Sedang belajar untuk meningkatkan cara penulisan. Jadi, untuk sekarang lebih banyak membaca Referensi dari pada menulis.

Oh yah selama ini Cherry hanya diam dan menerima segala bentuk review yang kalian berikan. Cherry malah antusias ketika ada yang mengkritik tulisan tanpa ada niat untuk meng-flame.

Tentang Flame. Cherry sebenarnya tidak mempermasalahkan Flame. Kita ambil segi positifnya Flame membuat kita terkesan belajar cepat (dari hinaan).

Tapi, Cherry tahu, karya Cherry tidaklah sempurna ataupun menarik. Malah mungkin membosankan. Sejujurnya kadang keterlambatan Cherry Update adalah karena keraguan Cherry. Keraguan Cherry tentang cerita ini masih pantas di publish atau tidak? Keraguan tentang masih adakah yang menunggu cerita ini di lanjutkan? Tapi, dengan berdusta Cherry menyangkut pautkan dunia realita-lah yang menghambat segalanya (But see, Realita-lah alasannya)

Tapi, bukankah Flame malah membuat segalanya tambah memburuk?

Cherry adalah orang yang labil. Jalan cerita ini dapat berubah-ubah selang berjalannya waktu. Kalian harap maklum. Tapi, untuk ending cerita ini Cherry sudah memikirkannya matang.

Aku harap kalian semua sabar menanti akhir dari cerita Cherry. Karena Cherry ingin menuangkan Hobby untuk menghibur kalian semua. Cherry ingin menjelaskan satu-satu tentang cerita Cherry. Kalau mau langsung dan cepat, kenapa gak Chap depan end saja? Cherry akan menuliskan cerita singkatnya yang akan menjelaskan hingga semuanya selesai entah berending sad atau happy.

Selama ini banyaknya support untuk melanjutkan cerita ini membuat Cherry optimis kalian masih menunggu kelanjutan Cerita Cherry.

Begini saja, Cherry akan membuat peraturan baru buat para pembaca Holiday.

DON'T LIKE? DON'T READ, DON'T FLAME OR INSULT!

Tidak suka? Jangan di baca, jangan menghina!


Hanyalah catatan ketika suasana mood memburuk ditambah musik yang menambah suasana dan cerita sebagai bahan referensi masih gantung (belum dilanjutkan / masih tbc) atau berakhir tidak sesuai harapan!

Serius abaikan! Kecuali Rules.


Ku lirik Sakura sudah berdiri berkacak pinggang menatapku tajam.

"Tertawa kau pantat ayam. Tertawa saja. Asal kau tau karma Tuhan itu berlaku. Sialan kau!"Sakura terlihat kesal sekali denganku, dia mengambil bantal di atas kasur lalu memukuliku berulang kali dengan bantal itu. Tidak ada rasa sakitnya sama sekali, namun aku menangkisnya dengan lengan tanganku melindungi wajahku. Kerena pukulan asalnya cukup membuatku terkejut.

"Bajingan Kau! Apa yang kau lakukan di kamarku? Shannaroo! Berani-beraninya kau masuk! Awas saja, akan ku laporkan pada Ka-san nanti!"Ancamnya.

Tawaku terhenti. Aku menatapnya, pukulan bantal juga ikut berhenti, Sakura menatapku bingung.

"Jangan Laporkan pada Madre. Kau tahu ini hal yang serius. Aku bisa langsung dinikahkan denganmu"Ucapku memperingatkan. Gawat sekali kalau Sakura sampai melaporkan hal ini. Madre akan menuduhku yang sembarangan. Apalagi Itachi pencinta drama sinetron itu. Habislah sudah. Belum lagi Ayah Sakura dengan Senjata laras panjang? Atau Magnum?

Sakura terkesiap, ia melemparkan bantal itu padaku lalu berbalik memunggungiku. Aku baru sadar, Sakura hanya mengenakan kaos putih yang kebesaran di tubuhnya dengan celana pendek yang tertutup oleh panjang kaos yang di kenakannya. Agak berbeda dengan sewaktu di Italy kemarin-kemarin. Sakura lebih sering menggunakan piama panjang bergambar cartoon. Yah itulah baju tidur yang paling banyak ku temui di lemarinya.

"Kau benar"Ucapnya berbalik ke arahku.

Aku memberikannya smirk devil milikku.

"Tapi, ku rasa kalau tiap hari kau hanya tidur dengan berpakaian seperti itu. Aku tak masalah menikah denganmu"Godaku. Tak ku sangka wajahnya memerah. Lucu sekali. Dia menatapku nyalang. Gawat. Wajahku berubah datar.

"Kau tahu aku hanya bercanda"Ucapku. Demi nama kakek madara, aku tidak pernah sekonyol ini.

Sakura menggertakkan giginya.

"Mau apa kau kesini Hah?! pergi sana!"Usirnya. Harga diriku sebagai seorang Uchiha sedang di injak-injak oleh perempuan di depanku. Apa pinkie ini lupa aku ini Bos dari bos dari bosnya?

Aku berdiri dari atas tempat tidur, berjalan menuju sofa yang berada di sudut ruangan.

"Hinata menyuruhku memaksamu untuk sarapan di bawah, cepat ganti pakaianmu"Aku duduk bersandar sambil menutup mataku.

Sasuke POV end

.

.

HOLIDAY

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku, Slight/ NaruHina, ShikaTema, NejiTen, SaIno, SuiKarin, SasoShion

Happy reading ! Don't Like, Don't Read, Don't Flame!

Really TYPO is Every Where!

.

.

Sakura POV

Sasuke bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa yang berada di sudut ruangan.

"Hinata menyuruhku memaksamu untuk sarapan di bawah, cepat ganti pakaianmu"Ucapnya dingin, ia duduk bersandar sambil menutup matanya.

Aku menyeritkan dahi. Pantat ayam itu susah sekali di tebak. Sifatnya cepat sekali berubah. Tadi jahil, cerewet dan sekarang kembali dingin. Kalau dia main di drama korea, mungkin segala jenis genre film akan di perankannya.

Mungkin paling cocok adalah genre Thrill psikopat dengan Scene pembunuhan berantai. Atau mungkin genre K-Drama RomanceAction tentang Kapten tentara pasukan khusus yang ganteng dan aku dokter cantik yang tsundere (?) You know what i mean? *smirkdevil, serius abaikan!

Aku menghela nafas, Hinata yah? Jadi itu sebabnya Naruto berusaha membujukku tadi. Ah.. aku merasa bersalah. Hinata minggu depan akan menikah dan dia pastinya ingin menghabisi hari lajangnya sebelum terikat dengan pria yang memasang patokan cintanya pada Ramen. Aku menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.

Cukup lama aku membersihkan diriku. Mungkin ada setengah jam lebih. Dengan sambil bersenandung aku keluar dari kamar mandi. Aku mengeringkan rambutku dengan handuk kecil. Aku keluar memakai bathrobe.

"Lama sekali"keluh Sasuke yang masih terduduk di sofa sana. Apa yang dilakukannya disana?

Aku menatapnya sinis yang dibalasnya dengan tatapan datar.

"Ini sudah lewat jam sarapan kau tahu"Ucapnya berdiri menuju ke arahku. Apa yang pantat ayam kurang ajar ini lakukan?

Dirinya tepat berhenti satu langkah di depanku.

"Ino mengajak Kau, Hinata dan aku untuk sarapan di Apartemennya"Ucapnya. Aku mendongkak menatapnya, Sasuke tersenyum manis ke arahku. Sial! Kalau karin di posisiku dia pasti akan ke ganjenan, sayangnya adalah aku.

Sasuke menyentuh daguku dan melangkah mendekat ke arahku hingga tak ada jarak di antara aku dengannya. Sasuke mendekatkan wajahnya ke arahku. Oke aku cukup gugup sekarang, apa obat Sasuke habis?

"Bisa kau minggir? Aku ingin keluar, atau kau mau aku menontonmu mengganti baju?"Wajahku sukses memerah di buatnya. Aku menepis tangannya kasar dan segera mendorong tubuhnya menjauh. Tanpa berkata aku berjalan menabrak sedikit tubuhnya.

"Tentu saja tidak! Aku bukan model pakaian dalam yang mau membuka bajuku di depan siapa saja"Ucapku sarkastik. Aku memutar tubuhku menatapnya yang memperhatikanku.

"Tunggu apalagi? Kau keluar sekarang! Atau kau ingin menontonku mengganti baju?"Tantangku balik. Kedua tanganku ku lipat di depan dadaku. Aku sedikit memiringkan kepalaku.

Dia tersenyum menatapku balik. Melakukan hal yang sama denganku, ia balik menantangku.

"Buka saja. Kita lihat, Apa kau berani membukanya?"Tanyanya. Aku mendengus dalam hati. Pervert! Sudah kuduga pantat ayam ini ternyata juga mesum.

Aku memandangnya datar sambil memegang tali pengikat bathrobe-ku. Dia mengangkat alisnya satu menantangku. Aku menarik tali itu hingga terlepas dari sampulnya.

Apa serius aku harus membukanya?

Tanganku sedikit gemetaran. Ini permainan ego yang gila dan tak senonoh!

Aku mendengar tawa kekehannya.

"Aku tidak tertarik denganmu"Ucapnya. Sasuke berbalik berjalan menuju pintu.

"Cepatlah! Aku sudah kelaparan. Jangan menunda makan pagiku, Aku kekurangan asupan sehabis berolahraga. Aku sama sekali belum mengisi perutku pagi ini"Ucapnya sebelum meninggalkan kamarku sepenuhnya.

Bunyi pintu yang tertutup sempurna membuatku mendengus kesal. Sialan apa maksudnya? Dia pikir aku tertarik dengannya? Kurang ajar! Dia fikir, dia siapa? Berani sekali dia mengejekku. Lihat saja, Aku akan melaporkannya ke Mikoto-Kasan tentang hal ini.

Aku membuka Bathrobe kasar. Kalian pikir aku naked? Tentu saja tidak. Aku sudah mengenakan baju. Hanya merapikan rambut dan memoles makeup maka aku akan selesai. Sial! Awas kau Sasuke.


"Jadi begitulah. Hahahaha... Kau harusnya lihat itu Hinata. Sungguh Demi Tuhan! Aku menyimpan videonya. Mungkin lebih baik kita tayangkan saja nanti di acara nanti?"Ino tak bisa berhenti tertawa sedari tadi. Perutku sakit di buatnya, Hinata juga tak berhenti tertawa. Wajahnya memerah sekali. Sedangkan Pantat ayam sialan itu? Dia dengan sok anggunnya menyantap makanannya.

"Aku tak menyangka kau akan menikah dengan maniak Ramen itu Hinata. Ino aku juga tak menyangka, kau menjadi desainer. Ku fikir kau mungkin menjadi model pakaian dalam atau majalah dewasa"Ucapku. Hinata menahan tawanya sampai wajahnya memerah. Ino menatapku kesal.

"Aku juga berfikir demikian"Ucap Sasuke menambahkan. Ino meringis menatap Sasuke.

"Diam kau Uchiha! Aku juga tak menyangka Saku, kau akan menjadi model dengan body datarmu itu"Ucapnya. Hinata tertawa keras mendengarnya membuatku memerah menahan malu. Babi sialan!

"Aku juga berfikir demikian"Sahut Sasuke. Aku menatapnya kesal. Kurang ajar. Ino menahan tawanya sambil menatapku menyindir.

"Aw. Aku tersanjung kau memihakku Uchiha"Ino tersenyum sok manis. Sasuke membalasnya dengan senyuman. "Sama-sama"Sasuke melanjutkan acara makannya.

Mulut Ino memang terlalu kasar, aku tidak mungkin membalasnya. Aku memberi isyarat kalau aku menyerah.

Kami semua melanjutkan acara makan kami.

"Aku tak menyangka kau akan menikah secepat ini, padahal sepertinya Ino yang terlihat yang menggebu-gebu akan menikah muda" Sahutku. Ino melotot menatapku.

Aku tersenyum penuh kemenangan, "Aku rindu masa sekolah kita bertiga. Sewaktu di junior high school dan senior. Hinata sering sekali di kerjai, awas saja! Sampai aku mendapati siapa orang itu, dia pasti akan menyesal pernah menyakiti istri dari Uzumaki Naruto"

Sasuke meletakkan kasar sendok miliknya, hingga terdengar bunyi yang cukup nyaring. Aku menyerit bingung, ada apa dengannya? Aku melirik Ino yang memandang khawatir Sasuke dan Hinata yang tertunduk. Apa ada yang salah dengan perkataanku.

Setelah menghabiskan airnya, Sasuke langsung berdiri meninggalkan kami bertiga. Hello!? Apa yang terjadi pada Uchiha Sasuke?

Ino sepertinya ikut menyudahi makannya begitu-pun dengan Hinata yang tampak gugup. Ia menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga.

"Kurasa cukup. Kalau aku menambah porsi makanku lagi, aku akan gendut seperti babi"Ucapnya berdiri. Mau tak mau aku ikut menyudahi acara makanku. Hinata tersenyum dengan wajah pucatnya. Apa ada yang salah? Aku sendiri bingung.

Saat aku membantu Ino merapikan meja makan bersama Hinata, Wajah datar Sasuke yang menguarkan Aura tak menyenangkan memasuki kembali pintu.

Ia menatap Ino tak senang, onyx matanya menggelap seakan ingin membunuh Ino di tempat. Aku sendiri ketakutan melihatnya, nafasnya memburu seperti sedang menahan ledakan emosi.

Ino hanya berpura-pura seakan tidak menyadari keberadaan Sasuke. Dia dengan santainya bersenandung sambil memasukkan piring kotor ke dalam mesin pencuci piring. Ketegangan tercipta di ruang dapur sekaligus ruang makan ini. Aku dan Hinata saling berpandangan khawatir. Akhirnya Ino membalikan badannya membalas tatapan membunuh Sasuke dengan tatapan menggoda kepuasan setelah menekan tombol otomatis untuk mencuci piring.

"Ada apa Sasuke? Kau kelihatannya sedang badmood"Ucap Ino yang terlihat tidak bersalah. Sasuke mendekat ke arah Ino. Ino tersenyum menyeringai.

Sasuke mengabaikan kehadiran Hinata dan diriku, ia mengapit tubuh Ino di Pantry. Aku menahan nafas melihat keduanya berdiri tanpa ada jarak yang memisahkan. Ino bukannya berusaha menghindar namun malah menyingungkan senyum mengejek miliknya.

Tubuh jakung Sasuke menunduk sedikit menyamakan tinggi dengan Ino. Wajah mereka sangat dekat dengan Hidung nyaris bersentuhan. Kedua tangan Sasuke berada di sisi kanan dan kiri menyandar di atas meja pantry seakan menghalangi Ino untuk pergi.

Wajahku memerah melihat mereka berdua. Kulihat Hinata juga wajahnya memerah bahkan Hinata memalingkan wajahnya dari mereka berdua dan berjalan meninggalkan dapur.

Aku seakan tak bisa bergerak, kakiku terpaku menatap kedekatan Ino dan Sasuke yang sangat intim. Tiba-tiba jantungku terasa berdenyut nyeri, aku ingin sekali berteriak dan menarik Sasuke menjauhi Ino. Apa yang salah denganku? Toh mereka mungkin sahabat yang pernah menjalin cinta. Tapi, mengapa Ino ataupun Sasuke tidak pernah memberitahuku. Tentu saja, Aku memang bodoh sekali seharusnya aku menyadari sedari kemarin. Pelukan mesra Ino. Harusnya aku segera mengetahuinya. Lagipula, Siapa Aku? Harusnya aku tau diri, Kami hanya berpura-pura. Aku hanya kecewa.

Mereka berdua saling bertatapan. Sasuke dengan tajam dan Ino dengan mengejek. Mataku serasa berkaca, entah mengapa aku terasa terkhianati. Apa yang terjadi denganku? Ini kah yang mereka katakan dengan cemburu? Aku ingin sekali pergi dari sini, Bolehkah Aku lari dan pulang kembali ke Konoha tanpa harus berurusan lagi dengan mereka semua?

Apa yang ada di pikiranku? Apa aku sudah kehilangan akal sehatku?

"Katakan Barbie busuk! Kenapa kau memelihara barang nista itu! Kau tau aku akan kesini, kau sengaja kan?"Tanya Sasuke dengan menusuk. Aku merasa tubuhku melemas. Ino melirikku lalu tersenyum miring.

Ino melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke menarik Sasuke mendekat padanya. Hidung mereka saling bersentuhan.

"Apa kau menyukainya? Hn, Sasuke-kun?"Tanyanya mengejek. Cukup sudah air mataku akan segera jatuh begitu saja melihat kemesraan Ino dan Sasuke. Kenapa aku hanya diam menyaksikan mereka. Harusnya aku ikut pergi seperti Hinata. Aku hanya pacar terpaksa Sasuke. Apa yang ku harapkan?

Saat kurasakan air mataku akan segera jatuh, suara Hinata mengalihkan perhatianku.

Sakura POV end


Sasori mengatur nafasnya menyadari sepupu tersayangnya kabur di bawa lari (lagi) oleh Sasuke. Walaupun kali ini Hinata ikut bersama mereka.

Temari yang sedari tadi duduk di sampingnya menatap prihatin bosnya.

"Aku tak mengerti. Sakura bisa menjadi perawan tua jika kau terus mengekangnya seperti ini"Ujar Temari. Mereka duduk di lobi Hotel sambil membicarakan pekerjaan yang tertunda selama beberapa hari. Yah, walau sedang berlibur, pekerjaan mereka bukan hanya bertemu tetapi melalui surel dan Sasori merasa tidak tenang membiarkan perusahaannya kosong selama ia berlibur. Itulah gunanya dirinya membawa Temari, sekretaris bermulut kasar yang sering menghina dirinya tetapi pekerja profesional.

"Kau tidak mengerti"Sasori mengusap wajahnya frustasi. Hilang sudah mood untuk membahas masalah pekerjaannya.

"Apa yang tak ku mengerti? Uchiha Sasuke merupakan The most man wanted di Konoha, Asia, bahkan Dunia dan kau meragukannya? Apa yang kurang darinya? Dia seperti malaikat. Kaya, cerdas, gentleman, dan tampan. Dia seperti dewa Yunani. Standard seperti apa yang kau harapkan untuk Sakura?"Temari menyender sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tak habis pikir dengan bosnya ini.

"Itu dia. Dia terlalu sempurna. Dia cacat fisik!"Serunya. Temari menggeleng pelan. Yah, ia tahu sempurna adalah cacat fisik.

"Bukankah dia sahabatmu?"Tanya Temari, Sasori mentap Temari.

"Dia temanku, Sasuke orang yang tertutup. Hanya Naruto yang merupakan Sahabatnya bersama Neji. Kami semua berteman. Teman suka duka tanpa melanggar batas privasi"Jelas Sasori. Temari mengangguk.

"Aku yakin, Sakura akan baik-baik saja"ucapnya menenangkan.

Sasori mendesah pelan, apa yang di khawatirkannya sebenarnya. Sasuke merupakan orang ternama. Ia tidak mungkin merusak nama baiknya sendiri. Ini menyangkut nama keluarga yang di sandangnya. Perusahaan terbesar pertama di Asia dan ketiga di dunia. Apa yang di takutkan sebenarnya?

"Kau benar"Sasori tersenyum menatap lembut Temari. Mereka berdua kembali membahas pekerjaan mereka.

Tak berada jauh dari mereka Shikamaru duduk bersama Neji. Kehadiran mereka tidak terlalu terlihat karena tertutup bunga yang cukup besar dan sebuah ukiran kayu yang menjadi dekorasi hotel.

"Bukankah mereka berdua terlalu dekat?"Tanya Shikamaru memandangi punggung Temari. Neji yang sedang duduk menikmati kopi sembari membaca beberapa pesan dari sekretaris yang tak ikut bersamanya.

"Kau benar. Aku tak bisa membiarkannya,"Ucap Neji tanpa mengalihkan tatapannya dari Tablet di pangkuannya.

Shikamaru terus menatap Temari dan menyerit tak suka mendengar ucapan Neji yang terdengar posesif.

"Apakah mereka mempunyai sesuatu yang disembunyikan?"Tanya Shikamaru lagi.

"Tentu saja, mereka akan segera menikah"Ucap Neji santai.

Shikamaru terkejut. Apa? Sasori akan menikah dengan Temari? Apa maksudnya?

"Apa Temari memberitahumu?"Tanya Shikamaru kelewat antusias, lebih tepatnya dengan Nada mengintrogasi. Kali ini Shikamaru menatap Neji.

"Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Temari memberitahuku apa?"Neji bingung sendiri. Dirinya mengalihkan perhatiannya ke Shikamaru yang duduk di hadapannya.

"Apa yang sedari tadi kau bicarakan?"Balas Shikamaru bertanya. Neji mengerutkan keningnya.

"Tentu saja, Hinata dan Naruto"Jawabnya cepat. Shikamaru menghela nafas antara lega dan bosan.

"Ternyata topik pembicaraan kita berdua berbeda. Kita tidak nyambung sama sekali dari tadi"Shikamaru menyeruput kopinya sesekali melirik Temari dan Sasori yang terlihat serius disana.

"Apa yang sebenarnya dari tadi kau bicarakan? Ow-"Neji berbalik mengikuti arah tatapan Shikamaru yang sedang melirik Temari dan Sasori.

Neji tersenyum mengejek.

"Kau cemburu?"Tanyanya to the point, sontak saja pernyataan itu membuat Shikamaru tersedak kopi.

Shikamaru menatap nyalang Neji dan bertanya apa maksudnya. Neji hanya tertawa memperhatikan Shikamaru yang berubah salah tingkah. Itulah yang dimaksudkan orang-orang.

'Terlalu sering kau memperhatikannya, kau akan sulit mengabaikannya.

Yah, Termasuk Neji mengalaminya bukan?


(Backsound- 5Sos – Amnesia)

Karin memandangi jalan raya di bawah sana. Dia sadar diri, semua orang tak menyukai kehadiran dirinya. Bahkan sepupunya sendiri. Miris betul. Sambil tersenyum dengan dada nyeri Karin mengingat masalulunya ketika berada di Italia.

Flashback

Sebagai siswi pindahan baru yang belum lancar atau fasih dalam berbahasa di sana, Karin hanya tertunduk ketika ada anak yang ingin berkenalan dengannya. Sebenarnya lebih banyak yang mengabaikannya. Rambut merah darah miliknya lah penyebab utama. Orang Italia menganggap Rambut Hitam dan begelombang adalah hal yang eksotis. Dan rambut semerah darah adalah aneh.

Wajah Karin tertunduk duduk di samping kolam air mancur di belakang sekolahnya. Taman ini jarang di kunjungi entah apa penyebabnya, yang Karin tau tempat ini seakan diciptakan untuknya yang memang merasa sendiri.

Sambil memperhatikan kolam air mancur yang keruh dan tak berfungsi lagi, Karin berusaha menyemangati dirinya sendiri.

Sampai sebuah suara mengintrupsikannya berbalik. Seorang anak lelaki kecil seusianya berdiri di hadapannya dengan raut wajah datar. Di samping kiri dan kanannya berdiri anak lelaki seusia sama seperti mereka juga.

"Kau orang Jepang juga kan?"Tanyanya datar. Karin mengangguk.

"Kenapa kau menyendiri? Ayo bermain bersama kami"Ajak anak di samping kanannya dengan cengiran.

"Jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya tak ingin melihatmu sendirian"Bujuk anak di samping kirinya dengan senyuman memperlihatkan taring-taring giginya.

Anak bermata onyx di tengah tersenyum tipis.

"Kau mau bermain bersama kami?"Tanyanya. Dan untuk pertama kalinya sejak menginjakan kaki di sekolah ini, Karin tersenyum dengan cengiran lebar.

Flashback end

Yah, itu adalah Sasuke, Suigetsu dan Jugo. Entah mengapa sekarang sifat Sasuke semakin berubah. Sasuke yang awalnya sangat baik padanya berubah sejak dirinya bertemu kembali di Jepang.

Semenjak dirinya sering bermain dengan Sasuke, Karin langsung mengidolakan laki-laki itu. Semua orang yang mengabaikannya kini memperhatikannya. Mereka berempat sering berkumpul bersama walau tak sekelas. Karin tak merasa sendiri lagi. Sasuke adalah penyelamatnya. Itulah mengapa dirinya selalu memuja Sasuke.

Kenapa semua orang menilainya negatif.

"Apa yang kau pikirkankan?"Tanya Suigetsu yang berada di sampingnya. Karin menampilkan raut terkejut nya.

"Dimana Sasuke?"Tanya Karin, dia melirik ke segala tempat. Namun, tidak menemukan Sasuke ataupun Kakashi.

"Selalu menanyakannya sebelum menjawab pertanyaanku"Ujar Suigetsu Sarkastik. Karin mengabaikannya memandangi Jalan raya di bawahnya.

Suigetsu menatap Karin yang memadangi jalan raya.

"Kau sadar, kau terus memperhatikanku. Sudah ku katakan berulang kali. Aku tak suka Sui"Ujar Karin tanpa mengalihkan tatapannya.

Suigetsu terkekeh kecil. Ia tak habis fikir dengan Karin, apa yang ada di pikiran perempuan yang telah menarik perhatiannya itu? Mendengar kekehan Suigetsu, Karin memperhatikannya tajam.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan?"Tanya Suigetsu lembut. Karin merasa jijik sekaligus tersentuh mendengarnya. Dia merasa ada yang memperhatikan.

Karin menghela nafas pelan, "Aku merindukan masa elementaryku. Sasuke sudah berubah"Ucapnya.

Suigetsu menggeram pelan. Sasuke, selalu Sasuke.

"Kenapa kau begitu mengharapkannya?"tanya Suigetsu terdengar posesif. Karin mendongkak memperhatikan mata Suigetsu yang menahan gejolak emosinya.

"Kenapa kau perduli?"Tanyanya. Semua orang membencinya dan mungkin mengharapkan sekarang ini dia segera pergi. Sumpah mati, dia hanya ingin tak mau sendiri.

Mata Karin berkaca. Mengingat tatapan sinis 2 perempuan yang bahkan tak ingin berkenalan dengannya, tatapan khawatir dirinya akan merusak segalanya dari calon istri sepupunya, tatapan mengusir dari sepupunya Ataupun senyuman paksa yang di berikan padanya dari Teman-teman sepupunya. Apa dia sebegitu menyebalkan?

Karin menunduk, dirinya kembali merasa sendiri. Seakan dunia tak menerimanya. Apa salahnya? Dirinya hanya ingin mempunyai teman dan dia tau Sasuke memahaminya. Air mata yang selama ini dibendungnya keluar sudah. Membasahi pipi dan melunturkan make-up tebalnya. Mengabaikan tatapan orang-orang yang memperhatikannya, Karin mengusap air matanya kasar.

"Aku hanya ingin bertemu Sasuke. Bermain dengannya, seperti dahulu. Aku merasa sendiri"Ucapnya pelan. Suigetsu melangkah mendekati Karin mendekapnya pelan. Berharap kali ini Karin tidak meronta di lepaskan.

Suigetsu tersenyum ketika mendapati Karin membalas pelukannya. Ketika ia mulai terisak Karin menyembunyikan wajahnya di dada Suigetsu.

(Backsound- GAC – Bahagia)

"Shhh.. jangan menangis. Jangan pernah mengira kau sendiri. Kau masih memiliki Aku"Suigetsu mengelus pelan rambut Karin. Suara tangisan yang terdengar berubah menjadi kekehan kecil. Pukulan pelan di dada Suigetsu dilayangkan beberapa kali oleh Karin.

"Kenapa kau masih mendekatiku. Ku bilang kemarin untuk menjauh dariku 5 meter"Ucapnya menuntut. Suigetsu menahan tangan Karin yang hendak kembali melayangkan pukulannya.

Karin mendongkak memperhatikan Suigetsu. Suigetsu menahan tawanya melihat make-up Karin yang luntur. Karin menyadarinya. Dirinya memalingkan wajahnya yang memerah menahan malu. Kedua tangan Karin masih di tahan Suigetsu.

"Kenapa, Apa kau malu? Biasanya urat malumu tidak ada"Sindir Suigetsu. Karin menggeram pelan tanpa menoleh meliriknya. Suigetsu melepaskan salah satu tangan Karin.

"Kau cantik tanpa makeup. Kau menyenangkan tanpa sikap berlebihanmu. Kau lebih apa adanya seperti Karin sewaktu dulu. Ku kira itulah yang kufikirkan"Karin menatap Suigetsu. Suigetsu membersihkan Jejak air mata di wajah Karin. Membersihkan makeup yang berantakan dengan sapu tangannya.

"Kurasa sama seperti fikiran Sasuke. Kau terlalu berlebihan"

Suigetsu melepaskan tangan Karin yang lain.

"Sudah ku katakan. Kau cantik kalau kau natural. Itulah yang Sasuke lihat dari Sakura. Dia apa adanya"Suigetsu mengangkat dagu Karin, wajahnya sudah cukup bersih dari sisa makeup berlebihan.

"Kau lihat"

Suigetsu menolehkan wajah Karin ke Kiri hendak menyuruhnya menatap kaca di pintu yang dapat memantulkan sedikit bayangan.

"Aku cukup terharu"Senyuman Jenaka dari Kakashi membuyarkan semuanya.

Kakashi duduk dengan memangku kaki kanannya tepat dikursi depan mereka. Karin dengan gugup mundur menghindari kontak dari Suigetsu. Suigetsu menatap kesal Kakashi yang tersenyum tanpa bersalah.

"Apa maumu?"Tanyanya kesal. Kakashi berdiri merapikan Jasnya yang sedikit kusut karena sedari tadi duduk menonton tanpa di sadari mereka berdua.

Kakashi tersenyum mengejek, Suigetsu tau hal itu walau wajahnya tertutup sebagian dengan masker. Karena sorotan matanya, benar-benar mengejeknya.

"Ayo, Bos menelpon. Sesuatu terjadi"Jawabnya sambil berjalan meninggalkan Suigetsu. Suigetsu mendengus mendengarnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Karin memunggunginya.

"Kau tak ingin ikut bertemu Sasuke?"Tawar Suigetsu pada Karin. Karin hanya menggeleng tanpa berbalik.

"Baiklah. Sampai jumpa"Suigetsu melangkah meninggalkan Karin. Karin berbalik memperhatikan Suigetsu berjalan meninggalkannya. Betapa bodoh dirinya selama ini. Dia tidak sendiri, dia yang terlalu takut. Dia takut akan segalanya. Dia terlalu berlebihan.


Hinata berdiri sambil menggendong seekor kucing berwarna hitam berbulu lebat dari ras anggora. Kucing gemuk yang hampir serupa dengan gumpalan bola bulu terlihat nyaman di dekapan Hinata.

"Ino-chan. Dia imut sekali, siapa namanya?"Tanyanya.

Ino sedikit bergeser melihat Hinata karena tubuh Sasuke menutupnya. Ino melepaskan rangkulannya di leher Sasuke. Ia melangkah mendekati Hinata tersenyum menggoda.

Sasuke berdiri memunggungi mereka sambil menyeder di pantry dengan dengusan frustasi. Sakura menganga melihatnya.

"Dia imut bukan? Benarkan Sakura?"Ino mengelus tubuh kucing itu sayang. Sakura mengangguk. Air matanya tak jadi keluar.

"Namanya Sasu"Ucap Ino datar.

"Eh? Sasu? Sasuke-kun?"Tanya Hinata, Ino mengangguk.

Sasuke berbalik tak percaya menatap Ino.

"Kau baru saja menyebutkan nama bola bulu itu serupa dengan namaku"Serunya tak terima.

Ino tersenyum senang. Mengambil kucing itu dari dekapan Hinata memindahkannya ke dalam dekapannya.

Hinata memperhatikan Kucing itu, "Hm benar, Dia mirip sepertimu Sasuke-kun. Benarkan Sasu?"Ucap Hinata sambil menggelitik telinga kucing bernama Sasu itu. Sakura menahan tawanya melihatnya. Kucing itu memang mirip seperti Sasuke. Bulu warna Hitam dan mata kelamnya.

"Oh, Hinata"Sasuke menghela pelan.

Ino tersenyum jahil.

Ia melangkah pelan mendekati Sasuke. Sambil sesekali mengelus kucing itu. Raut wajah Sasuke menandakan tak suka dan aura mematikan memancar dari seluruh tubuhnya.

"Ino-chan"Sahut Hinata gugup. Sakura memandangi mereka bingung.

"Aku baru membelinya kemarin malam. Setelah aku tau kau ada di Paris, Aku pergi ke beberapa petshop dan jatuh hati saat pertama kali melihatnya, lalu Aku meminta Hinata menyuruhmu ikut sarapan bersama di sini untuk menunjukkannya padamu. Taraaaa.. ini dia Sasu kecilku"Ino berhenti tepat semeter di depan Sasuke. Tak bergerak Sasuke menyerit memperhatikan kucing di gendongan Ino.

Sakura belum bisa mencerna semua. Ada apa antara Sasuke dengan Kucing?

"Ino-chan. Bukankah.."Peringatan Hinata terpotong

"Diamlah Hinata, Bukankah dia imut?"Ino mengelus sayang kucingnya. Sesekali melirik Sasuke.

"Hyaaaah!"Serunya mendekatkan kucing itu lebih dekat pada Sasuke. Sasuke terkejut berusaha mundur namun dirinya sudah mepet di pantry dapur.

'HATCHIII!'Hilang sudah image Sasuke. Ia bersin tanpa ditahan dan dengan cara tak elegan yang bisa membuat harga diri Uchihanya turun seketika. Demi Mama Mikoto dan Papa Fugaku di Roma yang menikmati liburan mereka, demi Rambut Itachi dan Demi kuburan kakek Madara. Sasuke telah mempermalukan Klan Uchiha.

Ino tertawa puas sedangkan Hinata meringis Khawatir. Hidung Sasuke memerah seketika, begitupun dengan wajah dan hampir seluruh tubuhnya.

"Apa yang terjadi?"Tanya Sakura bingung. Ino melangkah menjauhi Sasuke yang kembali bersin.

"Ano.. Sasuke-kun alergi terhadap bulu kucing. Ino-chan kau.."Jawab Hinata khawatir.

"Brengsek kau Barbie gendut!"desis Sasuke pelan dengan nada menusuk. Ino menatap tak suka msndapati dirinya di katakan gendut.

"Alergi?"Sakura bertanya kikuk. Hinata mengangguk.

Ino tersenyum manis melangkah mendekati Sakura. Menyerahkan kucing itu, Sakura mengambilnya hati-hati. Sungguh mati. Sakura salut pada Hinata, Kucing itu berat sekali. Tangan Sakura akan pegal kalau mengangkatnya lebih dari 5 menit.

Ino membersihkan bulu kucing di bajunya.

"Well. Kau menyukainya Sasuke-kun?"Tanya Ino menggoda.

Sasuke tak menjawab, sambil menyender di pantry dapur kedua matanya tertutup menahan bersin. Hidungnya sudah sepenuhnya memerah. Ruam merah yang berada dihampir seluruh tubuhnya sudah berubah menjadi bintik-bintik kecil merah.

"Ino, kalau kau mau membunuhku, aku sarankan menggunakan pisau. Bukan kucing"Ucap Sasuke menahan nyeri di seluruh tubuhnya.

Hinata berlari mendekati Sasuke. Memperhatikan wajah Sasuke.

"Sasuke-kun. Kita panggil dokter?"Tawarnya. Sasuke menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.

"Aku sudah menelpon Kakashi. Jika sudah datang mintakan saja obat alergiku. Tolong antarkan aku ke ruang tamu Hinata. Tubuhku lemas sekali"Ucapnya. Hinata mengangguk lalu memapah tubuh Sasuke keluar dari dapur.

Sakura memperhatikan Sasuke keluar dipapah oleh Hinata. Ada rasa tidak suka saat Hinata di rangkul oleh Sasuke. Tapi, ada rasa kasihan pada Sasuke. Sakura meletakkan kucing itu di lantai. Ino tertawa puas.

"Apa yang terjadi?"Tanya Sakura.

"Sasuke alergi akan udang. Sedikit saja udang maka dia akan sekarat. Dia juga alergi bulu kucing. Sehelai saja bulu kucing.. wushhh.. tubuhnya akan memerah dan tak bisa berhenti bersin"Ino menjelaskan. Sakura memandang Ino tajam, Menurutnya Ino keterlaluan.

Alergi bukanlah hal yang bisa di mainkan. Itu penyakit. Sepeleh apapun penyakit itu, bisa membahayakan nyawa.

Sakura meninggalkan Ino di dapur menghampiri Sasuke yang duduk sambil menyender di sofa. Nalurinya sebagai dokter seakan keluar, dirinya mendekati Sasuke kikuk.

"Bisa kah aku membantu?"Tanyanya kikuk. Sasuke hanya melirik dan mengangguk. Hinata tersenyum lega, setidaknya ada pertolongan pertama.


Ino menatap Sasuke menyesal. Syukur saja Kakashi datang 15 menit kemudian dan segera memberikan obat alergi milik Sasuke.

Sasuke duduk menyender memejamkan matanya di kasur dengan tubuh masih lemas. Bintik di seluruh tubuh dan bersinnya memang sudah menghilang, namun demamnya belum juga turun.

"Kita harus mengompresnya dengan es batu"Ucap Sakura khawatir. Ada sebersit rasa bangga dan senang di hati Sasuke ketika mendengarnya.

"Tidak perlu, sebentar lagi. Obatnya sedang bekerja"Ucap Kakashi.

Sakura memandang Kakashi khawatir.

"Sasuke haruskah aku memelukmu seharian untuk menerima maafmu?"Tanya Ino dengan wajah memelas. Sakura memutar bola mata ketika mendengarnya.

Sasuke membuka matanya menatap Ino tajam.

"Jangan lakukan hal itu. Kau cukup jauh-jauh saja dariku"Sasuke mengucapkannya santai dan tajam sambil kembali menutup matanya, mengabaikan Ino.

Ino terkekeh sebelum melompat ke dekapan Sasuke. Hal ini membuat Sasuke meringis di tindih tubuh Ino tiba-tiba. Ino memeluk erat Sasuke sambil tersenyum menyengir. Hinata terkejut melihatnya begitupun dengan Suigetsu. Tapi, dengusan keras dari Sakura terdengar mereka semua. Sakura jelas cemburu.

"Sakura. Aku tak bermaksud untuk membuatmu cemburu"Ino melepaskan pelukannya dan berdiri dari atas kasur. Wajah Sakura sukses memerah menyadari dengusan yang menurutnya tak berarti terdengar oleh mereka semua.

"A.. Aku tidak, maksudku A.. a.. aku hanya mendengus karena Shannaro! Begini biar kujelaskan maksudku.."Sakura merutuki dirinya sendiri.

"Sini Sakura. Mungkin pelukanmu bisa membuatku cepat sembuh"Goda Sasuke dengan wajah penuh harap. Ia bahkan melebarkan kedua tangannya. Wajah Sakura tambah memerah mendengarnya, antara menahan malu dan kesal. Ino dan Hinata terkikik pelan melihatnya.

Sakura mensiniskan tatapannya, "Mana Sasu-chan? Pelukan darinya mungkin bisa menyembuhkanmu"Ucapnya tajam. Sasuke memberenggut. Dirinya kalah dari Sakura, well sepertinya dia harus membiasakan diri. Selalu seperti ini kan?

"Aku Sasu-chan Sakura. Ayo kita berpelukan Sakura seperti Barney,Teletubis, Henry Huggle Monster dan Doc Mcstuffins mereka bilang pelukan bisa mengatasi segalanya "Ucap Sasuke, dan Sakura tercengang. Apa Sasuke benar-benar pecinta Cartoon? Kemarin dia menyebutkan program seri Disney dan sekarang dia menyebutkan cartoon yang bahkan Sakura tak tau apa ceritanya? Apa alergi membuat otak Sasuke sedikit miring?

Hinata menganga dan Ino tertawa keras mendengarnya. Suigetsu menatap Sasuke tak percaya.

"Maka peluklah Kakashi, pelukan bisa mengatasi segalanya kan? Benar Sasuke? Aku ada di luar jika kalian membutuhkanku"Sakura berjalan keluar dari kamar sambil terdengar menggerutu.

"Barney? Serius Sasuke? Hahahahaha.. Teletubis, Berpelukaaaaan! Hahahaaaa.. kau sangat, oh astaga! Perutku Sakit"Ino memegangi perutnya dan berusaha untuk tidak terjatuh karena tertawa. Sasuke membuang wajahnya.

See, hanya Haruno Sakura yang membuat Sasuke bertingkah konyol.


"Temari?"Panggil Shikamaru ketika melihat Temari baru saja mengambil kopi di resto.

Temari berbalik dan mendengus memutar matanya bosan melihat Shikamaru yang menghampirinya.

"Ada apa?"tanyanya kelewat dingin

"Kau tau, Aku ingin memperbaiki segalanya. Maksudku, aku sebenarnya tidak terlalu perduli, tapi.."Shikamaru mengelus tengkuknya. Temari mengangkat alisnya satu sambil meniup kopinya.

"Tapi?"

"Tapi, aku merasa bersalah waktu itu. Sungguh aku tidak bermaksud berkata seperti itu padamu. Itu hanya kesalahpahaman belaka. Jadi, apa kah kau mau memaafkanku?"Tanya Shikamaru. Temari menyesap kopinya sambil matanya menatap tajam Shikamaru. Shikamaru memperhatikan gelisah Temari menanti jawaban. Astaga! Menunggu jawaban permintaan maaf saja rasanya seperti menunggu jawaban lamaran.

Temari tersenyum, Shikamaru ikut tersenyum. Bukankah senyum sebuah pertanda baik?

"Setelah semuanya? Apakah kau masih perlu bertanya? Pikirkan"Ucap Temari berjalan meninggalkan Shikamaru dengan senyuman yang berubah menjadi sinis. Luntur sudah senyuman Shikamaru.

Shikamaru mendengus, oke cukup! Niatnya akhir-akhir ini baik. Namun, perempuan bercepol itu selalu saja memancing emosi yang selama ini di kontrolnya dengan sangat baik.

"Aku tau aku bajingan yang tak tau diri! Tapi, aku juga hanya ingin menyelesaikan masalahku. Lebih baik aku merasa terasing daripada seorang yang membenciku!"Teriak Shikamaru.

Temari berhenti, ia berbalik dengan ekspresi datar.

"Baiklah"Temari mendengus pasrah.

"Dimana Neji?"Tanya Temari, Shikamaru mengerutkan keningnya. Ada apa dengan Neji? Maksudnya apa?

Temari menghela nafas, ia menduga jika ini salah satu trik Neji untuk membuatnya berbaikan dengan Shikamaru. Pasti Neji bersembunyi di suatu tempat dan akan keluar ketika Temari sudah memaafkan Shikamaru dengan senyuman kemenangan. Lelaki seperti Shikamaru, ia sangat ragu jika ini di lakukan bukan dengan bantuan Neji.

"Dimana Neji?"Tanya Shikamaru balik. Temari mengangkat alisnya satu. Para Cameo ini pintar sekali berakting. Aplus buat mereka semua.

"Aku tau ini salah satu trik Neji lagi kan?"

Shikamaru menggeleng pelan, "Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Neji" Shikamaru tak habis fikir dengan Temari. Apa dia terlihat seperti brengsek bodoh yang tidak mempunyai cara tersendiri untuk meminta maaf.

Temari menjadi bingung, jika ini bukan salah satu trik Neji berarti ini murni dari Shikamaru. Raut penyesalan sudah di tampilkannya. Rasanya tidak enak melihat ucapan tulus seseorang, namun diragukan. hal ini mengingatkannya dengan Neji yang berupaya meminta maaf pada Tenten.

"Apa kalian sudah berteman?"Neji muncul dari belakang Temari. Temari mengangkat alisnya satu. Benar sekali Shikamaru pasti hanya berakting dan ini pasti salah satu ide Neji. Temari mendengus, apa dalam hati laki-laki itu tidak ada ketulusan yang berdasar dari pikirannya?

Hilang sudah raut menyesal yang kini berganti kesal. Shikamaru menyadarinya, Temari pasti salah paham dengan ucapan Neji. Otak jeniusnya telah menebaknya. Temari pasti mengira permintaan maafnya kali ini sama seperti kemarin, atas usul Neji.

"Ada apa?"Neji menyerit bingung. Dirinya saja baru saja keluar dari lift dan melihat Temari dan Shikamaru berbincang. Yah.. walau di katakan jarak mereka cukup jauh. Tak ada salahnya kan jika dirinya bertanya tentang kabar hubungan (?) mereka.

"Sayang sekali, tak mudah kau mendapat maaf dariku. Aku tidak bisa menerima maaf yang tidak tulus dari hatinya"Temari berbalik hendak pergi. Shikamaru mendengus kasar, gagal lagi.

Neji menahan lengan Temari.

"Ada apa?!"Tanyanya yang terdengar seperti bentakkan. Neji menyerit tak suka mendengar nada bicara Temari. Seolah semua yang terjadi ini adalah ke salahannya.

"Aku sudah membalaskan dendamku. Adikmu akan menagih Setelan Armani nanti"Ujar Neji santai. Temari menekuk wajahnya, warna merah sudah mewarnai wajah dan telinganya. Shikamaru ataupun Neji hari ini merusak mood indahnya. Emosi marahnya sudah di ubun-ubun. Dadanya naik turun berusaha menarik nafas karena kekesalannya. Ingin sekali dirinya melempar cangkir berisi kopi di tangannya ke wajah Shikamaru dan Neji.

"Temari?"Panggil Neji.

"Sialan kau! Aku akan menghapusnya! Katakan padanya, Apapun tentang Armani adalah omong kosong. Oh tuhan, Neji! Kau menambah merusak segalanya, gara-gara dia.."Temari menghentikan aksinya yang sedang menunjuk Shikamaru yang menyerit bingung.

"Ingin maaf dariku?"Tanya Temari ke Shikamaru dengan senyum manis. Shikamaru mengangguk pelan dan Neji bergeridik merasakan hawa senyuman Temari.

"Belikan aku beberapa setelan Armani, aku akan segera memaafkanmu"Ucapnya dengan nada sangat manis untuk ukuran perempuan seperti Temari.

Shikamaru melongo, Armani?

"Terimakasih Neji, Aku mencintaimu"Ucapnya tersenyum sambil mengedipkan matanya.

Shikamaru menahan kesalnya.

Neji tersenyum gugup, "Sama-sama"Jawabnya kikuk, Temari berjalan memasuki lift yang tak jauh dari mereka.

"Sial! Aku di peras"Ucap Shikamaru kesal. Neji tersenyum. Ada untungnya berbohong pada Temari tentang Armani. Temari pasti akan mengamuk ketika pulang dan menyadari Neji telah membohonginya.


"Ada yang ingin ku katakan padamu"Ucap Ino. Setelah Alergi Sasuke menghilang mereka memutuskan untuk kembali ke Hotel. Dan dia dengan baik hati menawarkan tumpangan untuk Sakura. Karena mobil yang di pakai Sakura, Hinata dan Sasuke tidak cukup menampung seorang lagi setelah kedatangan Kakashi dan Suigetsu. Kakashi dan Suigetsu memang datang menggunakan Taksi lokal.

Sakura menatap Ino bingung.

"Ini tentang Hinata"dan Ucapan Ino membuat Sakura menyadari, sebenarnya dirinya tidak mengetahui Hinata sepenuhnya.

"Ada apa dengan Hinata?"Tanyanya bingung. Mereka bersama-sama sejak Kindergarten, Cerita mana tentang Hinata yang tidak di ketahuinya.

Ino mulai menarik nafasnya, ia masih berusaha mengambil keputusan untuk membicarakan hal ini pada Sakura. Sasuke dan Hinata pasti akan marah besar padanya. Mereka pernah berjanji ini hanya rahasia di antara mereka. Tapi, Ino berpikir Sakura pantas mengetahuinya. Daripada setiap membicarakan tentang hal ini membuat ketegangan tidak biasa.

"Jadi Sakura, kumohon kau tidak membicarakan hal ini dengan siapapun. Sebenarnya yang selama ini mencelakai Hinata adalah Matsuri. Ceritanya berawal ketika Garaa memberikan perhatian yang berlebih pada Hinata..."Ino memulai ceritanya. Ino bercerita Semuanya, pertengkaran yang menyebabkan hubungan Garaa dan Sasuke memburuk, alasan mereka menyembunyikannya dari semua orang, Segalanya.

Sakura hanya terdiam tak mampu berkata dan hanya menatap Ino bercerita dengan Seksama.


"Aku galau"Naruto menempelkan jidatnya di atas meja. Sasori dan Sai menatapnya malas. Siang hari di tengah teriknya matahari Naruto mengajak mereka duduk di Outdoor Resto Hotel.

Sasori jengah, mereka hanya duduk untuk mendengar keluhan Naruto. Tidak berguna.

"Apa sebenarnya tujuanmu menyeretku kesini?"Tanya Sasori.

"Aku membutuhkan bantuan"Jawab Naruto lemas.

"Bantuan? Kufikir Naruto Uzumaki seorang Owner dan CEO dari perusahan ternama di Dunia memiliki 1001 cara untuk menyelesaikan masalahnya"Sindir Sai. Naruto mengangkat wajahnya sambil mengerucutkan bibir.

"Aku manusia Sai. Mahluk sosial, membutuhkan bantuan sesama"Naruto berucap sinis.

Sai hanya tersenyum mendengus, "Tapi, maaf, Aku dan dirimu, Kita bukan sesama. Aku lebih unik dan kau adalah pasaran"Ucapnya. Sasori tertawa mendengarnya.

Naruto menghela nafas menatap Sai dan Sasori bergantian.

"Yah, saking uniknya kau pantas mendapat pengakuan dari UNESCO. Lukisan asli Monalisa sangat tidak berharga kalau kau ikut dipajangkan di Museum"Sindir Naruto. Bibir Sai mengerucut.

"Katakan saja apa maumu rubah!"Sasori menggeleng pelan mendengar erangan Sai.

"oke. Kalian tau kan kalau Neji itu mengalami penyakit aneh yang belum ditemukan obatnya?"Ucap Naruto.

'BRAAAAAK!'

Sai menggebrak meja. Membuat Sasori dan Naruto tersentak kaget dan bahkan termundur. Apa maksud Naruto? Neji Sakit? Belum ada obatnya? Jangan-jangan Neji mengidap penyakit mematikan.

"Neji sakit apa? Kenapa dia tidak menceritakannya kepada kita semua? Kenapa dia menyembunyikannya? Apa umur Neji masih panjang? Atau tinggal beberapa bulan lagi? Ayo kita bahagiakan dia sebelum dia berpulang. Oh astaga! Neji yang malang, dia bahkan belum menyampaikan cintanya pada Tenten. Lagipula kita tidak bisa membiarkan dia mati dengan keadaan JONES"Ucap Sai dengan polosnya.

Ucapan Sai memancing raut wajah mono milik Naruto dan Sasori. Neji Sakit? Apa yang di katakan Sai. Neji sehat, dia sangat sehat. Bisa gawat kalau Neji mendengarnya, pemegang sabuk Hitam kuadrat itu pasti akan menantang duel Naruto yang difikirnya menyebarkan fitnah. Dan kemungkinan yang bisa saja terjadi Neji tidak akan memberikan restunya. Hancurlah rencananya.

"Siapa yang sakit Sai?"Tanya Naruto bingung.

"Tentu saja Neji, kau yang memberitahu tadi. Oh astaga Naruto!"Sai membalas tatapan bingung Naruto.

"Oh, Sai! Maksud Naruto adalah Penyakit Siscon Neji. Kau taukan dalam kasus ini Polos yang kau miliki malah cenderung ke arah bodoh"Sindir Sasori. Sai merutuki pikiran buruknya.

"Aku tersakiti dengan ucapanmu Sasori. Minta maaf cepat!"Serunya dengan teriakan pilu. Naruto menggeleng. Sai terlalu dramatis.

"Aku bingung kenapa Shi Co (nama perusahaan Sai). Masih berdiri dan mengalami perkembangan pesat sekarang"Sasori memandang Sai meremehkan. Sai merasa terhina mendengar ucapan kasar Sasori.

"Lelaki brengsek, Tak bertanggung jawab!"Ucap Sai dengan nada tajam. Mata Sasori membulat.

"Oh ayolah, haruskah ada drama Temari dan Tenten di sini? Aku membutuhkan bantuan kalian"Keluh Naruto. Yah akhirnya setelah sekian lama menunggu Naruto telah mengetahui kisah drama korea di antara teman-temannya. Setelah Hinata dengan berbaik hati menceritakannya.

"Aku masih belum memaafkanmu. Bersikaplah gentleman seperti Neji, mungkin aku akan memaafkanmu. Aku butuh bukti kau minta maaf setulus Hatimu"Ucap Sai penuh penekanan. Dan untuk pertama kalinya Sasori bergeridik memikirkan Sai yang kemungkinan mengalami orientasi seksual.

Naruto juga bergeridik mendengar pernyataan Sai. Tapi dia mengabaikannya.

"Aku membutuhkan nasehat dari kalian para pengidap Siscon untuk masalahku dengan Neji dan Hinata. Ada 1002 cara di kepalaku. Namun, yang kurasa tak ada satupun yang ku anggap akan benar di mata Neji-nii sebagai pengidap Siscon"Akhirnya Naruto mengutarakan maksud sebenarnya.

Sasori mengangguk mengerti, Sai memberenggut.

"Aku tak mempunyai masalah seperti itu. Aku tidak posesif pada siapapun. Jadi, jangan mengharapkan bantuan dariku. Tanya saja pada beruang merah"Ejek Sai. Dan Sasori menatap horor Sai. Beruang merah? Apa Eropa membuat kepribadian Sai berubah? Serius, setiap perkataan yang Sai lontarkan kali ini membawa dampak meremang pada seluruh tubuh Sasori.

"Sai, kau terdengar seperti gadis remaja penuh hormon yang sedang ngambek dengan Kekasihnya"Tegur Naruto malas.

Sai memutar matanya. Oh astaga! Sasori merasa Dirinya Normal dan dia dapat membuktikan itu. Tapi, tidak sekarang. Tidak di saat sepupu merah mudanya masih terancam bersama Sasuke Uchiha.

"Aku mempunyai ide sebagai gadis remaja penuh hormon"Ucapan Sai berhasil menohok Sasori.

Dengan sepersekian detik, Sasori bangkit dari kursinya menatap Sai tak percaya. Sai menatapnya namun hanya sebentar lalu dia membuang wajahnya dengan bernada persis seperti anak kecil yang ngambek. Naruto juga melongo tak percaya, Sai terbentur di mana? Dia seperti remaja sedang PMS.

"Oke Naruto. Aku tidak bisa menemanimu. Aku ada urusan dengan Temari"Sasori menatap Naruto memelas. Naruto menggeleng. Sasori satu-satunya narasumber, karena mengidap penyakit yang sama seperti Neji.

"Tidak Sasori, Aku membutuhkan bantuanmu"Naruto berusaha memilukan suaranya. Sasori melototkan matanya ke Naruto. Naruto menyerit bingung. Sasori melirik Sai sekilas. Naruto menghela nafas mengangguk.

"Sai, ada apa denganmu?"Tanya Naruto pelan.

"Sasori berkata kasar denganku!"Jawabnya ketus dan merajuk. Oh astaga!

"Minta maaf Sasori"Ujar Naruto sambil memangku wajahnya di tangannya. Sasori membulatkan matanya sambil menggeleng cepat. Dia seperti yang sepenuhnya yang bersalah di sini. Hell! Sebelumnya tidak ada yang salah jika dirinya mengejek Sai.

"Cepat!"Paksa Naruto. Wajah Sasori memelas memohon pada Naruto. Naruto membalas dengan wajah lebih memelas yang membuat Sasori jijik sendiri.

"Aku minta maaf"Ucap Sasori cepat.

Sai menatap Sasori tajam.

"Please"Ucap Sasori pelan. Sai mengangkat alisnya satu.

"Pleaseee.."Ucap Sasori lagi, Sai menghela nafas.

"Maaf di terima"Ucap Sai tersenyum, senyuman yang sangat manis. Naruto dan Sasori membuang pandang satu sama lain menyerit jijik. Sasori menarik nafas sambil menutup matanya berusaha menahan debaran aneh (menakutkan) di jantungnya. Naruto menarik paksa Sasori duduk di tempatnya kembali.

"Jadi, bagaimana denganku?"Tanya Naruto.

Sasori menatap Naruto memelas.

"Kau tau. Penyebab seseorang mengidap Siscomp atau Siscon adalah mereka Takut orang yang selama ini mereka lindungi akan di sakiti oleh orang yang tak bertanggung jawab"Ujar Sasori. Naruto mengangguk mengerti.

"Sasori, tadi aku tak berniat menakutimu. Kau tahu aku hanya penasaran. Ku fikir kau mempunyai penyimpangan karena selama ini kau tidak terlihat dekat dengan perempuan manapun kecuali Temari-san dan Sakura-chan. Aku hanya mengujimu. Maafkan aku"Ucap Sai menyesal. Sasori menghembuskan nafas, setidaknya Ketegangan antara dia dan Sai sudah hilang. Sasori tersenyum mengangguk. namun, pikirannya melayang ke acara semalam. Seorang wanita cantik yang bermain piano di acara Ino. Perempuan yang mengiringi nyanyian haru (dalam artian buruk) Naruto semalam. Perempuan yang sudah di carinya 15 tahun ini. Cinta buta pertamanya. Maksud buta disini benar buta. Ia tidak mengetahui siapa perempuan yang pandai bermain piano dan bersuara merdu yang 15 tahun lalu telah membuat dirinya jatuh hati pada saat mendengar suara dan permainan pianonya.

Sasori menyadari ketika mendengar perempuan itu membantu pelan Naruto bernyanyi lagu romantis itu. Sasori bisa mengetahuinya dari suara lembut dari perempuan itu. Suara yabg selama 15 tahun masih teringat jelas di dalam pikirannya.

"Sasori! Jadi apa rencananya!"Seru Naruto tak sabaran. Sasori masih tenggelam dalam pikiran semalam namun mendengar jelas ucapan Naruto yang di abaikannya.

Naruto menggeram. Sai tersenyum, "Apakah aku harus mengecup pipi atau bibirnya?"Tawar Sai polos dan seketika Sasori menatap Tajam Naruto.

"Beritahu semua rencana dan buktikan seberapa besar kau rela berkorban demi dia"Ujar Sasori cepat. Naruto mengangguk tegas.

Sai tersenyum, Well caranya berhasil bukan?

"Tapi, Bagaimana caranya?"Tanya Naruto bingung. Sai dan Sasori ikut berfikir.

"Sasori, Jika Sasuke ingin menikahi Sakura, Apa yang akan kau suruh dia lakukan?"Tanya Sai, raut wajah Sasori menunjukkan ketidaksukaannya dengan pertanyaan tersebut.

"Tcih! Tentu saja aku akan menyuruhnya beradu senapan denganku. Paman Kizashi pasti mengizinkan hal itu"Jawabnya Sarkastik. Sai tersenyum. Naruto memandang Horor.

"Jadi Naruto, Kau harus menantang Neji berduel"Ucap Sai dengan mata berbinar. Naruto mengerutkan keningnya.

Sasori tersenyum, "Tentu saja. Kau harus mengalahkan Neji dalam hal Karate untuk membuktikan cintamu pada Hinata"Seru Sasori. Mata Naruto membulat. Sai tersenyum lebar.

GLEK!

"Menantang Neji berduel? Sial! Kalian Gila?! Dia pemegang sabuk hitam di sekolah dulu!"Wajah Naruto pucat pasi.


Ini adalah malam terakhir mereka di Paris. Besok pagi mereka akan segera berangkat ke Santorini, dan untuk malam terakhir mereka Naruto telah menyiapkan segalanya. Mereka akan makan malam di resto Alain Ducasse au Plaza Athénée . Meja panjang telah disediakan untuk mereka. Bahkan ruangan ini sudah di booking Naruto khusus untuk mereka.

Semuanya ada di sana. Yah semuanya. Sasuke, Sakura, Hinata, Naruto, Neji, Shikamaru, Sasori, Sai, Tenten, Temari, Karin, Suigetsu, Kakashi, Ino bahkan Gara dan Matsuri. Mereka duduk bersusun di meja persegipanjang seperti meja makan Kerajaan.

Hinata, Naruto, Garaa, Matsuri, Tenten, Temari, Suigetsu, duduk berjejer yang berhadapan dengan Sasuke, Sakura, Ino, Sasori, Karin, Shikamaru, Kakashi. Sedangkan Neji dan Sai duduk di Kursi utama.

Sambil menyantap makan malam, mereka sesekali berceloteh. Malam ini Naruto akan memenuhi syarat dari Neji, yaitu membuktikan cintanya pada Hinata. Walau beberapa dari mereka berceloteh untuk mencairkan suasana namun kesan tegang masih terasa oleh mereka.

Mungkin karena malam ini Naruto lebih pendiam dan tak banyak bicara seperti biasanya. Ia gugup di pandang Neji yang hanya terpisah oleh Hinata.

Atau

Mungkin, kehadiran sosok Garaa dan Matsuri yang di undang oleh Naruto yang membawa dapak tegang oleh Sasuke, Ino dan Matsuri.

"Ini makan malam terakhir kita di Paris"Ucap Naruto sambil tersenyum yang terlihat dipaksakan. Semuanya menatap Naruto.

"Aku ingin berterimakasih kepada kalian semua yang telah bersedia untuk ikut berlibur denganku. Walau awalnya tak sesuai rencana namun, malam ini kita berkumpul bersama sesuai rencana. Terimakasih juga kepada Garaa dan Matsuri yang bersedia hadir malam ini. Aku ingin kalian menikmati Hari terakhir kita di Paris. Besok pagi, kita akan segera berangkat menuju Yunani"Ucap Naruto.

"Aku dan Garaa akan menyusul, kami punya beberapa keperluan yang harus dilakukan terlebih dahulu"Ucap Matsuri sambil menggandeng mesra Garaa.

"Aku, tidak bisa ikut. Maaf, mungkin ini salah satu kebahagian buat kalian semua. Besok aku dan Suietsu akan kembali ke Konoha. Kami juga harus menyelesaikan urusan kami. Aku ingin meminta maaf pada kalian semua atas tindakan yang selama ini kuperbuat. Aku menyesal"Mata Karin berkaca. Semua yang pernah menjelekkan Karin merasa bersalah.

"Aku akan merindukanmu"Ucap Sasuke. Sontak saja membuat mereka semua kaget. Suigetsu menatap tajam Sasuke dan Sakura menyeritkan keningnya menatap Sasuke.

"Terimakasih Sasuke. Aku juga akan merindukanmu"Ucap Karin sambil tersenyum manis. "Oh, Sakura. Ku harap kau tidak cemburu. Aku tidak ingin menghancurkan hubunganmu dengan Sasuke-kun sungguh. Hanya saja kau tahu, Aku terlalu mengidolakan dan terobsesi padanya"Ucap Karin menjelaskan.

'Uhuk!'Sasori memukul dadanya pelan.

Sakura menatap Horor Sasuke di sampingnya yang tersenyum tanpa dosa sambil menaikkan bahu.

"Bagus sekali"Ucap Sasori sebelum meneguk Air putihnya.

"Karin-chan, Aku akan menghubungimu nanti"Hinata tersenyum menatap Karin. Karin mengangguk pelan.

"So, Naruto. Kau akan segera menikahi Hinata, bagaimana dengan restuku? Kau ingin aku berteriak tidak setuju di hadapan pendeta?"Tanya Neji. Semua orang menatap Naruto menunggu jawaban dari pria berambut duren itu. Naruto menggeleng cepat lalu menatap Sai dan Sasori. Mereka berdua hanya mengangguk pelan.

Nafas Naruto seakan tercekat, "Ya"Jawabnya

Neji mengerutkan keningnya tak mengerti, begitupun dengan yang lainnya.

"Aku akan menantangmu berduel"Ucapnya pelan nyaris terdengar seperti gumaman. Wajah Hinata pucat seketika, Garaa yang mendengarnya memandang tak percaya Naruto. Yang lain tak mendengarnya memincingkan pendengaran mereka dan saling bertatap penasaran.

Sasori dan Sai menepuk jidatnya. Baru berkata akan menantang duel saja nyali Naruto menciut. Bagaimana kalau nanti saat berduel?

"Apa?"tanya Neji agak keras.

BRAKKK!

"NARUTO AKAN MENANTANGMU DUEL NEJI!"Seru Sai berdiri sambil memukul meja membuat semua orang tersentak kaget dan menatap Sai. Mata Sasori dan Naruto membulat melihat Sai yang melakukannya tanpa takut sama sekali. Jantung Naruto berdebar tak karuan.

"Awww.. Romantisnyaa..."Ucap Ino menatap Naruto dengan tatapan memuja, membuat yang lain menatap Ino tak mengerti.

Sakura menyikut Ino di sebelahnya. Ino memandang tak senang pada Sakura. Sakura menggeleng pelan dan Ino menyadari maksudnya.

"Maafkan aku"Ucapnya.

Neji yang awalnya kaget kini menyinggungkan senyum sinisnya.

"Berduel denganku dan Sasuke. Itulah pilihanmu"Ucapnya tenang. Sasuke mengerutkan kening ketika namanya di sebut.

"Hn?"

Nafas Naruto tercekik. Neji si Pemegang Sabuk hitam kudrat ditambah Sasuke yang merupakan ahli jago bela diri Taekwondo dan Muay Thai. Hancur sudah Naruto.

Hinata menggeleng keras. "Tidak!"serunya keras. Neji mengerutkan keningnya begitupun dengan yang lain. Garaa menatap Hinata tak percaya, Matsuri kembali santai menikmati makanannya tanpa perduli adegan Drama di Sekitarnya.

"Jangan Naruto-kun, aku tidak akan membiarkannya!"Seru Hinata tegas. Garaa menatap tak suka pada Naruto. Neji memandang sinis Naruto yang berwajah pucat, Sai dan Sasori memandang khawatir, Sasuke menatap datar Garaa, dan Sakura serta yang lainnya menatap prihatin. Kecuali Matsuri yang sepertinya sangat tidak tertarik.

Sambil tersenyum evil Neji menawarkan pilihannya. "Pilihlah Naruto, bertarung denganku dan Sasuke atau berduel dengan Hinata. Hinata sedikit mempelajari Karate"Ucapnya.

Mata Naruto membulat. Begitupun semua orang yang berada di sana. Mereka tidak percaya pada pilihan yang baru saja diberikan oleh Neji. Semuanya menjebak.

Sasuke menahan tangan Sakura ketika merasa Sakura hendak berdiri dan protes.

"Kau harus ikuti cara mainnya"Bisik Sasuke pelan tepat di depan wajah Sakura.

"JAUHKAN WAJAHMU BRENGSEK!"Seru Sasori di sebelah Ino. Wajah Sakura memerah. Ino menatap Sasori tak suka di sampingnya. Sasuke menjauhkan wajahnya dari Sakura dengan senyum menyeringai. Sakura membuang wajahnya ke arah Ino.

"Satu"Ucap Neji.

"Dua, putuskanlah. Sebelum aku yang memilih"Lanjut Neji. Naruto menatap Sasori. Sasori menggeleng frustasi. Begitupun Sai.

"Tiga"Ucap Neji.

"Aaaku memi..."

"Waktumu habis Naruto"Potong Neji. Naruto tersentak kaget. "Aku yang menentukan sekarang, Kau harus berduel dengan Hinata. Itulah keputusanku"Ucap Neji Final dengan smirk evil andalannya.

Semua orang menatap Neji dengan tatapan tak percaya, kecuali Sasuke. Garaa menatap nyalang Neji, kening Matsuri menyerit menatap Garaa sedangkan Ino dan Sasuke menatap sinis Garaa dan Matsuri.


Sakura membasuh wajahnya di wastafel lalu menatap pantulan wajahnya di cermin besar. Sesudah memastikan make-up Naturalnya masih sempurna Sakura melangkah keluar dari Toilet.

Betapa kagetnya Ia melihat Garaa berdiri di depan pintu Toilet seakan memang menunggunya.

"Maaf, permisi"Sakura berjalan melewati Garaa. Tapi Garaa menghela nafas pelan dan menahan lengan Sakura.

"Ku tebak, dari sikapmu yang menghindariku malam ini Sasuke ataupun Ino sudah menceritakan sebenarnya?"

Sakura berbalik menatap Garaa. Dengan pelan Sakura berusaha melepaskan cengkeraman Garaa di lengannya.

"Ya. Aku sudah tahu"Sakura berdiri di hadapan Garaa.

Garaa menutup matanya sejenak sebelum menatap wajah Sakura kembali.

"Bukankah tidak adil mendengar cerita hanya dari satu sisi? Maukah kau mendengar cerita dari sisiku? Setelah itu baru kau putuskan, mana yang benar dan yang salah. Mau kah kau?"Tanya Garaa. Kening Sakura menyerit. Cukup lama sebelum Sakura mengangguk pelan. Garaa tersenyum tipis sebelum membuka mulutnya untuk mulai bercerita.


Bersambung


Q : Bagaimana kalau Sasori dan Shion di jadiin Couple?

A : Iya, Cherry juga bermaksud melakukan hal itu. eeiittts. Hahaha..

Q : Update kilat?

A : Pengen Update Kilat kayak dulu T,T . Biar Chapnya pendek gak apa-apakan? yang penting ccepat Update. *Mati deh kalau sampai Chap 50 gak tamat-tamat

mia : Maksih atas review dan semangatnya ^^v Lavya! Jangan pernah bosan untuk nungguin cerita ini ^_-

Special Thanks :

untuk udah yang pada Review, sabar menunggu dan pemberian semangatnya.

maaf Gak bisa tulis satu-satu.

Big Thanks yang udah Favo, Follow, Review, Silent reader, Sepupu kesayangan Cherry (Lemon dan Melon), Teman Cabe Cherry yang berulang tahun kemarin dan Mamy dari Keluarga Refiza. Happy Sweet Seventeen buat kalian berdua. Teman suka duka Cherry. Lavyu All!

Thank You verry much

Cherry Aiko / AA / SKAS / Ai / SK

My Home sweet Bedroom ^o^

Jayapura, 11 Mei 2016