[[HaruTaka]]

[[Berdasarkan prompt dari senkounomaihime tumblr : a fanboy who was at their age adores Takane's game identity and tries to get closer to her and made Haruka jealous—- Haruka went straight to claiming Takane is his in front of the whole school and made her embarrassed for life.

Karena itu, harap maklum ada OC di sini.]]

Pagi yang cerah bagi Haruka untuk berangkat ke sekolah. Dia memasuki mobil ibunya bersama tas yang ditentengnya. Dia turun dari mobil tepat sebelum belokan di jalan utama. Biasanya banyak siswa yang berjalan di jalan itu, sehingga tidak menarik perhatian.

Hari itu tumben tidak banyak yang berjalan. Haruka bingung sendiri, ibunya mengatakan sesuatu tentang 'terlambat'. Dia tidak menghiraukan hal itu. Toh kelas yang dihadirinya hanya berisi dua orang. Dia dan seorang teman sekelas yang manis. Teman sekelas itu selalu datang terlebih dahulu. Kalau dia terlambat, paling hukumannya tidak berat.

Haruka berhenti dengan langkahnya. Dia tertegun, melihat teman sekelasnya di depan gerbang sekolah. Tumben sekali! Dia tersenyum senang, bisa melihat teman sekelasnya sebelum berada di kelas. Tetapi siapa itu yang sedang mengobrol dengannya?

Dia berjalan dengan pelan, berusaha tidak terdengar. Dia mendekat, tetapi tidak terlalu dekat, hanya agar dapat melihat orang tersebut. Dia tidak ingat pernah melihat orang tersebut sebelumnya. Orang tersebut memakai kacamata, tinggi, juga memakai seragam sekolah yang sama. Siapakah dia? Temannya? Haruka bertanya-tanya.

"Ah! Teman sekelasku sudah datang! Kelas juga sebentar lagi dimulai! Bye!"

Haruka terkejut, teman sekelasnya, Takane, rupanya telah menyadari keberadaannya. Dia cepat diseret dengan tangan.

"Sampai ketemu lagi, Ene!"

Haruka terkejut lagi. Dia melihat temannya Takane yang terlihat semakin menjauh dengan rasa bingung. Kenapa orang itu memanggilnya dengan Ene? Bukankah itu nama gamer Takane?

"Dia bukan siapa-siapa kok! Dia cuma pernah mengunjungi booth kita!" ujar Takane tanpa ditanya.

Haruka cuma mengangguk-angguk. Beberapa detik kemudian kelas dimulai.

(**********)

"Kerjakan halaman 150, di kertas folio. Besok dikumpulkan," perintah Pak Guru Kenjirou. Setelah itu dia keluar dan bel istirahat berbunyi.

"Ahh tumben sekali dia mengasih PR!" keluh Takane, dia menutup buku teks matematika dengan kesal.

Haruka tersenyum, "Kalau begitu kita kerjakan sama-sama gimana?"

"Aku bisa kerjakan sendiri!" seru Takane dengan keras kepala.

"Ohh oke," gumam Haruka. Padahal dia tahu Takane lemah di matematika, dia hanya berniat membantu.

Dia merapikan buku-bukunya sebelum dimasukkan ke kolong meja. Dia mengambil kotak makannya setelah itu.

Saat dia membuka kotak makannya, dia mendengar pintu kelas terdorong terbuka. Takane terlihat ingin meninggalkan kelas.

"Ke mana?" tanya Haruka refleks.

Takane memberikan tatapan kesal, seakan pertanyaan itu tidak penting, "Kantin! Aku lupa bawa kotakku!"

"Ohh!" Haruka hanya tersenyum-senyum sebagai respon.

(**********)

Haruka tak berhenti melihat jam kelas dan meja Takane secara bergantian. Sebentar lagi jam istirahat habis. Tetapi ke mana Takane? Biasanya Takane kembali dengan cepat, dan memakan makanan yang dibelinya di kelas. Dia merasa gelisah.

Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki menuju kelas mereka. Kelas yang sebenarnya hanya kelas jadi-jadian itu memang digunakan banyak orang. Tetapi apabila jam-jam kelas, hanya dimasuki oleh dia, Takane, dan pak guru.

"Terimakasih ya sudah mentraktirku!"

Dia mendengar suara Takane dari balik pintu.

"Untuk Ene sih, tidak ada apa-apanya!"

Haruka terkejut, dia pernah mendengar suara itu.

Haruka tanpa sadar telah berada di balik pintu. Berusaha mendengar percakapan mereka lebih jelas.

"Sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama itu!"

"Tapi Enomoto-san kepanjangan!"

"Kau ini menyebalkan ya?"

Lawan bicara Takane tertawa.

"Kalau kau lupa bawa makan siang lagi. Katakan saja padaku!"

"Terserah kaulah!"

Kemudian bel tanda kelas kembali dimulai berbunyi. Kedua orang tersebut berhenti berbincang. Lalu pintu kelas bergeser terbuka.

Kini Haruka dapat melihat kedua orang tersebut dengan jelas. Lebih tepatnya, mereka terkejut melihatnya.

"Haruka! Apa yang kau lakukan! Kau menguping ya?!"

"Ehh aku.." Haruka kebingungan.

"Ketahuan! Kau ini tidak pandai berbohong!" umpat Takane.

Lawan bicaranya adalah orang 'bukan siapa-siapa' nya Takane tadi pagi, tertawa, "Ya sudahlah! Aku permisi dulu! Sampai ketemu lagi, Ene!" teman tersebut melambaikan tangan kemudian pergi.

Pintu kelas kembali ditutup. Mereka berdua sebagai penghuni kelas, kembali ke meja masing-masing. Haruka melihat ke arah Takane, yang tampak kesal. Apakah karena dia menguping tadi? Haruka menatap buku teks literatur klasiknya, dia tidak merasa bersalah. Entah kenapa, dia sendiri malah merasa kesal. Tentunya tidak terlihat dari raut wajahnya.

"Kau membohongiku, Takane!"

"Apa maksudmu?!" hardik Takane.

Haruka melompat sedikit. Mengapa Takane selalu berkata keras-keras dengan dirinya, sementara dengan orang tadi dengan lembut dan malu-malu?

"Kau bilang orang itu bukan siapa-siapa.." jawab Haruka, tidak pandai menjelaskan.

"Ohh orang itu.. Shishio namanya. Dia seangkatan dengan kita. Dia penggemar berat Ene," jawab Takane tanpa melihat ke arah Haruka. Dia sibuk menyiapkan bukunya.

Haruka diam. Berarti orang tersebut benarlah seorang gamer, yang mengunjungi booth mereka, pengagum Lightning Dancer Ene, dan kebetulan sesekolah dan seangkatan. Siapa namanya? Shishio? Kalau hanya penggemar, kenapa Ene harus tahu namanya.

Dia bingung, tetapi dia tidak bisa meneruskan pemikirannya karena pak guru sudah memasuki kelas.

(***********)

"Takane, ayo kita ke perpustakaan! Mencari buku yang diminta pak guru sekaligus mengerjakan PR matematika!" ajak Haruka dengan bersemangat. Dia telah siap, tas ditenteng di tangan kanannya.

"Buat apa? Literatur klasik masih minggu depan. PR matematika cukup mudah untuk kukerjakan sendiri!" jawab Takane, seraya mengucek matanya.

"Ohh yasudah kalau begitu," Haruka tersenyum maklum. Dia berjalan mendekati pintu kelas. Takane masih sibuk merapikan barang-barangnya. "Jangan sampai ketiduran ya Takane!" dia menasihatinya sebelum meninggalkan kelas.

"Iya iya!" seru Takane, melambaikan tangannya kepadanya.

(*********)

Perpustakaan sekolah di hari itu sepi. Haruka mengerjakan PR matematika di meja seorang diri. Setelah kurang lebih limabelas menit, dia menyelesaikan PR diferensial yang berjumlah 20 soal tersebut. Dia tersenyum, PR-nya memang mudah. Takane dapat mengerjakan ini! Dia mengembalikan buku-bukunya ke dalam tas dengan lega.

Kemudian dia beranjak untuk mencari buku klasik literatur yang diminta pak guru. Dia membutuhkan sekitar 30 menit untuk mencari buku itu. Padahal letaknya mudah ia temui, tetapi dia kesulitan dalam mencarinya. Untungnya terdapat beberapa buku dengan judul yang sama. Dia pun mengambil dua, untuk dirinya dan Takane. Dengan begini Takane tidak perlu repot lagi.

Dia tersenyum sambil berjalan menuju bagian peminjaman buku.

Dia keluar dari perpustakaan agak sore. Ibunya pasti khawatir.

Setelah berbelok di tikungan, dia terkejut melihat seseorang yang familier. Siapa lagi kalau bukan Takane. Takane berjalan di depannya dengan seseorang, yang baru ia kenal tadi pagi, Shishio.

Haruka lagi-lagi berjalan sepelan mungkin. Dia berusaha untuk tidak terdengar, seperti tadi pagi tetapi dia tidak ingin gagal. Karena jarak yang jauh, dia tidak dapat mendengar percakapan mereka.

Kedua orang itu cepat berpisah sesampainya di gerbang sekolah.

"Haruka!"

Haruka baru saja ingin bersyukur karena dirinya tidak diketahui. Akan tetapi seruan ibunya membuat Takane menjadi berpaling ke arahnya, wajahnya terkejut bukan main.

Haruka hanya tersenyum kepada Takane sebelum mengikuti ibunya yang khawatir.

(***********)

"Haruka maafkan aku! Kemarin Shishio menghadangku, dia memaksaku melihat-lihat klub game-nya!"

Seru Takane keesokan harinya di kelas.

Haruka hanya berkedip kebingungan sebelum tersenyum, "Aku tidak mengerti kau ini meminta maaf soal apa? Oiya PR matematika sudah kau kerjakan?"

Mendengar jawaban Haruka, Takane ikut kebingungan. Setelah beberapa saat gadis itu tertawa kecil. "Sudah dong!"

"Ohh iya ini bukunya!"

"Untuk klasik literatur? Kau meminjamnya sekalian? M-makasih ya Haru!"

Haruka hanya tersenyum-senyum cengengesan.

(***********)

Hari itu Takane makan siang dengannya di kelas. Entah kenapa dia merasa senang dan lega. Saat tadi Takane meminta maaf, dia juga merasa lega. Padahal dia tidak mengerti Takane meminta maaf soal apa.

Untuk pertama kalinya, Haruka merasa kenyang dengan makan siang yang terbatas itu.

(***********)

Setelah makan siang, kelas dilanjutkan.

Setelah kelas berakhir, dia berjalan pulang dengan Takane.

Hari itu seperti hari-hari biasa.

Tidak ada Shishio yang membuatnya berbeda.

(***********)

Keesokan harinya Takane datang terlambat ke kelas. Untungnya pak guru belum datang.

Terdapat kelas yang paling menyenangkan bagi Haruka di hari itu, yaitu kelas artistik. Selain itu kelas berjalan dengan lancar.

Hari itu dia makan siang bersama Takane, juga pulang sekolah bareng Takane.

(**********)

Keesokan harinya, tepatnya hari Kamis, Takane datang sangat terlambat.

"Maaf ya, tadi Shishio menghadangku lagi,"

Haruka hanya mengangguk-angguk, tetapi wajahnya tidak mengerti.

"Aku ingin makan siang di kantin!" Takane berkata padanya saat jam makan siang.

Haruka mengangguk, "Aku nitip roti!"

Walaupun terkejut, Haruka sangat mengharapkan roti tersebut. Sayangnya, Takane datang tepat saat bel jam istirahat berakhir.

Pulang sekolah, dia membagi dua roti itu, untuknya dan Takane. Mereka memakannya bersama . (**********)

Hari terakhir sekolah di minggu itu. Jam makan siang, Haruka merasa kesepian karena tidak ada Takane. Dia pun keluar kelas setelah menyelesaikan bekalnya. Dia menuju taman sekolah di mana dia sering menjumpai seekor kucing. Kucing tersebut sangat lincah, dia ingat pernah tercebur ke kolam air mancur dan membuat basah seluruh pakaiannya. Kucing itu kini sedang mencakar-cakar dinding dekat jendela.

Haruka mengambil kucing itu ke dalam genggamannya. Walaupun lincah, kucing itu tidak akan memberontak kalau sudah dipegang. Setelah mendapatkan kucing itu, dia berdiri tegak dan tanpa sengaja melihat sesuatu dibalik jendela.

Rupanya jendela tersebut mengarah ke pintu kantin yang terbuka. Dari sekian banyak murid yang berseliweran. Apa yang dilihat Haruka saat itu adalah Takane, yang sedang berbincang-bincang dengan penggemar berat Ene yang dikenalnya di awal minggu.

Haruka mengelus rambut kucing itu dengan lembut. Menatap kedua orang dari balik jendela tersebut.

"Hmm, mereka akrab ya, cing!"

(***********)

Sabtu, minggu, berlalu dengan cepat. Senin cepat dijumpai lagi.

Haruka tertegun melihat Takane berjalan dengan Shishio menuju sekolah.

"Takane!" kali ini Haruka menegurnya.

Selanjutnya, untuk pertama kalinya Haruka berjalan di antara Takane dan Shishio. Ahh tidak, tepatnya.. Shishio berjalan di antara dia dan Takane.

Pembicaraan antara Takane dan Shishio, sepanjang perjalanan, tentang game yang Haruka tidak mengerti. Haruka susah mengikuti mereka. Dia menyerah dan lebih memikirkan apa yang dibawanya dalam tas. Takane pasti senang dengan itu.

Bel tanda masuk berbunyi. Akan tetapi, Takane sepertinya tidak mendengarnya dan masih asyik berbicara.

"Takane! Bel masuk sudah bunyi!" Haruka berseru.

Takane berhenti berbicara, dia menengadah melihat Haruka. Dia seperti baru menyadari kehadiran Haruka di situ. "Ahh iya! Gawat kalau kita berdua terlambat di kelas! Si Kenjirou pasti akan meliburkan dirinya!" dia cepat menggenggam lengan Haruka. "Duluan ya, Shishio!"

(***********)

Kelas pagi itu berakhir dengan cepat. Mood malas mengajarnya Kenjirou sedang berada di puncaknya. Haruka tersenyum senang, dengan itu dia dapat menunjukkan kepada Takane apa yang dibawanya, spesial di hari itu.

"Takane, Konoha sudah naik beberapa level lho!"

Tidak ada respon dari Takane. Barulah ketika dia menghidupkan gadget itu, "Haruka! Sudah kubilang tidak boleh main game di kelas!"

"Tidak apa-apa Takane! Pak Kenjirou tidak pernah melarangku!"

Takane hanya menghela napas, malas untuk berargumen.

"Nah, nanti pas makan siang, temani aku ya! Sekalian bantu aku mainin ini!"

Takane terlihat terkejut, sebelum akhirnya mengangguk.

"Terserah kamu deh!"

(***********)

Saat pulang sekolah, Takane menyuruhnya pulang duluan, karena dia ada urusan. Akan tetapi, Haruka tidak mengikuti perintahnya, malah membeli jajanan dulu di kantin.

Untunglah, karena tindakan ini, dia mengetahui maksud Takane yang sebenarnya. Gadis itu berjalan pulang dengan Shishio. Takane lebih memilih pulang dengan seorang penggemar diri gamernya, daripada dirinya yang asli. Haruka bertanya-tanya, padahal dia satu-satunya yang sangat mengenal Takane. Dia satu-satunya teman Takane. Lalu kenapa Takane lebih memilih pulang dengan Shishio?!

Perasaan yang asing bergemuruh di hatinya.

(***********)

Keesokan harinya, Takane lupa lagi dengan bekalnya. Haruka memutuskan ikut dengannya, beralasan yang sama.

Takane tampak sedikit keberatan, Haruka tidak peduli dengan itu.

Mereka memasuki kantin bersama. Seseorang cepat melambaikan tangan ke arah mereka, ke arah Takane tepatnya. Orang itu adalah Shishio. Dia duduk di sebuah meja dengan teman-temannya.

"Wah! Haruka kali ini ingin bergabung?" Shishio bertanya, nadanya ramah.

Takane mengangguk untuknya, "Dia juga lupa bawa bekal,"

"Ohh oke.. tapi.. tidak cukup ruangnya.." Shishio menunjukkan tempat yang hanya cukup untuk Takane.

"Kalau begitu aku makannya di kelas saja!" seru Haruka setelah menatap teman-teman Shishio.

"Ehh beneran gapapa Haruka?!" tanya Takane, raut wajahnya bersalah.

"Iya!" Haruka hanya tersenyum.

"Maaf ya!" Shishio juga ikut menunjukkan wajah bersalah.

Haruka mengangguk maklum sebelum menuju antrian makan siang. Tetapi entah kenapa dia merasa resah. Dia tidak memperhatikan apa makanan yang ia beli, dan lebih banyak menoleh kepada Takane. Rupanya makan siang Takane sudah diantarkan. Dia terlihat tersenyum dan tertawa-tawa dengan grup Shishio itu.

Dia tidak mengerti. Dia kebanyakan mengangguk saja ketika ibu kantin menyendokkan makanan ke nampannya. Entah kenapa tangannya gatal dan dia ingin sekali menyelesaikan kegiatan membeli makanan itu.

Setelah membeli dan keluar dari antrian, dia belum merasa lega. Kakinya membawanya menuju grup makan Shishio lagi. Mereka tidak menyadarinya karena asyik makan dan mengobrol. Bahkan Takane juga tidak.

Haruka mendekat kepada tempat Shishio duduk, yang berhadapan dengan Takane. Takane mulai menyadarinya. Akan tetapi, tanpa mengatakan apa-apa, Haruka main menumpahkan seluruh isi tampannya kepada Shishio. Nasi dan berbagai macam lauk pauk meluncur dari kepala Shishio ke seragamnya. Tak hanya tawa dan obrolan di grup itu, tetapi di meja-meja yang lain juga. Semuanya terkejut, pandangan ke arah Haruka.

"Jangan kau rebut Takane dariku!"

(**********)

Setelah dapat mencerna apa yang telah terjadi, Shishio meloncat dari kursinya dan merenggut kerah seragam Haruka.

"Kau sadar apa yang telah kau lakukan?!"

Walaupun Shishio tinggi, tetapi Haruka lebih tinggi daripadanya. Haruka juga terkejut karena fakta ini, tapi ini menguntungkannya. Dia langsung menyentakkan tangan Shishio dari kerahnya.

"Aku ingin kau menjauh dari Takane!"

"'Rebut'?! 'Menjauh'?! Memangnya kau siapanya dia?" seru Shishio, sedikit tertawa. Dia tidak kembali merenggut kerah Haruka, melainkan hanya menatapnya dengan tatapan tajam.

Haruka tidak mau kalah, "Aku ini temannya!"

"Aku juga temannya!"

Haruka tertegun, sejak kapan Shishio juga menjadi teman Takane?! Haruka tidak mau Takane berteman dengan orang ini! "Aku pacarnya! Dia milikku! Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya!" kata-kata itu main meluncur dari lidahnya begitu saja.

Haruka tidak mengerti. Shishio yang tadinya menatapnya seperti ingin membunuhnya, sekarang terkejut. Takane apalagi. Gadis itu menganga. Kemerahan muncul di pipinya dan cepat merambah ke seluruh wajahnya.

"Ada apa ini ribut-ribut?!"

Ketegangan yang berakhir dengan keterkejutan seluruh murid sekolah akhirnya harus berakhir dengan masuknya ibu kantin dan seorang guru.

(**********)

"Haruka, kau tidak bisa menghajar orang itu, jadinya kau menumpahkan seluruh makananmu! Kau memang jenius!" di kelas, Kenjirou tertawa terpingkal-pingkal.

Di hadapannya adalah dua anak didiknya yang terdiam dan berwajah merah. Takane tidak bisa menghilangkan kemerahan di wajahnya sejak perkataan fenomenal Haruka di kantin tadi. Sementara Haruka, dia akhirnya menyadari apa yang dikatakannya. Wajahnya merah dan napasnya kembang-kempis, antara merasa malu dan bersalah.

"Hmm sepertinya ada yang harus dibicarakan kalian berdua. Kalau begitu aku akan meninggalkan kalian berdua dan kalian menyelesaikan masalah ini," tanpa menunggu respon muridnya, Kenjirou meninggalkan kelas.

Setelah bunyi pintu yang digeser menutup, tidak ada bunyi lain di dalam ruangan kelas. Haruka dan Takane masih diam dan merona.

Haruka memutuskan berbicara terlebih dahulu. Dia tidak dapat membayangkan Takane membencinya karena apa yang dikatakannya tadi. Takane akan memilih melakukan kegiatannya dengan bajingan macam Shishio. Dia tidak akan mampu menjalani kehidupan sekolahnya dengan tindakan Takane itu. Napasnya semakin tidak beraturan. Dia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.

"Takane aku minta maaf!"

"Haruka aku minta maaf!"

Keduanya terkejut, mereka mengatakan tadi secara bersamaan.

Takane, lagi-lagi, apa sih yang harus dia maafkan ketika jelas-jelas bukan dia yang salah. Haruka bingung. Karena kondisinya yang berdebar-debar, Haruka tidak tahu apa yang harus dijelaskan. Maka Takane berkata terlebih dahulu,

"Aku yang salah Haruka! Aku malah berteman dengan Shishio! Dia itu penggemar Ene, mana peduli dia dengan diriku yang asli! Hanya kau yang peduli, Haruka! Dia terus menggangguku, mengajakku bicara, berjalan dan makan! Dia tidak pernah berhenti Haruka! Aku sangat kesal dan terganggu. Kukira kau mengerti itu, tetapi kau malah membiarkanku! Ternyata aku salah.. kau tetap peduli. Aku saja yang terlalu egois! Maafkan aku.." Takane mengakhiri perkataannya dengan sesenggukan. Air mata berlinang dan jatuh dari pipinya.

Melihat gadis yang sangat penting dalam kehidupannya itu menangis, kekuatan besar muncul dari diri Haruka. Dia menghirup napas dalam-dalam sebelum beranjak dari kursinya, mendekati Takane. Dia meraih Takane dan merangkulnya.

"Kalau begitu aku yang salah. Aku bodoh dan telat menyadari. Ketika aku akhirnya menyadari, aku malah mengatakan sesuatu yang membuatmu malu ke seantero sekolah. Aku sangat egois. Aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Sehingga seharusnya aku tidak mengatakan itu. Kalau kau mau lanjut berteman dengan Shishio, silahkan. Tetapi rupanya kau juga kesal dengannya, kalau begitu tidak usah ya. Aku akan melindungimu dari orang-orang macam itu!"

Takane mengusap air matanya dengan kemeja seragamnya bersamaan dengan melepasnya rangkulan Haruka. "Kayak kau bisa saja!" katanya, tertawa. "Kau tahu, aku memang sangat malu ketika kau mengatakannya. Tetapi, kemudian aku merasa lega!"

Haruka mengedipkan matanya, bingung. Dia sudah kembali ke dirinya yang biasa.

"Ehh, bukan apa-apa! Dengan begitu kan orang macam mereka tidak bisa mendekatiku lagi! Cukup orang menyebalkan itu kau saja, Haruka!"

Haruka tersenyum kemudian ikut tertawa.

"Kalau begitu aku akan menjadi pacarmu selamanya!"

[**************]

[[panjang panjang panjang panjang.

Ini fic Harutaka pertama saya. Banyak OOC ya? haduh orz

Makasih yang udah baca.

Chapter selanjutnya: HibiMomo ! ]]