"Aku sudah memesankanmu dengan Sakura-chan Kamar. Selantai dengan semua. tapi, Kakashi dan Suigetsu juga emm.. Karin tidak termasuk dalam list jadi mereka tidak bisa dapat kamar selantai dengan kita semua"Aku memandangnya datar. Aku tau bukan itu yang ingin di katakannya.

Ia menghela nafas, "Oke, bukan itu yang ingin kubilang. aku hanya ingin tahu, Apa kau serius dengan Sakura-chan?"Tanya Naruto. Aku sedikit tertawa, serius hanya itu yang ingin ditanyakannya.

Aku memandangnya "Kau tau aku"Jawabku, Naruto mengerutkan keningku. "Ya, aku tau. Tapi, aku tidak terlalu. Maksudku kau orang yang selalu tertutup dan jalan pikiranmu tidak dapat ditebak"Kulihat Naruto sangat penasaran.

"Aku tidak terlalu suka tantangan"Ucapku, Naruto mengerutkan keningnya.

"Tapi, aku sangat suka membuat sesuatu menjadi tertantang"Lanjutku. Ia masih mengerutkan keningnya. Kurasa Naruto belum mengerti dengan ucapanku. Kurasa kalau kukatakan ini pada Neji dan Shikamaru mereka berdua langsung mengerti.

Naruto masih memandangku dengan tanya. Aku hanya memutar mataku.

"Kau lihat saja. Sekarang, mana kunci kamarku. Aku ingin istirahat"aku serius, sudah ku katakan aku merindukan kasur dan aku juga sangat merindukan privasiku sendiri.

Naruto segera meminta kunci suiteku pada resepsionis dan memberikannya padaku, Setelah melihat Karin masuk melewati pintu Lobby dengan senyum kemenangannya aku segera menatap Naruto untuk segera mengantarku. Ia memberitahu nomor lantai dan menyuruhku langsung saja. Ia masih menunggu yang lainnya.

Sasuke POV end

.

.

HOLIDAY

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku, Slight/ NaruHina, ShikaTema, NejiTen, SaIno, SuiKarin

Happy reading ! Don't Like Don't Read

.

.

Sakura POV

Aku tidak berani. Aku tidak berani melihat Saso-nii, ataupun mendekatinya. Sasuke sudah masuk diluan disusul Naruto. Sedangkan kami semua hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain. Oh, inilah tujuan sebenarnya 'Refreshing di Eropa' dan malah sekarang menjadi seperti ini. Sepertinya hidupku sekarang sedang di beri cobaan. Karena selama ini karirku selalu baik, kuliahku juga masih baik, hubungan keluarga-pun juga baik. bukannya aku hendak menyalahkan Kami-sama. Aku tahu tidak ada kehidupan yang sempurna.

Aku menghela nafas, kepalaku pening, serius? Liburan macam apa ini? Penuh dengan adegan mini drama sinetron. Lucu.

Aku menatap Karin, ia juga membalas tatapanku dengan meremehkan… atau menyindir. Sialan perempuan merah itu! Aku menggeram tanpa sadar. Ia hanya tertawa kecil menyindirku, mengangkat dagunya tinggi dan berjalan masuk kedalam Hotel. Bisa kah aku meninjunya? Karena kalau menarik rambut (Jambak) terlalu Girly. Kurasa latihan karate yang di berikan Tou-san dapat berguna saat seperti ini.

Dan tanpa kusadari, Saso-nii sudah berada di sampingku. Aku melihatbya di pantulan kaca mobil. Saso-nii menatapku dan aku sama sekali tidak ingin melihat matanya.

"Saso-nii tidak menyangka"Ucapnya, Oh tolong! Ini sangat mirip dengan Drama sintron itu. Lihat tatapan tidak percaya dan kecewanya. Kami-sama. Aku hanya menatapnya sayu, meminta di maafkan.

"Saso-nii tak percaya kau sudah berbohong. kenapa kau bisa berbohong pada Saso-nii?"Aku membulatkan mataku. G. ingin sekali aku meneriakkan kata itu. Perempuan sialan merah itu berkata apa? Aku hanya bermaksud melawannya, itu saja.

Aku tidak mengatakan :

"Aku dengan Sasuke menjalin hubungan"

atau

"Kami memang menjalin hubungan. Jadi berhentilah menganggu"

atau

"Kami berdua berkencan"

atau

"Kami berdua tidur bersama"

Kami-sama, Tidak! Ups, maksudku Tidur bersama, iya. Tapi, kami tidak melakukan apapun. Tidak selain Tidur.

Aku menggeleng, "Kami memang tak menjalin hubungan"jawabku dengan penuh penekanan.

Saso-nii menatapku dalam, "Saso-nii Tanya sekali lagi, kau jawab dengan jujur Saki. Apa hubunganmu dengan Uchiha-Bungsu sialan itu?"Tanyanya. ayolah, ia berkata kasar di depan mataku. Lagi.

"Tidak. Kumohon Saso-nii. Aku telah menceritakan sejujur-jujurnya pada Saso-nii. Jangan dengarkan perempuan Sialan merah itu"Ucapku. Saso-nii memandangku. Lihat mataku, lihat wajahku Saso-nii! Apa aku berbohong padamu?

"Jangan berkata kasar Sakura. itu tidak baik, dan berhenti mengatakan merah. Kau seperti sedang mengataiku"Ucap Saso-nii. Itu tidak adil, ia berkata kasar berulang kali di depan mataku dan mengenai merah. Aku sedikit meleguh kasar. Saso-nii benar, Shannaroo! Aku memejamkan mataku sejenak.

"Apa yang di katakan oleh Uzumaki itu?"Tanyaku, Saso-nii masih memandangku. Ia menarikku masuk kedalam hotel duduk di sofa Lobby, kulihat Naruto berdiri menyender di meja resepsionis bersama perempuan merah itu, Kakashi dan Asisten pribadi Uchiha-sama.

"Ia mengatakan kalau kau mengatakan tak suka mengumbar kemesraan. Tapi, demi tuhan Sakura. bukankah artinya kau sedang menjalin hubungan dengannya"jawab Saso-nii. Aku menggeleng pelan.

"Uzumaki itu membuatku kesal. Makanya aku jawab begitu. Tapi aku berani bersumpah. Kami tidak ada apa-apa"Aku menatapnya sinis. Dasar tukang lapor.

Saso-nii menarik nafas dalam. "Aku benar ingin memukulnya dengan tongkat Golf"Ucapnya, keningku mengerut.

"Tongkat Golf?"Apa yang hendak di lakukan Saso-nii?

"Ingatkan Saso-nii nanti"Ucapnya. Aku menggeleng pelan. "Tidak akan"Jawabku, ia tersenyum kecil melirikku.

Apa sudah selesai? Apa Saso-nii mempercayaiku.

"Saso-nii terbawa emosi tadi. Brengsek itu menyuruh Kakashi mendorongku kedalam mobil sedangkan ia menarikmu bersamanya. Kalau kau di bawa lari olehnya? Lagi, Sial!"Aku hampir saja meledak tertawa mendengar perkataan Saso-nii. Alis dan bibirku mengendut, Ia mengumpat lagi.

"Jangan terbawa emosi Saso-nii, kau berkata kasar"Ujarku pelan. Saso-nii menggosok wajahnya dengan telapak tangannya.

Aku ingin beristirahat sudah ku katakan bukan. Ini tengah malam atau subuh entahlah. Intinya aku lelah, "Maafkan Saso-nii. Tapi kenapa Sasuke menjawab seperti begitu tadi?"Ayolah, Lagi? Aku menggeleng pelan, aku tidak tau. Sasuke itu orangnya Misterius. Ku harap ada moodbaster yang dapat menghiburku. Semua orang disini adalah Mood Breaker. Benar, Hinata? Dimana dia?

Saso-nii berdiri, dalam hati ku bersorak. Sudah selesai, Akhirnya.

"Ayo Sakura, Ini sudah pukul 4 subuh. Kau perlu istirahat. Begitupun Saso-nii"Aku mengangguk dan segera mengikutinya yang menuju Naruto.

"Usir saja perempuan pink itu. Pokoknya aku mau selantai dengan Sasuke-kun. Kau itu sepupu seperti apa?"Karin sepertinya memang sudah tidak ada urat malu, Ia berteriak di lobby seperti itu atau jangan-jangan dia sengaja?

"Tidak Karin. Jangan banyak menuntut. Sakura masuk dalam list. Itu sudah di tentukan. Kalau kau masih keras kepala, kau cari hotel lain saja. Bersyukurlah aku mau membayarkanmu"balas Naruto. Aku mengerti masalahnya. Dasar licik.

Ia menatapku di balik kaca matanya dengan tatapan sinis. Oh tentu saja, dengan senang hati aku membalasnya. Tambahan dengan senyum menyeringai kemenangan.

"Karin. Apa masalahnya? Kau hanya beda selantai dengan yang lainnya, jangan terlalu banyak bertingkah. Kau cukup banyak membuat masalah sejak tiba di Bandara"Ucap Suigetsu malas, aku yakin mereka juga semua sudah lelah.

"Sakura-chan. Ini Kunci kamarmu"Naruto memberikan sebuah Kartu padaku. Aku tersenyum dan membalasnya dengan terimakasih. Kulihat Karin sangat tidak senang. Ia tidak berani berkata-kata lagi setelah di bentak oleh Naruto dan Suigetsu tadi.

"Ayo kita segera beristirahat. Besok kita akan pergi ke acara"Seru Naruto senang. Ku lirik Sasori-nii mengerang pelan.

"Ah, yah. Barbie KW. Aku lupa"Ucapnya. Aku hampir saja tertawa. Barbie KW? Aku berusaha memikirkan pertanyaan yang tepat. Apa atau siapa. Naruto tersenyum menyeringai padaku saat aku meliriknya meminta penjelasan.

Tapi ngomong-ngomong soal Barbie KW aku sepertinya pernah mendengar hal itu. Sangat tidak asing. Tapi aku tidak perduli yang kubutuhkan sekarang adalah kasur yang empuk.


Aku bersumpah! Oh Kami-sama. Aku baru masuk ke kamar ini 3 jam yang lalu. Butuh sejam untuk aku membersihkan diri agar bisa tidur dengan nyaman dan butuh sejam lagi untuk bisa terlelap. Artinya aku hanya tidur sejam dan sekarang pintunya sudah di ketuk hebat. Aku menggerutu keras sebelum masuk ke dalam kamar mandi mencuci muka dan segera membuka pintu sedikit.

Naruto. Bocah pirang itu tersenyum melihatku.

"Shannaro. Apa maumu brengsek?"Tanyaku. suaraku masih serak. Ia memandangku serius.

"Whoa. 4 hari bersama Teme, kau pandai berkata kasar sekarang"

"Aku belajar dengan Ahlinya"Jawabku Asal, mataku kembali berat. "Sial Naruto! Katakan apa maumu? Aku ingin istirahat. Shannaro!"Teriakku tanpa sadar. Ku harap Saso-nii tidak mendengarku karena Ia pasti akan melakukan pelatihan militer untuk mulutku.

Naruto sepertinya agak atau memang kaget, "Kau sekarang lebih mirip Teme"ucapnya. Aku mendengus. Hendak menutup pintu, ini hanya omong kosong. Tapi kaki Naruto menahan pintu.

"Aku hanya ingin bilang. Kami ingin sarapan bersama di bawah. Tapi, sepertinya kau masih mengantuk. akan ku katakan pada yang lainnya. Kalau ingin sarapan nanti kau bisa memanggil room service dan memakan nya di kamarmu. Oh yah Satu lagi. Pukul 10 bersiaplah. Kita akan Shoping. Ja nee"Aku membanting pintu kamar hotel tepat di wajah Naruto.

Sarapan dan Shoping jam 10. Ingat Sakura. aku kembali menghempaskan tubuhku ke atas kasur. Ngomong-ngomong, siapa Teme? Apa itu nama orang? Atau orang Famous yang tak ku kenal?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ah, yah. Panggilan sayang Naruto untuk Sasuke. Shannaro! Aku melupakannya.

Sepertinya Naruto benar, aku sekarang pandai berkata kasar.

Sakura POV end


Sasuke POV

Aku merenggut, ada yang mengetuk pintu. Brengsek! Siapa? Aku menyingkap selimut dan membuka pintu. Maniak ramen itu menyengir menatapku.

"Sial! Kuharap bukan omong kosong yang ingin kau katakan padaku dobe"Ucapku. Ia menghentikan cengirannya.

"Ini kedua kalinya pagi ini aku merasa terusir"Ucapnya, aku mendengus pelan. Omong kosong. Aku hendak menutup pintuku tapi Naruto menahannya dengan kakinya. Aku membukanya lagi.

"Serius Dobe. Omong kosong lagi yang kau katakan padaku, jangan salahkan aku jika kakimu mengalami cedera brengsek"ancamku, ia menatapku datar.

"Umm.. Baiklah, aku tadinya ingin mengajakmu sarapan dengan yang lainnya. Aku tak percaya aku mengatakan ini lagi"Ia mendengus pelan sambil memutar matanya.

"Tapi, sepertinya kau masih mengantuk. akan ku katakan pada yang lainnya. Kalau ingin sarapan nanti kau bisa memanggil room service dan memakan nya di kamarmu. Oh yah Satu lagi. Pukul 10 bersiaplah. Kau harus ikut Teme. Harus"Lanjutnya. Mataku menyipit menatapnya.

"Hn"Jawabku. Tak masalah. Pukul 10.

"Apa kau tidak ingin tau siapa orang pertama itu teme?"Aku menatapnya. Serius, jangan bercanda. Apakah aku harus tau?

"Katakan. Aku mendengarnya"Aku menutup mataku, sedikit tidur.

"Sakura. apa kau mengajarinya?"Tanyanya. aku yakin sudut bibirku terangkat menyeringai.

Aku membuka mataku, "Dia cepat belajar dan murid yang baik. aku ingin istirahat. Tolong"Aku langsung menutup pintu di depan wajah Naruto. Aku kembali berjalan menuju ke kasur dan kembali bergelung dalam selimut.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sepertinya aku melewatkan satu hal. Untuk tak ingin tidur di ganggu. Aku sepertinya belajar darinya.

Sasuke POV end


Naruto tak percaya ini, apa duo SS ini bekerja sama mengusirnya dengan cara yang hampir sama? Setidaknya maksud baiknya sudah di sampaikan. Dan Membanting Pintu tepat di wajahnya, sepertinya Sasuke mengajar Sakura dengan baik dan Sakura belajar dengan baik. Naruto berjalan menuju Lift menuju lantai tempat sarapan. Suara dering ponselnya membuatnya terkaget dan segera mengangkatnya.

"Hallo? Apa masih terlalu pagi untukumu?"

"Tidak Ino. Jangan menyindirku"

"Kau sudah menerima pesanku?"

"Yah. Aku tak percaya kau benar-benar melakukannya"

"Yah, Aku merubahnya sehari sebelum undangannya tersebar. Kurasa itu lebih cocok"

"Hmm. Arigatou Ino-chan"

"Sama-sama. Ngomong-ngomong apa Sasuke ada?"

"Yah. Aku baru saja dari kamarnya dan di usir olehnya"

"Shit! Maaf, maksudku. Aku harus mengatur ulang lagi kursinya untuk Sasuke"

"Kau bisa mengatur kursi lagi untuk beberapa orang?"

"Sialan kau Naruto!? Sudah ku katakan, jangan pernah membawa orang secara tiba-tiba. Kau bisa mengacaukan segalanya"

"Aku tahu. Aku sudah mendengar banyak umpatan kasar hari ini dari 3 orang yang berbeda. Kau akan menciumku dan memelukku kalau kau mengetahui siapa orang ini"

"Aku tidak tertarik menciummu"

"Kau bisa memegang kata-kataku. Akan ku kirim pesan berapa kursi yang perlu kau tambahkan lagi"

"NARUTO! Sudah…"

Naruto segera mematikan cepat sambungan telponnya saat pintu lift terbuka. Pemandangan yang menarik. Neji dan Temari tertawa bersama.

"Aku tidak tau kalau kalian berdua dekat?"Tanya Naruto. Neji dan Temari saling melirik.

"Kami baru dekat tadi malam. Apa ada yang salah?"Tanya Neji, Temari mengangguk.

Naruto menggeleng pelan, Nyali Naruto menciut. Tatapan Neji ingin menantangnya.

Tapi sebuah suara menjawab, "Tidak ada yang salah"Sai berjalan dari arah belakang Neji dan Temari.

"Hanya, Aku benci berbicara dengan orang yang matanya tidak menatapku. Shikamaru melakukan itu 10 menit yang lalu saat Temari menghampiri Neji baru saja keluar dari Lift"Lanjutnya.

Naruto memandang sarkastik, "Oke, Apakah ada seseorang yang ingin menceritakannya padaku apa yang telah terjadi sebelumnya?"Tanyanya. Temari memutar mata bosan.

"Akan ku buatkan bukunya. Kau bisa menunggu"Neji menahan tawa mendengar jawaban Temari.

Shikamaru berjalan menghampiri mereka.

"Hanya perasaanku atau Sai, jangan bilang kau mengatakan apa yang ada dalam nuranimu?"Tanya Shikamaru malas.

"Jangan munafik. Aku memperhatikanmu. Kau menatap Temari tanpa berkedip saat ia menghampiri Neji"Tenten tiba-tiba muncul bersama Sasori dan Hinata. Sepertinya Tenten memang sudah tidak ada pihaknya. Pengkhianat.

"Mungkin maksudmu kita, Tenten. Kita membicarakannya tadi"Timpal Sasori. Hinata hanya tersenyum kecil menatap mereka. Shikamaru harus melawan mereka semua dalam beragumen. Impossible.

Shikamaru menghela nafas, "Pantas saja, aku bernafas tadi banyak tercekat. Ternyata kalian membicarakanku di belakang"

Hinata terkik kecil, "Maafkan kami. Sai-san sangat lucu berulang kali mendengus mendapatimu tidak memperhatikannya"Ucap Hinata. Tenten mengangguk "Hinata-san pensaran, jadi aku dan Sasori menceritakan cerita lengkapnya".

"Oke hanya aku yang harus menunggu bukunya keluar, serius? Aku butuh synopsis"Ucap Naruto, tak ada yang menanggapi. Hanya Hinata yang tersenyum prihatin.

"Yup. Jadi, Kenapa kau memperhatikan sekertarisku dengan sangat dalam Shika?"Skak Mat untuk Shikamaru. Semua menunggu Jawaban Shikamaru.

Ulangi, Semua mata. Neji dengan senyum menyeringainya. Temari dengan tatapan tidak sukanya. Sai dengan tatapan kesalnya. Naruto dengan tatapan 'ayolah katakan saja'. Tenten dengan senyum kemenangannya, Sasori dengan tatapan 'Just tell us', dan Hinata dengan senyum anggun menggodanya.

'TING!'

"Aku peringatkan kau sekali lagi Sui, kau jangan mendekat denganku dalam radius 5 meter"Itu suara Karin.

"Ayolah, Lift ini bahkan lebarnya tak sampai 3 meter, jangan bercanda?!"Jawab Suigetsu.

Semua mata beralih ke Karin, Suigetsu dan Kakashi yang baru keluar dari pintu Lift.

"Kuharap, kami tidak mengacaukan sesuatu"Ujar Suigetsu terdiam melihat mereka semua.

"Apa kalian dalam pembicaraan yang penting?"Ujar Kakashi

"Apa kalian menungguku?"Tanya Karin semangat.

Dan, Shikamaru harus berterima kasih dengan mereka bertiga.


Sakura terkaget bangun saat jam menunjukkan pukul 8.30, perutnya benar-benar minta segera di isi. Ia hanya memakan es krim dan minum Cappucinno sebelum menuju Paris, dan sekarang perutnya benar-benar kosong.

Sebelum dirinya kembali tidur setelah Naruto membangunkannya ia telah meminta layanan Room service mengantarkan sarapan ke kamarnya pukul 9 kurang 15 menit. Kopi manis, nasi goreng, salad buah, dan air putih. Ia butuh asupan gizi sebelum Shoping. Well, semua perempuan melakukannya.

Sakura segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.

Suara ketukan pintu, itu dia. Sarapannya tiba. Sakura dengan senang hati membuka pintu. Benar saja. Sakura dengan senyum manisnya menyuruh pelayan itu meletakkan sarapannya di atas meja. Setelah pelayan itu keluar Sakura segera meneguk air putih sampai habis.

Beberapa potong buah dan kopi.

"Pfffrrrttttttttttttt"dengan tak elitnya Sakura menyemburkan kopi yang ada di mulutnya. Rasanya benar-benar pahit. Seingatnya ia memesan kopi manis bukan pahit. Sakura mendesah melihat bungkusan gula di atas nampan.

Setelah membersihkan bibirnya yang belepotan dengan tisu Sakura kembali menyendokkan sesuap nasi goreng.

"Uwweek"Sangat tidak elit, Nasi itu di keluarkan (lepehin) begitu saja dari mulut Sakura.

Sakura POV

Aku membuang nasi yang berada di mulutku ke tisu yang berada di tanganku. Nasi apa ini? Asam sekali. Aku mengaduk nasinya. Tomat, tomat, dan Tomat. Di mana seafoodku? Aku mendengus. Hotel berbintang lima seperti ini tidak mungkin salah mendengar pesananku ataupun memperkerjakan seorang pelayan yang mempunyai gangguan pendengaran.

Aku melangkah keluar dari kamarku berharap menemukan pelayan tadi. Semoga ia masih berada di sekitar sini.

Aku cukup terkejut mendapati Sasuke juga keluar dari kamarnya.

"Apa kau melihat Room service lewat?"Tanyanya. aku menatapnya bingung, ia sedang bertanya denganku?

"Kau melihatnya atau tidak"ulangnya sekali lagi, aku menggeleng pelan. "Aku juga mencarinya"jawabku jujur.

"Aku alergi hebat pada udang dan mereka benar-benar mendapat masalah kalau saja aku memakannya sebelum aku melihatnya terlebih dahulu"Ucapnya. Udang? Seafood?

"Nasi goreng seafood?"Tanyaku, ia hanya mengangguk pelan.

"Aku tidak bisa makan udang. Aku alergi hebat dan aku bisa langsung sekarat jika memakannya hanya sedikit. Sial! Aku tidak bisa hidup tanpa Kakashi"Aku menatapnya. Wow Apa Sasuke sedang Curhat?

"Aku juga. mereka memberikan Nasi goreng dengan Tomat di sana-sini. Kopinya juga sangat pahit. Padahal aku meminta yang manis tadi. Apa kau ingin mengadukan ini? Kita bisa bersama-sama?"Ujarku. Tapi Sasuke hanya diam.

Apa ada yang salah dengan ucapanku?

"Sakura?"Panggilnya. Aku menatapnya.

"Sepertinya sarapan kita berdua tertukar"Ucapnya. Aku sedikit ternganga. Di saat seperti ini. Rencana Kami-sana sangat mengagumkan.

"Aku sangat lapar. Memesan akan memakan waktu yang lama lagi"Ucapnya, aku mengerti

"Oke, kita bertukar"Aku kembali masuk kedalam kamarku dan Sasuke masuk ke dalam kamarnya. Aku memandangi Nasi goreng Tomat dan kopi itu. Shannaro!

"Pantas saja. Aku hampir mati tersedak merasakan kopi manis ini"Sasuke menyerahkan secangkir kopi padaku. Kami berdua bertukaran. Begitu juga dengan Nasi gorengnya.

"Sasuke"Panggilku. "Hn"Jawabnya sambil menyeruput sedikit kopi pahitnya.

"Tidak baik memakan asam dan pahit bersamaan"Ujarku. Ia berhenti menyeruput kopinya. Memandangku datar.

"Sakura"Balasnya,. "Hn"Jawabku balik sepertinya.

"Tidak baik memakan sesuatu yang manis terus menerus dan udang. Mereka bisa membuatmu mati"aku menyerit, maksudnya mungkin dirinya. Aku mencintai seafood sama seperti aku mencintai pekerjaanku sebagai model, seperti obsesiku untuk menjadi dokter, seperti Neji yang overprotektif dengan Hinata dan Naruto pada ramen.

Aku sedikit mencolos mendengarnya menghina seafood kesayanganku.

"Jangan bercanda. Seafood adalah hidupku. Mereka melengkapiku bukan membuatku mati"Jawabku dengan serius.

Ia menyeritkan keningnya, "Jangan Tersinggung. Aku menyukai tiram. Maksudku hanya udang. Dan manis-manisan"Jawabnya. Aku memandangnya kesal. Ia membalas memandangku datar.

"Jaa nee"Wajahnya langsung mendekatiku dan cium pipiku. Aku tersentak kaget. Sasuke langsung masuk ke dalam kamarnya. Apa maksudnya? Oh Kami-sama! Cangkir dan Piring di tanganku hampir saja jatuh.

Apa Pantat ayam itu sudah gila? Apa yang dilakukannya? "Awwwww… adegan roman"aku mendengar sebuah suara mendekat. Wajahku memerah. Aku memandang kearahnya. Shannaro! Itu bukan hanya seorang. Mereka semua. Maksudku yah semuanya mereka sepertinya baru saja keluar dari lift dan menonton live Sasuke mencium pipiku dengan Sasori-nii berdiri paling depan.

Aku meringis. Shannaro! Sasuke sepertinya sengaja. "Ohayo!"Ucapku cepat dan masuk kembali ke dalam kamarku dengan cepat.

Pintu kamarku di ketuk dan kuharap itu bukan Sasori-nii. Selera makanku lenyap begitu saja. Mungkin Sasuke benar, Udang membuatku mati (membawaku situasi yang tidak baik). aku hanya memakan salad buahku, itupun sepotongnya aku kunyah lebih dari semenit.

Aku berjanji untuk tidak membuka pintu kamarku, tapi suara Hinata membuatku segera bergegas membukakannya pintu. Ia tersenyum memandangku dan aku juga tersenyum membalasnya. Mataku berkaca, ohh tuhan ia moodbasterku. Aku ingin menikahinya saja kalau bisa. Tapi, itu mustahil Hinata masih normal dan aku juga sama normalnya.

"Apa yang terjadi?"Tanyanya prihatin, tanpa ku sadari air mataku telah jatuh. Tapi, aku tidak bisa menjawab pertanyaan Hinata. Ini sangat membingungkan.

"Aku merindukanmu"Aku memeluknya erat, ia membalasku. Ia berusaha menenangkanku yang menangis semakin menjadi-jadi. Ia mengucapkan kata-kata yang menenangkanku.

Aku melepaskan pelukanku, aku rasa aku sudah sangat cukup membasahi lengan dress ungu selututnya. Ia menatapku prihatin dan itu membuatku ingin tertawa, ini lucu aku menangis tanpa sebab. Mungkin hormonku sedang tidak terkendali.

"Kau bisa menceritakan apapun kepadaku Sakura-chan"Ucap Hinata. Aku terkekeh sambil mengelap air mataku. "Aku tidak bisa menceritakan apapun. Untuk saat ini"Jawabku. Suaraku cukup serak.

"Baiklah"Ia menghela nafas, "Semoga Naruto-kun tidak lupa memberitahumu. Kita akan pergi pukul 10 ini"ucapnya. Aku memandang jam di pergelangan tangannya. Shannaro. Aku bahkan baru memakan beberapa potong buah.

Aku mengangguk, "Naruto telah mengatakannya. Aku akan bersiap"Aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi. "Kau bisa memlihkan baju untukku"Ucapku sebelum menutup pintu kamar mandi. Hinata sangat mencintai pakaian, jadi memadu padankan busana ia ahlinya. Aku hanyalah seorang mahasiswa kedokteran yang mencari pekerjaan sampingan sebagai model. Cukup berpose. Seharusnya Hinata yang menjadi model, namun ia cukup pemalu. Lagipula Keluarganya dalah konglomerat.

Lebih dari 30 menit aku menghabiskan waktu di bawah pancuran air, aku segera keluar sambil memakai handuk kimono yang di sediakan oleh hotel.

Hinata berdiri serius memandangi beberapa baju yang ia letakkan di atas kasur.

"Aku belum menentukan pilihan. Selera berpakaianmu meningkat Sakura-chan. Kau membawa baju yang cukup manis. Aku jadi sulit berpikir"Ucap Hinata. Aku menghela nafas.

"Maaf saja, Uchiha yang mengemasnya. Sekedar mengingatkan Aku di culik, ditipu dan pergi tanpa rencana. Kau ingat?"Ucapku dengan nada sinis. kalau boleh kutambahkan, Juga beberapa ancaman. "Maaf"Ucapnya, aku hanya tersenyum sembari melambaikan tangan tak usah perduli.

Hinata kembali menatapi baju-baju di atas kasur. "Ternyata selera berpakaian Sasuke-san menarik"Ucap Hinata kecil, aku masih bisa mendengarnya. Ia menyuruhku mendekatinya dan memperhatikan berulang kali secara bergantian antara aku dengan baju-baju itu.

"Kita akan Shopping Hinata. Ku harap kau memberiku baju yang nyaman untuk di pakai berjalan lama"Ucapku. Hinata tersenyum menatapku. "Kau benar!"Pekiknya. Hinata selalu berbeda kalau menyangkut masalah pakaian. Ia benar-benar sudah tertular teman SMP dan SMA kami dulu. Ouh. Aku merindukannya.

"Aku sudah menentukan pillihan. Boot, Skinny jeans, tanktop, cardigan jeans, syal dan urai rambutmu. Sempurna!"Aku menghela nafas. Oh tuhan! Hinata ingin membuatku berpakaian ala anak SMA.


Sasori-nii memaksaku untuk semobil dengannya menjauhi Sasuke-Kakashi-Karin-Suigetsu dan aku semobil dengan sekertarisnya Temari dan Tenten sekertaris seseorang bernama Shikamaru.

Saso-nii berusaha beberapa kali mengintrogasiku. Tapi aku cukup lihai untuk mengakhirinya dengan cepat. Saso-nii juga tahu kalau adegan yang sama sekali tidak di harapkan itu sengaja di lakukan oleh Sasuke. Untuk membuktikan perkataanya atau mungkin lebih terdengar seperti taruhan bagi Saso-nii dan aku sedikit mengerang, Yah aku bonekanya.

Sasori memindahkan topic tentang kejadian sarapan di lantai bawah tadi. Karin terus-terusan mengomel sampai manajer pemilik hotel keluar dan melayani karin sendiri. Ia benar-benar so bossy. Aku membencinya. Aku baru saja ingin mengumpat tentang Karin tapi, mobil berhenti.

Dan Aku tercengang. Naruto membawa kami ke salah satu toko Branded Dunia. LV lambangnya. Merk asli dari Paris ini sangat terkenal dan sering di pakai artis Holywood. Tapi aku merasa kami tidak berkendara lebih dari 10 menit.

Aku melangkah keluar dari mobil. Aku akan memasuki toko pusat Branded ternama di dunia. Tanpa aku sadari Karin berdiri di sampingku memandangku remeh. "Kampungan"Ucapnya pelan yang hanya bisa di dengar olehku. Aku menoleh kearahnya marah.

Namun, Sasori yang berada di belakangku menahanku. Shannaro! Merah sialan!

"Sesuai perjanjian. Shopping bukan tanggunganku. Kita mendapat kehormatan besar untuk mendapatkan kursi di acara fashion nanti sore. Sayang kalau di tolak begitu saja. Tenang saja untuk Temari dan Tenten, Bos kalian akan senang hati akan membayarkan baju untuk kalian. Aku berjanji"Ucap Naruto yang berdiri di hadapan kami semua, dan seketika Saso-nii dan lelaki berambut nanas melototi Naruto di depan.

Naruto menyengir membalas tatapan mereka berdua, Naruto melihatku. "Sakura-Chan, Ini perjanjianku dari awal. Aku akan membayarkan semua keperluanmu selama ikut berlibur denganku"Naruto tersenyum. Dewi Fortuna di pihakku, Shopping di toko branded dunia di bayarkan pula. Mimpi apa aku?

"Ehem"Kami semua melihat Sasuke yang sedang berdehem. "Aku bisa sedikit meringankan bebanmu dobe. Aku akan membayarkan Sakura Shopping hari ini"Ucapnya. Aku tahu ia kaya melebihi Naruto. Namun, oh Kami-sama ia mengatakan itu tanpa dosa di depan semua orang.

Aku mendengar geraman tertahan Saso-nii. "Aku masih mampu membayarkan sepupuku Shopping Naruto. Jadi Uchiha, berhentilah bersikap manis"Ucapnya. Aku menarik nafas dalam. Jangan bertengkar . Please.

"Sasuke-kun. Aku juga ingin di bayarkan"Ucap Karin. Sasuke menatapnya sambil tersenyum.

"Tentu saja. Aku akan membayarkanmu juga. Jangan Khawatir"Ucap Sasuke. Aku melongo, Sasuke menuruti kata Karin. Wajah Karin juga tersenyum gembira.

Apa maksudnya? ku kira Sasuke sangat jijik dengan Karin. Kenapa ia mau membayarkan baju untuk Karin. Hampir kita semua memandang dengan cara yang sama. Bingung. Ayolah, apalagi yang ada dipikiran Sasuke.

Sakura POV end


Sasuke POV

"Tentu saja. Aku akan membayarkanmu juga. Jangan Khawatir"Ucapku. Kulihat Sakura membulatkan matanya, aku menuruti kata Karin. Iblis itu tersenyum gembira.

Mereka semua memandangku bingung. Aku mengerti karena hampir semua mereka mengetahui kalau aku tidak, bukan sangat tidak, menyukai Karin. Yang mereka tidak tahu adalah Kartu kredit Naruto masih bersamaku. Ia terlalu penasaran denganku dan Sakura sampai ia melupakan Credit Card nolimitnya masih ada padaku.

Ayolah, mana mau aku membayarkan Iblis itu dengan uangku? Kalau masalah apakah aku ingin membayarkan Sakura? Tentu saja, kalau ia mau kenapa tidak? Kalau itu dapat memicu emosi Sasori, why not?

Aku berfikir aku mulai gila, jujur saja. Aku orangnya sangat tidak perduli dengan apapun. Tetapi semenjak Sakura mengataiku kalau aku ini adalah Uchiha Palsu. Aku merasa hidupku akan berubah. Benar saja, aku bahkan banyak berbohong dengan my lovely madre.

Semenjak Sakura menghilang di Rialto aku bahkan melupakan prinsipku untuk mengutamakan Client. Semenjak aku melihat Sakura berdansa dengan Garaa aku tahu sesuatu akan terjadi, cepat atau lambat aku harus melindunginya yang tanpa Sakura sadar ia sedang menantang sesuatu.

Aku hanya takut, aku takut ia terluka. Sama seperti seseorang yang berdiri tak jauh dariku yang sedang tersenyum anggun.

Sasuke POV end


Temari memperhatikan beberapa baju kemeja dan Rok yang terpajang di Almari, hanya sekedar Rok dan kemeja biasa untuk di pakai bekerja.

"Kainnya bagus, Ini cukup dingin. Roknya juga karet memudahkan untuk bergerak. Cocok untuk kita sebagai sekertaris yang kerjanya modar-mandir dan berdiri"Ucap Tenten berdiri di samping Temari. Temari tersenyum membalas Tenten, ia mengangguk.

"Namun sayang sekali siapa yang mau membeli kemeja seharga 50 dollar ini. Begitupun roknya yang seharga 75.8 dollar. Ughh.. makan apa aku kalau membelinya setiap bulan"Dengus Temari kecil, Tenten tertawa setuju mendengarnya.

"Mungkin kalau kita mendapat kehormatan yang sama seperti Haruno-san yang di perebutkan untuk di bayarkan, kurasa kita tak perlu memikirkan gaji bulan depan. Setelan 1 bulan mungkin akan ku ambil begitu saja"Tenten melirik Sakura yang menggeleng beberapa kali ketika di tawarkan baju oleh Naruto atau Hinata.

Temari mengikutinya, matanya mendapati Sasuke yang tidak menghiraukan Karin yang berada di sampingnya terus mengoceh tentang baju yang di pilihnya.

"Kasihan Uchiha. Karin seperti penjilat. Kau ingat adegan tadi pagi? Aku benci sekali ia berkicau tanpa henti. Ughhh.."Temari mengalihkan tatapannya kembali pada kemeja di hadapannya.

Tenten melakukan hal yang sama, "Dia memaksa Uchiha membayarkannya. Kalau aku jadi Uchiha. Aku tak mau membayarkannya. Tapi, kudengar Haruno menjalin hububgan bersama Uchiha. Bagaimana? Kau sekertaris Sasorikan? Dan Sasori bersepupu dekat dengan Sakura"

Temari menaikkan bahunya, "Entahlah. Aku belum bisa mengerti apa yang terjadi. Akan ku ceritakan kalau aku sudah mengerti semuanya"Janji Temari

Neji dari belakang menghampiri mereka, "Hay. Permisi Nona-nona, Temari bisa aku bicara berdua denganmu"Pamit Neji, Tenten tak menjawab pura-pura tak mendengar ada yang berbicara, Temari memandang sedih Neji. Ia meminta ijin pamit pada Tenten lalu pergi mencari privasi untuk mereka berdua.

"Ada apa?"Tanya Temari, Neji menyerahkan Handphonenya pada Temari. "Adikmu seperti peramal. Ia meminta oleh-oleh di saat kau berada di toko LV"Ucap Neji bergurau. Temari membulatkan matanya menyambar Handphone Neji dan membaca Pesan Text yang dikirim adiknya. Ia mendengus. Di LV membeli setelan sederhana untuk dirinya sendiri saja harus berfikir berulang kali.

Temari menggeleng, "katakan padanya, Aku akan memberikannya gantungan Paris. Itu sudah lebih dari cukup. Di dompetku hanya ada pecahan yen dan credit card, dan ku yakin tak bisa di pakai disini"Ucap Temari sedikit mendengus. Neji sedikit tertawa mendengarnya.

"Adikmu? Ia laki-laki atau perempuan?"Tanya Neji,

"Laki-laki, tetapi, banyak menuntut seperti perempuan"jawab Temari. Neji tertawa.

"Aku yakin begitu. Berapa umurnya?"tanya Neji lagi, "Dia sudah cukup besar. Dia duduk di bangku Senior high school. Kelas terakhir. Sebesar itu tapi kelakuannya seperti anak perempuan di elementary"keluh Temari, Neji menggeleng tertawa.

Temari ikut tertawa, setelah itu ia berterima kasih kepada Neji sebelum kembali menghampiri Tenten.

"Kulihat kalian berdua sekarang sudah akrab"Ucap Tenten ketika Temari bergabung kembali bersama dirinya. Temari tersenyum, "Seperti yang kau lihat. Ternyata ia cukup baik"Jawab Temari.

"Oh, sebaik bagaimana? Mungkin hanya aktingnya. Dia orang yang sombong dan angkuh"Tenten mendelik tak suka melirik Neji.

Temari menggeleng pelan, "Sejujurnya dia cukup perduli. Dia lebih baik di banding dengan Bosmu"Ucap Temari. Tenten mendengus. "Shikamaru orang yang brengsek. Mereka berdua di level yang sama"Jawab Tenten. Temari terkekeh pelan.

"Kuharap kau bisa memaafkannya. Di orang yang cukup baik"Temari menepuk pundak Tenten. "Yah, kau sudah mengucapkannya 2 kali"Balas Tenten


Temari berjalan keluar bersama Tenten. Tak ada baju yang di dapatkan di LV, begitupun Tenten. Hanya Naruto, Karin, Shikamaru dan Sai yang membeli beberapa barang.

"Ini untuk adikmu"Shikamaru memberikan Temari sebuah kantungan dengan logo LV di kantungnya. Temari menaikan alisnya satu menatap tak suka.

"Aku bermaksud baik, bisakah kau menerimanya saja"Ucap Shikamaru lagi, Temari tak berniat mengambil kantungan yang di sodorkan Shikamaru.

Temari menggeleng, "Terima kasih. Aku tak mau merepotkan orang"Jawab Temari, Shikamaru mendengus mendengar jawaban Temari. Bagus, sekarang ia membalikkan ucapannya selama ini.

"Sama sekali tidak merepotkan. Aku tak merasa tidak terepotkan"Balas Shikamaru. Temari hanya diam.

"Mungkin sekalian tanda permintaan maafku padamu. Yah atas selama ini kau tahu. Di bandara, sampai Di hotel. Aku merasa bersalah"Shikamaru mengaku bersalah. Temari menatapnya dengan kedua tangannya di lipat di depan dada.

"Baguslah. Kalau kau menyadarinya. Tapi, aku tidak suka di sogok dengan hadiah. Apalagi dengan dalih seperti ini"

"Bukankah tidak baik menolak niat baik seseorang Temari?"Neji muncul dari belakang. Temari menghela nafas.

"Iya Neji-san terima kasih sudah memperingatkan. Terima kasih Nara-san. Aku ambil pemberianmu"Temari berucap malas mengambil kantungan di tangan Shikamaru. Neji mengedipkan sebelah matanya pada Shikamaru. Temari memutar mata bosan.

"Aku mungkin perlu bicara denganmu"Temari langsung menarik Neji menjauh.

"Mereka cukup akrab bukan?"Tenten tiba-tiba menghampiri Shikamaru.

"Ku kira kau tidak mau bicara denganku"Balas Shikamaru. "Seberapa brengseknya kau. Kau adalah sepupuku dan bosku"Tenten sedikit meringis mengucapkannya.

"Yah. Kau cukup tau diri mengakuinya. Kau melihatnya?"Tanya Shikamaru. Tenten mengangguk. "Aku menonton semuanya. Kau yang mempunyai ide seperti itu?"Tanya Tenten.

"Tidak. Neji memaksaku untuk membeli beberapa barang. Aku hanya mengikutinya, ia bilang dia bilang ini semua demi kebaikanku"Jawab Neji. Tenten menatap tajam Shikamaru.

"Oke jadi, Hyuuga yang mempunyai ide?"Tenten meyakinkan, Shikamaru mengangguk karena itulah kebenarannya. Tenten menghela nafas.

"Hyuuga tak seberengsek yang ku kira. Kau orang yang tepat dengan ucapan itu. Upps. Sorry"Shikamaru mendengus malas mendengar komentar Tenten.

"Mereka cukup akrab. Si bercepol empat itu menarik tangan Neji tanpa canggung"Ucap Shikamaru menatap Temari dan Shikamaru dari jauh.

Tenten melirik menggoda Shikamaru, "Yah. Apa kau cemburu Miss bercepol empatmu di curi?"Goda Tenten.

"Jangan bercanda!"Balas Shikamaru.

"Yah. Ini kesekian kalinya aku mendapatimu menatap Temari. Mau kubantu mendekatinya? Aku bisa meminta nomor ponsel atau beberapa Id atau nama-nama sosmednya"Tawar Tenten. Shikamaru menguap malas.

Ia melenggang pergi tanpa menjawab jawaban Tenten. Miris. Kacang. Batu. "Brengsek!"Seru Tenten.

"Kau yang menyuruhnya membelikan Adikku oleh-oleh?"Tanya Temari sedikit menggeram. Neji mengangkat bahunya. Tak ada yang salah bukan?

"Yah, maaf kalau kau tersinggung. Tapi, bukankah kau lihat manfaatnya. Kau tak perlu mengeluarkan uang untuk membelikan adikmu oleh-oleh. Lagipula sudah kukirimi dia pesan tentang oleh-oleh LV"Jawab Neji. Temari menggerang pelan. Neji sungguh terlalu baik buatnya.

Temari membuka kantung LV itu, ada beberapa kemeja, kaos, dan topi di dalamnya bahkan ada setelan Kemeja yang dilihatnya bersama Tenten tadi.

"Yah, kulihat kau berhasil memerasnya"Ucap Temari

"Hitung saja. Tanda terima kasihku, kau sudah begitu memujaku didepan Tenten tadi"Neji manaikkan bahunya lagi, Temari menatap Neji.

"Tak perlu. Aku berkata seadanya. Apa kau mendengarnya?"Tanya Temari.

Neji mengangkat bahunya. "Anggap saja aku tak sengaja mendengarnya"Jawab Neji. Temari melotot.

"Kau menguping"Sebuah tuntutan langsung di berikan Temari. Neji membulatkan matanya.

"Bukan seperti itu. Kau tahu, aku masih berada di sekitar situ. Kalian berdua bicara sedikit keras dan aku mendengarnya dengan sedikit seksama"jelas Neji. Temari terkekeh. "Yah, tak beda jauh dengan Menguping"Tuntut Temari.

Neji mengangkat bahu, "Maaf kalau kau tak merasa nyaman. Aku tau itu perbuatan melanggar privasi"Ucap Neji. Temari menggeleng sambil tertawa. Ia melihat kantung LV di tangannya. Rasanya Aneh. Ia tidak mengerti, ia melirik Shikamaru yang menguap malas ke Tenten. Seterusnya Tenten berteriak mengejek Shikamaru. Temari tertawa melihatnya. Mungkin tak ada salahnya ia sedikit memaafkan Shikamaru. Sedikit.


Sakura POV

Serius, aku sama sekali tidak menikmati acara Shoping gratisku kali ini. Moodku menurun drastis saat kejadian di depan LV. Iguana merah itu terus lengket bersama Sasuke sejak di LV dan sekarang kami semua sudah di toko ketiga, Channel. setelah sebelumnya kami singgah ke Burberry.

Aku melirik lagi manusia keganjenan itu yang sedang memperlihatkan beberapa gaun ke Sasuke. Apakah dia tidak bisa diam? Shannaroo. Dress Channel di hadapanku bukanlah lagi dress bernilai di mataku. Dress ini tak ada bedanya dengan Dress di toko biasa dengan discount 50%.

"Apa kau cemburu?"sebuah suara membuatku menolah kaget. Hinata menatapku serius. Aku menggeleng cepat. Apa maksudnya? Cemburu dengan siapa, jangan bercanda.

Hinata tersenyum, "Kau memperhatikan Sasuke dan Karin sedari tadi. Sama seperti Shikamaru memperhatikan Temari tadi pagi"aku mendengus pelan. Aku, cemburu dengan Iguana merah itu? You gotta be kidding me?

"Siapa Shikamaru?"balasku. Hinata menghela nafas. "Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan"Aku mengambil sebuah Dress dengan warna merah menyala. Hinata menariknya cepat, apa maksudnya?

"Kau cemburu dengan Karin. Kau mengambil baju yang berwarna seperti warnanya. Apa kau serius?"Hinata menunjukkan Dress itu padaku. "Yah, Rambut Sasori"dan juga Garaa.

Hinata menaruh kembali dress yang tadi kuambil, aku kembali memilih baju di temani Hinata. Ia beberapa kali mengomentari beberapa baju.

Naruto menyuruh kami memilih sebuah gaun/dress pesta untuk perempuan dan Setelan jas lengkap untuk laki-laki. Katanya tema fashionnya adalah Wedding party. Aku tak mengerti apa maksud dari acara Fashion itu nantinya.

Saat aku akan mengambil sebuah gaun dengan warna biru muda, sebuah Dress dengan model sederhana dan potongan selutut tanpa lengan ada di depanku. Kufikir itu Hinata yang memperlihatkannya betapa terkejutnya aku kalau yang menyerahkannya adalah Sasuke.

"Kulihat ini sangat cocok untukmu"ucapnya. Aku gugup, entahlah. Aku memperhatikan dress itu. Hinata yang sedari tadi di sampingku juga menghilang. Hei kemana ia pergi? Sejak kapan?

Aku menatap mata Sasuke, ia mengangkat alisnya satu, "Kenapa harus hitam?"Jawabku mengomentari warnanya. Baju ini secara keseluruhan bagus, sangat sederhana tapi terkesan elegant. Tapi, temanya adalah pernikahan bukanlah pemakaman. Dan hitam adalah warna berduka. Apa ia bodoh? Kurasa tidak.

Ia mengangkat bahunya, "Entahlah, bukankah bagus menjadi yang berbeda di antara yang lain"ucapnya. Mataku menyipit menatapnya. Beda karena aku dengan sintingnya berduka dipernikahan orang, Apa tidak gila aku datang kepernikahan dengan baju berwarna hitam? Maksudku walaupun hanya Tema acara Fashion. Bukankah putih sangat sempurna?

Aku hendak memprotes lagi tetapi Hinata datang dengan wajah girangnya sambil memegang sebuah Hils 8cm berwarna senada tetapi dengan corak brokat dan pita yang menawan. Sangat sempurna jika dipadupadankan bersama. Wajah Sasuke menampikkan seringai kemenangannya. Shannaro! Kalau Hinata manamungkin aku tolak.

"Aku melihat sepatu ini ketika melihat-lihat sebelum Sasuke-san menemukan dress itu. Lalu Sasuke-san membawa dress itu aku langsung mengingat sepatu menawan ini. Ini sempurna Sakura. Aku yang belikan sepatunya. Kau sangat cocok. Tidak perlu menggunakannya sekarang"Bujuk Hinata. Aku menatap memelas.

Sasuke mengangguk, "Kau yang bayar sepatunya Hinata, aku bajunya. Tidak perlu kau gunakan nanti. Anggap saja ini sebagai hadiah pertemanan"ucapnya. Cuihh! Pertemanan? Jangan bercanda.

Aku mengangguk pasrah. Hinata memekik kegirangan lalu menyeretku mencobanya di kamar ganti. Aku mengikutinya dengan pasrah. Hinata menunggu di luar selagi aku mengganti baju.

Bajunya sangat pas ditubuhku, potongan dadanya rendah tetapi tidak mempertontonkan. Hilsnya juga. Aku memandang diriku di kaca. Jika rambutku di tata sempurna dan tambahan kacamata ala Victoria aku mungkin mirip seleb Hollywood yang menghadiri acara jamuan.

Aku keluar dan berjalan ala Model, dan berputar sekali dengan riang.

"Sempurna"Aku hampir saja terjatuh dengan tak elitnya ke lantai ketika mendengar suara itu. Aku sudah tersandung, yang cukup beruntungnya aku masih bisa mempertahankan keseimbangan tubuhku.

Sasuke duduk di Sofa dengan gaya Bossy memperhatikanku dari atas sampai bawah, Shannaro! Apa yang dilakukannya? Hinata lagi-lagi kemana?

Aku berdehem menghilangkan kegugupanku. Ayolah, kau adalah Model yang sedang naik daun Sakura.

"Kemana Hinata?"Tanyaku. Sasuke menyenderkan punggungnya kesofa. Shannaro! Ia tidak menjawab pertanyaanku.

Aku memutar mataku bosan, tapi mataku mendapati Hinata dengan riangnya (lagi) datang sambil membawa beberapa aksesoris tambahan.

"Karena Dressnya sangat minimalis. Kurasa Kalung dan gelang dapat mempermanis penampilanmu Sakura-chan"Ujarnya memakaikanku kalung mutiara berwarna putih dan gelang bertatahkan batu hitam kecil.

Hinata memandangi Sasuke. Oke kurasa Hinata bekerja sama sekarang dengan Sasuke. "lumayan"ucapnya senang. Apa maksudnya, hanya lumayan?

"Bagaimana?"Sebuah suara membuatku menoleh pada ruang kamar ganti di sebelah yang kutempati tadi.

Karin keluar dengan drees ketat tanpa lengan yang memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya, pendeknya juga setengah paha hingga mempertontokan dengan jelas kakinya. Warnanya hampir sama dengan rambutnya. Hils putih silver berkilauan dengan tinggi kuperkirakan hampir 12 cm.

Aku menatapnya kesal, serius. Temanya pernikahan bukan acara dugem tengah malam. Kulihat Hinata tersenyum mengangguk.

Sasuke menatapnya sebentar sebelum matanya menatap Hinata kembali.

"Selera Fashionku sama seperti Hinata. Kalau ia bilang sempurna, maka aku sependapat"Jawan Sasuke, kulihat Hinata tertawa gugup.

"Kau sangat seperti dirimu Karin-chan"ucap Hinata, aku mengerti. Mereka sebenarnya sependapat denganku. Pakaian yang dipilih Karin terlalu berlebihan.

Karin tersenyum penuh kemenangan menatapku. Ia memandang remeh pakaian yang kuapakai.

Idiot iguana merah! Asal kau tau baju ini Sasuke yang pilihkan buatku, Bangsat!?

Aku ingin sekali meneriakkan kata-kata itu.

"Ah! Kalian ada disini. Ayo, kita sudah terlalu lama bershoppingnya. Kita harus istirahat dan bersiap sebelum pergi"Naruto datang tiba-tiba diikuti Saso-nii dan Suigetsu. Naruto memperhatikkanku.

"Sakura, kau terlihat menakjubkan"ucap Naruto memperhatikanku dari bawah sampai atas.

Hinata terkekeh, "Aku yang akan membayarkan sepatu dan kalungnya"Ucap Hinata.

"Aku yang akan membayar Dressnya"Ucap Sasuke. Saso-nii menatap Sasuke dalam. Sial.

"Apa yang kaulakukan disini Uchiha?!"Serunya kaget. Sasuke hanya menaikkan bahunya tak perduli.

"Ganti bajumu Sakura. Aku yang bayarkan"Ucap Saso-nii. Aku meghela nafas. "Tidak. Aku yang memilihkan untuknya, jadi aku yang bayar"Balas Sasuke.

"Errr.. bagaimana kalau Sasori-san memilihkan Sakura-chan tas. Kurasa itu akan membuatnya tampak sempurna"Aku mencintai Hinata. Dia penyelamatku.

Saso-nii mengangguk pasrah. Naruto bingung menatapku. "Jadi, Apa yang harus ku bayarkan?"Tanyanya.

Aku menggeleng begitupun Hinata, "Gelang dan biaya makeup belum ada yang tanggung"Ucap Hinata. Naruto tersenyum. "Yosh, baiklah. Ayo!"Ucapnya.

"Hallo! Bagaimana denganku"Ucap Karin, ia berputar sekali.

"Ouh.. Karin?! Kau tampak.. berbeda"ucap Naruto. Aku sedikit terkekeh mendengarnya. Sindiran yang bagus.

Karin berputar sekali lagi. Aku muak melihatnya. Dia mirip perempuan jalang daripada perempuan lajang.

"Tentu saja. Aku memilihnya sendiri"Ucapnya. Aku menghiraukannya dan masuk ke dalam kamar ganti. Aku bisa bertengkar hebat dengannya nanti.


Aku keluar sambil menenteng dress, sepatu, dan aksesoris lainnya. Kulihat yang lainnya semua sudah berdiri di dekat pintu keluar sambil menenteng beberapa kantungan baju. Oh, aku yang terakhir. Bahkan Iguana merah itu juga berada di sana menatapku kesal.

Hellow! skinny jeans dan boot bukanlah hal yang mudah di pakai. Aku bukanlah dirimu yang menggunakan baju kekurangan bahan.

Aku segera mengabaikannya dan menuju kasir. Kulihat Hinata, Naruto, Sasuke, dan Saso-nii sudah menungguku. Kulihat di tangan Saso-nii ada sebuah Tas tangan pesta berwarna hitam dengan model senada dengan gelangku. Wow!? Dia berhasil mendapatkannya.

Setelah sedikit perdebatan di kasir. Kami akhirnya pulang kembali ke Hotel.


Aku memandangi diriku di cermin. Russel benar-benar hebat. Setelah melihat bagaimana rupa Dressku ia segera menata rambutku. Bukan tatanan Rapi ala Victoria atau Kim kadarsihan. Rambutku di sanggul sedikit berantakan lalu di selipkan sebuah hiasan brokat yang tak sengaja polanya hampir mirip dengan sepatuku. Wajahkupun di makeup natural ala Hollywood (Tebal pada bagian mata, tapi tak berkesan norak. Sedangkan pada bagian kulit wajah hanya beberapa bagian yang di beri efek gelap atau terang). Bibirku di poles warna merah menawan.

Hinata tak kalah menakjubkan, Gaun Abu-abunya sangat mempesonaku. Rambutnyapun di sanggul dan pada bagian sisi wajahnya di biarkan terjatuh dengan bentuk ikal.

Aku dan Hinata segera turun ke Lobby sambil menunggu yang lain. Saat kami berdua turun ada beberapa yang sudah siap.

Seperti misalnya, Neji-nii dan yang kalau tidak salah namanya Sai, mereka berdua duduk di Kursi Lobby. Jas yang mereka kenakan sama hanya beda dalamannya, Neji-nii sangat Classicman sedangkan Sai lebih Modern. Ada juga sekertaris Saso-nii, Temari. ia tampak sempurna dengan dress kuning pucat. Rambutnya yang sering di cepol empat di gerai indah. Lalu ada orang China (kurasa) Hinata mengatakan dia adalah sepupu Shikamaru merangkap sekertaris, ia tampak anggun dengan Dress berwarna Caramel. Rambutnya di urai dan di sampirkan ke kanan.

Neji-nii memujiku dan Hinata, aku tersipu malu.

Pintu lift terbuka, Iguana merah bersama Kakashi dan Suigetsu keluar. Iguana merah tampak sok dengan tatanan rambutnya ala Kim. Ia berjalan mengangkat dagunya. Kakashi dan Suigetsu mereka berdua sangat tampan dengan balutan Jas perak dengan dalaman berbeda. Kakashi Hitam dan Suigetsu Putih.

Tak lama Pintu lift kembali terbuka, Seseorang yang baru ku ketahui bernama Shikamaru melangkah keluar dengan malas, ia mengenakan baju berwarna putih dengan dalaman Classicman berwarna putih.

Saso-nii, Naruto dan Sasuke keluar setelahnya. Saso-nii tampak gagah dengan Jashitam dalaman merah seperti rambutnya. Naruto juga tampak Hot dengan Jas abu-abu dalaman Hitamnya ia tampak serasi dengan dress abuabu Hinata, dan Sasukelah yang membuatku panik sendiri, Jas hitam dengan dalaman Hitam. Hanya aku yang menyadari atau yang lainnya juga, hanya kami berdua memang yang serba Hitam. Sialan, Aku meringis ketika ia menatapku dengan senyuman menyeringai.

Saso-nii tersenyum menatapku, aku tersenyum gugup. Ia menawarkan lengannya berjalan bersamaku. Aku melirik kemeja dalaman Saso-nii, Shannaroo?! Kenapa Saso-nii maniak merah? Ia terlihat lebih cocok berjalan dengan Iguana merah itu. Aku segera menyambutnya dan segera masuk kedalam mobil yang beruntungnya aku berpisah dengan Sasuke.

Sakura POV end


Sasuke POV

Syukurnya aku berhasil menarik Sai semobil denganku. Dengan wajah kesalnya Karin harus semobil dengan Naruto. Aku tertawa sendiri dalam hatiku. Mana mau aku semobil lagi dengan Tokek merah itu.

Sepertinya Sasori belum menyadari bahwa bajuku dengan Sakura seakan berpasangan. Aku sebelumnya telah memilih setelanku, makanya aku segera mencarikan Sakura Dress yang serupa dengan Setelanku dan aku mendapatkannya.

Aku bingung kami semua akan kemana? Naruto tidak mengatakannya dengan Jelas. Designer siapa yang mengundang orang bisa di tambahkan-tambahkan seperti ini. Ini sangat merepotkan sejujurnya. Di plan yang kumiliki hari ini berbeda dengan apa yang kami lakukan sekarang. Apa Naruto menggantinya?

Kami akhir sampai pada sebuah gedung mewah, di depannya telah banyak orang dan wartawan. Karpet merahpun sudah di gelar tepat dari depan pintu utama. Tapi, ini tak seperti dugaanku. Para tamu tak di turunkan di depan pintu utama. Tapi para tamu akan berjalan dari tempat parkiran yang jauhnya 100m dari pintu utama.

Aku menyeringai menatap sebuah nama yang terpampang di dekat pintu masuk. Tentu saja, Yamanaka. Ino designer itu, siapa lagi? Sudah lama aku tak bertemu dengannya secara langsung, Bagaimana keadaannya? Aku turun dari mobil. Karin segera menghampiriku tetapi aku menyuruh Suigetsu jalan bersamanya.

Aku menunggu Sakura, Tentu saja. Ino designer yang cukup ternama. Wartawan yang ada disini bukan wartawan biasa. Ibuku bisa jantungan kalau melihat aku jalan bergandengan bersama Karin atau Seorang diri di majalah atau acara TV Fashion langganannya. Ia pasti akan menanyaiku banyak hal tentang Sakura.

Aku bekerja sama dengan Sai mengalihkan perhatian Sasori. Sai adalah orang yang gampang di ajak bekerja sama. Ia teman yang baik dan setia aku menyukai berteman dengannya.

Entah apa yang dilakukan oleh Sai sampai Sasori meninggalkan Sakura dan Menuju sekertarisnya yang hampir terlibat pertengakaran dengan Shikamaru.

Sakura melongo tak percaya ketika Sasori meninggalkannya. Aku segera menghampiri Sakura.

Sasuke POV end


Sakura POV

Aku turun dari mobil di bantu Saso-nii, aku cukup gugup melihat banyak wartawan di dekat pintu masuk. Aku melihat Hilsku dan ternyata kedua tali pitanya terlepas. Aku baru meminta izin pada Saso-nii mengikat tali Hilsku tetapi Sai menghampirinya dan mengatakan sesuatu tentang Temari. Benar saja mereka berdua sedang bercekcok mulut. Ia lari meninggalkanku. Serius? Aku melongo tak percaya.

Tak kusadari Sasuke sudah berdiri di sampingku.

"Butuh bantuan?"Tawarnya. Aku memutar mataku. Ia terkekeh pelan sebelum berjongkok mengikat tali Hilsku. Aku panik serius. Banyak orang menatap kami berdua. Aku menggerakkan kakiku gelisah.

Diluar perkiraanku, Sasuke memukul pelan betisku. Apa yang di lakukannya Shannaro?! "Dimana tanda terima kasihmu"Ia mendongkakkan kepalanya menatapku. Oh tuhan, malaikat apa ini? Dewa apollo? Ia sangat tampan, apa ia Malaikat hatiku? Ia sempurna, apa kau menciptakannya sambil tersenyum? Oh Astaga... maksudku bukan. ia malaikat mautku, pembawa bencana! Tentu saja, apalagi?

"Aku sedang berusaha menjadi pacar yang baik. Jangan mengganggu"ucapnya. Mataku membulat. Apa ia gila? Pacar? Apa maksudnya?

Ia berdiri sambil menyeringai kearahku. Syukurlah, Saso-nii tidak melihatnya. Ia menarik tanganku memaksaku menggandengnya dan berjalan berdua meninggalkan yang lainnya. Mereka semua sedang sibuk bertengkar sendiri.

Aku terkesiap. Nama Ino terpampang di depat pintu utama. Ino. Boneka babiku?! Tanpa sadar aku mencengkram erat lengan Sasuke. Ia sedikit merintih.

"Kau terlalu bersemangat. Tenang saja. Aku akan bersikap lembut. Tapi, kau jangan memancing bermain kasar"aku menatapnya tajam. Apa yang di bicarakannya?

Kilatan kamera segera mengarah padaku dan Sasuke. Aku sudah terbiasa dengan kilatan – kilatan seperti ini. Aku tersenyum berjalan masuk.

Waaw?! Aku memandangi seluruh gedung ini. Belum banyak tamu yang datang, tapi, kursi yang di sediakan cukup banyak. Panggung berbentuk setengah lingkaran sangat megah dengan nuansa pernikahan dengan banyak bunga di sana – sini. Bahkan di sediakan Jamuan seakan pernikahan sungguhan. Di sebuah panggung kecil depan panggung utama berdiri sebuah piano dan ada jalan kecil yang menghubungkan kedua panggung itu.

"Jangan menatap seperti itu. Kau model, jadi acara Fashion harusnya adalah hal yang biasa buatmu"Sindirnya. Aku menginjak kakinya. Shannaroo!? Ia meledekku. Ia menatapku dingin aku balas dengan gigitan di bibirku seperti anak kecil. Ia menghela nafas.

Kemana Ino? Ia pasti sibuk di belakang panggung.

Sasuke mengajakku kebelakang panggung, tentu saja aku menyetujuinya. Aku belum pernah melihat sibuknya acara Fashion Designer. Selama ini aku hanya model di belakang Kamera.

Awalnya petugas melarang kami masuk. Tapi, entah apa yang di bicarakan Sasuke padanya dengan Bahasa France kami di Izinkan Masuk.

'BRAAAAK'

Baru saja kami masuk, Sasuke di tabrak oleh Seseorang.

"OH MY GOD?! Sorry Monsieur, Upsss.. Sasuke?!"serunya panik. Itu Ino ia tampak sangat menakjubkan.

"Oh. Aku.. bagaimana.. kenapa.. kapan.. maksudku.. Kau ada disini?"Ucap Ino. Aku dan Sasuke mengerutkan keningnya.

"Kenapa kau sangat gugup?"Tanya Sasuke, Ino membulatkan matanya. "Non?! I mean, Sasuke aku merindukanmu"Ino memeluk Sasuke. Sasuke membalasnya. Mereka saling mengenal? Ino tersenyum menatapku masih memeluk Sasuke, aku tersenyum membalasnya. Ia merapatkan pelukannya ke Sasuke. Aku mengerutkan keningku. Apa babi ini melupakanku?

"Ouh Sasuke. Ia mirip dengan temanku Sakura"Ino bergumam di pelukan Sasuke. Aku mendengarnya. Mirip? Serius? Ini aku.

Sasuke terkekeh, "Kebetulan namanya mirip. Dia juga Sakura. Haruno Sakura"Ucap Sasuke. Ino membeku di pelukkan Sasuke. Ia melepaskan pelukannya. Menatap Sasuke bergantian denganku.

Aku tersenyum menatapnya. "Hai Ino"Ucapku sambil melambai kecil.

"JIDAATTTT"Serunya langsung memelukku. Serius? Panggilan itu lagi. Aku melirik Sasuke yang menahan tawanya. Shannaroo..

Ia memelukku erat sampai aku kesulitan bernapas. Untunglah Sasuke masih berbaik hati mau mengingatkan Ino. Ino tersenyum menatapku. Ia menganggapku berpacaran dengan Sasuke. Aku hendak menyangkal tetapi Sasuke segera mengiyakan. Lalu, Aku mengatakan kalau aku sebenarnya datang bersama Naruto dan Hinata serta yang lainnya. Respon yang cukup meng-ngagetkan. Ia berteriak akan mencium Naruto. Serius?

Ia bertanya tentang kuliah kedokteranku. Aku mengatakan kalau aku tahun ini akan segera Wisuda. Aku juga menceritakan tentang pekerjaanku sebagai Model. Dan ia cukup antusias. Ia menarik Sasuke bersamanya meninggalkanku sebentar.

Taklama mereka berdua kembali. Tetapi, Ino dengan wajah Serius dan Sasuke dengan wajah dingin.

"Sakura, Aku butuh bantuanmu"Ucapnya. Kulihat wajahnya sangat serius. Aku mengangguk pelan. Ada apa?

Ino menarik nafasnya frustasi, "Salah satu modelku sedang sakit. Padahal ia termasuk model yang akan mengenakan Rancangan 3 utamaku malam ini"Ucapnya. Aku mengerti, ia ingin aku menggantikan modelnya yang Sakit itu.

"Tentu saja, aku mau tapi. Aku bukan model catwalk"ucapku. Ino menggeleng pelan.

"Kau pasti bisa"ucapnya kulirik Sasuke tidak menyukainya. Ada apa? Ini kesempatanku, setelah lulus Wisuda aku akan berhenti menjadi model dan fokus menjadi Dokter. Kalau aku sampai pernah berjalan di atas Catwalk dan di Paris pula, ini salah satu pencapaian terbesarku.

"Tidak Ino! Kita sudah membicarakan ini tadi. Shion mengetahuinya. Kau harusnya mengerti, ini bisa menjadi kesalahpahaman"Ucap Sasuke. Aku tak mengerti? Apa hubungan ini dengan Shion yang berada di Italy dan kesalahpahaman apa ini?

Ino menatap Sasuke, "Aku janji. Aku tak akan membiarkannya. Aku tak sebodoh itu. Lagipula tidak seharian kok. Cuma sejam kurasa tidak menimbulkan apa-apa"Ucap Ino. Aku tak mengerti apa yang di ucapkan meraka, pasti ada yang di sembunyikan. Sasuke menghela nafas hendak memprotes.

"Hay Sasuke"Perempuan berwajah manis dan berambut coklat datang dengan tubuh dibalit kimono bunga-bunga. Kutebak ia baru saja selesai makeup.

"Hay matsuri"Ucap Sasuke Terkesiap. Siapa Matsuri? Ia menatapku lalu tersenyum, aku membalas senyumnya. Sasuke memandangku aneh.

"Lama tak berjumpa bagaimana kabarmu"Ucapnya. Ia sedikit menjinjit dan mengecup singkat pipi Sasuke. Sasuke tersenyum kearahnya. Kenapa Sasuke tidak marah? Ada apa di antara mereka berdua?

Ino tertawa melihatnya, "Kita sepertinya akan Reuni"Ucap Ino. Matsuri memandang Ino.

"Sungguh? Apa Naruto, Hinata, dan Shion ada disini?"Tanyanya antusias. Sasuke menatap tajam Ino. Matsuri juga mengenal Hinata, Shio dan Naruto, aku semakin bingung. Oke, satu orang famous lagi yang tak ku kenal.

Ino mengangguk, "Tapi, Sayang Sekali. Shion tidak bisa Hadir. Dia harus bernyanyi di ulang tahun calon mertuanya"Jawab Ino. Kulihat Sasuke menatap kesal Ino. Kulihat lagi Matsuri dengan tatapan kecewanya.

"Ohh.. sayang sekali padahal Garaa-kun akan datang malam ini"Ucapnya. Garaa? Apa Sabaku Garaa? Kulihat Sasuke membulatkan matanya begitupun dengan Ino.

"Haaaahhh!?"Ino tanpa Sadar terpekik menatap Sasuke. Matsuri memandang bingung mereka berdua.

"Tidak Ino. Aku tidak izinkan"Ucap Sasuke tegas. Ino menatap kesal Sasuke. Ia tersenyum menatapku dan Matsuri. Lalu menarik Sasuke pergi, lagi.

Sakura POV end


Ino POV

Ini semua di luar rencanaku. Apa yang tidak ingin kuharapkan akan terjadi. Ini semuanya gara-gara model sialan itu! sudahku peringatkan sebelumnya untuk menjaga kondisinya. Tapi dengan gilanya kemarin ia berenang tengah malam di kolam outdoor, mabuk pula. Sinting?!

Aku menarik Sasuke ke dalam ruang makeup.

"Tidak"Ucap Sasuke cepat.

"Apa kau mencintainya?"Tanyaku. Sasuke terdiam. Sudah kuduga?! Brengsek, Sakura Sahabatku.

"Jangan permainkan perasaannya brengsek?!"Seruku. Kulihat Sasuke tak suka dengan ucapanku. Ia menatapku tajam.

"Madre, mengira aku berpacaran dengannya. Kau tahu bagaimana aku! Aku tak bisa. Setidaknya sampai ia mempunyai pelindung yang sesungguhnya. Kau tak ingat kejadian dulu? Kalau kita tak segera menyadarinya dia akan mati. Kau tau bagaimana kalau dia cemburu"Ucap Sasuke. Aku paham dirinya. Ia sangat melindungi sesuatu yang berharga.

Aku menghela nafas. Aku tak mungkin mengubah lagi pengaturan modelku. Mereka sudah berjuang keras sebulan terakhir dengan latihan di Catwalk. Karena konsep pernikahan bukanlah hal yang mudah. Aku juga tak mungkin membatalkan Design yang satunya.

Aku sedikit Frustasi, "Bagaimana Garaa bisa terundang?"Tanya Sasuke. Aku pusing, Undangan sempat kuubah sehari sebelum tersebar, Kursipun akhir-akhir ini sering kuubah terus, terima kasih pada Naruto yang membuat aku bingung sendiri. Tapi, ah yah benar.

"Matsuri salah satu model utamaku. Ia berhak mempunyai satu undangan. Jadi, aku memberikannya ketika ia minta. Tapi aku tak berfikir itu akan Garaa, karena kufikir Garaa tidak mungkin datang"Jawabku. Sasuke mendesah.

"Acaramu akan berantakan kalau aku terlalu egois. Begini saja, kau jaga dia baik-baik. Kau mendengar ceritaku sebelumnya kan. Jangan biarkan mereka berdua bertemu. Aku akan menonton dari luar"Ucap Sasuke. Aku memeluk Sasuke seketika.

"Arigatou, Sasuke-kun. Your the best friend I ever had. Everlasting Friend"Pekikku. Sasuke membalas pelukkanku. Aku tahu Sasuke mempunyai sisi yang sangat baik, ia sangat menjaga sesuatu yang sangat berharga di hidupnya. Dan siapapun yang menjadi pasangan Sasuke kelak, ia pasti akan sangat beruntung mendapatkan Sasuke. Walau kuakui ego Sasuke sangat tinggi tetapi kalau digoyahkan pasti akan jatuh. Aku cukup merasa senang menjadi temannya.

Aku melepas pelukkannku, menatapnya senang.

"Ngomong-ngomong. Bahasa Inggrismu bertambah lumayan"Ucapnya menatapku remeh. Aku mendelik melihatnya, satu lagi kebrengsekkan Sasuke yang mengurangi poin kesempurnannya. Mulutnya yang terlalu manis itu.

Ino POV end


Sakura POV

Aku sedikit berbincang dengan Matsuri ketika Ino dan Sasuke masih berbicara lagi entah apa di ruangan itu.

Seorang banci berambut pendek dengan berwarna Ombrai Blonde bagian atas dan bawah Hijau metalik datang membawa Handphone milik Matsuri yang berdering. Matsuri sangat antusias mengangkatnya, ku tebak itu dari seseorang yang penting.

"Maaf, itu Pacarku. Dia ada di depan. Ia mau melihatku sebentar. Akan ku kenalkan padamu. Tunggu di sini, emm.. kurasa Ino dan Sasuke masih agak lama"Matsuri meninggalkanku. Saat matsuri hilang di belokkan keluar Sasuke dan Ino keluar dari Ruangan itu.

Mereka tersenyum, maksudku hanya Ino. Sasuke? Eeuugh.. palingan seringai yang sering di tampilkannya. Ngomong-ngomong aku penasaran apa yang mereka berdua bicarakan?

"Kemana Matsuri?"Tanya Ino, baru saja aku akan menjawab Matsuri dan seseorang yang kukenal datang berdua. Itua Garaa. Garaa adalah pacar Matsuri?

"Sakura. Perkenalkan ini pacarku, Sabaku Garaa"Ucap Matsuri. Aku tersenyum Kaku. Garaapun begitu. Kulihat Sasuke dan Ino saling memandang panik. Ada apa sebenarnya?

Cukup lama kami terdiam bahkan senyum Matsuripun telah menghilang, "Hai. Aku tak menyangka kita akan bertemu disini. Sakura"Ucap Garaa. Aku mengangguk dan anehnya Ino menggeleng.

"Senang berjumpa lagi denganmu"Ucapku tersenyum, "Senang berjumpa lagi denganmu"Garaa tersenyum membalasku. Tapi yang kurasakan selanjutnya tatapan dingin dari Sasuke dan Matsuri.

'Ekhemm'Sasuke menarik tanganku agar aku mendekat padanya. Pinggangku bahkan di rangkul olehnya. Ino tertawa cukup menyeramkan karena dipaksakan.

"Dunia ini sempit yaah,"Ucap Matsuri, entah mengapa yang kurasakan adalah senyum Matsuri berbeda dari sebelumnya. Garaa menatapku, dan aku menatapnya balik. Sungguh, kejadian terakhir kali bertemu dengannya membuatku malu. Aku meninggalkannya begitu saja di pesta dansa dan itu semua gara-gara Sasuke pantat ayam brengsek tak punya hati.

"Hn. Bukankah acaranya sebentar lagi. Aku akan keluar. Bye, Baby"Tanpa aku bisa menghindar. Sasuke mendekapku lalu mengecup sekilas ujung bibirku, yang kalau di perhatikan sekilas ia seperti mengecup tepat di bibirku. Shannaroo?! Apa yang dilakukan brengsek ini! Aku yakin wajahku sangat memerah, ia terlalu berlebihan memainkan peran pacaran ini.

Aku menundukkan wajahku yang memerah. Akan kubalas kau Uchiha!?

Sakura POV end


Ino tertawa kaku melihatnya. Ia tahu kalau Sasuke dan Sakura berpura-pura berpacaran, Sasuke menceritakannya tadi sewaktu dirinya menarik Sasuke berbicara berdua. Ino dengan sengaja memukul keras bahu Sasuke. Tatapan mematikan langsung di dapatkannya dari Sasuke. Bukan Ino namanya karena dirinya sudah kebal. Hitung saja sekalian dengan balasan ucapan Sasuke di rung makeup tadi.

"Biar kuantar. Garaa, kau juga bisa menonton dari luar. Aku juga harus menemui seseorang"Ucap Ino, Garaa mengangguk. Mengikuti Ino dan Sasuke berjalan keluar.

Sakura tersenyum malu menatap Matsuri, "Kau berpacaran dengan Sasuke?"Tanyanya. Sakura hanya mengangguk singkat.

"Kau beruntung, tak banyak Perempuan yang dekat dengannya dan tak pernah ada yang cukup beruntung berada di posisimu. Mereka palingan hanya sekedar teman kencan satu malam"Ucap Matsuri. Sakura memandang Matsuri bingung. Matsuri mengangkat bahunya. "Sasuke bukan Type menyukai sesuatu yang bertahan lam. Itu yang kutahu"Lanjutnya.

Pertanyaan di benak Sakura sekarang ialah, mengapa Matsuri seakan sangat mengenal Sasuke? Apa hubungan mereka sebelumnya? Bertanya pada Sasukepun rasanya tak mungkin, nanti ia dikira cemburu. Padahal hanya sekedar ingin tahu.

Tak lama Ino muncul sambil menggandeng Hinata.

"Ayo bergegas Sayangku. Kita tidak mempunyai banyak waktu lagi"Seru Ino mengajak kami masuk pada sebuah ruangan.


Ino sedang memberikan arahan untuk Sakura dan Hinata. Makeup mereka tak perlu di ubah lagi. Hanya tinggal sedikit mengubah tatanan Rambut.


Ino berjalan keatas panggung menyapa semua tamunya karena sesaat lagi Acara Fashionnya akan dimulai. Gemuruh tepuk tangan menggema saat Ino muncul sambil memegang Mic.

"Bonsoir, Mesdames et Messieurs. Merci d'être venu. IJe suis si content.Ceci est montrer si spécial à mon grand frère, Naruto. Merci d'être venu du Japon, espère que tu aimes. Donc, ne soyez pas en attente, profiter de la fête! (Selamat malam Nyonya dan tuan.. Terima kasih atas kedatangannya. Aku sangat senang. Acara ini khusus untuk sepupuku, Naruto. Terima kasih kedatangannya dari jepang, Aku harap kau suka. Jangan menunggu lagi, Nikmati pestanya!""Seru Ino. Tepukan tangan kembali bergema. Saat Ino berjalan kembali masuk kebelakang panggung. Tak lama lampu mati menyisakan Panggung yang terang benderang.

Bukannya lagu yang lazim pada acara pernikahan yang di putarkan sesuai tema yang digarapnya. Tetapi lagu Fantastic Baby asal Korea di putar dengan kerasnya. lagu ini sudah di Remix dan diedit terlebih dahulu menyesuaikan jalannya acara Fashion ini.

24 model cantik keluar secara beraturan dari sisi kanan kiri panggung. Mereka berjalan dengan anggun dan berselang seling di atas Catwalk. 12 model yang mengenakan gaun Bridesmaid dengan berbagai model keluar dari sisi kanan dan 12 lainnya dari sisi kiri. Tak lama, karena begitu mereka berselingan keluar membentuk setengah lingkaran mereka segera kembali masuk kebelakang panggung.

Sekitar 2 menit.

Panggung kembali kosong. Lampu berubah berwarna Emas dan putih.

Nananana nananaa.. wow fantastic baby!

Matsuri keluar dari sisi kiri dengan di temani 8 model lainnya. Matsuri tampak anggun dengan gaun pengantin berwarna Gold yang sangat mewah, bagian bwahnya yang sangat menarik perhatian susunan kain Cifon itu sangat mewah, bagian belakang panjang tetapi dei bagian depan memamerkan kaki jenjang Matsuri hingga sepaha. Ia memegang bucket mawar cantik berwarna Merah, 8 model yang mengenakan gaun bridesmaid juga sangat cantik dengan model yang berbeda tetapi warna yang sama.

Semua orang bertepuk tangan melihatnya dan kilatan kamera tak berhenti sedari tadi.

5 menit Matsuri dan dan ke 8 model lainnya berlenggak lenggok.

Begitu model yang terakhir masuk, lagu berhenti.

Lagu Ariana grande Focus bagian Bridge langsung terputar. Lampu mati berganti putih dan Pink.

8 model dengan gaun bridesmaid kembali keluar dari sisi kanan. 4 memakai warna putih gading dan 4 lainnya warna pink. Model bajunyapun tak sama dengan yang sebelumnya kali ini brokat lebih banyak.

Sakura keluar dengan Gaun yang sangat indah. Full brokat berlengan panjang, bagian bahu terbuka dan pada bagian belakang memamerkan secara tidak langsung punggung hingga pinggang Sakura. Ia tampak cantik, makeupnya tidak di ubah hanya bagian rambut di ganti modelnya, rambut Sakura di Urai dan di gelombangkan lalu di gerai ke samping kiri memamerkan Leher dan bahu kanannya. Ia memegang Bucket mawar berwarna Pink dan putih. Sasuke terpaku. Garaa bahkan Naruto dan Neji punjuga. Sai bersiul. Tepukan tangan meriah kembali bergemuruh. Sakura tersenyum sedikit dan terkekeh mendengar siulan Sai. Entah mengapa Gaun press body ini sangat cocok di tubuhnya walaupun ia hanya model pengganti. Karin memandang kesal Sakura. Ia melirik Sasuke yang tak berhenti menatap Sakura dengan senyum kecil.

Panjang gaunnya memang menutup kaki Sakura namun karena bagian bawahnya melebar hal ini memudahkan Sakura berjalan. Makanya Model Bridesmaidnya berjalan terlebih dahulu.

5 menit Sakura berjalan dan berputar memerkan design indah Ino, Sakura kembali masuk lewat tempatnya keluar.

Lagu kembali mati, lampu berganti menjadi hanya Sorotan ke arah tengah Catwalk. Lagu Justin Bieber What do you mean? yang di remix dengan Ariana Grande One last time berputar.

Hinata muncul begitu anggun dengan Gaun putih bersihnya. Seakan perpaduan antara Model yang di kenakan Matsuri dan Sakura. Gaun yang di kenakan Hinata sangat Mewah dan Indah. Bagian dada dan perut Full brokat memang tetapi bagian bawahnya Cifon jatuh dengan indahnya. Bagian belakangnyapun terbuka sempurna memamerkan punggung indah Hinata. Rambut Hinata tidak diubah sama sekali. Ia berjalan anggun sambil memegang bucket bunga Mawar berwarna putih dan merah. Semua orang berdiri bertepuk tangan. 8 orang bridesmaidnya pun tak kalah cantik dengan gaun berwarna putih bersih. Lampu hanya menyoroti Hinata dan Ke 8 BridesMaidnya.

5 menit Hinata berjalan Di Catwalk. Ia kembali masuk dari sisi kiri.

Tapi kali ini lampu kembali menyala dengan sorotan Pink, putih, dan Gold. Lagu tak lagi berhenti.

Layar yang sedari tadi hanya Background animasi berjalan, kini terbuka. Para Model Bridesmaid keluar dari sisi kanan, kiri dan Tengah. Bridesmaid Matsuri dari sisi kiri, Sakura sebelah kanan, dan Hinata Tengah. Lalu disusul Matsuri, Sakura dan Hinata keluar bersamaan dari sisi masing-masing. Bagaikan Miss Universe, mereka berjejer Rapi. Tepuk tangan kembali bergemuruh, Kilatan Kamera tak berhenti memotret semua model. Seluruh tamu kembali berdiri.

Ino keluar dari tempat Hinata. Ia tersenyum sambil melambai. Seorang Pria memberikan Ino bunga yang sangat indah.

Para model semua bertepuk tangan, dan tersenyum. Ke 24 model tadi kembali masuk meninggalkan Sakura, Matsuri, Hinata dan Ino diatas panggung.

Tepuk tangan masih bergemuruh. Tetapi lampu sudah kembali di nyalakan.

"Salut! Tout le monde. Je vous remerci?! …, Tout est déjà prêt. Comme le thème. jouir"Ino sedikit membungkuk. Sakura dan Matsuri berjalan terlebih dahulu meninggalkan Catwalk, meninggalkan Ino dan Hinata.

"Kau tunggu disini aku mempunyai kejutan untukmu"Ino berlalu meninggalkan Hinata sendiri diatas Catwalk. Tak lama lampu kembali mati. Para tamu dan Hinata sendiri bingung.

Lampu sorot kembali menyala kali ini menyoroti Piano yang berada tepat di depan panggung Catwalk, Shion dengan anggun duduk sambil memainkan piano dan Naruto berdiri dengan penuh percaya diri di samping Shion sambil memegang Mic.

Intro All Of Me By. Jhon Legend terdengar.

What would I do without your smart mouth?

Drawing me and you kicking me out

Got my head spinning, no kidding, I can't pin you down

Whats going on in that beautiful mind?

I'am on your magical mistery ride

And I'am so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright.

My heads under water but I'am breathing fine.

You crazy and I'am out of my mind

Cause all of me, love's all of you

Love your curves and your edges

All your perfect imperfection

Give you All to me, I give my all to you

You my end and my beginning

Even when I lose and winning

Cause I give you All of me

And you give me all of you .. ohh..

Naruto menyanyi sepenuh hati dengan di Iringi Shion yang memainkan Pianonya, tak sebagus yang di harapkan memang. Namun bukannya semua yang di lakukan dengan sungguh-sungguh (sepenuh hati) pastilah yang terbaik.

Naruto berjalan menghampiri Hinata yang matanya berkaca, Shion tak berhenti memainkan instrument All Of Me.

"Good Evening, Ladies and Gentleman. Tonight I want to say something. I want to share my happines. But, First let me tell you a classic Story.

Once upon a time, I fell in love with a girl who my childhood. I'am very fallin love wih her, and I want to marry her. I had blessing from her parents. But, not good story if not was complication. The girl has a brother, whos very protect her. And he so love and respect her brother. This story not finish, not yet. Because, I have to had permission and blessing from her brother. So, Neji-nii…"Naruto menghela nafas sambil merangkul Hinata. Naruto memandang gugup Neji yang berada di tengah kegelapan.

"Can I, Naruto. Marry your Sister? I will protect her with all my life. I promise"Ucap Naruto bersungguh. Lampu sorot kini menyoroti Neji yang duduk di samping Sasuke dengan wajah Datar. Seseorang tak senang mendengarnya, orang itu menatap Naruto tajam di tengah kegelapan yang menutupinya.

Neji terdiam nampak berfikir, "With all your life?"Tanya Neji meyakinkan. Naruto mengangguk pasti. Orang itu tambah tak menyukai Jawaban yang Naruto berikan, baginya Ini semuanya terasa salah, tidak benar. Harusnya dirinyalah yang berada disana.

"Do you Really love my sister?"Tanya Neji lagi, Naruto mengangguk. "Yes, I am"Ucap Naruto lantang.

"More than You loves Ramen?"Teriak Sai dari belakang, orang-orang tertawa mendengarnya. Naruto memandang kesal Sai.

"Same level with Ramen"Jawab Naruto. Semua orang kembali tertawa mendengarnya. Hinatapun tertawa mendengarnya. Sasukepun terkekeh kecil mendengarnya. Tapi orang itu kembali mendengus mendengarnya.

Neji mengangguk, semuanya kembali terdiam menanti jawaban Neji.

Neji Berdiri, naik ke atas panggung. Menarik Hinata menjauh dari Naruto. Orang itu tersenyum melihat Neji yang menarik Hinata menjauh dari Naruto.

Naruto kaget dengan Neji yang menarik Hinata menjauh darinya, begitupun Hinata yang memandang khawatir. Wajah Neji tak pernah seserius ini sebelumnya pada Naruto.

Neji menggeleng pelan. Shion menghentikan permainan pianonya. Ini tak sesuai harapan. Ino dan Sakura menatap cemas Naruto dari belakang panggung, lewat cctv yang memang terpasang di beberapa bagian.

Karinpun yang terbawa suasana tanpa sadar meremas lengan Suigetsu yang berada di sampingnya. Temari dan Tenten pun menunggu jawaban dari Neji. Sai memandang bingung Neji begitupun dengan Kakashi hanya Sasuke yang menampilkan wajah datarnya.

Neji membuka mulutnya, "Thank you for love my sister with all your life and same level with you love Ramen. But …."


Bersambung…


Guest (Selvi) :Up. Thanks ^^v

Guest : Up. Thanks ^^v

Guest (vana61) : Up. Thanks ^^v

Guest (Sasu-chan) : Up. Thanks ^^v

lyn307 : thanks ^^v

Guest (keken blosom) : Maaf, lagi sibuk UTS. tapi chapter ini 10K loh. Thanks ^^v

Guest (ina) : Makasih.. ^^v

nurvi-chan : oke. makasih ^^v

Guest (Nicta) : Up now! Makasih ^^v

nice cherryblossom : Ada nanti di ceritakan. Chap depan pasti akan terjawab. Makasih ^^v

Guest (NN) : makasih ^^v

genie luciana : Thanks ^^v

Guest (yancherry) : Hahaha.. makasih ^^v

Guest (puput) : Chap depan yah. Makasih ^^v

hanikofukumitsu : makasih hahaha... ^^v

alfriza : Makasih hahaha.. ^^v

Guest (zarachan) : Ok ^^v

kagaaika uchiha : makasih ^^v

indigoRansengan23 : ok ^^v

Luca Marvell : haha iya. dilihat ajah yah nanti. makasih ^^v

yuanthecutegirl : hiihiihi.. iyaaa.. makasih ^^v

A panda-chan : oke makasih ^^v

dianarndraha : oke ^^v

haruka Ryokusuke : oke ^^v

JungHa- 'ySasu : di tunggu ajah next-next chapnya. makasih ^^v

Big thank to yang udah Favo, Follow, Review, Silent reader, sepupu kesayangan Cherry Molen dan Lemon. Lavyou All.

Thank You Verry Much

Cherry Aiko / AA / SKAS / Ai

My lovely sweet place TELKOM ^o^

Jayapura, 28 februari 2016