Hari ini, langit terlihat sangat cerah dan matahari tidak bersinar terlalu terik. Ini adalah saat yang tepat untuk pergi jalan-jalan. Namun tidak untuk Daehyun dan Youngjae.
"Dae, ayo kita pergi jalan-jalan. Aku sudah merasa baikan." Rengek Youngjae.
"Belum, Jae. Kau baru saja sembuh. Kau harus tetap berada di rumah dan beristirahat sampai kondisimu benar-benar pulih." Daehyun yang kini duduk di tepi kasur Youngjae menarik tangan Youngjae dan memeluknya.
"Dae, aku mohon. Bukankah hari ini adalah hari yang spesial untuk kita?"
Ya, hari ini adalah hari spesial untuk mereka. Karena hari ini adalah hari jadi mereka yang kelima bulan. Namun, bagi Daehyun ini bukanlah hari yang spesial. Karena menurutnya, hari-hari yang ia lalui bersama Youngjae adalah hari yang berharga. Bukan hanya sekedar spesial.
"Dae," Youngjae menarik baju Daehyun. "Aku mencintaimu. Bagaimana denganmu?"
Daehyun hanya terkekeh, "Bukankah aku selalu mengatakan bahwa aku mencintaimu? Aku selalu mencintaimu, Jae."
Youngjae mengeratkan pelukannya, dan mencium bibir Daehyun sekilas. Sedangkan Daehyun, dengan penuh kasih membelai rambut Youngjae.
"Dae." Panggil Youngjae lagi.
"Ada apa?" Jawab Daehyun yang masih membelai rambut Youngjae.
"Ayo kita pergi jalan-jalan. Aku mohon. Aku hanya ingin pergi ke lapangan." Rengek Youngjae lagi.
Lapangan? Tentu saja Daehyun tahu apa yang dimaksud Youngjae. Lapangan yang selalu menjadi saksi bisu kebersamaan mereka selama lima bulan terakhir ini.
Daehyun menatap Youngjae. Youngjae terlihat sangat ingin untuk pergi ke tempat itu. Youngjae menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya. Daehyun menciumnya sekilas.
"Baiklah, ayo kita pergi." Daehyun pun mengalah.
Seperti biasa, Youngjae selalu menolak untuk menaiki kendaraan apa pun saat akan pergi ke lapangan itu. Dan seperti biasa pula, Daehyun akan menggenggam tangan Youngjae sepanjang perjalanan mereka.
Matahari mulai tertutupi awan. Seakan ia sengaja memberikan keteduhan bagi Daehyun dan Youngjae yang sedang berjalan menuju tempat favorit mereka. Daehyun merasakan tangan yang ia genggam berkeringat. Daehyun menolehkan kepalanya pada Youngjae yang berada di sampingnya.
"Jae, kau baik-baik saja?" Tanya Daehyun khawatir.
"Iya, aku baik-baik saja." Wajah Youngjae yang kini menoleh pada Daehyun terlihat sedikit pucat.
"Tapi, kau terlihat pucat, Jae. Kita pulang saja ya?" Daehyun menarik pelan pundak Youngjae agar berada lebih dekat dengannya.
Youngjae menggeleng, "Tidak. Kita sudah hampir sampai, Dae. Ayo." Youngjae menarik tangan Daehyun.
Mereka meneruskan perjalanan menuju lapangan. Sesampai disana, hanya terlihat beberapa orang yang berada disana. Mereka terlalu sibuk untuk memperhatikan orang yang baru saja datang. Daehyun dan Youngjae berjalan beriringan menuju pohon dimana mereka mengukirkan nama mereka.
Setelah sampai di bawah pohon yang mereka tuju. Youngjae menyentuh ukiran tulisan 'DAEJAE' pada batang tersebut. Ia tersenyum tipis.
"Dae, kita akan selalu bersama, kan?" Tanya Youngjae.
"Iya." Jawab Daehyun mantap.
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Youngjae lagi.
"Aku akan selalu mengatakan bahwa aku mencintaimu, Jae." Ucap Daehyun seraya memeluk pinggang Youngjae dari belakang.
Youngjae menolehkan kepalanya, begitu pula Daehyun. Mereka menyatukan bibir mereka dan melumatnya lembut. Youngjae menggenggam erat tangan Daehyun yang berada di perutnya. Mereka memisahkan bibir mereka dan saling menatap. Youngjae tersenyum.
"Jae, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat semakin pucat." Tanya Daehyun yang semakin khawatir.
Youngjae tersenyum, "Aku baik-baik saja." Youngjae mendudukan dirinya di bawah pohon tersebut dan menyandarkan punggungnya. Begitu pula dengan Daehyun.
Daehyun menggenggam erat tangan Youngjae.
"Dae, aku ingin berlari." Ucap Youngjae dengan tatapan yang ia tujukan pada lapangan hijau yang ada di hadapan mereka.
"Kalau begitu, aku akan menggantikan kakimu dan berlari untukmu."
Youngjae tersenyum, "Ayo! Aku ingin berlari. Orang-orang tadi juga sudah meninggalkan lapangan ini. Jadi aku tidak akan segan untuk berteriak nanti." Youngjae berdiri dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.
Daehyun berjongkok di hadapan Youngjae. Youngjae menaiki punggung Daehyun dan melingkarkan tangannya pada leher Daehyun.
"Siap?" Tanya Daehyun.
"Hm." Daehyun dapat merasakan anggukan Youngjae di pundaknya.
Daehyun pun berlari secepat yang ia bisa. Ia ingin mendengar teriakan dan tawa senang Youngjae yang terdengar seperti anak-anak. Biasanya, Youngjae akan mulai berteriak dan tertawa dari awal Daehyun berlari sampai disaat mereka telah berada di sisi lain lapangan.
Namun, sudah hampir setengah lapangan Daehyun berlari. Ia tidak mendengar suara teriakan maupun tertawa Youngjae. Daehyun pun memutuskan untuk berhenti.
"Jae." Panggilnya.
Tidak ada jawaban.
"Jae." Panggilnya lagi.
Masih, tidak ada jawaban.
"Jae." Daehyun mulai sedikit menaikan volume suaranya dan menggoyangkan tangannya yang ia gunakan untuk menahan tubuh Youngjae.
Daehyun dapat merasakan pegangan tangan Youngjae pada lehernya mengendur dan kepala Youngjae terasa berat pada pundaknya. Nafasnya tidak beraturan.
"Jae!"
Daehyun menurunkan Youngjae dari punggungnya, ia berlutut di sisi Youngjae dan mengangkat punggung Youngjae dengan lengannya.
"Jae!" Daehyun menepuk pelan pipi Youngjae.
Daehyun meletakan tangannya pada dada Youngjae. Ia dapat merasakan jantung Youngjae yang berdetak tidak beraturan.
Youngjae sedikit membuka matanya, "D-Dae...hahh..." Youngjae meneteskan air mata. Youngjae berusaha berbicara ditengah kesusahannya untuk bernapas.
Tanpa pikir panjang, Daehyun meletakan tangannya di belakang leher dan dibalik lutut Youngjae. Ia mengangkat tubuh Youngjae dan berlari.
Sudah hampir satu jam Daehyun menunggu dokter yang sedang menangani Youngjae. Daehyun semakin khawatir dengan keadaan Youngjae. Beberapa saat kemudian, dokter keluar dan menghampiri Daehyun.
"Dia baik-baik saja." Sang dokter tersenyum. "Masuklah, ia ingin bertemu denganmu." Kemudian Sang Dokter berlalu sebelum Daehyun mengatakan terima kasih.
Daehyun memasuki ruangan yang hanya memiliki satu buah tempat tidur dengan beberapa alat di dalamnya. Disana, terbaring seseorang yang ia cintai. Dengan jarum infus yang tentancap di pergelangan tangan kanannya dan beberapa kabel elektrokardiogram yang menempel pada dadanya. Jangan lupa alat bantu pernapasan yang terpasang pada hidung Youngjae.
Daehyun berjalan mendekati tempat tidur Youngjae, kemudian ia duduk di sisi kiri tempat tidur Youngjae. Daehyun meraih tangan Youngjae dab menggenggamnya.
"Jae." Panggil Daehyun.
Mata Youngjae terbuka, ia menolehkan kepalanya pada Daehyun. Ia tersenyum.
"Dae..." Jawabnya.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Daehyun.
"Aku...baik-baik saja." Jawabnya lirih.
"Syukurlah. Aku sangat khawatir." Ucap Daehyun yang kemudian mengusap pipi Youngjae.
Youngjae hanya tersenyum.
"Ah! Aku hampir lupa." Daehyun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong jaketnya. "Ini hadiah untukmu." Kemudian Daehyun membuka kotak tersebut di hadapan Youngjae.
Didalamnya terdapat sebuah cincin perak dengan sebuah kristal yang menghiasinya. Sangat sederhana namun indah.
"Kau ingin memakainya?" Tanya Daehyun.
Youngjae tersenyum dan kemudian mengangguk.
Daehyun mengambil cincin tersebut dan memasangkannya pada jari manis tangan kiri Youngjae. Daehyun menggenggam tangan kiri Youngjae dan kemudian menciumnya.
"Aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku, Jae?"
Sebuah air mata lolos dari kedua mata Youngjae. Ia menatap Daehyun. Youngjae membalas genggaman tangan Daehyun dan tersenyum.
"Dae..." Panggilnya lirih.
Youngjae menutup matanya.
Dan beberapa saat kemudian elektrokardiogram berbunyi. Pada monitornya hanya menunjukan garis lurus.
Tangan yang tadi Daehyun genggam, kini tidak membalas genggaman tangannya lagi.
"Jae!" Daehyun berseru dengan mata yang kini basah karena air matanya.
Beberapa perawat menarik Daehyun keluar dan menutup rapat pintu ruangan disaat dokter memeriksa Youngjae. Daehyun hanya bisa berdoa dengan air mata yang tetap mengalir di pipinya.
Dokter pun keluar. Segera Daehyun menghampiri dokter dan menanyakan kondisi Youngjae.
Dokter menggeleng.
Daehyun tidak percaya dengan apa yang dimaksud dokter. Ia terdiam dan tubuhnya merosot ke lantai disaat Sunhwa dan kedua orang tua Youngjae datang.
Hari ini, langit terlihat kelabu. Menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Namun, Daehyun tetap setia berdiri di depan sebuah makam baru yang bertuliskan 'Yoo Youngjae' pada batu marmer putih di atasnya.
Kemudian Daehyun meletakan sebuah buket bunga Baby's Breath di depan nisan Youngjae.
"Jae, aku mencintaimu. Aku akan terus mengatakan bahwa aku mencintaimu. Hanya dirimu. Karena, aku tulus mencintaimu." Daehyun tersenyum meski air matanya mengaliri pipinya. "I'm still yours. Sleep tight, my Jae."
