[[Kagepro Hogwarts!AU: HibiMomo]]
[A/N: yep ini Hogwarts!AU. Siapa di asrama siapa, berdasarkan Omiya-san pixiv (illust: 34462507); Saya tidak akan memasukkan semua karakter di fic ini. Jadi kalau penasaran, silahkan dicheck pixiv-nya.]
Holding back.
"Aku berangkat!"
"E-ehh? Sepagi ini?!"
"Iya! Kalau aku mau menang dari anak itu, aku harus berlatih lebih rajin!"
"Tapi dia kan hanya anak-anak—ehh kau sudah sarapan?!"
"Aku sudah bawa roti!"
"Tapi itu roti punyaku!"
Momo tersenyum setelah ia berbalik badan untuk menunjukkan roti yang ia gigit dan tahan di mulutnya. Roti itu adalah seiris roti bakar yang sudah diberi mentega dan gula yang dibuat oleh Seto. Walaupun dia mengambil tanpa minta izin sebelumnya, dia tahu Seto tidak akan marah. Dia pasti sudah mengerti karena dia adalah orang terdekatnya di asrama itu, di Gryffindor. Lagipula, hanya Seto satu-satunya seasrama dengan dia di grup yang ia ikuti yang bernama Mekakushi-Dan.
"Ya sudah sana latihan, tapi jangan sampai telat masuk kelas ya!"
"Baiklah, Kousuke!"
Setelah mengatakan itu, Momo melangkahkan kakinya keluar ke tangga berjalan. Sapu terbang di tangan kanannya, dia pegang dengan erat. Hari itu masih pagi, sekitar pukul enam, tangga dan lorong-lorong masih sepi. Andaikan saja dia bisa menggunakan sapu terbangnya saat itu juga jadi dia bisa cepat sampai di lapangan quidditch, tapi itu akan melanggar peraturan. Seto dan kakaknya adalah prefek, dia tidak mau menyebabkan masalah (lagi) bagi mereka.
Dia berjalan dengan langkah ringan. Roti ia genggam ujungnya untuk dia makan dengan benar. Tak lama dia sudah berada di luar kastil. Udara segar memasuki paru-parunya. Sepatunya menginjak rumput yang basah karena embun pagi. Momo tersenyum lebar. Mengapa dia begitu senang. Alasan paling kuat adalah dia yakin bahwa anak itu belum berada di lapangan. Sekali-kali dia ingin datang lebih awal.
Setelah melewati jembatan panjang, dia memutuskan untuk terbang saja. Di tempat yang sudah agak jauh dari kastil pasti tidak ada siswa maupun prefek yang mengawasi sepagi ini. Dia terbang dengan sapunya hingga sampai di stadion.
Momo menatap hamparan luas di depannya. Stadion quidditch pagi-pagi masih sedikit berkabut. Akan tetapi itu bukan masalah baginya. Tidak ada Hibiya di situ, dia sendirian. Dia pun mulai berlatih. Pertandingan quidditch beberapa minggu lagi, dia harus bersungguh-sungguh!
(**********)
Mary berkali-kali menatap bangku di sebelahnya. Kelas Transfigurasi sudah berlangsung sepuluh menit, dan temannya, Momo tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Barulah beberapa menit kemudian temannya itu masuk. Momo memegang sapu terbang dan terlihat berkeringat. Untungnya profesor baik dan mengizinkannya masuk.
"Apa yang terjadi?" tanya Mary di sela-sela latihan mempraktikan mantra.
"Si bocah tidak kunjung datang, dan kakakku melihatku terlambat datang dan dia menceramahiku!" jawab Momo. Genggaman tongkatnya semakin erat.
Mary berusaha menenangkan Momo, menepuk-nepuk pundaknya. Kalau lagi marah biasanya Momo akan mengacaukan mantra, akhirnya malah menambah lebih banyak masalah.
Untunglah, selain keterlambatan Momo, tidak ada masalah yang begitu besar sehingga kelas gabungan Gryffindor-Hufflepuff itu berjalan lancar.
(***********)
"Momo, sudah kubilang kan tadi supaya tidak telat!"
Momo melihat Seto, setengah terkejut. "Kakakku kenapa sih comel sekali kalau sama kamu!"
Seto menghela napas, "Kalau kau telat terus aku bisa melarangmu untuk tidak latihan pagi-pagi lagi lho!"
Mendengarnya, Momo membuka mulutnya lebar, "Tidak bisa! Ini bukan salahku!"
"Salah siapa kalau begitu?"
Momo mengedarkan pandangannya ke meja makan Slytherin, "Bocah itu!" dia beranjak dari kursinya, tetapi sesuatu cepat menahannya.
Tangan Seto memaksanya kembali duduk.
"Kalau ingin membuat masalah lagi sebaiknya nanti saja habis makan!"
Momo membuka mulutnya, ingin membalas, tetapi kemudian ia tahan. Dia membuang mukanya dari Seto, menatap lurus makanan di atas meja. Dia kesal sekali, tetapi dia berusaha untuk menahannya. Alhasil, mukanya merah.
"Seto kenapa jahat sekali dengan Momo?" suara Mary terdengar nyaring. Gadis hufflepuff itu duduk di sebelah Momo. Karena kedekatan mereka, mereka selalu bersama kecuali di dalam asrama masing-masing.
"Aku tidak jahat! Aku menasihatinya demi kebaikannya! Lihat Mary, sekarang mukanya semerah tomat!"
Mendengar disebut tomat, Momo cepat mencubit lengan Seto kencang-kencang. Sementara Mary tertawa semakin keras.
(***********)
Momo cepat menyelesaikan makan siangnya. Kemudian dia tidak langsung meninggalkan aula utama, tetapi berdiri di dekat pintu. Dia memposisikan dirinya untuk jelas menatap setiap orang yang keluar dari ruangan tersebut. Dirinya mencari seseorang tentunya.
Orang itu tepatnya seorang siswa slytherin tahun pertama, Hibiya Amamiya. Selain mereka sama-sama di satu grup bernama Mekakushi-Dan, Hibiya adalah saingannya di pertandingan quidditch. Mereka sama-sama seeker. Walaupun Momo lebih tua dan pengalaman, permainan Hibiya sangat bagus dan itu mengesalkannya.
Momo cepat menemukan tubuh pendek itu.
"Ke sini sebentar!"
Hibiya menatapnya dengan monoton walau tubuhnya ditarik. "Apa?!"
Melihat reaksi itu Momo makin kesal bukan main, "Kenapa kau tidak latihan tadi?!"
"Aku latihan kok!"
"Bohong! Aku tadi tidak melihatmu!"
Dengan Momo yang sewot, Hibiya akhirnya marah juga. Dia menarik lengannya dari genggaman Momo. "Mungkin karena tempat latihannya beda!"
"Eh?" Momo tercekat. "Kau memang latihan di mana? Kita biasanya latihan di stadion kan?!"
"Tadi pagi aku latihan di tempat latihan! Dan tidak ada kita!" Hibiya menekankan kata terakhirnya sebelum berjalan meninggalkan Momo.
Momo begitu terkejut, mulutnya menganga lebar. Kenapa? Momo tidak menyerah, dia berlari menyusul Hibiya.
"Kenapa berbeda? Kenapa kau jadi latihan di situ?!"
"Karena akhir-akhir ini tempat itu dingin kalau pagi-pagi. Kau memang tidak merasakannya?" Hibiya mendecakkan mulutnya kesal, tetap berjalan.
Momo termangu, tetapi kakinya tetap berjalan di sebelah Hibiya.
"Tentu saja orang bodoh sepertimu tidak dapat merasakannya!" ujar Hibiya dengan nada yang menunjukkan bahwa kata-katanya tadi adalah hal paling normal.
"Jadi kau tidak ingin latihan di tempat itu lagi?"
"Tidak! Tidak sampai keadaanku membaik.."
"Apa?" Momo bertanya. Kata-kata Hibiya yang terakhir hampir tidak terdengar. Tanpa ia sadari dia ternyata sudah berada di lorong menuju asrama Slytherin. Siswa dari asrama lain sudah hampir tidak terlihat. Momo, yang gryffindor, dan tentunya akan semakin gawat kalau dia masuk lebih dalam. Akan tetapi dia tidak peduli, dan terus berjalan di samping Hibiya.
"Dibilang tidak! Apa urusanmu sih?! Bukannya enak kau bisa latihan tidak diganggu?!" Hibiya menjawab dengan kesal. "Sudah kau jangan mengikutiku lagi!"
Momo melihat Hibiya meninggalkannya. Untuk sepintas dia merasa mendengar bocah itu batuk. Akan tetapi dia tidak yakin. Dan Hibiya sudah berjalan jauh.
Momo menatap sekeliling. Ahh, dia benar-benar satu-satunya yang bukan siswa Slytherin di situ!
"Momoooo!"
Momo melompat, terkejut. Dia menatap ke belakang di mana seseorang baru saja memegang pundaknya.
"Wahh! Kau ternyata mudah terkejut seperti Master!"
"Ene!"
(**********)
Sore itu, tim quidditch Gryffindor akan melakukan latihan harian seperti biasa. Momo menggenggam sapu terbang kesayangannya, akan tetapi dia tidak segera bergabung dengan timnya yang sedang berjalan menuju lapangan stadion.
"Kenapa kau sembunyi-sembunyi gitu?"
Momo terkejut, "Kenapa kau tahu aku di sini?!" dia keluar dari tempat persembunyiannya di antara permadani di dinding dan baju besi.
"Mana bisa orang tidak melihat idola sekaligus pengacau nomor satu gryffindor!"
Momo cemberut.
"Kau tidak ingin latihan? Kau sakit?"
Momo cepat menggeleng. Seto menyebalkan tapi ia sangat baik! Dia cepat-cepat memasuki rombongan. Rekan-rekan timnya tertawa melihatnya.
(************)
Lapangan stadion, untuk hari itu, kebetulan dipinjam oleh Gryffindor dan Slytherin. Karena semakin mendekatnya pertandingan, masing-masing asrama tidak bisa bersabar untuk berlatih.
Momo tersenyum gembira melihat Hibiya di antara mereka.
Latihan yang sebenarnya tidak disenangi kedua pihak, bagi Momo sangat menyenangkan!
Entah kenapa kedua pihak tiba-tiba setuju untuk membuat pertandingan kecil. Snitch pun hanya dipakai satu buah. Momo sangat menjadikan kesempatan ini untuk bersaing langsung dengan Hibiya.
"Beater di sana! Jangan kau pukul itu terlalu keras!"
"Kenapa tidak boleh?! Ini kan tetap pertandingan!"
Momo tersenyum, menatap dua orang beater Slytherin yang sangat bersemangat. Mereka adalah teman-temannya di grup, Kano dan Ene.
"Ups! Kousuke jangan meleng!"
Momo cepat melemparkan pandangannya kepada Seto. Kapten timnya itu hampir saja terkena pukulan Ene di bahu. Tidak perlu khawatir, dia sebagai kapten dan kiper sangat cekatan. Momo mengangguk kepada dirinya sendiri. Dia juga, sebagai seeker harus bersungguh-sungguh. Dia harus memenangi pertandingan ini walaupun cuma pertandingan latihan.
Akhirnya, matanya menangkap sinar pantulan dari snitch. Dia cepat mengarahkan sapunya menuju bola kecil dan imut itu. Sayangnya, Hibiya sebagai snitcher tim lawan sudah mengincarnya duluan, bocah itu berada di depannya.
Momo memfokuskan pandangannya kepada snitch. Dia menundukkan badannya, merapat kepada sapu, membuat angin yang melalui dirinya semakin banyak. Tujuannya agar sapunya melaju semakin kencang. Melewati Hibiya, menangkap snitch terlebih dahulu!
Rencananya berhasil! Sapunya melewati Hibiya, dengan cekatan dia mengambil snitch. Kini snitch itu berada di tangannya. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua anggota tim termasuk tim lawan dapat melihat. Gryffindor menang!
Pertandingan disudahi dengan sorak sorai di pihak gryffindor.
"Ini bukan apa-apa! Ayo Momo, kita berlatih lagi!" Ene menarik Momo di lengan. Gadis itu tersenyum, seperti menganggap mereka tidak kalah.
"Iya, kali ini aku dan Ene akan benar-benar menghantam Seto!" seru Kano. Di kejauhan Momo dapat melihat wajah Seto memucat.
"Aku akan memukul kalian kembali dengan bat kalian!" Momo berkata sambil tertawa.
Dia baru saja ingin menerbangkan kembali sapunya untuk melanjutkan latihan, tetapi sesuatu di pandangannya menghentikannya. Untung dia melihatnya! Di ujung matanya dia melihat Hibiya meninggalkan lapangan. Bocah itu sudah berbelok masuk ke dalam kastil sehingga Momo tidak bisa menyusulnya.
"Dia kenapa pergi?"
"Tidak tahu! Tidak enak badan kali?" Ene menjawab, kebetulan berada di sebelah Momo dan juga melihat kepergian Hibiya.
Momo menimang-nimang. Apakah dia harus menyusul Hibiya dengan berhenti latihan, atau meneruskan saja. Kemudian dia ingat perkataan Hibiya tadi siang, apa urusanmu sih?! Hal itu membuatnya termangu. Ya, apa yang harus dia katakan ketika menyusul Hibiya? Pada akhirnya Hibiya akan menyindir dan membentaknya. Hibiya tidak mau latihan, bukan berarti dia juga ikut tidak latihan. Itu kan bukan urusannya..
"Momo?"
"Ahh iya, ayo!" Momo menghentakkan kakinya dan melesat ke udara.
(*********)
"Momo, kau masih suka latihan pagi-pagi?"
Di malam hari ketika belajar bersama di perpustakaan, Kido, ketua Mekakushi-Dan yang merupakan siswa Ravenclaw bertanya kepadanya.
"Iya, tentu saja!"
"Kau tidak capek?"
"Tidak!" Momo tersenyum lebar, jauh berbeda dengan wajah khawatir Kido di sebelahnya.
"Kalau begitu kau harus jaga dirimu!"
"Ehh kenapa?"
"Aku sarankan kau jangan berlatih pagi-pagi lagi. Kan sudah ada latihan sore! Kau mungkin tidak capek sekarang. Tapi bagaimana dengan besok? Cuaca akhir-akhir ini tidak baik. Kau bisa sakit!"
Momo menaikkan alis matanya, terkejut dengan perkataan Kido. Dia jarang berkata panjang lebar seperti itu, dia terlihat khawatir sekali. Momo pun tersenyum, "Tidak apa-apa Kido! Kalau sakit kan aku tinggal minum obat! Dengan sihir aku bisa sembuh seketika!"
Selesai mengatakan hal tersebut, sesuatu mengenai keningnya. Dia meringis karena agak sakit. Dari arah lemparan dia tahu siapa yang melakukannya, "Kakak!"
"Kau ini seharusnya berterimakasih karena Kido sudah mau khawatir denganmu!" Shintaro berkata di seberang meja dengan kacamata tertanggal di atas hidungnya.
Momo ingin mendumel, tapi perkataan kakaknya ada benarnya. Dia seharusnya merespon perkataan Kido dengan lebih serius.
"Maaf kalau aku berlebihan. Aku hanya khawatir, itu saja. Hibiya akhir-akhir ini mengeluh kepadaku bahwa dia tidak enak badan. Aku tidak ingin itu terjadi padamu juga,"
"Tunggu, kau bilang, Hibiya?"
"Iya, tapi semoga saja dia tidak sakit beneran. Aku sudah bilang kepada Kano, Ene dan kapten mereka untuk melihat keadaannya,"
"Tapi, dia baik-baik saja—"
"Kau mengaku temannya tapi tidak menyadari hal sepenting ini?" Shintaro memotong perkataan Momo.
"Aku- tidak tahu. Aku harus menengoknya!" Momo melompat dari kursi, kemudian melesat pergi, meninggalkan Seto dan yang lainnya termangu.
Seto biasanya yang dapat menghalau Momo, terkejut. Dia sama sekali tidak memikirkan Momo bertindak sedemikian cepat.
"Aku akan menyusulnya!"
Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, dia beranjak lalu berlari.
(***********)
Momo sudah berada di dalam lorong menuju ruang bawah tanah asrama Slytherin. Dia merasakan napasnya yang mengepul. Hawa dingin meresap ke dalam tubuhnya. Lorong itu temaram dengan obor yang menyala di setiap beberapa meter. Dia menjumpai beberapa murid Slytherin yang memberikannya tatapan aneh. Dia cuek saja dan terus jalan.
Dia akhirnya sampai di depan lukisan pintu Slytherin. Dia menyebut kata kunci yang dia dapat dari Ene. Akan tetapi, lukisan itu tetap bergeming. Dia berdiri di depan pintu, tidak mengerti. Hal itu berakibat beberapa murid Slytherin mendesis kepadanya untuk minggir. Mereka kemudian dengan mudah masuk. Momo mengikuti mereka, tetapi pintu cepat mengayun menutup jalannya. Dia tidak mengerti.
"Tidak ada yang boleh masuk asrama Slytherin begitu malam. Apalagi kau gryffindor,"
Momo menoleh ke arah suara yang pelan tapi tegas. Seseorang yang tampak lebih tua darinya berdiri dengan hawa otoriter. Sepertinya seorang prefek. Momo menelan ludahnya,
"Tetapi aku mempunyai teman di sini. Dan aku ingin menjenguk teman tersebut,"
"Lakukan itu besok. Lalu siapapun temanmu itu, pasti berada di rumah sakit sekarang, bukan di sini,"
"Tapi aku ingin menjenguknya sekarang!" Momo berseru, meninggalkan sikap sopannya.
"Tidak bisa. Kau harus meninggalkan tempat ini sekarang atau gryffindor akan kehilangan poin,"
"Sebentar saja!"
"Sekarang sudah lewat jam malam. Kalau kau tidak pergi juga, aku akan mendendamu karena melanggar tiga peraturan,"
"Ti-tiga?! Aku tidak melakukan apa-apa!" Momo tidak mau kalah. Tanpa ia sadari kerumunan sudah muncul di sekelilingnya dan prefek itu. Siswa-siswa yang ingin masuk, juga siswa-siswa yang berada di balik pintu.
"Kalau menjawab lagi kau akan kehilangan 100 poin,"
"Seratus?! Prefek macam ap—"
"Kisaragi Momo akan meninggalkan tempat ini sekarang juga!"
Momo terkejut, lengannya tiba-tiba ditarik oleh—Seto!
"Maaf karena sudah membuat kekacauan malam-malam," dia melihat Seto membungkukkan badan sebelum menariknya meninggalkan tempat tersebut.
Momo berjalan dengan langkah berat, Seto masih menarik lengannya. Mereka sedikit kesulitan untuk keluar dari kerumunan. Pada akhirnya mereka sampai di lantai dasar tangga.
"Fuuh, hampir saja!" Seto berhenti berjalan. Dia menghela napas, tangannya melepaskan lengan Momo.
"Maafkan aku, Seto!" Momo berseru. Dia membungkukkan badannya. Dia akhirnya menyadari kesalahannya. Lagi-lagi Seto yang membereskan kekacauan yang dibuatnya. Kapan dia tidak merepotkan laki-laki itu?
"Tidak apa-apa! Yang penting gryffindor tidak kehilangan 100 poin!" Seto tersenyum seperti biasa. Hal itu malah membuat Momo semakin bersalah.
"Aku sangat mengapresiasi bahwa kau selalu menjaga adikku, Seto. Tetapi bukan berarti dia ditoleransi saat berbuat salah,"
Momo menengokkan kepala kemudian terkejut dengan kakaknya dan Kido berjalan menghampiri mereka.
"Kalian di sini? Mary gimana?"
"Sudah dijemput Konoha," Kido menjawab dengan sabar. Shintaro di lain pihak menutup keningnya karena Seto tidak mendengarkan kata-katanya.
"Maafkan aku teman-teman. Karena telah membuat kalian khawatir," Momo berujar seraya mengusap sesuatu di dekat matanya. Dia berusaha untuk tidak menangis.
Dia mendapatkan tepukan di kepala. Tanpa harus mendongak dia tahu itu dari kakaknya.
"Aku tahu kau sangat ingin melihat Hibiya. Tapi lakukannya besok saja. Hibiya pasti sudah tidur. Dan aku yakin dia tidak jatuh sakit. Maafkan aku telah mengatakan hal yang mengkhawatirkanmu, Momo," Kido mengatakannya seraya menepukkan tangannya di punggung Momo.
"Ini bukan salahmu, Kido! Aku yang kurang peka!"
"Kau ini sayang sekali ya pada Hibiya,"
Mendengarnya, Momo tidak menggeleng ataupun mengangguk. Dia hanya menyeka lebih banyak sesuatu di pinggiran matanya.
"Sudah sudah. Khawatirnya besok saja. Kita kembali ke asrama masing-masing. Sudah lewat jam malam," ujar Shintaro. Dia terpaksa harus mengakhiri perbincangan yang emosional ini.
Mereka mengangguk setuju kemudian mengambil jalan sesuai asrama masing-masing. Selain Momo, yang lain adalah prefek. Siapa tahu di antara mereka tidak langsung ke asrama melainkan berpatroli terlebih dahulu.
Di antara obor-obor yang menerangi lorong. Di antara suara langkah kakinya dan Seto yang menggema. Pikiran Momo berkecamuk. Dia tidak tahu apa tepatnya yang sedang dipikirkannya sekarang. Dia sungguh lelah. Dia benar-benar harus tidur. Dia harus menyiapkan energinya, untuk memperbaiki apa yang telah terjadi malam ini.
(************)
Keesokan harinya, Momo meninggalkan asrama pagi-pagi sama seperti kemarin. Akan tetapi dia tidak membawa sapunya. Dia beralasan ingin menemui Hibiya di tempat latihan. Sesampainya di sana, di lapangan latihan (bukan stadion), dia tidak bertemu dengan Hibiya. Apakah bocah itu juga dinasihati Kido untuk tidak latihan pagi-pagi? Momo menganggap itu alasan paling tepat. Dia pun kembali ke asrama.
Seharian itu dia lalui dengan harap-harap cemas. Sampai kelas sehari itu selesai, dia tak kunjung bertemu dengan Hibiya. Di satu pihak dia senang karena belum membuat masalah, di pihak lain dia begitu cemas terhadap bocah itu. Jangan-jangan dia mengambil hari libur? Satu-satunya cara untuk mengeceknya adalah menuju wing rumah sakit.
Di sana dia tidak menemui Hibiya, tetapi Ene.
"Ahh, Momo si adik kecil*!"
"Kau sedang apa, Ene?"
"Memilih obat, Hibiya demam!" jawab Ene dengan nada ringan. Dia memilah-milah obat di dalam rak besar.
"Kenapa kau tidak memberitahukan aku sebelumnya, Ene?"
"Tentang apa?" Ene tetap membaca dengan saksama label pada setiap obat di tangannya walaupun Momo berbicara dengan nada serius.
"Kalau Hibiya tidak enak badan pas latihan kemarin"
"Ohh? Aku kira itu tidak perlu. Dia baru sakit tadi malam. Dia mengeluh tentang keributan yang terjadi sekitar tepat jam malam,"
Momo terpaku mendengarnya. Ahh itu kan dirinya!
"Kalau begitu biar aku membantu!"
"Boleh! Tapi bantuin apa ya?" Ene akhirnya menatapnya. Dia memiringkan kepalanya, bingung.
Momo tidak menjawab, juga bingung.
"Kau bisa menjenguknya. Aku bisa membuatmu melakukannya,"
Momo sedikit melompat. Kido tiba-tiba muncul di sebelah Ene. Momo mengerti, itu termasuk salah satu keahlian Kido.
"Kau yakin, ketua?"
"Kau mau tidak?"
"Iya! Tentu saja, aku mau! Terimakasih, Kido!" Momo tersenyum lebar.
(**********)
Momo melangkahkan kakinya dengan perlahan. Dengan keahlian Kido, dia dapat memasuki asrama Slytherin. Dia sangat bahagia. Kido bercerita bahwa dia pernah melakukannya untuk memasuki asrama-asrama yang lain, juga mengikutsertakan seseorang seperti Momo. Ini pertama kali Momo bersamanya. Dia dapat melihat murid Slytherin tanpa mereka harus menatapnya kembali. Dia dapat melihat apapun yang mereka lakukan. Dia dapat melakukan apapun seperti membuat wajah jelek dan mencemooh mereka, tetapi mereka tidak merespon.
"Hentikan itu,"
Setelah Kido membisikinya seperti itu, dia pun berhenti.
Mereka memasuki kamar bagian laki-laki di mana Hibiya berada.
Untunglah di sana hanya ada Hibiya, Kido dapat melepaskan kekuatannya kapan saja. Akan tetapi, Kido tidak langsung melakukannya. Ene pun terlihat sendirian ketika menghampiri Hibiya.
"Keadaanku sudah membaik. Tidak perlu obat," tanya Hibiya sebelum Ene membuka mulut. Bocah itu berada di atas tempat tidur bukannya berbaring malah belajar. Buku-buku tersebar di dekatnya.
"Tetap minum obat! Biar sembuh pasti!"
"Tidak perlu! Setelah tidur lagi malam ini, keadaanku pasti 100% sehat!"
"Ayolah hanya satu sendok sirup!" Ene berkata dengan sabar.
"Tidak perlu!"
"Kau ini bahkan tidak berterimakasih!" Momo tidak tahan dengan keadaan tersebut, dia akhirnya berseru. Kido langsung menghilangkan keahliannya agar Hibiya tidak terlalu terkejut.
Mendengar teriakan itu juga melihat Momo yang muncul secara tiba-tiba, bagaimana Hibiya tidak terkejut. Setelah dia melihat Kido, dia mulai tenang.
"Ene sudah mau mengurusmu! Kido sudah mau memilihkan obat untukmu! Mereka khawatir, aku juga khawatir! Tapi lihatlah dirimu! Egois dan tidak menghiraukan semua itu!" Momo berseru dengan menggebu-gebu, kemarahan mengalir keluar dari dirinya.
Hibiya membelalakkan matanya untuk sesaat sebelum dia membuang pandangannya ke samping. "Aku tidak meminta kalian untuk khawatir! Kalian yang melakukannya! Kalian terlalu melebih-lebihkan! Aku kan.. bukan siapa-siapa. Aku tidak pantas untuk diberi perhatian seperti ini!"
"Bodoh!" Momo berseru, air mata membasahi pipinya. "Tentu saja kau pantas! Lalu saat kau mengatakan kemarin apakah ini urusanku atau tidak, tentu saja ini urusanku! Walaupun aku menganggapmu rival di quidditch, tapi kita tetaplah teman! Jangan pernah beranggapan kau bukan siapa-siapa! Jangan pernah beranggapan tidak ada apa-apa di antara kita! Aku ingin selalu peduli denganmu, Hibiya!"
Momo menyeka air matanya lagi. Kemudian dia tekejut melihat Hibiya ikut menangis.
"Maafkan aku! Aku hanya merasa tidak pantas... Aku sungguh senang karena kau selalu peduli denganku.. uwaah—" Hibiya terus menangis dan perkataannya tidak tentu.
Tidak perlu menunggu lagi untuk Momo merangkak ke atas kasurnya dan memeluknya dengan erat.
(**********)
Epilogue.
"Ayo cepat minum obatnya ya, Hibiya! Biar benar-benar sembuh seperti yang dikatakan Ene!" Momo berkata sambil menuangkan sirup obat ke permukaan sendok.
Hibiya terlihat ragu, tetapi dia lalu mengangguk. Dia menutup matanya dan mengerutkan wajahnya ketika Momo menyendokkan cairan itu ke dalam mulutnya. Dia menelan obat itu dengan perlahan. Sesudah itu dia buru-buru menelan air.
"Eww jelak sekali. Apakah alasan kau tidak mau meminum obat karena kau tidak suka minum obat?"
"Tidak, nenek gendut! Kalau aku benci obat kan aku bisa meminta kalian menyihirku agar bisa sembuh!"
"Siapa kau bilang, nenek gendut?! Dasar bocah keras kepala!"
(********)
[[panjang banget. Keasyikan bikinnya ;; v ;; Saya berusaha menyesuaikan dengan profil karakter yang diberikan di pixiv. Tapi sayangnya bahasa jepang saya gak terlalu bagus. Jadi yang paling sesuai adalah karakter dengan asramanya, juga posisi mereka di quidditch. Jujur saya seneng pas tau si Seto posisinya Keeper. Jadi saya bikin dia jadi kapten juga. Mirip Oliver Wood kan? /heh
Kalian suka gak dengan fic ini? Maaf lama. Jujur saya gak PD, takut kalian gak suka dan saya ditendang keluar dari fandom ;; Jadi gimana? Kalau kalian suka saya bakal bikin lagi Hogwarts!AU. Kalau kalian gak suka berarti sayadikeluarkandarifandom atau saya akan me-reupload chapter ini dan bikin HibiMomo yang lebih normal.
Terimakasih udah baca! Ditunggu pendapatnya di review!]]
