Naruto tersenyum dan segera menarik Hinata di depannya untuk membaca Pesan ke dua dari Itachi. "Hinata-chan! Mereka berdua akan ke Paris malam ini, Mereka berdua akan ke Paris"Seru Naruto senang memeluk Hinata.

"Lepaskan Pelukkanmu, Uzumaki"Neji berusaha menarik Hinata dari pelukkan Naruto.

"Yokatta, Naruto-kun"Hinata tersenyum lega sembari membalas pelukkan Naruto.

"Hoaam! Apa yang kita lakukan di sini Naruto?"Tanya Shikamaru malas, memandang sekeliling yang ramai.

"Kau terlalu berisik Naruto. Kau teriak-teriak tidak jelas"Komen Sasori, melihat adegan MTV di hadapannya.

"Kita sekarang menjadi pusat perhatian, kalian tahu"ucap Sai mencoba mengingatkan.

"MINNA!"Suara teriakan cempreng membuat mereka semua menoleh.

"Hey Imotou! Minna, Ini dia pemandu wisata kita, terbaik se-Prancis"Naruto melambai

"Bukankah dia dulu super model di Jepang, dan sekarang seorang desainer terkenal di Paris?"Bisik Temari pada Tenten.

Perempuan berambut pirang dengan style ponytail tersenyum melambai pada mereka.

"Ino-chan"Seru Hinata senang, berlari memeluk salah satu sahabatnya.

.

.

HOLIDAY

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku, Slight/ NaruHina, ShikaTema, NejiTen, SaIno

Happy reading ! Don't Like Don't Read

.

.

"Aku merindukanmu, sangat"Hinata mengeratkan pelukkannya. Ino tertawa ketika Hinata melepaskan pelukannya, Oh betapa ia merindukan sahabat yang sudah ia anggap seperti Kakaknya.

"Bagaimana kabarmu Ino-chan?"Tanya Hinata

"Aku luar biasa baik"

Untuk beberapa detik Sai mematung

Perempuan itu…

Barbie yang berpacaran dengan lelaki tukang selingkuh (yang ia terus mengumpatnya dalam hati dengan sebutan Manwhore).

Barbie dengan bahasa Inggris sungguh tidak karuan,

Barbie yang memuji gambarannya,

Barbie yang mempunyai impian yang sangat romatic,

Barbie dengan mata secerah langit biru,

Barbie yang ia pikir operasi plastik

Berbie yang ia temui di Sunset menara Eiffel

Barbie yang.. oke cukup.

"Bagaimana denganmu Hinata-chan?"Tanya Ino balik, Hinata tersenyum dan mengatakan ia baik-baik saja.

"Hai! Naruto"Ino memeluk Naruto mencium pipi kanan dan kiri Naruto bergantian.

"Ouh Neji, lama tidak berjumpa?"Ino berganti memeluk Neji dan mencium pipinya, dan Neji sedikit Shock.

"Hallo.. Ladies"Ino tersenyum ramah sambil melambai tangannya, Tenten dan Temari membalas.

"Hallo Boys,"Ino mengedipkan sebelah matanya, Sasori dan Shikamaru tersenyum Kaku.

"Ouhh.. tunggu, Sai?!"Ino dengan cepat berlari memeluk Sai dan mencium pipinya. Sai terkejut, bukan hanya dirinya. Mereka semua, darimana Ino mengenal Sai? Mata mereka saling memandang seolah saling menanyakan pertanyaan tersebut. Mencurigakan, pikir mereka.

Ino tertawa sedikit canggung, sambil menggaruk kepalanya, "Ah! Sorry, terlalu bersemangat. Budaya barat, sulit di hilangkan"Ino sedikit membunguk.

Ino mengangkat kepalanya sedikit, matanya memandangi mereka satu-satu.

Ino kembali berdiri tegak, "Mana Sasuke?"

"Ah! Sasuke-san sedikit mempunyai urusan"Hinata menjawab cepat, karena melihat teman-temannya termasuk sepupunya sendiri masih kaku dengan sikap Ino yang kental dengan budaya Barat dengan sedikit memaksa budaya Jepang.

Ino mengerjabkan matanya beberapa kali, "Huh! Syukurlah"Ino bergumam kecil menghela nafas lega.

"Ah, yah. Aku mengerti"Ino menganggukkan kepalanya sekali.

"Sayang sekali dia memang manusia Super sibuk"Lanjut Ino,

"Kaku dan juga Mr. Storm, Unpredictable"Tambahnya jujur.

"Tenang saja. Sasuke akan menyusul. Secepatnya"Ucap Hinata. Seketika itu tubuh Ino menegang dan Ino terkesiap cukup lama.

"Ino,"Panggil Naruto. Ino kembali pada alam bawah sadarnya "Ah? Yah? Apa?"

"Kau mengenal Sai?"

Ino menyerit lalu memandang Sai, "Ah! Yah! Kami kemarin bertemu di taman kompleks menara Eiffel"Ino menjawab lancar. "Benarkan Sai?"

Sai tampak gugup dengan suasana yang tiba-tiba mengintimidasi "Yeah, kemarin dengan kekasihnya"Sai tersenyum, Ino seketika murung.

"Ada apa Ino-chan?"Tanya Hinata yang menyadarinya, "Aku baru saja putus dengannya. Pagi tadi"Ino memaksakan senyumnya.

Temari dan Tenten memandang prihatin, "Aku minta maaf, aku tidak tau seharusnya ..."Ucap Hinata, Senyum Bahagia Ino kembali lagi, "Tidak apa. He lying to me. He having been bed by way his another girlfriends for 3 weeks ago"Jawab Ino,

Untuk seketika, Naruto mengerutkan keningnya, Neji menahan tawanya, Sasori berbalik berusaha meredam tawanya, Shikamaru yang berdehem, Sai yang tertawa lepas, Temari dan Tenten saling memandang berusaha menahan tawa mereka..

"Bule yang bahasa inggrisnya belepotan. Mengejutkan"Ledek Shikamaru tanpa pikir panjang

"Whooa, Jaga mulutmu Manwhore!"Balas Ino tidak mau kalah, "Simpan kata itu untuk your Exboyfriends"Shikamaru tertawa.

"Aku setuju dengan Yamanaka-san, You are ManWhore!"Ucap Temari, "Yeah! Aku rasa benar"Tenten setuju.

"Tenten? Yang benar saja? Kau berada di pihak mereka?"Shikamaru memandang Tak percaya, Tenten hanya mengangkat bahu tak perduli, "Setelah semalam? Tentu saja"Shikamaru memutar matanya bosan, Tenten tersenyum miring dan Ino tersenyum senang penuh kemenangan.

"Kalian sekarang Sahabatku! Oke. You! Aku memang tidak begitu menguasai bahasa Inggris, dan aku akui cukup berantakan.."

"Sangat berantakan"Koreksi Sai, "Thank you Sai, kau sudah mengatakannya kemarin. Aku Asli Jepang dan sekarang aku berkarir di kota Paris, dan sempat tinggal di Jepang 6 tahun, Who care? Lupakan tentang Bahasa Inggrisku, sekarang mari kita berkeliling Disneyland untuk menghibur diri sejenak"Ino kembali bersemangat, berjalan menarik Hinata, Temari dan Tenten.

Naruto terkekeh, "Sindir dia Sesukamu Shikamaru, dia kebal, Bahkan dengan sindiran Teme yang mematikan pun ia kebal, kau tahu. sedikit tidak peka, Seperti Sai. tapi kata-katanya bisa setajam Teme, Ino banyak belajar darinya"

"Aku mendengarnya"Ucap Sai tersinggung, "Ah! Seandainya aku bisa mengajak sepupuku"Sasori melemparkan tatapannya mengelilingi Disneyland.

"Sepupumu itu? Seperti apa rupanya? Aku sangat penasaran"Naruto segera berpindah di samping Sasori.

"Sebaiknya kita sambil berjalan, Para Perempuan-perempuan sudah semakin Jauh"Usul Neji, dan mereka semua berjalan menyusul.

Sasori terdiam, "Kau sudah mempunyai Hinata"Jawabnya dingin, Naruto menghela nafas. Siscon, alasan klise, kembaran Neji.

Apa yang salah dengan para sahabatnya? Itachi-pun sebenarnya sedikit Brothercomp, Hanya berharap Shikamaru bukanlah Secretarycon.

Oh ia baru ingat Tenten dengan Shikamaru juga sepupu. Kemungkinan untuk Siscon? Ada. Haruskah dia Siscon terhadap Ino? Ino bisa menjaga dirinya sendiri, ia yakin. Atau sebaiknya ia melakukannya? Ini cukup mencirikhas, persahabatan dengan karakter yang saling berbeda, tetapi memiliki sebuah sifat yang sama. SISCON. Lupakan Sasuke, Itachi lebih bersahabat. Tetapi Sasuke adalah wakil ketuanya. Terkadang ia yang memegang semua kendali. Mungkin saja Sasuke mempunyai sifat Brother complex terhadap Itachi. Hanya Kami-sama yang tahu.

"Shikamaru tanyakan padanya. Kau juga penasaran bukan dengan sepupunya yang selalu ia khawatirkan itu?"Shikamaru baru saja membuka mulutnya untuk bersuara, tapi Sasori sudah menyelanya "Kau sudah mempunyai Ms. Bercepol empat"Naruto memandang bingung. Bagus, seperti dugaannya ada sesuatu yang ia lewatkan, sesuatu yang menarik jika di ketahui.

Shikamaru mendengus kesal, "Jaga Mulutmu, Beruang merah"Shikamaru meniru kata-kata Temari.

"Sialan Kau Shikamaru, Tn. Mendokusai"Balas Sasori, "Hentikan, kalian seperti Remaja yang baru saja mengalami mimpi basah dan saling mengejek"Komentar Sai dengan wajah tanpa dosa miliknya.

"Sai,"Neji menghela Nafas. Sai terlalu polos, tetapi kata-kata yang dikeluarkannya bukanlah seperti orang yang polos.

"Kau ceritakan saja bagaimana kau bisa bertemu dan mengenal Ino. kau tahu kami Sedikit bertanya-tanya"Dan pembicaraan teralih pada cerita Sai bertemu Ino, dan Sai menceritakan Seluruhnya. Juga dugaannya tentang Mantan Ino yang berperilaku seperti peselingkuh playboy kelas kakap yang mempunyai tampang lelaki pengoleksi majalah Playboy ataupun penthouse dan Naruto Mengatakan kalau mereka berdua Cocok, karena sama-sama tidak peka dan terbiasa dengan kata-kata vulgar. Setelah itu Naruto izin ke toilet, karena ia mendapat telepon dari saudaranya.


"Kita kemana?"Tanya Sasuke, lagi. Sakura memandang malas, "Terserah padamu"Jawab Sakura

"Padaku?"Tanya Sasuke meyakinkan, "Yah, terserah padamu"

"Usulku? kita pulang"Jawab Sasuke, "Apa? Kita hanya ke Colosseum dan kau menghancurkan kebahagian pertamanya"Sakura memandang tidak terima. Sasuke menghela Nafas, "Kau masih mempunyai perjanjian denganku sewaktu di atas pesawat, ingat"

Sakura menegang, "Kau ikut bersamaku ke Italy. Menurutlah jika kau tidak ingin dalam masalah. Hanya 4 hari. Setelah itu ikut mereka ke Paris. Paham?" Tentu saja Sakura mengingatnya jelas. Ini hari ke empat mereka di Italy dan sebentar malam mereka akan ke Paris. Berarti mereka sudah tidak akan berada sedekat ini lagi, dalam batinnya ia senang dan sedih.

Sakura tersenyum, "Tidak! Aku akan melapornya pada Ka-san", Sasuke mendengus "Laporkan saja Sesukamu"

Sakura tersenyum penuh kemenangan, Hanya kesempatan ini biarkan dia menikmati liburannya di Italy dan Control atas Sasuke, kapanlagi?

Sasuke POV

Oke, ia memainkan kartu keberuntungannya. Madre dan Tou-san, orang yang sangat ku hargai dan ku jaga perasaan mereka.

"Kita Ke Vatican"Ucapku memutuskan, Sakura menoleh tak percaya. "Apa?"Tanyanya

"Kita Ke Vatican, Tapi hanya sebentar. Kau bawa passport-mu kan?"Ulangku, ia sangat terkejut dengan putusanku. Tapi, ia mengangguk senang.

Aku sedikit menghela nafas, Apa alasanku membawa Sakura ikut denganku Ke Venice waktu itu? Yah alasan Klasik, yang bisa aku buat list alasannya. Tetapi secara garis besar.

Pertama, aku ingin mempunyai pasangan saat datang ke pesta Shion. Karena aku mempunyai firasat (sangat kuat) tentang perempuan-perempuan genit bersuami akan menggangguku.

Kedua, di pesta bisnis kau selalu ditanya tentang siapa pasangan mu datang, jika kau mengatakan kau sendirian, aku yakin para wanita lajang maupun bersuami mulai menggossipi dirimu.

Ketiga, memberinya (Sakura) pelajaran atas kejadian pertama kali kita bertemu. Kakashi pernah menanyakan itu dan aku menjawabnya seluruh listku tetapi versi lengkapnnya.

Tapi rencanaku sedikit berubah ketika Sakura menghilang, dan aku tidak ingat lagi alasan itu ketika melihat Sakura berdansa dengan Garaa dan Madre yang salah paham.

Aku kembali menghela nafas, semakin aku cepat ke Paris semakin bagus. Aku sudah terjebak dalam rencana dan permainanku sendiri, jika aku segera ke Paris Aku akan mempunyai jarak dengan Sakura, berdekatan dengan Sakura membuat aku tidak terkontrol seperti bukan diriku yang seharusnya. Sakura telah masuk terlalu dalam, dan sebelum itu aku harus mengeluarkannya perlahan. Semoga saja tidak ada masalah di Paris nanti.

kini aku memilih mengantar Sakura jalan-jalan daripada berdiam di dalam rumah. Ini satu-satunya alasan aku bisa keluar dari rumah dan menghindari dengan berbagai pertanyaan macam-macam serta kemungkinan-kemungkinan yang akan membuatku kembali terkagum dengan takdir (rencana) Tuhan.

"Dan setelah nanti kita berada di atas pesawat, kata 'Aku akan melaporkannya pada Ka-san' tidak akan berguna"Aku mencoba memperingatinya bahwa aku masih memegang kendali, dan jawabannya cukup membuatku memutar mataku bosan. Sakura menaikkan kedua bahunya tak perduli,

Tcih! Dasar keras kepala.

Sasuke POV end


Itachi mendengarkan dengan seksama rapat dengan para direksi di Uchiha Entertainer.

"Untuk siaran berita, UChannel tetap berada dirating pertama selama 4 bulan"Itachi tersenyum mendengar hasil kerja direksi bagian berita.

"Drama sinetron episode yang kita tayangkan 2 minggu lalu sekarang menempati TOP rank, dan segera kami akan mengeluarkan Drama terbaru untuk mengisi Drama sinetron yang akan habis"Itachi tersenyum puas.

"Artis –Penyayi baru yang naik daun tertarik dengan agenci Uchiha Entertainer dan bulan depan kami berencana untuk mencoba berkerjasama dengan penyayi Mei Terumi"Itachi mengangguk.

"Majalah bulan ini mendapat banyak respon yang baik dari para pembaca. Rancangan terbaru UCboutique sudah keluar, dan mereka akan mengantarkannya segera dalam 2 minggu. Tapi, Kita mempunyai sedikit masalah dengan Modelnya"Ucap perwakilan dari direksi Redaksi, model dan tabloid (Promosi).

"Apa?"Tanya Itachi dengan nada sedikit membentak.

"Maaf Uchiha-sama, tapi ada beberapa hal yang tertunda"Itachi mengerutkan keningnya mendengar jawaban darinya seakan tidak puas.

Perempuan itu –perwakilan direksi model, berdiri dan menyerahkan beberapa dokumen. Itachi membukannya.

"Pemotretan untuk rancangan terbaru ditunda, karena Model kita Haruno-san.." Itachi menarik nafas,

"Coba kau ulangi Siapa?"Tanyanya, "Haruno-san, belum datang lagi akhir ini. Padahal untuk pemotretan rancangan bulan depan Haruno-san sudah menandatangani kontrak menjadi model utamanya. Haruno-san menghilang sejak hampir 4 hari yang lalu, semenjak .."Perempuan itu terdiam menyampaikan laporannya.

"Semenjak?"

"Maafkan saya tuan, bukan saya menuduh tetapi, semenjak Uchiha-sama, adik anda datang dan .."

"Aku tahu, Ck. Kuso!"Itachi memotong cepat

"Kita bisa urus itu, aku akan mencoba menghubungi langsung Haruno terkait kontrak pemotretan rancangan bulan depan. Undur saja dulu 2 minggu kedepan. Oke, Selanjutnya bagian team creative program."Itachi menghela nafasnya.

Itachi tidak begitu memperhatikan penjelasan dan sibuk melamun ketika getaran handphonenya membuatnya sadar dan segera melihat handphone miliknya. "Ka-san calling" dengan segera ia menghentikan meminta waktu 5 menit.

"Ka-san? Ada apa menelpon?"Tanya Itachi

"Ka-san Ingin meminta bantuanmu, Sasuke akan kembali ke Paris malam ini. Bisa kau suruh Suigetsu ke Paris untuk memantau Sasuke"Itachi tersenyum, yah kali ini secara langsung. Itachi pastikan.

"Tentu saja, apa yang tidak buat Ka-san dan Sasuke"Itachi mematikan teleponnya dan segera menghubungi Suigetsu secepatnya.

"Hallo.. Sui, Kemasi barang-barang mu Boy, Aku ingin kau ke Paris sekarang"Ucap Itachi tanpa basa-basi.


(Paris Side)

Mereka baru saja selesai memasuki wahana terakhir dan bergegas untuk kembali kembali ke hotel.

Naruto terus berkelahi dengan Ino tentang sesuatu yang tidak jelas. Sai terlihat terus memandangi Ino. Shikamaru dan Neji jalan berdua entah membicarakan hal apa, Temari dan Tenten jalan berdua sambil bercanda hanya Hinata yang tersenyum melihat tingkah Naruto dan Ino, dan Sasori yang melamun.

"Kau tampak Tidak begitu semangat"Sasori berbicara tepat di samping Hinata, Hinata berbalik tersenyum.

"Aku sangat senang"jawab Hinata berusaha tersenyum, "Kau tidak pandai berbohong Hinata"Ucap Sasori, Hinata terdiam membiarkan semuanya melewatinya meninggalkan dirinya dan Sasori berjalan kecil menyusul dari belakang.

Hinata memperhatikan boot yang dikenakannya, "Seharusnya, Sahabatku berada di sini bersamaku"Hinata menghela nafas. Sasori menunggu Hinata menyelesaikan ceritanya.

"Ia seharusnya ikut denganku berlibur di Paris, cuman sesuatu hal terjadi dan Sasuke membawanya entah kemana. Tapi, aku sedikit lega karena Naruto mendapat kabar bahwa Sasuke dengan Sahabatku itu akan tiba disini besok"Hinata tersenyum.

"Ia pasti sahabat terbaikmu"Sasori mengomentari, "Sejujurnya aku juga sedang mengkhawatirkan sepupuku yang hilang entah kemana. Aku terus memikirkan keberadaannya 3 hari ini. Sepupu kami yang menjaganya mengatakan bahwa ada seorang lelaki yang mengaku tunangannya datang dan mengemasi pakaiannya dan setelah itu Sepupuku belum pulang kerumah. Aku takut kalau ternyata lelaki itu ingin berbuat jahat padanya. Ia gadis yang jujur, ia mengatakan kalau ia belum punya kekasih. Jadi aku curiga dengan lelaki itu. Tetapi kalau memang benar ia tunangan sepupuku kenapa ia menyembunyikannya, apa yang terjadi? Kenapa mereka harus sembunyi-sembunyi"Sasori menceritakan semuanya pada Hinata.

"Aku turut sedih tentang sepupumu. Aku harap ia segera pulang. Tapi Sasori-san tidak berfikiran macam-macam tentang sepupumu itu kan?"Tanya Hinata

"Aku berusaha untuk tidak memikirkan hal tidak-tidak, bagaimana kalau sepupuku itu di culik? Di bunuh? Di sembunyikan? Di sekap? Atau nikah siri dan tengah hamil anak lelaki itu, aku punya banyak spekulasi,"Sasori membayangkan.

Hinata bergeridik tentang pemikiran Sasori.

"Jika aku bertemu dengan lelaki yang mengaku tunangan atau benaran tunangan Sepupuku, aku akan menghajarnya dengan tongkat golf. Seperti waktu itu Sasuke menghantam 'anu'nya Naruto, karena masuk ke rumahnya tanpa izin"Cam Sasori, Hinata membulatkan matanya menarik nafas. Sasori ternyata bisa jahat seperti Sasuke, Pikir Hinata bergeridik.


Sasuke mengatakan mereka tidak akan ke Monte Mario. Sakura cukup merasa kecewa, setelah mendengar dari ayah Sasuke kalau di sana adalah tempat yang bagus untuk melihat Kota Roma pada malam hari.

"Kita langsung pulang"Putus Sasuke telak, Sakura menarik nafas kesal.

"Sungguh?"Sakura membanting punggungnya menyender di kursi mobil. Sasuke mengendikkan bahunya tanda tidak perduli. "Kita sudah dari Vatikan tadi". Sakura menutup matanya berusaha menahan kesalnya.

"Yaa ya, kita ke Vatikan. Tapi, aku sama sekali tidak mengerti kita kemana? Kau sama sekali tidak memberitahu apa nama tempatnya"Tuntut Sakura, Sasuke menaikkan alisnya satu. Yup, Sasuke tidak mengatakannya.

Mengingat, apa ia tadi memberitahu Sakura tempat-tempat yang mereka yang kunjungi? Sepertinya memang tidak, tapi bukankah tulisan di tempat-tempat itu sedikit menjelaskan atau setidaknya memberitahukan secara jelas nama tempat yang mereka datangi.

"Tempat pertama yang kita datangi Basilica S Pietro itu adalah gereja katolik terbesar di sana di atas kubahnya kita dapat menikmati pemandangan Kota Vatikan dan Roma, kedua Musei Vatikani dan Sistine Chapel di sana banyak sekali hasil seni dari seniman besar contohnya Michelangelo dengan karya terbesarnya "Creation Of Adam dan The last Judgement" dan tangga berbentuk spiral yang kita lewati sewaktu keluar itu hasil rancangan Giuspepe Momo pada tahun 1932 dan menjadi ikon tersendiri di sana"Jelas Sasuke.

"Sayang sekali, sangat terlambat aku ketahui"

"Aku bukan pemandu wisatamu, aku kira matamu cukup bagus untuk membaca tulisan-tulisan yang berada di sana"Sindir Sasuke, Sakura menatapnya tajam lalu membuang pandangannya keluar Jendela mobil.

"Mereka bahkan membuat dalam 3 bahasa. Jangan bilang kalau kau hanya mengetahui bahasa Jepang?"Sakura menaikkan alisnya satu menatap Sasuke. "Aku tahu. Bahasa Inggris. Itu cukup. Bahasa Jepang saja sudah banyak kata ini dan itu, kau ingin meledekku atau .."Sakura diam memincingkan matanya kearah luar jendela Sasuke.

"STOP!"Teriaknya keras. Sasuke kaget dan segera menghentikan mobil cepat.

Sakura tertawa keras sambil menepuk tangannya, Sasuke berfikir Sakura mulai stress. "Hahaha! Tentu Saja! Kenapa aku bisa melupakannya"Sakura melepas sabuk pengamannya. Suara klakson mobil dari belakang mencoba mengingatkan kalau mereka bukan berada di jalan pribadi mereka.

"Apa yang kau lakukan pinkie?"Teriak Sasuke marah, "Buka pintunya Uchiha"Sakura berusaha membuka pintu mobil. Sasuke segera menjalankan mobil kembali saat suara klakson di belakang sudah sangat tidak sabaran.

"BERHENTI UCHIHA! JANGAN MEMBUNUH KESENANGANKU!"Seru Sakura, Untuk Sesaat Sasuke membeku, Sakura marah seperti medusa.

Sasuke mendengus kasar, "Kita menepi"Sasuke menepikan mobilnya cepat. Mobil di belakangnya segera melaju sambil membuka kaca dan berteriak-teriak dalam bahasa Italia yang tidak dimengerti Sakura.

"Apa yang kau lakukan, BODOH!"Seru Sasuke, Sakura berusaha membuka pintu mobil.

"Buka, Uchiha!"Seru Sakura, Sasuke tidak bergeming. "KU BILANG BUKA PINTUNYA"Sakura mendelik kasar dan berteriak. Sasuke tetap tidak bergeming. Sakura berusaha membuka pintu mobil.

Sasuke menatap Sakura tanpa berkedip, "Jangan membuatku menghancurkan kaca mobilmu Uchiha. Aku tidak main-main"Ancam Sakura.

Sasuke mendekatkan tubuhnya ke Sakura, Sakura merapat ke pintu dengan tangan berusaha membuka pintu mobil "Dan aku juga tidak main-main untuk meninggalkanmu jika berani selangkah kau keluar dari mobil ini. Karir keartisanmu akan hancur karena kau tidak bisa kembali ke Jepang"Ancam balik Sasuke. Sakura menghentikan aksinya, matanya yang memandang Sasuke kini menutup menahan tangisnya.

"Kenapa kau begitu kejam. Aku hanya ingin menikmati liburanku di Roma, sewaktu kau melarangku keluar menikmati Venice aku hanya diam. Untunglah aku bertemu dengan Garaa-kun yang baik hati mau menemaniku .." Oh, Apa Sakura lupa? Ia memberikan ijin, bersama Jugo dan bukan begitu jalan ceritanya.

"Siapa?"Tanya Sasuke bingung, Sakura mengelap air matanya, "Garaa-kun"Jawabnya pelan.

"Sial! Kau tidak tau apa-apa Sakura, Garaa tidak sebaik yang kau kira"Sasuke menjelaskan, Sakura menggeleng.

"Garaa-kun tidak seburuk ucapanmu, ia baik, ia mau menemaniku keliling Venice bercerita banyak tentang sejarah disana, mengajakku berkeliling bangunan dan wisata makan, tidak sepertimu, tempat yang ingin ku kunjungi kau hancurkan moodku disana. Sewaktu di Vatikan kita hanya berkeliling dan kau sama sekali tidak memberitahuku tentang tempat apa itu dan baru memberitahuku tadi!"Sakura berbicara dengan nada memojokkan.

"Kau tidak tau apa-apa. Aku ingatkan"Bunyi suara kunci pintu terbuka otomatis terdengar dan Sakura segera melangkah keluar dari mobil meninggalkan Sasuke sendiri.

"Kau tidak tau tentang apa-apa Sakura, Kau tidak tau bagaimana dia sebenarnya, apa yang telah di perbuatnya. Kau tidak tahu"Ucap Sasuke. Ia melajukan mobilnya mencari tempat untuk di parkirkan.


Ino terus memandangi mereka makan malam.

"Kau yakin Ino-chan, wine cukup untuk makan malammu?"Tanya Hinata. Semua mengangguk setuju. Ino menghela nafas sambil tersenyum. "Yah, tenang saja. Semenjak mereka mengubah ukuran nomor 2 menjadi 4 atau 0 menjadi 2 semuanya berdiet untuk tetap pada ukuran"Ino menyesap anggurnya.

"Kau desainer Ino, bukan model lagi"Naruto memperingatkan, "Tubuhmu sudah cukup sempurna. Seperti barbie. Bagaimana jika kau lebih kurus lagi? Angin akan menerbangkanmu dalam sekali hembusan, lagipula makan itu kewajiban. Lucu Ino"lanjutnya.

Ino mengerang meletakkan winenya, "Okey, kau benar dan aku lapar. Salad please"Ucap Ino. Naruto menggeleng "Salad tidak cukup" Naruto menyeringai "Steak?"Sarannya. Wajah Ino berubah, "NOOOOOOOO! I am veget. Jangan memaksaku"Ino berfikir jijik. Semuanya tertawa melihat ekspresi panic, bingung, dan kesal Ino tercetak jelas di wajahnya.

Ino mendengus, ia berbisik pada Hinata di sebelahnya. Hinata tersenyum sumingrah. Ino mengedipkan matanya ke arah Naruto. "Everyone!"Ino berdiri, "Besok aku akan mengadakan Fashion show untuk musim ini, pukul 7. Naruto tau tempatnya, So.. Dress code akan aku katakan esok, come and join!"Seru Ino


Sasuke keluar dari mobilnya dan segera mencari Sakura yang entah kemana. Suara dering ponselnya membuatnya tersentak. Tanpa melihat siapa yang menelpon Sasuke segera menjawab sambil terus mencari Sakura.

"My Ototou, kau terlalu sibuk berlibur dengan Nona Haruno sampai melupakankku. Aku merindukanmu. Kau jahat!"Sasuke menutup matanya pasrah dan melihat layar ponselnya 'Baka Aniki' Sasuke menyesali perbuatannya yang tidak melihat siapa yang menelponnya terlebih dahulu. Ingatkan dirinya untuk membuat dering khusus untuk manusia yang satu ini.

"Hn, apa maumu?"Sasuke kembali menempelkan ponselnya ke telinga. Dengusan Itachi terdengar keras. "Kau memang tidak suka basa-basi. Aku ingin bilang, aku pernah mengatakanmu membawa Haruno selama yang kau perlukan. Tetapi, ternyata aku lupa bahwa ia menjadi model utama untuk rancangan UCbotique bulan depan. Kau ingat itu tugasku, Promosi"

Sasuke berjalan dan menyadari mereka ada di Trevi dekat Fontana, mungkin itu sebabnya Sakura memaksa ingin turun dari mobil. "Ck!"desisnya, Perempuan. Ah, yah Mitos. Mereka mempercayainya.

"Sungguh? Hanya itu rekasimu. Kau menyesalinya?"Itachi mendengus tak percaya.

"Oke?, Jadi?"Sasuke berlari segera mencari Sakura.

"Jadi? Sasuke. Ck, Jadi aku ingin bilang kalau jagalah modelku itu baik-baik, jangan biarkan ia pulang dengan kekekurangan ataupun sesuatu yang menghilangi imagenya, kalau bisa kau pulangkan saja ia sekarang"Tukas Itachi, Sasuke menyerit mendengar permintaan kakaknya dan melihat Fontana sangat ramai oleh turis-turis dan warga local.

"Sial! Bukan, maksudku, aku belum selesai dengannya. Lagipula Uchiha Entertaint masih milik Uchiha Corporation kan? Dan aku menjabat sebagai CEO alias direktur utamanya"Jawab Sasuke sambil mengedarkan matanya mencari Sakura. Fontana sangat ramai.

"Dalam silsilah keluarga aku tetap yang tertua. Kau harus mendengar ucapanku, adik kecil"Sasuke menghela nafas.

"Kalau begitu, naiklah sebagai direktur utama"Sasuke memberikan tawaran menarik. Itachi tertawa. Dan Sasuke menghela nafas lega ketika melihat Sakura berdiri tak Jauh dengannya sedang menatap takjub Trevi Fountain.

"Sungguh, Aku begitu mudahnya mendapat jabatan sebagai CEO di pusat? Tentu saja aku menolaknya. Aku tidak mau menukar hidupku dengan jabatan menyebalkan itu"Sasuke mendengus tetap pada tempatnya berdiri, tidak ingin menganggu Sakura.

"Kau menghancurkan masa mudaku aniki"

"Kau yang memilih"Itachi turut prihatin,

"Aku tidak punya pilihan lain"Sasuke menghela nafas

"Masih berharap kau bukanlah keturunan Uchiha?"Itachi tertawa, "Jangan mengungkitnya. Tapi Well, terkadang"Sasuke tersenyum mengingatnya.

"Sayang sekali, DNA mengatakan kau adalah benar-benar darah Uchiha"Sasuke tertawa, ia memang waktu itu menggunakan kesempatan Tou-sannya sakit untuk mengambil DNA ayahnya dan di cocokkan dengan miliknya. Hasilnya benar-benar membuat Sasuke ingin menangisi nasibnya, 99,9 % cocok. Itachi mengetahuinya dan tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana ekspresi Sasuke saat itu. Mungkin ekspresi wajar seorang anak yang melakukan tes DNA adalah 'Terima kasih tuhan. aku anak mereka', tapi ekspresi Sasuke adalah 'Ya tuhan, aku benar anak mereka'. Sampai saat ini tidak ada yang mengetahuinya kejadian itu kecuali, Itachi, suster yang mengambil DNA ayahnya dan Kami-sama.

Sasuke menatap langit malam diatasnya.

"Seperti Moto kita berdua, yang terjadi sekarang jangan coba untuk menghindarinya dan berusaha untuk menyelesaikannya. Dan cara kita menyelesaikannya merancang masa depan dan takdir"Ucap Itachi.

"Jangan membuatku tertawa aniki, itu prinsipku. Bukan kita berdua, kau melarikan diri dari takdirmu. Seharusnya kaulah penerus UCrop"

"Itulah sebabnya aku menambah kata takdir di akhirnya. Cara kita menyelesaikannya mengubah takdir. Maaf adik kecil, kau lebih pantas dengan jabatan itu. Kau terlihat lebih sexy"Sasuke mendengus mendengarnya.

"Aku akan menjaganya sampai kembali ke Jepang, kau tenang saja"Itachi tertawa lalu Sasuke mematikan teleponnya. Tentu saja, Kepala divisi Narkotika di Osaka. Jangan membuatnya tertawa. Sasuke masih ingin melihat dunia. Dan mati dengan peluru di kepala, bukan cara yang bagus mengakhiri hidup. Ia melangkah mendekati Sakura.

"Kau membutuhkan ini"Sasuke sebuah menawarkan koin pada Sakura. Sakura tersentak kaget melihat Sasuke sudah berdiri di belakangnya sambil menyodorkan koin 50 yen.

"Tenang saja, mereka menerima segala macam koin, termasuk ini. Jika kau mengkhawatirkannya"

"Yah, Arigatou Uchiha-san"Sakura mengambilnya gugup, Sasuke memperhatikan Sakura yang menunduk. "Aa, aku akan melemparkannya"Sakura berjalan mendekati air mancur.

Greeb

Sakura tersentak kaget, Kedua tangan Sakura di genggam dari belakang. Dada bidang seseorang menempel pada punggungnya.

"Caramu salah, biarkan aku membantumu"Ucap Sasuke dari belakang, Sakura membuka kedua matanya yang terpejam. Sasuke dengan pelan menuntun tubuh Sakura berbalik membelakangi air mancur.

"Uchiha-san"Panggil Sakura pelan, "Kau gugup?"Tanya Sasuke menggoda.

"Ap- Apa? Tentu saja tidak!"Sakura mencoba menstabilkan nafasnya yang memburu dan jantungnya yang berdetak keras tanpa di suruhnya.

"Baiklah, hitungan ke- 3 kita lemparkan bersama-sama"

"Satu"

"dua"

"tiga" Sakura melemparkan koin itu di bantu dengan Sasuke di belakangnya. Mereka berdua berbalik melihat koin itu masuk atau tidak.

'plup'

Sasuke tersenyum melihat kolam itu masuk dengan sempurna ke tengah kolam air mancur.

"Mereka bilang, kalau koin yang kau lemparkan masuk ke dalam kolam berarti kau akan kembali lagi kesini. Roma, Italy. Dan aku yakin saat kau kembali lagi kesini kau di temani oleh orang yang akan bersedia mengantarkanmu keliling Roma dan Venice, mungkin.. semacam….. private tour atau.."Ucapan Sasuke berhenti meyadari Sakura mencengkram jaket belakangnya erat.

"Gomenasai"Suara Sakura terdengar parau, "Jangan berbalik"Sakura memperingatkan.

"Aku salah, Aku seharusnya mengucapkan Terima kasih, Kau sudah mau menemaniku mengunjungi beberapa tempat di Roma dan Vatikan. tapi aku malah membandingkanmu dengan Garaa-kun"Sasuke menggertakkan giginya mendengar nama Garaa kembali di sebut. Sakura melingkarkan kedua tangannya di perut Sasuke, memeluknya. Sasuke membulatkan matanya.

"Ku mohon, sebentar saja. Aku tahu kau mempunyai alasan kenapa membencinya, dan aku mempunyai alasan kenapa aku menyukainya"Sakura membenci jantungnya yang berdetak lebih kencang setiap detiknya. Tapi ia menyukai perasaan nyaman saat Sasuke memeluknya ataupun dirinya memeluk Sasuke.

Untuk sesaat Sasuke hanya melamun memikirkan alasan mengapa ia membenci Garaa. Alasan yang hanya di ketahuinya, Shion, Ino, Hinata, dan Matsuri. Alasan yang di pikirkan oleh anak remaja labil yang baru memasuki puberti.

"Kita pulang"Putus Sasuke, "ini sudah malam dan ijin penerbangan tepat tengah malam nanti"Sakura hanya melepaskan pelukannya tetapi tidak memberikan ruang di antara mereka berdua. "Kalau kau merasa malu, aku bisa berjalan lebih dulu dan menunjukan dimana mobilnya"Usul Sasuke.

"Aku tidak malu"Sakura mundur beberapa langkah, "Ckckck, kau sama sekali tidak mempunyai malu memeluk seorang lelaki dari belakang dan di tonton banyak orang"Sakura memandang sekeliling, hampir semua orang yang berada di sana menontonnya dengan Sasuke. Turis dan warga local sambil memberikan senyuman menggoda yang menyebalkan.

"Dimana Sopan santunmu kepada Perempuan?"Sakura berbalik membelakangi Sasuke.

"Sekarang wajahku memerah"Sakura bergumam cukup besar dan dapat didengar jelas Sasuke.

"Tunggu apa lagi? Aku jalan lebih dulu. Kau arahkan saja di mana mobilnya dari belakang"Sakura berjalan dengan kecepatan yang hampir sama dengan orang berlari, dan Sasuke tertawa melihat tingkah Sakura dari belakang.

"Ingin memakan gelato? Es krim? Aku tahu tempat yang jual ice cream yang enak dekat sini"Langkah Sakura terhenti mendengar Ucapan Sasuke. Sasuke tersenyum, melihat Sakura berbalik dengan mata yang berbinar berseri-seri.

"Lewat sini. semoga ice cream itu bisa mendinginkan wajahmu. Serius, Warnanya hampir sama dengan warna rambutmu, setelah itu kita bisa minum Cappucino hangat. Aku tidak ingin madre memarahiku karena memberimu es krim malam-malam"Sasuke berjalan mendahului Sakura. Detik berikutnya Sakura menyusul dengan upaya pembelaan diri.


Ino memandangi langit langit kamarnya.

Memikirkan acara Fashionnya, tentu saja. Acara ini sudah di rancang sejak 6 bulan yang lalu dan di persiapkan dengan matang. Acara Fashionnya ini usul sepupunya Naruto waktu itu, dan Acara Fashionnya ini khusus untuk rencana Naruto. Awalnya semua berjalan dengan lancar, Naruto akan datang dan melihat acara ini, Sendiri. Namun sejak 5 hari yang lalu, Naruto memberi kabar bahwa ia akan datang sekalian berlibur ke Paris untuk beberapa hari kedepan. Apalagi dengan informasi tambahan, teman-temannya juga ikut. rasanya waktunya tidak pas. Yang lainnya tentu tak masalah, Tapi Sasuke dan Hinata. Hoah! It's a big Trouble. Cukup beruntung Ino tidak melihat Sasuke, belum. Dan ini cukup fantastic jika Sasuke berada di acara Fashionnya Besok. Seperti kata Hinata, Secepatnya.

Berharap saja Sasuke tidak secepat yang di katakan Hinata. Kalaupun iya, Sasuke harus mengerti, Bussines is Bussines. Acara ini umum dan jangan melibatkan urusan pribadi. Acara ini di rencanakan sudah jauh hari dan Sasuke tidak berhak mencampurinya. Dan tidak mungkin dalam 5 hari ia bisa mengubah keseluruhannya.

Ngomomg-ngomong tentang Sasuke, Sai cukup mirip dengan Sasuke. Tetapi Sai lebih asik di banding dengan Sasuke. Yah, setidaknya Sasuke asik di ganggu sedangkan Sai asik di ajak ngobrol dan bersenang-senang.

"Lucu. Polos. baik. Menyenangkan. Dan jujur" kata yang mendeskripsikan sifat Sai.

Salah satu sifat yang di sukai Ino dari Sai. Jujur. Untuk jaman sekarang Jujur memang menyakitkan. Dan membuat kita memilih jalan berbohong sebagai pilihan lainnya. Seperti dirinya yang sekarang sedang berbohong. Berbohong dengan dirinya sendiri. Come on, siapa yang tak sakit hati melihat pacarmu tidur dengan wanita yang lain? Sebatu apa perasaanmu, nyeri itu pasti ada. Setidak ada cintapun kau dengan pacarmu jika kau di khianati pasti merasa kecewa. Di dunia percintaan saja begini, bagaimana dengan Entertainer dan bisnis. Itu lebih parah, Fake Smile, Bull Shit, Drama, Hypocrit, semuanya ada di dalam. Bagaikan drama Melankolis. Dan Sai adalah orang berbicara jujur walau terkadang gerakan tubuhnya sering berbohong, dan menurut Ino itu lucu.

Dan Ino tertidur dengan memikirkan Sai melupakan masalah esok ataupun kemarin.


Naruto memasukkan kembali ponselnya, Sasuke menelponnya meminta dijemput pukul 2 pagi di bandara. Naruto menghela Nafas. Setidaknya Sasuke dan Sakura kembali dan Plan kembali berjalan seperti seharusnya. Liburan ini bukan sembarang liburan, ini moment specialnya.

Naruto memandangi keindahan malam kota Paris dari Roof hotel.

"Naruto-kun"Naruto menoleh mendapati Hinata berdiri di belakangnya. ia melemparkan senyumnya.

"Kau belum tidur Hinata-chan?"Tanya Naruto. Hinata menggeleng, "Aku belum mengantuk. Aku menunggu Sakura-chan"Jawab Hinata. Naruto menarik Hinata ke dalam pelukkannya. "Tidurlah Hinata-chan, Sakura-chan masih lama datangnya"Hinata membalas pelukkan Naruto.

Sebuah suara mengintrupsi mereka "Aw.. Romatis. Aku tidak yakin apa yang terjadi jika Neji memergoki kalian berdua"Sasori datang berjalan menghampiri mereka berdua dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Dengan gerakkan cepat Hinata dan Naruto melepaskan pelukkannya dan menjauhi satu sama lain.

Hinata menunduk malu, "Umh, Sasori-san. terimakasih sudah memperingatkan" Naruto ikut-ikutan gugup, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kalau begitu, Oyasummi Naruto-kun, Sasori-san"Hinata berjalan kembali masuk ke dalam hotel menuju kamarnya.

Sasori tertawa berdiri di samping Naruto. "Sebaiknya segera kau ikat Hinata, Naruto. Neji bisa membantaimu jika kau terus-terusan bermesraan dengan Hinata"Sasori memandangi orang-orang yang berjalan di bawah.

Naruto menyengir, "Itu yang sedang aku Usahakan. Mendapat restu dari Neji itu susah sekali"Sambil mengehela Nafas. Sasori mengangguk setuju.

"Kau belum tidur?"Tanya Sasori, Naruto mengangkat bahunya tak perduli "Kalau aku tidur, Teme bisa membunuhku karena tidak datang menjemputnya"

"Oh, jadi anak yang hilang ingin kembali,"Sasori tertawa. "Yah, dan aku harus menjemputnya sebelum jam 2 malam ini di bandara. Kau mau ikut?"Tawar Naruto. Sasori mengangguk setuju "Kebetulan. Aku ingin sedikit menikmati Paris di pagi buta"Naruto tertawa mendengarnya.

"Selalu ada hari esok, tidak harus pagi buta. Ngomong ngomong mana Neji? Bukannya kalian berdua tadi ingin berjalan-jalan sebentar?"Tanya Naruto, Sasori mengangkat bahunya. "Katanya ia capek dan langsung ingin beristirahat"Naruto mengangguk.

"Ayo kita memesan Kopi sambil menunggu jamnya"Tawar Sasori, Naruto mengangguk setuju.


Shikamaru melangkah memasuki lift saat menyadari ada orang lain selain dirinya. Terlalu malas mengetahui siapa orang itu Shikamaru menguap bosan dan ia menekan tombol lift menuju lantainya, tiba-tiba Ponsel miliknya berdering. Dengan malas Shikamaru mengambil ponselnya dan mengangkat telfonnya.

"Moshi-Moshi" "…"

"Yah, Kau bisa mengirimkan dokumennya langsung saja ke Tenten"Shikamaru memperhatikan angka lift yang berganti dengan sangat lambat. Merasa diperhatikan oleh seseorang yang hanya berada di sampingnya Shikamaru melirik sebentar kearah orang itu. Mata orang itu langsung menghindarinya. Sembari menggigit bibir bawahnya. Tertangkap basah, Nona bercepol empat.

"Hm.. entahlah Naruto bilang waktu itu 2 minggu. Jadi masih 10 hari lagi"Gelagat yang di tampilkan Temari cukup aneh. Memejamkan matanya, sesekali berjinjit atau sesekali meliriknya lama dan melemparkan tatapannya kembali kearah lain, seperti serang berperang batin. Shikamaru memperhatikannya di pantulan pintu Lift.

"Aku akan segera mengurusnya. Akan ku suruh Tenten, begitu pulang kita langsung bertemu. Oke. Konbanwa"Shikamaru mematikan sambungan telponnya.

"Baiklah. Aku tidak suka di perhatikan, Apa maumu Ms. Bercepol empat?"Tanya Shikamaru sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Temari memadangnya dengan tatapan tak percaya. "Sungguh, begini caramu memulai percakapan? Mr. Mendokusai"balas Temari, Shikamaru menghela nafas. Ia cukup lelah tolong jangan ada pertengkaran.

"Aku sedang tak ingin membuat keributan, Tolong. Kau dari tadi memperhatikanku dan itu membuatku tidak nyaman. Aku tau ada yang ingin kau katakan padaku, ada apa?"

Temari mengehela nafas pelan, setuju dengan perkataan Shikamaru "Oke, Aku melihatmu tadi menelpon dan beberapa hari ini aku berusaha untuk mencari signal di Ponsel milikku tetapi tak kunjung ada"Temari menghetikan kata-katanya, Shikamaru memandang malas.

"Jadi, Apa masalahnya denganku?"Shikamaru mengangkat alisnya satu, Temari menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya. "Ponsel kita sama. Apa boleh aku meminjam ponselmu untuk melihat pengaturan jaringannya?"

'Ting' pintu lift terbuka tetapi Shikamaru masih menyeritkan keningnya memandangi Temari.

"Sungguh, aku tidak bermaksud apa. Tapi aku harus menghubungi keluargaku. Harusnya aku berada di acara keluargaku 4 hari lagi, tapi kau bilang kita masih berlibur 10 hari lagi. Sasori tidak memberitahuku tentang liburan keluar negeri, aku kira kita hanya berlibur sebentar dan ,,"Mengabaikan penjelasan Temari, Shikamaru keluar dari lift terlebih dahulu. Temari mengekorinya di belakang.

Ini hal yang cukup aneh, pikir Shikamaru. Sebagai orang yang cukup jenius berbagai spekulasi muncul di fikirannya. Setelah melihat bagaimana cara mereka berdua bertemu, menjalin hubungan yang baik dengan Temari sangat tidak mungkin. Bisa saja itu jadi alasan Temari untuk balas dendam padanya dengan merusakkan Ponsel miliknya Atau Temari ingin kembali menawan Ponsel miliknya.

"Tunggu! Sungguh Aku sangat membutuhkannya"Temari berdiri di hadapannya berdiri mencegah Shikamaru masuk ke dalam kamar miliknya.

"Ku kira kau sangat membenciku. Kau bisa meminjam ponsel yang lainnya, Tenten atau Hinata misalnya atau Bosmu. Mungkin Neji atau Sai, Ponsel mereka mirip denganku juga. Meminjam punyaku? Aku sangat curiga denganmu"

"Sasori? Dia saja entah hilang dimana tiap hari dan kebetulan kau berada di sini sekarang jadi kenapa tidak kau saja? Kumohon. Tidak lama. Hanya lihat pengaturan jaringan"Temari memohon dengan mengepalkan kedua tangannya ke depan dada.

"Kau ingin melihat pengaturan jaringanku atau meminta nomor ponselku?"Tanya Shikamaru malas, kata kata itu langsung saja keluar dari mulutnya. Bukan bermaksud apa. Sungguh, tetapi reaksi perempuan di hadapannya sungguh menakutkan.

Temari menarik nafas kesal. Apa salahnya ia meminjam ponsel lelaki pemalas itu? Ia hanya ingin melihat pengaturan jaringannya, tidak lebih. Kenapa lelaki itu menuduhnya ingin meminta nomor ponselnya.

Shikamaru berusaha terlihat datar, "Maaf saja, para perempuan sering seperti itu. Mereka sengaja meminjam ponselku lalu meninggalkan nomor mereka atau mengambil nomorku"ucap Shikamaru kalem. Tetapi ekspresi Temari bukannya melunak malah mengeras.

"Aku sama sekali tidak tertarik dengan lelaki brengsek sepertimu. Kau fikir aku perempuan rendahan. Oh kami-sama aku hanya ingin melihat pengaturan jaringanmu. Tidak lebih."Wajah Temari memerah menahan kesalnya.

Sebersit rasa bersalah timbul di hati Shikamaru, Ia tidak bermaksud begitu. Sungguh, "Aku tidak mengatakan kau naksir padaku. Kau terlalu sensitive. Aku hanya mengatakan perempuan sering seperti itu"

Temari menggertakkan giginya, Cukup! "Kalau aku ingin nomor ponselmu, sebelum aku mengembalikan Ponsel milikmu sudah ku lakukan, atau aku akan menyimpan nomorku di ponselku seperti yang dilakukan perempuan-perempuan yang kau katakan itu. Aku juga bisa memintanya di Tenten.

dan Kalaupun aku ingin mengambil nomormu.."Temari menghentikan kata-katanya memperhatikan Neji keluar dari lift dan berjalan melewati mereka sambil menelpon dengan ponsel yang sama dengan punya mereka berdua hanya berbeda warna.

"Aku gunakan untuk MENERRORmu!"Lanjutnya pergi mengejar Neji yang hendak memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

"Hyuga-san!"Teriaknya, Shikamaru memandang punggung Temari yang menjauh mengejar Neji. Masih teringat dengan jelas ekspresi Temari beberapa detik yang lalu, bukan ekspresi kesal yang beberapa hari terakhir tetapi, ekspresi Marah dan benci yang terluka.


Bandar Udara International Charles de Gaulle (CDG).

Sasuke Menuruni tangga Jet pribadinya Hati-hati, disusul Sakura dan Kakashi di belakang. Sebelumnya beberapa jam yang lalu Sasuke menyempatkan diri untuk menelpon sahabat kuningnya itu dan Naruto berjanji akan menjemputnya di bandara, sebaiknya lelaki itu mengingat janjinya karena Sasuke kelelahan.

"Ano, Uchiha-san. Apa Naruto-kun benar kan menjemput?"Tanya Sakura, Nampak tidak yakin. Naruto? Huh?! Menjemput Hinata saja kadang lupa. Tentu saja Sakura tidak yakin.

"Hn"Jawab Sasuke, "Tenang saja Haruno-san, Naruto pasti sudah menunggu di dalam. Sebaiknya kita segera masuk kedalam bandara. Anginnya bertiup cukup kencang"Saran Kakashi. Sakura mengangguk setuju.

Baru saja Sasuke melangkahkan kakinya memasuki Terminal penerbangan Internasional, sebuah suara tak asing masuk ketelinganya.

"Sasuke.. Hai lama tidak berjumpa. Kau dari Venice bukan? Bagaimana kabar Jugo?"

"Hn, Suigetsu. Hai. Apa yang kau lakukan disini?"Tanya Sasuke bingung. Dan bermohon dalam hati, Kami-sama ia lelah.

Suigetsu tersenyum menampilkan gigi-giginya yang Tajam, "Kau tahu, aku ditugaskan oleh Itachi untuk menjaga seorang balita besar supaya dia tidak kabur. Lagi"Sasuke menggeram tanpa menyadari, balita yang dimaksudkan adalah dirinya. Lagi-lagi, Itachi.

"Hai kau pasti Haruno Sakura. Kenalkan aku Suigetsu. Assistennya terpercaya Itachi dan salah satu teman Sasuke sewaktu berada di Venice. Ciao! Hai Kakasih" Sakura melambai sembari tersenyum kearah Suigetsu dari balik bahu Sasuke. Tentu saja Sakura mengenalnya, lelaki bergigi hiu itu sering menggantikan posisi Uchiha Itachi di beberapa kesempatan dan Kakashi hanya mengangkat tangannya membalas lambaian Suigetsu.

"SASUKE-KUN! I MISS YOU… DO YOU MISSS ME?"Sasuke menegang seketika, suara itu. Suigetsu tersenyum dengan tampang polos miliknya sambil mengelus tengkuk lehernya.

Sasuke POV

"SASUKE-KUN! I MISS YOU… DO YOU MISSS ME?"Sungguh tubuhku menegang seketika, suara itu. Oh, kami-sama. Aku menghela nafas frustasi, berusaha memikirkan sebuah rencana. Suigetsu tersenyum dengan tampang (sok) polos miliknya sambil mengelus siku lengan kirinya. Oh, dia sudah tau rupanya.

"Apa aku sudah memberi tahumu Sasuke kalau Aku bertemu Karin di pesawat?"Tanya Suigetsu. Aku menutup mataku, kepalaku sudah cukup sakit mendengar nasehat Ka-san yang semuanya berinti pada satu hal. Jaga Sakura, Hanya itu dan aku harus mendengarkan Nasehat bertele-telenya selama perjalan ke Bandara. Lalu Suigetsu datang seperti babysitter suruhan Itachi, aku mempunyai Kakashi Itu cukup. Dan kini perempuan ini datang di hadapannya bicara seperti Annabelle. Karma apa aku tuhan?

Ngomong-ngomong tentang Sakura, aku meliriknya sesaat. Kurasa ia terlihat kelelahan dan tidak mengerti dengan situasi ini. Bagus, ini dapat aku manfaatkan dan permainan bodoh itu kurasa akan berguna.

Dengan gerakkan cepat aku menarik Sakura ke pelukkanku, ia tersentak kaget dan jatuh ke dalam pelukkanku. Wangi tubuh Sakura membuatku terasa nyaman, aku jadi ingat ia memelukku di Fontana kemarin. Aku menyenderkan kepalaku di tengkuk leher Sakura, Bersikap manja.

"Aku lelah… Sayang"Ucapku cukup besar dan itu cukup membuat Sakura terlihat panik, Aku berkata jujur. Aku mendengar Kakashi yang berdehem. Aku sedikit mengintip Suigetsu dan Karin memasang wajah tidak percaya.

"Sa-sasuke"Sakura berbisik pelan sambil memegang kedua lenganku berusaha mendorongku.

"Kumohon. Sebentar saja"Aku berbisik meniru kata-katanya di Fontana, dan ia menghentikan pergerakkannya. Sepertinya rencanaku untuk menjauhinya di Paris harus berubah. Merah sialan! Aku sepertinya harus belajar mengontrol diriku di dekat Sakura mulai sekarang, kalau tidak aku pasti kehilangan control dan berlaku seperti bukan diriku.

"Sasuke. Apa yang kau lakukan?"aku mendengar suara Karin bertanya. Aku mengangkat kepalaku tanpa melepaskan pelukankku. Aku menatapnya tajam.

"Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan?"Aku menambah dekapanku pada Sakura dan Sakura mencoba untuk memberi jarak walau tidak terlalu terlihat "Siapa dia Sasuke-kun?"Tanya Karin, lagi.

"Hn, dia Sakura. Dan hubunganku dengannya bukan urusanmu"ucapku sinis menatapnya. Sakura tersenyum paksa kearah Karin.

"Kusarankan jangan Karin. Aku tau apa yang kau pikirkan"Ucap Suigetsu, Aku bingung apa yang di maksudkan Suigetsu. Karin menatapnya kesal. "Kau tidak tahu apa-apa Suigetsu"Karin mencoba mengingatkan. Karin berjalan menuju kearahku dan Sakura, tepat beberapa langkah lagi ia berhenti dan menatap Sakura bergantian menatapku.

"Sasuke-kun. Aku hamil anakmu"Detik itu juga Sakura menatap kerahku dengan mata yang mengintrogasi. Jujur aku tidak tau mau berkata apa-apa. Demi Kami-sama, aku tidak pernah menyentuh Karin. Bahkan radius 5 meter aku sangat mencekalnya mendekat. Sakura berusaha melepaskan diri dari dekapanku. Aku menatap Suigetsu yang memukul pelipisnya. Oh, ini yang di maksudnya tadi.

"Hahaha"aku tertawa sinis, Sakura menghentikan pergerakkannya.

"Jangan bercanda Karin. Terakhir kali aku melihatmu 8 bulan yang lalu di acaranya Naruto"Ucapku keras, Karin tergagap tidak bisa berkata-kata.

"Yah, yah. Dan, dan aku sekarang, hamil anakmu, delapan bulan. Kau mabuk dan kau bercinta denganku"Ucapnya. Aku tertawa lagi. 8 bulan? Dimana anak itu di sembunyikan? Bercinta? Hell, melihatnya Radius 5 meter kini aku memilih berbalik pergi kembali atau pulang.

Suigetsu juga tertawa mendengar ucapan Karin begitupun Kakashi dan Sakura yang menahan tawa mereka. "Yah Karin. 8 bulan dan masih rata"Suigetsu meledeknya dan wajah Karin memerah menahan malu dan kesal. Sepertinya adanya Suigetsu dapat membantu.

Suigetsu mendekati Karin dan memegang pundaknya, "Sudahku katakan, Jangan. Kau yang malu sendiri"Suigetsu tertawa tambah keras. "Buktikan"Ucap Karin tiba-tiba.

"Hn?"Aku mengerutkan keningku tak mengerti. "Buktikan kalau kalian berdua memiliki hubungan"Tantang Karin. Dia masih belum menyerah rupanya. Sialan, siapa yang memberitahunya kalau aku berada di Paris?

"Kurasa sudah cukup. Aku…"Sakura berusaha lepas dari dekapanku, lagi. Ia melolotiku.

Dengan cepat aku menangkup kedua wajahnya. Aku dapat merasakan tubuh Sakura menegang. Aku mendekatkan wajah ku menatap matanya yang emerald. Ia berusaha mendorongku dengan perlawanan-perlawanan kecil, Bibir kami hanya berjarak beberapa centi lagi, deru nafasnya dapat kurasakan di pipiku. Tidak ada perlawanan lagi aku menutup mataku.

"Karin, Kau di sini? Teme? Sakura-chan? Apa yang..?"Sialan itu suara Naruto.

"Sakura…"Dan juga Sasori.


Bersambung…


Hai minna! Oh yah, Say hello buat pemain baru kita yang baru Join secara resmi. Ino- Suigetsu -Karin. Untuk fict depan Cherry masih Fokus untuk mengeluarkan para pemainnya yang datangnya bertahap. Cherry harap kalian masih ada yang mengingat cerita Cherry.

Oh yah, Melon adalah nama lain Cherry. Ini ledekkan khusus dari 2 bersaudara sepupu aku. Hanya iseng, serius. Kami mencari 1 kata yang dapat menjadi kata-kata yang berbeda. Saat itu sepupuku sedang memakan molen (dia pecinta Molen), lalu kita mencobanya. dapat Melon dan Lemon. Yang pecinta Molen kita ledek molen, karena badan Cherry lebih besar di banding mereka berdua Cherry diledek Melon. Dan yang tersisa hanyalah Lemon untuk sepupu Cherry yang satunya dan Serius, dia polos. Dia juga suka makan berbau lemon.

Mungkin suatu saat Cherry akan mengganti nama menjadi Melon Aiko? Honeydew Aiko? Berries Aiko? Pome Aiko? Citrus Aiko? Dates Aiko? L'amande Aiko? Cerise Aiko? Atau CantaLoupe Aiko? Oke Cherry hanya bercanda, gak nyambung

Balasan Review :

dianarndraha & Yoshimura Arai : Up! Thanks ^^v

hanikofukumitsu : sip! Thanks ^^v

YOktf : Chap ini ada dikit dan Janji Chap depan, Thanks ^^v

ChanbaekSaranghaeHeni : Di Chap ini ke jawab kan? hehe, Thanks ^^v

VV Love : Masalah Pribadi. Up kilatnya susah. Gommen, thanks ^^v

Guest (Selingkuhan Shikamaru) : Gommen, Umm.. Cherry rasa tidak. Thaks ^^v

Red Kushi-chan : Whooaah! thanks! ikutin perkembangannya ajah yah. karena seiring berjalannya waktu ide ide tentang cerita ini dapat berubah sewaktu-waktu. thanks ^^v

dhea : Really? Thanks. ^^v

desypramitha26 & Hikaru Sora 14 : Thanks ^^v

vey & Mizuki Kanzaki & wiu chan & jihan f : Up now. Thanks! ^^v

: Thanks atas sarannya. Thank you verry much ^^v

Jihan : hahaha.. commen, pleasee. thankyou ^^V

Ue. Chery Belassom : Ini Up. Maaf telat. di lihat di Chap depan yah. Hmmm , mungkin juga. iya. thankyou, yaah.. what is your name? watashi wa namae Chely. Thankyou for review ^^v

Thanks buat yang udah Review, Favo, Follow. Juga para Silent reader, Sepupu Cherry tersayang (Molen atau Lemon). Makasih bangett.. maaf gak bisa di tulis satu-satu kayak Chap yang lalu, oke Thank you Verry much ^^v ^V^

Cherry Aiko (Melon) AA / SKAS