Magic Invasion : The Day Begin
A Naruto Fanfic by Dekha Putri
Naruto by Masashi Kishimoto
Warning : AU! Magic Universe! London Setting! 14 years old Naruto! Typo! Miss typo! DLDR! PREQUEL
.
.
Previous Chapter :
"Ingat pesanku baik-baik, Naruto-sama. Jangan pernah gunakan regarder itu untuk sementara waktu. Jadi, berjuanglah," ujar Kabuto pada Naruto sembari mengukirkan senyum ketika melihat pemuda pirang itu ingin beranjak pergi dari ruangan ini.
Naruto yang mendengar itu mengangguk paham, "Aku tunggu segera kabar darimu, Kabuto-san. Arigatou." Ia pun langsung berlari keluar ruangan meninggalkan Kabuto yang duduk termenung di kursinya dengan banyak pertanyaan yang meneror otak pria berkacamata itu.
.
Chapter 2
.
.
Naruto kini berlari menuju lapangan utama Victoria Junior High School dengan orbis berwarna emas di tangan kanannya untuk mengikuti ujian tahap ketiga. Ia telah berhasil menemukan orbis itu dengan cepat tanpa bertemu seorang musuh pun karena dari awal ia tahu aturan main di ujian tahap kedua tadi. Namun, bukan berarti waktunya tersisa banyak, ia terlalu lama menghabiskan waktu untuk mencari jalan keluar dari hutan tadi dan menyebabkan waktunya tersisa 10 menit lagi.
Pemuda pirang itu akhirnya bisa menghembuskan nafas lega ketika ia bisa melihat siswa-siswa lain berblazer coklat sama seperti dirinya yang tengah berkumpul di tepi lapangan menunggu babak ketiga dimulai beberapa menit lagi.
"Yo, Naruto! Terima kasih ya soal tadi, coba kalau kau tak memberitahuku, mungkin aku tak dapat berdiri di sini sekarang," ujar seseorang sambil menepuk bahu pangeran pirang itu. Si empu yang ditepuk pun langsung berbalik dan menemukan Johannes yang nyengir lebar ke arahnya.
"Ah, santai saja. Kau ini seperti kita baru bertemu kemarin saja."
"Hahahaha, habis mau bagaimana lagi? Coba kalau aku tak tahu soal informasi yang kau sampaikan tadi, mungkin aku akan gugur dalam tes. Kudengar sudah ada 10 orang yang gugur loh," ujar Johannes serius.
Naruto yang mendengar itu sedikit terperangah. Wow, 10 itu bukan jumlah yang sedikit untuk ukuran siswa Victoria Junior High School yang gagal ujian. Rupanya masih banyak siswa kelas khusus magician yang bertindak tanpa berpikir ya? Gegabah sekali.
Teriukan riuh penonton mulai terdengar tatkala satu persatu lampu di tepi lapangan utama Victoria Junior High School menyala. Tempat yang semula gelap itu kini memperlihatkan para penonton yang notabenenya siswa dan guru sekolah ini yang terlihat sangat antusias di tribun.
Naruto melihat sekeliling, sepertinya tahap ketiga kali ini akan segera dimulai. Jika dipikir-pikir sepertinya memang ada beberapa siswa yang gugur saat tahap kedua tadi. Netranya menangkap Sakura dan Ino yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Sepertinya kedua gadis itu lolos, eh? Begitu pun teman Naruto yang lain seperti Thomas, Stephen, dan Harry tampak berada tak jauh darinya saat ini. Mereka berempat berpencar dan kebetulan Naruto berada dekat dengan Johannes, sepupunya yang berasal dari Kerajaan Inggris.
Seperti di aula tadi, kini Justine mengucapkan selamat kepada seluruh siswa kelas khusus magician yang telah berhasil melewati tes tahap pertama dan kedua. Didampingi oleh Kabuto, Justine saat ini menjelaskan sistem permainan tahap kedua ketika melakukan misi Finding Orbis tadi.
"Jika dilihat dari jumlah siswa yang berada di lapangan saat ini, aku memperkirakan jika 10 peserta telah gugur dalam tes tahap kedua tadi. Sayang sekali bukan? Mereka menyia-nyiakan untuk lulus sebagai magician tahun ini. Namun tak jarang pula, ada sebagian siswa yang sepertinya telah mengerti pola permainan dalam tes tahap kedua tadi dan kini berdiri di sini dengan tenang," ujar Justine sambil ekor matanya melirik ke arah Naruto.
Wajah tampan milik sang kepala sekolah itu mengukirkan senyum lebar, "Baiklah tak perlu basa-basi lagi. Aku akan segera memulai tes tahap ketiga kali ini! Dan inilah lawan battle kalian!" ujarnya semangat sembari menunjuk ke arah layar monitor besar di tengah tribun penonton.
"Karena ada beberapa siswa yang gugur, jadi kali ini hanya ada 13 battle yang akan diselenggarakan di arena. Kalian bebas memakai regarder kalian sesuka hati untuk melumpuhkan lawan kalian di sini. Siapa yang dapat berdiri sampai akhir, maka ia lah yang mendapat poin tambahan," lanjut sang kepala sekolah.
Safir milik Naruto bergulir mencari namanya dan mengetahui jika lawannya adalah seorang siswa bernama Chriz Fransisco. Naruto tak begitu dekat dengan anak itu, yang ia ingat Chriz adalah anak dari pengusaha ternama di Inggris dan ia terkenal supel di antara teman-temannya yang lain.
"Ah, lawanmu si Chriz ya Naruto?" celetuk Johannes membuat Naruto tersentak. Ia mendelik ke arah sepupunya ini karena dikagetkan.
Johannes yang melihat itu hanya bisa memasang wajah tanpa dosanya. "Hahaha, maaf. Habis aku iri denganmu. Lawanmu Chriz, sedangkan aku? Kenapa lawanku harus si Harry Potter itu?!" ujar Johannes tak terima sambil menunjuk ke arah Harry yang berada pada barisan paling depan sendiri.
Naruto yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kerivalan yang terjadi antara sepupunya ini dan sahabatnya, Harry. Mereka bahkan tak jarang saling memaki satu sama lain dan tak pernah akur selayaknya Tom and Jerry. Dasar.
"Baiklah, tanpa menunggu lagi, dengan ini aku nyatakan tahap battle dimulai!" ujar Justine semangat dan langsung disahut oleh teriakan dan sorakan keras dari tribun penonton.
Cuaca malam ini yang dingin sepertinya tak menyurutkan semangat seluruh siswa kelas 3 dan para guru untuk melihat battle kali ini. Di bawah sinar bulan purnama, ke-26 siswa kelas khusus magician ini akan memulai battle mereka.
Naruto kini berhadapan dengan Chriz Fransisco. Sosok pemuda bertubuh tinggi bersurai hitam dengan senyum menawan itu tampak tersenyum ramah ke arah Naruto. Sementara pemuda pirang itu bingung tentang apa yang harus ia lakukan saat ini, bagaimana mungkin ia bisa melawan Chriz tanpa menggunakan Regarder?
"Anu, Chriz," ujar Naruto memakai bahasa Inggris dengan nada yang ragu-ragu. Chriz yang dipanggil seperti itu tampak mengernyitkan alisnya bingung. "Kalau boleh tahu, apa tipe sihir yang ada di Regardermu?"
Chriz sedikit melirik ke arah regardernya yang berwarna merah dan kemudian menatap ke arah Naruto, "Aku punya regarder bertipe api. Kau sendiri, Naruto?"
Naruto yang ditanyai seperti itu sontak menggaruk pipinya yang tak gatal, "Entahlah, aku tak tahu pasti."
Tentu saja Chriz yang mendengar itu memandang bingung ke arah Naruto, apa maksud pemuda pirang ini? Lalu tatapan netra coklat milik Chriz bergulir ke arah regarder yang berada di lengan kiri Naruto. Hitam? Tipe regarder jenis apa itu?
Naruto yang melihat tatapan penuh tanda tanya dari Chriz hanya bisa menghela nafas, ia menoleh ke arah tribun penonton yang mulai bersorak ramai karena beberapa siswa telah memulai battle. Sepertinya ia harus menjelaskan semuanya pada pemuda bersurai hitam di depannya ini agar baik dia maupun Chriz bisa terhindar dari bahaya.
"Sihir ini bertipe Mind Controller, entahlah, aku juga kurang mengerti bagaimana cara kerja tipe sihir ini dan bagaimana efek pemakaiannya. Jadi, aku tak berani menggunakan regarder ini saat kita battle nanti karena aku khawatir baik aku ataupun kau akan terkena sesuatu yang tidak kita inginkan," jelas Naruto.
Chriz yang mendengar itu mengangguk paham. Ada sedikit rasa bahagia yang membuncah di hatinya, jika Naruto tak akan menggunakan regarder selama pertandingan battle ini berarti kesempatannya untuk menang akan lebih besar bukan? Yah, meskipun dia juga penasaran dengan tipe sihir Naruto yang unik itu. Begitulah yang ia pikirkan.
"Baiklah Naruto jika itu maumu, tapi sangat disayangkan apabila dalam battle kali ini kau tak memakai regarder. Kesempatan menangmu hanya 20% saja kemungkinan," ujar Chriz dan langsung membuat Naruto terdiam dengan pikirannya yang berkecamuk.
Chriz benar, jika ia tak menggunakan regarder, maka kesempatan untuk menang sangatlah kecil bahkan bisa tak ada. Pada akhirnya ia tak bisa membuktikan pada seluruh Kerajaan Konoha bahwa dirinya bisa. Tapi jika ia nekat menggunakan regarder maka bisa saja dia, Chriz, bahkan seluruh orang di sini akan terkena bahaya mengingat ia belum tahu resiko pemakaian regarder tipe ini.
Tidak, ia tak boleh egois. Hanya untuk kemenangannya bukan berarti Naruto harus mempertaruhkan keselamatan seluruh orang di sini. Itu bukan sifat seorang pangeran. Baiklah, Naruto sudah membulatkan tekadnya. Ia tak akan memakai regardernya dalam battle kali ini.
"Tidak apa-apa, aku sudah yakin dengan keputusanku. Ayo kita mulai battle ini, Chriz!" ujar Naruto sembari berlari menyerang pemuda bersurai hitam di depannya tersebut. Mengetahui pergerakan Naruto yang sangat cepat, Chriz tak dapat menghindar dan ia hanya bisa menangkis serangan dari pemuda pirang itu.
Teriakan penonton di tribun semakin menggema tatkala seluruh siswa kelas khusus telah memulai battle mereka. Kebanyakan dari penonton memusatkan perhatian mereka ke anggota keluarga kerajaan Inggris yang berara di area battle saat ini yakni Johannes dan Naruto. Mereka ingin tahu sehebat apa kekuatan sihir regarder yang dimiliki kedua pangeran itu.
Regarder adalah alat kecerdasan buatan penghantar gelombang kejut elektromaknetik yang bisa menghasilkan/membuat elemen alam, ia berbentuk jam tangan dan memiliki warna sesuai elemen yang terkandung di dalamnya. Cara kerja regarder sebenarnya terbilang cukup mudah, sama seperti sihir yang menggunakan mantra saat ingin menggunakannya, regarder juga memiliki mantra yang tersusun dalam buku panduan penggunaan regarder.
Pengguna regarder hanya disuruh mengucapkan kekuatan atau jurus yang mereka miliki lalu diakhiri dengan kode perintah pada regarder yang berbunyi 'Imperium'.
"Fire Ball : Imperium!" teriak Chrizz sembari mengarahkan regardernya ke arah Naruto ketika dia mulai terdesak oleh serangan bertubi pemuda pirang itu.
Naruto yang tak sempat menghindar dari serangan bola api itu langsung terpental jauh oleh dentuman bola api yang dikeluarkan regarder milik Chriz. Pangeran dari Kerajaan Konoha itu hanya bisa mengerang sakit ketika punggungnya menghantam keras permukaan tanah dan tangannya terluka akibat terkena luka bakar.
Ada raut cemas di wajah Chriz, ia mengkhawatirkan pemuda pirang yang merupakan sahabat karib dari Stephen itu. Chriz tentu saja takut setengah mati kalau sampai pangeran Kerajaan Inggris kenapa-napa akibat ulahnya. Dan pemuda itu akhirnya bisa bernafas lega ketika melihat sosok Naruto yang mulai bangkit berdiri di antara kepulan debu.
Naruto tahu jika di setiap Regarder milik magician pemula hanya disertai 3 jurus dasar sesuai dengan tipe elemen masing-masing. Jurus tersebut akan bertambah bila seorang pengguna regarder membeli jurus baru di shop menggunakan koin emas.
Koin emas tersebut didapatkan dari misi harian yang disediakan regarder tiap harinya, mungkin bisa saja dengan membantu nenek tua menyeberang jalan atau menangkap perampok. Intinya, apabila kau menjalankan misi kebaikan yang diberikan Regarder maka kau akan mendapat fee berupa koin emas tadi dan langsung akan disimpan di dompet virtual regardermu agar bisa ditukarkan dengan jurus baru bila sudah terkumpul.
Yang Naruto tahu, regarder tipe elemen api itu jurus dasarnya hanya Fire Ball (Bola Api), Fire Bullets (Peluru Api), dan Flame Burst (Semburan Api). Semua jurus itu merupakan jurus tipe penyerang jarak jauh. Satu-satunya cara untuk mengalahkan Chriz adalah ia harus melayangkan serangan jarak dekat padanya karena bagaimana pun juga pemuda itu tak memiliki tameng untuk melindungi dirinya dalam serangat jarak dekat namun di lain sisi serangan jarak dekat juga menimbulkan keuntungan tersendiri bagi Chriz.
"Sudah selesai berpikir, eh Naruto?" goda Chriz ketika melihat pangeran pirang itu yang berjalan perlahan ke arahnya. Di lihat dari gelagatnya, sepertinya Naruto akan melayangkan serangan lagi pada Chriz. Ia yang melihat itu langsung bersiap dengan kuda-kuda dan regarder miliknya.
Naruto yang mulai berlari ke arah Chrizz membuat pemuda bersurai hitam itu segera mengarahkan regardernya ke arah Naruto. "Fire Bullets : Imperium!"
Sudut bibir Naruto tertarik ke atas, rencananya berhasil. Ia yang melihat belasan peluru mengarah pada dirinya langsung menghindari benda itu dengan lihai. Chriz menatap tak percaya ke arah Naruto yang lihai bisa menghindari pelurunya, ia tak menyangka jika pangeran pirang itu memiliki ketrampilan fisik yang mumpuni mengingat dirinya hanyalah seorang hikkikomori.
"Baiklah sekali lagi, kita lihat bagaimana kau bisa menghindari yang satu ini, Naruto? Flame Burst : Imperium!" teriak Chriz dan langsung saja muncul semburan api di depannya dan melesat cepat ke arah Naruto.
Penonton di tribun yang melihat ketegangan battle antara Naruto melawan Chriz hanya bisa menggigit jari. Akankah semburan api besar itu akan mencelakai sang cucu dari Ratu Inggris tersebut? Menurut sudut pandang penonton, Chriz terlalu nekat menyerang Naruto dengan jurus seperti ini.
Sementara di sisi Naruto, ia masih melihatkan wajah tenang ketika semburan api itu sedikit lagi mengenainya. Jarak tempatnya berdiri sekarang dengan Chriz mungkin hanya sekitar 1 meter. Pemuda pirang itu dengan cekatan meluncur di bawah semburan api menahan panas dari api tersebut. Tentu saja aksi nekatnya membuat penonton dan Chriz terperangah tak percaya.
Keterkejutan Chriz itulah yang kini dimanfaatkan Naruto untuk menyerang pemuda itu. Dengan satu tendangan sekuat tenaga dari Naruto, Chriz yang sepertinya tak menyadari jika Naruto sudah berada di depannya itu langsung saja terpental sampai pembatas area dan menciptakan kepulan debu tebal.
Kabuto yang melihat aksi Naruto dari mimbar kursi VIP yang di sediakan di bawah layar monitor besar di tengah tribun itu juga sedikit terperangah. Ia tak menyangka jika kemampuan fisik Naruto bisa dikatakan lumayan meskipun tanpa menggunakan regarder.
"Cucu dari Queen Elisabeth itu sepertinya cukup berbakat ya, Mr. Kabuto," komentar Justine si kepala sekolah sambil pandangan matanya tak lepas dari Naruto.
Kabuto yang mendengar itu hanya bisa menganggukkan kepala dan mengakui kebenaran yang diucapkan oleh kepala sekolah dari Victoria Junior High School tersebut.
"Tapi sepertinya pertarungan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai, kita lihat apa yang akan dilakukan keduanya disaat waktu battle mereka kini tersisa 10 menit lagi," ujar Justine dengan sudut bibirnya tertarik ke atas ketika melihat Chriz yang mulai bangkit dan berlari menyerang Naruto.
Kedua remaja itu kini melakukan serangan satu sama lain. Baik Naruto maupun Chriz sepertinya mulai serius dan menunjukkan tekad bahwa mereka tak ada yang mau kalah dalam battle kali ini. Jual beli pukulan sepertinya tak dapat terelakkan.
"Huh, aku pasti akan mengingat hari ini dimana aku bisa mendaratkan pukulan ke anggota kerajaan Inggris tanpa perlu dikenai hukuman penjara ahahaha," gurau Chriz dengan wajah babak belur setelah ia berhasil mendaratkan pukulan di wajah Naruto.
Naruto yang mendengar penuturan Chriz sontak saja terkekeh, pemuda di depannya ini memang orang yang sangat supel ya? Bahkan di saat genting seperti ini ia masih bisa bercanda. Safir Naruto melirik ke arah monitor besar di tengah tribun penonton yang kini menunjukkan bahwa waktu battle tersisa 8 menit lagi. Ia sepertinya harus menyelesaikan ini dengan cepat agar bisa menang dari Chriz dan mendapatkan poin akhirnya.
"Bersiaplah, Chriz. Aku akan mengakhiri pertarungan kali ini dan membuatmu tak bisa berdiri lagi!"
Chriz yang mendengar itu langsung melempar senyum menantang ke arah pemuda pirang itu, "Oh ya? Kau simpan saja perkataanmu itu untuk dirimu sendiri, Naruto."
Naruto sontak mendecih tak suka, ia langsung mengarahkan tendangan dan pukulan ke arah Chriz namun pemuda itu kini semakin lihai menghindarinya. Cih, apakah sekarang arah pukulan Naruto sudah bisa dibaca oleh pemuda sipit di depannya ini?
Dengan seringai yang terpatri di wajah tampannya, Chriz mengarahkan regarder tepat ke arah Naruto. "Sayonara, Naruto."
"Fire Ball, The Flame Brust : Imperium!" teriak Chriz dan di di detik itu juga sebuah semburan bola api raksasa langsung melesat cepat ke arah Naruto dan membuat pemuda bersurai hitam itu senang bukan kepalang. Sudah dipastikan, kemenangan miliknya sekarang.
Naruto yang tak bisa lagi menghindar dari bola api raksasa di depannya hanya bisa terdiam dengan kedua matanya yang melebar. Apakah ini akhirnya? Akhir dari perjuangannya? Apakah ia akan membuat kedua orang tuanya kecewa lagi dan tidak bisa membuat Sebastian bangga?
Deg!
Tubuh Naruto tiba-tiba bergetar hebat. Sensasi apa ini? Jantungnya seolah dipompa 2 kali lebih cepat. Tidak, ia tidak bisa pasrah dan menerima kekalahannya saat ini. Tidak, ia tidak akan kalah dan ia tak kan membiarkan dirinya kalah dari siapa pun.
"Mind Protector : Imperium," gumam Naruto tanpa sadar, sesaat sebelum bola api itu menerjangnya dan meledak bersamaan dengan bunyi lonceng yang menandakan bahwa waktu tes battle kali ini telah selesai.
Justine yang puas akan pertunjukan battle para calon magician itu langsung saja berdiri dari kursinya ketika mendengar lonceng berbunyi, "Yah, pertunjukkan yang sangat menegangkan bukan begitu, Mr. Kabuto? Bagaimana pun juga meskipun sebuah perak selalu dikelilingi oleh emas, bukan berarti akan menjadikan perak itu emas dan memiliki derajat yang sama dengan emas bukan?"
Setelah mengucapkan hal tersebut, Justine Hawking segera melenggang dari mimbar dan turun ke tengah lapangan untuk memberikan ucapan selamat kepada magician yang masih bisa berdiri sampai akhir pertarungan.
Tangan Kabuto terkepal erat mengingat apa yang dikatakan Justine beberapa saat yang lalu. Matanya tak lepas dari sosok Naruto di arena battle yang kini pingsan beserta beberapa luka lecet di bagian tubuhnya. Ia bahkan masih menatap pemuda itu ketika dilarikan oleh petugas kesehatan ke ruang UKS dan semakin lama semakin kecil lalu hilang dari pandangannya.
Jujur, dalam hati Kabuto tak terima Justine menghina Putra Mahkota dari Kerajaan Konoha seperti tadi. Jika saja ia mengizinkan Naruto untuk menggunakan regarder mungkin ia bisa membungkam pria bermulut pedas itu tadi.
Tapi sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu, tugasnya kini adalah meminta klarifikasi secepatnya pada pihak Kurama Company (KC) mengenai regarder milik Naruto. Ia tak bisa membahayakan nyawa milik cucu dari Ratu Elisabeth itu lebih lama lagi. Dengan langkah yang berat hati, Kabuto pun akhirnya menyusul Justine ke lapangan untuk memberikan ucapan selamat kepada mereka yang berhasil.
Satu per satu penonton mulai meninggalkan lapangan utama setelah pertandingan battle kali ini dinyatakan selesai. Mereka tampaknya cukup puas dengan penampilan dan aksi para magician victoria itu tadi. Namun satu hal yang mengganjal di hati para penonton, apakah Naruto yang notabenenya cucu dari Ratu Elisabeth itu kini baik-baik saja? Mereka yakin bahwa kekalahan tadi membuat pangeran pirang itu kecewa bukan main.
.
.
.
Kini Sakura dan Ino tampak berjalan beriringan menuju ke dalam gedung sekolah guna melihat informasi terkait nilai ujian nasional mereka dan mendengar pengumuman lulus atau tidaknya mereka dalam tes mendapatkan regarder kali ini.
"Aku tak menyangka jika kau juga berhasil memenangkan battle tadi, Sakura," ujar Ino sambil menoleh ke arah gadis merah muda di sampingnya.
Sakura yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, "Begitu pula aku, Ino."
Namun wajah Ino tiba-tiba menyiratkan aura sendu, "Tapi Naruto...," ujarnya lirih.
Sakura yang mendengar itu juga tak bisa berbuat apa-apa. Jujur, ia juga kasihan dengan pemuda pirang itu. Namun sepertinya memang Naruto harus mengakui bahwa Chriz lebih kuat darinya. Kedua gadis itu pun terus berjalan dalam diam, sepertinya baru mereka berdua yang sudah kembali memasuki gedung sekolah.
Langkah keduanya terhenti ketika melihat sosok yang mereka yakini adalah Naruto kini berdiri membelakangi mereka sambil matanya menatap lekat sebuah papan pengumuman. Ya, pemuda pirang itu kini tengah melihat pengumuman kelulusan tes regarder tadi. Tak jauh dari tempatnya, beberapa siswa reguler tampak mulai berdatangan melihat nilai hasil ujian nasional mereka.
Pemuda itu tampak langsung berbalik tanpa berkeinginan untuk melihat nilai ujian nasionalnya. Satu hal yang ia ingin lakukan sekarang, pergi dari sekolah ini sekarang juga.
Ketika melihat sepupunya yang berjalan mendekat, sontak saja Ino langsung menghampiri dengan maksud untuk menyapanya. "Naruto, apa kau-?"
Wush
Ucapan Ino terhenti begitu saja ketika Naruto berjalan melewati gadis pirang itu tanpa melirik bahkan melihat ke arahnya. Mata aquamarine itu terus saja menatap Naruto yang baru saja melewatinya seolah-olah mereka berdua tak saling kenal dan tak memiliki ikatan. Tentu saja, Ino terkejut. Baru pertama kali ini sosok Naruto mengabaikannya dan bersikap dingin pada kakak sepupunya.
Apa yang terjadi padanya? Apa sepupu pirangnya itu tak apa?
Sakura yang melihat itu tampak melihat nanar ke arah Ino. Gadis bersurai ponytail itu pasti sakit hati diabaikan oleh Naruto. Ia pun akhirnya berinisiatif untuk mendekati sahabatnya tersebut.
"Sudahlah, Ino. Kurasa Naruto membutuhkan waktu sendiri saat ini. Jangan diambil hati ya?" ujar Sakura lembut agar gadis di depannya ini tak tersulut emosi.
Ino yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas. Mungkin Sakura benar, Naruto pasti sedang membutuhkan waktu sendiri saat ini. Ia sepertinya tak akan menganggu pemuda pirang itu dalam beberapa hari ke depan. "Kau mungkin benar, Sakura. Baiklah, ayo kita lihat pengumuman," ajak Ino sambil tersenyum ke arah sahabatnya.
Ia pun langsung menarik tangan gadis merah jambu ini untuk berlari melihat hasil ujian mereka dan lulus tidaknya mereka dalam tes regarder tadi. Sakura yang melihat itu hanya bisa tersenyum maklum, sepertinya sifat ceria Ino sudah kembali, eh?
"KYAAAAA! SAKURA AKU LULUSSS!" teriak Ino kegiarangan ketika melihat pengumuman bahwa ia telah lulus dalam tes regarder tadi. Diciumnya regarder berwarna biru di lengan kirinya dengan penuh haru. Akhirnya regarder ini menjadi miliknya secara permanen.
"Aku juga, Ino! Kyaaaa! Aku tak menyangka bahwa akhirnya aku bisa memiliki regarder! Kyaaaa!" Tak kalah bahagia dari Ino, Sakura tampak kegirangan bukan main sambil memeluk regarder berwarni biru di tangannya. Kebetulan sekali jika ia dan Ino memiliki tipe elemen yang sama kan?
Lalu mata emerald Sakura menemukan keganjalan. Di pengumuman ini tertulis bahwa Namikaze Naruto juga lulus dalam tahap regarder ini, memang sih dalam tahap terakhir poinnya nol, tapi pemuda itu mendapat poin sempurna saat tes tulis sehingga poin pemuda itu cukup untuk dinyatakan lulus.
"Hei, Ino," panggil Sakura sambil menyenggol Ino di sampingnya. Rautnya menunjukkan ekspresi kebingungan dan Ino menyadari hal itu ketika menoleh ke arahnya.
"Coba kau lihat ini," ujarnya sambil menunjuk ke nama Naruto. "Bukankah di sini tertulis bahwa Naruto dinyatakan lulus? Lalu apa maksud dari ekspresinya tadi? Ia seolah-olah berekspresi seperti tidak lulus saja," komentar Sakura sambil mengingat ekspresi Naruto tadi ketika melewatinya dan Ino.
Ino pun kini juga turut berpikir. Sakura ada benarnya, seharusnya Naruto bahagia karena dia lulus kan? Tapi kenapa pemuda pirang itu malah berekspresi seakan-akan dirinya tak tulus? Entahlah, Ino benar-benar tak habis pikir dengan sepupunya. Naruto itu terlalu rumit untuk dipahami.
"Aku sendiri juga tak mengerti, Sakura. Naruto itu memang susah ditebak dari dulu. Bahkan aku tak dapat mengetahui apa isi dibalik kepala pirangnya itu," sahut Ino dengan nada penuh kekesalan. Jujur ia masih tak terima diabaikan oleh sepupunya itu tadi.
"Ah, sudahlah. Dia itu memang aneh. Sebaiknya kita tak usah pikirkan dulu Naruto. Ayo kita lihat nilai ujian kita!" ajak Sakura yang langsung disambut anggukan oleh Ino. Keduanya pun kini berpindah ke papan pengumuman yang satunya dan saling berdesak dengan siswa lainnya.
"Kyaaa! Sakura, coba lihat ini. Ternyata nilaiku lumayan juga ya? Ah, syukurlah. Ini benar-benar membahagiakan." Ino tampak begitu bahagia saat ini. Akhirnya ia bisa bernafas lega setelah melihat nilai ujian nasional dan tes regardernya yang bisa dikatakan lumayan bagus.
Sakura yang mendengar itu hanya menanggapi Ino dengam senyuman. Ia juga cukup merasa puas dengan hasil ujian nasional yang diperolehnya. Tiba-tiba, Sakura seperti terdorong ingin mengetahui berapa nilai ujian nasional Naruto. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat nama Naruto bertengger di posisi pertama nilai ujian nasional tertinggi sesekolahan.
Mata emerald itu tak bisa untuk tak membulat sempurna. Nilai ujian nasional milik Naruto sempurna, bayangkan, nilainya sempurna! Berbeda sekali dengannya yang menduduki posisi 20 besar di sekolah ini. Entah kenapa ia sedikit kecewa mengetahui fakta bahwa peringkatnya terpaut jauh dengan si kuning menyebalkan itu.
"Ini mudah. Kita taruhan, jika misal nilai ujianku lebih tinggi darimu, maka kau harus bersedia kencan denganku."
Entah ada angin atau badai darimana, tiba-tiba sekelebat memori muncul di otaknya dan seketika membuat matanya melebar, ia terkejut bukan main. Sial, Sakura masih ingat dengan taruhannya dengan Naruto pagi tadi. Bagaimana ini? Bagaimana? Apa ia harus berkencan dengan pemuda pirang itu? Hatinya terus saja berteriak untuk menolak hal tersebut, tapi janji adalah janji. Dan Sakura tak mungkin mengingkari janji tersebut. Arggggh! Ia stress bukan main. Kebahagiannya tadi entah kenapa menguap begitu saja dan tergantikan kekesalan.
Ino yang melihat perubahan pada ekspresi yang ditunjukkan Sakura hanya bisa sweatdrop. Ada apa dengan gadis merah jambu ini? "Errr, Sakura..."
Oke fix, sahabatnya ini benar-benar cocok dengan sepupunya. Mereka berdua sama-sama orang aneh yang memiliki pola pikir rumit.
.
.
.
"Kau yakin akan pulang sekarang, Naruto?" tanya Johanness berulang kali pada saudaranya ini dan itu tentu saja membuat Naruto jengah.
Johanness yang baru saja menginjakkan kakinya di istana malam ini terkejut bukan main karena mendengar kabar dari beberapa maid bahwa Naruto akan kembali ke Jepang malam ini. Bahkan ketika ia bertanya ke Sebastian, maid pribadi sepupunya itu selama di sini, pria parubaya itu cuma bisa mengangguk pasrah. Sepertinya ia juga tak ingin Naruto meninggalkan Inggris secepat ini.
Johanness tak tahu harus bersikap bagaimana lagi untuk mencegah sepupunya ini agar tak pergi sekarang. Setenang apapun Naruto, Johanness tahu kalau pangeran pirang itu keras kepalanya minta ampun. Berulang kali remaja itu menghela nafas frustasi tak tahu harus apa.
"Sebenarnya ada apa sih Naruto sampai kau harus pulang hari ini juga? Apa kau tak ingin berpisah dengan teman-temanmu yang lain? Bahkan kita juga belum wisuda dan menerima ijazah kita. Tak seharusnya kau pulang secepat ini kan?" keluhnya pada Naruto yang sedari tadi sibuk mondar-mandir mengemasi barang-barangnya.
Kamar Naruto yang semula penuh akan barang-barangnya itu kini perlahan mulai lenggang karena barang-barang tersebut telah diambil oleh sang empunya. Johannes hanya bisa menatap sendu ke arah koper hitam besar tempat Naruto mengemasi barangnya.
Jujur Naruto sendiri bingung untuk mengatakan apa pada sepupunya ini. Ia saja bahkan tadi mengabaikan Sakura dan Ino serta belum sempat melihat nilai ujian nasionalnya. "Maaf, aku tak bisa menjelaskan hal ini padamu, Johannes."
Perasaannya campur aduk setelah ia menerima telepon dari pihak Kerajaan Konoha yang memintanya untuk pulang sekarang juga. Kalau boleh memilih, jujur Namikaze pirang itu ingin menetap di Inggris untuk sementara waktu. Ia masih tak ingin bertemu dengan orang tuanya. Bagaimana ia bisa mengatakan kalau seorang Namikaze kalah dalam tes battle? Ia pasti akan mengecewakan mereka lagi. Berada di sini seolah bisa melupakan tentang hubungannya yang sedikit renggang dengan pihak Kerajaan Konoha. Tapi ia tak bisa, tugasnya sebagai Pangeran harus mematuhi segala aturan kerajaan termasuk panggilan mendadak ini.
"Kenapa? Kenapa kau tak bisa menjelaskannya?" tuntut Johannes pada Naruto yang sedari tadi masih berdiri membelakanginya. Pemuda pirang itu tampak sudah selesai mengemasi barangnya dan langsung menurunkan kopernya dari ranjang.
Ia berbalik, dengan senyum miris Naruto pun akhirnya memberanikan diri untuk menatap langsung Johanness. Keduanya saling berdiri. Johanness bisa merasakan kegundahan hati yang dialami Naruto saat ini.
"Jujur, jika saja aku bisa memilih maka aku ingin menetap di sini selamanya. Kau tahu bagaimana hubunganku dengan keluargaku kan?" ujar Naruto retoris.
Tentu, Naruto sudah banyak bercerita perihal orang tuanya yang terikat akan peraturan kerajaan dan tak bisa memberikan hak Naruto untuk menyuarakan pendapatnya. Mereka selalu menuruti keputusan Dewan Tinggi Kerajaan tanpa memperhatikan perasaannya. Beban sebagai raja dan ratu dari sebuah kerajaan lah yang pasti menuntut paman dan bibinya untuk bersikap seperti ini pada Naruto. Johannes paham betul apa yang dirasakan sepupunya ini.
"Tapi aku tak bisa," ucap Naruto masih tetap dengan senyum mirisnya. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Sesaat setelah aku sadar di ruang UKS tadi, aku mendapat telepon dari Grandma. Ia memintaku untuk pulang sekarang juga, katanya ada urusan penting terkait Kerajaan Konoha dan pihak kerajaan menyuruhku untuk pulang."
Naruto menghelakan nafasnya. Entah kenapa ia merasa lelah untuk menceritakan semuanya pada Johannes.
"Suasana hatiku langsung kacau setelah itu apalagi ditambah fakta bahwa aku kalah melawan Chriz saat battle tadi. Entahlah, aku ingin berontak, marah, dan lainnya. Aku pun juga tak sempat melihat nilai ujianku dan hanya bisa melihat hasil tes regarder. Percayalah, aku tak ingin meninggalkan London dan aku belum siap untuk bertemu orang tuaku..."
"... di sini aku bisa merasakan rasanya hidup yang sebenarnya. Meskipun sama-sama berlatar kerajaan, di sini semua orang tidak memperlakukanku seperti boneka, aku merasa dianggap. Kau tahu, ini pertama kalinya aku berpikir bahwa tak ada buruknya untuk bersosialisasi. Aku tak menjamin jika selepas aku tiba di Jepang nanti aku menjadi hikkikomori lagi atau tidak. Aku merasa kacau."
Akhirnya Naruto bisa lega setelah mengungkapkan semua yang ia rasakan saat ini pada Johanness. Memendam perasaan sendiri memang tak baik ya? Ia bersyukur memiliki saudara-saudara yang baik, salah satunya seperti Johanness yang perhatian padanya.
Tak tahu harus apa lagi, pangeran Inggris berusia 15 tahun itu hanya bisa menundukkan kepalanya malu. Ia seharusnya tak perlu untuk menuntut Naruto agar tetap tinggal di sini. Beban sebagai pangeran mahkota yang berat seharusnya membuat ia tahu masalah apa yang dialami pemuda pirang di depannya ini.
Tapi apa yang dilakukannya? Ia justru bersikap kekanakan dengan tak mengijinkan pemuda pirang di hadapannya ini untuk pergi yang malah mungkin membuat Naruto mendapat masalah nantinya. Sungguh tindakan bodoh dan Johannes begitu malu ketika menyadarinya.
Ia tampak mengepalkan tangannya erat, menghela nafas panjang, lalu memberanikan diri menatap safir Naruto. "Naruto, maafkan aku. Sebagai seorang pangeran, tindakanku tadi sangat bodoh. Tak seharusnya aku bersikap bodoh seperti tadi dan aku juga sangat bodoh sebagai sepupu karena telah melarangmu pergi dari sini yang mungkin akan mendatangkan masalah bagimu. I'm so sorry, brother," sesal Johanness.
Seutas senyum simpul terpatri di wajah Naruto. Ia sedikit merasa bersalah dengan sepupunya karena harus memaki dirinya sendiri dengan sebutan bodoh. Tangan milik remaja berusia 14 tahun itu pun langsung menyentuh pundak Johanness seraya berkata, "Kau itu memang bodoh dan tak perlu lagi memberitahukannya padaku. Dasar sepupuku paling gila."
Johannes yang diperlakukan seperti itu tak kuasa lagi membendung air matanya. Dengan sigap, ia langsung menarik Naruto dan merangkulnya sebagai tanda perpisahan. Ia mungkin tak akan bisa melihat Naruto selama 2 - 5 tahun ke depan. Kehadiran Naruto selama 3 tahun di Inggris telah memberikannya banyak pelajaran dan kenangan berharga.
Awalnya Naruto kaget dengan rangkulan Johanness yang tiba-tiba. Namun pemuda pirang itu tersenyum maklum dan langsung menjitak helaian surai coklat milik Johanness. "Dasar cengeng! Umurmu ini berapa hah? Berhentilah menangis, Bro. Kau ini sudah bodoh, cengeng lagi," caci Naruto pada saudaranya disertai canda gurau.
Johannes yang diperlakukan seperti itu langsung saja membalas jitakan Naruto dengan menjitaknya kembali. "Yeah, I know what I'm very stupid. And you Prince Naruto? You're is very genius with your bad habbits, you know?! Damn, kenapa bisa Tuhan menganugrahkan otak encer untuk orang sepertimu heh?"
"Itu artinya Tuhan menyayangiku, Bodoh. Dan apa tadi? Kau kira aku ini orang brengsek begitu ya? Enak saja, aku ini pangeran yang terkenal akan ketampanan dan keramahannya tau!"
"Heleh, itu hanya dalam mimpimu, Bodoh. Kau jangan mengada-ada, Naruto. Anjing milik satpam sekolah saja pasti langsung menjauh melihat wajah jelekmu!" balas Johannes dengan perkataan yang tak kalah pedas.
Suasana haru antara dua orang bersaudara itu entah kenapa tiba-tiba menjadi aksi saling melempar makian dan menghujat satu sama lain.
"Sialan kau, Johannes. Jangan mentang-mentang kau ini dicintai nenek-nenek panti jompo di sebelah sekolah kau bisa sombong. Awas saja ya, nan-!"
Deg
Sensasi ini lagi. Sensasi yang sama saat ketika ia melawan Chriz tadi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhnya? Sensasi yang seakan membuat jantung Naruto berhenti berfungsi lalu memompa darahnya 2 kali lebih cepat itu langsung menghentikan makian yang ingin Naruto lontarkan pada sepupunya.
Merasakan ada kejanggalan pada diri Naruto akhirnya Johanness pun melepaskan rangkulannya pada Naruto. Betapa terkejutnya ia melihat hidung Naruto yang tiba-tiba berdarah.
"Naruto?! Apa yang terjadi? Hidungmu? Hidungmu kenapa tiba-tiba mengeluarkan darah?!" teriak Johanness histeris. Oh Tuhan, rahasia apa lagi yang disembunyikan sepupu pirangnya ini sekarang.
Mendengar itu sontak Naruto langsung menyentuh bagian hidungnya dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati cairan kental berwarna merah itu keluar dari hidungnya. Ia mimisan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhnya? Safir Naruto saat ini hanya bisa memandang tajam ke arah regarder yang terpaut manis di lengan kirinya.
Sejak ia mengenakan regarder ini, sesuatu yang aneh terus saja terjadi dengan tubuhnya. Entah benar atau tidak, feeling pemuda itu mengatakan bahwa regarder inilah yang menyebabkan semua ini. Dengan bermodal kesimpulan itu, Naruto pun akhirnya melepaskan regarder dari lengan kirinya dan memasukkan benda itu ke saku jaket yang ia kenakan.
"Eh? Untuk apa kau melepaskan regardermu, Naruto?" tanya Johanness tak mengerti seraya memberikan beberapa lembar tisu yang ia ambil dari meja di samping ranjang tidur Naruto.
"Terima kasih." Ia lalu mengelap darah yang keluar dari hidungnya, "tidak apa-apa, aku hanya menyimpannya saja," bohong Naruto pada Johan. Tak mungkin ia akan memberitahukan pasal keanehan regarder miliknya sekarang pada Johanness, rasanya kurang tepat saja suasananya.
"Terlebih dari itu, apa kau yakin kau tak apa-apa? Bagaimana bisa kau meneruskan perjalanan ke Jepang dengan keadaan seperti-"
"Naruto, what are you doing here?" Tiba-tiba pintu kamar Naruto terbuka dan memperlihatkan sang ratu Kerajaan Inggris, Queen Elisabeth yang tengah bersidekap ke arah cucu pirangnya ini. Di suruh cepat-cepat, eh anak itu justru bersantai bersama Johanness di sini.
Dan di saat seperti inilah sosok Ratu Elisabeth yang terkenal anggun dan elegan itu tampak menepuk dahinya. Ia frustasi sudah menghadapi kelakukan dua anak ini yang selalu berulah. "Oh come on, Naruto. Apa kau tak tahu jika pesawat pribadi milik Kerajaan Inggris kini sudah tiba di landasan udara istana? Cepatlah bergegas."
Mendengar itu pun Naruto langsung mengambil kopernya dan bersiap menuju landasan udara istana. Ia tak ingin merasakan jeweran ultimate milik neneknya yang bisa memberikan efek sakit sehari penuh. Rasanya jeweran milik Ratu Rlisabeth ini sama seperti jurus andalan dari Bos Game yang kerap ia mainkan. Tidak Tsunade, tidak Elisabeth, kedua nenek Naruto memang galak semua.
"Eh, tapi tunggu dulu, Naruto, Grandma!" ujar Johanness ketika melihat Naruto dan neneknya yang kini berjalan menuju landasan udara. Sepertinya ratu Inggris tersebut ingin mengantarkan Naruto sampai ke pesawat sebagai tanda perpisahan. Mungkin saja kan jika cucunya akan lama berkunjung ke sini lagi? Tentu saja ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya.
"Ada apa lagi, Johan?" tanya Elisabeth pada cucunya ini.
"Naruto, apa kau yakin baik-baik saja? Dengan keadanmu yang seperti ini, mungkin saja-"
"Sssst... jangan berisik kenapa? Kau tak perlu khawatir, aku ini tak apa. Ayolah, jangan membuatku terlambat," potong Naruto cepat sebelum Johan menyelesaikan kalimatnya. Ia tak ingin jika neneknya akan ikut curiga pasal dirinya.
Takut akan dicerca berbagai pertanyaan, pemuda pirang itu pun memutuskan untuk menuju landasan udara sekarang. "Grandma, aku ke landasan sekarang ya! Takut telat nih, lihat sudah jam 12 malam! Aku harus tiba di Jepang secepatnya, bye!"
Johan mendecih tak suka ke arah Naruto. Dasar rubah pirang keras kepala. Dikiranya ia kelewat bodoh begitu sampai tak menyadari bahwa Naruto tadi memang sengaja menghindarinya? Dasar. Akhirnya Johan bersama Queen Elisabeth berjalan menyusul Naruto ke landasan udara istana.
Kini satu per satu orang di kerajaan Inggris mengucapkan salam perpisahan pada Naruto. Mereka mengucapkan terima kasih karena sudah mau datang ke Inggris dan menyampaikan salam kepada ibunya, Kushina di Jepang. Naruto yang mendengar itu pun mengangguk paham dan akan menyampaikan salam mereka ke ibunya setelah tiba di sana.
Tak lupa pemuda pirang itu juga berpamitan pada Sebastian yang 3 tahun terakhir ini telah membantu keperluannya di Inggris. Tanpa sosok pria itu, sudah pasti jika Naruto akan kerepotan selama di sini. Perpisahan Naruto dengan anggota kerajaan Inggris berlangsung penuh haru. Mereka semua tak akan pernah melupakan Namikaze pirang yang sosoknya sudah seperti matahari itu.
Dan akhirnya, pesawat pribadi milik United Kingdom itu terbang ke Jepang membawa Naruto. Terlihat di jendela bagian penumpang, Naruto yang sedang nyengir lebar sambil melambaikan tangan mengisyaratkan kalau ia akan berpisah dengan keluarganya di Inggris ini.
Lambaian tangan itu pun langsung dibalas oleh seluruh anggota kerajaan.
"SEE YOU, PRINCE NARUTO! MISS YOU! DON'T FORGET TO SAY OUR GREETINGS TO PRINCESS KUSHINA!"
Naruto yang mendengar teriakan itu dari dalam pesawat sontak menitikkan air mata bahagia. Ia pun menganggukkan kepala semangat sebagai tanda bahwa ia tak akan lupa untuk menyampaikan salam pada ibunya.
Pesawat yang dinaiki Naruto pun akhirnya mengudara. Sosok-sosok anggota Kerajaan Inggris yang berkumpul di landasan udara istana semakin lama semakin mengecil dan akhirnya tak bisa lagi terlihat oleh safirnya. Tak apa, Naruto sungguh bahagia hari ini. Meskipun ia harus berat hati meninggalkan London, namun tak dapat dipungkiri bahwa dirinya juga senang karena akan kembali ke Jepang setelah sekian lama. Yeah, meskipun juga banyak alasan yang membuat Naruto tak ingin menginjakkan kaki di kampung halamannya tersebut.
Ia masih ingat dengan betul alasan kenapa ia bisa datang ke Inggris. Saat itu kedua orang tuanya yang tak berdaya gara-gara konflik internal kerajaan langsung menyuruh anak semata wayang mereka ini untuk pergi ke Inggris dan bersekolah di Victoria Junior High School.
Ya, semua ini dikarenakan saat itu dirinya dianggap lemah. Perlakuan pihak kerajaan yang semakin lama semakin buruk pada Naruto menyebabkan dirinya yang saat itu berusia 10 tahun menjadi hikkikomori dan mulai mengurung diri di kamar.
Ia rindu dengan sifat ramah ayah dan ibunya. Ia rindu dengan sepupunya Shikamaru, Obito nii-san, juga si judes Sasuke. Tapi ia tidak rindu dengan seluruh anggota kerajaan Konoha. Melupakan semua sikap anggota kerajaan padanya, jauh dari dalam lubuk hati Naruto sangat merindukan mereka semua.
Ia rindu Kerajaan Konoha dan Jepang. Ia rindu komputernya, ia rindu anime, ia rindu dengan manga, dan ia juga rindu dengan grup chat Keluarga Hikkikomori yang ia buat.
Dengan senyum lebar, Naruto mengepalkan tangannya erat lalu diangkat dan diarahkan ke depan badannya.
"YOSH! LUPAKAN SEMUA MASALAH, YANG PENTING AKHIRNYA AKU KEMBALI PULANG! JEPANG, TUNGGULAH KEDATANGANKU! SEMUANYA TUNGGULAH AKU, SANG PANGERAN HIKKIMORI JAJARAN OTAKU DAN GAMER KELAS ELIT DARI KERAJAAN KONOHA, NAMIKAZE NARUTO!"
.
To Be Continued
.
A/n : Halo semuanya! Kembali lagi bertemu dengan saya di chapter 2 dari Prequel fic Magic Invasion. Berhubung prequelnya sudah selesai, jadi tinggal nunggu aja nih cerita utamanya rilis. Untuk cerita utamamya sendiri saya gak bisa jamin kapan bisa publishnya hehe. Tapi berhubung saya masih mau merayakan bangkitnya saya dari hibernasi selama setahun maka saya akan mengusahakan untuk mempublishnya segera.
Chapter 3 nanti ni story udah masuk cerita utama dengan skip 2 tahun setelah kepulangan Naruto dari Inggris. Jadi, settingnya Naruto umur 16 tahun dan diterima masuk Academy Konoha karena doi udah punya regarder. Di cerita utama nanti, Naruto juga udah bisa nguasai regardernya meskipun ia jarang memakai jam itu karena beberapa alasan tertentu.
.
.
.
Akhir kata, tinggalkan kritik & saran di kolom review atau PM. Nantikan saya ya? ^-^)
