BACA DULU SEBELUM KE CERITANYA!

Okeh, jadi sebelum kecerita, gue mau jawab salah satu review di ff sebelumnya. Gue terima semua saran keritik dan pendapat kalian,, itu makanya gue butuh review kalian. Nah di sini gue cuman mau nambahin hal yang kurang di ff sebelumnya. Dua ff ini adalah remake dari ff gue sama ff sahabat gue di jaman SMA. Jaman di mana gue baru belajar nulis dan emang sekarangpun sama masih belajar. Nah,, karena gue mls rubah semuanya, gue cuman ganti nama, nambahin beberapa kalimat dan salahnya ga ganti POV nya. So maklumkan kecerobohan gue dan maaf kan kesalahan gue yang masih sama-sama manusia seperti kalian. So happy reading guys…


.

.

.

.

.

.

BABY LOVE MEEE

Oh Sehun

Kim Luhan aka Lu Han

.

.

.

.

"Selamat pagi….." sapa Jongin super riang. Walau agak lebih berlebihan dari sapaan Jongin biasanya, tidak ada member yang menjawab dengan lebih juga. Semuanya menjawab seperti biasa dan dalam berbagai gaya. Ada yang menjawab "Pagi.", ada yang cuman mengaguk dan ada juga yang tidak menjawab karena tidak mendengar.

"Masuklah.." ucap Jongin lagi pada –entah siapa– seseorang dibelakangnya, membuat semua member yang lain menoleh penasaran. Seorang bocah masuk tanpa menyapa, ia mengenakan topi dan jaket baseball senada, celana jeans hitam, sepatu sneakers dan tas ransel sedang di punggungnya. Dari semua member EXO di situ, Sehun lah yang paling serius mengamati bocah itu.

"Kau bisa menungguku di ruangan ini dan kau sudah tahu teman-temanku kan?" Tanya Jongin lagi. Bocah itu tidak menjawab tapi tanpa diminta segera duduk di sofa di dekatnya.

"Oi Jongin, siapa dia?" Tanya Sehun merangkul Jongin.

"Dia adikku." Jongin menjawab dengan cengiran khas.

"Eh?" pekik semuanya agak kaget. Dari kesan pertama semuanya member EXO, bocah yang diakui Jongin sebagai adiknya tadi BERBANDING 180° dari Jongin si hitam yang heboh, riang dan agak berlebihan.

"Namanya?" Sehun kembali bertanya, tapi belum sempat Jongin mengeluarkan suaranya Sehun sudah memotongnya lagi.

"Biar kutanyakan sendiri." Dan ia langsung beraksi. Pria berkulit albino itu mendekati bocah tanpa suara tersebut.

"Hai…mm…" sapa Sehun menggantung, ia sedang berpikir harus mengatakan apa lagi. Bocah itu mengangkat kepala menatapnya.

"K-I-M?" eja Sehun yang diakhiri dengan nada bertanya. Bocah itu menatapnya datar, membuat Sehun agak keki jadinya. Pemandangan yang semakin membuatku penasaran.

"Luhan." Ucap bocah itu dingin.

"Lu-han?" ulang Sehun memastikan pendengarannya berfungsi normal. Luhan tidak lagi menjawabnya, melihat ekspresi adiknya Jongin segera merangkul Sehun menjauh. Ia tidak mau suasana hati adiknya semakin keruh rupanya, sudah cukup ia saja yang membuat adiknya seperti itu hari ini.

"Sudah wawancaranya lain kali saja. Kita harus bersiap-siap sekarang." Ditariknya Sehun kembali ke meja rias.

Entah sudah berapa kali Sehun melirik Luhan melalui kaca rias di hadapannya. Gini nih akibatnya kalo punya sense of interesting yang agak berlebihan, gampang penasaran sama hal-hal baru. Dan LUHAN merupakan hal baru baginya. Selama ini mau para gadis atau pun para lelaki cantik yang dekat dengannya bukanlah lelaki setipe LUHAN yang simple, cuek dan super dingin.

Setelah 10 menit tanpa gerakan akhirnya Luhan menunjukan tanda kehidupan(?). Ia membuka dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kamera CANON rebel T2i, kamera pertama pembelian ayahnya saat ulang tahun. Apa yang dia lakukan? Apa dia memotret kami? Sehun bertanya-tanya dalam hati. Luhan beberapa kali mengarahkan kameranya ke para member, tapi entahlah apapun yang dilakukan olehnya hanya Luhan dan Tuhan yang tahu.

"Luhan.. Tidak apa-apa kan kau menungguku di sini? Maaf ya tidak bisa mengantarmu langsung ke rumah." Ucap Jongin sebelum meninggalkan ruangan untuk tampil. Luhan tidak menjawab, ia hanya mengangguk seperlunya.

Saat meninggalkan ruangan, Sehun sengaja melambat-lambatkan langkahnya sambil terus memperhatikan Luhan penasaran.

"Sehun! Ayo cepat!" panggil Suho dari luar. Dengan terpaksa Sehun melangkah keluar dan untuk pertama kalinya ia ingin cepat-cepat menyelesaikan penampilannya dan kembali demi menemui seseorang.

.

.

Luhan tersenyum samar memandangi satu persatu hasil fotonya. Oke, buat Luhan dia barusan sedang tersenyum tapi kalaupun ada yang melihatnya, mereka pasti bilang Luhan tidak sedang tersenyum. Luhan memang seperti itu, dari kecil entah mengapa ia paling sulit mengungkapkan perasaannya melalu ekspresi wajah ataupun kata-kata. Ia tidak pernah bisa jujur mengenai perasaannya temasuk perasaannya pada seseorang. Seperti sekarang, walaupun ia tadi seruangan bahkan orang itu mengajaknya bicara, Luhan tetap tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Ia tetap DIAM. Kalian tahu siapa orang yang dimasud? Yap, Oh Sehun.

Sejak kakaknya bergabung dengan grup EXO, sosok Sehun-lah yang sanggup membuat hatinya terasa berbunga-bunga dan seperti meledak-ledak. Sosok yang ceria dan terkadang suka usil. Luhan tak pernah berhenti suka melihat ekspresi-ekspresi Sehun di kameranya. Orang ini berbeda jauh dengannya, Sehun adalah orang yang terbuka dan suka blak-blakan dalam menanggapi suatu hal. Hal sekecil apapun atau sebesar apapun akan terasa menarik jika dia ada di situ, ia seperti baterai utama EXO.

"Jongin, Luhan itu orang yang seperti apa?" Tanya Sehun saat mereka berjalan kembali ke ruangan.

"Luhan? Mm…Luhan itu, ya seperti yang kau lihat. Dia itu agak cuek dan dingin, tapi sebenarnya ia hanya tidak pandai mengekspresikan perasaannya." Jawab Jongin ala seorang kakak.

"Oh.." gumam Sehun manggut-manggut.

"Oh ya, Sehun. Kumohon kau jangan menjahilinya atau mengganggunya ya, hari ini suasana hatinya cukup bruk karena aku terlambat menjemputnya di bandara." Pinta Jongin terdengar menyesal di akhir kalimat.

"Bandara?" Tanya Sehun bingung.

"Iya, hari ini adalah hari pertamanya kembali ke Korea. Selama ini dia sekolah di luar negeri." Jawab Jongin.

"Eh? Luar negeri? Di mana? Wah, Daebak..." Tanya Sehun mirip wartawan majalah gossip.

"Dia mendapat beasiswa kuliah di Academy of Art University di Amerika, dan tadi aku terlambat cukup lama saat menjemputnya di bandara dan lagi aku tidak langsung mengantarnya ke rumah tapi malah kubawa kemari. Hah~ sudah nasibku sebagai seorang kakak.." jelas Jongin kembali membuatnya semakin merasa bersalah. Sehun manggut-manggut pasang tampang sok ngerti lalu berjalan mendahului Jongin.

"Hei, kau mau ke mana?" Tanya Jongin heran.

"Menemui Luhan." Jawab Sehun enteng. Jongin yang mendengar itu jelas kaget karena perasaan buruk langsung melingkupinya.

"Eh? Hei, kubilang jangan mengganggunya dulu…" ucap Jongin mengingatkan. Ya memang beberapa menit yang lalu kan ia berkata untuk tidak membuat suasana hatinya bertambah buruk.

"Iya,iya…aku tidak akan mengganggunya kok.." Senyum evilnya memberi kesan lain. 'Aku hanya akan menggodanya.'

Sehun membuka pintu ruangan dan tersenyum lebar melihat Luhan masih duduk di sana lengkap dengan kamera di tangannya.

"Luhan…" sapa Sehun super ceria membuat Luhan sempat menoleh kaget tapi ngga kentara lantaran ekpresinya tetep keliatan DATAR….

"Tadi kita belum selesai berkenalan, namaku…."

"Oh Sehun. Aku tahu." Potongnya dingin.

"Ah, ya…Mm, kau panggil Sehun atau Hunna saja ya…" lanjutnya sempat keki. Luhan hanya mengangguk pelan.

"Oh ya, kudengar kau sekolah di Amerika ya? Jurusan apa?" Tanya Sehun lagi memulai aksi wawancaranya. Luhan tidak menjawab, ia hanya melirik Sehun sekilas.

"Ah, ya… pasti Fotografi kan?" cetus Sehun setelah melihat reaksi Luhan dan kamera di tangannya. Luhan mengangguk kembali.

"Ah, Luhan kau ini sebenarnya manis, coba kau lebih ekspresif lagi. Pasti banyak pria mengantri untuk mendapatkanmu, bahkan aku juga pasti begitu." Ucap Sehun was-wes-wos tanpa lihat rambu-rambu. Mendengar hal itu kontan membuat pipi Luhan memerah. Baru kali ini ada yang mengatakan dia manis selain keluarganya. Ditambah lagi orang yang mengatakannya adalah orang yang ia suka sendiri.

"Oh!"pekik Sehun menunjuk Luhan lalu duduk tepat dihadapan anak itu. yang lebih kecil membulatkan mata kaget campur bingung.

"Pipimu memerah! Sangat menggemaskan…." Ucap Sehun lagi. Ia spontan gemas melihatnya. Luhan segera menutupi pipinya dengan kedua tangan

"Sehun! Sudah kubilang jangan mengganggunya dulu." Jongin yang akhirnya menemukan jalan menuju ruangan langsung mendatangi si korban yang merupakan adiknya sendiri. Ia sempat di buat tersesat oleh Sehun tadi.

"Apa? Aku tidak mengganggunya kok. Iya kan Luhan? Jongin, sudahlah… kau kan sudah mengenalku cukup lama, aku mana mungkin mengganggu adikmu.." ucapannya terlewat santai karena begitulah ia pada semua rekan kerja juga teman-temannya.

"Justru karena aku sudah mengenalmu lama makanya aku melarangmu. Kau ini usil orangnya." Sanggah Jongin mengerutkan kening.

"Luhan, maaf ya.. Sehun memang suka seperti ini." sang kakak menyesali keputusannya membawa adiknya kemari.

"Ah, Jongin kau tidak perlu seperti itu. Sebagai seorang kakak aku juga tidak pernah membatasi adik-adikku." Tukas Sehun usaha.

"Itu karena kau tidak memiliki adik! Kau ini anak terakhir Hunni! Dasar…" timpal Jongin geleng-geleng. Mana bisa adik semanis Luhan disamakan dengan keponakan-keponakannya yang hanya bertemu sesekali?

"Masih lama?" si sumber perdebatan memotong perseteruan kakaknya dengan Sehun yang sempat anemia, eh amnesia. Keduanya lalu menoleh.

"Oh, tidak, ini sudah selesai. Sebentar aku ganti pakaian dulu…" setelah mengatakan itu, Jongin mengambil pakaian dari dalam tas dan lalu pergi ke ruangan lain.

"Lulu kau sudah mau pulang? Kenapa terburu-buru?" sebutan baru itu membuat pria manis dengan kamera di tangannya itu sempat kaget tapi sayangnya tidak kentara.

"Ngantuk." Jawabnya singkat.

"Ngan..tuk? Hanya itu?" Sehun agak tidak percaya, dari tadi dia mengajaknya ngobrol panjang lebar tapi lelaki ini hanya menjawabnya dengan anggukan dan kalimat pendek-pendek. Harus kuat mental sepertinya Sehun untuk menghadapi bocah dingin ini.

"Jongin, aku minta nomor ponsel Luhan." pinta Sehun di keesokan harinya. Jongin menoleh dan menatapnya bingung.

"Untuk apa?" Sedikit curiga Jonging melirik pria albino itu. Mau apa dia pada adiknya?

"Ah, kau ini. Tentu saja untuk menghubunginya. Dia orang yang menarik." Senyum bodoh dengan maksud yang terselubungnya itu benar-benar mencurigakan.

"Ah, tidak-tidak-tidak…. Tidak akan pernah kuberikan padamu." Dengan gelengan keras yang membuat nyaris membuatnya pusing, Jongin lagi-lagi menolaknya. Ia hanya berpikir si albino ini pasti akan menggoda adiknya lagi.

"Lho? Kenapa?"

"Kau pasti mau menggodanya kan? Ah, tidak akan kubiarkan." Jawab Jongin tetap tidak mau memberikan nomor ponsel adiknya. Dan pada akhirnya Sehun pun meninggalkan Jongin sambil manyun-manyun. Tapi bukan Sehun namanya kalau dia kehabisan akal sampai di situ. Masih ada segudang ide di kepalanya kalau hanya masalah mendapatkan nomor ponsel saja.

"Sehun! Kau mau ke mana?" Tanya Baekhyun heran melihat Sehun siap-siap meninggalkan ruang latihan saat break time. Alih-alih menjawab pertanyaan Baekhyun, si albino ini hanya mengedipkan sebelah mata padanya lalu pergi.

"Mencurigakan." Gumam si kecil pelan.

"Ada apa?" seorang bersuara bas mengagetkan Baekhyun karena terus menatap mantan saingannya. Baekhyun menoleh dan menggeleng.

"Entahlah, dia terlihat mencurigakan." Jawabnya.

.

.

Ting Tong!

Sehun merapikan penampilannya sekilas sebelum pintu rumah di hadapannya terbuka. Yap, sekarang ia sudah berdiri di depan pintu rumah keluarga Oh. Seorang wanita membuka pintu rumah dan segera tersenyum mengenali teman anaknya tersebut.

"Selamat siang bi." sapa Sehun tersenyum ramah.

"Ah, na Sehun! Ayo masuk." Dan si tamu di persilahkan masuk. "Bagaimana kabarmu?" sahut Nyonya Kim ramah.

"Baik bi. Bibi bagaimana?"dan pertanyaan basabasi itu terlontar. Yang ditanya menjawab baik sampai mereka memasuki ruang tamu.

"Wah, sudah lama kita tidak bertemu, ada apa? Bukannya Jongin juga kerja?" Tanya bingung seraya menyiapkan sebuah minuman dari dapur yang tak jauh dari ruang tamu.

"Ah, aku bukan mau bertemu dengan Jongin, bi. Aku ingin bertemu dengan Luhan." Jawab Sehun semakin membuat kerutan di dahi semakin bertambah.

"Luhan?" Tanya memastikan. Sehun menggangguk mantap. Walau agak bingung, tetap memanggil putra bungsunya tersebut.

"Luhan…Luhan, ada yang mencarimu." Panggil di depan kamar Luhan. Si empunya kamar hanya berucap,'Sebenta'r sampai pada akhirnya pintu terbuka.

"Siapa?"lanjutnya.

"Oh Sehun." Jawab . Luhan mengerutkan kening. Sehun? Pikirnya karena ya jelas untuk apa pria itu mencarinya?

Sehun memandangi rak dan meja di rumah tersebut. Banyak pigura foto di sana, sepertinya ia tahu sekarang itu semua hasil jepretan siapa. Dulu ia pernah ke sini sekali tapi ia tidak terlalu memperhatikan waktu itu.

"Hmm…" gumam Luhan menyadarkan Sehun yang tengah asik memandangi satu persatu foto di salah satu sisi dinding.

"Oh..Hai…" sapa Sehun tersenyum lalu dengan secepat kilat ia memindai penampilan Luhan saat itu. Mulai ujung rambut sampai ujung kaki.

Kaos oblong putih gambar MICKY MOUSE, celana pendek jeans belel setengah paha dan poni di kuncir ke atas. Oke. Simple ini aneh menurutnya tapi cute bukan main.

"Ada apa?" Tanya Luhan irit tapi si albino jangkung ini mulai terbiasa.

"Oh, Tidak. Aku hanya ingin bertemu dan mengobrol denganmu." Jawab Sehun tersenyum lalu mendekati Luhan.

"Kau manis seperti biasanya." Ucap Sehun membuat Luhan melangkah mundur terlihat salah tingkah. Sehun tidak dapat menahan tawanya melihat reaksi Luhan barusan. Sikap malu-malu dari seorang Luhan yang sedingin salju.

"Hahahaha….lucunya~…." ucap Sehun lagi tersenyum gemas, sementara Luhan semakin salah tingkah.

"Kau sudah makan siang?" Tanya Sehun kemudian. Luhan tidak segera menjawab.

"Kita makan siang bersama.!" ajak Sehun yang tanpa tunggu jawaban segera menarik Luhan keluar rumah.

"Bi, kami pergi dulu!" seru Sehun meminta izin pada sambil berlari keluar membuat kaget bercampur bingung.

.

.

Luhan tidak mengeluarkan suara lagi selain "Eh?" saat Sehun menarik tangannya tadi.

"Kau mau pesan apa?" Tanya Sehun begitu mereka duduk di meja kedai ramyun dekat rumah Jongin.

"Ah, Luhan! Kau sudah pulang rupanya!" seru paman pemilik kedai tersebut yang ternyata telah mengenal Luhan. Luhan hanya mengangguk kaku.

"Wah, kau terkenal juga rupanya." Komentar Sehun dengan nada menggoda.

"Luhan, ini hadiah untukmu.. kau sudah bekerja keras 3 tahun ini." Ucap paman itu meletakan 2 mangkuk mie ramyun special di meja.

"2 porsi ramyun untukmu dan…" kalimat paman itu menggantung seiring pandangannya yang beralih ke Sehun lalu tersenyum.

"….Temanmu.." lanjutnya lalu tersenyum ramah. Luhan mengangguk pelan.

"Gomawo." Ucapnya hemat.

"Wah, sepertinya enak. Selamat makan!" seru Sehun yang tanpa lama segera memakan ramennya.

"Selamat makan" ucap Luhan pelan dan datar.

Selama makan Sehun tak pernah absen memperhatikan lelaki di hadapannya. Ternyata Luhan sangat manis walaupun tidak terlalu banyak berekspresi. Kulit putih langsat, matanya menatap lurus ke depan terkesan polos dan bibirnya… Hahai, Sehun apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kau mau bilang kalau kau terpesona pada lelaki ini?

Luhan menghabiskan sisa kuah ramyun langsung dari mangkuknya, point yang tanpa malu-malu ia lakukan tepat di hadapan orang yang ia suka.

Ia kemudian menghela nafas tampak kenyang. Sehun terhenyak sesaat ketika Luhan melakukan aksi yang…. Ya bisa dibilang biasa aja sih… Tapi entah mengapa Sehun justru salah tingkah sendiri dan jantungnya berdegup dua kali dari biasanya. Aksi Luhan menjilat bibirnya sendiri. Sehun memegangi dadanya yang semakin sakit karena degupnya yang semakin kencang. Apa-apaan ini?

"Kau sakit?" Tanya Luhan menyadarkan Sehun.

"Pucat? Demam?" Tanya Luhan lagi yang refleks segera memegang dahi Sehun. Sehun bergerak mundur dengan tatapan kaget dan bingung.

Ia kaget karena tiba-tiba Luhan memegang dahinya dan bingung karena jantungnya malah semakin kencang berdegup.

"Ah.. aku sudah selesai makan. Ayo kita pulang, paman terima kasih atas makanannya." Pamit Sehun tampak linglung lalu berjalan keluar dari kedai. Tidak ada adegan main tarik tangan orang lagi sekarang. Luhan hanya berjalan mengikuti Sehun di belakangnya. Melihat ekspresi Sehun yang bingung dan sepertinya shock, Luhan mengambil ponselnya di kantung celananya dan mengarahkan kamera pada orang di depannya tersebut. Sehun tidak menyadari aksinya tersebut, ia malah sibuk mengusap-usap dadanya lalu geleng-geleng bingung.

"Kau….terlewat." ucap Luhan membuat Sehun berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Rupanya ia sampai tidak menyadari kalau ia sudah berjalan melewati rumah si hitam Jongin. Sehun hanya ber-oh ria dengan tampang masih linglung lalu pamit pada Luhan dan pergi kembali ke tempat latihan.

"Luhan kau sudah pulang? Lho? Mana Sehun?" Tanya heran melihat putranya masuk rumah sendirian.

"Kembali latihan." Jawabnya singkat lalu kembali ke kamarnya. tersenyum geli. Baru kali ini ia melihat putranya begitu diperhatikan oleh seorang selain keluarga.

.

.

DIIIIINNNN….!

Sehun mengangkat kepalanya kaget, tanpa sadar ia tadi menjatuhkan kepalanya begitu saja di atas setir mobil dan menekan klakson. Ia sekarang sudah berada di parkiran gedung SM Ent., tapi jujur saja pikirannya tengah melayang entah ke mana.

"Yachi! Aku bahkan lupa meminta nomor ponselnya." Erang Sehun super menyesal. Saking linglungnya dia lupa tujuan awal dia bertemu Luhan.

"Sehunna, kau sudah kembali? Dari mana saja?" Tanya Baekhyun melihat Sehun masuk lagi ke ruang latihan. Yang membuat Baekhyun heran adalah ekspresi Sehun yang berbeda dengan ekspresinya saat berangkat tadi. Kalau tadi dia tersenyum sok iyeh dan sok misterius, sekarang dia malah manyun-manyun tidak jelas sambil komat- kamit tanpa suara.

"Sehunna, kau kenapa?" Tanya Baekhyun heran. Ini orang kesambet? Kali ini Sehun menoleh lalu serta merta memaksa duduk di samping Baekhyun yang sebenarnya itu tempat duduk hanya cukup untuk satu orang.

"Baek, apa saat kau bersama si kuping lebar itu jantungmu akan berdegup kencang? Saking kencangnya dadamu sampai terasa sakit?" Tanya Sehun sok pasang tampang serius. Pertanyaan yang semakin membuat Baekhyun mengerutkan kening.

"Memangnya kenapa?" Tanya Baekhyun bingung.

"Sudah jawab saja."

"Mm…. terkadang seperti itu, jika kami hanya berduaan saja dan tiba-tiba saling bertatapan biasanya aku merasa jantungku akan melompat keluar." Jawab Baekhyun setelah membayangkan kejadian yang sering ia hadapi tersebut.

"Hmm…. Ditatap ya?"gumam Sehun terdengar berpikir.

"Memangnya ada apa? Apa…. Kau menemukan seseorang yang sanggup membuat jantungmu berdegup kencang?" Tanya Baekhyun menebak.

"BINGO!" ucap Sehun serius.

"Wah? Benarkah? Siapa dia? Orang seperti apa dia?" Tanya Baekhyun jadi penasaran.

"RA-HA-SI-A." eja Sehun seraya mencubit pipi Baekhyun.

"Ah, kau ini!" erang Baekhyun mengusap pipinya.

"Ehemm.."

Keduanya menoleh lalu tersenyum nyengir. Chanyeol tengah menatap keduanya tidak suka. Ia melangkah mendekati mereka lalu merebut tempat duduk Sehun dari sebelah Baekhyun dengan paksa.

Setelah dengan perjuangan ekstra akhirnya Sehun berhasil mendapatkan nomor ponsel Luhan dari Jongin. Yah, walaupun dengan sedikit tipu daya mulut manisnya sih…

"Luhan, apa kau punya waktu luang sekarang?" Tanya Sehun tanpa basa-basi begitu Luhan mengangkat teleponnya.

"Sehun?" Tanya Luhan heran tapi terdengar datar.

"Iya ini aku. Jadi bagaimana? Kau punya waktu luang sekarang? Ng? Di sana terdengar ramai sekali, apa kau sedang tidak di rumah?" Tanya Sehun mendengar keramaian di seberang telepon.

"Di mana? Biar aku menyusulmu." Ucap Sehun kemudian karena Luhan tidak bersuara.

"Taman dekat stasiun kota." Jawab Luhan datar.

"Dekat stasiun kota? Baiklah, aku ke sana sekarang. Tunggu di sana!" seru Sehun lalu menutup teleponnya dan segera berangkat.

.

.

"Ah… kenapa tidak diangkat sih?" Tanya Sehun agak kesal karena Luhan tidak juga mengangkat teleponnya. Ia sudah berada di taman sekarang tapi ia belum bisa menemukan Luhan.

"Luhan, di mana dia?" gumam Sehun seraya memperhatikan satu per satu orang di sana. Ia merapatkan topinya sedikit mencoba menyamarkan identitasnya, jika ia ketahuan berkeliaran di taman ini pasti banyak orang akan mengerumuninya dan itu semakin menyulitkannya untuk menemukan Luhan.

Sehun menyusuri sepanjang jalan setapak taman, langkahnya terhenti di jalan sekitar kolam. Seseorang sedang asik membidikan kameranya ke segala objek di sekitarnya. Sehun tersenyum senang setelah yakin itu memang Luhan.

"Luhan!" panggil Sehun setengah berlari. Luhan menoleh dan seperti biasanya tanpa ekspresi.

"Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?" Tanya Sehun bertampang kesal.

Luhan merogoh ponselnya di saku jaket, ternyata ada 8 missed call dari Sehun. Ia tidak menyadarinya tadi, ia terlalu asik mengambil foto-foto tadi.

"Mian." Ucap Luhan membungkuk sedikit.

"Yah.. tidak apa-apa… kau benar-benar suka fotografi ya?" Tanya Sehun ramah kembali.

"Hmm,…" jawab Luhan mengangguk seperlunya.

"Baiklah, bagaimana kalau kita berkeliling taman? Yah, anggap saja ini seperti kencan." Seru Sehun main tarik tangan Luhan. Kencan? Sehun kau serius mengatakan ini kencan tadi? Ada apa denganmu? Sehun bertanya-tanya sendiri, ia belum berani melihat ke arah Luhan sekarang. Tangannya agak gemetar menggenggam tangan Luhan yang agak dingin.

JEPRET-JEPRET-JEPRET!

Bunyi tone kamera membuat Sehun menoleh ke arah Luhan. Rupanya Luhan tengah mengambil fotonya.

"Kau.."

"Nice catch!" Komentar Luhan melihat hasil jepretannya.

Sebelah tangannya memang sedang digenggam oleh Sehun tapi yang sebelahnya masih bebas melakukan hobinya.

"Hei, kau memotret seorang artis barusan. Kau harus membayarku." Ucap Sehun setelah berhasil menguasai dirinya kembali. Luhan mengangkat kepalanya dan langsung bertatap langsung dengan Sehun. Tatapan yang justru membuat Sehun berdebar-debar.

"Ah, lupakan saja. Aku hanya bercanda." Seru Sehun memalingkan wajahnya salah tingkah.

JEPRET!

"Pipimu merah." Ucap Luhan kembali mengarahkan kameranya pada Sehun. Dengan cepat Sehun menutupi pipinya dengan sebelah tangan. Ia belum pernah merasa semalu ini pada seorang pria.

"Ah, sudah hentikan! Jangan memotretku lagi." Ucap Sehun menutupi rasa canggungnya, Luhan pun menghentikan aksinya.

"Kau malu?" Tanya Luhan yang justru tidak terdengar seperti bertanya sambil memeriksa foto-foto Sehun barusan.

Sehun menoleh, niatnya sih mau liat foto-fotonya barusan seperti apa tapi apa yang dlihatnya sekarang malah semakin membuatnya kehilangan kata-kata. Luhan tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia melihat Luhan tersenyum. Ia tersenyum, menatap foto-foto di kameranya. Benar-benar tersenyum.

"Luhan, kau… tersenyum?" guman Sehun masih setengah tidak percaya. Luhan terlihat kaget dan menoleh pada Sehun. Benarkah? Benarkah ia tersenyum? Ia bisa tersenyum?

"Ini." Sehun menyerahkan segelas orange juice pada Luhan yang tengah menunggunya di salah satu bangku taman.

"Gomawo." Jawab Luhan lalu membukanya.

"Luhan, kau sudah punya pacar?"

"Uhuk…uhuk…" pertanyaan Sehun barusan sukses membuat Luhan tersedak.

"Kau baik-baik saja? Hahahah…" Sehun tidak sanggup menahan tawanya. Ia tidak menyangka Luhan bisa sampai tersedak mendengar pertanyannya.

"Uhuk…ehem.." Luhan mengusap mulutnya dengan lengan jaket. Pertanyaan Sehun barusan terlalu personal dan terlalu mendadak.

"Luhan, kalau kau belum punya pacar. Bagaimana kalau denganku saja?" Tanya Sehun melanjutkan membuat Luhan menatapnya bingung.

"Aku tidak bercanda. Kau mau jadi pacarku?" Tanya Sehun mengulangi. Jujur saja, sebenarnya jantungnya berdegup sangat kencang sekarang. Ia takut di tolak. Tidak biasanya ia ditolak.

Luhan tidak tahu harus bagaimana. Ia bingung. Ia tidak banyak berekspresi. Ia hanya terlihat bingung lalu bangkit berdiri.

"Maaf." Ucap Luhan lalu melangkah pergi meninggalkan Sehun tanpa menjawab pertanyaannya tadi.

Sehun masih duduk di sana, ia kehabisan kata-kata. Barusan Luhan mengatakan 'maaf', Apa itu artinya ia ditolak? Luhan menolaknya? Tapi kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyanku?

"Mwo? Kau ditolak oleh Luhan? Luhan adiknya Jongin maksudmu?" Tanya Baekhyun setengah memekik kaget. Kaget karena ternyata orang yang disukai Sehun adalah adik Jongin dan kaget karena baru kali ini ia mendengar seorang Sehun ditolak oleh seseorang.

"Sebenarnya aku tidak yakin dia menolakku. Dia hanya mengatakan 'maaf' lalu pergi." Ucap Sehun lesu.

"Lalu kenapa tidak kau kejar?" Tanya Baekhyun lagi.

"Aku terlalu shock saat itu. Mengeluarkan suara saja sulit." Jawab Sehun terdengar menyesal dan kecewa.

"Ah, kau ini… seharusnya kau kejar dia dan kau tanyakan lagi. Kau sudah menelponnya?" Tanya Baekhyun menyayangkan tindakan diam Sehun.

"Aku tidak berani…" jawab Sehun tidak bersemangat.

"Apa? Tidak berani? Sejak kapan seorang Sehun menjadi lembek begini?" Tanya Baekhyun mulai gemas.

"Bukannya begitu. Aku hanya… hanya belum siap bertemu dengannya." Bantah Sehun tidak mau di sebut lembek.

"Ehem, sejak kapan kau jadi tempat curhatnya?" Tanya Chanyeol yang entah sejak kapan ada di belakang Baekhyun.

"Aku tidak menggodanya kok. Kau tenang saja." Tukas Sehun seolah bisa membaca pikiran Chanyeol yang cemburuan.

"Sehun baru saja ditolak." Ucap Baekhyun memberi tahu Chanyeol.

"Hah? Ditolak? Benarkah?" Tanya Chanyeol sama kagetnya seperti Baekhyun tadi.

"Oleh siapa? Adik Jongin itu?" Tanya Chanyeol lagi membuat Baekhyun dan Sehun menoleh heran.

"Dari mana kau tahu?" Tanya Baekhyun heran.

"Mana mungkin aku tidak tahu. Beberapa hari ini dia dengan penuh semangat dan perjuangan meminta nomor Luhan dari Jongin, kan?" jelas Chanyeol yang dibalas - oh- dari Baekhyun sementara Sehun mencelos tanpa semangat.

"Park Chanyeol, Oh Sehun. Ayo segera ke studio!" panggil salah satu make up artis pada 3 orang tadi. Dengan agak malas Sehun bangkit lalu berjalan menuju studio. Hari ini adalah jadwal pemotretan EXO untuk sebuah majalah.

"Selamat pagi." Sapa beberapa kru. Sehun membalasnya dengan anggukan tidak bersemangat.

"Sehun, kau baik-baik saja?" Tanya manager bingung melihat Sehun tidak seperti biasanya. Ia hanya mengangguk lesu.

"Pagi."

Kali ini Sehun menoleh. Ia kenal suara itu. Benar saja, itu memang Luhan.

"Luhan? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Sehun tidak percaya ia justru bertemu Luhan di sini.

"Luhan, kau sudah siap?" Tanya salah satu fotografer di sana. Luhan menoleh lalu mengangguk.

"Kau…kau Fotografernya juga?" Tanya Sehun bingung. Luhan mengangguk.

"Sehun! Ayo! " panggil Chanyeol yang sudah bersiap dengan member EXO yang lain.

Luhan tidak menjadi fotografer utama yang mengarahkan EXO. Ia mengambil foto tanpa suara seperti biasanya, tapi semua hasil fotonya memang bagus-bagus. Sehun belum mendapat kesempatan untuk mengajak Luhan bicara, Luhan masih terlalu sibuk dengan para fotografer yang lainnya.

"Ajak dia bicara." Cetus Baekhyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Sehun pelan.

"Aku juga berencana begitu. Tapi dia kelihatannya sibuk sekali." Tukas Sehun masih memikirkan cara untuk mengajak Luhan bicara.

"Ya sudah kalau begitu. Semangat kawan!" ucap Baekhyun lalu menunggalkan Sehun menghampiri Chanyeol.

.

.

"Ah sial!" umpat Sehun kesal. Ia benar-benar tidak bisa berbicara dengan Luhan tadi. Bahkan sekarang tanpa sepengetahuan dia, Luhan sudah pulang.

"Oh, Sehun!" panggil salah satu fotografer. Sehun menoleh.

"Boleh aku titip ini? Tolong berikan pada Jongin, ini milik Luhan sepertinya tertinggal." Lanjutnya menyerahkan sebuah tas kotak hitam yang berisi kamera. Sehun segera tersenyum lebar, ia mendapat sebuah ide. Dengan senang hati ia sendiri yang akan mengantarkannya pada Luhan.

"Baiklah." Balas Sehun tersenyum ramah. Ia berterimakasih pada Tuhan karena telah membukakan pintu pertolongan padanya.

"Kuserahkan padamu ya." Balas fotografer itu lalu pergi.

Sambil berjalan menuju ruang make up, Sehun penasaran dengan isi tas tersebut. Ia membukanya dan melihat sebuah kamera CANON yang pernah Luhan gunakan saat bertemu dengannya pertama kali serta sebuah notebook kecil di sebelahnya. Sehun mengambil kamera tersebut dan membuka folder fotonya. Ia terhenyak melihat begitu banyak foto di sana. Foto-foto yang bahkan ia sendiri tidak tahu kapan Luhan mengambilnya? Yap, di dalam kamera tersebut tersimpan begitu banyak foto-fotonya. Foto-foto Sehun dari awal ia bergabung dengan EXO sampai sekarang. Foto-foto yang tidak mungkin ditemukan di google ataupun social media lainnya. Jadi Luhan sudah mengenalinya sejak dulu? Sehun beralih pada notebook kecil di sana, ia mulai membukanya dan sekali lagi ia terhenyak tapi pada akhirnya ia tersenyum puas. Ia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

.

.

Luhan baru menyadari tas kecilnya tertinggal saat ia sudah hampir tiba di rumahnya. Mau tidak mau ia harus kembali ke studio dan mengambilnya sebelum ada orang yang mengetahui isinya.

Setibanya di studio, sudah tidak ada siapapun di sana. Para fotografer dan kru sudah meninggalkan studio. Dia mana tas itu? Luhan menyusuri tiap sudut studio berharap-harap cemas. Semoga belum ada yang membuka tas tersebut. Ia mencarinya ke bagian wardrobe tapi tidak ada juga. Di mana tas itu? Luhan terduduk di kursi hampir putus asa. Setengah jam mencari dan hasilnya NIHIL. Bagaimana ini? Isi tas itu sangat berarti baginya, bagaimana jika itu sampai hilang? Luhan memejamkan mata dan tertunduk, mencoba mengingat di mana ia meletakan tas tersebut.

"Mencari ini?"

Luhan tersentak lalu menoleh. Sehun berdiri di sampingnya menenteng sebuah tas kamera berwarna hitam. Dengan cepat Luhan mencoba merebutnya tapi Sehun berhasil menangkisnya.

"Eiits… tunggu dulu. Kau harus menjawab pertanyaanku terlebih dahulu. Sejak kapan kau menyukaiku?" Tanya Sehun dibarengi senyuman bahagia di wajahnya. Luhan membulatkan mata kaget, apa Sehun sudah membaca notenya?

"Kau tidak mau jawab? Baiklah, tas ini jadi milikku kalau begitu." Ucap Sehun kemudian menyadarkan Luhan yang terlihat bingung.

"Kumohon…" gumam Luhan pelan.

"Kau jawab dulu pertanyaanku." Ucap Sehun mengangkat alis. Luhan tidak menjawab, ia bingung. Tidak tahu harus berekspresi seperti apa sekarang. Gemas melihat Luhan yang tak juga mengeluarkan suara, Sehun meraih tangan Luhan dan menempelkannya di dada.

"Kau merasakan ini? Kau merasakan detak jantungku? Kau tahu seberapa cepat detaknya?" Tanya Sehun dengan segenap nyali yang cukup besar. Hanya Luhan yang membuatnya seperti ini.

"Hanya kau yang membuatku berdebar-debar dan bingung sampai rasanya hampir gila seperti ini. Kau harus bertanggungjawab, kau yang menyebabkanku jadi sperti ini." Ucap Sehun membongkar semua perasaannya. Baru kali ini dia merasakan betapa sulitnya menyatakan cinta pada seseorang.

Luhan juga hampir sama gilanya dengan Sehun, jantungnya pun berdebar hebat saat ini. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu tapi entah mengapa rasanya sulit sekali. Ia hanya sanggup menatap Sehun, berharap pria di hadapannya ini dapat membaca pikirannya dan isi hatinya.

"Luhan, apa kau menyukaiku?" Tanya Sehun pelan.

"Kumohon katakan sesuatu…. Baiklah, biar kuganti pertanyannya. Luhan, apa kau mencintaiku?" Tanya Sehun lagi, kali ini lebih penuh perasaan. Luhan memejamkan matanya, ia berusaha menyuarakan isi hatinya. Kumohon, keluarlah! Katakan sesuatu Luhan! Katakan! Gejolak hati Luhan menguat. Ia ingin lebih jujur pada perasaannya sendiri.

"I did." Jawab Luhan pelan dan susah payah. Dua kata yang sanggup menluluhkan suasana dan perasaan yang bergejolak. Sehun tidak dapat menahan dirinya lagi, dengan satu gerakan lembut ia meraih tubuh Luhan dan mendekapnya penuh kasih sayang. Perlahan ia merasakan Luhan membalas pelukannya. Semuanya terasa BENAR.

"Sehun…" panggil Luhan pelan.

"Ya?" Tanya Sehun belum melepaskan pelukannya.

"Sesak." Ucap Luhan agak tercekat membuat Sehun segera melepaskan Luhan. Saking bahagianya ia tidak sadar kalau sudah memeluk Luhan begitu erat dan lama. Luhan tampak mengatur aliran nafasnya.

"Hahahah… mian." Ucap Sehun tersenyum bahagia sekaligus konyol. Luhan mengangguk seperlunya lagi, nafasnya mulai teratur sekarang.

"Ini. Kurasa aku sudah mendapatkan apa yang kumau." Ucap Sehun mengembalikan tas kamera Luhan. Luhan mengecek isinya lalu menatap Sehun heran.

"Notenya?"

"Kusita. Lain kali jangan hanya mengungkapkan perasaanmu di dalam note. Cobalah untuk mengatakannya secara langsung." Jawab Sehun menatap Luhan lekat.

"Perlu contoh?" Tanya Sehun yang tanpa tunggu jawabab langsung mendekatkan wajahnya pada Luhan dan mengecupnya lembut.

"Saranghae." Bisik Sehun pelan lalu tersenyum memabukan.

JEPRET!

Sehun agak kaget mendengarnya, entah sejak kapan Luhan memegang kamera itu. Ia menatap Luhan bingung, tapi belum habis sampai di situ. Ia semakin kaget ketika tanpa disangka Luhan merangkulkan kedua tangannya di leher Sehun lalu mengecupnya lembut.

"Seperti contoh kan katamu?." Ucap Luhan diikuti senyuman di wajahnya. Senyum yang kembali membuat Sehun berdebar luar biasa hebat.

-END-


Di ff ini gue ga akan nambahin adegan naena yah, soalnya belum minta ijin sama empunya ff buat nambahin adegan mesum. So kalian harus puas dengan akhir ff yang begini aja… tapi semoga suka sama certanya….