[[warning: ada banyak hint SetoShin-nya, yang gak suka pairing ini dan juga BL, chapter ini bisa di-skip
A/N penting di bawah ]]
Birthdays
[[ShinMary ]]
Mary terbangun dari tempat tidurnya, sinar matahari menyilaukan matanya. Dengan malas dia berjalan meninggalkan tempat tidur, kemudian menghampiri jendela. Tirai tidak menutupi jendela tersebut, sehingga sinar matahari langsung masuk. Biasanya dia menutupnya sebelum tidur, kalau dia lupa, biasanya Seto yang menutupnya. Sepertinya Seto juga lupa. Mary tersenyum, membuka jendela tersebut. Beberapa burung kecil cepat hinggap di kusennya.
"Selamat pagi!" dia menyapa burung-burung tersebut. Walaupun tidak punya kekuatan untuk mengerti bahasa hewan seperti Seto, dia suka meniru laki-laki tersebut dengan berbicara pada burung-burung kecil itu.
Setelah menyapa, dia mengambil sebuah sisir di lemari kecil, kemudian dia berjalan keluar kamar.
Seperti rutinitasnya sehari-hari, dia berjalan menuju kamar Seto, memintanya untuk menyisir rambutnya.
Dia membuka pintu kamar yang tidak pernah dikunci.
"Seto.." dia memanggil temannya itu seraya memasuki kamar. "Seto?" dia cepat bingung karena tidak mendapat jawaban. Dia juga tidak melihat Seto.
Dia kembali memanggil-manggil Seto, seraya mencari keberadaannya di antara barang-barang. Ya, tentu saja dia tahu bahwa Seto bertubuh tinggi besar, tidak mungkin muat di antara laci-laci dan lemari. Dia hanya ingin memastikan.
Setelah yakin bahwa Seto tidak berada di kamar, dia mengganti rencananya. Pasti Seto sudah berangkat kerja, jadi tidak usah panik. Minta Kido saja! Dia tersenyum sambil melangkah menuju kamar Kido.
Dia tertegun, pintu kamar Kido dikunci. Kido memang sering menguncinya karena dia tidak ingin sembarang orang, seperti Kano, memasuki kamarnya. Akan tetapi, setahu Mary, kalau Kido berada di dalam kamar, tidak pernah dikunci. Ini berarti Kido tidak berada di kamarnya.
Dia melewati kamar Kano, tidak peduli. Dia langsung berjalan menuju dapur.
"Kido!"
Dia memanggil, agak keras. Akan tetapi, tidak ada jawabannya. Dia memasuki dapur, dan mendapati dirinya seorang diri.
Menggaruk kepalanya dengan tangan kiri, memegang sisir di tangan kanan, Mary berdiri di dapur dengan bingung.
Kemudian dia berjalan ke ruang tamu. Berharap bertemu dengan Momo, Shintaro, Hibiya, atau Konoha. Dia menghentikan langkahnya, ruang tamu kosong. Keempat orang itu belum berkunjung.
Mary mulai panik.
Dia kembali ke kamar Kido. Mungkin Kido masih tidur. Dia mengetuk kamar Kido. Tidak ada jawaban. Dia mengetuk semakin keras. Pintu itu tetap bergeming. Tidak ada suara juga dari kamar Kano.
Dia berhenti mengetuk, menyandarkan punggungnya ke pintu.
"Ke mana semua orang?"
Tidak ada suara selain yang dibuatnya sendiri. Base itu, tempat tinggalnya, sepi sekali. Kenapa dia ditinggal sendirian? Memangnya dia tidur terlalu lama? Apakah ada misi dadakan?
Mary mengepalkan kedua tangannya, sisirnya digenggam lebih erat. Mungkin mereka tidak tega membangunkannya? Ahh, seharusnya dia bisa bangun lebih pagi. Tetapi, mengapa mereka pergi tanpanya? Apakah dia tidak dianggap penting? Biasanya Seto membangunkannya bila ia tidur terlalu lama. Kenapa sekarang tidak?
Dia berdiri tegak, kemudian berjalan ke kamar. Dia harus bersiap-siap. Kalau pun dia ditinggal, dia harus menyusul mereka. Tapi... menyusul ke mana?
Tiba-tiba terdengar bunyi bel.
Dia melompat karena kaget. Dia kemudian tahu kalau seseorang berada di depan pintu base. Ah, itu pasti di antara ke empat orang tadi. Dia tersenyum senang, apakah mereka datang untuk menjemputnya? Ah, dia tidak ditinggal! Dia cepat berlari menuju pintu depan.
Setelah membuka pintu, dia terkejut melihat Shintaro.
"Shintaro!"
"Mary.."
(***********)
"Aku tidak yakin mereka pergi karena misi, Mary. Seto mungkin ada pekerjaan mendadak. Kido mungkin sedang ke pasar. Kano yah.. kau tahulah dia suka keluyuran,"
"Tapi Shintaro.."
"Beneran kok, bukan misi. Buktinya Seto menyuruhku untuk menemanimu!"
"Eh, benarkah?"
Shintaro mengangguk. Ene di ponselnya juga mengangguk dengan riang.
"Iya, kalau tidak disuruh Seto, mana mungkin master mau ke sini pagi-pagi, minggu pagi lagi!"
"Ohh syukurlah!" Mary menepuk kedua tangannya dengan riang.
"Ohh ya, Mary. Kau sudah makan?" Shintaro menaruh sebuah kantung kresek yang tadi dipegangnya ke atas meja ruang tamu. Dia membuka dan mengeluarkan isinya. Beberapa benda kotak dan bulat yang dibungkus aluminium foil kini berada di atas meja. Dia hendak memberikan salah satu kotak kepada Mary, tetapi mengurungkannya. "Kau benar-benar habis bangun tidur ya?"
"Ehh iya.."
(*************)
Mary baru menyadari bahwa rambutnya terlalu berantakan, pantas Shintaro bertanya begitu. Selanjutnya laki-laki itu bersedia membantunya menyisir rambutnya.
"Hati-hati, aku ini ¼ Medusa lho.." Mary tertawa kecil.
Shintaro hanya mendengus kecil sambil merapikan rambut Mary.
Selama dia melakukannya, tidak ada yang berkata-kata. Dia tidak berniat bicara. Mary sepertinya tertidur. Ene sibuk dengan dunianya.
Setelah beberapa saat, dia selesai. Rambut Mary tertata rapi, tidak ada helaian rambut yang mencuat sembarangan. Setidaknya itu menurutnya.
"Master kapan terakhir kali menyisir rambut perempuan?!"
"Aku pernah menyisir rambut Momo! Uhh tidak tahu kapan," wajah Shintaro sedikit merah karena diejek Ene. Masa sih seburuk itu? Dia telah berusaha sebaik mungkin membantu Mary. Ya, mungkin dia tidak sebaik Seto yang biasa melakukannya, tetapi dia sudah mencoba.
Mary ikut tertawa, tetapi dia tersenyum dan menatap Shintaro, "Tidak apa-apa Shintaro. Ini sudah bagus. Makasih ya!"
Shintaro lega mendengarnya. Setelah itu dia kembali ke tempat duduknya. Kemudian menawarkan sarapan yang ia beli seraya dia berjalan ke base.
(*********)
"Hah? Kau belum mandi?"
"Iyalah, aku kan baru bangun tadi!" kata Mary dengan tersenyum-senyum kecil.
Shintaro menggaruk rambutnya sendiri, terlihat kesal.
"Master lebay ah! Biasanya juga bangun siang, gak mandi malah!"
"Tapi kan dia itu cewek!"
"Terus kenapa? Mary gak mandi tetep imut!"
Mary, sebagai orang yang dibicarakan, terlihat kebingungan. "Kita benar habis ini mau pergi mencari mereka?" tanyanya, sangat berharap mereka berhenti berdebat.
"Terserah kau sih.." jawab Shintaro, berhenti berdebat dengan Ene. Dia menyandarkan kepala kepada sofa.
"Tidak usah ya.. mereka nanti juga pulang kan?"
Shintaro sedikit terkejut mendengarnya. Dia menegakkan tubuhnya, menatap Mary dengan bingung. Padahal sejak awal gadis itu ingin menyusul mereka. Nah, sekarang langsung berganti pikiran.
"Mungkin kau benar. Seto sibuk dengan pekerjaannya. Kido mungkin ikut keluyuran dengan Kano. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,"
"Iya, lagipula aku malas jalan lagi..."
"Aku juga.."
Selanjutnya tidak ada yang berbicara. Masing-masing bersandar di kursi dengan malas.
"Kau tidak jadi mandi?!"
(***********)
Ene tidak sanggup menahan tawanya lebih lama. Dia tertawa setelah Shintaro berhasil membujuk Mary untuk mandi. Dia tertawa terpingkal hingga harus menahan perutnya.
"Ada apa sih?!" tanya Shintaro, jutek.
"Kalian berdua ini... sangat mirip!" seru Ene dengan semangat.
Shintaro menatapnya dengan tatapan beribu pertanyaan.
"Ya, tentu saja penampilan kalian berbeda. Mary lebih imut daripada Master!" Ene sepertinya tidak ingin menjelaskannya lebih lanjut. Shintaro juga malas menggubrisnya.
Dia cepat menjatuhkan diri di atas sofa. Dia ingat bahwa dia hanya tidur dua jam semalam. Itu masih untung, biasanya malam minggu dia tidak tidur sama sekali. Biasanya minggu pagi ia lewati untuk tidur. Akan tetapi, karena sms Seto, dan alarm Ene yang sekaligus memberitahukan isi sms itu, dia akhirnya berakhir di tempat ini.
"Kira-kira Seto ke mana ya? Gila saja anak itu, hari minggu bekerja,"
"Hihi, master! Bilang saja kangen!"
(**********)
Mary melangkah ke kamarnya untuk mengambil peralatan mandi. Dia tersenyum sepanjang jalan. Dia bersyukur tidak sendirian lagi. Walau dia tidak menyangka Shintaro yang akan menemaninya. Setelah kejadian di taman ria beberapa waktu lalu, dia tidak pernah hanya berdua lagi dengan Shintaro. Sekarang ada Ene sih, tetapi tetap saja dikategorikan berdua bukan?
Setelah mendapatkan peralatannya, dia berjalan menuju kamar mandi. Pikirannya masih melayang di Shintaro. Karena Shintaro, dia pertama kali memakan makanan yang dibungkus aluminium foil. Biasanya Kido atau Seto yang memasaknya. Mungkin Shintaro tidak bisa memasak? Atau dia hanya malas? Siapa tahu. Sebelumnya Shintaro membantunya merapikan rambutnya. Sekarang, dia berhasil membujuknya untuk mandi.
Mary memasukkan badannya ke dalam bak yang telah penuh dengan air. Setelah mengambil sabun, barulah dia menyadari bahwa ada yang salah. Dia lupa menguncir rambutnya.. padahal dia tidak berniat untuk keramas.
(*********)
Tigapuluh menit berlalu setelah dia memasukkan dirinya ke dalam bak. Sekarang dia telah berpakaian, dan sedang mengeringkan rambutnya.
"Mary, kau tidak apa-apa kan?"
Dia terkejut mendengar ketukan di pintu dan suara Shintaro. Ahh, apakah dia khawatir?
"Aku sedang mengeringkan rambut!"
"Ohh oke baiklah..."
Tidak ada lagi suara ketukan, hanya suara langkah kaki yang menjauh.
Mary menghela nafas, dia merasa bersalah telah membuat Shintaro menunggu.
(********)
"Kukira kau kelelep,"
Itu yang dikatakan Shintaro pertama kali saat dia memasuki ruang tamu.
Mary nyengir. Kemudian dia terkejut melihat sesuatu yang dihidangkan di meja. Dua buah gelas dengan asap kecil mengepul.
"Ahh ya. Kau kan suka teh. Jadi aku buatkan. Mungkin kau kedinginan setelah mandi tadi,"
Mary duduk di sofa, matanya tetap menatap gelas berisi cairan itu.
"Yah, mungkin tidak seenak teh buatanmu. Tetapi.. cukup aman untuk diminum kok!"
Mary dengan rambut yang hampir kering, menjulurkan tangannya, mengambil salah satu gelas. Dia pelan-pelan menyeruput teh yang panasnya merambat ke dinding gelas dan tangannya. Dia tersenyum setelah berhasil meneguknya.
"Iya, enak kok!"
"Biasa aja..."
"Makasih ya, kak Shintaro!"
(**********)
Keheningan menyelimuti mereka ketika mereka menyeruput teh masing-masing. Shintaro biasa sih dengan keadaan hening, tetapi setelah mendengar panggilan Mary terhadapnya, dia tidak bisa tenang. Mary menyeruput tehnya dengan muka polosnya seperti biasa, tidak merasa bersalah. Ene, tidak disangka dia diam. Shintaro menatap gadis di ponselnya itu, kemudian cepat menyesali tindakannya. Ene tersenyum sangat lebar, pipinya merah. Pasti karena menahan tawa, tidak perlu ditanyakan lagi.
"Shintaro, kau suka membaca buku?"
"Suka.." Shintaro menghela napas, lega. Mary tidak memanggilnya dengan 'kak' lagi. Hanya untuk tadi saja.
"Kalau begitu aku akan menunjukkanmu buku bacaan yang bagus! Ayo kak!"
Bagian kecil dari hati Shintaro berasa diremas.
(*************)
Shintaro dan Mary sama-sama asyik membaca buku di dekat perpustakaan kecil milik Mary. Keadaan sangat nyaman untuk Shintaro hingga ponselnya bergetar.
"Seto..." dia menggerutu sembari membaca isi pesannya.
"Ayo kita ke depan, mereka sudah pulang!"
"Baiklah kak!"
Mereka bersama-sama berjalan ke ruang tamu, tidak menyangka akan apa yang mereka dapatkan.
"SELAMAT ULANG TAHUN, MARY!"
(***********)
Shintaro merasa bodoh sekali. Dia telah dimanfaatkan oleh teman-temannya, termasuk Ene. Hari itu adalah hari ulang tahun Mary. Dia tidak tahu.. bahkan Mary juga tidak tahu! Gadis itu hanya berdiri bingung ketika teman-temannya memberikan kejutan itu. Dia baru mengerti setelah Seto menjelaskannya secara perlahan.
Semuanya ada di situ. Seto, Kano, Kido, Hibiya, Momo, dan Konoha memberikan kejutan itu. Sebuah kue ulangtahun berukuran cukup besar, berlapis dua, ditaruh dengan cantik di atas meja ruang tamu. Kue itu kue cokelat, tapi permukaannya diberi krim hijau, ada beberapa ceri dan permen kecil berwarna merah yang bertaburan. Kemudian cokelat batangan didirikan di atas permukaan. Di tengah-tengah kue, lapisan atas, diberi tulisan ucapan ulang tahun dengan krim berwarna biru. Lalu ada hiasan-hiasan seperti lilin berbentuk kelinci, burung dan semacamnya. Dilihat secara kesuluruhan, kue itu seperti replika sebuah bukit di hutan. Tekstur kue yang tampak seperti tanah, Shintaro mantap tidak ingin mencoba kue itu.
Ruang tamu itu telah didekorasi dengan tema ulang tahun selama mereka membaca buku. Seseorang juga telah sembarangan memakaikan sebuah topi ulang tahun di kepalanya. Shintaro tidak bisa protes, semua orang memakai topi itu.
Mary berdiri di tengah-tengah ruangan, di dekat kue itu. Dia tersenyum begitu lebar, pipinya merah karena senang. Dia memakai topi ulang tahun juga, itu membuatnya lebih lucu.
Shintaro tersenyum-senyum sendiri dengan penampilan Mary yang seperti itu.
"Aku ingin mendedikasikan potongan kue ini kepada—Shintaro! Yang telah setia menemaniku selama kalian pergi!"
Shintaro terkejut dengan kue yang -sungguh dia tidak ingin memakan itu- disodorkan kepadanya. Mary terlalu imut, dia tidak tega untuk menolaknya, tapi dia juga tidak mau memakannya. "Kau berikan kepada Seto saja, dia yang menyuruhku untuk menemanimu!"
Dia berharap Mary mau mengerti. Rupanya reaksi Mary melebihi harapannya. Mata gadis itu malah berbinar dengan senang.
"Kalau begitu kue ini untuk kalian berdua!" setelah mengatakan itu dengan semangat, dia memberikan potongan kue selanjutnya untuk anggota Mekakushi-Dan yang lain.
Shintaro memberikan kesempatan ini untuk memberikan seluruhnya untuk Seto.
(***********)
Ruang tamu itu disulap menjadi ruang pesta ulang tahun. TV, mik dan stereo dinyalakan, menyajikan karaoke. Makanan, tak hanya kue tapi yang lain (buatan Kido), disajikan. Juga banyak sekali soda. Shintaro tentunya menikmati bagian itu.
"Shintaro, kuenya sangat enak lho! Pada nambah terus, untungnya aku menyisakan sepotong untukmu!"
Shintaro memutar bola matanya. Sikap Seto yang terlalu perhatian terkadang mengesalkannya. "Kalau sangat enak untukmu saja! Aku tidak mau!"
"Tapi Shintaro, cobalah! Sesendok saja gimana?"
Shintaro menghela nafas. Bocah ini tidak akan pergi kalau dia tidak mencicipi ini bukan?
"Baiklah—" Dia terkejut karena Seto main memasukkan sesendok kue itu ke mulutnya.
"Maaf ya. Aku dengar dari Ene kau sangat marah,"
Shintaro semakin terkejut, tetapi dia berhasil menelan kue yang rupanya memang enak itu. "Enak saja, memangnya hukuman kali ini sama?!"
"Ehh?"
Tanpa berpikir panjang, Shintaro menarik kerah jumpsuit Seto, menjemputnya dalam ciuman.
(************)
"Mary..."
Shintaro merasa sangat harus untuk berbicara dengan Mary. Karena itu, dia rela menunggu sampai pesta selesai dan semuanya kembali tenang. Hari itu sudah malam, dia punya dua pilihan, cepat pulang atau menginap di base.
"Ada apa, kak Shintaro?"
"Hah.. kau masih memanggilku dengan itu.."
"Tapi aku tidak memanggilmu 'kak' pada saat pesta tadi bukan?"
"Ehh iya sih.." Shintaro membenarkannya. Sebenarnya itu adalah alasan mengapa dia menghampiri gadis itu untuk berbicara. Dia tidak ingin Mary memanggilnya dengan sebutan 'kak' lagi.
"Hanya untuk hari ini!"
"Huh?"
"Aku ingin merasa bagaimana punya kakak. Shintaro, kau memberikanku pengalaman itu hari ini. Jadi, walaupun kau tidak memberikan hadiah. Hal itu sudah menjadi hadiah bagiku,"
"Tapi aku tidak pantas dipanggil sebagai 'kakak'. Bukankah Seto biasa melakukan apa yang aku lakukan hari ini kepadamu?"
"Seto melakukannya karena dia melihatku sebagai seseorang yang disayanginya. Sementara kau melakukannya karena..ketika kau menyisir rambutku, kau menyebut Momo. Aku cepat berpikir bahwa kau seperti sedang mengurus adikmu. Yah, mungkin aku salah. Tapi aku pikir kau pantas disebut 'kak',"
Shintaro tersenyum mendengarnya. Gadis itu rupanya mempunyai banyak pemikiran. "Aku tidak mengerti diriku sendiri.. tapi mungkin kau benar. Momo sudah tidak imut untuk diurus,"
Mary tertawa kecil, "Jangan-jangan kau ingin aku sebagai adikmu?"
"Mungkin, tapi nanti Seto marah,"
Keduanya kemudian saling tertawa.
"Kau tahu, ada satu lagi permintaanku. Kalau kau memenuhinya, kau benar-benar sudah memberikan hadiah ulang tahun kepadaku,"
"Apa itu?"
Shintaro mendengarkan permintaan Mary melalui bisikan dengan saksama. Setelah selesai, mukanya cepat memerah, sangat merah seperti tomat.
"TIDAK! TIDAK UNTUK 1000 TAHUN!"
"Ayolah, Seto pasti sangat suka dengan ide ini!"
(************)
[[pa-pa-panjang sekali ini. Maafkan saya. Dan apakah saya sekarang dibenci karena ulangtahun Mary, saya malah bikin ShinMary bukannya SetoMary?
Kenapa posting chapter ultahnya telat 3 hari ya karena alasannya sama kayak di atas. Alasannya karena pas ngepost chapter kemaren, bener-bener gak kepikiran buat bikin fanfic ultahnya Mary. Pas saya bilang 'rahasia' untuk pairing chapter selanjutnya.. ya itu, ShinMary lah pairingnya. Ide ultah Mary juga dadakan, ya sudah dicampur sama ShinMary aja deh.
Sebenernya juga pengen masukin SetoMary, tapi kalau dikit doang rasanya gak afdol, dan chapter ini udah kelewat panjang. Saya masih suka banget sama SetoMary kok!
This chapter is seriously not important. Ahh kalian pada ngeskip chapter ini? Alhamdulillah.
Chapter selanjutnya, HaruTaka ! ]]
