World Lampshade
[[ AU! Shinaya ]]
Ketika seseorang yang biasa tersenyum, terutama memberikan senyumannya kepadamu, kehilangan senyumannya...
(***********)
"Shintaro, kau tidak mendapat kelas musim panas ya?"
Aku melengos ke samping dan menggelengkan kepalaku sedikit. Jawabannya sudah jelas sekali.
"Tentu saja! Shintaro kan pintar sekali!"
Suara gadis itu nyaring dan ceria seperti biasa.
"Kalau begitu musim panas Shintaro bebas sekali ya! Aku iri!"
Dia terus berkata walaupun responku minim dan hampir tidak ada.
"Tetapi, Shintaro harus memanfaatkan musim panasnya! Jangan menghabiskan waktu di depan komputer saja!"
Menyebalkan. Itu satu kata yang kuberikan untuk gadis itu, Ayano Tateyama.
"Shintaro!" gadis itu melangkah hingga berdiri tepat di depan mejaku. Aku tahu sekali apa yang akan dilakukannya. Untuk menghargainya sedikit (seperti yang selalu kulakukan karena dia temanku satu-satunya), aku mendongak untuk menatapnya. Ayano mengeluarkan senyuman simetrisnya, matanya yang sipit semakin sipit, "Ayo kita pulang bareng!"
Hal itu lumrah sekali.
Ketika kelumrahan itu berhenti...
Aku sudah mendengar berita itu, membaca tepatnya, di laman situs sekolah. Dua murid dari kelas khusus, meninggal di hari yang sama. Sayangnya, aku mengenal dua orang itu. Mereka adalah kakak kelasku. Kalau mereka adalah kesatuan yang sama, mereka adalah satu-satunya kakak kelasku. Mereka juga temanku, selain Ayano. Kami menghabiskan waktu di awal tahun bersama.
Dalam momen itu, diriku yang egois tiba-tiba hilang. Aku harus pergi, aku harus keluar dari rumah yang membuatku merasa melakukan kegiatan musim panas bertukas-tukas.
Aku mendapatkan pesan dari Ayano tentang tempat untuk melayat mereka. Aku pun cepat melangkah menuju tempat tersebut.
Suasana tempat melayat tidak ramai dalam artian jumlah pelayat yang datang. Hal ini wajar. Haruka Kokonose dan Takane Enomoto, mereka tidak banyak mengenal orang-orang di sekolah selain guru yang mengajar mereka. Kulihat setiap orang yang datang, setelah itu aku menyimpulkan bahwa hanya aku dan Ayano lah teman mereka.
Ayano sendiri berdiri di depan foto Takane, kepalanya tertunduk, tubuhnya bergeming. Aku tidak sampai hati untuk mendekatinya. Dia pasti sangat sedih. Selama ini aku melihat dia dan Takane adalah teman dekat. Mereka sama-sama perempuan, ikatan batin di antara mereka pasti sangat erat dan aku tidak bisa mendeskripsikannya. Takane Enomoto yang selalu mengejek dan menyebalkan, tetapi teman yang sangat menyenangkan, kenapa pergi secepat ini?
Aku berdiri agak jauh, tetapi tidak terlalu jauh, yang aku dapat melihat foto mereka dengan jelas. Keduanya, Haruka dan Takane mengidap penyakit kronis. Aku tahu, umur mereka tidak lama. Akan tetapi, mereka selalu tersenyum dan bersikap seperti orang normal. Aku memang pintar dan dapat menghipotesiskan sesuatu yang akan terjadi dengan tepat dengan sedetik observasi. Akan tetapi aku tidak pernah menyangka, Haruka dan Takane meninggalkan dunia ini begitu cepat.
Aku terkejut. Setitik air menetes ke pipiku, terus meluncur hingga ke dagu. Air itu rupanya dari mataku.
Untuk pertama kalinya aku menangis setelah kematian ayahku.
Apakah ini awal dari semuanya? Untuk pertama kalinya pula, aku ragu dengan hipotesisku.
Aku akhirnya menemui Ayano. Setelah beberapa lama kami merenung dan memanjatkan doa di posisi kami masing-masing, aku menemui Ayano saat ia hendak meninggalkan tempat tersebut.
Ayano terlihat bersama-sama dengan tiga orang. Mereka terlihat lebih muda darinya, yang secara otomatis lebih muda dariku. Aku tidak bisa melihat wajah mereka karena mereka membelakangiku. Mereka mendekat ke seorang pria, yang aku langsung tahu bahwa itu adalah guru dari Haruka dan Takane yang sekaligus ayah dari Ayano, Kenjirou Tateyama. Mereka terlihat bercakap-cakap bersama.
Aku memicingkan mataku yang sipit. Siapa ketiga orang selain Ayano dan ayahnya? Adik-adik dari Ayano? Aku ragu. Ayano tidak pernah bercerita tentang dia mempunyai adik.
Mereka selain Ayano akhirnya meninggalkan tempat tersebut, menyisakan aku dan Ayano.
Ayano menoleh kepadaku. Hal yang membuatku terkejut adalah bukan karena Ayano rupanya telah menyadari keberadaanku di dekatnya, melainkan senyum simetris yang terlihat di wajahnya. Dia tersenyum seperti barusan dia tidak menangis di depan foto teman-temannya. Senyumannya seperti plester yang menempel di wajahnya. Sesuatu yang asing tiba-tiba merubung pikiranku.
"Sampai ketemu di sekolah, Shintaro—"
Sisa bulan Agustus berlalu. Musim panas berakhir. Sekolah kembali dilaksanakan. Semester baru dimulai. Aku tidak bersemangat. Tujuan bersekolah, untuk mendapatkan masa depan yang gemilang, rasanya sudah hilang bagiku. Ini wajar bagi seseorang sepertiku yang mendapati dua orang teman terbaik sudah hilang masa depannya. Mengapa setiap nasib orang harus berbeda-beda? Mengapa satu orang beruntung dan satu orang lagi tidak? Ayah, kemudian Haruka dan Takane. Bagiku, dunia sudah tidak adil sehingga tidak layak untuk ditinggali.
Satu-satunya alasanku kembali ke sekolah adalah untuk bertemu dengan Ayano Tateyama. Aku ingin meminta konfirmasi temuanku di sisa-sisa liburan musim panas, yang bersangkutpaut dengannya.
Sialnya, aku tidak sempat untuk berbicara maupun mendekatinya. Karena aturan kelas, untuk semester baru, posisi bangku di rubah. Ayano duduk di barisan paling depan, sementara aku tetap di belakang. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, gadis itu langsung meninggalkan kelas. Cih, "sampai ketemu di sekolah" apanya. Bukti-bukti sampai saat ini menunjukkan bahwa dia menghindariku.
Aku mengambil tasku dan berjalan keluar kelas. Sudah lumrah bagiku untuk pulang sekolah dengan Ayano, sehingga menjadi hal yang aneh bagiku ketika akhirnya aku harus pulang sendiri.
Ada apa dengan Ayano? Apakah dia masih sedih dengan kematian Haruka dan Takane?
Aku bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apakah aku harus menyenangkan hati Ayano? Haruskah?
Selama ini Ayano terus menggangguku dengan senyuman palsunya. Ahh ya, aku baru menyadari hal itu setelah penemuanku. Dia menyebalkan, dia terus tersenyum padahal dia mempunyai bebannya sendiri. Apa tujuannya melakukan itu? Aku ingin menanyakan hal itu kepadanya.
Melalui internet, aku mempunyai gambaran tentang keluarga Ayano. Ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia mempunyai tiga adik angkat yang masih harus diurus, ditambah ayahnya yang tidak berguna. Aku yakin sekali itu adalah beban yang berat bagi seorang gadis yang masih berumur 16 tahun seperti Ayano.
Selama aku mengenal Ayano, aku baru melakukan hal semacam ini. Aku tidak bisa mendapatkannya langsung darinya. Karena setelah senyuman yang palsu itu, aku menyadari bahwa Ayano tidak pernah bercerita tentang dirinya. Dia selalu memujiku, menasihatiku, dan menghiburku, tetapi tidak pernah menyinggung tentang dirinya sendiri. Sekali lagi, apa tujuannya? Ingin sekali aku menanyakannya.
Aku tidak ingin frontal dan membentaknya, aku hanya ingin menanyakannya baik-baik. Sebagai seorang manusia, dia berhak untuk dimengerti.
Kita berdua memang egois. Untuk bernapaspun kita tidak layak.
Aku menatap layar ponselku. Entah dari mana aku mendapat ide untuk mengiriminya pesan. Kalaupun kita tidak dapat bertatap muka, dengan benda ini aku dapat berkomunikasi dengannya.
Kemudian pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul. Aku ragu. Sambil menimang-nimang ponsel, aku berpikir. Apakah aku harus menelpon atau mengirim pesan saja? Lalu apa yang harus kukatakan/kutulis? Aku tidak pernah melakukan hal macam ini. Dia selalu yang mengirimku pesan dan menelpon duluan.
Pada akhirnya aku tidak melakukannya.
Untuk menyerukan namamu saja aku tidak mampu.
Aku akhirnya bertemu dengan Ayano. Akan tetapi, dia menundukkan kepalanya. Hanya sepersekian detik, dia melengos pergi.
Tidak ada senyuman.
Hari-hari berlanjut. Ayano jarang sekali hadir di sekolah. Dia selalu bolos beberapa hari, kemudian hadir di suatu hari, kemudian bolos lagi. Aku tidak lagi berjalan pulang bersamanya. Tidak ada lagi seseorang yang menggangguku di saat jam istirahat makan siang. Tidak ada lagi yang mengajakku ngobrol walau respon dariku minim.
Aku merasa sangat tersiksa. Ayano tidak seperti Ayano yang kukenal.
Parahnya, aku tidak melakukan apa-apa untuk mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Apa yang terjadi dengan Ayano? Apakah dia sudah terlalu lelah untuk berpura-pura bahagia? Aku hanya dapat menebak segelintir masa lalunya melalui internet. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya dan apa masalah-masalah yang sedang dan telah dihadapinya. Sebagai teman, dia dapat menjadikanku tempat melimpahkan masalahnya. Sebagai reaksinya, aku dapat membantunya keluar dari masalah tersebut. Apakah dia tidak melihatku sebagai teman? Jadi, waktu-waktu yang selama ini kita lalui bersama?
Ini bukan salah Ayano. Aku tetaplah temannya. Dia hanya sedang bingung, dan dari hari ke hari dia semakin terjerumus dalam masalahnya. Dari hari ke hari, dia semakin menyerah dan takluk.
Apakah aku akan membiarkan hal ini terus berlanjut?
Dari internet, aku berhasil menyambangi rumahnya. Aku memutuskan untuk bolos di hari itu. Walaupun di jauh hari aku telah memutuskan untuk terus menguatkan diriku sementara dirinya lemah dengan terus datang ke sekolah, kekuatan dari diriku harus disebar. Aku tidak akan ke sekolah sampai dia mau ke sekolah. Ini saatnya memutar meja, yang biasanya polarisasi terjadinya dari aku menuju Ayano, sekarang aku yang menjadi pusat polarisasi itu.
Aku mengetuk, aku menekan bel, rumah itu terus bergeming. Ayano mempunyai seorang ayah dan tiga adik angkat, mana mungkin rumahnya sesepi ini. Ini masih pukul enam, tidak mungkin mereka semua sudah pergi untuk sekolah. Rumah ini tampak tidak dihuni selama berminggu-minggu. Jantungku berdegup. Kalau hipostesisku benar, ke mana mereka pindah? Aku jadi ingat bahwa Kenjirou sudah jarang sekali mengajar, aku mengetahuinya saat melihat daftar absen guru. Kakiku tiba-tiba lemas. Berarti masalah yang didapat Ayano bertambah dengan masalah keluarganya.
"Kakak!"
Aku hampir terjatuh. Seorang bocah tiba-tiba berada di depan pagar. Aku mengenalnya dari foto, dia salah satu dari tiga adik angkat Ayano itu.
"Kau akhirnya mencari kak Ayano!"
Adik itu tersenyum. Senyumannya mirip sekali dengan Ayano.
Setelah dia mengizinkan aku masuk rumah, dia mulai bercerita tentang apa yang terjadi dengan keluarganya, yang menjadi jawaban akan mengapa rumah tersebut kosong.
Kenjirou setelah beberapa hari kematian Haruka dan Takane, pergi meninggalkan rumah, meninggalkan anak-anaknya tanpa pesan apa-apa. Sejak itu Ayano, beserta bocah yang bercerita ini, mulai bekerja paruh waktu. Ayano, yang matematika saja masih menghitung dengan tangan, pasti sangat berat mengerjakan ini. Bocah ini juga, bukankah dia masih di bawah umur? Dia bercerita sambil terus tersenyum, seperti keluarganya tidak dilanda masalah apa-apa. Walaupun adik angkat, dia tidak berbeda dengan Ayano.
"Di mana aku bisa bertemu dengan Ayano?"
"Aku belum selesai bercerita. Sejak sekolah dimulai, kami pindah ke sebuah apartemen. Kak Aya sepertinya sangat kecewa dengan Kenjirou,"
Aku semakin mengerutkan alis. Bocah ini memanggil ayah angkatnya 'Kenjirou' saja sudah menjadi bukti bahwa dia juga kecewa besar dengannya.
"Kalau begitu antar aku ke apartemen,"
Aku terlambat menyadarinya. Kau sudah membalikkan badanmu dariku, menatap lurus masalahmu.
Sesampainya di apartemen, aku mengira Ayano akan menghindariku seperti yang dia lakukan di sekolah, tetapi kenyataan yang kuhadapi berbeda. Dia langsung menemuiku dengan syal merah yang selalu ia kenakan.
"Ada perlu apa, Shintaro?" untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, dia berbicara kepadaku. Sama seperti saat pertama kali kami bertemu di awal semester, tidak ada senyuman di wajahnya.
Aku merindukan senyumanmu.
"Aku hanya ingin menanyakan keadaanmu. Mengapa kau sering bolos sekolah?" aku bertanya layaknya seorang teman sekelas biasa.
"Langsung berbicara ke intinya, kau memang Shintaro! Hmm kenapa ya? Kupikir ini bukan urusanmu,"
Aku tertegun. Aku tidak pernah mendapati Ayano berbicara begitu dingin sebelumnya.
"Aku berhak untuk tahu! Aku ini kan temanmu!" aku menjawab dengan lantang, mencari pandangan Ayano yang tak kunjung menatapku secara langsung.
"Terimakasih atas pernyataanmu, Shintaro. Kau memang temanku. Karena itu, maukah kau tinggalkan tempat ini? Aku sangat sibuk."
Selanjutnya yang terlihat di depanku adalah pintu apartemen nomor 107 yang tertutup.
Beberapa hari kemudian aku mendapat pesan dari bocah yang mengantarku ke apartemen, isinya tentang lokasi di mana dia dan Ayano bekerja paruh waktu.
"Mengapa kau membantuku?" tanyaku ketika sampai di lokasi tersebut. Bocah itu langsung menemuiku.
"Karena kau dan aku mempunyai keinginan yang sama,"
Aku berjalan beriringan dengan bocah itu memasuki sebuah toko.
"Aku juga ingin melihat kembali senyuman kak Aya. Aku sangat menyukai senyumannya. Aku bahkan tersenyum untuknya. Apapun yang terjadi dia selalu tersenyum. Tetapi setelah kematian kedua temannya itu, dia perlahan kehilangan senyumannya. Sejak ayah meninggalkan rumah, dia tidak pernah tersenyum lagi," bocah itu bercerita tanpa senyumannya seperti hari-hari sebelumnya. Dari raut wajahnya, dia merasa sangat tersiksa. "Walaupun menyakitkan, aku terus tersenyum. Berharap senyumannya kembali. Tetapi dia tidak kunjung-kunjung tersenyum. Kemudian aku menyadari bahwa satu-satunya orang yang dapat membuatnya senyum kembali adalah kau, Shintaro. Karena itu, aku begitu lega ketika melihatmu akhirnya berada di ambang pintu rumah," bocah itu kini menatapku tepat di mata. Raut wajahnya begitu serius. "Tolonglah, Shintaro! Buatlah dia tersenyum kembali!"
Setelah beberapa langkah, kami akhirnya melihat Ayano. Dia berjongkok di antara tumpukan kardus-kardus. Tangannya bersandar di atas kardus, di atas lembaran kertas, memegang sebuah pena. Dia memakai seragam karyawan toko tersebut, dengan tetap memakai syal merah di leher.
"Aku yakin, Kou*. Aku tidak cocok dengan pekerjaan ini."
"Semangat dong, kakak! Ada seseorang yang ingin menemuimu!"
Ayano yang mengira hanya adiknya yang menghampirinya, langsung mendongak. Mata kami akhirnya bertemu. Ayano terkejut.
"Untuk menyegarkan pikiran, bagaimana kalau kita membeli es krim!" ajakku.
"Aku tidak ingin es krim! Ajak Kou saja!"
"Aku hanya ingin membeli es krim denganmu! Ayo!" tanpa basa-basi lagi, aku menarik lengan Ayano. Aku menggenggam tangannya lalu memaksanya untuk ikut denganku.
Aku membelikannya es krim dengan rasa kesukaannya tanpa melepaskan tangannya. Dia menerima es krim itu tanpa melihat ke arahku. Kembali kepada perannya untuk menghindariku rupanya.
"Kau menyukai es krimnya?"
Dia hanya mengangguk.
Kami berjalan beriringan di trotoar dengan tangan yang tertaut. Tidak ada yang berkata-kata di antara kami. Kecanggungan mulai muncul. Aku tahu aku harus mengatakan sesuatu.
"Ayano, aku..."
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan," Ayano berhenti berjalan. "Kau ingin membantuku keluar dari masalahku. Tetapi kau tidak tahu apa masalahku. Kau tidak tahu apa-apa Shintaro. Tentang keluargaku, tentang ibuku, tentang ayahku, tentang adik-adikku, tentang Haruka dan Takane.. tidak tahu apa-apa."
Ayano memotong perkataanku dengan kalimat yang tidak dapat kusanggah. Aku tersenyum. Siapa juga yang ingin menyanggah? Semua yang dikatakannya benar sekali.
"Kalau begitu, mulailah bercerita, oke?" aku menaikkan tanganku yang tidak tertaut ke atas kepala Ayano, menepuknya dengan lembut.
Ayano mengangguk. Kemudian untuk pertama kalinya, dia menangis di hadapanku.
Aku tahu kau tidak ingin selamanya begini.
Dengan satu harapan itu, aku berusaha meraihmu. Menyalakan lagi semangat di dalam dirimu.
"Bagaimana dengan es krimnya?" aku kembali bertanya. Es krim yang berada di tangannya baru saja habis dimakan. Aku bertanya, memberikannya jeda di antara cerita-ceritanya.
Walaupun ini hanya permulaan. Aku mohon, tolonglah tersenyum.
"Enak!" dia menjawab dengan ujung bibir sedikit dinaikkan.
Itu sudah merupakan senyum bagiku. Ayano tetaplah Ayano, yang selalu murah senyum.
Mulai sekarang aku tidak akan ragu menyebut namamu. Walaupun dunia ini terpecah belah. Kita akan terus bersama.
(*************)
[[*kalau baca doujin di pixiv, Ayano memanggil adik-adiknya dengan Kou-chan(Seto), Tsu-chan(Kido), Shuu-chan(Kano). Karena saya gak terlalu suka dengan embel-embel jepang dimasukin ke fanfic, jadinya dihilangkan. Shintaro juga harusnya Shintaro-kun ya kan..
Jadi, seperti yang telah kalian baca, AU! Ini di mana Ayano tidak meninggal. (note: Saya setuju sama teori yang bilang Ayano meninggal di hari yang sama dengan kematian Haruka dan Takane).
Chapter ini memang terinspirasi dengan World Lampshade-nya BuzzG (saya dengar yang versi awal, yakni versi Ryo-kun). Yang digaris miring adalah pikiran Shintaro (sekitar 80%), dan sedikit disisipi lirik lagu ini (sisanya).
Ini pertama kali bikin ShinAya. Semoga kalian suka dengan apa yang kalian baca!
Karena liburan hampir habis dan kuliah dimulai, saya akan jarang update. Tetapi saya akan berusaha update minimal sekali dalam seminggu.
Yang mau request, silahkan! Terimakasih masih ngikutin fanfic ini! ]]
