Sekarang, Daehyun sedang menemani Youngjae yang terkulai lemas di tempat tidurnya. Sebuah tiang yang menjadi penyangga kantong infus berdiri di sisi kanan tempat tidur. Selangnya yang kecil menjuntai dari kantong infus dan berakhir di punggung tangan kanan Youngjae.

Daehyun yang sedari tadi menunggu Youngjae siuman, dengan setianya tetap menggenggam tangan kiri Youngjae dan mengusapnya.

"Jae." Panggilnya.

Namun, tidak ada jawaban.

Kondisi Youngjae memburuk sejak malam tadi. Ketika akan dibawa ke rumah sakit. Youngjae menolaknya. Ia ingin dirawat di rumah. Mau tidak mau, Sunhwa segera menelpon dokter pribadi Youngjae setelah ia memberikan pertolongan pertama padanya. Sesudahnya dokter menangani Youngjae, Sunhwa memberi kabar tentang Youngjae pada Daehyun. Daehyun yang khawatir segera melarikan motornya menuju rumah Youngjae. Ia tidak memperdulikan suhu dingin yang menerpanya dikala ia melaju di jalanan sepi tengah malam itu. Yang ada dipikirannya hanya Youngjae.

"Daehyun, makan dulu. Aku sudah membuatkan makan siang untukmu." Kata Sunhwa yang berada di ambang pintu kamar Youngjae.

"Nanti saja noona, aku ingin menunggu Youngjae sadar." Tolak Daehyun.

"Makanlah, Youngjae akan baik-baik saja. Ia hanya tidur. Kau belum makan dari malam tadi. Aku bawakan makanannya kesini ya?"

Daehyun tak menjawab. Sunhwa mengartikannya sebagai jawaban 'ya'. Sunhwa beranjak dari tempatnya menuju dapur. Ia mengambil makan siang untuk Daehyun dan membawanya ke kamar Youngjae.

"Ini, yang kari milikmu dan bubur milik Youngjae." Jelas Sunhwa seraya meletakan nampan yang berisi makanan itu di atas nakas di samping tempat tidur Youngjae. "Daehyun, hari ini aku akan pulang larut. Aku baru saja menerima telpon dari rumah sakit. Maukah kau menjaga Youngjae untukku?"

Daehyun mengangguk, "Iya noona, aku akan menjaganya."

"Terima kasih. Kalau begitu aku pergi dulu." Sunhwa meninggalkan Daehyun dan segera berlari kecil menuju mobilnya.

Daehyun merasakan ada gerakan di dalam genggamannya. Ia menatap wajah Youngjae. Dengan perlahan, mata Youngjae terbuka. Ia mengerjabkannya beberapa kali dan kemudian menatap Daehyun. Ia tersenyum.

"Dae..." Panggilnya.

"Jae, akhirnya kau sadar." Daehyun mencium tangan Youngjae. Dan kemudian mengusap pipi Youngjae.

Youngjae mengalihkan pandangannya kepada nampan yang berada di atas nakasnya.

"Dae, kau belum makan?" Tanyanya.

Daehyun menggeleng, "Aku kenyang. Bagaima kalau kau makan duluan? Aku suapin ya?" Tawar Daehyun.

Youngjae terdiam, ia memalingkan wajahnya dari Daehyun. Daehyun tahu bahwa sekarang Youngjae sedang marah padanya.

"Jae, makan ya?"

"Aku kenyang." Jawab Youngjae seadanya.

Daehyun berpikir, "Kalau kau mau makan, aku akan menuruti satu keinginanmu. Bagaimana?" Tawar Daehyun.

Youngjae menatap Daehyun kembali, dan kemudian mengangguk. Daehyun segera mengambil bubur itu dan menyuapi sedikit demi sedikit pada Youngjae. Saat bubur hanya tinggal setengah, Youngjae meminta Daehyun untuk berhenti menyuapinya. Ia sudah merasa sangat kenyang. Daehyun meletakan mangkuk bubur itu dan mengambil segelas air putih yang sudah Sunhwa sediakan.

"Jadi, apa yang kau inginkan, Jae?" Tanya Daehyun setelah ia meletakan gelas itu ke tempat asalnya.

Youngjae tampak berpikir. Dan sekarang ia menatap Daehyun.

"Dae, I want to do that with you. I really want to..." Ucap Youngjae.

Daehyun terkejut, "T-Tapi kondisimu tidak memungkinkan untuk melakukannya, Jae. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."

Mata Youngjae menyiratkan kekecewaan, "Kau telah berjanji, Dae. Sekali ini saja. I really want to."

Daehyun tampak berpikir. Kemudian ia menghela nafasnya dan menggenggam tangan Youngjae.

"Kita lakukan. Tapi kau harus berjanji, apabila kau merasa kesakitan, katakan padaku dan kita berhenti."

Youngjae tersenyum dan mengangguk. Daehyun memeluk Youngjae dan mencium bibirnya.


"Jae." Panggil Daehyun.

Youngjae membuka matanya dan menatap Daehyun sayu.

"Sakit?"

Youngjae menggeleng, "L-lanjutkan...Dae."

Daehyun tahu bahwa Youngjae berbohong padanya. Terlihat sangat jelas saat Youngjae meringis dan menggigit bibir bawahnya.

Seakan dapat membaca raut wajah Daehyun, Youngjae meraih pipi Daehyun dan mengusapnya. "D-dae...aku baik-baik saja...lanjutkan."

"Aku mencintaimu." Daehyun mencium bibir Youngjae dan mulai bergerak kembali.


Daehyun terbangun saat langit sudah mulai gelap. Ia menatap seseorang yang sedang tertidur di lengannya. Daehyun tersenyum dan mencium kening Youngjae.

"Jae, aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Kau ingat? Beberapa hari lagi adalah hari jadi kita yang kelima bulan. Dalam lima bulan ini, kau selalu membuatku bahagia. Hanya dengan kau yang terus berada disisiku, aku bahagia. Kau milikku, dan aku milikmu. Terima kasih, Jae. Aku mencintaimu."

-TBC-