Yosh! Akhirnya, setelah setaun, bisa lanjutin fanfic ini juga~! Ini berkat reviews dari kalian semua lhooo u,u sebenernya Kei sempet rencana mau nutup acc ini dan bikin yang baru karena terlalu banyak cerita terbengkalai di sini. Tapi ga jadi, karena kata-kata kalian yang pingin ini dilanjut ^^
chapter sekarang lebih panjang, kok. Maaf kalau gaje dan ga sesuai pengharapan kalian, ya u,u
selamat menikmati, dan jangan lupa review! XD terimakasih banyak~~


"Baiklah, sudah ditetapkan. Kalian akan menikah! Oga-kun, kau boleh pulang. Kami akan mengabarimu lagi soal pernikahan ini nanti," kata Ittosai sambil tersenyum lebar.
'Cuma gitu aja?' Oga berkata dalam hati, alisnya mengkerut. Sebelum Ittosai membaca raut wajahnya, dia berdiri dan membungkukkan badan.
"Selamat malam, saya permisi."

Aoi termenung sendirian di kamarnya, masih tidak percaya akan kejadian tadi. Hanya dalam waktu sebentar, muncul keputusan yang akan merubah hidup mereka. Atau setidaknya, hidup Aoi. Memendam wajahnya di bantal, dia berteriak tertahan. "Kyaaaaa~!"
"Senang sih senang, tapi... kok rasanya terlalu tidak nyata, ya."
Dia lalu merebahkan diri di atas futon-nya, menatap ke langit-langit kamar di rumah tradisional Jepang itu. Di pikirannya hanya ada kejadian tadi. Begitu cepat, begitu mudah, begitu simpel. Padahal, yang mereka bicarakan tadi adalah 'pernikahan'.
'Pernikahan' punya makna yang serius. Sebenarnya, kalau untuk melindungi keluarga, Aoi sudah cukup. Meskipun dia senang, Aoi tetap tidak habis pikir. Kenapa harus menikahkan mereka? Kenapa mereka nanti harus tinggal bersama? Aoi punya perasaan lebih pada Oga, dia takut suatu saat perasaannya malah akan merusak hubungan mereka. Dan lagi, yang paling penting, kenapa Oga harus bertanya: "kalau aku menemukan orang yang kucintai, boleh kami cerai?"
Di satu sisi, Aoi senang dengan keputusan kakeknya dan ingin semuanya berjalan lancar. Di sisi lain, dia merasa semua ini terlalu aneh dan ada yang salah dengan ini. Dan di sisi lainnya lagi, dia benar-benar ingin Oga jatuh cinta padanya dan tidak akan pergi meninggalkannya. Tiga hal berkecamuk sekaligus di dalam pikiran si gadis berambut biru, membuatnya memikirkan ulang semua yang dia katakan pada kakeknya.
"Kalau ada yang salah, aku akan mengubahnya sebelum keadaan jadi lebih buruk."
Dan dengan pemikiran itu, Aoi terbawa ke dunia mimpi.

Sementara itu, Oga juga sedang berbaring di kasurnya. Di sampingnya, Beel tertidur lelap. Oga menengok ke arah si iblis kecil, dan mendapati dirinya tersenyum.
'Biarpun sering membuatku kesulitan, dia tetap lucu, sebenarnya,' batin Oga. Lelaki itu memutar badan memunggungi Beel, lalu mencoba tidur.
Sayang sekali, matanya langsung membelalak terbuka begitu ingat kalau tadi dia pergi ke rumah Aoi dan mengiyakan lamaran yang diajukan kakeknya yang aneh.
'Kalau dipikir-pikir, kenapa tadi aku bisa bilang iya? Semudah itukah? Lalu bagaimana dengan hidupku? Dan kenapa gadis itu kelihatannya senang-senang saja?
Dasar orang-orang aneh. Aku bakal gila'.
Glek! Membayangkan hal-hal buruk (dan aneh) yang akan terjadi begitu dia mulai hidup dengan Aoi nanti membuatnya merinding.
'Ini salah. SANGAT salah. Oke, kami menikah, tapi aku akan menjalaninya semauku. Aku tak akan menuruti semua omongan kakek itu! Cih...
Memikirkan yang tadi, rasanya aku gak akan bisa langsung tidur malam ini'.

Tatsumi Oga tak henti-hentinya menguap, padahal hari sudah pagi. Dan bahkan dia sedang berjalan menuju pintu masuk sekolah bersama Beel, Furuichi, dan Hilda. Sekarang dia kelas 3, hidupnya sudah damai, tidak ada lagi bahaya dari Neraka yang mengancam, dan dia heran kenapa Hilda masih mengikutinya ke sekolah. Ah, Beel juga. Dia masih di sini. Ya, setidaknya Beel sekarang jarang bikin masalah.
Mata merah dan berkantung. Wajah kuyu dan lesu. Begitulah penampilan Oga pagi itu. Furuichi dan Hilda menatap Oga dengan aneh. Anak-anak nakal Ishiyama pun menatap Oga dengan aneh begitu mereka berjalan di koridor bangunan sekolah. Dari wajahnya, terlihat kalau dia hanya ingin tidur dan bukannya berkelahi seperti biasanya. Tapi, begitu dia melihat seorang gadis berambut biru di kelasnya, wajahnya mendadak segar. Bukan, bukan berarti dia senang bertemu orang itu, sayangnya. Dia ingat kejadian tadi malam. Dia kaget, dan tidak tahu harus bilang apa. Sedangkan Aoi, mukanya berubah merah padam. Padahal Cuma bertatap mata beberapa detik. Gadis itu buru-buru membalikkan badan dan berjalan ceoat kembali ke kursinya. Furuichi yang menyaksikan adegan itu hanya bisa memasang wajah bertanya-tanya. Dia jadi tergelitik untuk mencari tahu. Ah, tentunya Furuichi tidak akan mencari tahu saat ini juga. Nanti dia malah babak belur ditonjok Oga. Biarkan saja dia.

Selama mereka belajar (akhirnya ada guru yang berkenan mengajar mereka dengan serius), Oga hanya menguap dan menguap. Begitu matanya hampir menutup, suara sang guru membangunkan dia lagi. Terus seperti itu, berulang-ulang. Di kursi yang jauh dari Oga, Aoi menundukkan kepala, tak tahan dengan wajahnya yang jadi panas sejak tadi pagi. Dan Oga memperburuk keadaan hatinya karena tidak menyapa. Tidak tidak santai seperti biasanya.
'Jangan-jangan... dia marah... jangan-jangan... ah! Singkirkan pikiran itu, Aoi!'
"Kunieda?" suara guru baru mereka membuyarkan pikiran Aoi.
"Y-ya, sensei?"
"Kok, geleng-geleng kepala begitu tadi? Perhatikan saya, ya. Ingat, ini tahun terakhirmu. Yang lain juga, tolong perhatikan pelajaran ini dengan baik."
"Baiklah," sebenarnya Aoi pun tidak sadar kalau tadi dia geleng-geleng kepala segala. Hasil kejadian kemarin, dia jadi tidak bisa berpikir jernih.

Ting! Tong! Bel istirahat menyelamatkan para siswa yang kelaparan dan mengantuk. Oga, Furuichi, Beel, dan (masih saja) Hilda bergegas ke atap sekolah. Oga dan Furuichi menyantap makanan yang mereka beli tadi pagi, sementara Hilda bermain dengan Beel.
"Wajahmu kusam, tuh. Kurang tidur, ya?" Furuichi membuka obrolan.
"Aku memang ganteng, tapi ya gak usah merhatiin lekat-lekat juga," jawab Oga santai.
"Serius, bego—dan lagi, kalau soal ganteng, sudah pasti aku yang lebih tampan, dong!" cling~ gigi Furuichi berkilau saat ia tersenyum ala playboy.
"Terserahlah. Ya, kalau kamu segitu penasarannya, semalam aku memang gak bisa tidur."
"Kenapa? Jangan bilang kamu habis namatin Warcraft!"
"Nggak. Aku nggak ngapa-ngapain, malah. Cuma diam di kasur, melamun."
Furuichi memperhatikan Oga sekali lagi sambil mengunyah, lalu bicara, "tahu, nggak? Ka'anya, 'angen ithu 'nyebab ohang shushah tidhur".
"Ngomong apaan, sih, kamu?" balas Oga dengan deathglare.
Sahabatnya menelan dengan agak susah payah onigiri mini yang tadi dimakannya bulat-bulat. "Itu, katanya, kangen itu penyebab orang susah tidur."
"Gak ngerti. Dan kayaknya aku juga nggak begitu ingin ngerti," Oga berdiri duluan. Entah kenapa, perkataan Furuichi membuat dia jadi ingin ke kelas dan cari orang yang kira-kira bisa dipukul.
"Oi, tunggu! Ah, Hilda-sama juga, jangan tinggalkan aku!"

Mereka berempat kembali ke kelas beberapa menit sebelum bel masuk. Aneh juga, ya, murid-murid Ishiyama tiba-tiba jadi rajin dan penurut begini. Ah, sudahlah.
"Oga-kun," kata Aoi sambil berjalan mendekati kursi Oga. "Ka... Kakek bilang..."
"Jangan bisik-bisik, dong, ngomongnya," Oga mendelik gadis itu dengan judes.
"Kakekbilangkamuharuskerumahkumalamini," secepat kilat.
"Jangan jadi cepat-cepat juga, gak jelas, tahu."
"Kakek bilang... kamu harus... ke rumahku... malam ini," kali ini, lebih pelan dan hati-hati karena takut kuping-kuping penggosip para murid kelasnya mendengar.
Oga diam beberapa saat, lalu melihat gadis itu dan menjawab dengan nada agak malas, "oke".
'Mimpi buruk lagi', hati Oga bersuara.


a-ha, ini dia. Kira-kira gimana lanjutannya? Wkwkwk
kenapa kesannya terlalu cepat? Karena author ga mau kehabisan ide karena bikin cerita yang bertele-tele dan malah jadi ga bisa lanjutin fanfic ini. ini udah dipercepat dari rencana author, lho! Pokoknya gitulah, hehehe.
anyway, balesan reviews!
buat haruhi suzumiya: makasih udah ngasih aku ide! XD mungkin beberapa chapter ke depan bisa diwujudkan, hahaha~ dan soal 'itu' nanti ratingnya naik dong ^^
buat tukiyem: iya memang sengaja dibuat begitu, soalnya saya lagi nyoba bikin cerita yang seperti light novel (diperkuat sama dialog daripada deskripsi) light novel yang pernah saya baca kaya gitu soalnya u,u nanti saya rinciin lagi deh biar enak bacanya ^^
buat rizkiirawan3: iya Oga emang agak OOC ya, kalo di chapter 3 ini gimana? Hehehe~
buat sisanya yang ga bisa diketik semua di sini, TERIMAKASIH BANYAK SUDAH ME-REVIEW!
sampai jumpa di chapter selanjutnya, semoga author bisa update cerita ini meskipun sebentar lagi masuk kuliah. /curcol/