**Ada author notes di akhir chapter, jangan lupa dibaca ya ^^

**review/fav/follow menentukan kelanjutan cerita ini

**Makasih! have fun!

Pundaknya ditahan, dan Himchan harus berhadapan sekali lagi dengan Yongguk.

Padahal—ia pikir yang kemarin itu, sudah terakhir kali...

Himchan tampaknya sudah tidak bisa mengelak. Ia malah memilih diam, sementara pria itu menunggu Himchan mau menatapnya.

Tapi tidak ada respon.

Yongguk saat itu sudah mulai hilang kesabaran. Ia langsung membalikkan tubuh pemuda itu. Wajahnya sangat suram, sama sekali tidak terhibur dengan kehadirannya. Berat sekali Himchan untuk membalas pandang padanya.

"Himchan, lihat aku." Dua tangan kekar Yongguk menahan dua pundak Himchan. Tidak memaksa, masih tetap lembut. Ia tak ingin menyakitinya, sekeras apapun isi kepala Himchan saat ini hampir membuatnya emosi.

"Bahkan kau tak ingin melihatku? Kau sebegitu jijiknya padaku?"

Himchan ingin menolak pernyataan itu. Pada faktanya, Himchan akan merasa patah hati jika melihat wajahnya lagi. Sekalipun penampilannya serba tertutup. Tapi tidak akan lebih dari mengingatkannya dengan semua awal mula pertemuan mereka—ketika menjadi Jongdae.

"Aku datang kesini tidak hanya ingin melihatmu lulus, tapi aku minta kau menjawabku."

Himchan masih terdiam hampa. Ia tak ingin basa-basi. Apapun pertanyaan itu, ia harus segera jawab lalu kembali melarikan diri dari kungkungan pria satu ini.

"Apa benar kau akan ke Swiss?"

Tatap Himchan langsung mengarah tajam pada Yongguk. Skakmat. Himchan langsung shock mengetahui Yongguk menyadari rencananya.

"Kau benar akan kesana?"

Himchan menahan diri. Giginya bergemelutuk. "Ini bukan urusanmu" Himchan mulai menepis pegangan Yongguk. Jelas pria itu cukup terkejut dengan perubahan sikapnya. Ia jadi begitu dingin, tidak ada manisnya. Malah terlihat menakutkan. Yongguk sampai tidak kuasa, sedih rasanya.

"Himchan. Aku mohon. Apa bahkan kau tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu?" Yongguk lagi-lagi ingin menahan tangan itu sebelum pergi semakin jauh. "Aku mencintaimu, Himchan. Aku tidak ingin kau menghindariku seperti ini."

"Yongguk-ssi. Aku mohon. Pikirkan masa depanmu." Himchan mulai meringis karena pegangan di tangannya semakin menguat.

"Masa depanku ini bersamamu."

"HENTIKAN!"

Seorang pemuda berjas yang sebelumnya membantu Hayeon, segera merengkuh Yongguk. Sedangkan Himchan, ditarik menjauh oleh Hayeon sendiri. Pegangan itu akhirnya terlepas. Keributan belum mereda, malah semakin menarik perhatian banyak orang. Ada pria aneh dengan pembelaan seorang ibu. Apakah puteranya akan diculik? Heboh sekali.

"Kau ini sama sakitnya dengan ayahmu!"

Yongguk mengerut dahi. Apa maksud perkataan ibu Himchan? Sakit apa?

"Hentikan pemaksaanmu itu. Jauhi puteraku. Kau tidak bisa memilikinya untuk dirimu sendiri."

Yongguk memaksa diri untuk dilepas si ajudan. Ia ingin merebut Himchan lagi. "Aku sangat menyayanginya!"

Bentakan Yongguk sempat membuat seluruh penonton langsung berbisik ria. Terbentuk sekelebat keanehan hubungan antara si pria aneh dengan si siswa teladan dalam pikiran mereka.

"Kau gila!" Hayeon tiada henti meneriaki Yongguk. Himchan berusaha menenangkan ibunya. "Jangan buat aku membuatmu terlibat skandal lebih besar, anak muda!" Hayeon mulai menantang.

Yongguk ingin sekali melawan balik. Namun rasanya terlambat. Anxiety nya semakin menjadi. Apalagi para wartawan yang memang kebetulan disana habis mewawancarai keluarga Choi, mulai mencari tahu siapa dirinya. Jika penyamarannya ketauan, hancur sudah.

Yongguk akhirnya putus asa. Ia tidak puas tidak dapat jawaban apapun dari Himchan meskipun dugaaannya sepertinya benar. Ia menyerah bukan karena ia takut karirnya hancur. Tapi ia tak ingin Himchan terlibat masalah. Ia tak ingin seluruh dunia mengenal Himchan. Ini kesalahannya melakukan sesuatu gegabah, hingga tak memprediksi demikian sebelumnya.

Tapi, benarkah ini akan jadi pertemuan terakhir?

"Himchan." Sebelum pergi, Yongguk berkata lirih. Himchan masih bisa dengar. Ia tidak kuasa melihat Yongguk menangis, meskipun terhalang kacamata hitam. "Kalau kau berpikir aku ingin mempertahankan karirku, kau salah. Aku bernyanyi bukan untuk menghancurkan diri sendiri. Aku terpaksa. Kalau pada akhirnya aku juga kehilangan dirimu, aku lebih baik tidak usah bernyanyi."

Ucapan itu sangat menusuk, Himchan tidak bisa menelaahnya secara sempurna sehingga hanya sedikit makna yang bisa ia ambil. Pada intinya, maksud perkataan itu bahwa Yongguk mulai tidak suka dengan karirnya karena ia merasa dipaksa.

Himchan hanya bisa menunduk. Maafkan aku, tapi Himchan tidak ingin terlibat jauh.

"Jongdae."

Sebuah panggilan, memecahkan keheningan. Himchan melihat seorang pria yang pernah ditabraknya di kamar mandi konser waktu itu. Wajahnya sangat mirip, tidak salah lagi.

Jadi ia mengenal Yongguk? Atau Jongdae?

"Kita pulang. Jangan sampai ayahmu murka melihat tindakanmu ini." Bisik pria itu, tidak ada yang dengar selain mereka berdua. Ia mengamati sekitarnya. Keramaian memusatkan perhatian pada mereka. "Jangan sampai para wartawan mulai menarikmu dan mewawancaraimu selama berjam-jam."

Pria itu menarik tubuh Yongguk yang sudah lemas, kembali ke dalam mobil. Himchan hanya amati dari kejauhan, sampai punggung itu menghilang. Rasanya menyedihkan. Ia sesungguhnya antara senang dan sedih, Yongguk masih ingat dengan hari kelulusannya. Ia masih mau datang. Masih mencintai—katanya barusan.

Tapi, ia tidak berhak menahan tubuh itu lagi. Apalagi memilikinya. Semuanya sudah terlambat. Kenapa pertemuan tadi sangat sebentar? Kalau memang hanya untuk dipisahkan pada akhirnya.

"Bayangkan jika kau serumah dengan anak kurang ajar itu."

Himchan mengelus pundak ibunya. Bersabar...

"Kau harus segera memproses kepergianmu ke Swiss, atau ia akan melakukan hal yang lebih gila jika ia sudah tahu tentang pernikahan ini."

Himchan menghela napas. Kenapa semuanya jadi begitu rumit?

"ARGH!" Yongguk sampai melempar seluruh barang pribadinya ke lantai. Frustasinya yang sudah memuncak, membuat kepalan tangannya membuahkan pengacauan. Pria yang menjemputnya hanya bisa melenguh napas, memperhatikan keributan di hadapannya.

"Kenapa Himchan bisa sebegitu bedanya? Ia seperti bukan yang kukenal. Ini sangat membuatku frustasi!"

Pria yang membawanya tadi terdiam. Tidak ingin mengeluarkan pendapat.

Yongguk agak sedikit tenang kemudian mulai duduk di atas ranjangnya. Ia memijat kening, meredakan kedutan kalau bisa.

"Ia mempermainkanku." racaunya menuntun Yongguk pada firasat firasat buruk lainnya. Gambaran Himchan yang telah mengabaikannya, menjadi lebih buruk. Sebuah gambaran menakutkan dimana Himchan memilih meninggalkannya dan mencintai orang lain. Memiliki keluarga dan pekerjaan layak.

Gambaran itu begitu memilukan hati, ia sampai harus mengerut dada.

"Hyung. Kau tidak ingin berbicara apapun lagi? Tentang Himchan?"

Pria yang sedari tadi terdiam menghembus napasnya. Melegakan hati setelah mendapati Yongguk emosinya mulai stabil.

"Istirahatlah." Singkat, ia hanya ingin menganjurkan Yongguk beristirahat. Ia tidak tega melihat pemuda itu semakin menyakiti dirinya sendiri. "Cukup untuk hari ini. Jangan sampai membuatku menyesal memberitahumu soal kepergiannya ke Swiss."

"Tolong aku, Hyung." Yongguk merebahkan badan meskipun dalam keadaan ranjang king size nya sudah amburadul. "Biar aku segera mengambil tindakan." Kemudian saking lelahnya, pemuda itu terlelap juga.

Pria itu terdiam mengamati miris pemuda yang bergelung lemas tersebut. Ia bersyukur obat tidur yang telah diberikan bekerja juga. Ia sudah duga pemuda itu akan meliar, jadi sejak di mobil ia memberikan sedikit hadiah.

Kemudian ia pergi, menutup pintu kamar perlahan. Ia melihat pada jam tangannya. Sudah jam 5 sore. Dia punya janji dengan seseorang.

"Tinggal sebentar lagi, Keponakanku."

"Tidak mungkin."

Youngjae memperhatikan brosur-brosur di tangannya. Matanya tidak bisa berkedip ketika memperhatikannya.

"Kau akan kuliah di tempat seperti ini, Junhong!? Kau ini pangeran atau apa? Ini bukan kampus, tapi istana!"

Junhong tertawa. Ia mengambil kembali brosur-brosur yang sempat membuat siapapun akan shock. "Kata ayahku, dia dapat kenalan disana dan menganggap prestasiku selama sekolah sangat bagus, jadi mereka menyediakan akomodir beasiswa untukku. Lagipula, ini kampus bisnis bertaraf Internasional, dan paling bagus disana."

"Ck. Kalau di Korea juga punya Gangnam Jundiam University soal jurusan bisnisnya." Youngjae menyeruput kopinya. "Kamu sampai jauh-jauh ambil di Canada."

"Ibuku harus dapat perawatan disana sekalian." Junhong tersenyum cuma-cuma untuk menenangkan protes sahabatnya.

"Kalian berdua kenapa sih harus kuliah jauh-jauh. Himchan ke Swiss, Junhong ke Kanada." Youngjae protes. Ia melempar punggung ke atas ranjang. Meninggalkan kedua sahabatnya yang tersenyum manis sambil duduk di lantai kamar Youngjae karena merasa tidak enak dengannya.

"Kau tidak ingin ikut juga? Barangkali tertarik?" Junhong merayu. Tapi Youngjae malah balas dengan decakan.

"Tidak. Terima kasih. Ibuku bisa nangis-nangis bawang setiap hari kalau anaknya sampai melangkah keluar negeri. Kami beda daerah saja, Ibuku khawatir setengah mati. Aku jalan-jalan ke Mall sebentar saja, pasti disuruh pulang."

"Karena Ibumu khawatir kau akan membeli semua merch artis, Youngjae." Himchan terkekeh.

"Hah!? Itu hak manusia! Uangnya juga uangku, wlee.." Youngjae memelet. "Lagipula, tidak akan ada yang bisa mengawasi anak itu kalau buat skandal lagi."

"Maksudmu Daehyun? Kan ada manajernya?"

Youngjae menghela napas. "Bahkan Dongwook hyung minta tolong padaku untuk memperhatikan anak itu seperti ibu ke anaknya."

Himchan dan Junhong tertawa. Mereka tak menyangka kedekatan Daehyun dan Youngjae bisa selucu ini.

"Tapi, aku juga tak mau dia sampai mengejarku ke negara orang. Dia itu artis, loh. Kalau skandalnya karena ia ingin menjemputku—misalkan ke Paris—seantero dunia bisa teriak-teriak padaku. Aku tidak mau mati muda. Anak itu cinta mati padaku, aku tahu itu." Youngjae berdehem, merasa percaya diri. Padahal sekedar bercanda saja.

Bukannya dibalas tertawaan lagi, dua sahabatnya malah terdiam. Dengan serentak memiliki pikiran masing-masing terhadap seseorang di benak mereka.

"Hah, kalian kok diam? Ada apa?" Youngjae mencium sesuatu yang cukup aneh. Dua wajah mereka mendadak berubah masam, tidak bersemangat.

"Eum. Jongup sudah tahu kau akan ke Canada, Junhong?" Youngjae bertanya pada Junhong yang paling aneh rasanya karena tidak biasa terlihat cemberut. Himchan ikut arus juga. Memperhatikan sahabat mudanya tersebut.

"Be—belum."

"HAH!?" Himchan dan Daehyun sama-sama menyentaknya. Junhong mengernyit takut, reaksi sahabatnya membuat ia jadi merasa tidak enak.

"Kukira kau—"

"Aku tidak mau Jongup sedih." Junhong menunduk dalam. Menyesal. "Siapa yang rela untuk berpisah seperti ini."

"Tapi tetap saja, nak. Kamu tuh harus bilang. Mungkin dia bisa mengerti."

"Aku takut."

Youngjae mengelap wajahnya lelah. Himchan menarik napas. Anak muda ini terlalu polos.

"Jongup cukup sibuk. Kami seringkali berkomunikasi lewat SNS. Lalu sekali-kali bertemu. Bagaimana kalau ia tahu, kita tidak akan bertemu sekali-kali seperti biasanya karena jarak kami semakin berjauhan? Ia akan sangat sedih. Ia akan berubah sikap padaku. Dan—"

Youngjae segera melempar duduk ke samping Junhong, kemudian memegangi kedua pundaknya. Bahkan dia menahan tatap sebalnya ke si pemuda itu.

"Demi Tuhan, Junhong. Jongup adalah pemuda tergentle yang pernah hidup di dunia ini. Bahkan ia tidak pernah pacaran meskipun badannya se-sexy itu, dan memilih setia dengan anak manis sepertimu, bagaimana bisa dia selingkuh!? Bagaimana dia bisa melupakanmu hanya karena kau ingin menuntut ilmu tinggi!?"

Badan Junhong diguncangkannya, tapi cukup membuat pemuda itu bisa berpikir jernih. Berpikir masak-masak dengan ujaran Youngjae.

"Apakah Jongup itu gay sampai menyukaimu begitu saja karena kau laki-laki? kaya? Karena kau manis? Tidak! Karena CINTA! Itu semua tidak akan bisa ditepis dengan jarak apapun. Meskipun aku tidak pernah tahu sejak kapan kalian memulai cinta monyet ini, tapi aku tidak peduli. Aku kenal Jongup, lebih dari para nuna fans. Aku tahu perasaan sayang Jongup kepadamu itu lebih dari kepada fans nya!"

Junhong berembus napas. "Kau benar."

"Sekarang hubungi anak itu, sebelum aku yang mengabarkannya duluan ck."

"Ah, nanti aja!" Junhong malu-malu. Ia berusaha menghindar.

"Bocah ini!"

"Sudahlah Youngjae, biarkan Junhong. Dia butuh waktu. Nanti dia akan langsung kasih tahu pada Jongup." Himchan pun akhirnya meleraikan keributan dua sahabatnya.

Youngjae akhirnya bisa sedikit sabar, dan mengangguk setuju. "Jangan terlalu lama, sebelum kau benar-benar pergi. Dia akan marah padamu." Youngjae bersidekap. "Siapapun akan marah kalau orang yang paling dipercayanya merahasiakan hal sebesar ini. Lebih baik terbuka dan cari cara menyelesaikan masalahnya bersama. Jangan pendam sendiri. Atau nanti salah satu merasa rugi, dan kalian malah terpecah berai."

Perkataan Youngjae sempat mengusik Himchan. Ia merasa tersinggung. Bagaimana dengan dirinya yang malah bersembunyi dari Yongguk hingga sekarang? Kenapa rasanya sangat menganggu karena ia susah bilang.

"Himchan. Kau sendiri? Sudah cerita ke yang lain kan?"

Himchan memperhatikan Youngjae. Ia hanya tersenyum. "Sudah."

"Terus kapan kau akan berangkat, Hyung? Aku baru berangkat bulan depan."

Himchan ingin melunturkan senyumannya, karena ia merasa sedih saat ini mendengar pertanyaan tersebut. Tapi ia tahan untuk tetap tersenyum.

Ia menghela napas. "Minggu depan."

"Wah, cepat sekali." Youngjae mengusap dagunya. "Aku bahkan belum daftar ke Kyunghee University"

"Cepat sekali!" Junhong merengek. "Kita cuman punya waktu 1 minggu untuk bersama!"

"Aku akan sering menghubungi kalian, ok."

"Kau bahkan tidak paham pakai Instagram." Youngjae berdecak miris. Himchan hanya bisa membalas tawa.

"Tenang saja aku sudah mulai paham. Nanti juga diajarkan disana."

"Setiap hari kau harus chatting dengan kita."

"Kirim banyak foto darisana, ok!"

"Iya, iya." Himchan tersenyum pias.

"Kau akan ambil jurusan apa disana?"

Himchan sejenak berpikir. "Aku ingin ambil jurusan bio-farmasi."

"Sangat cocok dengan otakmu yang isinya cuman rumus molekul kimia"

Himchan kembali tertawa, disambut kekehan kedua sahabatnya. Sejenak melupakan masalah yang mereka bina sebelumnya. Akhir sekolah, merupakan awal baru yang indah—seharusnya.

Himchan tidak akan meninggalkan dua sahabatnya, temannya, apalagi keluarganya. Kepergiannya ke manapun untuk memperbaiki perasaan kecewa ini. Untuk lupa dengan masa lalunya bersama Yongguk—itu saja. Semoga.

"Ibu aku pulang."

Himchan menghela napas sejenak sambil menjatuhkan diri ke atas bangku. Melegakan tungkai kakinya yang terasa sakit. Mengantarkan Youngjae jalan-jalan, benar-benar melelahkan. Ia banyak sekali cuci mata. Junhong saja putus asa dan minta pulang duluan. Himchan yang harus menemani Youngjae berdua saja.

Namun setidaknya, ia cukup bersyukur. Penghabisan waktu bersama sahabatnya begitu berarti untuk waktu-waktu kepergiannya kelak.

"Himchan."

Ibunya mengeret kursi roda seperti biasa, menghampirinya. Kedua kakinya belum sempurna bisa berjalan seperti yang ditunjukkan sebelumnya, tapi semakin lama, semakin ada peningkatan.

"Ada undangan untuk kita."

"Undangan?"

Himchan menegapkan kembali duduknya. Memperhatikan suatu surat undangan berwarna merah darah dan bau parfumnya sampai ke beberapa jarak ia duduk yang masih berada di tangan ibunya. Surat apa itu?

"Ini." Ibunya mengulurkan undangan. Cantik rupa nya. Buat Himchan sedikit iri ada yang rela habiskan uang untuk membuat undangan secantik ini.

Tapi ketika ia membukanya, ia menyesal.

"Ibu tidak ingin memaksamu untuk datang." Hayeon memijat keningnya. "Tapi ibu tidak bisa juga menyembunyikan undangan itu darimu."

Nama Yongguk tertera disana. Berdampingan dengan sebuah nama yang tidak diinginkan. Dadanya sesak bukan main untuk melihat nama itu berkali kali sudah terukir di atas kertas karton berkualitas dan bau wewangian.

"Aku tidak akan datang." Himchan menaruh undangan itu kembali ke atas meja. "Aku pergi di tanggal itu."

"Ibu juga tidak datang." Hayeon tersenyum. "Ibu lebih baik mengantarmu."

Himchan menyungging senyum. Ia memegangi tangan ibunya , mengelus sayang. Saat ini hiburannya adalah kehadiran ibunya, tidak pada siapapun.

"Semua sudah siap?"

Pemuda itu menepuk-nepuk dua tangannya menghindari debu. Sedangkan yang lain mengangguk riang. "Sudah siap!"

"Obatmu sudah?"

"Sudah."

"HP mu, sudah?"

"Sudah."

"Youngjae, kau sudah seperti ibunya saja. Bahkan Bibi tidak terburu-buru begitu."

Youngjae mendengus. Ia memamerkan kepalan tangannya kea rah Jaebum yang terus menggerutu. "Tidak usah bicara padaku kalau kau tidak membantu sama sekali."

"Aku sudah bantu. Menghabiskan makanan buatan Bibi, wlee.."

Jaebum pun mendapat lemparan sandal dari Youngjae tepat ke pundaknya.

Hayeon tertawa melihat tingkah seluruh teman Himchan yang begitu lucu dan menggemaskan.

"Terima kasih untuk kalian yang sudah datang, ya."

Semua orang disana, seperti Jaebum, Youngjae, Hoseok, Junhong, Hyunsik tersenyum gembira membalas sambutan ibunya Himchan. Mereka datang bersama-sama untuk melepas Himchan yang akan pergi ke Swiss hari ini.

"Jangan lupa kontak kami, Hyung." Junhong sedari tadi yang sibuk merengek. Tidak kuasa menahan tangis karena harus kehilangan salah satu hyung tersayangnya.

"Kalau kau ingin bekerja lagi ke café, kami selalu siap menerima." Hyunsik terkekeh. Menepuk pundak Himchan. "Kakakku juga titip salam. Kau dapat diskon minum-minum di barnya kalau kau berkunjung lagi. Kalau sudah siap minum alkohol."

"Jangan lupakan ilmu bermain sosmed dariku." Hoseok berkedip mata.

Himchan tersenyum lembut. Air matanya hampir saja meluncur. Ia melebarkan tangannya, hendak merangkul semua temannya. "Aku akan merindukan kalian."

Semuanya saling berpelukan. Ada yang menangis semakin keras, ada yang sesenggukan, ada yang tersenyum bahagia. Perasaan dari perpisahan ini menjadi sangat campur aduk.

Mobil yang siap mengantar Ibu dan Anak itu ke Bandara sudah membunyikan klakson. Himchan terpaksa harus melepaskan pelukan itu terlebih dahulu.

"Sedih sekali aku harus pergi lebih dahulu dari kalian." Himchan menghapus air matanya. "Tapi aku tidak akan mengabaikan kontak dari kalian. Terus hubungi aku."

Semuanya mengangguk. Mereka siap untuk selalu menghubungi sahabat terbaiknya satu ini.

Mobil pun siap berangkat mengantar pergi Himchan dan ibunya. Dadahan tiada henti sampai jarak di antara mereka semakin menjauh. Hingga mobil itu pun berakhir tidak terlihat di balik persimpangan.

Kepergian Himchan tidak siap memberi kelegaan. Tampaknya sampai sekarang pun, bahu mereka masih belum berkendur lega. Masih terasa tegangnya.

Hyunsik sebagai orang yang paling tua disana, memperhatikan miris ke sekelilingnya. "Hei, tidak usah sedih begitu. Himchan akan baik-baik saja. Kalian akan sering menelpon mereka, bukan?"

Jaebum merengek, "Ta—tapi.."

"Bagaimana kalau aku traktir kalian semua minuman gratis di cafe."

Tawaran Hyunsik sontak membuat semuanya menoleh semangat. "Benarkah?!"

"Anggap saja, sebagai bayaran karena ikut mengajakku ke liburan kemarin." Hyunsik tersenyum. Tampaknya tawaran tersebut sangat berhasil mencuri perhatian.

"Jangan lupa juga ya, Hyung, kuenya." Hoseok tersenyum manis, sok merayu.

"Ya,ya." Hyunsik tertawa kecil, dan menuntun mereka pergi bersama dengan mobil yang ia bawa.

HP seseorang bergetar di tengah perjalanan. HP itu milik Youngjae. Pemuda itu menghentikan langkahnya. "Nanti aku menyusul" teriaknya, sambil mencari tempat teduh lain untuk menyibukkan diri.

"Halo? Daehyun?" Youngjae sambil melihat sekitarnya. Memastikan tidak ada siapa-siapa yang bisa mengawasi hubungan teleponnya.

"Pernikahannya akan dimulai? Hah, Yongguk tidak keluar dari ruang ganti sejak dari tadi?"

Youngjae berkerut dahi. "Dia tidak bunuh diri, kan?"

Tiba-tiba suara pekikan terdengar dari HP nya. Hingga Youngjae harus menjauhkan HP nya. "Ya, maaf-maaf. Aku cuman bercanda."

Ia menghela napas. "Himchan sudah berangkat ke bandara.

Kita doakan yang terbaik untuk keduanya saja."

Daehyun menghela napas setelah mengakhiri telepon bersama Youngjae. Ia memainkan hp di tangannya, merasa bingung. Setelah sejenak berpikir, ia mengetuk pintu di depannya.

"Hei, Bang. Mau menunggu berapa lama lagi? Sebentar lagi pernikahanmu, bung."

Tidak ada jawaban. Yongguk seakan ditelan bumi.

"Kau tidak melarikan diri, Bang? Kalau kau ingin kabur, sebaiknya sekarang sebelum terlambat."

Alih-alih mendapati Yongguk masih terdiam mengabaikannya, pintu itu terbuka pada akhirnya. Wajahnya tenang, tidak sesuram hari hari sebelumnya. Daehyun sudah lama tidak berjumpa dengan leadernya ini selama kesibukan mempersiapkan pernikahannya, Daehyun tidak banyak tahu dengan apa yang terjadi selama kurun waktu beberapa hari.

Tapi sungguh, Yongguk sudah tidak terlihat sedang berkonflik batin, yang berarti itu adalah hal yang baik? Atau justru buruk, karena Daehyun tidak ingin Yongguk jadi gila menerima pernikahan ini begitu saja?

"Kau tidak apa-apa?" Daehyun memastikan. Ia pastikan pendapatnya meleset.

"Aku akan segera kesana. Acaranya masih 30 menit lagi, kan? Aku harus ke toilet."

Daehyun hanya bisa tersenyum canggung. "Ok. Sebaiknya kau buang rasa nerveous mu itu."

Setelah menepuk pundak sahabatnya, Daehyun pamit pergi ke ruangan gereja. Yongguk dibiarkan sendiri untuk saat ini karena dipastikan pria itu terlihat baik-baik saja. Ia menyesali bahwa Yongguk sudah sungkan memikirkan pasal pernikahan yang tidak diinginkannya ini. Mungkin ia sudah menyerah mengejar Himchan, atau melarikan diri dari Chungha.

"Sedang merayakan kemenanganmu?" Pria itu berjalan mendekati Yongin yang pada saat itu sedang merokok di balkon Gedung. Di lantai atas gereja.

"Aku amat kagum padamu." Pria itu menjentikkan rokoknya yang belum dinyalakan. Sekedar tanda untuk pria itu memberikan sedikit api untuknya.

Setelah Yongin memberikan pemetik api, dan meniupkan sekali asap dari mulutnya. Ia berbicara agak congkak dengan pria tersebut. "Setelah pernikahan ini dan anak itu sudah pergi, Hayeon akan jadi milikku."

"Hayeon sudah setuju?"

"Ya. Lebih sekedar setuju." Uapan asap menyembul ke udara. Ia mengamati ke bawah, dimana para tamu datang satu persatu memasuki altar gereja. "Mudah sekali mempermainkan 3 orang sekaligus."

"Banyak, Yongin. Tidak hanya 3." Pria itu ikut meniupkan asap. Lenguhannya terdengar merisaukan ketimbang Yongin yang sangat lega. Seolah ia sedang mencemaskan sesuatu tanpa di ketahui lawan bicaranya.

"Well, sejak dulu jika Hayeon tidak bermain sulit dariku, aku tidak akan repot juga." Yongin mematikan rokoknya. Menjatuhkannya ke tempat sampah. "Aku juga tidak perlu menyingkirkan Jinwoo."

Pria itu menghela napas. Entah kenapa, kemudian ia juga tertawa. Agak terdengar menakutkan, sampai membuat Yongin mengernyit heran. "Kau kenapa?"

Alih alih dijawab, pria itu malah memilih melanjutkan rokoknya sampai habis. "Tidak apa-apa. Lucu saja dengan rencana gilamu itu. Kau percaya sekali padaku, yang seorang paparazzi handal , bisa mendengar semua cerita ini."

"Kau kan saudara sepupuku. Demi uang, kau pasti akan melakukan apapun untukku." Yongin menepuk pundaknya sebelum benar-benar pergi. "Kau sudah siap melihat keponakanmu menikah dengan orang yang tidak dicintainya? Seperti Hayeon juga, Junki?"

Junki mengangguk. "Aku kan yang akan mengabadikan moment ini." Ia menepuk isi tas kamera yang ditentengnya.

Setelah Yongin pergi, Junki belum selesai menghabiskan rokoknya. Bahkan sudah hampir sepangkal jari ukuran rokok isapannya. Namun ia tidak memilih untuk membuang. Ia masih sibuk mengecek foto-foto di dalam kameranya.

Ada foto Himchan dan Yongguk. Berciuman. Foto yang dulu ia ungkapkan kepada Yongin dan membuatnya sangat geram. Foto ini awal mula obsesi Yongin semakin memuncak. (Lihat chap 15. Terungkap)

Junki menarik napas panjang. Rokoknya tak sengaja terjatuh ke tanah, di bawah sana. Untung saja bukan kamera yang dipegangnya jatuh. Yang pasti ia tampak tidak lega. Semakin berat hati.

Kemudian setelah mendengar suara MC berbicara, ia tahu ia harus segera ke altar. Ia melihat kea rah kameranya lagi. Melihat foto Himchan dan Yongguk yang tampak bahagia.

Mungkin ada penyesalan, dan juga penghinaan atas kebodohannya.

Ia tekan tombol hapus di foto-foto tersebut.

"Terima kasih, untuk para Undangan telah menghadiri acara pernikahan dari putera Presdir Bang Yongin, yang sebentar lagi akan hadir di tengah-tengah kita."

Para undangan begitu antusias. Mereka tenang, namun sikap sudah tak sabaran. Tidak lelah menunggu kehadiran calon mempelai.

Bagaimana cantik dan tampannya kedua pasangan ini? Mereka begitu penasaran.

Terlebih dengan dandancan altar yang cantik, melengkapi antusiasme mereka pada hari kebahagiaan yang dinanti ini.

Junki tidak berdiri di antara para paparazzi yang hadir. Ia adalah bagian dari keluarga, maka ia menyampingkan pekerjaannya sebagai kuli tinta. Kameranya sudah ia angkat untuk angle yang sempurna. Kea rah pintu dimana para mempelai sudah hadir.

Meskipun ia tdiak berharap Yongguk untuk muncul.

"Mari untuk mempelai pria, sudah waktunya untuk masuk ke altar."

Begitu MC berucap, tatap tak sabaran itu sama-sama terlempar kea rah pintu, menanti seseorang muncul. Para pelempar bunga sudah siap menaburkan keindahan nantinya. Atau para penyanyi gereja telah tegap berdiri, siap melantunkan nyanyian suci yang menenangkan.

Junki bahkan sudah siap dengan angle terbaik, untuk foto yang terbaik. Barangkali paling bagus tangkapannya dari paparazzi manapun.

Namun hingga 5 menit, mempelai pria tidak kunjung masuk.

MC sudah khawatir. Senyumnya agak memaksa, padahal ia menahan panik. Dengan deheman basa-basi, kembali ia berujar "Mari untuk mempelai pria, sudah bisa memasuki altar."

Responnya tidak berbeda.

Para pengunjung sudah bertanya-tanya. Hiruk pikuk curiga, mengedar ke seluruh ruangan.

MC, bahkan Junki sendiri, sudah berkeringat dingin.

Tuk, langkah sepatu cepat berlari. Hiruk pikuk berhenti, untuk konsen dengan suara yang semakin dekat, agak tergesa-gesa. Barangkali itu Yongguk yang berlarian di lorong karena sadar sudah telat.

Tapi—malah Daehyun yang muncul.

"Maaf! Mempelai pria, melarikan diri!"

Suara histeris mulai terdengar. Para pengunjung asing malah sibuk bergosip, sedangkan sanak keluarga terdekat terpekik khawatir. Bahkan ada beberapa merasa malu.

MC tidak sanggup menenangkan keributan. Para paparazzi sudah pasti riuh, hendak mengejar Daehyun dan mendengar plot cerita sebenarnya sampai Yongguk tidak terdengar kabar.

Yongin pasti bersembunyi karena malu, pikir Junki.

Junki tidak bisa konsen untuk ikut sibuk mencari informasi. Ia bukan paparazzi saat ini. Melainkan hanya seorang paman yang ikut andil dalam pernikahan keponakannya.

Tiba-tiba, HP nya berdering. Junki segera mengangkat.

"Halo?"

Wajah Junki langsung shock. Ia tidak bisa menahan ekspresi tenang dengan keadaan seperti ini. Ia tak bisa menjawab teleponnya dalam keadaan altar yang begitu kacau.

Maka ia mencari pintu keluar. Berlari segera, menghindari keramaian. Ia biarkan dirinya terengah-engah sambil menjawab si lawan bicara.

"Demi Tuhan. Seharusnya kau merencanakannya sejak awal, Yongguk!"

Himchan membuka matanya ketika sejenak tertidur sebentar karena lelah. Ia membuka kedua earphone nya dan memastikan keadaan di sekelilingnya. Masih ramai seperti saat ia sampai ke bandara. Hanya saja, lebih ramai dengan para turis. Banyak orang asing berlalu lalang, dan mungkin akan menjadi kebiasaannya setelah sampai di Swiss.

"Ini makanlah, Himchan."

Hayeon baru saja datang setelah lama mengeret kursi rodanya ke salah satu minimarket. Ia ulurkan 2 kantung roti untuk puteranya. "Takutnya kamu masuk angin di pesawat."

"Ibu ga usah repot-repot. Harusnya tadi Himchan antar."

"Kamu pasti kecapekan. Sudahlah makan."

Himchan hanya bisa tersenyum sambil mengigit rotinya yang terasa nikmat.

"Kau sudah dihubungi teman-temanmu?" Hayeon mengajak Himchan mengobrol sambil sibuk memakan roti masing-masing.

"Mereka justru memenuhi kotak masukku." Himchan terkekeh. "Mereka lebih bawel daripada saat bertemu langsung."

Hayeon tidak bisa menahan tawa. Syukurlah hubungan teman dan puteranya benar-benar sangat baik.

"Aku harap selama kau menuntut ilmu disana, kau tidak mengabaikan mereka. Termasuk Ibu."

Himchan segera menangkup tangan ibunya, mengelus sayang. "Ibu, aku akan sering pulang. Yongin-ssi sudah sangat membantu kita sejauh ini. Aku yakin Ibu tidak akan kesepian lagi walau Himchan tidak di rumah."

Tampaknya Hayeon tidak senang dengan pemikiran tersebut. Ia justru melenguh napas sesaat, seakan hilang semangat. Melihat sikap ibunya tersebut, suka rancu dalam benak Himchan. Benarkah pilihan ini adalah yang terbaik untuk ibunya?

"Ibu." Himchan dekatkan wajahnya, memperhatikan baik-baik ekspresi ibunya agar lebih jelas. Biar tidak ada kebohongan lagi yang berusaha ditutup-tutupi. "Ibu bahagia?"

Ibunya menatap Himchan. Kemudian menatap jadwal pesawat yang berubah angkanya. Pesawat tujuan Swiss sudah akan sampai. Kebimbangannya mulai semakin menganggu.

"Jujur." Ibunya mulai mengenggam erat tangan Himchan. Ada ketegasan dalam nada bicaranya kali ini.

"Ibu tidak akan bahagia menikah dengan pria manapun. Selain ayah kandungmu, Kim Jinwoo."

Himchan mendadak membulat mata, ketika pegangan dari ibunya melonggar. Suara pengumuman pesawat terdengar, menandai perjalanannya yang tinggal sebentar lagi. Namun Himchan tidak sanggup bergerak kemana pun, selain memperhatikan serius ibunya. Ia tak percaya, baru kali ini ia mengetahui nama ayahnya setelah sekian tahun. Nama itu sungguh indah.

"Ibu..."

"HIMCHAN!"

Himchan dan Hayeon langsung menengok ke arah lain. Seseorang berlari tunggang langgang dibalik tuxedo pernikahannya, melambai cepat kea rah mereka. Keterkejutan Himchan rupanya dianugrahi kejutan lainnya. Himchan jadi semakin tidak menentu untuk pergi.

Berbagai pasang mata mulai mengikuti laju pria itu. Siapa yang tidak mengenalnya? Apalagi tertarik dengan kenaannya. Ia juga berada di pemberitaan dimana pun. Pria itu rupanya berada disini, di bandara ini daripada altar pernikahan.

"Syukurlah kau belum pergi." Yongguk sibuk menarik napas, sedangkan Himchan maupun Hayeon hanya mengamati dengan bingung. Ada surprise macam apa ini.

"Aku tidak ingin kau pergi. Kalau kau memaksa, aku ikut denganmu."

"Yongguk-ssi , kau gila!?" Himchan merasa awas. Ia tidak nyaman jadi perhatian begitu banyak orang disana.

"Aku ingin bicara denganmu. Masih ada waktu, kan?"

"Tidak. Aku harus pergi." Himchan sedikit keras kepala. Ia mencium kening ibunya sampai ia tergesa melarikan diri. Gara gara kehadiran Yongguk, Himchan jadi tidak bisa mengucap perpisahan dengan ibunya secara benar. Ia hanya konsen menghindar dari keras kepalanya Yongguk. Ia menepis pegangan Yongguk yang berusaha menahannya.

Pemandangan jadi terlihat sangat lucu ketika Yongguk masih mengejar Himchan meskipun ia sudah jadi buah bibir. Ia terus memohon, meski diabaikan.

Hayeon hanya bisa mengerut dahi dari kejauhan melihat keributan yang melibatkan puteranya. Ia hanya terdiam disana, menunggu kejadian selanjutnya sambil terheran.

"Hayeon."

Perhatian wanita itu sanggup dialihkan setelah kehadiran pria lain. Ia begitu familiar dengan wajahnya. Ia berusaha mengingat-ngingat, sampai ia memekik kaget. "Junki!?"

"Ya. Ini aku. Aku membawa anak sialan itu."

"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau bawa anak itu kemari?!"

Junki masih terengah-engah. Ia benar-benar tidak setahan Yongguk soal lari pagi menjelang siang. Tolong pikirkan umurnya. "Ini keinginannya. Lagipula, aku juga tidak setuju dengan Yongin."

"Sejak kapan kamu membela kami?"

"Demi Tuhan Hayeon, aku bersahabat baik dengan Jinwoo. Kalau saja dia bukan model panutanku, aku mungkin tidak disini. Aku selalu ingin berutang budi pada kalian." Junki menegapkan tubuhnya setelah memastikan napas nya sudah stabil. "Tapi suatu perkara membuatku di pihak Yongin."

"Oh sekarang kau sudah di pihak kami. Sungguh terlambat."

Junki berdecak kesal. "Percayalah padaku. Aku juga sedang membantu kalian. Sekarang mana anak itu!?"

Junki dan Hayeon segera menuntun perhatian ke arah yang seharusnya. Dimana seorang pria tiba-tiba mengendong bridal pemuda bak karung goni di pundaknya. Pemuda itu jelas melawan, sampai menggebuk punggung pria lainnya. Sayangnya kekuatan pria itu jauh lebih kuat. Mereka beranjak jauh dari pintu keberangkatan, membuat perhatian lebih banyak orang.

"Ok, seharusnya aku benar-benar melarang anak itu selagi kepalanya sedang rusak."

Hayeon mengangguk, setuju dengan pernyataan Junki.

"YONGGUK!"

Himchan bahkan sudah tidak santun lagi untuk memanggil nama Yongguk menggunakan banmal. Pemuda itu pipinya makin merah, menahan marah. Ia dibawa lari ke area tertutup, tanpa siapapun. Pasalnya seluruh manusia di bandara itu akan mengejar mereka mencari gara-gara. Padahal Yongguk butuh waktu bersama Himchan hanya berdua saja.

"AKU KETINGGALAN PESAWAT," dan suara histeris Himchan memenuhi ruangan tersebut.

"Aku mohon tenanglah. Aku ingin bicara. Kalau kau ingin ke Swiss, aku belikan tiket untuk perjalanan selanjutnya." Yongguk memberikan instruksi Himchan untuk tetap tenang. Namun Himchan terlalu kesal untuk menuruti.

"Ini bukan soal tiket! Ini soal perbuatanmu yang begitu memalukan! Kau ini selebritis, dan siapapun melihat kelakuanmu yang sangat liar ini!"

"Aku berhenti dari BA."

Himchan harus mengerem keluhannya. Suasana jadi hening kembali dengan suara air yang memancur dari keran yang agak bocor tidak jauh dari tempat mereka.

"Apa?"

"Aku berhenti dari BA." Yongguk menghela napasnya. Berat. Pasti memutuskan hal itu juga di luar dugaannya. "Aku telah membicarakan ini dengan Daehyun dan Jongup sebelum pernikahan."

"Lalu pernikahanmu?"

Yongguk tersenyum miris. "Aku sudah bilang, aku tidak ingin menikahinya. Sampai ujung mautku. Pernikahan ini bagian dari kontrak akibat melukai wajah Chungha. Wanita itu sudah terlihat baik-baik saja saat ini, setelah aku membiayai operasi nya. Ia mengancam akan menjatuhkan nama baik BA jika melawan, tapi BA tidak akan berlanjut lagi."

Himchan terdiam, matanya hampa dari segala emosi. Ia membiarkan elusan tangan Yongguk di pipi menghangatkannya.

"Daehyun mendapatkan kontrak debut individu sejak lama. Jongup punya konflik dengan orang tuanya, dan dia memilih meneruskan mimpinya sejak dulu. Aku—seharusnya sudah menyelesaikan kontrak BA sejak setahun lalu."

"Apa?" Himchan tidak paham.

"BA adalah project yang kubuat sendiri yang hanya dibentuk sampai 3 tahun dulu sebagai persiapanku menjadi produser tetap TS. Aku berencana membubarkannya setelah itu, dan mempekerjakan keduanya di bawah tanggung jawabku.

Namun kesuksesan ini, memaksa ayahku untuk mengambil peran dan merekrut BA lebih lama. Semua ini gara-gara ayahku, yang menutup impianku, dan lebih memilih aku melanjutkan project ini dan memimpin TS, ketimbang memproduksi lagu. Ini sangat melelahkan."

Himchan mengerut dahi. Ia begitu fokus dengan perubahan ekspresi Yongguk yang terlihat memilukan. Sepertinya selama 4 tahun ini, tanpa Himchan terasa menyedihkan.

"Sekarang ayahku berusaha untuk mengambil kebahagiaanku lainnya. Yaitu mencintaimu. Apakah aku terus jadi boneka sampai seumur hidupku?"

Suaranya serak dan menahan kesedihan.

"Ia membenciku, sampai kapanpun ia tidak pernah menganggapku anak. Aku hanya jadi objek pelampiasannya karena ia tidak bisa mendapatkan wanita yang dicintainya."

Himchan tidak sanggup dengan suara-suara putus asa itu. Ia merangkul Yongguk, menaruh kepala itu di pundaknya. Ia elus-elus belakang kepala pria itu, hingga pria tersebut merasa nyaman dan mau menangis sepuasnya.

"Kenapa kau tidak cerita ini sejak dulu?" Himchan juga tidak bisa menahan air matanya.

"Aku malu. Dan aku kira tanpa menceritakannya, aku masih bisa dicintai olehmu."

Himchan sesenggukan, dan merangkul lebih erat Yongguk. "Aku masih mencintaimu."

Perlahan kepala Yongguk terangkat. Ia pandang lekat pemuda itu dengan tidak percaya. "Sungguh?"

Himchan menunduk. "Tapi, aku tidak bisa memperbaiki karirmu. Aku juga tidak tahu bisa membantumu memperbiki kesalahan pahaman orang-orang.

Terlebih, orang tua kita akan menikah."

Yongguk sekejap menahan kedua pundak Himchan. Menatapnya dengan tatap seram, juga shock. Ia sangat tidak menyangka dengan kabar ini. Ia sangat tidak menerimanya.

Ia hendak berkata, namun HP nya tiba-tiba berdering. Rupanya telepon dari pamannya, Junki.

"Bisakah kau jelaskan padaku, DIMANA KAU SEKARANG!?"

Hayeon sampai menepuk tangan Junki yang bertandang di pegangan kursi rodanya. Sedari tadi keduanya berkeliling mencari rupa dua pemuda yang berlari menghindari keramaian, sampai tidak ada lagi wujudnya. Cepat sekali orang itu berlari seperti hembusan angin.

Rupanya bentakan Junki cukup dimengerti, membuat Yongguk mau menjawab pertanyaannya. Pemuda itu bilang, ia bersembunyi di toilet umum tak terpakai di dekat tempat parkir.

Junki sampai mengamati HP nya, berharap ia bisa membaca rupa wajah Yongguk saat berbicara demikian. Bagaimana bisa pria itu membopong Himchan sampai sejauh itu? Jaraknya tidak dekat dari arah pintu berangkat tadi.

Tapi ia tidak bisa berpikir lama lagi. Ia mematikan HP nya, dan segera mendorong kursi roda Hayeon ke tujuan tanpa dicurigai siapapun.

Sementara itu, sebuah mobil melaju di tengah perjalanan. Mereka sama tergesanya daripada para pelaku keributan sejauh ini.

"Aku menyesal meladeni pembahasan bubarnya kita sebelum pernikahannya." Jongup menepuk jidatnya. Melampiaskan sesal akibat keteledorannya.

"Lebih cepat lebih baik." Daehyun yang sibuk menyetir, begitu konsen mengebutkan mobilnya membelah jalanan. "Aku bersyukur justru karena kau mengangkat obrolan ini dengannya. Biar dia sadar."

"Ya. Pertemuan di toilet itu. Aku juga tidak kuat melihatnya seperti orang lemas begitu setiap hari. Bagaimana pun, kesuksesan kita, terkenalnya kita, karena peran dia. Masa kita diam saja dia sendiri tidak bisa menikmati hasilnya sendiri."

Daehyun mengangguk. Jelas sudah Yongguk dengan kebimbangannya selama ini. Hanya dengan sentilan dari Jongup, partner kerja mereka itu bisa kembali ke pikiran lurusnya. Yongguk memang pantas memenangkan hati Himchan. Ia tidak pantas menikahi wanita pemaksa, dan sumber penyiksaannya. Mereka juga mana kuat bersanding dengan BA yang tidak sejalan dengan tujuan paling awal. BA telah berubah sejak setahun lalu, semenjak ayah Yongguk mengambil kedudukan. Tidak banyak yang tahu.

Maka itulah hidup di kungkungan TS, tidak akan mencukupi ketiga nasib mereka.

"Hei, jangan berwajah sedih begitu." Daehyun menyenggol lengan Jongup usil. Bukannya dibalas kesal, Jongup justru lebih kalem. "Kau kenapa?"

"Aku mengungkit masalah ini tiba-tiba pada Yongguk. Kau tahu kenapa?"

"Ya. Aku kira kau sedang ingin mengobrol masalahnya saja." Daehyun memperhatikan jalan dengan fokus meskipun mobil sedang berhenti karena lampu merah. Sesekali matanya mengintip spion melihat mobil di belakangnya. Barangkali ada yang menotis, mengikuti mobil mereka seperti paparazzi lainnya. "Memangnya kenapa?"

"Karena masalah kita sama."

"Apa? Apa kau juga dijodohkan?"

Jongup menghela napas. "Aku lebih beruntung.

Junhong juga akan pergi ke Canada. Dia baru bilang padaku."

Daehyun melongok ke Jongup. Mengabaikan suara klakson mobil di belakangnya akibat lampu hijau.

Yongin harus berlari tergesa, diikuti beberapa ajudannya mengitari sekitar bandara. Setelah mendapati radio memberitakan hal yang tak terduga perihal puteranya, rasa kecewanya semakin menjadi. Ia langsung mengegas mobil ke daerah bandara. Ia tidak peduli berapa kecelakaan bisa terjadi akibat ulahnya.

Setelah beberapa pasang mata sibuk mencari Yongguk, kali ini terarah pada Yongin tidak kalah menarik perhatian. Pasalnya pria itu bak perdana Menteri membawa semua penghalaunya, meskipun tidak harus. Ia selalu aman dimana pun. Namun ia tahu, setelah menemukan Yongguk nanti, akan ada unsur pemaksaan untuk mengembalikan nama baiknya. Ia tidak peduli harus menghabisi Yongguk sampai tak berbentuk. Pria itu sudah kehilangan kesabaran.

"Dimana anak kurang aja itu?" Yongin memperhatikan sekitar tiada habisnya. Kalau perlu melewati pintu keberangkatan untuk memastikan. Barangkali Yongguk kabur bersama Himchan ke Swiss.

"Yongin?"

Suara familiar itu menggerogoti atensinya. Ia menengok ke arah sumber suara, menghadapi wajah cantik yang dicintainya. Hayeon disana, dengan di belakangnya adalah sepupunya.

"Hayeon!" Yongin hendak bergerak mendekat, namun Hayeon menghindar. Ia malah melempar sepatunya kea rah Yongin, tepat di dada. Membuat pria itu sekedar berhenti dan mengamati kejadian yang barusan terjadi. Kenapa dilempari?

"Aku tidak sudi disentuh pembunuh sepertimu!"

Mata Yongin mengerjab heran. Seakan omongan Hayeon adalah omongan lalu yang tidak seharusnya diungkit. Kalau sedang melampiaskan emosi, sebaiknya tidak sekarang. Itu tidak penting.

"Kau yang membunuh JINWOO!"

Pernyataan selanjutnya, buat Yongin sontak terkaku. Ia urung niat untuk mendekat, karena tubuhnya terasa lemas diguyur keringat dingin. Ia tidak percaya, untaian tuduhan itu baru kali ini terutarakan ke khalayak hari ini. Biasanya ia selalu cerdas mencegah kejadian tersebut oleh siapapun.

"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti." Yongin tertawa getir seolah ia adalah mahluk paling polos di situasi ini. Hayeon menangkap raut itu dengan sangat jijik. Ia tidak suka melihat pria itu mulai berakting sementara orang-orang sudah terlanjur menontoni mereka.

Hayeon mungkin wanita lemah yang duduk di kursi roda. Namun hatinya sekuat besi yang sanggup membentur sampai luka.

Siapapun yang telah menganggu keluarganya, tidak bisa ditindaki diam terus.

Junki tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari balik kantungnya. Sebuah tape recorder.

"Maafkan aku Yongin. Aku mungkin terlibat atas kejahatan ini. Tapi semua bukti hanya mengarah padamu. Bukti yang kumiliki, jelas ada disini semuanya.

Setelah kau mengakui bahwa kau penyebab kematian Jinwoo, sulit rasanya untuk memaafkanmu seperti yang Hayeon lakukan.

Hayeon dan Jinwoo adalah sahabatku juga dulu. Mereka paling dekat denganku, daripada kau. Bagaimana aku bisa tidak marah melihat sepupuku sendiri menghancurkan persahabatan ini dalam sekejap karena cinta bodohnya?"

Yongin harus menganga lebar mendengar semua peryataan Junki seakan meninjunya begitu keras. Para penonton disana sudah mengeluarkan kamera, menjadi paparazzi mendadak. Memviralkan pengakuan mencengangkan ini. Tidak ada perlawanan, Yongin benar-benar bisu.

"Kau tidak bisa melakukan ini Junki. Kau akan—"

"Dipenjarakan? Ya, mungkin. Tapi aku juga adalah saksi, dengan semua bukti yang kukumpulkan ini, seluruh kecuranganmu habis terkuak, Yongin. Aku tidak pernah membantumu secara langsung, selain bertugas merahasiakan tabiatmu. Jadi aku tidak sepenuhnya dipersalahkan. Aku juga korban.

Kau salah menilaiku. Aku tidak bisa dipercaya oleh orang jahat sepertimu." Junki tersenyum menang. Menghalau tatap tajam Yongin, dengan tatapnya yang tidak mau kalah. Keadaan semakin resah dan tidak bersahabat, menunggu kepastian.

Apa yang akan selanjutnya Yongin lakukan? Merebut rekaman itu, dan membunuh siapapun disana yang telah jadi saksi? Kadangkala otak posesif Yongin bisa sangat membahayakan dirinya sendiri.

Namun terlambat. Ia tidak bisa.

"TANGKAP PAK!" Daehyun dan Jongup datang bersamaan, menuntun para polisi yang dibawanya mencegat Yongin agar tidak lari kemana pun.

Para polisi berkumpul, menangkap Yongin. Tubuh pria itu terlalu lemas untuk melawan. Tiada artinya juga. Para ajudan juga tidak bisa melawan institut teratas milik pemerintah. Mereka memilih ikut jadi penonton ketika bos mereka diborgol.

"Anda ditangkap atas pembunuhan berencana," salah satu polisi dengan pangkat tertinggi di antara yang lainnya, memberitahu hal tidak enak. Lagipula apa yang tidak Yongin rencanakan. Dari hal baik, sampai hal buruk, ia akan selalu merencanakannya agar tereksekusi bersih.

Namun akhirnya bernoda juga pada akhirnya—sampai tidak hilang.

Sebelum Yongin dibawa, ia melihat kehadiran Himchan dan Yongguk. Mereka berdua nampak prihatin juga melihat keadaannya. Diborgol, dikelilingi polisi dan kamera ke arahnya. Tidak kasihan, hanya prihatin juga miris. Bagaimana mungkin seorang konglomerat terpandang berakhir memiliki kasus sebiadab ini?

"Anakku." Yongin kehilangan akal memanggil pemuda-pemuda itu dengan sebutan 'anak'. Yang ada hanya tampang jijik dari kedua belah pihak dilemparkan untuknya.

"Aku bukan anakmu." Yongin mengernyit resah. Memang sudah tidak sudi sejak kecil.

"Maaf, aku tidak bisa jadi anakmu." Himchan memegang tangan ibunya yang ada di sebelahnya. Ia tekankan dari gestur tubuhnya, bahwa ia lebih senang bersama ibunya saja daripada ditambah seorang pria jahat menghancurkan keluarganya lagi.

Selain itu, ia memegang juga tangan Yongguk di sebelahnya. Lembut, dan agak tersembunyi. Tidak banyak penonton yang akan menotis. Yongin lihat jelas betapa tulus dan nyaman tangan itu mendarat. Di kedua orang yang dicintainya. Beruntung sekali.

Ternyata anak yang paling ingin disingkirkannya, justru bisa mendapatkan kasih sayang dari dua orang terpenting dalam hidupnya.

Yongin dibawa. Orang-orang terus menyorot kepergiannya sampai masuk mobil polisi. Beberapa orang lebih fokus kea rah Yongguk, tapi bisa dihalau dengan Daehyun dan Jongup yang setia melayani dengan sedikit fanservice dan permohonan pengertiannya bisa memberi waktu Yongguk untuk sendiri. Fans ataupun orang siapapun yang mau mendekati Yongguk, jadi urung niat. Mereka bertugas dengan sangat baik.

"Kita ke mobil?"

Genggaman tangan Himchan mengerat. Ia ingin mempertegas sikapnya yang siap menjaga, dan membuat Yongguk merasa nyaman kembali. Yongguk melihat ke sebelahnya, dimana Himchan sedang menunjukkan ekpresi khawatir.

"Aku ingin ke mobil segera. Kita berdua saja."

Meskipun Yongguk meminta dengan bisikan rendah, Junki bisa dengar. Matanya memutar jengah, dan kemudian mengerem sendiri kursi roda yang didorongnya. Sampai Hayeon terkaget dan hampir berjengit ke depan.

"Apa-apaan—"

"Kita berdua menumpang di mobil Daehyun saja."

"Hah!? Ta—tapi.."

Junki minta Hayeon diam saja. Ia tunjuk kea rah dua pemuda yang berjalan sudah agak menjauh, dan melupakan paman serta ibunya yang tertinggal. Bahkan dilupakan? Hayeon hanya menggeleng kepala.

"Aku mengerti."

"Kau sudah paham betapa cocoknya mereka berdua?"

Hayeon menghela napas.

"Apapun untuk membuat Himchan bahagia lagi. Aku ingin Jinwoo juga senang."

Sementara itu, Himchan maupun Yongguk sudah berdiri di samping mobil. Himchan mulai sadar mereka meninggalkan Junki dan Hayeon. Ia menoleh ke sekitar, namun aksinya dicegah Yongguk. Tangan Yongguk mengenggam erat pundak Himchan.

"Mereka pasti pulang dengan Daehyun. Lagipula, aku ingin jalan berdua saja denganmu."

"Ta—tapi.."

Yongguk menaruh kepalanya di pundak Himchan, sama seperti saat di toilet tadi. Namun tanpa air mata kali ini. Ia hanya kelelahan.

"Seandainya paman Junki tidak bertindak, aku akan kehilangan kamu dua kali. Pergi ke Swiss, dan kita jadi kakak adik."

Himchan tersenyum. Ia mengelus punggung Yongguk. Ia seperti seoarang anak raksasa.

"Kau memang lebih tua, tapi bersikap seperti anak-anak." Himchan terkekeh lucu, buat Yongguk gemas. Pria itu mengangkat kepalanya, mengamati wajah Himchan lekat. Ada apa? Pikir Himchan. Sampai ia paham maksudnya, setelah Yongguk mengecup bibirnya. Curi ciuman.

Pipi Himchan sudah bisa ditebak, merona merah. Tidak tertahan.

"Aku bahagia sekarang."

Himchan tidak bisa menahan senyum lebarnya. Ia lalu memeluk Yongguk, dan membiarkan kehangatan itu berlangsung sejenak selagi tempat parkir masih sepi. Mungkin para pengunjung sibuk membicarakan Yongin di dalam bandara.

Ternyata, cerita Cinderella itu bisa terjadi kepada siapapun. Itu tidak mustahil.

Hanya saja, kalau kau beruntung jadi peran utamanya.

Suara TV dimatikan. Pemuda yang habis menontonnya, menjatuhkan punggung ke bangkunya dengan perasaan aneh.

"Kok dimatiin, sih!? Lagi seru juga, Hyung!" Hoseok protes. Tidak terima tontonan segar dikala makan nacho malah diganggu. Hyunsik memilih tersenyum ramah, dan menggeleng kepala. "Berita gossip buat laki-laki itu tidak baik. Nanti keseringan."

Hoseok berdecak. Ia lanjut makan nacho nya. Kemudian mengamati sahabatnya yang lain, "Artis sekarang kalau bikin skandal suka aneh-aneh, ya."

Mungkin cuman Hoseok disana yang bisa buat ekpresi wajahnya alami tidak ada masalah sedikitpun. Sedangkan sahabat lainnya, nampak tegang dan agak canggung. Apalagi Jaebum yang musti duduk di antara Youngjae dan Junhong. Ia menyeruput sup jagungnya, serasa tanpa dosa.

Aku mau pulang saja, mungkin pikirnya.

Mendengar kabar tersebut, Youngjae tentu tidak bisa minum milkshake nya dengan tenang. Ia curi kesempatan untuk mengambil HP nya dan menghubungi Himchan.

Tapi, yang dihubungi tidak mengangkat.

Sampai ia putus asa, dan memilih menghubungi Daehyun lagi.

Di sisi lain Junhong pun juga memainkan HP nya. Menanyakan sesuatu pada Jongup sekedar memastikan. Bagaimana situasi ini bisa terjadi.

"Hei, kalian berdua bisa berhenti main hp, ga sih? Dengerin ceritaku ga!?" Hoseok protes lagi, ga terima apabila curahan ceritanya malah tidak didengar oleh tiga pemuda di hadapannya. Ia seakan bicara dengan mangkuk nacho nya saja.

"Aku harus pergi." Setelah Youngjae berkirim pesan dengan seseorang di seberangnya, ia beranjak dari tempat duduk. Milkshake nya saja baru setengah terminum.

"A—aku juga." Junhong ikut-ikutan. Ia justru tidak menghabiskan apapun dan memilih pergi. Meninggalkan 3 orang yang memperhatikan keduanya seksama dan begitu heran.

"Demi Tuhan, apakah mereka tidak ada perhatiannya padaku?" Hoseok mendesah napas putus asa, lalu beralih pada Jaebum. "Hei, bagaimana dengan cerita—"

"Kau ada waktu jam makan siang nanti, Jaebum?"

"Ya, hyung!" Jaebum tersenyum lebar, dan Hyunsik berbalik senyum. Ternyata sedari tadi keduanya pun berbincang asik berdua saja.

Hoseok tidak bisa percaya, ia benar-benar bercerita untuk dirinya sendiri.

Persahabatan macam apa ini?

**To Be Continue**

Cerita ini akan berlanjut!

Aku sempet bilang kalau cerita ini akan ending di chap 20-an. Tapi, selama saya menulis ini, saya pikir ceritanya terlalu cepat untuk diakhiri. Cerita ini sangat berpotensi untuk diperpanjang, yang dimana banyak beberapa hole yang bikin penasaran.

I know, i can feel what u feel, readers ;)

Jadi saya berharap semangat update cerita ini bukan hanya saya saja. Kalau tidak, akan sulit saya lanjutkan.

Next mungkin akan lebih banyak lovey dovey nya akan fokus kembali ke pairing BAP lagi. Ada debut pasangan lain, dan progressnya cuman sebagai pemanis, kok

(aku maso bikin multi pairing)

Aku ga akan spoiler endingnya kapan. Kita tunggu saja.