Boys Out
[KonoEne]
"Hah? Sodanya habis?" Shintaro menatap isi kulkas, kaleng soda tidak terlihat di mana-mana.
"Ehh maaf," suara itu familiar, tetapi Shintaro tidak menyangka orang tersebut yang akan berkata begitu. Dia mendongak, kemudian menoleh pada asal suara. Mary terlihat berdiri di antara celah lorong dengan dapur tersebut. Gadis itu tampak terkejut dan sepertinya menghentikan langkahnya sebelum mengatakan hal tersebut. Sebuah kaleng soda di tangannya.
"Mary mengambil kaleng soda yang terakhir, maaf ya Shintaro," Seto, yang selalu berada di samping Mary ketika dia tidak sedang bekerja, memperjelas perkataan Mary.
Shintaro kemudian mengerti, dia cepat melambaikan tangannya lalu menutup pintu kulkas, "Tidak perlu minta maaf," katanya. Mary terlihat sangat bersalah, kasihan dia. Akan tetapi, kenapa dia minum soda? Kok tumben sekali. Shintaro menggaruk kepalanya.
"Aku hanya mencoba. Tak kusangka ini soda terakhir," Mary berkata, kaleng soda terlihat bergetar sedikit di tangannya.
Ohh jadi begitu. Shintaro tidak keberatan. Lagipula dia bukanlah penghuni tetap base, ya wajar saja kalau soda habis. Bukan hak dia juga untuk mengomel barang yang bukan sepenuhnya miliknya. "Tidak apa-apa, Mary. Teruskan saja, aku akan beli soda di luar,"
Mary mengangguk, tetapi rasa bersalah masih terlihat di wajahnya. "Maaf ya, Shintaro.."
"Sudahlah Mary. Dia tidak keberatan kok. Yang penting kau puas kan? Gimana? Rasanya enak kan?" tanya Seto, dengan sabarnya menenangkan Mary.
"Hmm.. Agak aneh.. Aku tidak sanggup menghabiskannya.. " Mary terlihat kebingungan, melihat mulut kaleng sodanya.
"Tidak aneh kok.. kau bisa menghabiskannya. Lihat, Shintaro pasti lebih senang kalau kau menghabiskannya,"
Ditunjuk oleh Seto, Shintaro kebingungan, antara harus setuju atau melawan pernyataan itu. Shintaro memilih setuju ketika Mary memberikannya tatapan yang mengartikan bahwa gadis itu akan percaya apapun yang dikatakannya.
"Tidak bisa!" Mary menyodorkan kaleng soda itu ke samping, seperti ingin jauh-jauh saja dari benda itu. Kemudian gadis itu agak terkejut karena benda di tangannya itu tiba-tiba terangkat darinya.
Gluk.. gluk..
Mata Mary melebar melihat Seto di sampingnya meneguk soda itu. Beberapa tegukan dia lakukan sebelum mengembalikannya di telapak tangan Mary yang masih terbuka.
"Nah sekarang aku yakin kau dapat melakukannya!" Seto mengeluarkan senyum termanisnya.
Lantas Mary ikut tersenyum, dia menarik soda itu dekat darinya kemudian dia mengangguk.
"Nah, Shintaro tenang saja! Mary tidak akan mengecewakanmu!" Seto melambaikan tangannya pada Shintaro sebelum melanjutkan jalannya di lorong, Mary mengikuti di sebelahnya.
Shintaro yang berada di depan kulkas hanya terpaku setelah melihat adegan kedua orang tersebut, "Tidakkah mereka sadar bahwa mereka baru saja berciuman secara tidak langsung?"
"Wah, Master mengerti hal itu juga!"
Mendengar kicauan yang familiar itu, Shintaro cepat menatap layar ponselnya dengan alis tersilang. "Tentu saja aku mengerti!"
"Sepertinya mereka sudah terbiasa ya, Master!" Ene terlihat melayang di antara menu-menu di layar ponselnya seperti biasa.
"Mana ku tahu! Tapi memang dasar pasangan aneh!"
"Kita juga kan Master?" Ene berseru, menggoda.
"Enak saja!"
Shintaro cepat menaruh ponselnya di dalam kantung jaketnya. Setelah tidak dapat mendengar ocehan Ene lagi, hal pertama yang muncul di pikirannya adalah satu; Membeli selusin soda kemudian melabelinya dengan namanya sendiri sebagai persediaan selama dia berada di base.
[*********]
"Kau ingin ke mana, kak? Kau baru saja sampai! Tidak ada rasa kangen apa dengan base?" Momo, walau di depan TV, kenal dengan langkah kaki kakaknya yang melintasi ruang tengah.
"Membeli soda, persediaan soda habis!" Shintaro berkata dengan gayanya yang santai. Dia berhenti bergaya seperti itu ketika melihat Mary yang duduk tak jauh dari Momo. Dia melambaikan satu tangannya pelan-pelan, bermaksud menenangkan gadis yang masih terlihat bersalah karena menghabiskan satu-satunya soda yang tersisa.
"Bawang!"
"Huh?"
Mereka serempak menoleh ke arah celah menuju ruang tengah. Kido datang dengan memakai apron, tangan memegang ciduk sayur, ekspresi wajahnya histeris.
"Persediaan bawangku tidak cukup untuk makan malam nanti!" Kido berseru, ciduk sayur di tangannya bergerak-gerak dengan mengerikan.
"Lalu?" Kano, datang dari belakang karena keributan tersebut, bertanya dengan santainya.
"Kau harus membelinya! Juga persediaan bulanan lainnya! Sudah menipis tahu!" Kido menjawab. Kesabarannya di ujung tanduk.
"Ya ya.. tapi itu tugas Seto untuk membeli barang-barang tersebut, ya kan Seto?"
"Ya," Seto mengangguk, bangun dari sofa yang didudukinya. "Rencananya sih aku akan membelinya besok, tapi rupanya segawat ini ya. Maafkan aku, Ketua,"
"Tidak perlu meminta maaf, kau harus membelinya sekarang!" Kido berbicara dengan gaya ketuanya.
Seto mengangguk, patuh dengan perintah ketuanya. Akan tetapi, dia merasakan seseorang menarik ujung jaketnya. Tangan kecil itu.. Mary. Gadis itu terlihat tidak rela dengan perintah yang tiba-tiba itu.
"Kau juga ikut dengannya!" Kido menendang bagian paha Kano. Gadis itu kesal dengan ekspresi Kano yang senang karena tidak diberi tanggungjawab. Sebagai akibatnya, Kano menatapnya, kesakitan sekaligus kebingungan.
"Seto semakin sibuk, dan dia masih harus mengurusi persediaan pokok di base ini. Kau seharusnya meringankan bebannya!" seru Kido, tanpa memberikan celah untuk dibantah. "Shintaro, Hibiya, Konoha, kalian juga bantu!"
"Baik, Ketua!" seru yang lain, patuh.
Beberapa menit selanjutnya, kelompok belanja bulanan, yang rupanya cowok-cowok Mekakushi-Dan, siap berangkat.
"Bahkan Ene pindah ke ponsel Momo.."
"Kenapa? Kau sedih?"
Shintaro mendongak untuk melihat Konoha berkata padanya.
"Buat apa.." dia menaikkan hidungnya untuk menambah maknanya. Dia menjauh dari Konoha dan mendekat pada Seto. "Jadi.. kau biasa belanja bulanan?"
Seto memasang senyum yang menjadi ciri khasnya, "Yep. Biasanya sehabis aku bekerja, aku langsung belanja. Rupanya keadaan sekarang berbeda. Mungkin benar karena aku terlalu sibuk, atau karena anggota mekakushi-dan semakin banyak jadinya kebutuhan makin banyak, siapa tahu,"
"Jadi.. ini untuk pertama kalinya kita..?"
"Benar! Aku juga tak percaya dia membiarkan kita terlihat. Tidak apa-apa juga sih, kan tidak ada Momo,"
"Ohh," Shintaro mengangguk-angguk. Kemudian sesuatu memberikan beban di pundaknya.
"Kita nikmati saja! Ini namanya 'belanja oleh para pria'!" Kano berseru keras di telinganya. Shintaro cepat mengusap telinga tersebut, kenapa orang ini selalu menyebalkan.
"Benar! Aku biasanya sendiri! Aku akan menantinya!" Seto berseru, sama antusiasnya.
Di lain pihak, Konoha dan Hibiya hanya menatap satu sama lain. Apapun yang dilakukan senior mereka, mereka ikuti saja.
(********)
Masih lekat di ingatan Shintaro, pertama kali setelah dua tahun, dia keluar rumah, mengunjungi tempat perbelanjaan, tetapi daripada mendapat hal-hal yang menyenangkan dia malah menjadi sandera dari teroris. Di hari selanjutnya itulah yang menjadi momentum perubahan hidupnya, menjadi bagian dari grup berisi orang-orang aneh dan harus keluar rumah untuk bertemu mereka selama beberapa saat.
Sekarang hal tersebut seperti berulang lagi, dia pergi ke tempat perbelanjaan. Akan tetapi, daripada bertemu dengan Kano di saat-saat genting, dia sudah berteman dengannya. Hal yang berbeda lainnya adalah sehari setelah kejadian itu dia menjadi anggota ke-7 sekaligus terbaru Mekakushi-Dan, kali ini dia hanyalah anggota 'lama' dengan tambahan anggota yakni Hibiya dan Konoha. Yah, dia sangat berharap dia tidak harus bertemu dengan teroris lagi.
Kelompok 'belanja oleh para pria' itu akhirnya sampai di gedung yang menorehkan tragedi di kota itu. Walaupun terkenal karena diserang teroris, pusat perbelanjaan itu terlihat ramai seramai nama yang menyertainya. Setidaknya begitu menurut Shintaro. Apakah orang-orang tersebut lupa? Dia tidak tahu, tetapi dia sangat yakin dirinya tidak mau menginjak lantai yang menjual barang-barang elektronik. Selain dia, anggota lain dari kelompok itu tampak tenang-tenang saja. Terutama Seto, yang seperti tugas yang diembannya, sudah sering ke tempat tersebut untuk membeli kebutuhan pokok.
Seto dengan santainya menarik troli. Kemudian dia berjalan sekaligus mendorong troli tersebut memasuki toko swalayan. Yang lain dengan santai mengikutinya, kecuali Shintaro. Shintaro terpaku, tidak ada Ene yang dapat menampung apa yang dipikirkannya, sehingga dia benar-benar seorang diri... yang berpikir untuk melarikan diri saja dari tempat itu. Berbelanja.. dengan para lelaki?! Yang benar saja!
(***********)
Shintaro merasa berada di neraka. Dia sudah lupa kapan terakhir kali dia menemani ibunya berbelanja, tetapi kali ini dia ingat lagi. Perasaan tersiksa yang didapatkannya ketika itu, kini jelas terasa lagi.
Dia tidak dapat meninggalkan yang lain. Dia terlalu penasaran bagaimana jadinya kegiatan ini. Apakah Kano akan berteriak kesal karena kehilangan kesabaran dan main kabur saja? Apakah Konoha saking diamnya, sebenarnya dia sudah hilang entah ke mana? Begitu juga dengan Hibiya, mungkin anak itu terlalu terpana dengan mainan yang dipajang sehingga dia tertinggal dan tersesat? Siapa tahu!
Dugaan-dugaan di kepalanya rupanya tidak ada yang terbukti. Kano, mungkin menggunakan kekuatannya, terlihat tenang-tenang saja bahkan menggumamkan sebuah lagu. Konoha, sepertinya dia tidak pernah ke swalayan sebelumnya, dia selalu terpana dengan apapun yang mereka lewati. Hibiya, anak yang terlalu dewasa daripada umurnya, yang menjaga agar Konoha tidak ketinggalan rombongan.
Seto tidak usah dipertanyakan lagi. Dia adalah pusatnya, yang mengendalikan laju dari kegiatan ini. Mereka tidak akan bergerak kalau Seto tidak bergerak. Dia dengan terampilnya memilih kebutuhan-kebutuhan. Dari bawang, telur, sampai sabun dan sikat gigi. Di saat-saat seperti ini, Shintaro bersyukur dengan sikap Seto. Cocok sebagai suami yang baik. Kemudian dia memikirkan Mary dan betapa beruntungnya gadis itu diurus oleh Seto.
Akhirnya, siksaan itu berakhir setelah dia memilih soda kesukaannya dan Seto mengakhiri troli mereka di meja kasir.
(************)
"Ada apa Konoha? Kau terlihat kebingungan," Seto berhenti. Semuanya pun ikut berhenti dan menoleh ke arah Konoha.
"Tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja jalannya,"
"Jangan bohong! Ada sesuatu yang ingin kau beli bukan?" Shintaro bertanya sekaligus sedikit menghardik bocah berambut putih itu. Dia tidak sabar ingin meninggalkan tempat itu, tetapi dia ingin pergi dengan tenang. "Cepat beli apapun itu, karena kemungkinan besar kita tidak akan pernah kembali ke tempat ini!" dia menegaskan.
Semuanya menatap Shintaro. Caranya dia berkata, untuk sekali-kali menunjukkan bahwa dia tertua di antara mereka semua.
Konoha menunduk ke bawah, kantong kresek berisi bagian belanja bulanan yang dibawanya terlihat bergetar dan mengeluarkan bunyi gesekan. Seluruh ketenangannya hilang, jelas sekali dia sekarang gugup. "Bisakah kita kembali ke toko yang berada di tiga toko sebelum ini?"
Tanpa merespon apa-apa, Shintaro menarik lengan Konoha dan mulai berjalan. Langkah kaki yang lain segera mengikutinya.
Cepat mereka sampai di toko tujuan yang rupanya toko aksesoris wanita.
"Aku hanya berpikir, Ene cocok sekali memakai pita warna itu," tanpa ditanya lagi, Konoha menunjuk sesuatu dibalik kaca dari toko tersebut.
Bingung, Shintaro menatap bocah itu. Untuk sementara dia melupakan keinginannya untuk meninggalkan gedung itu. Kemudian dia menatap pita yang ditunjuk itu. Pita berwarna biru donker dengan renda-renda di pinggirnya. Sangat tidak cantik menurutnya, tetapi kenapa Konoha yakin ini cocok untuk Ene? Tidak, kenapa Konoha sempat saja berpikir Ene dapat memakai pita itu?
"Ya, aku tahu mustahil dia memakai benda ini. Karena itu, aku bilang tadi, tidak ada apa-apa,"
Shintaro makin bingung. Sekarang Konoha merajuk?
"Ahh ya! Aku yakin Mary sangat cantik memakai pita berwarna hijau itu!" Seto berseru dengan semangatnya. "Bagaimana kalau kita beli pita macam ini untuk para wanita di base! Mereka pasti akan suka, benar kan Konoha?"
Luar biasa, Seto membuat Konoha tersenyum dalam sesaat. Bocah android berambut putih itu mengangguk dengan antusias.
Selanjutnya, barang belanjaan mereka bertambah satu kresek yang berisi pita berenda berbagai warna.
(**********)
Shintaro sangat bersyukur ketika dia dan yang lain sampai di base. Karena dia orang yang jarang olahraga, satu kresek berisi barang-barang pokok baginya sudah sangat berat. Dia iri dengan Hibiya yang tidak diberi jatah kresek kecuali kresek berisi pita yang tentunya sangat ringan.
"Master! Aku kira kau tidak akan pernah kembali!" Ene serta merta muncul di layar ponselnya.
Shintaro memasang wajah yang menandakan bahwa dia sudah muak. Dia sudah capek dan ingin meminum soda dan mengunci diri di salah satu kamar.
"Ups, sepertinya ada seseorang yang ingin menyampaikan sesuatu kepadamu!" dia dengan tak acuh melemparkan ponselnya. Tanpa berkata-kata lagi dia meninggalkan ruang tamu yang padat itu.
Ponsel tersebut tertangkap sehingga tidak terjatuh ke lantai, dan orang yang menangkap ponsel itu adalah.. Konoha.
Melihatnya, Ene segera memasang senyum lebar. "Bagaimana tadi? Pasti menyenangkan sekali ya!"
"Benar," Konoha menjawab dengan begitu datar.
Ene memiringkan kepalanya, bingung.
"Oi! Jangan lupa dengan barangmu!"
Konoha terkejut, seseorang baru saja memukul bahunya dengan keras.
Ene ingin tertawa. Seto masih dengan hobinya memukul orang untuk mengejutkan mereka. Akan tetapi, Ene lebih tertarik akan apa yang disampaikannya.
"Kau membeli sesuatu, Konoha? Wah! Kira-kira barang macam apa yang kau beli? Aku penasaran,"
Konoha terlihat gugup, dia menyembunyikan sesuatu di punggungnya. Benda yang tadi diberi Seto, cepat sekali disembunyikan seperti itu. "Sebenarnya ini bukan barangku, aku hanya memilihnya."
"Memilih?" Ene melayang pada layar ponsel Shintaro dengan wajah penasaran.
"Sebenarnya ini untukmu!"
Ene mungkin telah salah melihat, tetapi kemerahan di kulit pucat Konoha terlihat nyata sekali. Apa yang menyebabkan hal itu? Ene akhirnya mengerti setelah benda itu disodorkan di depan pandangannya. Sebuah pita biru yang cantik sekali.
"Untukku?" walaupun tidak mungkin, dia merasa mukanya memanas dan berubah menjadi warna merah.
"Aku tahu ini bodoh! Seto memaksaku!" wajah android Konoha makin merah saja. Seperti tomat!
Ene tersenyum, kemudian dia tertawa karena bahagia. "Tidak kok! Aku sangat menyukainya! Makasih Konoha!"
(*********)
Shintaro tidak dapat bertahan lama tanpa internet. Tigapuluh menit setelah dia mengurung diri di kamar yang kebetulan kamar Seto, dia keluar dan mencari-cari ponselnya.
Di atas meja ruang tengah. Tergeletak begitu saja, ponselnya berada. Awalnya dia tidak percaya, karena sebuah pita biru donker berenda terikat mendatar pada ponsel tersebut. Setelah melihat dari dekat, itu memang ponselnya. Akan tetapi, kenapa dengan hiasan norak begini?!
"KO-NO-HA!"
(**********)
[endingnya terburu-buru. Maaf ya. Kenapa panjang banget juga urgh salahkan sepenuhnya pada saya orz
Sebenarnya saya ingin memisahkannya dalam dua chapter. Tapi nanti gak cocok sama summary yang bilang ini adalah kumpulan one shot orz
Enggak lupa, terimakasih atas review, fave sama follow nya!]
