Theft

[KonoEneShintaro ]

"Cukup, Konoha! Aku mau pulang! Serahkan Ene padaku!"

Konoha menatap Shintaro dengan sangsi, dia malah mempererat genggamannya.

Shintaro tertegun. Ahh, dia salah mengatakan itu—

"Haha! Master menginginkan aku!" Ene yang berada di dalam ponsel Shintaro sebagai virus, berseru dengan riang. Ponsel yang berada di genggaman Konoha itu malah digenggam lebih erat.

"Ene! Jangan membuat ini makin sulit. Aku menginginkan ponselku! Konoha, kau sudah cukup bermain-main dengannya bukan? Kembalikan ponselku!"

Konoha menggeleng kepalanya dengan pelan.

Shintaro menutup mukanya dengan tangan. Sepertinya kesabarannya tidak dapat ditahan lagi. Akhir-akhir ini Konoha sering meminjam ponselnya, untuk bertemu dengan Ene tentunya. Awalnya hanya sebentar-sebentar saja, kemudian semakin lama, sampai menggunakan seluruh waktu kunjungannya di base seperti hari ini. Tidak ada komputer atau laptop di base, satu-satunya cara dia bisa surfing internet adalah melalui ponselnya. Konoha meminjamnya seharian, sudah jelas kan bagaimana dia begitu merana.

"Oke, Konoha, aku tidak punya pilihan lain!"

Tanpa menunggu respon Konoha –yang tentu saja lambat sekali-, Shintaro menyongsong Konoha, dengan tujuan mengambil ponselnya kembali secara paksa.

Konoha, bocah android itu, malah memberikan respon yang tidak diperhitungkan Shintaro. Sama seperti saat dia menggendong Shintaro dengan mudahnya dan berlari dengan cepat saat pertama kali bertemu, kali ini dia menunjukkan gerak refleks yang begitu cepat. Shintaro menabrak tembok.

"Kau ini!" seperti serigala, Shintaro bangkit secepat tubuh lemahnya untuk menarik kemeja Konoha. Berhasil! Dia menahan Konoha dari belakang dengan tubuhnya, tangannya berusaha mengambil ponsel.

Hal tersebut tidak mudah, Konoha yang jauh lebih tinggi, menggerakkan tangannya, menghindari tangan Shintaro.

"Kembalikan!" seru Shintaro, tidak menyerah.

Ponsel yang digerak-gerakkan tak karuan membuat Ene pusing. Dia tidak dapat melerai kedua bocah itu.

"Heh, ada apa ini ribut-ribut?"

Seperti sihir, kata-kata itu membuat mereka mematung.

Seto memasuki tempat kejadian perkara, yang berada di ujung lorong menuju pintu keluar base. "Di dalam, Kido sudah curiga lho,"

Hal itu menjadi pukulan telak buat mereka. Baru Seto yang menghampiri mereka, kalau Kido, wah itu sudah gawat sekali. Shintaro kini dengan mudah mengambil ponselnya dari tangan Konoha.

"Tak apa-apa kok, Setoo! Masalah sudah beres!" seru Ene, mewakili kedua bocah itu.

"Syukurlah!" Seto tersenyum lega.

"Aku sangat ingin pulang," masih menatap bocah berambut putih dengan waspada, Shintaro membuka pintu keluar.

Konoha hanya diam, dengan ekspresi yang tidak terbaca.

Setelah memakai sepatu dengan serampangan, Shintaro keluar melewati pintu.

Dia menatap Konoha untuk terakhir kalinya, sebelum pintu itu ditutup Seto, dari luar..

"Hah, kau juga ingin pergi?"

"Iya, shift malam!" Seto menjawab dengan santainya.

Shintaro memutar bola matanya, kemudian mulai berjalan. Ponselnya berada di dalam saku celananya, digenggamnya dengan erat.

(********)

Sekitar pukul sembilan malam, Seto pulang dari pekerjaannya. Seperti biasa, Mary menyambutnya dengan pelukan. Seto kembali memeluk gadis itu, membelai rambutnya yang keperakan yang bergelombang. Tidak ada yang aneh.. hingga Seto mendongak. Dia terkejut melihat Konoha berdiri tak jauh dari mereka, melihat ke arah mereka. Seto mengedipkan matanya, Konoha rupanya melihat tepat ke arahnya.

"Sejak kapan dia berada di situ?" Seto bertanya dengan kaku, melepaskan pelukan Mary.

"Sejak aku menunggumu pulang!" Mary tersenyum riang. Dia berbalik, menghadap Konoha. "Makasih ya sudah menunggu bersamaku!" setelah itu dia berjalan memasuki lorong dengan langkah kaki yang ringan.

Seto hendak menaruh sepatunya di atas tempat sepatu, tetapi gerakannya tertahan oleh tangan. Dia terkejut, Konoha sudah berada tepat di sebelahnya.

"Aku butuh bantuanmu!" Konoha akhirnya berkata.

Seto tersenyum, berusaha menghilangkan keterkejutannya. "Bantuan apa?"

"Berikan aku alamat rumah Shintaro,"

"Alamat rumah-?" Seto mengedipkan matanya, tidak mengerti.

"Kau tadi pergi bersama Shintaro bukan? Aku ingin alamat rumahnya. Aku ingin ke rumah Shintaro!"

Seto mengalihkan pandangannya dari mata merah muda Konoha untuk berpikir. Dia tadi memang berangkat bersama Shintaro. Akan tetapi, bukan berarti dia mengunjungi rumahnya. Mereka cepat berpisah di distrik perbelanjaan kok. Lalu, bagaimana dia harus merespon permintaan Konoha?

"Aku akan mengirimkan sms pada Shintaro, supaya dia mengirimkan alamatnya," Seto memutuskan itu, dia mengeluarkan ponselnya. Dengan dengus napas Konoha di telinganya, memijat huruf-huruf itu rasanya menegangkan sekali.

"Seto,"

"Ya?" apa lagi nih? Seto menatap bocah itu dengan sangsi.

"Aku juga ingin ponsel,"

Setelah mendengarnya, Seto tidak tahu harus merespon apa, dan hanya tersenyum.

(***********)

Sudah tiga jam, Shintaro masih asyik berinternet di komputernya. Setelah sampai di rumah, dia cepat mandi, setelah itu langsung menyalakan komputer, makan malam pun di depan komputer. Tidak ada yang mengganggunya selama tiga jam itu.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk.

"Kakak!"

Suara Momo.

Shintaro tidak menghiraukannya. Kalau Momo menginginkan sesuatu, tinggal omong saja di balik pintu. Biasanya begitu.

"Kakak! Buka pintunya!"

Shintaro menggeram. Dari sekian malam yang ia lalui sendiri (Ene tidak disebutkan), mengapa harus malam itu, adiknya melawan tradisi ketukan pintu. Dengan malas, Shintaro bangkit dari kursi panasnya, membuka pintu kamarnya.

Aneh sekali, biasanya Momo akan memasang wajah kesal. Kali ini, dia malah terlihat menahan senyum dan tawanya.

"Aku sudah lama menunggu hal ini!"

"Cepat katakan!" Shintaro berseru dengan sebal.

"Pacarmu datang berkunjung! Cepat kau temui dia kak!"

Momo tertawa-tawa kecil, meninggalkan kakaknya yang melongo.

"Jangan pura-pura tidak tahu, master! Ayo temui dia!" seru Ene dari desktop komputernya.

Shintaro menatap kesal sebelum meninggalkan kamarnya dengan pintu terbuka.

(**********)

Shintaro mendekati ruang tamu. Dia melihat mamanya di situ. Sepertinya menyambut siapapun yang datang malam-malam begini.

"Wah wah, tante sudah lupa kapan terakhir kali Shintaro mendapat kunjungan dari temannya,"

"Saya Seto Kousuke, tante. Dan ini Konoha. Ya, kami teman Shintaro,"

Shintaro terperanjat, dia cepat-cepat memasuki ruang tamu. Akhirnya terlihat, Seto dan Konoha yang duduk berhadapan dengan ibunya. "Kalian!"

"Shintaro, kau tidak pernah bilang kepada mama, kau punya teman!"

Dia tidak menggubrisnya, dan menyuruhnya meninggalkannya sendiri dengan 'teman-temannya'.

"Baiklah baiklah!" sama seperti Momo, ibunya tersenyum-senyum, meninggalkan ruang tamu.

"Bisa jelaskan kenapa kalian di sini?" tanya Shintaro, melewati sesi basa-basi. "Ternyata ini maksud dari menanyakan alamatku ya, Seto?!"

Seto menaikkan kedua tangannya, "Konoha yang mempunyai urusan denganmu! Aku hanya bermaksud mengantar!"

Mendengarnya, Shintaro memfokuskan tatapannya pada Konoha. Pertanyaan-pertanyaan berseliweran di kepalanya. Jangan-jangan dia ingin meneruskan pergelutan tadi? Jangan-jangan dia ingin balas dendam? Apapun itu, Shintaro akan siap-siap dan waspada.

"Makasih, Seto. Tugasmu sudah cukup sampai sini!"

"Eh?" Seto mengedipkan matanya beberapa kali, terkejut dan tidak mengerti. Shintaro apalagi. Dia menganga melihat Seto didorong oleh Konoha menuju pintu.

"Tunggu!" Shintaro berseru, sebelum keadaan menjadi gawat, dia berlari menghampiri mereka. "Kalau Seto pulang, bagaimana kamu bisa kembali ke base?" dia bertanya, ingin sekali menjitak Konoha. Dia yakin sekali Konoha akan tersesat kalau berjalan sendiri. Itu penyebab Seto mengantarnya, kan?

"Aku tidak pulang, aku kan ingin menginap!"

Shintaro dan Seto sama-sama terperanjat.

"Kalau begitu, Seto! Kau juga harus menginap!"

(***********)

"Konoha itu pacarmu?"

Sampai di kamar, Shintaro malah diberikan sambutan pertanyaan oleh Ene.

"Dia ditolak Seto.." Konoha yang menjawab.. agak terlalu jujur.

Kemerahan cepat merambat wajah Shintaro, "Enak saja! Dia harus pulang karena Mary membutuhkannya!"

Tidak ada yang merespon. Semuanya terdiam.

Ene memecah keheningan dengan tertawa. Konoha yang tidak mengerti apa-apa, ikut tertawa.

Shintaro tidak. Dia cepat menghampiri komputernya. Lanjut browsing, anggap Konoha tidak ada.

Tunggu.. apa alasan Konoha ingin menginap?!

Sebelum Shintaro dapat bangun dari kursinya, sesuatu cepat-cepat menahannya. Lebih tepatnya, dia tertindih. Tubuh Konoha yang lebih tinggi dan besar daripada dirinya, tiba-tiba duduk di atas pangkuannya.

Shintaro menahan rasa sakit, dia bersumpah serapah. Apa yang terjadi?!

Konoha tidak beranjak, menganggap Shintaro sudah menyatu dengan kursi.

"Ene..."

"Ya?" Ene menjawab sapaan Konoha. Akan tetapi dia tidak bisa tidak menghiraukan masternya yang diduduki, terlihat kesakitan di belakang Konoha. Dia menatapnya dengan simpati.

Sebelum Ene dapat mengatakan sesuatu, agar Konoha bangun dan meninggalkan masternya kesakitan, Konoha sudah mencondongkan wajahnya ke arah monitor. Ene mengerti, dia tersenyum. Dia memperbesar wajahnya sampai seukuran wajah seharusnya sebagai seorang manusia, kemudian dia ikut mencondongkan wajahnya.

Ahh, andaikan saja batas layar monitor ini tidak ada, Ene pasti bisa keluar. Kemudian dia dapat mencium Konoha, dengan merasakan ciuman dan bibirnya secara langsung.

Kenyataannya, ciuman mereka mentok di layar, tidak tersentuh satu sama lain. Konoha mencium layar monitor. Ene mencium batas antara dunianya dan dunia sungguhan.

Walaupun begitu, mereka tetap bahagia. Yang terpenting, mereka berdua dapat bersama di dunia kedua mereka. Walaupun Konoha masih tidak ingat apa-apa.

"Ugh.."

"Konoha! Cepat bangun! Kau membunuh master!"

Karena sudah mendapatkan ciuman yang dia inginkan, Konoha bangun. Dia berdiri, melihat keadaan Shintaro.

"Dia hanya teler.."

(********)

[[nangis, nulis ini banyak pengalihnya. Dari tumblr, sampai xbox. Maaf ya kalau agak gak nyambung atau apa T_T

Makasih yang udah review. Insya allah abis ini direply.

Chapter selanjutnya... KanoKido !]]