Neji menggeleng pelan. Shion menghentikan permainan pianonya. Ini tak sesuai harapan. Ino dan Sakura menatap cemas Naruto dari belakang panggung, lewat CCTV yang memang terpasang di beberapa bagian.
Karin pun yang terbawa suasana tanpa sadar mencengkeram erat lengan Suigetsu yang berada di sampingnya. Temari dan Tenten pun menunggu jawaban dari Neji. Sai memandang bingung Neji begitu pun dengan Kakashi. Hanya Sasuke yang menampilkan wajah datarnya.
Neji membuka mulutnya, "Thank you for love my sister with all your life and same level with you love Ramen. But …."
"Can you prove you really, love Hinata?"Tanya Neji. Naruto menghela nafas lega. Dipikirnya Neji tidak akan merestuinya. Shion kembali memainkan pianonya.
.
.
HOLIDAY
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku, Slight/ NaruHina, ShikaTema, NejiTen, SaIno, SuiKarin
Happy reading ! Don't Like Don't Read
.
.
Semua orang yang sempat berpikir negatif tertawa mendengus mendengarnya. Sai tersenyum kaku menyadari pikiran tidak baiknya. Tenten dan Temari saling memandang lega, Karin melirik tangannya yang mencengkeram lengan Suigetsu. Ia segera menjauhkan dirinya dari Suigetsu. Kakashi menarik nafas setelah tadi ia menahan nafasnya menanti lanjutan kalimat Neji.
"Yes. I can"Ucap Naruto tegas. Neji tersenyum mendengarnya. Semua orang bertepuk tangan mendengar kesungguhan Naruto dan mini drama (tak sengaja) Neji.
"Aku tahu ada yang kalian sembunyikan dariku selama ini"Ucap Neji berbisik. Naruto tersenyum gugup mendengarnya. Hinata tak berani menatap Neji dan mengalihkan perhatiannya pada tempat lain.
Orang itu menatap tak suka ketiga orang yang berdiri di atas panggung. Dia berdiri dan pergi dari tempatnya. Sasuke melirik orang itu dengan ekor matanya yang tampak sekali tidak suka di Momen bahagia ini. Sudah ia duga memang. Orang itu pasti tidak akan merelakannya. Sasuke ikut berdiri menyusulnya yang menuju belakang panggung.
"So, Naruto? I will wait your sincerity"Neji turun dari panggung. Semua kembali bertepuk tangan, Naruto kembali merangkul Hinata dan lampu kembali di nyalakan seluruhnya. Shion mengakhiri solo pianonya dengan menakjubkan. Naruto dan Hinata masuk ke belakang panggung. Orang-orang menikmati jamuan kecil yang di sediakan Ino.
"Menegangkan"Seru Ino menghampiri Hinata dan Naruto. Naruto membantu Hinata menuruni tangga yang berada di belakang panggung.
Hinata tersenyum malu. Naruto tertawa.
"Aku turut bahagia. Ku harap Naruto kau bisa membuktikannya segera. Tadi itu cukup menahan nafas"Matsuri datang sambil memegang beberapa Bucket bunga.
Naruto tertawa sambil menggaruk kepalanya. "Terima kasih, Matsuri. Hai. Aku tak tahu kau ada di sini sampai aku melihatmu sangat menakjubkan tadi"Puji Naruto. Matsuri terkekeh pelan dan berterima kasih pada Naruto. Matsuri menyerahkan bunganya pada Asistennya yang datang menghampiri.
"Aww.. Aku menyesal pernah menolak tawaranmu Naruto. Aku hampir saja melewatkan momen langkah ini. Kau akhirnya meminta restu Neji secara resmi? Kau lihat wajahmu? Kau seperti tersedak biji salak"Gurau Sakura yang sudah berganti dengan baju awalnya.
Naruto cemberut mendengar ejekan Sakura. "Yah, aku tahu. Kau menyesalinya bukan? Kau tahu. Tadi Sasori hampir gila mencarimu. Kau dengan Teme menghilang begitu saja, dan kau harusnya lihat betapa gelisahnya dia melihat Sasuke tanpa dirimu di kursi di depan. Dan betapa terkejutnya dia melihatmu berjalan dengan anggun diatas Catwalk. Ia hampir menangis. Kau bagaikan kucing yang hilang di temukan kembali"Balas Naruto. Sakura merenggut. Kucing? Apa maksudnya menyamakan dirinya dengan Kucing?
"Yah, aku sejenis kucing Anggora atau Persia yang di sayanginya"Sakura memutar matanya. Naruto tak mau kalah.
"Tidak, Kau sejenis pudel yang di sayanginya"
Sakura membulatkan matanya, "Tapi, Pudel itu jenis hewan Anjing bukan Kucing"Seru Sakura tak terima. Hinata menahan Naruto yang ingin membalas Sakura lagi, Ino menggeleng pelan begitu pun Matsuri yang tertawa mendengarnya.
"Hai, Selamat atas suksesnya acara tadi. Ino Designmu sungguh menakjubkan"Ucap Garaa bergabung bersama mereka. Ia memberikan 3 dari bucket bunga yang di pegangnya.
"Sakura kini aku percaya kau adalah Model, tadi kau sangat menawan"Ucap Garaa, menggoda. Sakura memutar matanya bosan sebelum tertawa dan mengambil bucket bunga kedua yang di berikan Garaa.
"Sayangku seperti biasa, Kau sangat Fantastic", Garaa mengalihkan tatapnya dari Matsuri ke Hinata.
"Hinata. Kau sungguh, amazing!"Garaa memberikan bucket bunga di tangannya yang terakhir untuk Hinata. Ia mencium pipi kanan Hinata. Naruto tertawa paksa melihatnya, wajah Hinata pucat seketika. Ino membulatkan matanya. Sakura tersenyum mencium bunganya sembari menutupi tatapan menyelidik yang diedarkannya pada Hinata, Ino dan Naruto.
Sakura melihatnya. rahang Matsuri mengeras.
"Sayang, kau sudah mendapat bucket bungaku dari Frisca tadi kan?"Garaa merangkul Matsuri, Matsuri mengangguk sambil mengulum senyumnya.
"Ino, Aku jadi mengambil gaun ini. Sempurna. Akan Hinata gunakan Saat Resepsi di Konoha nanti"Ucap Naruto mencairkan suasana. Ino mengangguk.
"Resepsi?"Sakura bingung.
"Kalian akan menikah?"Tanya Matsuri. Hinata mengangguk malu dan Naruto.
"Kami ke kesini ingin liburan sekalian mempersiapkan Pernikahan kami minggu depan. Pemberkatannya tak mengundang orang, hanya keluarga dan teman dekat yang akan datang. Resepsinya barulah kami mengundang"Jelas Naruto gugup.
Sakura terpekik, "Awww.. Selamat"Sakura memeluk Hinata.
"Ehem.."Semua menoleh kepada suara yang berdehem. Sasuke muncul tepat di samping Sakura.
"Cara yang unik untuk Fitting baju pernikahan"Ucap Sasuke. Naruto mengangguk tertawa. Sakura melepas pelukannya.
"Kami ucapkan selamat untuk kalian berdua"Ucap Matsuri, Garaa mengangguk pelan dengan senyum manis miliknya yang membuat sakura mengagumi Garaa.
"Terima kasih. Kalian berdua pasti aku undang di acara pemberkatannya. Akan ku hubungi segera. Setelah urusanku dengan Neji-nii selesai"Naruto tertawa bersama Hinata dan Sakura. Matsuri terkekeh bersama Garaa, sedangkan Sasuke dan Ino saling bertatapan.
"Aku permisi dulu. Sampai Jumpa. Bye. Sakura dahh"Ucap Garaa berlenggang pergi. Matsuri tersenyum.
"Aku akan mengganti baju. Bye"Matsuri berbalik menuju ruang ganti.
"Ino, bagaimana dengan baju yang di kenakan Matsuri denganku serta para model yang lainnya? Fashion ini untuk Fitting gaun pernikahan Hinata kan?"Tanya Sakura, Ino tersenyum mendengarnya.
"Gaun-gaun yang lain akan aku lelang dengan harga tinggi Forehead. Uangnya akan kembali sebagai keuntunganku dan sponsor, lalu sisanya untuk yayasan amal"Jelas Ino Sakura mengangguk mengerti.
Raut wajah Sakura merenggut, "Sayang sekali, padahal aku menyukai gaun yang ku kenakan. Lain waktu, Ino-pig kau bisa membuatkanku gaun yang serupa lagi?"Tanya Sakura. Ino tertawa mendengarnya.
"Akan ku buatkan yang jauh lebih bagus dari yang kau kenakan tadi. Tenang saja"Jawab Ino. Sakura tersenyum mendengarnya.
"Sakura. Kau mau menjadi Bridesmaidku bersama Ino nantinya? Shion juga akan ikut. Kau mau?"Tawar Hinata. Sakura mengangguk setuju mendengarnya.
"Tentu saja, aku mau!"seru Sakura.
Ino terkekeh dan Hinata. Naruto tersenyum begitu pun Sasuke.
"Naruto sebaiknya kau segera beritahu Neji tentang hal ini. Bukankah ini bukti kuat kalau kau bersungguh-sungguh mencintai Hinata?"Usul Sasuke. Naruto mengangguk setuju.
"Segera"
Sasuke merangkul pinggang Sakura ketika mereka berdua keluar dari belakang panggung. Sakura beberapa kali berusaha menyingkirkan tangan Sasuke dari pinggangnya. Ia sangat risih dengan ulah Sasuke. Sakura mengeluh keras, Ada apa dengan Sasuke? Bukankah Sasori tidak melihat mereka.
"Aku akan membalasmu Uchiha"Desis Sakura kecil. Sasuke menoleh menampilkan senyum menyeringai miliknya.
"Tentu saja. Aku menunggu saatnya"
Sakura kembali mendengus. Begitu dirinya melihat Sasori berdiri tak jauh dari mereka berdua ia berusaha keras melepaskan rangkulan Sasuke.
Sakura POV
Oh tuhan!? Itu Saso-nii ia sedang berbicara bersama Sai. Aku harus segera melepaskan rangkulan Sasuke, Demi Tuhan! Saso-nii akan memburu Sasuke kalau ia melihatnya. Kenapa aku perduli? Bukankah bagus, Sasuke akan segera menjauhiku. Tapi, bagaimana kalau Sasuke terluka? Aku tak tega melihatnya. Maksudku, kasihan Mikoto-kasan. Ia pasti akan khawatir sama sepertiku. Maksudku, lupakan. Oke?
Aku menepis tangannya. Ia tak bergeming, Shannaro!.
Aku mencubit lengannya. Ia tetap tak bergeming, Shannaro!
Aku memukul lengannya. Ia hanya mendelik tak suka menatapku, Shannaro!
"Lepaskan tanganmu Brengsek!"Paksaku. Sasuke berbalik senyum ke arahku.
"Mau ku teleponkan Aniki untuk membatalkan semua kontrakmu? Atau kerja samanya?"Ancam Sasuke. Oke dia mulai kembali mengancam. Seseorang bisakah ada yang memanggil My Mikoto-Ka'san tercinta untuk datang dan menjewer anak bungsunya ini. Oh tuhan, aku sangat membutuhkannya. Kalau aku meminta bantuan Saso-nii, dia akan terkena masalah, oke aku sedikit mengkhawatirkannya. Sedikit. Kalian puas, aku mengakuinya?
Aku menghela pelan mendengarnya, bagus. Aku merasa hakku sebagai manusia sedang terancam. Aku hanya Sedikit khawatir kau tahu Sasuke? Bagaimana kalau Saso-nii melihat ini. Aku tidak begitu mempermasalahkannya, ya jujur saja siapa yang tidak mau di rangkul oleh lelaki setampan Sasuke? Ia bukan saja tampan ia sempurna, kecuali sifat Egois yang menyebalkannya.
Sasuke sudah sangat baik padaku. kejadian di Venice dan Roma membuatku tersadar.
Sasuke adalah orang yang penuh tanggung jawab dan perhatian mengingat kejadian di Venice.
Sasuke adalah orang yang penuh kasih sayang setelah semua kejadian Di Roma.
Dan kejadian di Paris hari ini, aku harus berterima kasih padanya nanti, berkat dia aku bisa melihat Naruto yang meminta restu Neji dan aku bisa hadir di pernikahan Hinata dan Naruto nantinya.
Aku tak bisa bayangkan kalau Sasuke tidak mau menculikku, aku pasti akan melewatkannya.
Aku tidak lagi munafik bukan?
Tapi tetap saja, ia iblis penghuni neraka Jahanam yang berada di tubuh malaikat penghuni surga.
"Lakukan saja. Tapi, jangan pernah menampilkan wajahmu di Osaka. Aku jamin hal itu"Kecamku balik. Ia tertawa mendengarnya.
"Aku bukan pengedar Narkotika. Aku pengusaha"Ucapnya.
"Aku tahu. Aku akan laporkan pada Ka-san"Ucapku. Ia meleguh cukup keras.
"Dan sudah kukatakan, mulai dari atas pesawat kemarin. Kata-kata itu sudah tidak mempan buatku"balasnya. Aku tahu. Tapi, aku cukup cerdik.
"Tentu saja. Ka-san sudah mempersiapkan tentang hal itu. Dia memberiku nomor ponsel pribadinya dan juga email pribadinya. Ia menyuruhku memberi kabar lewat surel atau Skype. Uppss. Apa aku mengatakannya? Seharusnya itu menjadi Rahasia dia antara kami bertiga. Di tambah Ji-san. Hahaha"Bongkarku. Ia terlihat kaget dengan ucapanku. Aku kembali menepis keras lengannya, akhirnya Sasuke melepas rangkulannya yang syukurnya tepat saat Saso-nii melihat kami berdua.
Saso-nii tersenyum melihatku dan segera menghampiriku. Ia menarikku ke dalam pelukannya. Oh, Saso-nii aku juga menyayangimu.
"Sakura, Aku telah menelepon Tayuya dan mengatakan kau bersamaku. Ia cukup kaget, tapi aku mengatakan kalau kau butuh liburan. Dia juga menanyakan tentang masalah tunanganmu. Aku bilang itu hanya gurauan. Dia hanya salah satu asistenku."Jelasnya, aku mengangguk.
Saso-nii melepaskan pelukannya. Lalu merangkulku. Setidaknya masalah di Konoha sudah selesai. Tinggal menelepon Tou-san dan Ka-san, kuharap Tayuya tak cerewet membicarakan hal konyol itu.
"Oh man, Aku disini! Asistenmu? Aku merasa terhormat menjadi asisten dari calon kakak ipar"Ucap Sasuke. Aku segera menahan Saso-nii yang ingin membalas perkataan Sasuke.
Saso-nii menggeram pelan, "Jaga mulutmu Uchiha!"
Sasuke tersenyum menang sebelum melenggang pergi dan hilang di kerumunan. Setelah beberapa kalimat tentang ke tidak sukaannya pada sikap Sasuke, Saso-nii memujiku dengan balutan design Ino. Kami berdua terus bersama sampai akhirnya Aku bersama Saso-nii menikmati perjalanan pulang kembali ke hotel tanpa gangguan dari Sasuke. Entahlah, dia menghilang entah ke mana? Kenapa aku jadi sering memikirkannya?
Sakura POV end
Ino POV
Seperti biasa setelah pertunjukkan aku keluar untuk menyapa para tamuku. Hidangan kue sudah tersedia dengan apik di atas meja. Sepertinya mereka semua menyukai tema yang ku garap ini, karena mereka semua tampak menikmati acara ini.
Ku lihat Naruto berdiri di samping Hinata dan Neji. Yah, sepertinya Neji belum bisa melepaskan Hinata dengan Ikhlas jika kesayangannya di ambil oleh orang lain, bahkan dengan sahabat Hinata dari Kecil.
Aku juga melihat Sakura bersama lelaki berambut merah, kalau tidak salah dia bersama dengan Naruto dan yang lainnya. Jujur saja aku tak terlalu mengenal Teman-teman Naruto dan Sasuke.
Aku, Sakura dan Hinata kami bersekolah di Junior dan High school yang menggarap sistem khusus perempuan. Sedangkan Naruto dan Sasuke, mereka Junior dan High school khusus lelaki. Elementary-pun aku tak bersama mereka. Aku di Paris.
Sasuke? Aku melihatnya, sepertinya beberapa kolega bisnisnya ada di sini. Ia berbincang serius bersama beberapa orang (yang semuanya kukenal) dengan Kakashi Selalu berdiri di samping Sasuke. Asisten Pribadi Sasuke semenjak ia kembali dari Roma, atau tepatnya setelah ia menyelesaikan Elementarynya di Roma, Italy.
Aku juga melihat Karin, sepupu Naruto yang lain. (Aku adalah sepupu dari ayah Naruto dan Karin dari Ibu Naruto, jadi aku dengannya tidak bersepupu) Jujur saja aku tak begitu menyukainya, ia terlalu berlebihan. Ia berdiri di samping lelaki yang kalau tidak salah adalah Asisten terpercaya Itachi. Si sulung Uchiha.
Apa yang di lakukannya di sini? Apa Itachi ada di sini? Tapi, sepertinya tidak ada. Entahlah, tapi Perempuan kurang belaian itu terus menatap Sasuke tanpa Henti. Aku masih tak percaya sewaktu di Elementary Sasuke berteman dengannya. Aku tak bisa bayangkan bagaimana keseharian Sasuke selama di sekolah dasar. Pantas saja, pendidikan selanjutnya Sasuke lebih memilih sekolah dengan sistem khusus lelaki.
Jujur saja, walau Aku dengan Shion sering mengunjunginya di Roma, kami berdua tidak begitu mengetahui keadaan sekolahnya ataupun bagaimana teman temannya. Hanya 3 nama Temannya yang ku tahu di Roma. Karin, Suigetsu dan seseorang bernama Juugo.
Aku juga melihat Temari, Tenten dan Shikamaru. Mereka bertiga duduk dengan tenang. Kulihat mereka berbincang dengan sesekali terjadi perdebatan. Yah aku akui Shikamaru adalah Orang yang menyebalkan dengan mulut pedasnya. Ia cukup membosankan karena ia sendiri pun mudah bosan dengan keadaan sekitarnya.
Tunggu dulu, satu lagi teman Naruto yang tidak kutemukan. Lelaki pucat dengan kejujurannya yang menarik minatku. Di mana dia? Aku mengedarkan pandanganku. Beberapa kali mataku mendapati para tamuku yang berusaha menarikku untuk bergabung mengobrol bersama mereka. Tapi aku hanya tersenyum berpura-pura bahwa ada hal penting yang ingin kulakukan. Apa ia tidak hadir? Ada apa dengan Sai?
Seseorang menepuk pundakku dari belakang, aku langsung berbalik tanpa menoleh terlebih dahulu. Shion tersenyum memandangiku. Awwhh... aku merindukannya. Tapi aku berpura-pura kesal. Ayolah, aku yang mempunyai acara ini. Tapi Naruto yang sok berkuasa atas segalanya. Aku tahu ia sponsor terbesarnya, tapi aku sendiri mendapat kejutan di sebuah kejutan yang kurancang sendiri. Kalian tahu apa maksudku. Atau kalian bingung? Ingatkah tentang :
"Kita sepertinya akan Reuni"Ucapku ke Matsuri. Matsuri memandangku antusias. Huh! Ratu drama..
"Sungguh? Apa Naruto, Hinata, dan Shion ada disini?"Tanyanya yang aku yakin sok antusias. Sasuke menatap tajam aku. Aku tersadar apa yang baru ku katakan. Oh tuhan! Aku sudah sangat salah mengatakannya.
Aku mengangguk pelan, "Tapi, Sayang Sekali. Shion tidak bisa Hadir. Dia harus bernyanyi di ulang tahun calon mertuanya"Jawabku sedikit menyesal, sambil sesekali melirik Sasuke yang mengawasiku tajam.
Ingat sekarang? Shion mengatakan padaku dirinya akan bernyanyi di ulang tahun calon mertuanya. Jangan bercanda! Ia sekarang hadir di acaraku, dan ini bukan perayaan ulang tahun calon mertuanya yang cerewet itu. Belum lagi dengan ucapan Naruto yang memperkuat alasan tersebut. Sepupu kurang ajar, Brengsek!
"Aku minta maaf telah membohongimu"Ucapnya tulus, aku tahu. Aku mengangkat bahuku.
"Aku bukan calon mertuamu"Jawabku sekenanya. Shion tertawa mendengarnya, aku pun ikut tertawa. Kemudian aku memeluknya. Kami berbicara tentang acara ulang tahun calon mertuanya. Shion mengatakan sebenarnya itu benar. Calon mertua atau katakan saja mantan Calon mertua. Karena, kemarin dirinya baru saja mengakhiri hubungannya dengan sang tunangan. Bukan apa, memang tak ada cinta di antara mereka. Hanya sebatas Teman, tak lebih.
Mantan tunangan Shion itu adalah pengusaha yang cukup sukses, ia juga merupakan salah satu pemegang saham di perusahaan Shion. Umurnya sama dengan Shion dan itulah alasan mereka berdua menjalin persahabatan dengan mudah. Mantan tunangannya dulu membutuhkan bantuan untuk memperkenalkan Shion sebagai Tunangannya, hanya pura-pura untuk menyudahi perjodohan konyol ibunya. Mereka berdua saling menjaga selama hampir satu tahun lebih dengan status Tunangan. Hal ini juga menguntungkan Shion untuk menghindari pemberitaan miring di Media tentang dirinya. Akhirnya Sang Tunangan menemukan tambatan hati, yang menjadi akhir dari perjanjian dan kepura-puraan mereka.
Tidak semua ceritai berakhir seindah di Novel picisan bukan? Apalagi yang memang di landasi dengan kepura-puraan. Mereka berhak mendapatkan cinta mereka sendiri yang sesungguhnya.
Aku mengangguk mengerti. Tadinya Shion memang akan bernyanyi di sana, namun dirinya lebih memilih menghadiri acara Ini. Aku mencintainya. Saat aku menoleh ke kiri, Sai. Ia berdiri di dekatku sambil tersenyum. Ia memegang setangkai mawar.
"Untukmu. Maaf, aku hanya menemukan satu. Aku tak bisa memberikan yang banyak seperti mereka"Ucapnya tersenyum. Aku menyukai cara ia tersenyum. Aku membalas tersenyum dan hanyut dalam matanya yang berwarna hitam kelam. Sebelum akhirnya Shion menyadarkanku dan mereka berdua menertawakanku. Sial, aku pasti terlihat konyol. Aku menerima dengan gugup bunga mawar yang di berikannya.
Kami bertiga mengobrol cukup lama, sampai akhirnya mulai banyak tamu yang pamit undur diri. Acara pelelangannya memang di lakukan besok malam oleh para sponsorku.
Sampai akhirnya Sai beserta semuanya dan meninggalkan aku bersama Shion berdua. Ia menatapku serius.
"Kenapa bisa ada Matsuri?"Tanyanya. Aku tergugup. Oke itu pertanyaan yang saat ini ku hindari. Bisakah aku tak menjawabnya. Namun sepertinya Shion tak mengizinkannya. Aku menghela nafas pasrah.
"Oke, aku bertemu Matsuri di acara amal Fashion 2 bulan yang lalu. Aku, kau tahu berpura-pura tak ada apa-apa dengannya. Aku menceritakannya tentang acara ini tapi tak mengatakan tujuannya. Aku bilang membutuhkan Model Utama untuk 3 rancangan utamaku. Aku tahu ia model yang cukup terkenal, aku mengatakannya agar dia memberiku saran. Ia pasti mempunyai kenalan teman Model lebih banyak dariku. Tak ku sangka ia tertarik dengan Tema nya, lalu ia menawarkan diri menjadi Salah satu model. Tolong jangan marahi aku, Sasuke sudah melakukannya. Kau tau bagaimana kalau Sasuke Marah. Urggh!"Jelasku panjang. Shion mendengar penjelasanku. Tatapannya berubah melembut.
"Kau menerimanya?"tanya Shion. Tentu saja, kau melihatnya di atas Catwalk tadi.
"Awalnya tidak. Setelah Kupikir, Kenapa tidak? Dan itu sebelum Naruto mengubah rencananya 6 hari yang lalu dan aku tak mungkin membatalkan janjiku dengannya. Ia pasti akan berpikir tentang kejadian yang lalu menjadi alasannya"Jawabku. Shion mengangguk mengerti.
"Ngomong-ngomong..."Ucapnya, oh. Dia sudah mengganti topik yang lain. Aku tersenyum menunggunya.
"Lelaki tadi siapa? Kau memandanginya dengan cara yang aneh. Bukan caramu sama sekali"Lanjutnya. Aku terkejut. Senyum di wajahku sudah menghilang, aku Kelagapan mau menjawab apa. Shion tertawa melihatku. Tanpa menunggu jawabanku, Ia pamit, ia harus kembali ke Italy sekarang. Ada beberapa urusan yang harus di selesaikan, katanya. Syukurlah, aku tak tahu mau menjawab apa.
Aku berdiri di atas panggung, Rencana 6 bulanku sukses! Walau banyak hal yang harus kuurus setelah ini. Oh Tuhan. Terima kasih.
Ino POV end
Sasuke POV
Perasaanku tidak enak saat nama Itachi Baka Aniki tertera di ID Callerku. Aku sebenarnya tak ingin mengangkatnya. Namun dia pasti akan melaporkannya pada Madre hal yang tidak masuk akal dan tidak benar membuatku mau tak mau, mengangkatnya. Lagi pula, aku yakin ia tak terlalu banyak bertanya karena Suigetsu pasti telah melaporkan segalanya.
Di Paris sudah menunjukkan pukul 11 malam, berarti di Jepang sana pukul 6 pagi. Artinya bukan telefon sembarang yang akan ku terima, berharap saja begitu. Tapi, apa? Itu Telefon omong kosong yang berisi mandat akan mengambil Baju pesanan Konan sang Kekasih tercintanya, di salah satu penjahit di sini. Menyusahkan sekali.
Syukur aku hanya semobil dengan Kakashi dan Suigetsu. Tokek merah (Karin) itu tidak melihatku masuk ke dalam mobil paling depan. Kalau aku semobil dengan nya pastilah Suigetsu yang kugunakan untuk menjadi Tamengku. Aku cukup heran dengan kelakukan Karin, dia dulu tidak seagresif ini, Karin berubah.
Aku tadi bertemu dengan beberapa kolegaku di sana. Sebenarnya lebih Tepat, Kolega Itachi karena ini bagian Media dan Fashion. Mau apalagi, UE merupakan bagian dari UCorp. Aku tak sempat lagi menghampiri Sakura. Sebelum pulang aku sempat melihatnya bersama Sepupu tersayangnya Sasori.
"Tuan. Bukannya Tuan mengatakan kalau kepura-puraan berpacaran dengan Nona Sakura akan berakhir?"Tanya Kakashi. Aku memandangi jalan. Suigetsu menoleh kearah kami berdua.
"Aku tau"Jawabku. Sudah ku katakan Saat itu. Bahwa, aku ingin Menjaga jarak dari Sakura saat berada di Paris. Karena aku merasa bukan diriku saat bersamanya.
Aku menoleh kearah Suigetsu, "Itu karena komplotan bersaudara itu. Si Merah dan Si pirang. Si merah harusnya berlari menangis dan langsung mengambil penerbangan pulang ke Konoha"Ucapku. Suigetsu mengangkat alisnya padaku.
"Kenapa matamu selalu melihatku saat mengatakan nama Karin"Ia mengangkat bahunya tak terima. Jangan bercanda, aku tahu kalau Suigetsu mempunyai perhatian yang lebih untuk Karin. Dia rela ku suruh apa saja yang berhubungan dengan Karin.
Aku hanya tersenyum miring membalasnya, "Dan si Pirang datang menghancurkan segalanya yang harusnya kejadian itu tak berlanjut setelah dari Bandara. Lalu, si Merah lain datang membuatku menarik melanjutkan permainan. Bukankah bermain hanya berdua itu terasa sepi? Banyak orang semakin rame kan?"Lanjutku menjelaskan. Kakashi mengangguk mengerti, begitu pun Suigetsu. Sial! Benar Suigetsu.
"Suigetsu"panggilku dingin. Ia menoleh dengan cengiran khasnya. Aku muak, "Berani sekata yang kukatakan tadi kau laporkan pada Itachi..."Raut wajah Suigetsu berubah datar.
Belum sempat aku melanjutkan ancamanku, Suigetsu memotongnya "Aku mengerti. Kau bisa percaya padaku"ia mengangguk tegas. Dan aku tersenyum kecil mendengarnya. Huh! Itachi pasti akan melaporkannya pada Madre.
Aku cukup pusing hari ini. Ino membuat kesalahan cukup besar. Ia tahu tentang masalah itu tapi kenapa ia begitu mudahnya melakukan hal tersebut? Apa anak itu terbentur batu dan terkena Amnesia? Ku rasa tidak. Atau iya? Ino sempat melupakan Sakura yang katanya teman Junior dan Senior Schoolnya. Aku sempat memarahinya, namun Ino sudah kebal dengan segera amukan kemarahanku. Sekarang Aku harus mengawasi Hinata.
Yah, dialah yang selama ini aku khawatirkan. Neji lah sebenarnya yang berhak atas tugas ini. Namun, Neji tidak mengetahui apa-apa. Neji tidak tahu kalau Garaa menyukai Hinata. Ia terobsesi, melebihi Obsesi Neji sendiri menjaga Hinata. Bahkan, Naruto-pun tak mengetahuinya. Hanya Ino, Shion, akul dan Hinata saja yang mengetahuinya. Sebenarnya aku tak suka mencampuri urusan seseorang menyukai orang lain. Itu haknya untuk menyukai dan terobsesi dengan siapapun.
Tapi, bagaimana kalau Garaa terobsesi dengan Hinata dan Matsuri juga terobsesi dengan Garaa?
Flashback
Dulu Aku, Hinata, Naruto, Garaa, dan Matsuri berteman sejak kecil.
Ino merupakan sepupu Naruto, ia sedari dulu tinggal di Paris dan Ketika liburan sering datang ke Jepang.
Shion adalah sepupu Hinata sama seperti Ino ia tinggal di Paris dan hanya berkunjung sewaktu liburan panjang saja.
Neji dulu tinggal di Canada jadi ia tidak tahu mengenai hal ini.
Awalnya semua baik-baik saja, aku tak begitu memikirkan para teman-temanku yang mengalami cinta monyet, ayolah kami hanya anak berumur 5 tahun. Kami tahu apa? Aku juga tidak perduli. Aku harus mengikuti kedua orang tuaku pindah untuk waktu yang cukup lama ke Roma. Aku bersekolah dasar di Roma. Di sanalah aku mengenal Kakashi, Juugo, Karin dan Suigetsu.
Ino dan Shion juga sering mengunjungiku di waktu liburan pendek. Karena Roma dan Paris tidaklah terlalu jauh.
Aku tanpa sengaja terikut dalam gosip gadis yang masih duduk di sekolah dasar. Mereka membicarakan mengenai Garaa yang menyukai Hinata dan Matsuri yang cemburu, mereka berdua mengetahuinya setelah berkunjung liburan panjang kemarin. Aku memang tak ikut turut serta.
Aku mulai prihatin saat mendengar Matsuri mulai berlaku kasar pada Hinata untuk membuat Hinata menjauhi Garaa, namun Garaa-lah yang semakin mengejar Hinata. Naruto? Lelaki tidak peka itu jangan di harapkan.
Setahun sebelum kami semua menyelesaikan sekolah dasar. Aku mendapat kabar Neji, sepupu Hinata pindah dan menetap di Jepang. Aku cukup lega mendengarnya.
Akhirnya kedua orang tuaku memutuskan untuk kembali ke Jepang. Aku melanjutkan Junior High School di sekolah khusus lelaki. Karena Naruto, Garaa dan Neji juga berada di sana. Selain itu sekolah ini juga mempunyai standar pendidikan internasional. Di sana lah aku mengenal Sai, dan Shikamaru. Shikamaru orang pendiam dan Sai orang yang jujur mereka cocok denganku.
Ino juga pindah ke Jepang dan bersekolah yang satu yayasan denganku namun, sekolah khusus perempuan. Bersama Hinata dan Matsuri. Ino tak begitu menyukai Matsuri. Jadi ku yakin mereka berdua tidak dekat, ia juga mengatakan kalau mereka berdua tidak satu kelas dengan Matsuri.
Awalnya semua biasa saja, Ino memang sering melaporkannya padaku dan Shion. Hinata tidak pernah di ganggu lagi oleh Matsuri. Namun, lama kelamaan aku mendapat kabar kalau Matsuri mulai menggangu Hinata lagi. Aku bahkan pernah membicarakan hal ini 4 mata dengan Garaa untuk berhenti mengejar Hinata dan mengatakan tentang kelakukan Matsuri. Tapi, ia seakan tidak perduli.
Masuk Senior high school. Aku dan yang lainnya kembali masuk di sekolah yang sama. Satu yayasan dengan sekolah yang lama, masih menerapkan sistem khusus perempuan dan laki-laki. Di sanalah aku bertemu Sasori. Jujur saja aku tak terlalu menyukainya. Ia suka mengusik kehidupan pribadi kami.
Puncaknya saat tahun pertama di musim gugur Senior High school aku sudah tidak tahan lagi mendengar Laporan Ino. Telingaku panas, gangguan yang di berikan Matsuri terlalu berlebihan. Ia mulai mengancam Hinata.
Hari itu Aku kembali memanggil Garaa ke atap sekolah untuk bicara 4 mata lagi dengannya, aku kembali mengancamnya untuk jangan pernah mendekati Hinata.
Handphone milikku berdering, Ino menelepon. Matsuri sudah kelewat batas. Ia dengan sengaja mendorong Hinata di kolam renang. Padahal ia tahu Hinata tidak tahu berenang.
"Sasuke. Kau harus ke sini. Hinata, hikss.. dia di dorong oleh Matsuri ke dalam kolam renang. Hikss.. kami di UKS.. Hikss.. Sasuke kumohon.. hikss.. seluruh tubuhnya pucat, hikss.. aku takut.. Sasuke.. please... hikss.."Ucap Ino. Tanganku terkepal kuat. Matsuri di butakan oleh cinta monyetnya.
"Tunggu di situ aku akan segera kesana"aku mematikan sambungan telepon. Nafasku memburu. Tanpa perhitungan aku menerjangnya merapat ke tembok. Aku mencengkeram kerahnya kuat, Garaa memperhatikanku bingung.
"Brengsek kau! Sekarang Hinata sekarat karenamu, Kalau sampai terjadi apa-apa itu semua karenamu!"Seruku mengancamnya sebelum berlari menuju sekolah Hinata dan Ino yang hanya berada di seberang sekolah ku.
Hinata terbaring lemah di atas kasur UKS wajahnya pucat dan suhu tubuhnya panas sekali. Aku memandang khawatir Hinata. Ino di sampingnya menangis tak berhenti. Sedangkan Matsuri berdiri ketakutan tak jauh dari jendela. Aku memandangnya tajam. Ia menatapku sebentar sebelum kembali memandang kearah luar jendela. Sialnya, ini waktu sudah pulang sekolah. Jadi tidak ada guru sama sekali di sekolah. Aku yakin dia langsung di keluarkan kalau saja ada guru. Ruang UKS-pun kosong. Katanya yang menolong dan mengobati Hinata adalah sahabat mereka berdua.
Hinata mulai tersadar. Ia tersenyum menatapku dan Ino. Kulirik Matsuri juga yang memandang takut Hinata dari jauh.
"Ah, Sasuke-kun? Kenapa kau ada di sini?"tanyanya tersenyum. Aku tersenyum kecil membalasnya. Ino memeluk Hinata kuat. Aku rasanya ingin menangis melihatnya. Oh tuhan. Ino sudah menangis di pelukan Hinata.
Aku memandang murka Matsuri. Tak ada rasa bersalahnya sama sekali kah? Ia hanya memandang dari jauh. Aku baru ingin menghampiri Matsuri sebuah tangan yang sangat hangat menahanku.
"Kumohon. Jangan ceritakan ini pada siapapun. Baik Neji-nii, Naruto-kun dan lainnya. Kumohon. Matsuri-san tidak bersalah. Aku yang salah. Aku terpeleset. Ia tidak bersalah. Kumohon. Ini hanya rahasia kita"Ucap Hinata memohon.
Ia tersenyum ketika aku menatapnya marah. Aku mengepalkan tanganku. Aku menghentakkan tanganku kuat melepaskan tangan Hinata. Lalu berjalan menuju Matsuri. Aku menatapnya tajam. Tapi, ia hanya menatapku sebentar sebelum berusaha mengalihkan tatapannya. Aku ingin sekali menamparnya tapi, aku ingat dia hanyalah remaja perempuan penuh hormon yang di butakan oleh cinta monyet. Tak beda jauh denganku yang hanyalah remaja lelaki penuh hormon yang ingin melindungi sahabatku.
"Pergi dari sini Matsuri. Wajah dan kelakuanmu membuatku Muak!"Usirku dengan Nada dingin. Ia menatapku dengan tatapan kaget sebelum berjalan keluar dari ruang UKS.
Tapi, langkah kaki Matsuri terhenti. Ia menatap Hinata dan Ino yang memperhatikannya.
"Maaf, Aku tak bermaksud menyakitimu. Ku harap kau mengerti dan jika kita bertemu lagi, kuharap rasa bencimu padaku sudah menghilang"Ucapnya, Matsuri berusaha menahan Air matanya yang sudah berada di pelupuk.
Hinata menggeleng pelan, "Jangan meminta maaf, sudah ku katakan ini bukan salahmu Matsuri-chan. Aku tidak pernah menaruh benci denganmu. Kita ini sahabat, kau ingat? Dari kecil"Hinata menampilkan senyum tertulusnya. Dan itu semakin ingin membuatku menampar Matsuri untuk menyadarkannya.
Ino menatap Hinata bingung.
"Terima kasih Hinata"Matsuri menghapus air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.
Aku mengepalkan tanganku. Hinata terlalu baik.
"Pergi Matsuri. Kau sudah mendengar jawaban atas segala keburukanmu. Aku harap kau segera sadar"Ucapku. Matsuri mengangguk dan segera pergi dari ruang UKS.
Ino meminta penjelasan kenapa Hinata begitu mudah memaafkan Matsuri. Aku tidak ingin mendengarnya.
Aku berjalan keluar meninggalkan UKS. Saat aku keluar di pintu aku sempat menabrak seseorang. Aku tak begitu menggubrisnya begitu pun dengannya aku harus segera keluar.
2 hari kemudian Aku mengetahui Garaa pindah ke Korea tinggal bersama neneknya di sana dan Matsuri juga Pindah ke Eropa entah di belahan mana. Aku tak peduli. Setelah itu semuanya berjalan normal. Ino tidak pernah lagi melaporkan hal yang menyangkut Hinata. Ia hanya menelepon membicarakan Omong kosong untuk membuatku kesal.
Tahun terakhir Senior High school. Aku dengar Naruto menyatakan cintanya pada Hinata. Aku rasa aku tak perlu mengawasi Hinata lagi. Ada Naruto dan Neji. Aku tak pernah menceritakan semua kejadian itu pada yang lainnya. Aku telah berjanji padanya.
Flashback end
Aku pusing kalau mengingat hal itu. Aku dan Ino memang berjanji tidak akan memberitahu siapa pun. Tetapi Shion adalah pengecualian.
Beberapa tahun kemudian Ino dan Shion memberitahuku kalau Matsuri telah menjadi model yang cukup terkenal di Paris. Ia juga sering mengumbar kemesraannya dengan Garaa di media.
Lupakan saja soal itu. Kita bahas saja Itachi yang seenak jidatnya menjadikanku bagaikan kurir pengiriman barang internasional untuk baju tunangannya itu.
Ngomong-ngomong tentang Baju. Sakura tadi sangat memesona dengan gaun desain Ino. Ia tampak sangat anggun, menutupi sifat keras kepalanya. Tapi, aku tak menyukainya. Terlalu memperlihatkan bentuk tubuhnya. Tunggu dulu, kenapa aku harus memedulikan hal tersebut? Aku memijit pelipisku.
"Tuan"panggil Kakashi, aku masih memijit pelipisku. Ayolah, aku sudah mulai gila dengan kehadirannya (Sakura).
"Tuan"Panggilnya lagi. Aku melihatnya datar. Mobil telah berhenti.
Suigetsu menghela nafas di sampingku, "Sasuke. Kita sudah sampai"Ucapnya. Aku melihat kearah luar. Benar saja. Aku menghela nafas, aku terlalu pusing dengan semua ini.
"Suigetsu"Panggil Kakashi datar.
"Bisakah kau lebih sopan. Aku tau kau pernah satu sekolah dengan Tuan Sasuke. Tapi ingat, dia adik dari bosmu"Ucapnya. Aku mendesah pelan. Kakashi sangat menjunjung tinggi hormat. Tapi, ini sudah cukup malam. Tanpa menunggu komentar Suigetsu aku membuka pintu segera keluar segera masuk ke dalam toko sebelum tanda Open itu berubah menjadi Closed.
Tenten POV
Pertama kalinya dalam sejarah hidupku. Aku mengenakan Dress Channel yang ku pilih langsung dari toko aslinya. Oh tuhan! Dan pertama kalinya aku berada di dalam acara Fashion di Paris. Ayolah, aku hanya sekretaris dari seorang lelaki brengsek yang pemalas ber-IQ luar biasa dengan kata-kata selalu membuat kesal tapi sialnya dia sepupuku yang mana perusahaannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Fashion.
Aku duduk di samping Temari, dan ku perhatikan Bosnya sangat gelisah mencari sepupunya Haruno Sakura. Aku tadi sempat melihatnya, Haruno Sakura di bawa kabur oleh Uchiha Sasuke saat terjadi keributan kecil di depan antara Temari dengan Bosku, Shikamaru.
Tapi, aku juga bingung mendapati Uchiha Sasuke duduk dengan Tenang di depanku. Ia duduk di antara Neji dan Naruto.
Yamanaka Ino keluar dari belakang panggung mengungumkan acaranya akan segera di mulai. Aku sangat menikmati Fashion ini terutama bagian Haruno Sakura muncul menggunakan gaun yang sangat luar biasa indah serta Hyuga Hinata yang sangat menakjubkan dengan gaun di kenakannya. Aku tak berhenti bertepuk tangan. Yamanaka sangat berbakat. Selain cantik dia juga pandai mendesain, aku kembali iri.
Aku cukup terkejut ketika acara Fashion selesai, lampu kembali di matikan. Naruto menyanyikan lagu All Of Me dengan di iringi piano. Aku cukup tersentuh, walau suaranya bisa di bilang pas-pasan tapi dia sudah memberanikan diri.
Ku lihat Hinata matanya berkaca karena terharu. Tanpa aku sadari air mataku sudah menumpuk di pelupuk, sial aku bawa perasaan.
Naruto mengucapkan dirinya akan meminta restu secara resmi dari Neji. Tanpa ku sadari aku dan Temari saling mengeratkan cengkraman karena menanti jawaban yang di berikan Neji. Walau Sai berusaha mencairkan suasana yang sedikit mendebarkan ini, tapi hal itu tidak terlalu memberikan dampak ketegangan menghilang. Saat Neji menggantungkan kata-katanya aku berfikir dia tidak bisa memberikan restunya, tapi ternyata dia ingin Naruto membuktikan kesungguhannya. Aku bernafas lega mendengarnya semnari terkekeh. Walau belum cukup seminggu aku baru bertemu dengan para teman-teman bosku, aku akui banyak hal yang membuatku merasa nyaman dengan mereka semua. Aku tidak merasa asing di lingkarang kaum elite ini. Ku rasa itulah juga yang di rasakan Temari.
Aku menatap punggung Neji dari belakang. Ternyata apa yang di katakan Temari benar, Neji tidaklah seperti yang kufikirkan. Aku terlalu terbuai dengan emosi, Neji adalah orang yang baik dia berulang kali meminta maaf tapi aku menolaknya. Aku yakin Neji cukup berat melepaskan sepupunya yang di sayangi.
Aku melirik Uchiha Sasuke yang tersenyum, tapi tidak berapa lama wajahnya kembali datar dan dingin. Matanya melirik ke arah kerumunan orang yang gelap di belakang. Tak berapa lama dirinya beranjak pergi. Uchiha Sasuke sosok yang sangat misterius, Haruno Sakura cukup beruntung bisa dekat dengan Uchiha Sasuke.
Naruto dan Hinata telah menghilang ke belakang panggung, dan kulihat Neji berbalik menghadapku. Dan tersenyum. Aku tersenyum membalasnya tapi aku segera menyadarinya, aku membuang wajahku. Aku melirik kembali Neji dan ternyata dia sudah hilang entah kemana. Kenapa aku harus memusingkannya?
Aku dan Temari hanya duduk dan membicarakan tentang masalah pekerjaan. Terkadang Shikamaru ikut menambahkan beberapa kata yang langsung menarik emosi Temari. Aku cukup menyukai perkelahian mereka berdua. Aku tidak berdusta dan aku tahu cukup keterlaluan. Yang ku perhatikan emosi Temari cepat sekali meletup tiap kali Shikamaru ikut andil dalam pembicaraan, walaupun dia menahannya cukup baik. Aku suka melihat Temari yang marah dan Shikamaru yang menanggapinya dengan debatan malas.
Akhirnya kami bertiga hanya duduk tanpa berniat beranjak kemana-mana. Mataku sesekali melirik Neji yang berdiri di samping Hinata. Neji orang yang penyayang. Aku yakin itulah alasan Temari nyaman berada di dekatnya.
Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengan Neji untuk meminta maaf atas kelakuanku.
Tenten POV end
Mereka semua melangkah turun dari mobil memasuki hotel. Wajah letih mereka terlihat jelas, cukup lupa waktu memang. Sekarang saja waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Belum lagi sedari siang mereka berbelanja dan hanya sedikit beristirahat.
"Tidak Naruto. Aku sudah katakan, sampai kau buktikan"Neji menepis tangan Naruto yang ingin mengamit tangan Hinata. Hinata terkekeh pelan dan Naruto mendengus kesal.
"Jaga tanganmu Naruto. Neji butuh kepastianmu, mencintai Hinata sebesar kau mencintai Ramen"Ledek Sai, Naruto tergagap.
Neji menghela nafas, "Aku cukup terkejut kau tidak bisa mencintai adikku lebih dari ramen. Kau menyamakan besarnya Naruto. Hinata bukan madumu dan Ramen bukan istri tuamu"Sindir Neji. Mereka memasuki Lift bersamaan.
"Tentu saja aku mencintai Hinata lebih dari Ramen. Ramen hanyalah menu favorit makananku. Sedangkan Hinata adalah wanita pujaanku"Ucap Naruto.
"Buktikan Naruto"Ucap Sakura dengan Nada di buat tajam. Naruto mengangkat ibu jarinya.
"Ganbatte"Ucap Hinata sembari terkikik.
"Mana Sasuke-kun?"Tanya Karin tiba-tiba. Mereka semua akhirnya menyadari Sasuke dengan Komplotannya (?) (Kakashi dan Suigetsu) menghilang.
"Mungkin menghilang lagi"Ucap Shikamaru,
"Mungkin mampir ke night club"Ucap Sai mengendikkan bahunya.
"Jaga mulutmu, Sai"Tegur Karin. Sakura menatap Karin, kenapa Karin begitu marah? Mungkin saja yang di katakan Sai itu benar adanya. Pintu lift terbuka dan Karin berjalan keluar dengan mendengus kesal.
"Kau tidak memikirkan calon adik iparmu, Sasori?"Goda Sai. Seketika mereka semua terkikik mendengarnya. Minus Sakura dan Sasori.
Sasori menatap Sai nyalang, "Karin benar. Jaga mulutmu Sai"Ucapnya tepat pintu lift terbuka. Mereka semua berjalan keluar dari lift kecuali Sakura.
"Ada apa Sakura-chan?"Tanya Naruto bingung. Sakura tergagap.
"Ugh.. um.. ano.. barangku.. barangku.. barangku ada yang um.. tertinggal. Benar sekali tertinggal"Jawab Sakura yang membuat mereka semua mengerutkan kening. Curiga.
"Mau aku temani?"Tawar Sasori, Sakura menggeleng cepat. Sasori menyipitkan matanya. Tangan Sakura menekan tombol lift.
"Aku bisa sendiri. Bye"Ucap Sakura tepat pintu lift tertutup. Mengabaikan Sakura mereka masuk ke kamar masing-masing mengistirahatkan diri.
Tenten masuk ke kamarnya, namun tak lebih 15 menit dirinya keluar lagi. Tenten berjalan mondar mandir di lorong hotel itu. Matanya sesekali melirik pintu kamar Neji dan Lift.
'Tok Tok Tok'akhirnya Tenten memberanikan dirinya mengetuk pintu.
Tak berapa lama, pintu itu terbuka menampilkan raut wajah heran Hyuga Neji. Tenten tersenyum yang terlihat sangat jelas kalau di paksakan.
"Ada apa?"Tanya Neji bingung.
"Um.. aku ingin minta maaf"Ujar Tenten. Neji malah menutup pintu. Tenten menatap kesal pintu yang tertutup itu. Ia mengetuknya lagi. Pintu itu kembali terbuka.
"Aku sedang berusaha membuka pintu maaf"Ujar Tenten marah. Neji mengerutkan keningnya. Apa dia sedang bermimpi? Perempuan di hadapannya sendiri yang mengatakan kalau dirinya sudah terlambat meminta maaf, apa kepalanya terbentur? Atau efek terlalu kecapaian?
"Apa waktu berputar ulang?"Tanya Neji. Tenten mendengus, oke menurutnya itu hal gila. Waktu berulang? Jangan bercanda, Doraemon belum direalisasikan.
"Apa maksudmu?"
"Kau meminta maaf. Harusnya aku yang meminta maaf. Kepalamu terbentur?"Tanya Neji, kerutan samar terbentuk di dahi Tenten.
"Oh tuhan! Aku cukup menyesal. Lupakan saja apa kataku tadi. Anggap saja aku tidak pernah mengetuk pintu kamarmu. Maaf mengganggu"Ucap Tenten berbalik pergi.
Sebuah tangan menahan lengan Tenten menjauh. Entah mengapa Tenten merasakan Debaran di dadanya sangat kuat. Tenten berbalik menghadap Neji, melepaskan cengkraman Neji di lengannya.
"Aku tidak akan meminta maaf tentang hal tadi. Tapi aku akan meminta maaf masalahku denganmu yang lalu. Kalau aku membiarkanmu pergi lagi berarti aku mengulang kesalahan yang sama seperti aku meninggalkanmu terjatuh waktu itu. Aku minta maaf"Neji sedikit membungkuk.
"Ah.. Terima kasih. Aku memaafkanmu"Tenten bingung.
"Kita teman?"Tanya Neji, Tenten tersenyum. Tidak buruk.
"Teman"Ucap Tenten ulang. Neji menyodorkan Jari kelingkingnya dan Tenten melingkarkan kelingkingnya. Mereka berdua tertawa menyadari tingkah Childish mereka berdua.
"Summimasen. Sayonara. Konbanwa"kali ini Tenten berbalik dengan cepat dan masuk ke dalam kamarnya.
Neji memperhatikan jari kelingkingnya sembari tersenyum. Tak ada salahnya bukan? Teman. Bukankah terdengar lebih baik dari pada brengsek.
"Teman? Ciee... Hahhaaaa"Ejek Temari.
"Kau menguping?"Tanya Neji, Temari menggeleng.
"Aku mendengar langkah kaki mondar-mandir tak jelas. Ketika ku intip dari pintu ternyata Tenten. Aku membuka pintu dan sepertinya ia tidak menyadarinya. Sungguh mengejutkan Dia mengetuk pintumu. Dan aku menonton semuanya. Ulangi menonton bukan menguping"Goda Temari
Neji sedikit mendengus, "Jangan meledekku Miss bercepol empat"Neji berbalik hendak masuk ke kamarnya.
"Jangan marah. Kau jarang menunjukkan ekspresi bingungmu. Kau baru saja menampilkannya di depan Tenten"Neji memperhatikan Temari yang memegang handphonenya.
"Temari, apa kau perlu memegang handphone tidak bergunamu?"Sindir Neji. Temari meringis mendengarnya. Yang salah nomornya bukan Handphonenya. Ups, sepertinya ketahuan.
"Aku berani bersumpah. Aku hanya, kita berteman kan?"Temari menyodorkan kelingkingnya. Neji menghela nafas pelan. Ia melingkarkan kelingkingnya di kelingking Temari. Ini kebiasaan Hinata.
"kita teman"Ucap Neji.
"Kau ingin melihat potretku?"
Temari memperlihatkan beberapa foto yang mana adegan baru saja terjadi. Saat Tenten mengetuk pintu kamar Neji, Saat Neji menahan Lengan Tenten dan saat ia dan Tenten melingkarkan kelingking.
"Temari, katakan satu hal yang membuatku akan terus menjadi temanmu"Ucap Neji.
"Aku tidak akan menyebarkannya"Ucap Temari
"Hapus Temari. Demi tuhan itu memalukan!"Neji berusaha mengambil Handphone Temari.
"Wek. Tidak akan. Hyuga Neji harus mempunyai aib padaku. Dia terlau sempurna"Temari langsung saja memasuki kamarnya cepat.
Neji terus menggedor pintu Temari.
"Sialan kau Temari! Buka pintunya! Hapus foto itu Temari, atau kau mau aku mengirimkan pesan pada adikmu kalau kau akan memberikannya setelan Armani untuk promnightnya. Aku tahu kau mendengarnya dan melihatku dari bundaran sialan ini"Neji menggedor keras pintu Temari.
"Katakan saja, akan ku bilang padanya. Kau yang berjanji bukan aku"Teriak Temari dari dalam, Neji merenggut kesal.
"Hai Neji! Kau ribut sekali"Shikamaru berdiri di kunsen pintu kamarnya.
"Ck! Temari awas kau. Shikamaru perhatikan Miss bercepolmu ini"Neji berlalu memasuki kamarnya, sebelum itu teriakan sumpah serapah dari dalam kamar terdengar jelas.
Shikamaru memperhatikan pintu kamar Neji dan Temari dengan ekspresi yang sulit di mengerti. Shikamaru mendengus pelan sebelum masuk dan menutup pintu kamarnya.
'Ting' pintu lift terbuka menampilkan sosok Haruno Sakura yang tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya.
Sakura turun kembali turun kebawah. Well, jujur saja bukan memgambil barang yang katanya ketinggalan. Namun, memastikan sesuatu. Sakura melangkah keluar dari Lift dan seperti orang kebingungan di Lobby Hotel. Sebenarnya dia mencari Sasuke. Dia ingin memastikan Sasuke tidak ikut kembali ke hotel, kenapa? Apa seperti dugaan Sai? Atau dugaan Shikamaru?
Sakura tersenyum menatap Resepsionis yang memandangnya aneh. Sakura mendudukan dirinya di sofa lobby.
Seingatnya mereka pergi dari acara Ino ada 4 mobil dan ketika sampai hanya ada 3 mobil. Sakura beranjak dari sofa lobby untuk memastikan ke petugas Vallet atau penjaga pintu. Dengan sedikit usaha Sakura menanyakan hal tersebut. Benar saja, penjaga pintu mengatakan kalau hanya ada 3 mobil yang sampai dan penjaga Vallet-pun mengatakan hal yang sama. Sakura melirik jam di dalam hotel pukul setengah satu pagi.
Ia kembali duduk di sofa lobby, dan sesaat kemudian Sakura merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia mencari Sasuke. Dirinya bahkan sudah hampir 20 menit duduk dan memikirkan kemana perginya Sasuke. Ada apa dengannya?
Mungkin saja Sasuke sudah sampai terlebih dahulu dari mereka?
Mungkin saja Sasuke ada kepentingan lain?
Mungkin saja Sasuke memilih menginap di hotel yang lain?
Mungkin saja Sasuke di hadang begal di jalanan?, oke itu hal yang serius.
Atau
Mungkin saja, Sasuke kembali pulang ke Jepang?
Kenapa dia harus perduli?
Sakura menggeram pelan, dirinya melangkah kembali menuju lift. Saat dirinya menunggu lift terbuka, sosok yang di carinya muncul memasuki pintu Hotel, di temani Kakashi dan Suigetsu. Sakura membulatkan matanya. Jarinya terus menekan pintu lift agar segera terbuka. Betapa bodoh dirinya sekarang.
Tanpa menunggu orang lain yang hendak keluar Sakura segera masuk dan orang yang di dalam lift memandang aneh Sakura. Dan Sakura tersenyum meminta maaf.
Ketiga orang itu keluar dan Sakura berusaha keras menutup pintu lift. Sasuke, Kakashi dan Suigetsu melangkah cepat menuju pintu lift yang masih terbuka.
"Tahan liftnya"Seru Kakashi berlari pelan ke arah lift. Sakura tersentak menekan tombol menutup pintu lift berulang kali.
"Nona? Tahan pintunya"Ucap Kakashi dengan fasih berbahasa Inggris. Tepat saat Kakashi tiba di depan pintu, Pintu itu tertutup sempurna.
"Ada apa dengan Nona Sakura?"Kakashi bingung.
"Apa itu tadi Sakura?"Tanya Sasuke di belakang Kakashi. Kakashi mengangguk.
Sasuke tersenyum mendengarnya.
"Oh, baiklah. Aku sangat kelelahan. Kenapa Sakura menutup pintu liftnya?"Keluh Suigetsu.
Sakura POV
Aku menggeram pelan mendengar suara ketukan pintu yang terdenvar seperti genderang perang. Ayolah, ini bukan De Javu kan? Ku rasa kemarin Naruto-lah yang mengetuk pintu. Siapa lagi kali ini? Shannaro liburan apa ini, aku tidak bisa tidur semauku.
"Sakura, buka pintunya atau aku akan meminta room service membuka pintunya"Suara Saso-nii.
Shannaro, aku langsung lompat dari kasur. Tapi, sialnya selimutnya membelitku membuatku jatuh dengan wajah terlebih dahulu. Aku yakin debuman keras itu terdengar sampai ke telinga Saso-nii. Aku memegangi hidungku yang rasanya hampir mau patah.
"Kau baik-baik saja?"Tanya Saso-nii
Aku mengatakan kalau aku baik-baik saja. Setelah melempar asal selimut yang tadi membelitku ke atas kasur aku melangkah mencuci muka lalu membuka pintu. Saso-nii dengan celana trening panjang coklat dan kaos merah berdiri di depan kamarku dengan sandal hotel.
"Jam berapa Princess?"Tanyanya meledek. Aku mendengus pelan.
"Aku sudah bangun tadi, tapi aku tidur lagi"Dustaku. Aku menguap. Aku letih sekali. Saso-nii menyipitkan matanya. Aku menatapnya sayu.
"Kau tidak sarapan?"Tanyanya, aku tidak butuh sarapan. Aku butuh istirahat dan menikmati kasur.
Aku menggeleng pelan, Saso-nii mendengus.
"Kau lanjut istirahat saja lagi. Kalau lapar langsung makan. Kau bisa memesan layanan room service. Aku turun dulu sarapan dengan yang lainnya"Saso-nii mengusap rambutku sebelum berjalan memasuki lift.
Aku cukup merasa tidak enak. Sudah dua kali aku melewatkan sarapan bersama mereka.
Saat Saso-nii telah menghilang dalam pengelihatanku, aku kembali menguap. Oh tuhan.
Pintu tangga emergency yang memang tak jauh dari kamarku itu terbuka. Sosok yang semalam ku cari muncul. Celana Training panjang dan kaos hitam yang dikenakannya sedikit basah. Keringat pun bercucuran dari keningnya. Aku memandangnya cukup lama. Apa dia habis berolah raga?
"Bernafaslah. Kau menahannya cukup lama"Ucapnya yang ku sadari berada di depanku. Aku terkejut.
"Apa ada yang salah?"Tanyanya, aku menggeleng.
"Kau terpesona?"Tanyanya menggodaku. Kedua alisku bertaut, mataku memincing tajam. Percaya diri sekali dia. Sasuke terkekeh.
"Aku melihatmu semalam"Ucapannya membuatku tersentak kaget. Tapi segera ku kendalikan raut wajahku berupaya tidak mengerti dengan ucapannya.
"Kau terlihat seperti kucing yang tertangkap basah"Ucapnya lagi, aku memutar mataku bosan. Ayolah, aku sepertinya sangat sensitive mendengar kata kucing. Baru kemarin Naruto menyamakanku dengan benda berbulu itu dan kini Sasuke kembali menyamakan diriku dengan benda itu lagi.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan"Aku menghiraukannya berjalan masuk ke dalam kamarku dan menutup pintu. Tapi belum sempat ku tutup rapat, sebuah sepatu olahraga berwarna hitamputih menjanggal pintuku sebelum tertutup sepenuhnya.
"Apa kau mencariku?"Tanyanya, kali ini aku yakin wajahku memerah menahan malu. Shannaro, aku ketahuan. Seandainya saja aku tidak turun kebawah. Sial.
Aku mendorong pintu sekuat tenagaku, akhirnya Sasuke memindahkan kakinya dan debuman keras pintu tertutup membuatku kaget sendiri.
"Sialan Kau!"Teriakku. Tapi, yang ku dengar adalah suara Naruto dan Sasuke yang berbincang di luar.
Aku menyenderkan punggungku ke tembok. Menjambak rambutku sedikit kesal, Shannaro harusnya aku tidak perlu mencari pantat ayam yang sialan brengsek itu. Aku jadi malu sendiri. Suara pintu terketuk kembali terdengar.
"Sakura..."Naruto, aku menghela nafas.
"Jangan ganggu aku rubah! Aku mau istirahat"Teriakku
"Kau yakin? Kau melewatkan sarapan lagi"Tanyanya
"Aku yakin"Jawabku
"Kau bisa memesan ..."
"Aku tahu"Seruku malas
"Sakura ..." Oh, tuhan bisakah ia pergi saja?
"AKU MENGERTI NARUTO"Teriakku tanpa sadar.
Aku mendudukkan diriku sambil bersender di balik pintu. Ku yakin Naruto sudah pergi sarapan di bawah.
Tapi suara ketukan terdengar lagi.
"Sudah kutakan Naruto! Jangan memancingku"Teriakku
"Jangan keras kepala Sakura! Kita sarapan di bawah"Pintah Sasuke. Mengabaikannya aku kembali bergelung di bawah selimut.
Sakura POV end
Sasuke POV
Aku langsung menarik kakiku ketika mendengar salah satu pintu terbuka. Benar saja Naruto keluar dari kamarnya.
"Habis olahraga teme?"Tanyanya. Aku mendengus. Tentu saja, melihatku berpakaian seperti ini apakah aku terlihat seperti habis menghadiri rapat? Kolot sekali pertanyaannya.
"Hn"Jawabku acuh.
"Ayo kita turun. Kita sarapan bersama di bawah. Kemarin kau tidak ikut sarapan bersama"Ajaknya. Aku mengangguk setuju.
"Kemana semalam kau Teme? Kau menghilang begitu saja"Tanyanya.
"Aku mengambil Baju Konan-nee"Jawabku. Naruto mengangguk mengerti. Dia melirik kamar Sakura dan menatap ke arahku. Aku mengangkat alisku satu tak mengerti ucapannya.
"Apa ada Sakura?"Tanyanya berbisik. Aku mengerutkan dahiku lalu mengangkat bahuku. Naruto mengetuk pintu kamarnya.
"Sakura..."Panggil Naruto. Aku hanya memperhatikannya.
"Jangan ganggu aku rubah! Aku mau istirahat"Teriak Sakura dari dalam. Naruto menatapku terluka. Aku terkekeh.
"Kau yakin? Kau melewatkan sarapan lagi"Tanya Naruto lagi.
"Aku yakin"Jawab Sakura. Aku memperhatikan Naruto, pintu kamar Hinata terbuka dan menampilkan Hinata yang tersenyum menatap kita berdua. Hinata menghampiri Naruto.
"Kau bisa memesan ..."Ucap Naruto. Namun belum selesai Sakura sudah memotongnya.
"Aku tahu"Serunya malas. Hinata menatap Naruto memohon.
"Sakura ..."Coba Naruto sekali lagi.
"AKU MENGERTI NARUTO"Teriakkan Sakura dari dalam kurasa membuat Nyali Naruto menciut. Dia menggeleng menatap Hinata. Hinata menatapku memohon. Aku mengisyaratkan mereka berdua segera turun. Naruto menggandeng Hinata menuju Lift dan sebelum pintu lift itu tertutup sempurna Hinata memandangku dengan tatapan memohonnya.
Aku mengetuk pintu Sakura.
"Sudah kutakan Naruto! Jangan memancingku"Teriaknya, aku memutar mataku bosan. Keras kepala sekali.
"Jangan keras kepala Sakura! Kita sarapan di bawah"Pintahku. Aku mendekatkan telingaku ke pintu. Sepertinya dia tidak berniat menjawab. Aku melangkahkan kakiku ke kamarku bersiap untuk sarapan bersama mereka di bawah.
Aku siap dengan setelah santaiku. Celana kain dan kaos panjang turle neck.
Aku menelpon Kakashi yang sudah berada di bawah dan sarapan bersama yang lainnya. Aku bertanya apa Sakura sudah berada di bawah, dan perempatan siku di dahiku muncul ketika Kakashi menjawab Sakura belum turun. Aku mengenakan jam tanganku cepat dan segera keluar dari kamarku.
Aku mengetuk pintu Sakura namun tak ada jawaban. Dasar putri tidur. Dengusku.
Syukurlah ada Room service yang lewat. Aku memintanya membuka pintu Sakura. Awalnya ia menolak namun aku memaksanya, akhirnya ia membukanya dengan kuncinya yang memang bisa membuka hampir seluruh kamar di hotel ini.
Aku mendapatkan penampilan yang luar biasa di kamar Sakura. Kamarnya bagai kapal pecah. Lihat saja Dress yang ku belikan untuknya teronggok di lantai begitu saja. Aku memanggil room service itu masuk untuk merapikan kamar Sakura.
Dan harus menahan nafasku melihat Sakura yang masih menikmati tidurnya dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Yah bahkan wajahnya. Aku fikir gumpalan itu hanyalah bantal di bawah selimut, namun setelah melihatnya bergerak aku yakin itu Sakura.
Aku mendudukan diriku di sofa menunggu room service itu setidaknya merapikan kamar ini. Aku penasaran bagaimana kamar Sakura di Konoha sana, Apa seberantakan kamar ini?
Setelah Room service itu pamit aku memberikan uang tips untuknya. Yah, setidaknya rapi di banding yang tadi. Aku berterima kasih padanya sebelum menutup pintu kamar Sakura.
Aku menghela nafas, calon dokter macam apa dia? Ini sudah jam berapa? Pasti mereka di bawah sana sudah hampir selelsai menikmati sarapan mereka.
Sakura sama sekali tidak bergerak di bawah selimutnya. Aku menyeringai jahil memikirkan cara mengerjainya.
Aku menidurkan diriku di samping Sakura yang masih terbungkus selimut sempurna. Dia sedikit bergerak dan menggumamkan sesuatu karena terganggu.
Aku memeluknya yang masih terbungkus selimut. Aku merapatkan pelukku saat aku merasakan dia meronta.
"Shannarooo"Geramnya di balik selimut.
Dengan sekali tarikan, Sakura menyibakkan selimut yang menutupi kepalanya. Aku tersenyum berhasil mengganggunya. Aku tak menyangka wajahnya hanya berjarak sangat dekat dengan wajahku, Matanya pelan-pelan terbuka. Ia beberapa kali berkedip sebelum menatapku.
Aku memandang emeraldnya yang indah. Warnanya sungguh meneduhkan. Aku tak pernah terlalu memperhatikan matanya, tapi aku rasa jika pemandangan mata Sakura adalah hal yang terindah untuk ku lihat setiap pagi.
Aku seakan sadar dari lamunanku yang terjerat oleh sorot beningnya.
"Hai"Ucapku. Tubuhnya menegang, matanya melotot melihatku.
"KYYAAAAAAAAAA.. Bajingan Kau!"Teriaknya melompat mundur dari atas kasur. Aku cukup terkejut dengan apa yang di lakukannya.
Karena hampir seluruh badannya tertutup selimut dan tubuhku yang menahan selimut, kaki Sakura terbelit oleh selimut. Tubuhnya terjatuh di lantai dengan suara debuman keras. Aku meringis melihatnya jatuh dengan bokongnya terlebih dahulu.
Dia menggeram pelan di lantai. Aku berusaha menahan tawaku di atas kasur. Tapi, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku tertawa keras sambil berbaring di atas kasur.
Perutku sakit sekali, bahkan air mataku sampai keluar. Demi Tuhan! Aku tidak bisa berhenti tertawa. Aku memeganggi perutku.
Ku lirik Sakura sudah berdiri berkacak pinggang menatapku tajam.
"Tertawa kau pantat ayam. Tertawa saja. Asal kau tau karma tuhan itu berlaku. Sialan kau!"Sakura terlihat kesal sekali denganku, dia mengambil bantal di atas kasur lalu memukuliku berulang kali dengan bantal itu.
"Bajingan Kau! Apa yang kau lakukan di kamarku? Shannaroo! Berani-beraninya kau masuk! Awas saja. Akan ku laporkan pada Ka-san nanti!"Ancamnya.
Tawaku terhenti. Aku menatapnya, pukulan bantal juga telah berhenti, Sakura menatapku.
"Jangan Laporkan pada Madre. Kau tahu ini hal yang serius. Aku bisa langsung di nikahkan denganmu"Ucapku memperingatkan. Hawat sekali kalau Sakira sampai melaporkan hal ini. Madre akan menuduhku yang sembarangan. Apalagi Itachi pencinta drama sinetron itu.
Sakura tersekiap, ia melemparkan bantal itu padaku lalu berbalik memunggungiku. Aku baru sadar, Sakura hanya mengenakan kaos putih yang kebesaran di tubuhnya dan celana pendek yang tertutup oleh panjang kaos yang di kenakannya.
"Kau benar"Ucapnya berbalik ke arahku.
Aku memberikannya smirk devil milikku.
"Tapi, ku rasa kalau tiap hari kau hanya tidur dengan berpakaian seperti itu. Aku tak masalah menikah denganmu"Godaku. Tak ku sangka wajahnya memerah. Lucu sekali. Dia menatapku nyalang. Gawat.
Bersambung...
Kehidupan Nyata yang menyulitkan segalanya..
I'am back and Hello!
sebulan lebih kita tidak bertemu, sekarang baru ada waktu untuk mengupdate ceritaku.
hufftt!
JungHa-'ySasu : Makasih ^^v
Frizca A : Bahasa inggrisku rada kurang begitu, gommen ne, saya ynag salah. nanti saya perbaiki lagi ^^v
yuanthecutegirl : update, maaf lama ^^v
A panda-chan : hehe.. Up now. Thanks ^^v
Irene Haruka : hehee.. Thanks ^^v
: makasih ^^v
genie luciana : hehehe.. maap! ^^v
69CoolAndCold69 : hahaha.. gak! Siscon, klise ^^v
nurviee96 : Makasih ^^v
guest : Iya gak papa, terimakasih telah membaca karyaku. aku menghargai kepputusanmu, aku tahu karyaku tidaklah terlalu menarik T,T . terimakasih ^^v
Zarachan: terimakasih ^^v
kuuderegirl13 : hehehe Terima kasih, wah sama yah? Jayapura bagian mana? ^^v
alif yusanto : terima kasih telah menunggu karya, maaf sebelumnya ^^v
ongkitang : maaf gak bisa update terlalu ceppat mungkin kalau libura bisa hehe.. ^^v
mikumi16 : ^^v
Haruka Ryosuke : Makasih ^^v
Lyn : thanks ^^v
shiamii-chan : Iya, typo bertebaran di mana-mana T,T makasih ^^v
IndigoRasengan : ^^v
Vana61: Up! ^^v
Luca Marvell : Iya ada satu salah penyebutann nama. nanti kalau senggang di perbaiki ^^v
R.D. 12: Maaf ^^v
ana : Maaf, adegan NaruHinanya belum saya keluarkan secara maksimal ^^v
vera : makasih supportnya ^^v
Hinamori Hikari : hahaha. Makasih ^^v
nameechy U2H2X7 : Up! ^^v
putri920 : ^^v
TheLimitedEdition : ^^v
mikumi16 : Nanti yah sabar hehe.. makasih ^^v
caca : iya, ^^v
guest : makasih ^^v
Big Thanks yang udah Favo, Follow, Review, Silent reader, Sepupu kesayangan Cherry (Lemon dan Melon), Sahabat Cherry yang udah ngucapinn selamat waktu ulang tahunn tanggal 23 maret kemarin,, teman-teman yang sudah berupaya bikin surprise dn teman suka duka cherry. Lavyu All!
Thank You verry much
Cherry Aiko / AA / SKAS / Ai / SK
My lovely sweet place TELKOM ^o^
Jayapura, 17 April 2016
