"Jae, jangan cemberut seperti itu. Kita hanya check up." Ucap Daehyun seraya menggenggam tangan Youngjae yang duduk di sampingnya.
"Aku benci rumah sakit, Dae." Balas Youngjae yang kini hanya memainkan ujung jaketnya.
"Iya, aku tahu. Aku janji, ini tidak akan lama. Sehabis ini, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Bagaimana?" Tawar Daehyun seraya tersenyum.
Youngjae menolehkan kepalanya, "Benarkah? Janji?" Tanyanya yang terlihat bersemangat kembali.
"Iya, aku janji." Daehyun semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Youngjae.
Youngjae tersenyum. Inilah salah satu hal berharga bagi Daehyun. Senyum indah Youngjae. Ia tidak ingin senyum itu lenyap. Ia tidak ingin tangan yang ia genggam kini kehilangan kehangatannya. Ia tidak ingin itu terjadi.
"Dae." Panggil Youngjae sambil menggerakan tangannya yang berada di dalam genggaman Daehyun.
"Eh? Ya?" Tanya Daehyun.
"Kau melamun? Ada apa?" Tanya Youngjae khawatir.
"Tidak ada apa-apa, Jae. Ah! Namamu dipanggil. Ayo kita masuk." Daehyun menarik pelan tangan Youngjae dan membawanya masuk ke dalam ruangan dokter.
Daehyun dengan setia menunggu Youngjae yang sedang diperiksa. Ia berharap dokter akan memberikan kabar baik. Sang dokter berjalan kembali ke mejanya, dimana Daehyun telah duduk di seberangnya. Dokter tersenyum.
"Dia baik-baik saja. Kondisinya mengalami sedikit kemajuan." Tutur sang dokter.
Betapa senangnya Daehyun saat mendengarnya. "Benarkah? Syukurlah." Hanya itu yang dapat ia katakan. Ia terlalu senang.
Dokter mengangguk, "Tapi ingat, jangan biarkan ia terlalu lelah. Jangan lupa untuk meminum obat secara teratur."
"Iya dok, pasti. Kalau begitu, kami permisi dulu. Terima kasih." Ucap Daehyun seraya tersenyum dan berjabat tangan dengan sang dokter.
Seperti janjinya, Daehyun mengajak Youngjae ke sebuah tempat yang belum pernah Youngjae datangi. Tempat tersebut cukup jauh dari rumah sakit. Pada awalnya Daehyun memutuskan untuk menaiki taxi, tetapi Youngjae menolak. Ia ingin berjalan kaki. Daehyun tidak menyetujuinya, namun Youngjae tetap bersikeras untuk berjalan kaki. Daehyun pun mengalah, ia menuruti keinginan Youngjae. Sepanjang perjalanan, Daehyun terus menggenggam tangan Youngjae dan sesekali menatap wajahnya. Ia takut kondisi Youngjae memburuk.
"Kita sampai, Jae."
Youngjae menatap hamparan rumput yang ada di hadapannya dengan beberapa bunga-bunga dan pohon yang tumbuh di sekeliling lapangan tersebut, melindungi sinar matahari bersentuhan langsung dengan tanah. Mereka beruntung, hari ini matahari tidak bersinar terik dan hanya ada mereka berdua di lapangan.
"Bagaimana, Jae?" Tanya Daehyun.
"Ini... Indah. Aku suka!" Jawab Youngjae bersemangat.
Daehyun berjongkok di hadapan Youngjae. "Naik, Jae."
"Untuk apa?" Tanya Youngjae bingung.
"Naiklah." Daehyun menolehkan kepalanya dan tersenyum.
Youngjae menuruti permintaan Daehyun. Ia memeluk leher Daehyun dan menaiki punggung Daehyun.
"Pegangan Jae." Ucap Daehyun seraya berdiri dan menahan kaki Youngjae dari balik lututnya.
Setelah merasakan tangan yang melingkar di lehernya mengeratkan pegangannya. Daehyun segera berlari menuju sisi lain lapangan rumput.
"Waaaaaa!" Seru Youngjae.
Daehyun melirik Youngjae. Kini, Youngjae sedang tersenyum cerah dengan tangan kanannya yang sedikit ia rentangkan. Ia tampak sangat menikmati angin yang menerpa tubuhnya dengan lembut. Sesampainya di sisi lain lapangan. Daehyun menurunkan Youngjae di bawah pohon besar dengan daun yang tumbuh lebat dan rapat. Daehyun mendudukan dirinya di bawah pohon tersebut dan menarik Youngjae sehingga ia terduduk di pangkuannya. Daehyun memeluk pinggang Youngjae.
"Bagaimana? Kau menyukainya?" Tanya Daehyun.
Youngjae menyandarkan punggungnya pada dada Daehyun, ia mengangguk.
"Aku sangat menyukainya! It feels just like I can run. Terima kasih Dae." Jawabnya beserta senyum manisnya.
"Aku akan berlari untukmu, Jae. Aku akan menggantikan kakimu ketika kau ingin berlari. Aku akan melakukan apa pun untukmu."
Youngjae hanya tersenyum.
Daehyun semakin mengeratkan pelukannya dan menjulurkan kepalanya ke sisi kepala Youngjae. Ia mengeleminasi jarak di antara mereka dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Youngjae.
Youngjae menutup matanya. Menikmati sentuhan lembut pada bibirnya sekarang.
Daehyun melepaskan ciuman mereka.
"Jae, aku mencintaimu." Ucap Daehyun yang kini menyatukan kening mereka.
"Aku juga mencintaimu, Dae." Balas Youngjae dengan senyum kecil yang kini menghiasi bibirnya.
Daehyun tersenyum. Akhirnya, perasaannya terbalaskan. Setelah menunggu sekian lama, perasaannya pun terbalaskan. Satu bulan yang lalu, ia menyatakan perasaannya pada Youngjae. Namun, Youngjae hanya diam. Daehyun tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Youngjae karena hal itu. Karena ia tulus mencintai Youngjae.
Daehyun kembali mempertemukan bibir mereka dan melumatnya lembut. Mereka saling menatap dan tersenyum.
Kemudian Daehyun mengambil sebuah batu dengan ujung yang sedikit runcing. Kemudian ia mengguratkan batu itu pada kulit batang pohon yang mereka sandari sekarang.
MINE
YOURS
DAEJAE
-TBC-
