetap akan menemuimu. Jangan menangis." Daehyun mencoba membersihkan air mata Youngjae. Tapi tangannya ditepis.
"Jangan sentuh aku, Bodoh. Himchan melihat."
Himchan duduk tak jauh dari mereka. Melemparkan senyuman. Seolah ia baik-baik saja menonton kedekatan antara sahabat dan selebritis itu. Baru saja ia datang menyapa, setelah kembali dari jalan-jalannya. Meskipun ia tahu, ia hanya akan jadi penganggu. Tapi ini lebih baik daripada harus menganggu para crew yang sibuk beres-beres di luar ruang ganti.
"Himchan!"
Pintu terbuka cepat. Yongguk muncul dari pintu dengan cukup panik. Kepalanya menengok ke seluruh ruangan, dan berhenti kepada satu orang. Himchan memandanginya luwes dan tenang. Ia tidak kaget atau bahkan terharu. Tidak sesuai harapan.
"Akhirnya." Yongguk bernapas lega.
Daehyun dan Youngjae tahu mereka hanya menjadi penganggu lainnya untuk kisah Himchan dan Yongguk. Maka mereka pun ijin untuk pergi. "Sebaiknya kami menunggu di luar."
Setelah keduanya pergi, pintu ditutup dan menjadikan ruangan itu hanya untuk mereka berdua. Yongguk tersenyum melebar memandangi kehadiran Himchan yang begitu dirindukannya. Ia ingin sekali memeluk, namun keadaan menjadi sangat canggung. Himchan bahkan tidak bereaksi, membuat Yongguk semakin bingung. Ia harus bersikap apa untuk menyambutnya.
"Hei, sudah lama."
Yongguk menyapa malu-malu. Himchan hanya bisa tersenyum padanya. Tidak hangat, biasa saja. Reaksinya tidak berlebihan seperti Yongguk apalagi Youngjae.
"Apa kabarmu?" lagi-lagi ia mencoba bicara, siapa tahu terbentuk percakapan penting di antara keduanya.
"Baik, Yongguk-ssi."
Syukurlah pemuda itu masih mau berbicara untuknya.
"Aku ingin sekali menghubungimu atau datang ke rumahmu, tapi—"
"Ibuku tidak akan menyukainya."
Yongguk mengangguk, itu jawaban yang benar.
"Selamat atas pernikahanmu." Himchan berjalan mendekat pada Yongguk. Pada saat itu, pria itu menegenakan jas dan kaus longgar di dalam yang sedikit memperlihatkan dadanya. Bau keringat, aksi panggungnya masih cukup terasa. Sexy, dan elegan.
"Himchan aku ingin—" Yongguk mencoba menjelaskan sesuatu, tapi sepertinya terhalang dengan pernyataan Himchan.
"Aku ingin kau bahagia dengan Chungha."
Ucapan itu membuat Yongguk bungkam. Bola matanya melebar kaget.
"Gadis itu sangat beruntung memilikimu." Himchan menepuk jas Yongguk. Kalau saja ia diberi kesempatan memukul, ia pun ingin melakukannya. Ia ingin meluapkan rasa tidak nyaman yang disembunyikan Himchan. "Kau pantas mendapatkannya."
"Apa maksudmu berkata itu?" Yongguk menangkap tangan Himchan. "Apa maksudmu!?"
Himchan menahan napas, serta air matanya. Ia tidak boleh terlihat lemah, atau Yongguk semakin membodohi diri dengan membelanya lagi.
"Kau adalah seorang artis terkenal yang sangat cocok berdampingan dengan model sesempurna Chunga. Dia cantik, dia bisa memberikan keturunan yang baik serta penerusmu. Ia memiliki segalanya."
"Tidak, kau adalah orang yang kusuka, Himchan."
Himchan menarik kembali tangannya. Telinganya panas mendengar itu. "Aku tidak bisa sebaik Chungha. Aku hanyalah fans.
Tidak. Bahkan dari awal aku bukan siapa-siapa. Aku hanya orang yang beruntung mendapat perhatian darimu."
Ucapan itu mengecewakan untuk Yongguk. Sangat kontra dengan semua yang terjadi di antara mereka. Bahkan ucapan cinta yang pernah mereka saling utarakan, tampaknya dilupakan. Dianggap cuman 'bukan apa-apa'.
"Ada apa denganmu? Kalau kau butuh penjelasan soal pernikahan ini, aku bisa menjelaskan semuanya."
Himchan menggeleng. Ia tidak butuh penjelasan. Toh, iya-atau tidak jawabannya, Himchan tidak bisa berbuat banyak selain mendorong Yongguk menikahi Chungha demi kebaikan bersama. "Dengan atau tanpa kau menikahi Chungha, tidak akan bisa mengubah hubungan kita. Kau dan aku tidak bisa melewati batas ini. Aku hanya bisa melihatmu dari jauh, begitu juga dengan kau."
Ia menarik napas, dengan sabar. "Aku hanyalah orang beruntung yang memiliki tiket VVIP yang kemudian hangus dan tidak akan bersisa sampai aku mendapat tiket VVIP lainnya untuk bisa dekat denganmu. Levelku tidak lebih dari itu."
Yongguk menggeleng. Ia tidak terima. Ia menahan tangan Himchan, hingga tergenggam keras. "Aku mencintaimu, apakah itu termasuk 'Tiket VVIP' ?"
"Mencintaiku sama sekali tidak akan memperbaiki karirmu." Himchan menepis tangan Yongguk. "Aku tahu kau berjuang sampai saat ini demi BA. Dan jangan pernah mengubah tujuanmu hanya untuk orang tidak penting sepertiku."
Yongguk melangkah mundur. Kepalanya berkedut lelah mendengar ujaran-ujaran menyakitkan Himchan.
"Lagipula aku akan pergi."
Yongguk menatap Himchan tajam.
"Aku akan fokus dengan kuliahku dan membanggakan ibuku. Itu juga tujuan teratasku. Mencintaimu hanya akan menghalangi cita-citaku."
Skakmat, Yongguk tidak bisa lagi berkutik. Ia total duduk lemas di bangku. Harapannya untuk bisa mengubah rencana pernikahannya, pupus. Himchan bahkan tidak mendukung satu celah pun melepaskan pernikahan kontrak ini. Ia malah ingin Yongguk pergi dengan wanita lain. Membiarkan hatinya terluka terus menerus.
Himchan seolah tidak lagi peduli, entah kenapa. Atau karena patah hati membuatnya merasa dijauhi, atau karena hal lain.
"Apa ini karena ayahku?"
Teguran Yongguk, membuat Himchan diam. Tepat sasaran, namun ia tidak bisa mengungkapkan kebenaran lebih lanjut.
"Kau bahkan lebih memihak pada ayahku kalau begitu. Kau sama saja telah mengecewakanku. Kau sangat keras kepala, dan serakah."
Himchan menahan napas. Dadanya berguncang, sangat emosional. Ia ingin menangis, tapi ia selalu mencoba tenang. Memperlihatkan sisi kedewasaannya.
Tidak kuat berdiri lama di ruangan itu, ia pun berlari keluar. Mendobrak pintu, meninggalkan Yongguk mematung di tempat. Wajah Yongguk masam, tidak bersemangat. Keadaan semakin hancur dimakan waktu, lebih parah dari sebelum konser dimulai. Ia kira semua rasa resahnya terobati dengan kehadiran Himchan, namun malah semakin menyulitkannya.
Ia menenggelamkan wajahnya di dekapan tangan, dan berteriak tertahan di dalam dekapan itu. Selagi ruangan masih sangat kosong, selain ada dirinya.
Himchan—di sisi lain—berlari menghindari semua orang. Ia tak ingin orang lain melihat wajah menyedihkannya. Tapi terlambat ketika ia tak sengaja bertemu dengan Junhong dan Jongup di lorong lain.
"Himchan?"
Air mata Himchan jatuh juga, sontak buat Junhong terpekik. Ia langsung memeluk pemuda itu, dan memberikan elusan punggung. "Kenapa?"
"A—aku akan bawa kalian ke ruang ganti." Jongup hendak beranjak. Namun ditahan Junhong.
"Tidak perlu. Sebaiknya kita pulang. Kau bisa temukan Youngjae?"
Jongup mengangguk. Ia bergerak cepat untuk mencari Youngjae, barangkali ada jalan keluar menyelesaikan keadaan ini. Namun malah semakin kacau setelah Youngjae berhasil ditemukan.
"Aku akan menghajar orang itu!" Youngjae mencoba mengambil langkah lebar untuk menemui Yongguk, namun ditahan oleh Daehyun dan Jongup.
"Sabar, Youngjae. Biar kami yang urus dia!"
"Kau bisa diusir keluar oleh satpam nantinya."
Youngjae mendecih. Ia melampiaskan kemarahannya pada 2 selebritis di hadapannya. "Ini yang sudah kuduga! Apa kalian tidak berpikir sejauh ini!? Sahabatku dikecewakan sekian kali oleh orang keparat itu! Aku tidak akan pernah sudi mempertemukannya lagi. Enyahkan apapun tentang kalian pada Himchan!"
Youngjae menghindari sentuhan Daehyun yang ingin mencoba menenangkannya lagi. Ia harus bersabar dihiraukan pemuda itu yang lebih memilih membantu Himchan pergi. Ketiga sahabat itu kemudian pergi, tanpa mengucapkan apapun. Tentu dua artis yang terkejut dengan kejadian tak diduga ini, membuat mereka harus menelan rasa kecewa.
"Aku berani bersumpah akan menghajarnya setelah aku bertemu dengannya lagi."
"Youngjae tenanglah. Kau hanya akan semakin memperumit masalah. Lagipula mereka artis besar, kau bisa di judge semua fansnya."
"Hoo aku tahu. Tentu saja aku akan balik menuduhnya dengan apa yang dilakukan pada Himchan!"
"Dia punya apapun untuk bisa membela diri. Lagipula kau menyeret Himchan di masalah yang tidak serumit itu."
Youngjae bungkam, ia kalah berdebat dengan Junhong. Ia hanya bisa pasrah melempar punggung di bangku mobil dengan kerutan dahi yang tidak akan mengendur.
"Tidak apa-apa, teman-teman." Himchan tersenyum. "Aku menangis juga karena lega sudah meluapkan segalanya."
Youngjae dan Junhong langsung balik menatap Himchan. "Meluapkan apa?"
"Aku mengakhiri hubunganku dengan Yongguk. Memperjelas bahwa kami tidak akan pernah bersatu. Juga mendukung pernikahannya. Itu saja." Himchan melipat saputangan yang didapatkannya dari Junhong. "Ini justru melegakan untukku. Dia tidak salah."
"Lalu kau tidak rela begitu?"
Himchan memejamkan mata. "Awalnya begitu. Aku mencintainya."
Wongjun sampai melirik ke kaca spion. Agak tercekik pula dengan pernyataan mengejutkan itu. Sayangnya ia tidak bisa masuk ke dalam percakapan. Sementara Youngjae dan Jongup tidak akan sekaget Wongjun, karena itu sudah diduganya. Mereka berdua punya kemistri seperti sepasang kekasih.
"Tapi aku harus meneruskan kenyataan ini, bukan?"
Youngjae dan Junhong mengangguk.
"Lagipula aku akan kuliah."
Pernyataan ini sontak membuat dua sahabatnya terkaget. "Jadi kau akan kuliah!?"
"Aku mendapatkan kesempatan cukup baik." Himchan tersenyum lembut.
"Dimana!?"
"Hei katakan dimana!? Apa kita akan satu kampus juga!?"
Himchan tertawa kecil. Topik entah sejak kapan berubah, atau memang saat inilah yang paling cocok untuk bisa mengusir kecanggungan masalah sebelumnya.
Senangnya bisa membuat dua sahabatnya kembali tersenyum tanpa mencemaskannya lagi.
Yongguk memperhatikan foto wallpaper di HP nya. Foto itu tidak pernah berganti sejak lama. Foto yang memperlihatkan sisi ceria Himchan seharusnya bisa membuat ia tersenyum. Namun malah sebaliknya, ia malah semakin terlihat menyedihkan.
Mendengar pernyataan Himchan, ia merasa sangat kecewa. Dukungan macam apa yang diberikan kepada—kekasihnya? Bukankah mereka memang saling cinta? Ia masih ingat kenangannya saat mereka sudah berciuman dan segala macamnya. Apa itu bukan cinta? Siapa yang mau ciuman dengan orang yang tidak disuka, bahkan laki-laki?
Tunggu? Apakah Himchan menciumnya sebagai fans? Karena mendapatkan lucky chance?
Yongguk mengusap wajahnya lelah. Himchan tidak mungkin senaif itu. Ia bukan fans maniaknya. Ia bahkan berlaku sayang tulus, daripada teriak-teriak histeris seperti kebanyakan fans. Atau pamer ke orang-orang.
Yongguk suka sisi Himchan yang berbeda dari orang -orang yang menyukainya.
"Sayang~"
Chungha datang. Tahu-tahu memeluknya dari belakang. Gadis itu begitu menempel mesra seolah ia tahu Yongguk kenapa, dan ia ingin menghiburnya. Yongguk segera mematikan HP nya.
"Jadi mau lihat-lihat lokasi pernikahan kita habis ini?"
Yongguk menarik napas. Ia tampak tidak nyaman dengan pendekatan Chungha. Namun ia tidak bisa menghindar. Mau mengeles badannya kesakitan habis konser, tidak akan berhasil membujuk gadis serakah ini.
"Terserah saja."
Chungha menarik senyuman di belakangnya. Ia senang juga dengan rencana yang dimainkan calon mertuanya itu.
Himchan menaruh buku novelnya. Sedikit menghibur diri setelah 3 hari merawat ibunya. Malam tiba, Himchan sampai melihat keluar jendela untuk memastikan. Ia rindu rumah jadinya, saat-saat ia duduk di meja belajarnya dan berhadapan dengan langit malam.
"Kau belum tidur?"
Himchan menoleh. Ibunya sudah duduk di ranjang entah dari kapan. Mungkin ia terlalu melamun. Sampai tidak sadar ibunya tengah memperhatikan lagaknya.
"Belum, Ibu. Mau minum?"
"Boleh. Air putih saja." Hayeon tersenyum. "Kapan Ibu bisa pulang, ya? Ibu sudah mulai sehat."
Himchan menarik kursi agar bisa duduk lebih dekat dengan ibunya. "Kata dokter, 2 hari lagi mungkin. Masih ada beberapa check up." Segelas air diulurkan.
Hayeon mengelus kepala puteranya. "Kamu sudah besar. Bentar lagi lulus SMA ya."
Himchan angguk dengan semangat. Meskipun pengumuman kelulusannya belum keluar, bahkan ia kurang yakin dengan nilai ujiannya, rasa optimis yang keluar dari ibu dan teman-temannya selalu dihanturkan untuknya. Mereka bilang, Himchan tidak mungkin tidak lulus. Kalau sampai begitu, sistem sekolah ini punya masalah. Himchan pintar, bahkan tanpa belajar berat, ia sudah paham materi lebih dulu.
"Kudengar 3 hari lalu, kau datang ke konser."
Himchan menghentikan irisan apelnya. Ibunya sampai harus melirik untuk memastikan gelagat puteranya keliatan kontras kagetnya.
"Konser yang sama saat bersama Youngjae waktu lalu, bukan?"
Himchan menghela napas. "Beda, Bu."
"Ibu tidak paham masalah begituan, haha."
Himchan tersenyum miris. Seharusnya ia bisa lupa masalah konser kemarin. Atau waktu-waktu perdebatan bersama leader salah satu grup—bahkan menyebut namanya sudah terasa awas.
"Aku pernah berpikir untuk menyuruhmu tidak berteman dengannya."
Himchan tahu betul apa yang dimaksud 'nya' dari Hayeon. Wanita itu memang tidak pernah bertemu langsung dengan Yongguk (atau ia memang tidak tahu), tapi melihat hubungan antara ibu dengan sang ayahnya, tidak mungkin Hayeon tidak kenal. Ia sudah mulai berpikir matang tentang hubungan-hubungan mereka sejauh ini dengan keluarga besar Bang setelah pengakuan Yongin.
"Ibu tidak suka dengan Yongin, begitu pula puteranya."
Himchan menoleh, mendengar seksama dengan kerutan dahi. Jadi ibunya punya sesuatu yang tidak disukai juga dari 2 pria itu? Ia mulai semakin penasaran.
"Tapi aku sangat lelah harus memusuhi mereka."
"Ibu, sebegitu bencinya dengan keluarga Bang? Atau bagaimana? Himchan tidak tahu."
Hayeon tidak bisa berkata lanjut. Ia bisa saja mengutarakan segala alasan kebenciannya yang mendalam pada Yongin. Pria itu sudah membuat kekacauan di dalam keluarganya, dimana Himchan masih ia masih belum mengerti apa-apa.
Kisahnya selama hampir 20 tahun yang penuh kebencian itu selalu mengakar. Tapi setelah mengalah beberapa waktu lalu dari permainan yang Yongin tawarkan—seputar pernikahan dan sumpah-sumpahnya untuk tidak menyakiti Himchan, ia jadi berpikir untuk mencari jalan lain agar bisa mendamaikan rasa kebencian itu.
Walaupun ia harus sedikit berkorban. Tujuan utamanya selalu menomorsatukan Himchan. Itu saja.
"Mereka hanya terlihat menyebalkan." Hayeon meminum air putihnya. Santai.
"Haha.. begitu, ya." Himchan kembali melanjutkan irisan apelnya. "Apa tidak apa-apa ibu menikahi orang yang bahkan membuat Ibu sebal begitu?"
Hayeon menarik napas. Ia tidak rela sebenarnya. "Biarkan saja. Rasa begitu bisa hilang suatu saat nanti." Walaupun ia tak yakin, setelah banyak mencoba memaksakan diri.
"Kalau kamu? Tidak apa-apa jadi anak seorang presiden perusahaan besar dengan anaknya yang selebritis?"
Himchan, juga tidak yakin. Ia bahkan pernah mencintai Yongguk, ia tak yakin menganggapnya hanya sebagai saudara. Apalagi melihat nantinya melihat kemesraan dengan calon istrinya. Ini keputusan sangat sulit.
"Lagipula aku juga tidak akan terlalu akrab." Himchan tersenyum lembut—atau terpaksa, entahlah. "Aku ingin fokus kuliah saja."
"Ah itu bagus."
Himchan menoleh lagi. "Tidak apa-apa?"
"Loh, sejak kapan ibu meragukan keputusan mu? Kuliah itu sangat bagus. Dimana kau ingin kuliah?"
Himchan mengigit bibir. Pikirannya jadi aneh-aneh. Ia memainkan jarinya. Sebenarnya ada cara lain agar bisa menciptakan jarak terjauh dari Yongguk. Biar dirinya tidak terus mendapati wajah itu di sekitarnya.
"Di—luar negeri?"
Hayeon berjengit. Terkejut dengan pernyataan yang di luar ekspektasinya tersebut.
Melihat reaksi tersebut, Himchan langsung mendekati ibunya. Menahan tangan ibunya dengan rasa berat hati. "Aku tidak akan pergi sejauh itu jika Ibu keberatan."
Ibunya tersenyum. Menggeleng kepala. "Hei, kau pernah cerita pada Ibu, kan? Ada negara indah yang kau kagumi. Suatu hari nanti jika sudah punya uang, kamu mau kesana. Benar?"
"Tapi itu kan hanya celotehan anak SMP."
Ibunya gemas, mengasak surai anaknya lembut. "Tapi kau masih ingat, itu berarti salah satu mimpimu kesana. Negara apa itu?"
Himchan menunduk malu-malu. "Swiss."
"Alasannya?"
Puteranya semakin menunduk dalam, rasanya ingin tenggelam saja ke dalam kapuk ranjang. "Aku suka cokelat."
"Hahahaha... cokelat swiss. Aku belum pernah membelikan itu untukmu."
"Ini tidak ada urusannya dengan kuliah—"
"Kalau kamu mau kuliah sampai ke negara manapun, Ibu sangat mendukung."
Mata puteranya mulai berkaca. Entah sedih, entah terharu. Ia tak ingin menebak perasaan yang muncul setelah ibunya berkata demikian.
"Tapi, ibu—"
"Ibu tidak ingin mengekangmu hanya karena ibu tidak bisa jalan."
Himchan bungkam.
Hayeon segera mendekap wajah Himchan, mengelusnya sayang. Pipi lembut itu mungkin akan dirindukan Hayeon kalau Himchan benar akan kuliah di luar.
"Buat ibu bangga."
Himchan tersenyum, memeluk ibunya. Merasakan tubuh itu sudah mulai sehat daripada sebelumnya. Sudah mulai menggemuk juga. Ia juga akan merindukan pelukan ini jika ia benar akan pergi ke luar negeri.
Tapi
Apa ia akan rindu kehadiran Yongguk?
"Pergi ke Swiss?"
Hayeon mengangguk. Matanya menatap datar memperhatikan jendela daripada membalas pandang si lawan bicara.
"Jadi kau ingin ia pergi ke Swiss sebelum kita menikah?"
"Pikirkan saja pernikahan puteramu. Aku pikirkan kuliah puteraku. Lalu kita bisa pikirkan pernikahan kita."
Yongin tertawa kecil. Ia tidak menyesal mencintai wanita unik ini, yang bahkan jijik untuk menatap ke arahnya.
"Apapun untukmu."
Hayeon menghela napas. "Kapan Yongguk menikah?"
Yongin mengecek HP nya, memastikan bahwa waktu undangan yang diingatnya tidak salah. "Sebentar lagi. Kau sudah keluar dari rumah sakit, dan pengumuman ujian kelulusan sudah diumumkan."
"Kapan?"
"Sabtu depan."
Hayeon mengangguk mengerti. Tidak menduga urusan pernikahan Yongguk bisa berlangsung lebih cepat dari ekspektasinya.
"Setelah pengumuman kelulusan, aku ingin Himchan segera diurusi kepergiannya ke Swiss."
"Hei, Hayeon. Kenapa kau sebegitu terburu-burunya menginginkan anakmu sendiri pergi jauh?"
Hayeon kali ini mau membalas tatap. Tapi matanya tidak menunjuk keramahan, masih sama—agak kesal. Yongin saja sampai bungkam rapat.
"Kau tahu betapa aku membenci puteramu sebenci aku padamu. Kau ingin membuatku frustasi membiarkan puteraku berdekatan dengan 2 orang yang paling kubenci?"
"Meskipun anakku tidak salah apa-apa?" Yongin mengendurkan punggungnya ke bangku.
"Sudah. Pernikahan Yongguk sudah membuatnya kecewa terlalu dalam. Aku tidak akan lupa wajah menyedihkannya kemarin."
Yongin menyungging senyum. Tentu saja. Karena ini rencana Yongin. Kalau saja ia tidak mempersiapkan pernikahan Yongguk, pastilah Himchan akan menetap damai disini dan mengagalkan rencana menikahi Hayeon.
Yongin menegak sebotol air putihnya, tenang. Melarutkan kelegaannya.
"Lagipula. Himchan tidak perlu melihatku menderita dicintai orang sepertimu. Melihatmu sebagai orang 'sakit' membuatku muak."
Yongin berseringai. "Aku orang 'sakit' yang paling beruntung, Hayeon."
Rasa air putih yang diminumnya, jadi terasa agak manis melihat wajah Hayeon yang cantik karena kembali melemparkan ekspresi jijik.
"ARGHHHHHHH!"
"Hah, Oppa!? Ada apa!?"
Sepupu Youngjae langsung mengetuk keras pintu kamar Youngjae akibat suara teriakan yang menggelegar.
"Youngjae-ah! Kau sedang apa!? Malah teriak. Ini sudah mau telat."
Youngjae di dalam kamarnya malah panik. Ia mengitari tempat itu dengan cekatan, sampai mengacak isi keranjang baju bekasnya, berlari ke kamar mandi hingga ia hampir terpleset.
"Bentar, Ibu! Sebentar lagi!"
Youngjae pun melompat ke atas ranjang tidur, dan mengacak selimutnya. Ia sudah tidak peduli kalau kamarnya berubah jadi kapal pecah dalam sekejap.
Tak lama, ia mendapati sesuatu mencuri perhatian. "AH, dapat! Kau bikin panik aku saja."
Kalung liontinnya ternyata terlepas ketika ia tidur semalaman dalam keadaan cemas kepada kejadian hari ini. Ia memoles sejenak kalung itu agar keliatan bersih, dan memastikan rantainya tidak rusak. Ia memakainya segera.
"Aku akan segera keluar." Youngjae memperbaiki pakaian seragamnya. Tadinya ingin mengancing kerahnya hingga kalung itu tersembunyi. Tapi setelah ia pikir-pikir, sayang sekali. Ini kalung pemberian dari yang menyayanginya.
Lalu ia melepas satu kancing di lehernya, membiarkan kalungnya menimbul mengalung disana. Ia sudah siap.
"Anak nakal! Lama sekali!"
Youngjae memutar bola matanya. "Iya, iya, Bu."
Kemudian ia mengambil segera perlengkapan lain, dan keluar dari kamarnya. Keluarganya sudah rapih sekali akan mengantarkannya ke sekolah. Sekali selama 3 tahun ini.
"Dasi ini, Tuan Muda?"
"Ah, kami sudah seterika jas nya."
"Tuan muda, sepatu mana yang ingin Anda kenakan?"
Junhong menghela napas. Ia yang akan menjalani hari penting ini, tapi seluruh pelayannya yang kelihatan panik. Bahkan melempar pertanyaan sampai bersamaan.
"Kau terlihat tampan sekali."
Setelah mengenakan semua pakaiannya, ia menengok kearah pintu kamar. Ia tersenyum lebar dipuji demikian. Sosok wanita itu jarang sekali memuji 'tampan' dirinya sebelum kejadian pengakuan mencengangkan waktu lalu. Tapi ini adalah waktu bersejarah yang patut ditulis di buku hariannya.
"Terima kasih, Ibu."
"Dia jadi semakin mirip denganku. Bagaimana? Apa ia sudah siap memegang perusahaanku?"
Gyun menyikut perut Siwon yang baru saja datang merangkulnya. Kelihatan lucu sekali interaksi dua orang tuanya. Jarang mereka bergurau di hadapan Junhong.
"Ia masih muda. Ia harus di trainee untuk siap dulu. Kalau sampai mengacau, kau mau tanggung jawab?"
Siwon tersenyum 3 jari, kemudian memperhatikan Junhong. Ia menyengir pada puteranya. Melempar candaan, hingga membuat Junhong tertawa. Ada-ada saja.
"Ayuk, Nak. Kita harus segera pergi."
Mendengar ajakan orang tuanya, Junhong angguk bersemangat.
Namun HP nya bergetar duluan sebelum ia beranjak. "Aku akan menyusul," pesannya kepada dua orang tuanya. Siwon dan Gyun pun meninggalkan puteranya untuk bersiap di lantai bawah.
Junhong melihat isi HP nya, dan tersenyum puas. Pesannya sejak pagi rupanya sudah dibaca dan dibalas. Ia semakin bersemangat.
Aku akan menyamar, dan mendatangi acara kelulusanmu. Apa aku akan ketahuan ya? Aku ini terlalu tampan.
Junhong tertawa. Percaya diri sekali orang yang membalas pesannya ini.
Jadi dirimu sendiri saja, aku tetap menyukaimu.
Ucapannya malu-malu, tapi terkirim juga. Kata-kata tersebut menginspirasi erat dalam otaknya ketika konflik dahulu. Pemuda yang dicintainya menerima apa ada dirinya, begitu juga Junhong.
Ia kemudian berlari keluar kamarnya, menyusul Siwon dan Gyun.
"Cheeseee!"
Semuanya antusias menyengir ke hadapan kamera HP nya Hoseok.
"Oastaga, angle nya bagus sekali. Aku akan tag kalian semua. Terutama untukmu Himchan." Hoseok memberikan kedipan akrab ke Himchan.
"Aku bahkan tidak paham cara main Instagram." Himchan garuk-garuk kepala. Semenjak semua orang tahu Himchan akhirnya punya HP, rasanya seperti berita menggemparkan. Banyak yang ingin minta nomor telepon Himchan. Banyak yang ingin berteman sosmed dengannya. Tapi Himchan tidak paham karena menggunakan HP nya hanya sebagai telepon dan kirim pesan saja.
"Nanti kuajarkan. Jangan sampai nanti kau pergi ke Swiss saja, kau tidak paham cara pakai sosmed. Padahal banyak hal disana yang indah-indah bisa kau ambil gambarnya. Kau harus tag aku." Hoseok menuntut, membuat yang lain tertawa tak terkecuali Himchan.
"Banyak maunya kau, Hoseok. Tidak main ke kelasmu sendiri? Kenapa selalu disini, sih?" Youngjae melirik Hoseok yang masih sibuk mengupload gambar.
"Aku kangenn Junhongg~!" Hoseok memeluk erat Junhong, ingin mengecupnya tapi langsung dihindari si korban. "Hyung! Hentikan!"
"Ya, hentikan. Junhong sudah ada yang punya." Youngjae menyeruput jus nya santai. Junhong melebar mata, mengutuk keras Youngjae dari tempat duduknya. Awas saja kau!
"HAH?! Sejak kapan!? SIAPA!? Apa anak sini!? Kok ga bilang-bilang aku!? Aku kan hyung kesayanganmu sejak SMP!"
"Dia bahkan tidak mau menceritakannya padamu, mau berharap apa coba untuk jadi hyung kesayangannya."
Terjadilah persengitan antara Youngjae dan Hoseok, memperebutkan gelar hyung kesayangan Junhong. Meskipun akhirnya Junhong cuman mengabaikan, dan kembali konsen pada hal lain.
"Himchan hyung?"
Himchan kembali konsen pada teman mudanya ini, setelah mengobrol dikit dengan teman-teman sekelas lainnya.
"Ya?"
"Selamat ya Hyung. Aku tidak duga peringkat terbaikku dikalahkan Hyung." Junhong tersenyum lebar. Eye smilenya terbentuk tulus.
"Ah, bukan apa-apa. Ini karena kalian membantuku juga." Himchan tersenyum ramah. "Maaf kau merasa gelarmu terambil."
Junhong berkelit. Ia langsung kibas-kibas tangan. "Tidak tidak! Aku justru senang. Hyung jauh lebih pantas mendapatkannya. Malah aku bangga. Dengan masalah Bibi Hayeon dan hal lainnya, Hyung bisa mengatasi itu semuanya. Hebat. Kalau aku jadi hyung, aku mungkin tidak akan konsen dengan ujian."
Himchan menghela napas. "Memang berat sebenarnya. Tapi aku tidak bisa mengorbankan masalah akademikku. Beasiswasku lebih berharga daripada hubungan cinta—"
Himchan segera menutup mulut.
Junhong menatap khawatir Himchan, kemudian tangan sahabatnnya dipegangnya. "Sudahlah, Hyung. Percayalah pada Tuhan. Kalau kalian berjodoh, pasti ada jalan keluarnya." Bisikan pemuda itu, memberikan celah untuk Himchan bisa sedikit bernapas lega.
"Oke, semuanya! Harap berkumpul di aula!"
Inilah detik-detik berharga mereka. Aula adalah akhir perjalanan mereka di sekolah ini. Himchan, Junhong, dan Youngjae saling mengenggam tangan serta saling memeluk penuh suka cita.
Seluruh siswa telah beranjak keluar dari sekolah. Berlari mendekati sanak keluarga mereka. Memeluk terharu. Ada yang menangis, ada yang tertawa puas, ada yang melompat kegirangan, ada yang sampai pamer diploma mereka. Semuanya menyambut dengan suka cita.
"Jangan menangis." Gyun memeluk puteranya. Ia tidak menduga anaknya bisa secengeng ini hanya karena ia lulus dari SMA. Padahal selama ini ia tidak merasa kesulitan dengan sekolahnya. Ia tidak perlu khawatir lagi dengan nilai dan teman-temannya. Apa begitu berat ia meninggalkan masa-masa sekolahnya?
"IBU!"
Ibu Youngjae memukul kepala puteranya saat anaknya berlari mendekat. "Jangan lari-lari begitu, dasar."
"Ibu! Napa ibu Junhong meluk, aku malah dipukul!" Youngjae merengek. Tidak terima.
"Dia orang terpandang, anaknya juga santun begitu. Mana mungkin nakal. Ga kayak kamu, pakai uang jajan buat beli merch-merch artis."
"Tapi itu kan hasil kerja aku juga." Youngjae terus protes dengan air mata mengalir sampai ke ingusnya. Sepupunya sudah cekikikan, lucu liat oppa nya terlihat cengeng begitu.
"Ya, ya. Ibu bangga kamu masuk 10 besar setidaknya." Ibu segera memeluk puteranya. Youngjae menangis bahagia. Senang rasanya diberi pelukan ibunya yang tinggal begitu jauh darinya. Ia sangat rindu kehangatan ini.
"Tapi kalau kamu ga mikirin soal artis-artis itu, kamu bisa naik 5 besar."
"IBU!"
Sementara itu Himchan duduk termenung di tepian air mancur. Ia memegang buket bunga, diploma, serta topi toganya dengan gundah. Meskipun ia mendapat kehormatan menjadi siswa terbaik dan sempat memberi penyambutan mewakili teman seangkatannya, rasa gundah itu muncul baru kali ini.
"Sayang."
Himchan mengangkat kepalanya. Melihat Ibunya di atas kursi roda, didorong oleh seorang pemuda berjas hitam. Tampangnya serius sekali. Tampaknya suruhan seseorang untuk melayani ibunya, tapi ia tidak terlalu memikirkan.
"Ibu!" Himchan berlari, memeluk. Bahkan ia mencium kedua paha ibunya dengan sayang.
"Ibu bangga sekali."
Himchan tersenyum dengan perasaan khitmat serta air mata yang sedikit menitik.
"Ibu sudah memprediksi kamu masuk 5 besar. Tapi ini di luar dugaan. Kamu jadi siswa terbaik."
"Aku mau buat kejutan buat Ibu."
Hayeon melemparkan senyuman. Ia mengecup kedua pipi Himchan dengan perasaan sangat sayang.
"Ibu punya hadiah untukmu."
"Ya?"
Kemudian Hayeon meminta pemuda di belakang kursi nya, membantunya. Himchan awalnya kebingungan, namun ia perhatikan seksama saja.
Tak menyangka sesuatu yang tak diduga di tunjukkan ibunya.
"Ibu juga punya kejutan selama ini. Banyak terapi telah dilakukan, dan—"
Hayeon perlahan bangun, mengangkat tubuhnya sedikit susah payah hanya dengan bantuan tongkat. Biasanya usaha seperti ini akan sia-sia, karena kakinya total lumpuh, sudah agak mustahil menopang tubuhnya.
Tapi kali ini tidak. Bahkan kaki kirinya, sudah bisa digerakkan sedikit.
"I—Ibu!?"
"Ya, baru segini saja." Hayeon terkekeh canggung. Ia agak kecewa tidak bisa memberikan hasil yang maksimal.
Namun sebaliknya, Himchan merespon sangat antusias.
"INI LUAR BIASA!" Himchan latah melompat untuk memeluk ibunya. Namun ia hampir saja menjatuhkan ibunya, si pemuda segera membantu. Himchan langsung lepas diri, panik. "Ma—maaf!"
"Hahaha, syukurlah kau senang, nak."
Himchan benar-benar menangis terharu. Rasanya kelulusan adalah pemberian yang tidak lebih baik dari kesehatan ibunya.
"Hayeon-ssi?"
Kedua ibu dan anak yang tadinya larut dengan suka cita juga, sama-sama menoleh pada seorang wanita dan puteranya. Ibunya Youngjae.
"Juyoon-ssi~" Tentu saja Hayeon dan Ibu Youngjae sudah saling kenal. Persahabatan kedua putera mereka sudah sangat kental hingga memperikat silatuhrahmi kedua orang tua ini. Sama-sama wanita ditinggal suami pula.
Sementara kedua orang tua mengobrol bersama. Youngjae dan Himchan pun memiliki percakapan sendiri.
"Hei." Youngjae menyikut Himchan. "Congrats, ya."
"Sudah berapa kali kau mengatakannya, Youngjae." Himchan tertawa kecil. "Sudah diberi selamat oleh Daehyun?"
"Ck. Aku sampai bosan, tahu."
Himchan kembali tertawa. Sudah diduga.
"Ia tidak bisa datang kesini karena ada pemotretan. Entah kenapa, setelah pengumuman hiatus, dia mendapatkan proyek individual cukup banyak. Aku heran."
"Bukankah itu bagus?"
"Ck. Yang ada aku bosan."
"Jadi kau cemburu dengan kesibukan Daehyun?"
Youngjae pura-pura tertawa lucu dengan ucapan Himchan seolah itu adalah becandaan. Kemudian ia menjawab 'Tidak' dengan muka datarnya lagi.
"Kau harus segera menjawab pernyataan cintanya, sebelum ia benar-benar meninggalkanmu demi pekerjaannya." Himchan mengingatkan, seperti biasa.
"Terserah dia. Akan kubakar liontin ini nanti."
Himchan tertawa. Lucu sekali pasangan ini. Di sisi lain kegalakan dan keengganan Youngjae, ada perasaan sayang yang disimpannya. Kata-katanya suka kontra dengan perasaan aslinya.
"Junhong kemana?" Himchan mengitar pandangan. Junhong tidak ada dimanapun. Yang ada cuman orang tuanya yang jadi sasaran empuk beberapa wartawan.
"Ia tidak suka mukanya dipublis di majalah. Jadi ia melarikan diri." Youngjae bersidekap tangan. "Aku yakin sekarang ia sudah dapat pelukan hangat dari Jongup."
"Maksudmu?"
Youngjae menghela napas. "Jongup tadi datang. Pakai kacamata hitam, dan masker, seperti seorang pedofilia."
Himchan terkekeh. Ucapan Youngjae sangat lucu sejak dari tadi. "Telpon Daehyun, untuk menemuimu setelah pemotretan. Moodmu jelek sekali sepertinya."
"Hah!?" Youngjae terlihat protes.
"Jidat sahabatku seharusnya tidak berkerut sedalam ini di hari kelulusannya." Himchan menyentil jidat Youngjae. Decakan halus terdengar dari bibir Youngjae. Benar kan? Dia unmood hanya karena Daehyun tidak datang. Kemudian ia mengeles ingin ke toilet. Padahal ia akan menuntut Daehyun lewat pesan suara selama perjalannannya.
Himchan menggeleng. Dua sahabatnya benar-benar sangat manis. Ia pasti akan rindu dengan tindak-tindak lucu kedua sahabatnya itu. Ia jadi agak berat hati meninggalkan Korea.
"Himchan."
Tiba-tiba, suara berat yang menyebut di belakang punggungnya, membuat Himchan berjengit. Entah kenapa...Tubuhnya menjadi beku. Bergerak saja, rasanya sulit seolah suara itu merengkuhnya kuat. Dadanya berdentum tidak karuan.
Perasaannya sangat tidak enak. Ia ingin segera melarikan diri.
Tapi ia tidak bisa. Karena pundaknya ditahan, dan Himchan harus berhadapan sekali lagi dengannya.
Padahal—ia pikir yang kemarin itu, sudah terakhir kali...
**To Be Continue**
By the way, im so sad right now.
Chapter ini harus update / cerita ini belum berakhir di saat our Yongguk sudah hengkang dari BAP. This is currently my hardship while writing this chapter. Aku langsung writer block. Bingung mau ngelanjutin. Ga nyangka aja 2 cerita panjangku tentang BAP selalu dapat kabar ga enak.
Curhat saja , "With You" (cerita lain saya tentang BAP) harus melewati masa-masa dimana BAP tetiba menuntut TS dan hiatus. Aku langsung kena shock attack. Kemudian, cerita ini dengan mendapati Yongguk keluar.
Harusnya seneng? Ya. Kenapa? Karena aku memang ga rela BAP lama-lama di TS. TS isnt good agency. They deserved more. Tapi aku cukup berterima kasih dengan mereka yang sudah mengenalkan BAP sampai sekarang. Tapi tetep, saya ingin mereka berenam hengkang dari sana dan bersatu bersama di luar TS. Sebagai atau tidak sebagai BAP.
Tapi kok sedih? Ya. Karena ini Yongguk. Bias saya T-T Kepergiannya lebih awal, ga barengan sama member lain. Yang itu berarti, tetep saja... BAP tanpa leader, Yongguk tanpa BAP. Rasanya asem!
Aku memang bukan penggemar setia. Dunia KPOP agak tergeser dengan kegemaran lain, termasuk untuk mengikuti dunia BAP sebaik kalian. But im so lucky , i still love them until now.
Terus dukung mereka ok! Aku tetep lanjut kok melanjutkan cerita ini, karena support kalian juga ^-^ Kalian pantas dapat hadiah kenang-kenangan dari Yongguk dengan perantara cerita ini, ehe.
