Joonmyeon mendesah pelan ketika mendapati Yixing masih tidak memberikan respon apa – apa padanya. Dengan cekatan ia mendekati dirinya ke tubuh Yixing. Niat awalnya dia mau membuka seatbelt yang terpasang di tubuh Yixing. Tapi ketika ia melihat wajah Yixing dari jarak sedekat ini, perlahan namun pasti niat awalnya itu bergeser menjadi niat untuk mencium bibir Yixing yang terlihat menggoda itu.

Perlahan namun pasti bibir Joonmyeon semakin mendekat, dan semakin mendekat..

Tepat saat bibirnya menempel di bibir Yixing, pikirannya blank. Kecupan itu hanya bertahan beberapa detik. Walaupun demikian, ada perasaan asing yang tidak mereka berdua rasakan sebelumnya, yang perlahan menyisipi hati mereka masing – masing.

Joonmyeon kemudian menarik bibirnya menjauh dan menatap Yixing dengan pandangan horornya, sedangkan Yixing menatapnya dengan pandangan shock luar biasa.

"Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan? Aku masih normalkan?" batin Joonmyeon.

"Dia menciumku? Ini mimpi?" batin Yixing.

.

.

.

Mr. Straight?

Cast : Kim Joon Myeon

Zhang Yi Xing

Genre : Romance, Drama

Rated : T

Disclaimer : Zhang Yi Xing and Kim Joon Myeon belong to themselves. But this fict is belong to me.

Warning : This fiction is contain with Boys Love/Slash/ Shounen – ai, so if you hate these thing better you press the 'back' button on your web browser. Thank you.

Enjoy the story~

.

.

.

::Chapter 3::

.

.

.

Joonmyeon tersenyum kikuk, Yixing merona merah.

Sepanjang makan siang itu mereka hanya terdiam meratapi kejadian yang baru saja menimpa mereka. Suasana canggung pun ikut mewarnai makan siang mereka. Mereka berdua terlalu gugup untuk memulai percakapan.

"Yixing," panggil Joonmyeon kemudian, mencoba untuk mengakhiri suasana canggung diantara mereka berdua.

Yixing berdeham sejenak sebelum menjawab, "Ya?"

"Boleh aku minta nomor telepon mu?"

UPS.

JOONMYEON MODUS! HA. Habis nyipok anak orang sekarang minta nomer teleponnya? BAGUS! Give him applouse.

Yixing mengernyitkan dahinya, "Untuk apa tuan?"

Joonmyeon pun gelagapan mencari alasan logic. "Um anu itu kan kita sebagai atasan dan bawahan, sudah semestinya aku punya nomermu dan kau punya nomer ku kan?"

Great. Satu lagi alasan konyol yang keluar dari mulut sexy Joonmyeon.

"Tapi..." Sebelum Yixing menyelesaikan kalimatnya Joonmyeon telah memotongnya. "Supaya lebih mudah mengabariku jika aku tidak ada di tempat,"

Alasan bagus Myeonie.

Yixing menganggukkan kepalanya paham, lalu merogoh kantongnya guna mengambil telepon genggam miliknya. "Ini tuan," ucap Yixing.

Joonmyeon menerima telepon genggam Yixing, "Hm," Selanjutnya ia pun juga melakukan hal yang dilakukan sebelumnya oleh Yixing. "Dan ini, tulis nomer telepon mu oke?"

Beberapa saat kemudian, nomer mereka masing – masing telah tersimpan di masing – masing telepon pintar lawannya.

Tuan Joonmyeon.

Sekretaris Yixing.

Manis ya? Entah manisnya dari mana. Tapi anggaplah itu manis. Oke?

Joonmyeon tersenyum kecil kemudian lalu menggaruk tengkuknya, pertanda bahwa ia gugup. "Ngomong – ngomong maafkan aku atas insiden di mobil tadi ya?" ucap Joonmyeon dengan gurat merah di kedua pipinya.

Yixing menundukkan kepalanya; rona tipis yang tadinya mulai pudar kini muncul perlahan – lahan di pipi tirus miliknya. "T-tidak apa – apa tuan, aku yakin tuan tadi tidak sengaja," ucapnya terbata.

Yixing mencelos setelah ia mengucapkan kata – kata itu, entah kenapa dalam hati ia berharap bahwa kejadian yang menimpa mereka tadi itu bukan kesengajaan Joonmyeon, tapi memang karena Joonmyeon memang ingin melakukannya.

Tapi detik berikutnya, bagaikan sudah jatuh lalu tertimpa tangga ia baru ingat bahwa Joonmyeon itu adalah seorang yang straight bukan seperti dirinya yang agak sedikit melenceng. Jadi mungkin memang benar kejadian tadi adalah ketidak sengajaan.

"Kamu kenapa?" tanya Joonmyeon tiba – tiba.

"Eh?"

"Kenapa kamu melamun seperti itu?" tanya Joonmyeon lagi.

"Maaf tuan, saya tidak melamun kok," jawab Yixing sambil menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.

Joonmyeon mengangguk singkat sebagai balasan. "Oh ya, sehabis ini apa jadwalku?"

Yixing terdiam kemudian mengecek telepon genggamnya. "Habis ini anda bebas, tetapi pada pukul 7 nanti anda harus menghadiri pesta salah satu kolega anda Mr. Wu Yi Fan, yang merayakan ulang tahun tunangannya yang ke 21 tahun di hotel Ritz Carlton, tuan," jelas Yixing.

Joonmyeon menepuk dahinya pelan, pertanda bahwa ia telah melupakan sesuatu. "Bodoh! Bagaimana aku bisa melupakan acara sepenting itu,"

"Sehabis ini kau temani aku mencari baju untuk datang kepesta itu oke? Dan nanti sore kau harus ikut aku. Jadi kita sekalian membeli baju untuk mu,"

Dan Yixing pun hanya membulatkan matanya mendengar pernyataan mutlak dari sang Big Boss.

Jadi waktu mereka untuk berduaan pun semakin lama. Hore.

.

.

Setelah puas berkeliling di pusat perbelanjaan di daerah Gangnam, Yixing dan Joonmyeon pun akhirnya pulang dengan tentengan yang tak terbilang sedikit. Dan asal kalian tahu itu semua adalah belanjaan Joonmyeon. Yixing sama sekali tidak membeli apapun karena ia sedikit iritasi dengan harga yang tertera di seluruh baju yang didisplay di daerah Gangnam.

Ketika mereka masuk kedalam mobil Joonmyeon terdiam, membuat Yixing bertanya – tanya ada apa dengan bos pendek namun tampannya itu. Dan pertanyaan terjawab ketika ia melihat Joonmyeon sedang membongkar beberapa plastik yang ada di jok bagian belakang mobilnya itu.

Joonmyeon mengeluarkan satu stel jas dengan merek ternama lengkap dengan sepatu yang terlihat begitu menggoda dan mahal. Lalu ia menyerahkan itu semua ke pangkuan Yixing.

"Pakai ini nanti saat menghadiri acara ulang tahun tunangan teman ku itu," titah Joonmyeon.

Yixing membulatkan matanya, "Tapi tuan, saya tidak bisa menerima ini semua. Gaji saya tidak akan cukup untuk mengantikan ini semua," ucap Yixing kemudian.

Joonmyeon tertawa mendengar perkataan Yixing, "Kau tidak perlu membayar ini semua, cukup temani aku saja nanti malam."

Joonmyeon menatap Yixing yang masih mematung itu, "Sekarang tunjukkan dimana rumah mu Xing,"

Yixing menganggukkan kepalanya patah – patah lalu mulai menuntun Joonmyeon menuju arah ke rumahnya.

Beberapa menit berlalu, tibalah mereka di halaman rumah Yixing. Rumah minimalis dengan halaman depan yang dipenuhi oleh bunga yang begitu indah.

"Ini rumah mu?" tanya Joonmyeon dengan takjub.

"Iya tuan, pasti rumah saya tidak sebesar rumah anda tapi saya sangat nyaman tinggal disini," jawabnya.

Joonmyeon menggeleng, "Bukan begitu, tapi rumahmu begitu indah, dan ya tak perlu kau bilang aku yakin pasti rumah mu sangat nyaman untuk di tinggali sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara,"

Eh?

Joonmyeon kicep, Yixing cengok.

"Memangnya siapa pasangan kekasih yang mau tinggal di rumah ku?" tanya Yixing kemudian, seakan memancing Joonmyeon untuk melontarkan jawaban asal miliknya.

"Mungkin kau dan boss mu?"

Kan ngasal lagi kan jawabannya -_-.

Yixing tersenyum malu mendengar kata – kata Joonmyeon. "Anda terlalu banyak bercanda tuan," ucapnya. "Saya permisi dulu tuan, saya harus bersiap untuk acara nanti,"

Setelah berucap demikian Yixing turun dari mobil Joonmyeon, dan Joonmyeon menurunkan jendela tempat Yixing duduk tadi.

"Ya, berdandanlah yang rapih. Tepat pukul 6 akan kujemput kau,"

Tadi katanya apa?

Berdandan? Hell! Yixing bukan perempuan tahu!

Yiixing mencebikkan bibirnya lalu berseru, "Ya! Saya bukan perempuan tuan!"

Joonmyeon terbahak mendapati asisten personalnya yang manis itu ngambek. "Ya, ya kau bukan perempuan. Sekarang cepat masuk dan bersiap, aku akan pulang dan bersiap juga. Sampai jumpa nanti, Yixing,"

Yixing masuk kedalam rumahnya dengan kaki yang di hentak – hentakkan kemudian setelah ia sampai di depan pintu rumahnya ia masuk lalu membanting pintunya dengan cukup keras, sedangkan Joonmyeon terkekeh geli melihat kelakuan personal asistennya.

Yixing terdiam di balik pintu utama rumahnya, perlahan tubuhnya merosot kebawah seakan kakinya tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya. Ia memenggangi dada sebelah kirinya, tempat dimana jantungnya berada.

Deg.. Deg.. Deg..

Jantungnya memompa dengan cepat seakan membentuk melodi indah namun tergesa.

Yixing menelungkupkan kepalanya di antara kedua tangannya, dengan mata yang berkaca – kaca.

"Yixing bodoh, kenapa kau bisa jatuh cinta kepada boss mu yang straight itu?"

Ia mendesah pelan, "Bodoh, bodoh, bodoh!" serunya.

Kemudian ia mengarahkan ibu jarinya kearah bibirnya; mengusapnya perlahan. "Bahkan ciuman tadi pun masih bisa kurasakan," ucapnya kemudian. "Begitu nyata, manis namun menyakitkan,"

"Ini gila, aku baru saja menjabat sebagai asistennya selama satu hari dan langsung jatuh cinta padanya. Sungguh Kim Joonmyeon, apa yang telah kau lakukan padaku?"

Oke. Mari kita tinggalkan Yixing yang sedang bergalau ria. Biarkan ia sendiri dengan segala pikirannya tentang Joonmyeonnya itu.

Saatnya kita berpaling ke seseorang yang sedari tadi masih memarkirkan mobilnya tak jauh dari kediaman Yixing.

Ya, Joonmyeon memang sudah meninggalkan halaman depan rumah Yixing. Tetapi kemudian ia kembali menginjak rem setelah beberapa meter meninggalkan halaman depan rumah Yixing.

Joonmyeon membenturkan kepalanya kearah stir mobilnya beberapa kali. Kemudian bergumam. "Aku masih straight, aku masih straight, aku masih straight," rapalnya beberapa kali bagaikan mantra.

Kemudian ia melirik kearah cermin yang ada di dalam mobilnya, melirik kearah bibirnya yang tadi sempat merasakan kelembutan bibir milik Yixing. Ia pun meraba bibirnya itu, lalu mengusapnya perlahan. Membayang sensasi bibir Yixing yang masih tersisa. Sebuah senyuman getir pun perlahan tersungging tipis di bibirnya.

"Aku tidak mungkin melenceng karena dia kan?" ucapnya kemudian lalu kembali membenturkan kepalanya kearah stir mobilnya. Menandakan bahwa ia benar – benar merasa depresi karena orientasi seksualnya di ambang kehancuran.

Apa?

Hiperbolis banget ya? Bodo.

.

.

Yixing mengenggam mengatupkan tangannya yang terasa begitu dingin. Istilahnya dia nervous gitu nungguin Joonmyeon. Berkali – kali ia melirik ke arah jam dinding yang terpajang apik di ruang tengah miliknya itu. Pukul 17.55, tandanya lima menit lagi Joonmyeon akan datang untuk menjemputnya.

Astaga, Yixing sangat gugup sekarang. Pikiran – pikiran mengenai bagaimana rupa Joonmyeon nanti bersliweran di pikirannya. Ia pun meremas ujung jas nya guna mengurangi kegugupannya, membuat ujung jasnya sedikit kusut.

Ting.. tong..

Suara bel rumahnya bergaung. Yixing berlari dengan kecepatan cahaya untuk membuka pintu rumahnya itu. Dan benar saja Joonmyeon telah berdiri tepat didepannya dengan gantengnya. Ia mengenakan setelan jas yang sama dengannya, namun entah kenapa ketika Joonmyeon yang memakainya, ia merasa Joonmyeon jauh begitu tampan dari sebelumnya. Oh dan jangan lupa dengan style rambut Joonmyeon yang begitu tampan saat ini, ia menyisir rambutnya kearah belakang, membuat kesan manly dan tampan semakin keluar dari dalam dirinya.

"Ayo pergi, kau sudah siapkan?" tanya Joonmyeon to the point.

Yixing menganggukkan kepalanya ragu lalu melangkah pelan keluar rumahnya. Ia mendadak galau, penampilannya tak sebagus Joonmyeon. Ia takut jika teman – teman Joonmyeon nanti menganggap remeh Joonmyeon karena mempunya asisten seperti dirinya.

"Ada apa?" tanya Joonmyeon setelah menghidupkan mesin mobilnya.

"Tidak ada apa – apa tuan," jawab Yixing dengan lugas.

"Kau berbohong," ucap Joonmyeon. "Dan aku tidak suka ada orang yang berbohong di lingkup kehidupanku," lanjutnya. Yixing pun gelagapan mendengar pernyataan Joonmyeon.

"Anu.. maafkan saya tuan.. Tapi saya hanya tidak pantas mengenakan setelan jas seperti ini, saya tidak setampan anda, saya tidak semanly anda, dan saya tidak sesempurna anda," ujarnya sambil menundukkan kepalanya.

Sadarkah kau Yixing, kau baru saja membuat seorang Joonmyeon merona karena kau puji?

"Kau memang tidak tampan, kau memang tidak manly dan kau memang tidak sesempurna ku, bahkan kau baru kerja beberapa jam saja sudah melakukan banyak kesalahan," ujar Joonmyeon dengan sadisnya, dan tentu saja hal itu membuat Yixing semakin terpuruk. "Tapi.." Joonmyeon sengaja menggantungkan kalimatnya, mencoba untuk mendapatkan perhatiannya. Dan benar Yixing menoleh kearah Joonmyeon, seakan meminta Joonmyeon untuk melanjutkan perkataannya.

Joonmyeon tersenyum kecil, walaupun saat ini seluruh perhatiannya sedang terfokus pada jalanan di depannya tapi ia berani bertaruh bahwa saat ini bawahannya itu sedang menatapnya dengan pandangan penuh keingin tahuan miliknya itu.

"Kau itu cantik, manis, baik, bodoh, dan entahlah. Terlalu banyak hal yang ada di dalam dirimu yang tidak ada pada orang lain. Boleh ku bilang, kau itu spesial," ujarnya.

Yixing tersipu mendengar penuturan Joonmyeon.

'Sialan kau Joonmyeon, kau membuatku semakin terperosok pada dirimu,' gumam Yixing dalam hati.

"Terimakasih tuan, " jawab Yixing kemudian.

Joonmyeon menganggukkan kepalanya singkat. "Aku hanya berbicara yang sesungguhnya,"

Yixing tidak bisa menyembunyikan rona kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Ia begitu bahagia mendapati bossnya itu memuji sedemikian rupa. Sungguh dari semua orang yang memujinya, entah kenapa pujian yang dilontarkan oleh Joonmyeon adalah pujian yang paling spesial menurutnya. Joonmyeon pun menyadari bahwa sekretaris pribadinya itu sedang berada di mood paling bagus karena dirinya, dan entah kenapa hal itu membuat hatinya berdesir aneh.

Tepat pukul 7 mereka tiba di kediaman Wu Yi Fan, banyak orang – orang penting hadir di pesta mewah yang diadakan oleh salah satu pengusaha paling berpengaruh di China itu. Puluhan mobil mewah pun berjejer rapih di halaman depan hotel mewahitu dan Yixing berdecak kagum melihatnya.

"Mewah sekali," ucap Yixing tanpa sadar. Mengundang reaksi tidak suka dari Joonmyeon.

"Ya aku tahu," balasnya. "Ayo turun," titah Joonmyeon yang dibalas anggukan oleh Yixing.

"Eh? Tunggu tuan, kalau kita turun disini, lalu yang memarkirkan mobil anda siapa?" tanya Yixing setelah berada di samping Joonmyeon.

"Mereka," ucap Joonmyeon sambil menyerahkan kunci mobil miliknya pada seorang pemuda berpakaian rapi yang berdiri di balik meja di dekat mereka.

"Hebat ya orang kaya bisa mempunyai yang seperti itu," ucap Yixing dengan polosnya dan Joonmyeon hanya menanggapinya dengan senyuman geli.

Ketika mereka berdua melewati red carpet banyak wartawan yang menyoroti Yixing dan Joonmyeon, banyak gadis yang berteriak menyerukan nama Joonmyeon, bahkan beberapa gadis pun mulai melangkah maju mencoba mendekati Joonmyeon. Alhasil Yixing pun nyaris tersungkur akibat kehilangan keseimbangannya, tapi sebelum ia benar – benar tersungkur, sebuah tangan telah apik bertengger di pinggannya guna menyangga dirinya agar tidak terjatuh.

"Terimakasih tuan," ucap Yixing sambil menatap Joonmyeon, dan Joonmyeon pun hanya membalasnya dengan senyuman ganteng miliknya. 'Astaga pinggangnya bahkan lebih mungil dari seorang gadis,' ucap Joonmyeon dalam hati.

"Tuan Kim Joonmyeon!" seru seorang wartawan memanggil namanya. Joonmyeon pun menoleh kearah wartawan itu lalu tersenyum.

"Ya?" jawabnya.

"Siapa pemuda yang sedang anda rangkul itu?" tanya wartawan itu. Joonmyeon tersadar bahwa tangannya masih merangkul pinggang Yixing, tapi tak ada niatan untuk melepaskan tangannya itu dari pinggang Yixing.

"Apa kah dia pacar anda?" wartawan yang lain ikut bertanya. Joonmyeon menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan dari wartawan tersebut, dan sekelebat ide jahil muncul di otaknya. Joonmyeon merangkul pinggang Yixing makin erat, sedikit meremasnya hingga tanpa sadar Yixing mengeluarkan desahan kecil.

"A-ahh.."

Yixing merona malu lalu menundukkan kepalanya, sedangkan Joonmyeon, dirinya melongo mendengar desahan Yixing. Kemudian Joonmyeon menyadari bahwa sesuatu dibawahnya sedikit terbangun setelah mendengar desahan ehemsexyehem milik Yixing itu. 'Sial, dia hanya sedikit mendesah dan punya ku sudah begini. Astaga adik mungilku kembalilah tidur, aku tidak ingin bermain solo di kamar mandi si naga itu!' seru Joonmyeon dalam hati.

"Ah itu, perkenalkan dia Zhang Yixing, dan dia adalah.."

"JOONMYEON!" sebelum ia menyelesaikan kalimatnya seseorang telah berteriak memanggil namanya, dan itu ternyata adalah Wu Yi Fan teman sepermainannya sejak dulu.

"KRIS!" balasnya.

Joonmyeon pun meninggalkan para wartawan yang masih kepo dengan kelanjutan perkataannya itu begitu saja, tentu saja ia pergi bersama dengan Yixing yang masih setia berada di rengkuhannya tentunya.

"Yo old man!" seru Kris kemudian.

"Please you older than me, Kris," balas Joonmyeon.

"But you are the one who still have no girlfriend or boyfriend," ujar Kris.

"It has no any correlation, stupid," balas Joonmyeon sambil memutar kedua bola matanya malas.

Wu Yi Fan atau sebut saja Kris terkekeh pelan mendapati teman sepermainnya kesal akibat perbuatannya. Kemudian tanpa sengaja melirik kearah orang yang sedari tadi berdiri disamping Joonmyeon. "Who is this?" tanya Kris.

Joonmyeon mengernyitkan alisnya seakan bertanya apa maksud Kris. "Him," tunjuk Kris kearah Yixing.

"Oh dia? Dia personal asistenku, Zhang Yixing," ucap Joonmyeon kemudian. "Yixing kenalkan ini Wu Yi Fan sahabat bodohku sejak kecil,"

Kris mengulurkan tangannya dan Yixing pun membalasnya, mereka berjabat tangan sebentar lalu saling melemparkan senyuman kecil. "Senang bertemu dengan anda Tuan Yi Fan," ucap Yixing kemudian.

"Ya dan senang bertemu dengan mu juga Yixing. Ngomong – ngomong kau bisa memanggilku dengan Kris, seperti si old man ini," balas Kris. "Ah ya ngomong – ngomong kau manis,"

Yixing merona, "Terima kasih tuan Kris,"

Hell yeah siapa sih yang tidak merona kalau di puji sama orang ganteng?

Dan Joonmyeon tidak suka akan hal itu.

"Akan ku laporkan pada bocah panda itu bahwa tunangannya sedang menggoda personal asisten sahabatnya," ancam Joonmyeon yang langsung membuat Kris tertawa terbahak.

"Slow down baby, I don't wanna steal the thing that yours," ucapnya kemudian.

Joonmyeon memutar matanya jengah, "Terserah kau saja lah,"

Sedangkan Yixing hanya memandang mereka berdua dengan tatapan bingungnya. Bukannya Yixing tidak paham bahasa Inggris atau apa, tapi ia tidak tahu pasti apa yang sesungguhnya sedang diperdebatkan oleh kedua orang penting itu saat ini.

"Ngomong – ngomong aku punya red wine tahun 1708," ujar Kris. Joonmyeon menyeringai kecil mendengarnya. "And its yours, your present for your birthday,"

"Late present eh? But it's alright, i'll take it. Thank you Kris, I love you more than my shit,"

"Jerk," seru Kris sambil terbahak.

"Kris –ge!"

"Tao –ah?" balas Kris kepada seorang pemuda yang tingginya tak jauh darinya.

"Gege jahat masa Tao ditinggal sendirian tadi?" rajuk Tao.

"Maafkan gege, tadi aku sedikit berbincang dengan mereka," tunjuk Kris pada Joonmyeon dan Yixing.

"Joonmyeon ge!" seru Tao senang. "Um dan maaf siapa kamu?" tanya Tao setelah ia menyadari bahwa Joonmyeon tidak datang sendirian.

Yixing tersenyum simpul, "Aku Zhang Yixing, personal asistennya tuan Joonmyeon," ucap Yixing sambil membungkukkan tubuhnya 90 derajat.

Tao tersenyum senang, "Ah! Kau manis sekali Yixing ge!" seru Tao kemudian.

"Terima kasih, tuan Tao. Ngomong – ngomong, selamat ulang tahun tuan, semoga Tuhan selalu menyertai anda dan memberkati anda," balas Yixing.

"Tao, selamat ulang tahun ya? Dan untuk hadiah mu, akan tiba di rumah mu besok pagi," ucap Joonmyeon tiba – tiba.

"Terimakasih Yixing –ge, Joonmyeon –ge!" ucap Tao kemudian. "Ah ya maaf aku harus menyeret Kris – ge dulu, apakah tidak apa – apa?"

"Tidak masalah, bawa saja dia," ucap Joonmyeon tanpa beban.

Acara itu berlangsung dengan meriah dan mewah, membuat siapa saja tidak sadar bahwa mereka telah menghabiskan berjam – jam diacara tersebut. Semua orang nampak menikmati acara tersebut tetapi tidak dengan Yixing, ia menatap Joonmyeon dengan wajah khawatirnya. Ini sudah botol ke lima yang ia minum, cairan berwarna merah itu seakan sudah membuat Joonmyeon begitu kecanduan dan Yixing yakin sekali bahwa kesadaran Joonmyeon saat ini sudah mulai menghilang.

Dengan sigap Yixing menarik botol keenam yang akan di buka oleh Joonmyeon, dengan nada tegas ia berkata, "Sudah cukup tuan, ini botol ke enam yang ada minum, dan anda mulai kehilangan kesadaran anda,"

Joonmyeon menggeleng lemah, "Aku tidak mabuk,"

"Dan tidak ada orang mabuk yang mengaku mabuk," balas Yixing. "Ayo pulang," Yixing menyampirkan tangan Joonmyeon di pundaknya dan ia menyampirkan tangannya di pinggang Joonmyeon untuk menjaga keseimbangan pemuda itu.

Dengan langkah tertatih karena menahan berat berlebih Yixing mulai melangkah keluar dari ballroom hotel tersebut. Ketika ia hampir mencapai pintu ballroom Kris menghampirinya.

"Ada apa?" tanya Kris.

"Tuan Joonmyeon mabuk," jawab Yixing sekenanya.

"Ha?" Kris menaikkan sebelah alisnya, ia kemudian melirik kearah Joonmyeon. 'Dasar brengsek, tukang mencari celah, dasar,' batin Kris.

"Aku yakin kau tidak bisa menyetir, jadi lebih baik kau menginap di hotel ini bersama si bodoh ini," saran Kris. Yixing pun mengangguk cepat.

"Oke ayo ikut aku," ucap Kris kemudian. Kris melangkahkan kakinya menuju meja reservasi untuk memesan satu kamar mewah untuk Yixing dan Joonmyeon, setelah urusan administrasi beres mereka pun beranjak kearah lift lalu berjalan menuju kamar yang telah mereka pesan.

Saat tiba di kamar, Kris membantu Yixing untuk menurunkan Joonmyeon di tempat tidur.

"Kau berhutang padaku, Suho," bisiknya tepat di telinga Joonmyeon.

Setelahnya ia pun pamit pada Yixing, beralasan bahwa ia tidak bisa meninggalkan Tao begitu saja di ballroom sendirian terlalu lama. Bisa – bisa Taonya akan menangis seperti anak kecil nantinya.

"Tolong jaga si bodoh itu, aku serahkan dia padamu," pesan Kris sebelum ia meninggalkan ruangan kamar Yixing dan Joonmyeon.

Kini hanya tersisa Joonmyeon dan Yixing di ruangan itu. Yixing perlahan melangkah pelan kearah Joonmyeon lengkap dengan sebaskom air hangat dengan handuk mini guna membilas wajah serta tubuh Joonmyeon untuk membuatnya lebih nyaman.

Dengan cekatan Yixing menanggalkan sepatu mahal serta kaos kaki milik Joonmyeon, kemudian ia beralih pada jas Joonmyeon. Setelah berhasil menanggalkan jas Joonmyeon, kini ia harus menanggalkan kemeja pemuda itu. Dengan hati yang bercampur aduk, dan tangan tangan yang bergetar ia pun mulai melepas satu persatu kancing kemeja milik Joonmyeon.

Finally! Kemeja Joonmyeon berhasil ia tanggalkan, kini Joonmyeon telah topless saat ini.

Yixing menegguk ludahnya dengan berat ketika matanya tak sengaja menatap lekukan tubuh Joonmyeon.

Sangat menggoda. Pikirnya.

Saat ia ingin mengambil lap yang ada di dalam baskom, sepasang mencegahnya. Membuat tubuhnya jatuh tepat diatas tubuh Joonmyeon.

Keduanya bertatapan. Yixing menatap Joonmyeon dan Joonmyeon menatap Yixing. Dunia mereka terasa berhenti sejenak, hawa disekitar mereka terasa panas mendadak. Dan entah sejak kapan posisi mereka berubah. Joonmyeon diatas Yixing, seakan memperangkap Yixing dibawah kedua lengan kokohnya sedangkan Yixing hanya menatap Joonmyeon seakan pasrah dengan apa yang akan diperbuat Joonmyeon.

Perlahan wajah Joonmyeon semakin mendekat kearah Yixing. Sangat dekat sampai – sampai Yixing dapat merasakan deru napas Joonmyeon menerpa wajah manisnya. Yixing tidak dapat berbuat apa – apa lagi, ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya. Sampai akhirnya...

.

.

.

.

.

*TBC*


Pojokan Author :

Sampai pada akhirnya apa hayo? :O jangan Cekek saya karena saya cut adegannya /ketawa laknat/

Well ini wordnya cukup banyak, jadi kalau ada yang bilang ini sedikit.. biarkan saya menangis dipangkuan anda. /apa

TERIMAKASIH UNTUK YANG REVIEW, FAVE, DAN FOLLOW. I LAF U GAYS I LAF U! /heh

Btw sekian dulu dari saya, sampai jumpa di chap depan.. btw saya kemungkinan gak jadi tamatin di chap depan. saya mau kasih konflik dulu biar greget /apa. tapi itu tergantung kalian semua, kalau mendukung saya ya saya panjangin fict ini :")

Nah mind you to give me some feedback? :D