[SetoMary HighSchool!AU
Warning: Ikemen!Seto. Bener-bener AU/bukan Yuukei Yesterday. Banyak klisenya.]
Not Anyone Else
Dia begitu rupawan. Mary tak tahu lagi sanjungan yang tepat untuk laki-laki yang berdiri di depan kelasnya. Dia adalah murid baru, senyumannya merekah, sangat melecut hati Mary. Kelas ramai dengan kehadirannya di tengah-tengah semester. Setelah pak guru berhasil menahan gegap gempita, murid baru itu diizinkan untuk melakukan perkenalan.
"Selamat pagi, teman-teman,"
Mary menahan nafasnya. Dia tak hanya siap untuk mendengar setiap kata, tetapi jantungnya berdetak sedetik lebih cepat karena suara laki-laki tersebut sangat menenangkan. Seperti suara gemerisik dedaunan dilewati angin di sekitar rumahnya yang masih berupa hutan.
"Nama saya Kosuke Seto. Saya datang dari Tokyo. Bersama dengan dua saudara..."
Waah. Mary berseru dalam hati. Seto Kosuke, nama yang bagus sekali. Mary tersenyum, dia memperhatikan Seto berbicara tetapi kini tidak mendengarkan kata-kata yang dikeluarkannya. Cara Seto berbicara menarik perhatian Mary. Tubuhnya yang tegak dan jangkung, dengan senyuman yang kharismatik, mengeluarkan kata-kata dengan begitu lancar dan percaya diri. Matanya yang kecoklatan beredar ke seluruh ruangan, tak ada yang tidak ia hiraukan, semua menangkap pandangan itu. Termasuk Mary.
Dia duduk paling belakang, terkejut dan salah tingkah ketika mata Seto tertuju padanya. Dia cepat-cepat menundukkan kepalanya, menghindari tatapan itu. Tangannya bergetar, menggulung ujung kertas di atas mejanya. Kalau saja Seto tahu siapa dia, dia tak akan melakukan itu.
Pak guru mengakhiri sesi perkenalan Seto. Kemudian dia menunjuk bangku Seto. Setelah itu, dia menghimbau agar murid kembali berkonsentrasi pada pelajaran.
Mary meluruskan kertas yang sudah tak rapih itu. Dia menghembuskan nafas, menenangkan dirinya. Kemudian dia mendongak. Matanya cepat melihat tempat duduk Seto, dua baris di depannya. Tak luput dilihatnya, gadis-gadis yang bertempat duduk di sekitar Seto, berusaha mengalihkan perhatian Seto dari pelajaran. Mengajaknya berkenalan, mencuri start. Mary mendesah, mengingatkan dirinya sendiri akan keadaannya. Dia tidak mau menaikkan harapannya, dia hapus apapun keinginan untuk berkenalan dengan Seto.
(*********)
Bel istirahat berbunyi. Cepat sekali, bahkan pak guru belum keluar kelas, tetapi daerah sekitar bangku Seto sudah dikerumuni. Mary beranjak dari kursinya, mengambil bekal makan siangnya yang hanya berupa sandwich. Dia ingin secepatnya meninggalkan kelas itu. Akan tetapi, langkahnya begitu berat, dia memandang kerumunan. Andaikan saja.. Dia dapat berkenalan dengan Seto.. Tidak usah menjadi temannya, asalkan Seto mengenalnya, itu sudah cukup. Akan tetapi, harapan itu sudah tinggi sekali. Mary menggelengkan kepalanya, sekali lagi, bersabar dengan keadaan dirinya. Kemudian dia berjalan keluar dari kelas.
Gadis berambut panjang berwarna perak itu tidak menyadari tatapan mata kecoklatan itu. Seto Kosuke, yang walaupun dikelilingi oleh teman-teman sekelas barunya, dapat melihat dengan jelas kepergian gadis itu.
(*********)
Mary sampai di ujung tangga. Di depannya adalah pintu menuju atap. Dia berusaha tidak menghiraukan apapun yang mungkin terjadi di kelas sekarang, dan memasang senyum riangnya seperti biasa. Dia membuka pintu.
Tak jauh dari pintu, sebuah karpet digelar, seperti piknik. Dan yang mendudukinya adalah temannya dari kelas lain. Momo, gadis berambut pirang dengan dikuncir miring, adalah teman satu-satunya. "Mary, akhirnya kau datang. Lihat, aku membawa teman baru,"
Mary berkedip. Jelas sekali, seseorang yang lain sedang bersama Momo, berambut kehijauan. Mary cepat-cepat duduk di sebelah Momo.
"Maafkan ya, dia memang agak pemalu. Kido, dia ini Mary Kozakura. Dan Mary, dia Tsubomi Kido, tapi dia lebih suka dipanggil Kido!" Momo, tanpa keberatan mengenalkan mereka berdua.
Kido, gadis berambut hijau, memakai hoodie di atas seragamnya, yang memberikannya kesan tomboy, menyodorkan tangannya.
Mary mengangguk dengan cepat, dia menerima tangan itu, menggerakkannya ke atas dan ke bawah, "Panggil aku Mary saja!" tanpa dia sangka, Kido tersenyum padanya. Dia tersenyum kembali. Dia mempunyai prasangka baik bahwa Kido tidak sedingin ketika dia sekilas melihatnya.
"Aku dengan dua saudaraku baru hari ini pindah ke sekolah ini," Kido mengangkat pembicaraan sembari duduk.
"Dua saudara?" tanya Mary, suaranya sedikit bergetar.
Kido tersenyum lagi. "Ya, tetapi ajaibnya kita masing-masing berbeda kelas. Nah, kebetulan aku sekelas dengan Momo,"
Mary mengangguk. Dia mengerti maksud senyuman Kido. Kido telah berusaha mencairkan suasana. Seharusnya dia tidak usah sungkan.
"Saudaramu itu, seumuran denganmu? Kembaranmu?"
Kido menggeleng, tampak menahan tawa dengan pertanyaan Momo. "Mereka berdua saudara tiriku,"
"Lalu kemana mereka sekarang?" Mary bertanya lagi, berusaha agar suaranya tidak bergetar, dan itu berhasil.
"Nah, itu masalahnya. Keduanya suka sekali dengan perhatian. Untung Momo cepat membawaku kemari. Nanti kalau mereka sudah tidak sibuk, aku kenalkan kau dengan mereka," Kido tersenyum lagi, kali ini senyumannya lebih lebar.
Mary mengangguk, ikut tersenyum. Ahh, terlalu dini untuk benar-benar menerima Kido sebagai temannya. Tetapi, rasanya tidak ada salahnya kau memang dia dan Kido sekarang berteman. Mary terus tersenyum sembari memakan sandwichnya.
(*********)
Hari itu rasanya panjang sekali. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, Mary merasa sangat bersyukur. Sama seperti bel istirahat, dia cepat sekali keluar kelas. Dia juga cepat menggantikan pikirannya akan masih menginginkan berkenalan dengan Seto, dengan teh dingin. Setelah mengganti sepatunya di loker sepatu, dia cepat berjalan menuju tempat di mana dia dapat membeli teh dingin.
Di dekat lapangan sepakbola, masih berada di latar bangunan sekolah terdapat dua vending machine. Dibanding dengan yang berada di kantin, tempat itu sepi. Mary suka sekali membeli minuman di sini, terutama sekotak teh dingin sebelum pulang ke rumahnya.
Mary berdiri di depan salah satu mesin. Matanya melihat ke arah yang biasanya terdapat merek kesukaannya. Senyumnya memudar ketika stok tersebut habis. Barisannya kosong.
"Permisi,"
Mary terlonjak, refleks dia melihat siapa yang baru saja mengagetkannya dengan begitu jahatnya.
Mary terkesiap. Mata itu, senyuman itu, langsung tertuju padanya. Cepat dia melangkah ke samping, berdiri di depan mesin ke dua. Jantungnya berdegup dengan kencang. Mengapa Seto berada di sini?
"Kau menghindariku,"
Mary mengedipkan matanya. Dia mendongak untuk melihat Seto, tetapi cepat-cepat kembali memandang lantai.
"Tuh kan,"
Mary mengernyit, "Apa urusanmu?!" suaranya bergetar. Dia ingin sekali pergi dari situ, tetapi kakinya tertahan. Dia sadar bahwa dia hanya berdua dengan Seto. Kesempatan ini tidak akan pernah didapatkannya lagi.
"Aku merasa tersakiti,"
Huh? Mary tidak mengerti. Ingin sekali dia menatap Seto dan membuktikan apakah laki-laki itu benar-benar merasa tersakiti, atau hanya sekadar bualan.
"Dihindari oleh gadis secantikmu,"
Mary benar-benar tidak dapat menahannya. Dia mendongak untuk melihat Seto. Dia terhenyak. Senyum beberapa menit yang lalu hilang di wajah tampan itu. Matanya yang kecoklatan bersinar, sekarang redup dan dia menatap lantai.
"Aku tidak bermaksud," Mary akhirnya bersuara. Dia mengerutkan keningnya, memikirkan kata-kata yang tepat, "Aku hanya mempermudahmu. Mereka semua menghindariku,"
Seto menaikkan pandangannya. Akhirnya, matanya bertemu dengan Mary. "Aku bukan mereka. Percayalah," Seto menyunggingkan senyumnya. "Namaku Kosuke Seto. Panggil aku Seto, dan kau?" dia menyodorkan tangannya.
Mary tersenyum. Entah kenapa, dia teringat pada sesi perkenalan tadi siang di atap. Dia menerima tangan tersebut, menjabatnya, "Mary Kozakura. Panggil aku Mary,"
"Mary? Nama yang bagus,"
Mary mengangguk, tersipu. Akan tetapi, dia tidak melepaskan tangan Seto, begitu juga dengan Seto yang tidak melepaskan tangannya. Jemarinya terasa sangat nyaman di jemari Seto. Seperti sela-sela di antara jemarinya itu, diciptakan untuk diisi oleh jemari Seto. "Seto juga bagus," dia tidak tahu apakah sopan melepas jemari itu begitu saja, kalau menahannya berlama-lama.. gawat juga.
"Seto!" Mereka berdua terkesiap, cepat melepas tautan itu. Mary melihat Kido dan Momo berjalan menuju mereka.
"Mary!" Momo menyapanya. "Kau rupanya sudah kenal dengan saudaranya Kido?"
Mary terkesiap. Saudaranya Kido? Dia menatap Seto dengan bingung. Seto juga sama bingungnya.
(*********)
"Begitu ya. Jadi Mary sudah mengenal Kido terlebih dahulu. Aku cemburu,"
Mary hanya terdiam dan tersipu malu. Rupanya Seto adalah saudaranya Kido. Pantas saja dia baik, tidak seperti orang-orang lain yang menghindarinya.
"Seto yang tidak becus! Padahal teman sekelas!" seru Momo.
Seto hanya tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Berhenti merayu! Ayo kita mencari Kano sebelum kak Ayano menjemput kita!"
"Baik ketua!" sebelum Seto dapat berjalan lebih jauh, dia membalikkan badan ke arah Mary. "Sampai jumpa besok! Dan ingat, jangan menghindariku lagi!"
Mary membalas senyuman kharismatik itu dengan senyumannya sendiri yang termanis.
"Cuit cuit! Ada yang jatuh cinta nih!"
Mary menepuk bahu Momo pelan. Wajah pucatnya berubah warna menjadi kemerahan sampai ke telinga. Dia berjalan mendahului Momo, agar dia yang telah mengejeknya itu, tidak dapat melihat senyum bahagia di wajahnya.
(************)
[oke ini gak jelas.
Dan kenapa SetoMary lagi? Mungkin karena saya emang suka banget sama pairing ini.
Makasih udah baca dan review! Nantikan chapter selanjutnya!]
