Worries
[KanoKido]
"Benar tidak usah dibantu?"
Kido menggeleng, menolak tawaran Mary. "Tidak apa kok, tinggal dikit lagi," katanya dengan lembut. Dia berhenti memotong seledri, menatap Mary agar gadis itu tidak mendapatkan kesan bahwa dia marah. "Bagaimana kalau kau tunggui Seto. Sebentar lagi dia pulang,"
Mary mengangguk. Gadis berambut keperakan itu menolehkan kepala pada jendela di sisi dapur. "Aku harap begitu, sebentar lagi akan hujan. Semoga saja tidak jadi lebat,"
Kido yang kali ini mengangguk, mengikuti pandangan Mary. Dia mengerti sekali, akhir-akhir ini tak jarang hujan lebat dan berangin.
"Kalau begitu aku menunggu di ruang tamu. Aku tinggal ya, Kido!"
Mary melambaikan tangannya sebelum meninggalkan dapur.
(********)
Sepuluh menit berlalu. Kido telah menyatukan bahan-bahan masakannya ke dalam panci. Sayur tersebut tinggal tunggu mendidih.
Tiba-tiba terdengar guntur. Kido terhenyak sebelum menoleh ke jendela. Hujan akhirnya turun juga. Tampaknya masih rintik-rintik,tetapi Kido mendapatkan perasaan yang kurang mengenakkan.
Kemudian terdengar sahutan di ruang tengah. Dia tahu, ini berarti Seto sudah pulang.
Menatap masakannya, dia berpikir sebentar, kemudian memutuskan meninggalkan masakannya.
(********)
"Seto!"
"Ketua! Aku pulang!" Seto menyapa dengan senyuman riangnya seperti biasa.
Kido menatap Seto secara seksama. Beberapa bagian pakaian Seto tampak lebih gelap, dan melekat ke tubuhnya.
"Kau kehujanan?"
"Tidak, aku bawa payung. Tapi tadi anginnya agak kencang,"
Mendengar kata 'payung' entah kenapa menjadi sebuah sinyal baginya. Dia lantas menatap rak payung. Terdapat tiga buah payung di situ. Payung berwarna ungu untuknya, warna putih dan transparan untuk Mary, dan warna hitam untuk Kano.
"Seto, kau tadi bertemu dengan Kano?"
Seto diam, berpikir, "Aku tidak memerhatikan sekeliling. Memangnya dia pergi ya?"
Kido mendesah. Ahh ya, dalam cuaca buruk begini pandangan terbatas dan orang kerepotan untuk melindungi diri sendiri. "Si bodoh itu melupakan payungnya,"
"Ahh.."
Hening sementara, hanya terdengar bunyi guntur, petir dan percikan air hujan. Tak usah ditanya lagi, cuaca pasti akan memburuk.
"Kalau begitu aku akan menjemput Kano,"
Mary terkejut, Kido dan Seto menyerukan hal itu hampir bersamaan.
"Ketua, hujan akan semakin lebat. Akan lebih sulit untuk melakukannya," Seto berhasil berkata terlebih dahulu.
Kido yang sudah membuka mulutnya, merubahnya menjadi senyum, "Lalu? Kau pikir aku tidak mampu?"
"Eh, bukan begitu.."
Kido menyenggol pelan bahu Seto, "Kau sudah bekerja seharian, kau pasti lelah dan capai. Lagipula Mary sangat membutuhkanmu untuk menemaninya di sini,"
Mary mengerjap matanya, bingung.
"Nah, tak usah khawatir! Aku akan menjemputnya dan kami akan kembali secepatnya,"
Yakin dia sudah tidak bisa mengubah keputusan Kido, Seto mengangguk.
Kido tersenyum. Dia kemudian mengambil payung miliknya dan milik Kano, lalu membuka pintu apartemen.
Pintu tertutup. Menyisakan Mary dan Seto di base.
"Aku harap mereka baik-baik saja," Mary berkata.
Seto ingin menjawab dengan kata-kata penuh motivasi yang menjadi khasnya, tapi dia tertegun karena pintu kembali terbuka.
"MASAKANKU, SETO! DIKIT LAGI MATANG!"
(*******)
Kido memasang hoodie nya, memastikan rambutnya tidak ada yang keluar dari jaket. Belum berjalan beberapa langkah dari pintu apartemen, hembusan angin mengenai tubuhnya. Setelah memasang hoodie dengan benar, dia membuka payung, memegang erat gagangnya.
Dia berjalan dengan perlahan. Anginnya cukup kencang, tetapi dia masih bisa menahannya, ditambah hujan yang turun dengan volume normal. Selain masalah angin, ada masalah lain yakni rasa was-was. Hujan membuatnya tidak dapat menggunakan kekuatannya. Karena itu dia harus berhati-hati. Selain itu, hujan juga mengingatkannya akan masa lalu*.
Sebagai orang yang keras kepala, Kido terus berjalan, membelah trotoar. Dia akhirnya menyerah ketika volume hujan menjadi besar dan lebat. Sebenarnya sesuatu yang benar-benar membuatnya berganti pikiran adalah rambutnya. Sudah beberapa menit yang lalu, hoodie yang menutupi rambutnya terlepas ke belakang. Berkat itu, rambutnya terkena angin. Rambut hijau panjangnya terurai kemana-mana. Beberapa kali menutup pandangannya. Muak, dia cepat berhenti dan menepi. Dia berteduh di depan sebuah bangunan yang memiliki atap yang menjorok. Setidaknya cukup untuknya membetulkan rambutnya.
Banyak orang lain yang juga menepi. Akan tetapi, tujuan mereka tak hanya berteduh tetapi menikmati kehangatan di dalam bangunan yang rupanya adalah sebuah kafe. Karena angin, air hujan tetap membasahinya walau dengan atap. Dia pun mengikuti mereka, memasuki kafe.
Untunglah kafe tersebut cukup besar, sehingga dia mendapat tempat duduk.
Kido tidak berkeinginan untuk membuat dirinya menghilang. Dia bahkan tidak memikirkannya. Dia menjatuhkan dirinya di kursi empuk kafe. Sebuah lilin di tengah meja ikut menambah kehangatan kafe tersebut.
Dia bersandar, membiarkan rambut basahnya menjatuhi kursi. Setelah merasa cukup tenang, dia mengeluarkan ponselnya. Sejak berangkat tadi, dia tidak kepikiran untuk menelepon Kano. Tangannya siap memijat tombol dial di layar, tetapi dia terkejut. Karena rasa lelah yang mulai menghilang, dia baru mendengar suara-suara di dalam kafe. Suara cengkrama, canda, tawa, sendok dan gelas, langkah kaki, dan lainnya yang menandakan bahwa kafe tersebut ramai.
Kido menciut, dia cepat-cepat memasang kekuatannya.
Seperti mendapat pecutan, dia cepat memijat keyboard di layar ponselnya, bermaksud meng-sms Kano.
Bodoh, kau lupa payungmu! Sekarang kau di mana?!
Tak lama dia mendapat jawabannya. Dia cepat membuka gambar yang berbentuk amplop.
Wah, rupanya ada yang sangat khawatir denganku!
"Wah, rupanya ada yang sangat khawatir denganku!"
Kido mengedipkan matanya di depan layar ponselnya. Apakah dia tidak salah dengar? Barusan adalah suara Kano! Dia cepat mendongak kepalanya. Mencari sosok si bodoh itu.
Tidak, dia tidak menemukannya. Apakah dia tadi hanya berhalusinasi? Berhalusinasi kok lewat suara?
"DOR!"
"KYAAAAAAAAAA...!"
(*********)
Sudah berapa kali Kano tertawa terpingkal-pingkal di depan Kido. Biasanya Kido akan sangat marah dan menendangnya atau apa. Akan tetapi kali ini tidak. Kido terlalu malu untuk marah. Tadi kekuatannya sempat hilang karena Kano mengagetkannya dengan meletakkan tangan di bahunya, sekarang kekuatannya kembali tetapi dia tetap meringkuk di kursinya.
"Ayolah, mereka tidak mendengarmu saking ramainya kafe ini,"
"Kau bohong!"
"Kau bisa melihat wajahku dengan jelas bahwa aku tidak bohong. Sebaliknya aku tidak bisa melihatmu, tapi aku yakin kau sedang meringkuk karena malu," ujar Kano. "Maafkan aku. Sekarang buat aku untuk dapat melihatmu, atau kau hilangkan kekuatanmu. Sungguh, orang-orang di kafe ini terlalu sibuk dengan mereka sendiri, mereka tidak akan melihatmu!"
Kido melonggarkan dekapannya pada kakinya yang terlipat. Saat ini dia memang menerapkan kekuatannya untuk dirinya sendiri, sehingga semua orang termasuk Kano tidak bisa melihatnya. Dia mendongak untuk melihat Kano. Jarang sekali cowok itu berkata dengan sangat jujur. Terlebih lagi, dia barusan mengatakan 'maaf'.
Dia sudah mengatakan maaf, jadi tidak ada gunanya Kido memperpanjang masalah. Perkataan Kano juga benar. Dari tadi tidak ada orang yang melihat mereka, bertanya 'siapa tadi yang berteriak' juga tidak ada. Asumsinya, teriakan tadi tenggelam dengan suara keramaian yang lain.
Kido menghela napas. Dia mengangkat kekuatannya. Kano menatapnya di mata menjadi bukti bahwa dia sudah terlihat.
"Nah sekarang lebih baik. Aku bisa melihat wajah cantikmu!"
Kido dengan rambut panjangnya yang terurai, dan pakaian yang basah membuat lekuk tubuhnya kelihatan. Dia terlihat sangat perempuan! Wajahnya memerah karena malu. Belum sempat dia berkata atau melakukan apa-apa untuk membalasnya, sebuah ciuman mendarat di bibirnya.
Kano mencium Kido di bibir, tapi hanya sekilas. Dia cepat menarik tubuhnya. Akan tetapi, balasan seperti pukulan atau tendangan tidak dia dapat. Yang berada di hadapannya adalah Kido dengan wajah semerah tomat. Dia pun tertawa cengengesan.
"Eits, jangan marah dulu! Aku akan mentraktirmu kue!"
(********)
[[akhirnya fanfic pertama KanoKido saya jadi~~ Gimana..? OOC dan gaje banget ya orz
*headcanon saya, kalau hujan, karena tetesan airnya, itu menginterupsi kekuatan Kido. Terus hujan mengingatkan Kido masa lalu karena mungkin setelah kebakaran itu, hujan lebat.
Oiya note penting, untuk chapter kemarin itu KonoEneShintaro ya.. entah kenapa di otak saya fokusnya KonoEne, dan bukannya EneShin malah KonoShin. Jadi ya gitu, akibatnya EneShin nya gak terlalu banyak ;;;;;; /maafsayabodoh
Jadi, sebagai gantinya saya akan bikin EneShin/ShinEne di chapter-chapter mendatang.
Untuk chapter selanjutnya..uhmm rahasia!]]
