yang pertama kali menyapa minhyun adalah pemandangan yang sangat familiar untuknya, lampu terang beserta tirai krem yang mengelilinginya di samping kanan dan kiri.

fak.

what's the worst that can happen while playing football?

masukan pertanyaan tersebut di dalam kamus pertanyaan oon hwang minhyun.

dia dirawat. lagi. entah untuk keberapa kalinya.

bukan gara-gara kondisi otaknya yang ngelek, bukan gara-gara operasi pengangkatan tumor ataupun gara-gara kemo.

tapi gara-gara sepak bola.

great minhyun. fucking great.


Minhyun's ten last wishes.

WISH 1 : I WANT YOU ALL TO KNOW

minhyun x everyone (wanna one, nuest)

NIELHWANG, ONGHWANG.

warning : some character are ooc, multi sexuality, bahasa kasar, bahasa tidak baku.

ketika minhyun menoleh kesamping, ia disambut matahari sore.

dan sepuluh orang tepar di sekitar sofa bed di pojokan kamarnya.

minhyun tersenyum kecil.

sangking sering dia masuk rumah sakit, keluarganya (ayah tiri dan ibunya tinggal di busan) sudah jarang menunggui dirinya. paling jika ada operasi major saja. jinyoung juga datang kalau jadwal kuliah dia tidak penuh. jadi..bangun dengan kamar rawat penuh orang teler merupakan hal yang baru untuknya.

dan jujur, ia cukup terharu. mereka semua capek sama siksaan dunia yang disebut bangku perkuliahan, tapi temen temen sialan nya ini tetep nungguin dia.

daniel dan jaehwan yang ngoroknya saut-sautan, woojin dan jihoon yang ngilerin guanlin yang bertindak sebagai bantal mereka dan jisung serta sungwoon sang pejuang skripsi yang gabosen-bosen nya mantengin laptop.

minhyun terkekeh.

manusia yang masih hidup diantara mereka yang teler ; jisung dan sungwoon, sontak mendongak setelah mendengar suara tawa misterius dan mereka mendapati minhyun sedang tertawa kecil.

jisung dan sungwoon yang tadinya memangku laptop langsung menyingkirkan nya begitu saja dan bergegas ke arah minhyun.

membangunkan semua orang dalam prosesnya.

"astaga–minhyun! astaga akhirnya lo bangun juga!"

"minhyunn sorii gue sama taehyun maksa lo buat main bola! maaf hyun maaff"

minhyun yang kewalahan hanya bisa mengangguk dan mengiyakan perkataan jisung dan sungwoon, tak lama setelah itu semua orang yang ada di ruangan itu mengelilingi minhyun.

mereka terdiam ngeliatin minhyun, nunggu minhyun bicara.

minhyun diem ngeliatin mereka, nunggu ada yang bicara.

akhirnya jinyoung yang memutuskan untuk buka suara. "hyung mau gue panggilin dokter jaga sekarang atau nanti?" ucapnya yang membuat semua orang menoleh kearahnya.

"nanti." jawab minhyun serak, otomatis membuat jihoon yang disebelah nakas mengambilkan dia minum.

"minum dulu hyung." ucap jihoon menawarkan minum sembari jinyoung menaikan kasur keposisi duduk.

jinyoung mengambil gelas dari tangan jihoon, melepas masker oksigen minhyun pakai lalu menyuapi minhyun minum.

"udah?" tanya jinyoung setelah minhyun melepas sedotan dari mulutnya.
minhyun mengangguk.

setelah memberikan gelas setengah kosong ke jihoon ia pun membuka selimut yang menutupi minhyun dan melepas perekat-perekat yang menahan tubuh minhyun untuk bergerak dengan sangat lancar dan cepat.

"hyung mengalami kejang tiga kali." kata jinyoung sambil melepas ikatan di tubuh minhyun.. "lebih banyak dari biasanya loh hyung."

well, itu berarti otak nya memberikan peringatan untuk dirinya biar ga terlalu pecicilan.

"udah berapa hari gue teler jinyoung-ah?" jawab minhyun sembair mengerak-gerakan tubuhnya ringan.
jinyoung mendongak, menatap hyungnya. "empat, jika besok kau tidak bangun kau langsung di kategorikan koma."

"ada informasi lain yang harus gue tau?"
"nothing new." jawab jinyoung setelah ia menyelimuti minhyun kembali. "tapi kayaknya ini waktu yang tepat buat ngasih tau mereka deh hyung."

.

.

setelah dokter Yang melakukan kunjungan ke kamarnya dan seorang suster mengganti infus serta memberikan suntikan obat, minhyun masih terdiam. dan teman-teman nya itu masih setia menunggu minhyun menjelaskan apa yang terjadi sama dia.

sebenernya, minhyun terdiam bukan karena dia takut. tapi karena mikir.

well, karena takut juga sih. cuman mikir kata-kata itu susah tau.

dia kan gabisa tiba-tiba aja langsung bilang kalo "gue punya kanker otak, stadium tiga. paling bentar lagi mau mati."
"HAH!?"

"APA?!"

"DEMI NA?!"

"...dont fucking with me."

"..."
did.. did i say that out loud?

"iya, hyung bicara secara loud and clear. bukan didalem hati doang." dari semua yang heboh, terdengar kekehan jinyoung. "sumpah deh hyung. datar banget bilang nya. kayak ga ada beban." emang ya itu anak gapeka banget sama keadaan.

minhyun pun tersenyum miring, tapi kenyataan nya emang kayak gitu sih. mau gimana lagi.

dia udah harus menerima kenyataan pahit itu dari awal, dan sekarang ia sudah terbiasa dengan pemikiran kalau dia bisa mati kapan saja gara-gara penyakit sialan nya ini.

"boleh kita tau lengkapnya?" tanya daniel dengan tatapan yang tak bisa dibaca minhyun. entah sedih, entah marah, yah entahlah.

"tentu. niel-ah." jawab minhyun sembari mengangguk. "gue sudah menderita penyakit ini dari lahir. kakak kembar gue, miyeon, meninggal tiga tahun lalu karena penyakit yang sama. cuman bedanya gue memiliki daya tahan yang lebih dari pada miyeon. makanya gue hidup lebih panjang darinya. baru-baru ini penyakit gue memperparah. dari tumor, menjalar ke kanker dan jadilah gue sekarang. jelas minhyun. lalu ia menengok ke jihoon. "bener ga tebakan lo ji?"
jihoon agak sedikit kaget tiba-tiba ditanya minhyun setelah 'the big reveal' nya itu.

jihoon menggeleng. "enggak. gue ga bisa mikir hyung punya penyakit parah kayak kanker. gue mikirnya mungkin hyung baru kena tumor atau lagi penyembuhan pengangkatan tumor waktu itu. karena hyung ga kel–"

"ga keliatan penyakitan?" potong minhyun. jihoon mengangguk.

"kalian adalah orang-orang pertama di luar keluarga gue yang tau keadaan gue sekarang. dari dulu gue emang ga pernah keliatan sakit. walaupun sebenernya selama ini gue ngerasa gue kayak disiksa dari dalem. dan ga ada yang bisa gue lakuin selain gue tahan, tahan dan tahan. " minhyun menghela napasnya, tatapan nya jadi sayu. "sebenernya gue masih bisa ngelakuin aktifitas fisik kek biasa. cuman kayaknya emang gue kemaren lagi ngedrop jadi pas maen bola gue tumbang. sori gue ga ngasih tau kalian dari awal. gue cuma gamau dianggap lemah dan penyakitan. gue masih minhyun yang seperti biasa. bukan minhyun yang bisa mati kapan aja."

daehwi menggeleng kuat, matanya sudah berkaca-kaca. "hyung jangan bilang gitu dong! hyung gaboleh kalah sama penyakit hyung!"

gue udah kalah sama penyakit ini dari beberapa tahun yang lalu daehwi ah, sebegitu sakitnya sehingga gue nyerah daehwi-ah.

–tapi minhyun tidak tega mengatakan hal tersebut pada daehwi yang kehilangan ayahnya karena kanker juga. maka dari itu minhyun hanya mengangguk sembari terenyum kecil sebagai jawaban.

"jadi, jadi selama ini kita main bareng,nakal-nakalan bareng, cabut bareng semua itu dalam keadaan lo sakit?" tanya seongwoo. yang ekspresinya juga ga bisa dibaca minhyun. "lo menderita, lo sakit dan ga ngasih tau kita? ga ngasih tau gue?"

diantara member wanna one, dia kenal seongwoo duluan. jadi wajar kalo dia marah. lebih marah dari pada yang lain.

"gue cuma gamau dianggep lemah ong."

"yatapi gabisa gitu dong lo ngebahayain diri lo sendiri kayak gini! kalo lo tidur lo kejang-kejang, lo ga bisa tidur tanpa oksigen dan lo ternyata punya kanker. " ucap ong lantang. "dan lo sama ga bilang sedikitpun tentang penyakit lo ke kita! ke gue! kalo lo bilang dari awal kita bisa ngehidari kek gini hyun!"

ini lagi, tentang hidup lagi. minhyun bosen. bosen banget.
"idup-idup gue, yang ngerasain sakit nya gue, yang ngelaluin semua gue." sahut minhyun "so dont tell me what to do!"

"itu sama aja lo nyia-nyiain nyawa lo tau ga! lo ngomong kayak nyawa lo itu ga berharga lo tau!"

okay. thats it. minhyun ga tahan. seongwoo emang orang yang paling bisa ngebuat dia pissed off.
"NYAWA GUE EMANG UDAH GA BERHARGA DARI DULU SEONGWOO!"

disitu semua orang yang tadinya perhatian terbelah ke seongwoo dan minhyun, berpusat kembali ke minhyun.

minhyun ngerasa pipi kirinya basah. lalu pipi kanan nya.

ah anjing, kenapa nangis njir.

sumpah dia kenapa sih? dia ga gampang nangis orangnya. apalagi gampang baper.

dan sekarang masa dibentak seongwoo doang mewek?

"poin mana dari 'gue menderita kanker yang terus berkembang' yang lo pada ga ngerti hah?...lo–lo pada ga pernah ada di posisi gue. gue ngerti. cuman gue juga ga minta ada di posisi ini kan?" ucap minhyun, suaranya bergetar. "gue–gue cuma minta jangan anggep gue ga bisa ngapa-ngapain cuma karena gue punya bom waktu di otak gue."

minhyun memejamkan matanya, menyeka air matanya dengan lengan nya lalu menatap kearah teman-teman nya.

dan seongwoo yang berdiri mendekat. ia seperti mau–

"jangan minta maaf. bukan salah lo gue kek gini. kayaknya gue jadi baperan abis tepar maen bola."

seongwoo terdiam sebentar lalu terkekeh pelan, walaupun matanya sedih. "oh ya min."

"hm?" minhyun mengerjapkan matanya, pusing dikepalanya makin intensif membuat ia tidak bisa fokus.

"sakit ga sakit. lo tetep masih minhyun yang dulu kok. minhyun gue yang dulu." nah, keluar lagi jurus gombalan sakti ong seongwoo.
jaehwan, jihoon dan woojin meledek ong berjamaah. "hoeK HOEK cuIH! DIH NAJIS!"

"SEJAK KAPAN MINHYUN PUNYA LO HEH KORENG BADAK!" teriak daniel on the way ngajak ribut seongwoo cuman di tahan sama jisung dan guanlin.

"tahan niel, tahan. darah tinggi inget darah tinggi." kata jisung dengan sabar.

"udah lama gue ga denger gombalan nya ong." -sungwoon, sambil merapikan rambut minhyun yang berantakan.
"untung ini ruang paling ujung dan kordior paling sepi. kalo rame dan deket nurse station udah diarak sama suster"- jinyoung, yang mengurut dahi nya pusing.

minhyun cuma tersenyum, ga ada tenaga lagi buat ngeladenin. "jinyoung-ah." panggilnya.
"ne hyung?"
"tolong panggilin dokter jaga. kepala hyung sakit."

mendengar hal tersebut jinyoung mengangguk cepat lalu keluar tanpa pamit.
"dan kalian...kalian pasti udah lama disini. pulang gih. gue ga kenapa-kenapa kok. untuk kasus gue, ini masih ringan. percaya sama gue." kata minhyun, yang lebih ke ngusir.

yang diusir masih ga yakin. terbukti banyak protesan melayang sana-sini karena pengusiran minhyun.

sebenernya minhyun ga masalah sih kamar rawatnya kayak pasar, biasanya kan kayak krematorium. sepi.

cuman minhyun gamau mereka ngeliat lebih banyak sisi buruk (penyakit) nya.

"kayaknya kita emang harus pulang. kasian juga minhyun. besok-besok bisa ngejenguk lagi kan?" akhirnya, jisung sebagai paling tua memberikan utimatum.

terpujilah calon mahasiswa abadi tersebut.

sungwoon mensetujukan. "jisung bener. lagi pula sekarang udah malem, jam besuk udah mau abis. kasian ini bocah mau istirahat" lanjut sungwoon masih ngerapihin rambut minhyun.

"oya sebelum kalian pulang gue boleh minta tolong ga?"
"boleh lah. sebut aja. kita bantuin."
"kalo gue punya permintaan...bisa kalian kabulin ga? siapa tau itu permintaan terakhir gue." pinta minhyun, lalu dia nyengir. entah kenapa agak cheesy ya.

yang menyambut cengiran dia itu daniel, dengan seringai usil yang menjadi trademark nya. "tanpa lo bilang gitu kita pasti bakal lakuin kok min."


Esoknya keempat teman dekatnya (teman dari orok lebih tepatnya) mengunjungi minhyun, secara tiba-tiba. kang dongho, kim jonghyun dan choi minki yang satu angkatan dan satu kampus bareng dia lalu kwak Aron, manusia paling tua di antara mereka yang kebetulan lagi pulang kampung dari negri rantaunya, USA.

"sumpah gue ga percaya lo masuk rumah sakit cuma gara-gara sepak bola, hyun." komen minki, sejenakk setelah jinyoung ijin pergi buat beli makanan.

"bisa aja kagak." lanjut dongho, yang agak nyelekit di hati minhyun. walaupun pernyataan dia bener banget.

minhyun membuang napasnya pelan. "well, sebenernya bukan cuma gara-gara sepak bola sih. kondisi gue dari awal emang gaboleh main fisik tapi guenya batu. jadi gini deh."

ketiga teman nya meng'oh'kan perkataan nya berjamaah. kecuali satu orang.

"maksud lo dari awal?" tanya jonghyun. "kita tau lo dari awal, kita udah tau semua hal tentang lo. begitu juga lo ke kita"

"ga semua." minhyun menghela napasnya, lagi. kali ini dengan kencang. "lo emang tau semua hal tentang gue, kecuali yang ini."

"yang 'ini' maksud lo itu apa?" tanya aron.

"kalian inget miyeon noona?"

"bisa ga langsung ke inti?" tanya aron lagi, namun lebih ke gertakan. "jangan basa-basi plis."

minhyun mengangguk mengiyakan sembari melihat teman-teman nya. dan dari tampang mereka, mereka sudah tau apa yang akan ia katakan selanjutnya.

namun mereka menolak percaya dengan tebakan di pikiran mereka.

"ga cuma miyeon yang penyakitan." jawab minhyun akhirnya. "semenjak dilahirkan didunia gue udah menderita penyakit yang sama kayak miyeon, kanker otak dan sekarang udah stadium tiga."

teman-teman nya terdiam, beda drastis dengan reaksi kemarin.

"jadi lo selama ini sembunyiin dari kita kalo lo sakit?" tanya minki, memecah keheningan yang sudah berlangsung lumayan lama.

minhyun mengangguk. "malah gue kaget kalian ga ada yang mergokin gue atau tau duluan."

"maksud lo?" tanya jonghyun memperjelas. "lo aja ga kelihatan sakit hyun. dibandingin sama miyeon dulu."

minhyun kembali mengangguk mengiyakan. "itu karena gue ga melakukan hardcore treatment kayak miyeon. karena tadinya penyakit gue lebih ringan dari pada miyeon, jadi gue cuma minum obat dan check up kayak biasa. cuman akhir-akhir ini aja penyakit gue malah memperparah " minhyun pun melanjutkan penjelasan nya lagi. "padahal kita deket dari kecil tapi gue heran kenapa ga ada dari kalian yang curiga. karena setiap kali gue dirawat, gue selalu pake alesan gue pulang ke busan. terus tempat tidur medical yang ada di apart gue itu tempat tidur gue, bukan miyeon. miyeon ga butuh kayak gitu karena dia ga ada serangan epilepsi, makanya gue ga pernah ikutan nginep kalo ada acara-acara dan kalian sama sekali ga ada yang curiga. gila. " jelas minhyun "gue ga ngerti lagi gimana kalian punya pasangan kalo kalian ga peka semua." lalu minhyun terkekeh kecil.

mau ga mau, keempat teman nya itu ikut tertawa.

setelah mereka terdiam, minhyun mulai berbicara lagi. "gue boleh minta tolong ga sama kalian?"
"tentu. hyun. tentu."

minhyun mengulang perkataan yang ia pernah katakan ke wanna one. "tolong jangan anggap gue sebagai orang sakit yang bisa koit kapan aja, gue masih minhyun yang dulu."

tanpa bantahan dan komentar keempat teman nya mengangguk.

"sama satu lagi."

minki menghela napasnya. "yallah gustiii pangeran!, kesian gue sama pacar lo nanti. banyak maunya lo!" ucapnya dengan penyampaian mirip ibu ibu arisan yang mengundang tawa semua yang ada di dalam ruangan.

minhyun cemberut. "satu lagi doang elah."
"yaudah sok apaan."

"kalo gue punya permintaan, tolong dong kabulin? siapa tau itu permintaan terakhir gue."

keheningan menyelimuti mereka lagi.

"asal lo ga nyuruh gue ngelamar daehwi gue oke, oke aja. gue belom siap. gue belom mapan." ucap dongho tiba-tiba yang sontak ngebuat semua manusia di kamar itu ketawa guling guling.

"NEMBAK AJA KAGA BERANI LO GIMANA MAU NGELAMAR BUSET!"

disela-sela mereka masih ngeledek satu sama lain, minhyun tersenyum terharu.


"hyung, hyung lupa memberitahu mereka semua satu hal yang penting."

minhyun melirik jinyoung yang sedang memotongi kuku nya. "dan itu?"
jinyoung berhenti memotongi kuku minhyun, lalu menatap minhyun dalam. "kalau waktu hyung udah ga banyak lagi."

"ah...ya. hyung lupa."
"makanya lain kali kalo ada hal yang penting yang hyung kiranya ga bisa inget. bilang ke gue. biar gue yang ingetin."

minhyun mengangguk. "tapi hyung minta permintaan ke mereka sih."
jinyoung menaikan sebelah alisnya, bingung. "permintaan?" tanya jinyoung
"hyung tau waktu hyung ga banyak lagi. jadi hyung minta permintaan terakhir hyung."

tatapan jinyoung berubah jadi sayu, ia pun kembali menunduk dan kembali memotongi kuku minhyun.

minhyun tersenyum. "jangan sedih gitu dong ganteng."

"engga sedih kok. tapi hyung kalo minta ke mereka minta yang mahal ya hyung, kan nanti ujung-ujung nya buat gue."

sontak minhyun menggaplok kepala jinyeong dengan tangan bebasnya. dasar adek ga tau diuntung.


oke gaes. ini ga mangkrak kok.

dan untuk couple, diriku yang labil ini sudah bisa memutuskan jadi ANTARA NIELHWANG DAN ONGHWANG!

ehe.

untuk 2hyun...entah kenapa udah ga appealnya ke gue.

terima kasih yang udah review, follow dan fav! muahmuah!

oh ya, gue lebih sering main di ao3 sih. cek aja sleepywinter. cuman gue belom crossposted sih. nanti kalo final udah selese huhu.