[[KonoEneShintaro abis chapter ini janji!

Cuman kebelet aja bikin chapter yang ini cos lagi suka banget sama pairingnya;;;

SetoShin

Kalau gak suka BL, atau gak suka juga sama pairingnya, bisa diskip chapter ini ke chapter selanjutnya.. yang akan terbit beberapa hari dari sekarang! (ohh iya, liat ke paling bawah ya, ada A/N penting)

Warning: BL(yaa -.-), fujo!Mary]]

Questions

Ia bingung. Ia kadang bertanya-tanya. Gadis yang hidup di komputernya, ponselnya, dan terkadang ponsel adiknya. Gadis yang sebenarnya adalah sebuah virus yang didapat karena kecerobohannya. Berubah dari virus menjadi parasit bagi kehidupannya. Dia kadang-kadang bertanya mengapa dirinya sendiri bisa membiasakan diri dengan kehadiran gadis itu, dan tidak bisa menghapusnya begitu saja.

Gadis itu, Ene, memintanya meninggalkan rumah untuk mengunjungi base. Sebenarnya base itu hanyalah sebuah apartemen. Ene meminta di saat yang tidak tepat. Ketika dia, Shintaro, lelah karena pekerjaannya sebagai 'komposer', tadi malam dia tidak tidur. Akan tetapi, Ene sangat ngotot. Gadis itu merengek, merindukan teman-temannya yang juga merupakan teman-teman Shintaro. Padahal terakhir kali mereka berkunjung adalah dua hari yang lalu. Lagi-lagi, Shintaro tidak bisa menolak. Dia mengiyakan permintaannya. Lagi-lagi, hal lain yang dia tanyakan pada dirinya sendiri mengenai sikapnya pada gadis itu.

"Cepatlah! Shintaro!"

"Iya iya!"

Selalu begini. Selalu gadis itu yang berhasil membuatnya keluar dari rumah. Tidak dengan senang, tapi dengan terburu-buru. Kapan dia dapat melakukannya dengan santai saja?

Tak lama mereka sampai, di depan apartemen nomor 107. Lucu bukan? Mengapa memilih nomor apartemen tersebut, bukan yang lain saja. Dia juga bertanya-tanya mengapa mereka mampu menyewa tempat itu. Tidak ada satupun dari mereka yang bekerja.. ohh tunggu ada. Manusia dengan hoodie hijaunya. Sayangnya, Shintaro selalu lupa dengan namanya.

Biasanya Momo (kenapa adiknya selalu berada di tempat ini) yang membukakan pintu, tetapi kali ini adalah Konoha. Ada apa dengan bocah berambut putih ini akhir-akhir ini? Konoha melihat ponsel yang ia pegang.

"Apa?" Shintaro bertanya, kaget sendiri kenapa nadanya begitu dingin.

"Master! Konoha ingin meminjam ponselmu sebentar? Boleh kan?!" melihat ekspresi muka Ene yang keras (daripada meminta, dia malah menyuruhnya), kemudian ekspresi Konoha yang datar, dan karena dia juga sudah capek, tanpa banyak cingcong dia memberikan ponsel tersebut ke Konoha. Kemudian dia memasuki base, melewati bocah itu.

"Makasih Master!"

"Makasih, Shintaro,"

Dia membalas sahutan mereka berdua hanya dengan lambaian tangan.

Di ujung ruangan, menuju koridor, dia berhenti. Dia celingukan. Kenapa begitu sepi, dan begitu gelap?!

"Listrik mati sejak pukul dua tadi siang! Tenang saja, Shintaro. Seto sedang mengurusnya!"

Shintaro hampir meloncat karena kaget. Antara Seto (ya, itu namanya) dan Kano, mereka selalu saja mengejutkannya. Seto akan tertawa, sementara Kano akan memberikan tatapan yang menyebalkan itu. Ya, seperti dia yang tiba-tiba berada di depannya. Kano meletakkan tangannya di bahu Shintaro.

"Kalau begitu yang lain mana?"

"Wah, tumben peduli!"

Shintaro menatapnya dengan tidak sabar, kantuk sudah mulai menyerangnya.

"Momo dengan Hibiya dan Mary, di kamar Mary, bermain untuk menghilangkan ketakutan anak-anak itu. Kido sedang berusaha memasak di kegelapan. Aku? Aku disuruh menyusul Seto. Konoha dan Ene, mereka asyik sendiri seperti biasa."

Shintaro mengangguk-angguk, tidak memberikan bocah itu penghargaan atas informasi lengkapnya. Tanpa berkata lagi, dia berbelok ke koridor, menuju kamar yang biasa ia tempati ketika berkunjung di sini. Kamar itu tidak pernah dikunci walaupun orangnya hampir selalu tidak pernah di dalam.

Dia membuka kamar tersebut. Dia disambut kegelapan yang sama, kemudian memasuki kamar tanpa harus minta izin. Walau remang-remang, dia tahu kamar Seto, selalu rapi dan bersih. Tidak seperti kamarnya di rumah.

Dia cepat-cepat mendekati kasur. Tanpa menimang-nimang lagi, dia menjatuhkan dirinya ke kasur.

"Ahh, aku bisa tidur beberapa jam di sini," Shintaro menghela nafas, lega. Dia membenamkan kepalanya ke bantal yang empuk. Dia membelokkan badannya ke samping, meringkuk, dengan posisi tidurnya.

Dia cepat tertidur karena rasa kantuk yang telah ia tahan berjam-jam yang lalu.

(************)

Dia tidak tahu berapa jam telah lewat. Matanya mengerjap-ngerjap karena sinar yang tiba-tiba. Tidak cukup dengan kelopak matanya, dia mengangkat lengannya menutup sekitar matanya, memblokir sinar tersebut.

"Ahh, aku tidak bermaksud membangunkanmu,"

Dia mengerti. Listrik telah kembali rupanya.

Dia menggeliat sebentar sebelum bangun, menegakkan tubuhnya. Masih mengerjap-ngerjap matanya, dia melihat Seto, terkejut.

"Kenapa kau berpakaian seperti itu?"

Daripada memakai jaket beserta hoodie hijaunya, Seto kali ini memakai dasi dengan jumper hijau kotak-kotak dan kemeja putih.

"Kenapa? Tidak boleh?" Seto memasang senyum yang kharismatik.

"Aku hanya bertanya kenapa, bukan mengatakan kau boleh atau tidak," seru Shintaro, sebal.

Seto tertawa sebentar, "Kau yang lebih tua daripadaku, coba tebak,"

"Kau ingin melamar Mary,"

Shintaro mengatakannya dengan tiba-tiba, sengaja. Dia menyeringai ketika melihat ekspresi wajah Seto yang terkejut.

"Ohh bukan ya. Kalau begitu, kau ingin melamar pekerjaan,"

"Ya, berhubungan dengan itu. Tapi aku sudah punya pekerjaan,"

"Hari ini hari gajian!"

"Ya! Benar!" Seto mengangguk mantap. Dia kemudian duduk di pinggir kasur, di sebelah Shintaro. Tangannya memegang dasi hijau polosnya.

"Kau memakainya dengan salah!"

"Huh?"

Tanpa menunggu izin laki-laki yang selalu memakai pakaian berwarna hijau itu, Shintaro memegang dasi tersebut. Dia membuka ikatannya, kemudian membuat ikatan yang baru. "Nah, ini baru benar!"

Seto melihat dasi tersebut yang sekarang berbentuk pita kupu-kupu. Dia tersenyum, "Lucu sekali!"

"Itu sarkasme kan?"

"Hmm?"

Shintaro menatap wajah Seto dengan saksama, terutama ekspresinya. Dia kemudian membuat konklusi, "Kau ini selalu jujur ya?"

"Ya?"

Seto menatapnya dengan bingung. Shintaro menggeleng, susah sekali berbicara dengan orang macam dia. Dia kembali menjatuhkan dirinya ke kasur, meringkuk, menjauh dari Seto.

"Kau tidak ingin makan malam? Kido menyisakannya untukmu,"

"Tidak perluu!" Shintaro menjawab dengan malas.

Dia kemudian berbalik, untuk menatap Seto. Akan tetapi dia cepat-cepat kembali kepada posisinya semula. Seto sedang berganti pakaian!... tunggu, kenapa dia harus malu? Dia kan laki-laki juga!

Shintaro kembali membalikkan badannya. Dia mengerjap, Seto tidak berada di situ? Dia bangun, kepalanya menoleh ke sekeliling, mencarinya. Rupanya orang tersebut berada di depan lemari pakaiannya yang berada di depan tempat tidur.

"Kau berotot juga ya,"

"Terima kasih?"

Tak hanya Seto yang bingung, Shintaro juga bingung. Kenapa dia mengatakannya?! Tuhan, untunglah Ene sedang tidak bersama dia. Gadis itu pasti akan berseru-seru, "Homo!" kalau melihat kejadian ini!

Shintaro kembali menatap Seto, walaupun malu dia terlalu penasaran. Dia mengamati figur bocah yang lebih muda darinya itu. Tegap, dan walaupun tidak berotot seperti orang Barat di pantai, tetap saja lebih berotot daripada dirinya sendiri. Tentu saja, Shintaro lupa kapan terakhir kali berolahraga, sementara Seto, pekerjaannya yang membuatnya begitu. Dari perbandingan kulit, Shintaro tentu saja lebih pucat.

Sial. Shintaro merasa sangat kecil dibandingkan bocah di depannya itu.

Seto telah selesai berpakaian. Dia memakai kemeja kancing bewarna hijau toska. Kapan dia tidak memakai baju yang memiliki kesan hijau?

"Kalau begitu ayo kita makan bersama! Aku juga belum makan malam!"

Shintaro menggeliat malas. Sebenarnya dia malu karena takut ketahuan telah memperhatikan bocah itu memakai pakaian. "Aku masih mengantuk!" katanya dengan manja.

"Hmm.. Kalau begitu aku akan membawakan makanannya ke sini! Biarlah Kido marah-marah. Aku yang akan menanggungnya,"

Beberapa saat kemudian Shintaro mendengar pintu kamar dibuka kemudian ditutup.

Dia menghela nafas. Sampai batas mana kesabaran orang itu?

(*********)

Beberapa lama kemudian. Kira-kira 30 menit setelahnya, Seto kembali dengan senampan penuh makanan.

"Kau ke mana saja.. Aku lapar..." Shintaro mengeluh, gelagatnya dibuat sangat kelaparan.

Seharusnya dia malu kepada dirinya! Tapi tak apa! Tidak ada Ene ini! Lagipula Seto baik. Dia pasti tidak memiliki prasangka buruk atau apa.

"Maaf ya! Tadi aku mengecheck Hanao sebentar. Dia habis bermain dengan Mary!"

"Hanao?"

"Dia binatang peliharaanku. Hamster!"

"Hamster? Berarti mirip kelinci dong! Aku punya kelinci.. maksudku, aku memelihara kelinci!"

"Benarkah?"

"Ya! Kapan-kapan aku bawa ke sini!"

Entah kenapa, Shintaro merasa dia lebih mengerti Seto sekarang. Dia tersenyum lepas kepada Seto untuk pertama kalinya. Seto seperti biasa, tersenyum dengan manisnya.

"Kau ingin makan sebaiknya di sini. Aku sangat tidak setuju makan di kasur!" Seto memanggilnya, menepuk karpet di sebelahnya. Meja kecil itu telah diletakkan nampan berisi makanan tadi.

"Kau bisa marah juga?" Shintaro tanpa ada tanda-tanda kemalasan tadi, bangun dari kasur, dengan cepat menghampiri Seto dan makanan.

"Kau tahu Shintaro. Ternyata kau lebih menarik daripada yang kukira!"

Shintaro duduk, tersenyum dengan bangga. "Tentu saja! Kan ak—"

Shintaro membuka matanya lebih lebar. Walaupun Seto cepat sekali menarik kembali tubuhnya, dia tahu apa yang barusan dia lakukan! Tekanan di bibirnya ini, masih sangat terasa. Tanpa dikomando, kemerahan muncul di pipinya hingga ke kuping.

"Maaf Shintaro. Aku tidak bisa menahannya," Seto mengalihkan pandangannya, menatap makanan di nampan di sampingnya. Dari kemerahan di kuping laki-laki tersebut, Shintaro tahu maksudnya. Dia juga sama malunya seperti dirinya.

"Bodoh! Kau tahu sebagai hukumannya, kau harus menyuapiku!" Shintaro berkata dengan nada memerintah. Dia kemudian tersenyum. Entah, dia merasa pilihan untuk marah atau membenci Seto kurang tepat. Dan ciuman itu.. bukan candaan kan? Seto mana mungkin mencium orang sembarangan. Dia juga tidak pernah melihat atau mendengar bahwa Seto mencium Mary. Entah kenapa, dia merasa senang.

Seto menengok kembali, membalas senyuman itu dan menuruti perkataan Shintaro.

Selama makan itu, mereka mengobrol. Tentang apa saja. Apakah itu peliharaan mereka, masakan Kido, tingkah Momo, kelucuan Mary, dan apapun kecuali ciuman itu.

Setelah selesai makan. Sebelum Seto dapat berdiri, Shintaro berhasil membalas ciuman tersebut dengan ciuman yang sama tetapi lebih dalam dan lama.

(***********)

Keesokan harinya. Hari Sabtu, cuaca cerah dan burung berkicau. Itu yang didapatkan Shintaro yang terbangun di base, di tempat tidur Seto tepatnya. Dia cepat-cepat keluar kamar karena haus. Di dapur, dia melihat para wanita (Momo, Mary, Ene) minus Kido sedang berkumpul dan tertawa-tawa.

"Ada apa dengan mereka?" tanyanya pada Seto yang menghampiri dirinya. Terdapat burung nuri di bahu laki-laki tersebut.

"Aku sudah tanya tadi. Mary bilang mereka sedang berkumpul dan membahas foto-foto dua laki-laki yang tidur bersama saring merangkul!"

"... itu kita, bodoh!"

"Ehh?"

"ENE!"

Para wanita melihat mereka, terutama Shintaro yang marah-marah, kemudian berhamburan pergi seakan sudah merencanakan gerakan tersebut.

"Master dan Seto! Homo!"

(***********)

[[Jadi sistemnya saya ubah. Nama-nama per chapter jadi nama pairing utamanya. Gunanya bisa milih mana chapter pairing yang disuka, mana yang enggak. Juga, untuk meneruskan chapter dan perkembangan chapter. Contoh kemarin, highschool!AU Setomary, terus kalau ada lagi perkembangannya dengan latar sama, jadi highschool!AU Setomary (2). Juga kalau ada latar sama tapi pairing beda, nama chapter jadi highschool!AU Harutaka or something. Untuk meneruskan chapter, contohnya chapter ini. Karena saya suka SetoShin mungkin ada kelanjutan dan perkembangannya, jadi SetoShin (2). Kalau ada penyebutan pairing dua kali, itu karena lanjut dari chapter tersebut, atau cuma pakai pairing lagi tapi latar dll completely beda.

Haduh panjang maaf ya. Tapi yang penting ngerti kan? u v u ]]