.

.

HOLIDAY

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku, Slight/ NaruHina, ShikaTema, NejiTen, SaIno, SuiKarin, KakaRin, SasoShion

Happy reading ! Don't Like Don't Read! Don't Flame!

.

.

"Awalnya aku hanya ingin mencoba akrab dengan Hinata. Sedari balita, Sasuke, Naruto, Hinata, Matsuri dan Aku, kami bermain bersama. Sesekali sepupu Hinata, Shion atau sepupu Naruto, Ino jika sedang berlibur ikut bermain dengan kami. Aku dekat dengan mereka semua, kecuali Hinata. Dia sangat susah didekati. Jadi, aku berusaha cukup keras untuk berusaha mendekatinya. Aku tahu, Sasuke paling dekat dengan Hinata dan Naruto. Maka dari itu, Sasuke dekat dengan sepupu mereka. Walaupun Sasuke itu orangnya dingin, aku juga tahu alasan mereka bisa sangat dekat adalah Sasuke merupakan orang yang baik"

Sakura memperhatikan Garaa bercerita.

"Saat Sasuke pindah ke Italy, aku merasa itulah kesempatanku mendekati Hinata. Dan hal itu memang berhasil. Tidak ada lagi, obrolan kaku atau tertawa paksaan. Aku sangat senang usahaku berhasil. Lalu, aku ingin seperti Sasuke. Ia selalu melindungi kami semua. Tapi, agak sulit melakukannya karena Aku berbeda sekolah dengan mereka.

Aku mendengar sebuah obrolan, segerombolan gadis di Perpustakaan umum di Kota. Mereka dari sekolah yang sama dengan Hinata. Mereka bilang, mereka tidak menyukai Hinata karena Hinata adalah anak yang lugu, kaku, pemalu, dan tidak eksis.

Alasan mereka selama ini baik dengan Hinata adalah Keluarga dan persahabatan keluarga kami. Keluarga Hinata adalah pemilik Bank swasta yang terkenal. Naruto merupakan anak dari pewaris kekayaan Uzumaki, Matsuri yang merupakan anak dari seorang model terkenal di kelas internasional, Aku dan Si bungsu Uchiha yang memiliki perusahaan paling berpengaruh di dunia dan Konoha.

Aku meminta bantuan Matsuri menanganinya. Aku sama sekali tidak tahu kalau Matsuri mempunyai rasa padaku. Aku kira setelah itu semua baik-baik saja. Aku sering meminta Matsuri mengawasi Hinata untukku. Atau memintanya untuk mengirimkan hadiah kecil untuk Hinata. Semua seperti itu sampai masuk Junior High School, aku berhenti melakukannya. Lalu, aku merasa cemburu memergoki Hinata dengan sengaja menyelinap ke Sekolah pria untuk melihat Naruto.

Aku sadar, aku menyukai Hinata. Maka dari itu sebelum upacara kelulusan JH, aku kembali meminta bantuan Matsuri untuk mempertemukanku dengan Hinata. Ia mati-matian menolak, walau sudah ku paksa.

Selesai Upacara kelulusan, Sasuke memintaku untuk menemuinya di ruang Theatre. Untuk pertama kalinya semenjak dia kembali ke konoha dia ingin berbicara berdua denganku. Saat itu aku baru mengetahuinya. Matsuri menyukaiku. Awalnya aku terkejut, namun kurasa Matsuri hanya terlalu berlebihan. Ia tidak bisa menerimanya saja.

Aku menghindari Matsuri dan berusaha mendekati Hinata sendiri. Hinata menjauhiku, aku menyadarinya. Tapi, aku tidak menyerah begitu saja. Hingga, Sasuke kembali memanggilku ke atap Sekolah. Dia benar-benar marah. Apalagi setelah dirinya menerima telepon. Ia mendorongku, nyaris memukuliku. Aku menyadarinya, Matsuri sudah sangat keterlaluan. Malam harinya Aku menemui Matsuri. Aku memarahinya dan ia berkata menyesal. Ia mengakui kalau ia menyukaiku, ia menggilaiku. Matsuri terobsesi.

Aku memutuskan malam itu juga, untuk pindah ke Korea. Dan esok harinya aku mengetahui kalau Matsuri pindah ke Eropa. Di Korea, aku merasa hidupku tidak tenang. Semua perempuan yang aku coba dekati menjauh, aku tahu itu ulah Matsuri. Ia menyuruh seseorang untuk mengancam mereka.

Aku meminta Matsuri untuk bertemu di Sydney saat liburan musim panas. Di sanalah aku memilih mengorbankan diriku agar Matsuri berhenti melakukan hal yang bodoh. Aku menerima pernyataan cintanya".

"..." Garaa telah mengakhiri ceritanya. Sakura hanya terdiam.

"Bagaimana menurutmu?"Tanya Garaa, Sakura mengangguk pelan.

"Aku mengerti"

"Jadi, menurutmu dalam cerita ini apa peranku? Menjadi pemeran jahatnya?", Garaa menatap sendu sebuah lampu gantung.

Sakura ingin sekali memeluk Garaa yang terlihat rapuh di hadapannya. "Kau tidak jahat Garaa, kau melindungi orang yang kau sayangi", akhirnya Sakura hanya menepuk pelan pundak Garaa.

Garaa mendecih mendengar ucapan Sakura. "Melindungi? Huh!", Garaa menatap Sakura serius. "Kumohon Sakura, aku membutuhkan bantuan mu. Bantu aku untuk menjauhi Matsuri. Kau memiliki banyak pelindung, kau akan baik-baik saja. Aku mau kau berusaha terlihat merebutku dari Matsuri"

Sakura memyeritkan keningnya, ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Garaa. Merebutnya dari Matsuri?

Garaa tersenyum. "Cukup kau bertingkah seperti mengagumiku saja, sebagai balasannya aku berhutang padamu. Kau bisa meminta apapun yang kau mau"

Sakura nampak berfikir, ia mengangguk perahan "Baiklah, aku setuju"

Saat itu juga Sakura merasa lengannya dicengkram dengan sangat kuat dan ditarik seperti diseret. Sakura mencoba menggapai Garaa dan berteriak, namun ketika melihat siapa yang mencengkram erat lengannya dan menariknya menjauhi Garaa, Sakura hanya bisa terdiam. Sasuke.


Keduanya saling bertatapan. Dengan tatapan yang menyiratkan hal yang sama, emosi. Yang kelam emosi karena ego dan yang bercahaya emosi karena kesal.

Sakura mengelus lengannya yang memerah.

"Aku tak mengerti dengan pikiranmu itu, Uchiha!"Seru Sakura.

"Aku yang tak mengerti dengan pikiranmu. Aku sudah pernah mengatakannya Garaa. Tidak. Sebaik. Yang. Kau. Kira", Sasuke berusaha menahan gejolak emosinya.

"Aku mengerti Uchiha. Matsuri pemeran Antagonisnya disini. Garaa termasuk korban. Aku sudah mengetahui ceritanya, Ino mengatakannya begitupun dengan Garaa. Aku mengetahui cerita di dua sisi. Matsuri. Pemeran. Jahatnya"

Sasuke tertawa mendengus mendengarnya. "Kau tidak mengetahui segalanya Sakura. Garaa adalah idiot yang mengerti akan dampak dari perbuatannya. Aku pernah memperingatinya!", Sakura berjengit mundur mendengar teriakan Sasuke yang bergema di ruang kosong itu.

"Terserah Sasuke, kau dengan pikiran dongkol-mu itu telah menghakimi orang yang tak bersalah. Dia mengorbankan semuanya demi melindungi Hinata" Sakura terus berusaha membela Garaa. Karena menurutnya Garaa layak untuk dibantu.

Sasuke ingin sekali tertawa mendengar ucapan Sakura, Melindungi? Omong kosong apa yang sudah di katakan Garaa? Dan bodohnya perempuan pink ini mempercayainya.

"Kau tidak mengerti Sakura, kau tidak akan pernah mengerti. Kau memang sudah mengetahuinya, tapi kau tidak tahu segalanya. Jadi berhentilah bersikap heroik dengan cara idiot yang kalian berdua rencanakan. Kau tidak terlihat jauh berbeda dengannya. Sama-sama idiot".

Saat itu juga jika tidak ada etika sopan santun, Sakura akan langsung menampar wajah Sasuke. Kenapa ia harus memikirkan etika, kalau Sasuke saja menghinanya tepat di depan wajahnya.

"Tuan muda Uchiha yang agung. JAGA PERKATAANMU SHANNAROOO! kau bilang aku idiot? Heeeeeiiii bercerminlah! Kau jangan merasa paling benar karena kau adalah bosnya. Kau yang salah!"

Sasuke mendecih pelan, "You play your stupid game. This time, I'am out, first"

"Siapa yang mengajakmu bermain bajingan? Ini bukan permainan. Aku ingin membantunya. Shannaro!"

Sasuke mendengus, bagaimana caranya mengatakan kalau Sakura sedang bermain dengan api. Sakura bisa terbakar sendiri karena ulahnya dan ini membuatnya err... Prihatin? "Sakura, aku sudah memperingatkanmu. Jadi jangan sampai kau kau membuatku ..." khawatir. Harusnya kata itu yang keluar, namun Sasuke malah berkata "... Repot"

Repot? Sakura geram, apa maksudnya lelaki di hadapannya? Menariknya paksa di sebuah ruangan kecil yang Sakura tebak sebagai tempat penyimpanan bahan makanan kering, hanya untuk memarahinya, menghinanya dan memperingatkannya supaya tidak membuat lelaki itu kerepotan.

"Bajingan terkutuk! Keturunan Lucifer! Kau adalah bajingan paling brengsek yang pernah aku lihat. Tentu saja aku tidak akan membuatmu 'repot' , kau bukan siapa-siapaku. Kau tidak punya tanggung jawabnya. Berhentilah berkata hal yang merendahkanku!", emosi Sakura tak dapat ia tahan lagi, ucapannya keluar begitu saja. Bagai angin berhembus, setiap kata yang diucapkannya seperti memang sudah terangkai sempurna dan mengantri di tenggorokannya.

Sasuke ingin sekali berteriak, mengatakan Sakura adalah tanggung jawabnya. Sakura tanggung jawabnya sejak ia melangkah masuk kedalam gedung kantor kakaknya, sejak ia mengambil resiko menantang Itachi untuk membawa perempuan pink itu demi Hinata, Naruto dan liburan yang seharusnya sangat berharga. Tapi, Sasuke hanya mendengus kesal lalu berbalik meninggalkan Sakura di ruangan itu sendiri. Bagusnya ia membanting pintu dengan keras sebelum menghilang dari pandangan Sakura.


Sai memperhatikan Temari dan Tenten yang sedang berbicara berdua.

"ekhem" Sai mencoba mendapatkan atensi 2 orang perempuan itu, dan berhasil.

"Nona Temari. Namamu Sabaku Temari bukan? Kalau saya tidak salah mengingat" Temari mengangguk membenarkan.

Sai menunjuk Garaa yang duduk diantara Naruto dan Matsuri, "Kau lihat lelaki yang di sana? Berambut merah itu? Namanya Sabaku Garaa. Kalian mempunyai hubungan? Kau tau, Aneh saja kalian berdua memiliki nama keluarga yang serupa. Jika itu hanya kebetulan, itu sangat luar biasa. Sabaku bukanlah nama umum di Jepang", Temari memperhatikan Garaa, matanya menyipit.

"Maaf, Aku sama sekali dengannya. Sabaku adalah nama yang diberikan Ayahku. Ayah dan Ibuku bercerai sejak aku masih umur 4 tahun dan adikku baru berumur 1 tahun. Aku dibesarkan oleh ibuku tanpa bayang-bayang ayahku. Mungkin saja dia salah satu kerabat Ayahku"Jelas Temari. Ini adalah masalah pribadinya. Dan entah mengapa ia tidak keberatan berbagi kisahnya dengan teman-teman bosnya.

Sai mengangguk mengerti, Suigetsu yang duduk diantara mereka tadinya hanya duduk mendengarkan namun sekarang ia memilih untuk ikut masuk dalam obrolan.

"Sa Enterprise adalah sebuah agency bergengsi di korea selatan. Sudah cukup banyak artis multitalenta diorbitkan dari sana. Sabaku adalah keluarga pemilik agency itu"

"Musuh UE, Sui?"Tanya Sai kalem. Suigetsu mengangguk.

"Presedir Ucorp.." Suigetsu memutar matanya, "Tidak mau menjalin kerja sama dengan mereka. Walaupun proposal mereka adalah yang paling menarik"

"Maaf,"Temari menatap Suigetsu asing. "Apa aku belum memperkenalkan diri? Suigetsu, Sekretaris pribadi Uchiha Itachi"

Tenten mengangguk. Ia mengenal Uchiha Itachi, mereka menjalin kerja sama dengan perusahaan Shikamaru. Tapi tetap saja, wajah Suigetsu terasa asing.

"Uchiha Itachi, si sulung Uchiha. Aku pernah bertemu dengannya, tapi yang menjadi sekretaris pribadinya bukanlah anda"

"Umm.. Sebenarnya. Aku mengerjakan hal-hal yang memang bersifat sangat pribadi. Dan jarang untuk melakukan hal kerja"Suigetsu tersenyum menjawabnya.

"Sayang sekali Suigetsu. Kau kurang terkenal"Ucapan Sai menohok Suigetsu. Ini terdengar seperti hinaan, ejekan, sindiran atau apapun yang masih sekeluarga dengan maksud itu.

"Aku tidak suka menjadi Tenar"Suigetsu berhasil menjawabnya dengan tenang.

"PFT!"Kakashi menahan tawanya. Ia juga mendengar obrolan mereka, tapi lebih memilih diam dan tidak ikut dalam pembicaraan.

Suigetsu berwajah masam melihat Kakashi, laki-laki bermasker itu tidak pernah berhenti untuk merendahkanya.

"Aku memang tidak cukup terkenal. Tapi aku mengenal beberapa orang terkenal dan penting. Dan aku cukup terkenal jika mencari informasi. Mereka bisa membantuku memberikan informasi yang ku butuhkan dengan akurat"Suigetsu berusaha membanggakan dirinya.

Sai mendecih pelan mendengarnya, "Jangan sombong Sui, kau tidak berteman dengan Osama bin Laden"

Suigetsu mengerutkan dahinya, "Dia sudah mati Sai, lagipula untuk apa aku harus berteman dengan seorang terroris? Apa kau sudah kehilangan akal?"

Sai menyeringai, "Itu masalahmu, kudengar Osama hidup kembali. Kau akan terkenal jika berteman dengan Osama. Amerika akan mengenangmu, namamu akan menjadi sebuah jalan disana, patung wajahmu akan dibuat dan diletakkan di museum. Karena kau berhasil memberitahu mereka tempat-tempat mana yang akan di bom. Mereka akan membuatkan lagu untukmu"

Suigetsu menggeleng pelan, Temari dan Tenten diam-diam tertawa kecil mendengar penjelasan Sai.

"Jangan bercanda Sai, daripada namaku akan dijadikan sebuah jalan, membuatkan patung ataupun lagu, mereka pasti akan lebih memilih mengurungku dan mengintrogasiku di ruang FBI. Daripada aku yang harus berteman dengannya, lebih baik kau saja"Usul Suigetsu.

Sai mengangkat bahunya pelan, "Aku sudah berteman dengan Obama, aku tidak butuh Osama"

"Cukup Boy. Katakan Sui, Berapa lama kau menemukan Sasuke waktu hilang kemarin?"Tanya Kakashi yang kembali menyindirnya. Untunglah Kakashi itu umurnya lebih tua darinya.

Suigetsu menghela nafasnya pelan, "Yang itu gagal, aku akui. Dia mengancam semua orang yang mengetahui dimana keberadaanya. Aku bisa apa. Lupakan saja, lagipula aku hanya ingin memberi bantuan untuk nona Temari"

Temari mengerutkan keningnya, "Untukku? Buat apa?"

"Mungkin saja, kau benar-benar mempunyai hubungan dengan keluarga Sabaku. Aku akan membantumu"Suigetsu terlihat serius.

Temari mengangkat gelas winenya dan menyesapnya sedikit, "Tidak, Terimakasih"

'TIIIIIT'

Kakashi mengeluarkan Handphone miliknya.

"Suigetsu, Tuan Sasuke memanggilku. Sepertinya akan lama. Kau dengan Karin langsung saja ke Airport. Maaf tidak bisa mengantar kalian berdua. Sampai jumpa"Kakashi berdiri merapikan kemejanya dan memakai kembali jasnya yang tadi ia lepaskan.

"Baiklah, Sampai jumpa"Jawab Suigetsu.

"Kalian mau kemana?"Tanya Sai penasaran. Kakashi tersenyum.

"Tuan Sasuke tidak menulisnya dia hanya bilang kalau dia sudah menunggu di luar. That's it, Saya permisi dulu sebentar"Kakashi berjalan meninggalkan meja makan.

Sai menatap Suigetsu, "Kau yakin isi pesannya seperti itu?"Tanyanya. Suigetsu menggeleng pelan, "Siapa yang tahu? Aku jarang saling mengirimi text ataupun email dengan Sasuke. Lagipula Aku tidak punya nomornya. Dia menggunakan nomor pribadi, dia yang akan menelponku, kalau butuh"

Suigetsu menatap gelas anggurnya, "Tapi dari raut wajah Kakashi sepertinya isi textnya bukan seperti itu"

"Aku penasaran… "Ucap Sai, "Bagaimana kau mengetahui raut wajah Kakashi? Dia menggunakan masker. Dia bahkan tidak makan dan minum sedari tadi" Sai menunjuk piring makanan Kakashi yang tidak tersentuh.

Kakashi membuka pintu meninggalkan ruang makan, Sakura berjalan dari arah yang berlawanan.

"Nona Sakura"Tegurnya singkat saat berpapasan dengan Sakura di pintu. Sakura tersenyum membalasnya.


Acara makan malam kali ini memang terlihat seperti mereka sedang asik sendiri. Tidak ada obrolan besar yang mereka bahas bersama, semuanya terlihat masing-masing. Contohnya saja Neji, Ino, Hinata dan Karin yang berbincang mengenai hal yang berpindah-pindah (Topiknya berubah-ubah), Naruto yang berusaha untuk tidak memuntahkan makanannya karena gugup, Garaa, Matsuri dan Shikamaru yang terlihat lebih tertarik sibuk dengan gadget mereka masing-masing, Temari dan Tenten dengan obrolan mereka, serta Sai dan Suigetsu yang sedikit berdebat kecil. Sasori sedari tadi duduk di pojok ruangan karena sedang menerima telepon.

"Jangan tegang Naruto"Tegur Neji yang memperhatikan Naruto yang duduk disebelah kiri Hinata. Naruto tersenyum kecil, dan itu terlihat sangat dipaksakan. Matanya menyipit dan bibirnya melengkung dengan cara yang aneh.

"Niisan, Apa harus Naruto-kun melawanku?", Hinata berusaha membujuk Neji, walau ia tau kemungkinannya sangat kecil. Tapi hal itu sangat patut untuk dicoba.

Neji tersenyum sangat manis, "Hanya itu caranya Hinata, aku akan melihat kesungguhan Naruto. Aku juga sudah mendiskusikan hal ini dengan Sasuke"

"Teme?", "Sasuke-kun?" Hinata dan Naruto sama-sama terkejut mendengar nama Sasuke disebut, Apa yang dibicarakan Neji dan Sasuke? Kenapa hal ini bisa terjadi.

Neji mengangguk, ia meminum air putihnya "Aku sedikit berbicara sedikit dengannya". Dan Naruto menyesali telah berdiskusi dengan orang-orang yang salah.

"Dimana Sasuke?"Tanya Naruto, memperhatikan kursi disamping Neji yang kosong sedari tadi,

"Dimana Sakura-chan?"Tanya Hinata, ia juga memperhatikan kursi disamping Ino yang juga ikut kosong. Ino yang sedang menikmati salad sayurnya, hanya menaikkan bahunya tanda tak tahu.

"Maaf"Sakura kembali duduk di kursinya. Ia sempat melirik Garaa yang memperhatikannya.

"Dimana Sasuke, Sakura?"Tanya Naruto bingung, Ino menyudahi acara makannya. Sakura menggeleng pelan. Sasuke sudah meninggalkannya duluan, "Aku tidak tau"

"Sasuke-kun tadi bilang ingin menyusulmu, Sakura-chan. Habisnya kau lama sekali"Ucap Hinata. Ino mengangguk, "Si Kakakmu itu hampir gila dan melemparkannya piring karena perkataan Sasuke. Untung saja, ponselnya berbunyi dan dia segera pergi ke pojok dan sedari tadi belum selesai. Telepon sangat penting mungkin"Ino membenarkan Ucapan Hinata.

"Aku sama sekali tidak melihatnya"Ucap Sakura bohong.

Sasori datang kembali dan duduk ditempatnya.

"Saki, lama sekali. Apa ada yang salah?"Tanya Sasori khawatir.

Sakura menggeleng pelan lalu tersenyum, "Aku susah mencari Toiletnya, Maaf"Sakura kembali berbohong.


"Guys, kami berdua harus pamit duluan. Kami harus menghadiri acara amal"Matsuri berusaha menarik perhatian semua orang.

Ino mengangguk, "Acara amal WWF. Ku dengar mereka banyak melelang foto kali ini", Matsuri mengangguk tersenyum.

"Itulah mengapa aku memesan kursi disana"

"Kau menyukai Fotografi. Aku tahu"Ino tersenyum

"Ya sudah, Sayonara minna! Konbanwa"Matsuri sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Ja nee Sakura-chan"Lambai Garaa.

"Ja nee Garaa-kun senang bisa berjumpa lagi denganmu. Sampai jumpa"Sakura mengedipkan matanya. Garaa membalasnya. Sepertinya mereka memainkan peran mereka dengan baik karena Matsuri berjalan tanpa menunggu Garaa.

Ino menyikut Sakura, "Sakura, Kau menyadarinya kan?"

Sakura mengangguk pelan, "Tentu saja, Aku menyadarinya"


Sasuke berjalan di depan dan Kakashi di belakang. Sasuke mendongkak memandangi langit yang nampaknya sedang bersahabat, cerah dengan sedikit awan. Bulan tampak terlihat terang menambah kesan keromantisan gemerlap kota Paris.

"Aku menyukai Kota ini"Sasuke tersenyum kecil. Sasuke menyamakan langkahnya dengan Kakashi.

Kakashi mengangguk, "Kota ini indah, tidak ada alasan untuk berkata tidak" Sasuke menyadari mereka berjalan terlalu jauh, ini bukan kali pertama, kedua, kelima atau kesepuluh Sasuke berkunjung ke Paris.

"Bagaimana menurutmu jika aku memindahkan pusat Ucorp kemari?"Tanya Sasuke. Kakashi tersenyum walau tersembunyi di balik maskernya.

"The next Mrs.Uchiha adalah orang asing", jawaban Kakashi membuat Sasuke menahan tawanya. Ini yang disukai Sasuke dari Kakashi, jika mereka sedang santai maka mereka akan santai dan jika mereka sedang serius Kakashi akan sangat profesional. Usia Sasuke dan Kakashi memang terpaut cukup jauh, 10 tahun. Tapi Kakashi bisa menjadi teman disaat senggangnya dan sebagai orang dewasa saat dia membutuhkannya.

"Ku yakin Tou-san tidak akan setuju, dia tidak suka peranakan. Dia suka yang murni. Apalagi Madre, aku yakin dia akan berteriak di hadapan pendeta", Sasuke tersenyum kecil melihat seorang perempuan prancis cantik dengan terang-terangan sedang mencoba menggodanya.

Sasuke memperlambat langkahnya, membiarkan Kakashi sedikit di depannya. Tubuh Kakashi termundur keras hampir saja menjatuhi Sasuke, jika saja Kakashi tidak cepat menyeimbangkan tubuhnya dan memeluk pinggang orang yang menabraknya.

"Oh.. I'am Sorry"Ucap seorang perempuan yang menabrak keras tubuh Kakashi dari depan. Sasuke mendengar aksen perempuan itu. Aksen Inggrisnya cukup sempurna.

Kakashi mengangguk pelan melihat perempuan itu.

"Rin", "Kakashi" Ucap mereka bersamaan.

Mereka berdua saling bertatapan terkejut, "Kau seharusnya di London? Apa yang kau lakukan di sini?"Tanya Kakashi heran. Perempuan itu tertawa canggung, Sasuke melihatnya. Ada yang salah.

"Well, Holiday"Rin menaikan kedua bahunya.

"Kau mengenalnya Kakashi?"Tanya Sasuke. Kakashi menangguk pelan.

"Yah. Dia seorang teman lama"Jawab Kakashi. Rin tertawa terbahak-bahak. Sasuke dan Kakashi menyerit bingung, "Oh God Save The Queen! Friendzone, Miris bukan Handsome boy?"Rin tampak tidak canggung lagi. Rin menyeka sudut matanya yang berair.

Kakashi hanya diam menatap Rin. Sasuke menyeritkan keningnya tak mengerti, mana yang benar? Rin atau Kakashi.

"Oh"

"Senang berjumpa lagi denganmu Kakashi. Kau juga Handsome boy, See you next time. Bye"Rin berlalu dan mengedipkan sebelah matanya pada Sasuke. Sasuke memperhatikan Rin dengan mata ekornya, Next time?

Kakashi dan Sasuke melanjutkan acara jalan malam mereka, tanpa menoleh sedikitpun melihat Rin.

"Jadi"Ucap Sasuke

"Jadi?"Kakashi bingung.

"Friendzone"Ucapan Sasuke membuat Kakashi tersedak ludahnya sendiri, atau udara yang di hirupnya. Kakashi terbatuk kecil.

"Old Friend"Tegas Kakashi.

"Apa pekerjaannya?"Tanya Sasuke yang terlihat tertarik membicarakan Rin.

Kakashi mengangkat bahunya kecil, "Dia seorang perawat di London. Itu yang ku tahu"

Sasuke mengangguk, "Aksen Inggris-nya hampir sempurna", Sasuke berhenti membuat Kakashi juga menghentikan langkahnya. Sasuke menatap sebuah minimarket di depannya.

"Mereka punya mesin pembuat kopi. Aku ingin meminum kopi, tapi dompetku tertinggal di hotel. Bisa pinjam punyamu?"Tanya Sasuke. Kakashi menyerit bingung, tidak biasanya. Sasuke tidak pernah meminum kopi dari mesin kopi di minimarket. Biasanya Starbucks-lah pilihannya jika meminum kopi di luar. Menghiraukannya Kakashi segera mengambil dompetnya.

Nihil.

Tidak ada.

Kakashi meraba saku celananya, depan dan belakang. Saku jasnya luar dan dalam. Tidak ada. Hanya ada ponselnya dan buku catatan kecilnya. Seingatnya dompet selalu ia taruh di Saku celana belakang sebelah kiri.

"Sepertinya punyaku juga tertinggal"Kakashi menyerah mencari dompetnya.

"Aku melihatnya tadi di saku celana belakang kirimu. Well, tadinya sebelum 'Teman lama'mu mengambilnya sewaktu menabrakmu. Sepertinya dia mengambil dengan ... Sengaja" Sasuke kembali berjalan meninggalkan Kakashi di belakang.

"Godness Rin"Desis Kakashi menahan malu dan kekesalannya. Ia mengejar langkahnya yang tertinggal jauh dari Sasuke.

"Perawat yang ... Unik"Sasuke melirik Kakashi yang berjalan di sampingnya.

Kakashi menghela nafas pelan, "Well, Rin dia memang terkadang berlebihan dalam bercanda. Dia mempunyai bakat mencuri yang sangat ..."

"Menakjubkan?"Potong Sasuke. "... Profesional"Kakashi menyerit mendengar ucapan Sasuke.

"Ah yah, Profesional. Lebih terdengar High Class"Sasuke berusaha menahan intonasi suaranya agar terdengar tetap datar dan terlihat tidak tertarik dengan Rin. Tapi, sudah 13 tahun Kakashi bersama Sasuke dan itu cukup lama untuk mengenal kepribadian tuannya.

Kakashi menghela nafas pelan, "Tuan Sasuke, jika anda mengira kami mempunyai atau pernah mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar 'Teman' , jawabannya adalah tidak"Kakashi berusaha memberikan penjelasan.

Sasuke tersenyum menyeringai, "Aku tidak ingin tahu. Lagipula jika kalian berdua memang punya atau pernah punya itu bukan urusanku. Tak masalah juga buatku. Bukankah itu hal normal?"Sasuke sangat tahu bagaimana cara memancing informasi tanpa diketahui orang itu. Sama seperti Itachi, Well Saudara tak jauh berbeda.

Kakashi tahu, tuannya bukan lagi anak kecil dan mereka berdua adalah pria dewasa. Dia tahu jika menambah percakapan ini hanya dua hal yang akan terjadi. Bosnya adalah orang yang cukup jenius. Ucapan kecil dapat berarti informasi tanpa di ketahui orang itu.

"Yah, Normal"Kakashi menjawab ambigu

Sasuke menghentikan langkahnya dan berdiri dipinggir jalan, "Well, sepertinya ada yang harus kita urus terlebih dahulu. Untung saja, dompetku tidak jadi tertinggal. Panggilkan taksinya"

Kakasih mengangkat tangannya saat sebuah taksi terlihat mendekati mereka. Taksi itu berhenti dan mereka berdua segera memasukinya. Sepertinya jalan-jalan mereka kali ini memiliki tujuan daripada yang awal.


Makan malam mereka sudah selesai, makanan penutup-pun sudah selesai dihidangkan dan Naruto berupaya untuk menjadi seperti biasanya.

"Apa Sasuke belum juga kembali?"Pertanyaan itu pelak mengundang perhatian mereka semua. Sasuke tidak kembali sejak hidangan utama baru beberapa menit dihidangkan dan Kakashi tidak kembali sejak Sasuke mengiriminya text.

"Palingan hilang lagi, dan dia akan kembali dengan sendirinya"Jawab Sasori.

"Kau yakin tak melihatnya Sakura?"Tanya Ino untuk kedua kalinya, Sakura memutar matanya dan menggeleng pelan.

"Aku sangat yakin tidak melihatnya"Sakura memuji kemampuan beraktingnya.

Ino menatap Sakura curiga, ia memincingkan matanya menatap Sakura, tapi Sakura berhasil mengendalikan kegugupannya, tidak mungkin ia berkata 'Tadi aku bersama Sasuke, ia mengataiku dan memarahiku karena tidak setuju tentang rencanaku dengan Garaa'itu tindakan terbodoh dan terakhir yang akan dilakukan Sakura.

"..."

"Sakura?"Ino berusaha membujuk Sakura, tapi Sakura memandang Ino tegas "Sama sekali tidak", dan hal itu membuat Ino curiga.

"Sasuke-kun menghilang, dimana Kakashi-san?"Tanya Hinata, mereka semua saling menatap dan menangkat bahu, tak tau.

"Kakashi tadi pamit, dia dipanggil Sasuke"Ucap Suigetsu.

"'Aku tunggu diluar' kata Kakashi begitu isi text dari Sasuke"Sai memberitahu mereka. Suigetsu mengangguk, "Hmmm... benar"

"Kalian tolong tanya penjaga Valet? Coba tanyakan apa masih ada mobilnya?"Pintah Neji pada Suigetsu dan Sai,mereka mengangguk dan pergi keluar untuk pergi mengeceknya.

"Kukira Uchiha itu menyewa mobilnya sendiri?"Shikamaru sudah terlihat mengantuk, ia beberapa kali menguap.

Naruto menghela nafas lelah, "Tentu, tapi aku baru saja menerima pesan. Keberangkatan kita dimajukan 6 jam lagi. Kita tidak bisa lepas landas besok, tadi siang bandara sempat ditutup karena ancaman bom dan karena hal itu banyak penerbangan ditunda esok pagi. Dan kita juga harus Flight bersamaan dengan Sasuke"Naruto berusaha menjelaskan.

Sai dan Suigetsu kembali, "Kami sudah bertanya pada penjaga valet, tidak ada mobil yang keluar selain 30 menit yang lalu. Itu Garaa dan Matsuri"Ucap Suigetsu

"Aku juga bertanya kepada penjaga pintu, dia bilang sekitar 40 menit yang lalu seorang lelaki keluar dan beberapa menit kemudian seorang lagi keluar. Mereka tidak kembali lagi"

"Apa yang dilakukan mereka?"Tanya Hinata entah pada siapa.

"Aku menduga isi text dari Sasuke sebenarnya adalah, 'Ini malam terakhir, temani aku keluar sebentar mencari Wanita France, segelas tequila atau martini"Ucap Sai. Semua orang memandang Sai bingung.

"Text apa?"

"Pesan Sasuke ke Kakashi", Naruto menggeleng pelan "Jangan bergurau"

Ino kembali menatap Sakura, "Kau benar tidak melihatnya?"Tanyanya sekali lagi.

"Jangan berbohong Sakura. Toiletnya hanya berjarak satu tikungan dari pintu masuk keruang makan sini. Tanda Toilet di depan pintu sangat jelas. Kau pergi ke Toilet sangat lama sekali, seperti orang sembelit"Dengus Ino berusaha memperingati Sakura.

Sakura tersenyum membalas Ino, "Aku memang sembelit..", Ino melayangkan tatapan mematikannya. "... tadi"Lanjut Sakura tanpa menatap mata Ino.

"Kita pulang saja lebih dulu"Sasori menyandarkan punggungnya malas.

"Bagaimana dengan Uchiha?"Tanya Sai, "Kalian bisa mengiriminya text"Sasori mendengus malas.

"Kau yakin? Sasuke jarang membuka text. Lagipula jujur saja, aku tak mengetahui alamat email pribadi atau nomor ponsenya", "Ada yang punya?"Tanya Naruto.

Neji menggeleng, "Aku selalu mengirimkan pesan ke email kantornya, yang selalu dibalas dengan tanda tangan 'Owner & CEO Uchiha Corporation, Uchiha Sasuke'"Neji mendengus malas. Baginya hal seperti terlalu berlebihan.

Suigetsu mengangguk, "Aku juga"

Shikamaru menganguk, "Sepertinya juga denganku"

"Itu bukan email pribadinya? Aku selalu berfikir itu email pribadinya"Ucap Sai, "Tanda tangannya Sai"

"Kufikir itu dibuat hanya untuk memancing emosi"dan mereka semua kembali memaklumi kejujuran Sai.

Ino terkekeh kecil, "Bukan seperti itu, Sasuke tidak suka mencampuri urusan pribadi dan pekerjaan"Jelas Ino, dan Sai mengangguk mengerti.

Naruto menutup mata malas, "Kakashi? Ada yang punya?"Tanya Naruto.

Mereka semua menatap Suigetsu, "Aku selalu bersamanya disini. Apa aku masih harus mengirimi email atau menelponnya? Aku bisa bicara langsung"Suigetsu membela dirinya.

"Aku punya email pribadi Sasuke"Ucap Karin.

"Kau punya?"Tanya Sai tak yakin.

"Tentu walau, jarang dibalas. Aku punya nomornya juga, kalau kalian mau"Tawar Karin. Dan mereka semua memandang Karin takjub dan tidak percaya.

"Kau yakin itu aktif?"Naruto meragukan sepupunya sendiri.

"Aku sangat yakin"Karin menjawab tak suka dengan pertanyaan Naruto yang seakan merendahkannya.

"Sudah berikan saja email dan nomor teleponnya. Kita harus berkemas dan bergegas. Banyak membuang waktu"Sasori malas berkaitan dengan Sasuke.

"Apa namanya?"Tanya Naruto. "Uchiha tanpa spasi Sasuke. Semuanya huruf kecil. Kemarikan ponselmu, akan kutulis nomor Sasuke". Naruto menyerahkan ponselnya ke Karin.

Neji menggeleng pelan, "Hanya itu? Harusnya kita bisa menebak. Cepat kirim emailnya"Pintah Neji. Nauto mengangguk dan segera mengambil kembali ponselnya dari Karin.

Karin berdiri dari kursinya, "Maaf, Suigetsu dan aku harus ke Airport sekarang. Pesawat kami tidak bisa menunggu. Sampai jumpa"Karin sedikit membungkuk dan tersenyum pada semua orang. Suigetsu melakukan hal yang sama dan mereka segera meninggalkan restaurant.


"Tuan Sasuke, ponsel anda"Kakashi mencoba memperingati Sasuke, ini adalah dering keempat sejak 3 menit yang lalu.

"...", "Tuan Sasuke, Ponsel anda siapa tau penting"Kakashi berusaha memperingatkan. Sasuke menghela nafas, bukan maksudnya ingin menolak panggilan. Tapi, kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit padahal urusan mendadaknya dengan Kakashi belum selesai.

"Anda bisa mengecek siapa yang menelpon saja dulu"Saran Kakashi, yang sepertinya sangat memaksa Sasuke untuk mengangkat ponselnya.

Sasuke mengeluarkan ponselnya dari balik saku jas, "... Kau benar, Madre menelpon"Sasuke segera mengangkatnya.

"Ada apa madre?"

"Ini telepon madre yang ke 4 dan kau baru mengangkatnya"Omel Mikoto.

"..."

"Sasuke, Madre hanya mempunyai dua orang anak. Itachi dan dirimu. Hanya kalian berdua dan madre harus berdoa pada tuhan tiap harinya supaya kalian menyempatkan waktu untuk menghadiri upacara pemakaman madre nanti. Tidak bisa kah kau memikirkan sedikit madremu ini?"Mikoto memulai acara menceramahinya.

"Ibu, aku sedang lelah"Sasuke memijit pelipisnya.

"Dimana Sakura-chan"nada suara Mikoto berubah lembut. Sasuke memutar matanya pelan. Sakura hanya Sakura.

"Apa Madre menelponku hanya untuk bertanya dimana Sakura? Kukira Madre sudah saling bertukar nomor dan email pribadi dengannya"decih Sasuke. Mikoto hanya terdiam tidak menjawab.

Sasuke menarik nafasnya dan membuangnya perlahan, "Sebaiknya madre berhenti menanyakan Sakura. Aku dengannya tidak pernah ada hubungan khusus..."Sasuke mulai menjelaskan semuanya, dan itu merupakan sebuah guncangan yang cukup keras buat Mikoto. Anak bungsunya telah berani membohongi dirinya.


"Tidak diangkat, nomornya sedang sibuk"Naruto meletakkan ponselnya diatas meja, "Karin sedang mengerjai kita"

Hinata menggeleng pelan tak setuju, "Karin tidak tampak sedang mengerjai kita"

"Kirimi saja pesan text, apa susahnya? Kita harus segera bergegas"Geram Sasori.

Naruto menatap Ino, "Barb, kau punya nomor pribadi atau emailnya Sasuke?"Tanyanya malas, Sasori sudah mulai tidak sabaran.

"Ummm... Yap"Jawaban Ino mengundang emosi Naruto.

"Kenapa kau hanya diam dari tadi?"Marahnya, Neji menyandarkan punggungnya sambil melipat sikunya, tontonan menarik. Shikamaru mendesis lelah dan tak suka.

"Kau tidak bertanya langsung padaku!"Seru Ino tak kalah kerasnya, "Apa harus?"Tanya Sakura ikut kesal.

Ino mengangguk pelan, "Tentu saja, Sasuke melarang menyebarkan kedua hal itu sembarangan"

"Lagipula, email yang diberikan Karin itu juga benar."

"For Godness Sake!"Desis Naruto, Ino melotot tak suka, seakan semua yang terjadi karena dirinya. "Apa? Hinata juga memilikinya dan ia hanya diam"Tuduh Ino. Wajah Hinata berubah pucat ketika namanya disebut, Hinata berubah Canggung.

"Kalian berdua memilikinya dan hanya diam sedari tadi, good"Sindir Neji. Hinata menunduk, takut sedangkan Ino tak perduli hanya memiringkan bibirnya.

Naruto memperhatikan Sakura yang hanya diam tak seperti biasanya, "Sakura, jangan bilang kalau juga mempunyai nomor dan email pribadi ..."

Sakura melotot melihat Naruto, ia menggeleng tegas, "Tidak. Aku tidak punya nomor ataupun emailnya, seperti Suigetsu aku bisa berbicara langsung. Tidak perlu lewat email"Potong Sakura cepat.

"Okay"Naruto mengangguk mengerti melihat Sakura, ia sedikit ketakutan melihat emosi di mata Sakura.

"Ino, kau coba telepon dan email Sasuke. Bilang padanya untuk segera kembali ke hotel dan kita akan take off pukul 3 pagi"Pintah Naruto. Ia berdiri dari kursinya semua memandangnya.

"Lalu apa yang kita lakukan?"Tanya Sasori malas, "Kita kembali. Ino yang akan bertanggung jawab", Jawaban dari Naruto membuat Ino menahan kekesalannya. Yang lainnya nampak bernafas lega akhirnya bisa segera kembali ke hotel dan beristirahat sebentar sebelum kembali melanjutkan perjalanan panjang mereka.

"Mendokusai"Desis Shikamaru sambil mengenakan kembali jaket kulitnya.

Neji melepaskan gulungan lengan kaos turtle neck yang di pakainya, "Hinata akan semobil denganku. Berdua. Ada hal yang harus kami bicarakan"Ucapan Neji bagai sebuah pernyataan tegas yang tidak bisa diubah atau diganti.

Naruto mengangguk cepat, tadi sewaktu ke Restaurant dia memang hanya semobil berdua dengan Hinata. "Tentu saja. Aku butuh Quality time dengan Sasori dan Sai. Kami juga mempunyai urusan"Jawab Naruto kikuk.

Sasori dan Sai saling melemparkan tatapan bingung, urusan apalagi?

"Aku?", "Kenapa denganku?"

Neji tersenyum penuh wibawa, "Baguslah"

Ino menempelkan poselnya di telinga, "Guyss.. Sakura akan ikut bersamaku, ada hal yang kita harus omongin berdua. Hinata, sayang sekali seharusnya kau ikut bersama kami. Neji terburu membookingmu"Ino mendecak kesal menekan ponselnya. Sakura menyikut Ino pelan, perkataan Ino kasar sekali. Membooking? Bukan pilihan yang benar

"Sayang sekali Ino-chan, kita bisa lain kali"Hinata sepertinya memakluminya dan menghiraukan perkataan Ino. Ino tersenyum sekilas pada Hinata sebelum menarik kasar tangan Sakura yang masih berusaha mengancingkan Mantel merah maroonnya. Mengabaikan pekikan Sakura dan tatapan bingung yang lainnya, Ino tetap saja berjalan menarik Sakura dengan tangan kirinya, tasnya ia sampirkan saja di lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya dan matanya fokus pada ponsel.

Sakura dan Ino menghilang dari balik pintu, diikuti Naruto, Sai dan Sasori.

"Jadi?"Temari yang sedari diam akhirnya bersuara, "Jadi apa Temari?"Entah kenapa ada kesenangan tersendiri bagi Neji kala ia menggoda Temari.

Temari memutar matanya kesal, "Apa aku harus satu mobil dengan laki-laki ini?"Temari tidak menunjuk siapa orang yang dimaksud, namun arah lirikan sekilas Temari membuat mereka yang tersisa disana mengerti apa maksudnya.

Neji terkekeh pelan, "'Laki-laki ini'? PFT!". Hinata menyikut pelan Neji, ia tersenyum sambil menggeleng pelan.

Shikamaru tau jelas, orang yang dimaksudkan oleh Temari adalah dirinya sendiri. Siapa lagi?, laki-laki disini hanya tinggal 2, Neji dan dirinya.

"Kalau kau tidak keberatan"Shikamaru berucap seakan tak terima. Temari menatap nyalang Shikamaru, "Kalau Tenten, sama sekali tidak"

Neji terkekeh sambil merangkul Hinata, "Kalau begitu, jangan ada perang Nazi"Neji menggiring Hinata untuk segera keluar, ia sempat melambaikan tangannya sekilas tanpa menoleh.

"Tentu saja"Temari menahan kekesalannya, "...Teman"Lanjutnya dengan nada mengejek. Neji berhenti untuk membukakan Hinata pintu, lalu mendahulukannya keluar. Neji berbalik mengancungkan jari tengahnya sebentar dan Temari hanya membalasnya dengan wajah jelek dengan lidah terjulur keluar sedikit.

Neji tertawa, "Bye"Ucap Neji, "... Tenten"lanjutnya. Tenten tersenyum bingung.


"Aku bingung, kesal, sial! Apa sih maunya laki-laki rambut pantat ayam itu? Argghhhhhhhhh... Shannarooooo! Aku ingin sekali menjambak rambutnya dengan ..."

"Penuh mesra?"Ino memotong ucapan Sakura. Mereka sekarang dalam perjalanan kembali ke hotel. Sakura menceritakan hal yang sebenarnya terjadi di Restaurant tadi. Ia mengaku bertemu dengan Sasuke, lalu menceritakan cerita versi Garaa yang diberitahukannya serta Sasuke yang tiba-tiba marah tidak jelas di depannya, menceritakan rencana (jihad)-nya bersama Garaa.

Sakura menatap Ino tak percaya, "Ino-pig demi Tuhan! Shannaroo, bisakah kita serius? Aku sedang dalam suasana hati yang buruk. Disini kita sedang membicarakan Uchiha Sasuke, CEO dan Owner dari Ucorp dan adik dari bos tertinggi di Agencyku. Demi tuhan! UE cabangan dari Ucorp"Sakura meratapi nasibnya.

Ino tertawa meliriknya, "Sangat buruk, Aku turut prihatin"Ino memasang wajah sedihnya.

Sakura menyandarkan punggungnya dalam, "Ino seriuslah sedikit. Shannaro"Desisnya kesal.

Ino menghela nafas, ia menurunkan tangannya dari stir, sedang lampu merah.

"Kau tau, aku menceritakan hal itu padamu tanpa persetujuan Hinata dan Sasuke. Aku tidak bisa menceritakan semua hal padamu. Kau harus mengerti, Sasuke benar. Kau tau ceritanya, tapi tidak tau segalanya"Ino kembali menjalankan mobilnya.

"Please, Ino untuk kali ini saja. Aku butuh kau di pihakku"Sakura tak senang dengan pernyataan Ino.

"Sayang sekali, Sasuke benar dan kau yang salah"Ucapan Ino seakan mempersulit Sakura.

"Maaf, Aku harusnya memberitahumu, kalau Sasuke sebenarnya Melaporkan hal ini pada komite sekolah. Aku bersaksi atas kejadian itu, Hinata marah akan hal ini sebenarnya. Dengan bukti rekaman teleponku dan Sasuke, CCTV di ruang renang, dan CCTV di ruang UKS yang merekam permintaan maaf Matsuri. Hari itu juga, Matsuri mendapat surat panggilan untuk menghadiri sidang siswa. Sepertinya hal ini membuat Garaa panik. Ia menjumpai Matsuri untuk menanyakan kebenaran surat itu. Matsuri membenarkannya, dan malam itu juga Garaa mengambil penerbangan ke Korea selatan. Matsuri menghadiri sidang tertutup itu dan memilih menghukum dirinya sendiri untuk pindah ke Eropa"Jelas Ino.

Sakura memijit keningnya, "Jadi, esok harinya setelah kejadian Hinata tenggelam di kolam kau menghilang bersamanya hampir seluruh pelajaran karena hal ini? Kenapa kalian menyembunyikannya? Aku yang menyelamatkannya"Sakura tak terima kedua sahabatnya menyembunyikan semua hal ini darinya.

"Maaf Sakura, itu masalah Intern. Masalah ini adalah hal yang serius, perkelahian 3 keluarga yang sudah bersahabat sejak lama ini adalah aib karena alasannya hanya sepele. Kami tidak ingin orang luar mengetahui hal ini"Ino memandang menyesal.

"Aku sahabat kalian, sama sekali bukan orang luar. Oh tuhan! Tapi, setelah aku mengingat ceritamu lagi, kau bilang Sasuke datang ke UKS. Jangan bilang Sasuke adalah Pria angkuh, dingin dan pemarah itu. Yang menabrakku tanpa menoleh sedikitpun di pintu UKS?"

Ino mengangguk pelan, "Aku kira kau mengenalnya?". Sakura menggeleng pelan tak perduli.

"Astaga Sakura. Sasuke itu dulu cukup terkenal, dia Captain Basket cowok dulu di SH"Seru Ino tak percaya, Sakura hanya menggeleng pelan tak perduli.

"Wajar sih, kau kan asik bercinta dengan buku Biologi dan Kimia-mu dimanapun"Sindir Ino,

Sakura menatap Ino tak percaya dengan perkataannya, "Bercinta Ino? Serius, lupakan Saja, aku memperhatikanmu beberapa hari belakangan ini. Kau setiap pertemuan menjadi tambah genit, kau terus-terusan mencuri lirikan ke Sai"

Ino mengangkat bahunya pelan, wajahnya memerah malu karena ketahuan.

"Dia lucu"Ucap Ino, "Aku menyukainya"Lanjutnya.

Sakura tersenyum mengejek, "Kau mengenalnya sudah lama?"Tanyanya.

Ino menggeleng pelan, "Baru beberapa hari yang lalu. Aku bertemunya di dekat menara Eiffel"Ino tersenyum kecil.

"Sial, aku sama sekali belum pernah ke Eiffel"Dengus Sakura, "Apa yang kau cari dari besi tua itu?"Tanya Ino.

Sakura melototinya, "Itu seni Ino, mereka tersusun dengan Indah"Sakura memandang sedih keluar jendela, tepat melewati menara Eiffel.

"Itu karena lampunya"

"Ino! Eiffel itu salah satu hal indah"

"Maaf, Sakura. Entah kenapa menara Eiffel banyak memberiku kesan Negatif. 5 kali aku putus dengan kekasihku sehabis dari sana"Ino mendengus kesal. "Kuharap Itu bukan karena Eiffel yang menjadi orang ketiga"Sinis Sakura.

Ino memandangnya marah namun, tersenyum kemudian, "But, Well. Aku bertemu dengan Sai di sana"Ino tersenyum centil membuat Sakura jijik. "Kau baru bertemu dengannya, belum ada seminggu", Ino mengangkat bahunya tak peduli sambil tersenyum.

"Aku akan menyatakan cinta padanya, besok"Raut wajah Ino memerah, antara senang bercampur malu, Sakura menatap Ino tak percaya. Belum ada seminggu Ino mengenal Sai dan dia sudah akan menyatakan cintanya, bagaimana kalau sudah mengenal 1 bulan? Apa Ino akan melamar Sai? Ino mulai sinting, pikir Sakura.

"Kau bahkan belum mengenalnya selama seminggu"Sakura menyerukan ketidaksetujuannya.

Ino tersenyum miring, "Terserah padamu, aku akan menyatakannya besok"

Sakura menggeleng pelan, "Aku tidak akan pernah mengerti apa yang kalian pikirkan. Sasuke, Hinata dan dirimu, aku sama sekali tidak mengerti"

"Aku berani bertaruh, Sai akan menertawai kegilaan mu ini. Kau. Akan. Ditolak"

Ino tersenyum menyeringai, tidak ada yang berani menantang Ino bertaruh. Harusnya Sakura mengingatnya The Queen Of Bet, itu julukannya.

"Jika kau kalah, kau berutang padaku dan jika kau menang aku berutang sesuatu padamu. Deal?"

"Oke, Deal"


Sai, Sasori dan Naruto duduk berjejer di kursi penumpang bagian belakang.

"Jadi?"Setelah hampir 5 menit hanya diam akhirnya Sasori lah yang pertama kali membuka suara.

"Jadi apa?"Tanya Naruto bingung bercampur kesal.

"Apa Neji serius?"

Wajah Naruto berubah cemberut, "Good Question! Karena aku sama sekali tidak mengetahui apa jawabannya"Desah Naruto, ia menyalahkan Sasori dan Sai penyebab ide gila ini, lalu berakhir dengan dirinya yang bukan melawan Neji tetapi Hinata. "Itu semua salah kalian!'Hardiknya

"Salah kami? Itu salah Sasuke!"Sai tidak terima dirinya ikut disalahkan atas hal ini.

"Benar, tapi itu juga adalah salahmu"Ucap Sasori.

"Demi tuhan! Aku seharusnya berdiskusi dengan Sasuke, bukan dengan kalian! Apa yang membuatku sampai dengan bodohnya datang dan meminta bantuan kalian?! Aku menyesal ttbayo"Naruto tertunduk sedih.

Sasori mendengus tak suka, "Hari itu Sasuke membawa pergi Sakura dan Hinata. Kau lupa?"

"Hanya kalian yang dapat membantuku, kuulangi kata-katamu hari itu"Sasori mengingatkan dan Sai mengangguk membenarkan. Naruto menghela nafas pasrah, tidak ada gunanya bertengkar, lebih baik dirinya segera memikirkan bagaimana caranya membuat Neji berubah fikiran atau bagaimana cara menyelesaikan tantangan ini tanpa perlu menyakiti Hinata atau dirinya sendiri.

"Aku akan coba tanya pada Sasuke"Putus tersenyum sinis.

"Semoga beruntung"ledek Sai.


Temari menarik kopernya dari dalam kamarnya. Sebenarnya ia belum rela meninggalkan Paris. Mereka belum mengunjungi Eiffel, La Seine, musem-museum, dan lain-lain. Tapi, mau di apa dia harus mengikuti jadwal Teman bosnya sebagai panitia (?) penyelenggara acara liburan singkat dan absurd ini.

Sebuah Papper Bag berlogo Armani tiba-tiba saja muncul di depan wajahnya, sehabis ia berbalik menutup pintu kamar hotel yang di tempatinya.

"?"Temari memiringkan sedikit wajahnya, Alisnya bertaut bingung melihat Shikamaru adalah orang yang menyodorkan Papper bag itu tepat di depan wajahnya.

"Ini buat adikmu"Shikamaru berucap malas, membuat Temari sedikit emosi melihatnya. Entah kenapa Shikamaru selalu saja berhasil memancing emosinya walau laki-laki itu tidak melakukan hal apapun. "Armani?"Temari bagai Lupa ingatan, ia bingung.

Shikamaru mendengus malas dan Temari menahan diri untuk tidak menonjok wajah laki-laki itu, "Syaratmu"Shikamaru mengingatkan. Temari ingat sekarang, Neji brengsek! Sekarang ia terlihat seperti perempuan matre yang memanfaatkan laki-laki. Dia bukan perempuan seperti itu, pikirannya sedang kalap saat itu dan Neji sepertinya sedang membalas dendam. Menerima maaf bukan hal semudah itu untuk Temari. Ia tidak bisa disuap. Dia butuh ketulusan dan penyesalan.

"Aku terima"Temari mengambil Papper bag itu sambil tersenyum manis. Shikamaru terlihat tersenyum lega. "Jadi tidak ada dendam?"

Temari menahan tawanya, Shikamaru berbalik bingung menatap Temari.

"Kau fikir semudah itu? Terima kasih Armaninya. Tapi, aku belum memaafkanmu"Temari berjalan menabrak bahu Shikamaru tanpa berbalik lagi.

Neji yang sedari tadi memperhatikan adegan itu menahan agar tawanya tidak meledak. Ekspresi Shikamaru sangat lucu, bahkan Saat Temari menghilang dari balik pintu lift dia masih belum bergerak dari posisinya semilimeter pun. Dahinya mengerut dan mulutnya terbuka.

"Mendokusai"Ucap Shikamaru pelan dengan nada tajam. Neji mengikuti pelan ucapan Shikamaru saat Shikamaru mengatakannya. Neji tau cepat atau lambat, kata-kata itu akan segera keluar. "Sial bung?"Neji menepuk bahu Shikamaru pelan dan berjalan melewatinya.

Shikamaru mendesis keras, berbalik melihat punggung Neji, "Kau yang sialan!"Serunya mengejar Neji sambil menyeret koper besarnya.

Tenten keluar dari kamarnya menyeret sebuah koper, dia tampak kesusahan. Tenten sebenarnya perempuan bertubuh kurus dan memiliki tinggi agak rata-rata. Hal ini membuat Tenten walau benci dengan sepatu neraka (High Heels)(High Hells), Tenten selalu saja memakainya agar terlihat sama tinggi dengan orang-orang di sekitarnya."Hai"Sapa Neji menghiraukan Shikamaru, Tenten tersenyum bingung "Hai"Jawabnya

"Butuh bantuan?"Tanya Neji, Tenten terlihat ragu. "Aku memaksa"Neji tersenyum manis mengangkat koper milik Tenten dengan mudah, tapa menunggu jawaban Tenten.

Shikamaru mendengus di belakangnya, "Jangan mencoba merayu Sekretarisku"Ancam Shikamaru. Wajah Tenten memerah mendengarnya. Neji terkekeh pelan.

"Aku hanya mencoba membayar kesalahanku dengan menjadi Teman yang baik, bukan sepertimu"Jawaban Neji jelas meledek Shikamaru. Tenten ingin sekali tertawa mendengarnya. Kemarin siang bosnya menyeretnya pergi ke Sebuah toko dengan logo ternama dunia dan Tenten tau kalau itu salah satu syarat Shikamaru agar permintaan maafnya diterima.

Tenten, Neji dan Shikamaru memasuki lift. Shikamaru mendengus keras menyadari kekalahannya. "Teman? Hati-hati Tenten, Neji akan menjadikanmu teman hidupnya. Selamanya"


"Apa Sasuke belum juga muncul?"Tanya Sai untuk yang kesekian kalinya. Mereka semua duduk di ruang tunggu keberangkatan Internasional hanya untuk menunggu Sasuk dan Kakashi yang belum juga terlihat dari Resturant. Mereka semua mengancingkan erat mantel mereka, selain karena udara yang sedang dingin, ruang tunggu yang luas itu hanya diisi oleh mereka, dengan puluhan pendingin ruangan menyala.

Naruto menggeleng pelan, "Belum. Tapi tadi ketika sampai di bandara aku mengonfimasi Jetnya. Sasuke akan berangkat dengan kita"Naruto berjalan mondar-mandir.

Shikamaru duduk santai dengan kaki menyilang dan kedua lengannya dilipat di depan dada, "Aku sama sekali tidak melihat Sasuke ataupun Kakashi di Hotel"

"Aku tadi sempat mengeceknya di kamarnya, ada Kakashi juga disana. Mereka sepertinya sedang sibuk mengurus sesuatu"Naruto yang menjawab.

"Kau yakin mereka tidak dalam masalah kan?"Tanya Neji. Naruto mengangguk.

"Kuharap kita setelah sampai disana kau akan segera membuktikannya Naruto. Waktu terus berjalan"Lanjut Neji.

"..." Naruto terdiam kaku, kecanggungan kembali melingkupi mereka. Shikamaru menguap pelan.

"Berhentilah membuat sesuatu menjadi canggung Neji! Tutup mulutmu dan aku akan menghubungi Sasuke"Teriakan amarah Ino menggema di ruangan itu, "Damn it! Why he so late? He hate late!"Ino mendesis kesal sembari menjauhi mereka. Temari dan Tenten takjub melihat amarah Ino, baru kali ini dia melihat Ino marah. Shikamaru menutup matanya, sepertinya tidur sedikit tak masalah. Sasori hanya memasang wajah cemberut, hubungannya dengan Sasuke memburuk dan masalah atau apapun yang membawa nama Sasuke dia menghindarinya. Hinata bergantian menatap Naruto, Neji dan Ino khawatir. Sakura hanya diam memainkan ponselnya, pemandangan Ino marah adalah hal biasa, palingan sebentar lagi dia kembali menggila dan alasannya untuk memilih bermain dengan ponselnya adalah ia menghindari topik pembicaraan yang membawa nama Sasuke, sama seperti sepupunya Sasori.

"F**K DAMN YOU!"Teriakan Ino kembali bergema. Membuat mereka semua tersentak kaget. Mereka semua memandang Ino yang sedang berjalan kerah mereka dengan wajah memerah karena kesal. Shikamaru bahkan terkaget bangun karena teriakan Ino.

"Apa ada masalah?"Bisik pelan Temari ke Tenten

"Kuharap tidak"Sai yang menjawab pertanyaan Temari, wajahnya memandang khawatir Ino. Membuat Temari dan Tenten saling berpandangan bingung.

"Bagus sekali, Sasuke sudah berada diatas Jetnya sendiri seja 25 menit yang lalu"Ino memberitahu alasan kemarahannya. Semua mendesah lelah dan berdiri dari kursi.

"Kenapa bisa?"Naruto bingung

"Aku tidak perduli 'kenapa bisa?'! Aku mau satu jet dengannya!?"Seru Ino kesal.

Semua memandang Ino bingung, "Aku mau ..."

"Kenapa Sakura?"Ino menatap Sakura yang berbicara menggantungkan kalimatnya. Semua juga menunggu apa yang Sakura akan katakan. Tapi, Sakura hanya menggeleng pelan, "Tidak"

Sasori menarik kopernya dan mendekat ke Sepupunya, "Kau bersamaku, ingat?". Sakura mengangguk mengerti.

Neji berjalan mendahului yang lain menarik Hinata pelan, "Tolong berikan privacy, kuharap kalian mengerti. Aku dan Hinata hanya akan sepesawat berdua. Urusan kami belum selesai". Hinata menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Naruto bingung.

"Naruto-kun... Bagaimana..."

Naruto tersenyum cepat, "Tentu, aku akan bersama Sasori dan Sai"

Sasori menggeleng, "Kenapa aku?"

Naruto memandangnya horror, "Terserah, Shikamaru juga bisa"


Mereka menaiki pesawat sesuai kesepakatan. Neji dan Hinata berdua di salah satu pesawat milik Hyuga. Naruto, Sai, dan Shikamaru menaiki Jetnya Naruto, dan Sasori, Sakura, Tenten, dan Temari menaiki jet milik Hyuga yang satunya. Ino juga dengan segera menaiki jet milik Sasuke yang dihafal Sakura.

"Kau sungguh menyebalkan"Ino melempar tas tangannya pada Sasuke yang duduk dengan Santai, membuat Sasuke menatapnya bingung dan dingin.

"Kenapa kau menatapku seperti itu huh?! Kau kaget aku yang muncul disini? Mengharapkan orang lain? Sakura? Sialan kau! Aku sudah berdandan sebagus mungkin dan kau membuatku keringatan duduk diruang tunggu"Ino datang mengamuk bagaikan seorang kekasih yang tau kalau pasangannya itu berselingkuh dibelakangnya.

Sasuke menyenderkan tubuhnya di kursi sambil menutup matanya, ia melempar balik tas tangan Ino "Jangan memulai Ino, Kepalaku sakit. Itu bukan alasan yang logis jika kau ingin memarahiku. Setauku, ruang tunggu di bandara sana, mempunyai banyak pendingin ruangan"Sasuke tidak mau repot-repot membuka matanya untuk menatap lawan bicaranya.

Ino menahan kesalnya, Ino menghempaskan tubuhnya duduk di kursi hadapan Sasuke. Sasuke membuka matanya menatap Ino dengan tatapan tajamnya.

"Ada apa? Kursi ini kosongkan? Apa aku mengambil tempat duduk seseorang? Apa ini kursi Sakura? Aku akan pindah"Jujur saja, walau Ino kebal akan kata-kata Sasuke. Tapi, tatapan dari onyx kelam Sasuke membuatnya ketakutan dan tidak mau menatap Iris itu terlalu lama.

Sasuke menghela nafas pelan sebelum menutup matanya kembali, "Terserah kau mau duduk dimana Ino. Tapi tolong kosongkan kursi itu. Aku tak suka ada yang mendudukinya"Sasuke berusaha menepis bahwa itu adalah kursi pertama yang Sakura duduki ketika naik ke dalam jetnya dan menjadi kursi Sakura ketika menaiki jetnya kedua kalinya. Sasuke berusaha meyakinkan dirinya kursi itu kosong karena... lebih baik kosong.

Ino hanya mendengus dan memilih duduk di kursi seberang Sasuke. Walau tak melihatnya Sasuke mengetahui kalau Ino kembali menduduki kursi yang di duduki Sakura sewaktu menghindarinya. "Jangan disitu juga"Ucap Sasuke dengan mata tertutup. Ino berdiri dengan kesal. Kakashi baru saja selesai mengurus koper Ino, bingung melihat apa yang sedang terjadi.

"Kau membuatku kesal Sasuke!? Apa semua ini kursi milik Sakura? Lalu apa aku akan berdiri disini selama penerbangan? Kau brengsek Sasuke!"Ino berteriak kesal.

Sasuke melirik Ino dingin, kepalanya sedang sakit sakit sekarang. Dan di kepalanya muncul terus sekelebatan memori semua tentang Sakura. Pertengkarannya dengan Sakura di Restaurant. Wajah Sakura yang memandang Trevi de Fontana. Wajah Kecewa Sakura. Wajah lucu Sakura ketika meminum Cappocino dan busanya menempel di bibir Sakura. Sakura yang duduk di hadapannya di dalam Jet ini. Sakura yang memakan gelato dengan senang. Wajah Sakura yang memerah karena memeluknya dari belakang. Sakura yang berdiri sendiri di Canal Grande. Sakura yang..., tidak bisakah otaknya tenang dan tidak memikirkan apapun yang berhubungan tentang Sakura disaat Sakit seperti ini?

"Tempat itu milik Kakashi"Ucap Sasuke. Ino terdiam. Kakashi tersenyum singkat, walau tak dapat dilihat, tapi matanya menyipit menandakannya sedang tersenyum.

Ino menghela nafasnya pelan, "Aku akan duduk di sofa kalau begitu"

"Ah yah, Jangan di sofa itu juga"Ucap Sasuke. Ino sudah berada dipuncak emosinya saat ini.

Sasuke kembali menatap Ino dengan tatapan datarnya. "Kau bisa duduk di hadapan Kakashi. Itu kosong"

Sasuke melihat Ino mendecih kesal dan memilih menyerah duduk di kursi hadapan Kakashi.

"Bisa kau ambilkan aku minyak angin aroma terapi? Kepalaku sakit"Sasuke menatap Kakashi, Kakashi mengangguk dan kembali ke belakang.

"Kau membuatku sangat ingin mengebirimu. Kau sudah membuatku menunggu lama, kau membuatku dalam kesulitan waktu di Restaurant tentang aturan nomor dan emailmu. Sekarang, kenapa kau tidak tempelin saja kertas dengan tulisan 'Ini milik Sakura' di dalam jetmu"Ino melipat kedua tangannya di depan dadanya.

Sangat lucu memang, mereka berbicara dengan berhadapan tapi dengan Sasuke di sebelah kiri dan Ino di sebelah kanan dengan jarak sekitar semeter.

"Pertama Ino, Kakashi dan Aku mempunyai urusan, mendadak. Kedua, kursi itu bukan milik Sakura. Itu milikku. Aku hanya tak suka orang lain duduk disana"Lalu, Sakura bukan orang lain Sasuke?

"Ketiga, kau membiarkan Sakura dan Garaa saling main mata?", Wajah Sasuke berubah keras mendengar ucapan Ino. Sasuke kembali menutup matanya.

"Aku sudah memperingatinya"Suaranya terdengar lebih berat dari yang lalu.

"Jadi, apa itu alasan logis kau pergi dari restaurant? Dan Sakura berdalih kalau dirinya mengalami sembelit?", Sasuke menahan tawanya, sembelit?

Pengumuman untuk menggunakan Sabuk pengaman baru saja diumumkan.

"Garaa meminta Sakura untuk menyingkirkan Matsuri dari hidupnya"

"Aku tahu, Sakura sudah menceritakan semuanya padaku"Ino menghela nafas.

"Ada hal yang aku ingin beritahu padamu. Semenjak aku memutuskan Matsuri mengambil bagian dalam model itu, kami menjadi dekat. Dan Matsuri bercerita padaku..."

Kakashi datang dan memberikan minyak angin aroma terapi pada Sasuke.

"Nanti saja, kau bisa bercerita di perjalanan. Kepalaku sakit. Dan itu karena dirimu"

"Aku?"


Bersambung...


Extra :


Isi pesan Sasuke


'TIT'

Kakashi membuka ponsel miliknya.

'Aku butuh udara segar, ku tunggu kau di luar'

Well, Sai ini bukan soal Tequila, Martini atau Wanita Prancis.


Diskusi Neji dan Sasuke


Sasuke baru saja masuk ke dalam lift dan bermaksud untuk turun ke Lobby tapi, Neji berteriak menyuruh menahan pintu lift untuknya.

"Ku dengar kau dari mengunjungi Ino bersama Hinata dan Naruto?"

"Hn, Naruto tidak ikut. Hanya Sakura"Sasuke memencet tombol lantai satu.

Neji memperhatikannya, "Aku ingin bertanya sesuatu hal padamu, tentang Naruto dan Hinata kira-kira..."

'TING' pintu lift terbuka, seorang ibu muda masuk menggandeng anak kecil berusia 10 tahun.

"... lupakan saja"

"Cinta tak akan menyakiti"Ucap Sasuke tiba-tiba, Neji menyerit bingung. Tak mengerti dengan apa yang diucapkan Sasuke.

"Apa kau bersedia menjadi pakar cinta sekarang?"Tanya Neji heran. Sasuke tidak pernah mau membicarakan dan membahas masalah percintaan. Hal itulah yang membuatnya ragu dan mengurungkan niatnya untuk bertanya.

"Hn, cinta tak akan menyakiti. Kau akan paham maksudku"Sasuke berjalan keluar duluan meninggalkan Neji di dalam lift sendirian, yang entah sejak kapan pintu lift sudah terbuka dan menyisakan mereka berdua.


BTS Sasuke berubah menjadi Pakar Cinta.


Di dalam mobil itu, Setelah pulang dari kediaman Ino, Sasuke terus-terusan mengancam Suigetsu jika ia berani melaporkan hal ini pada Itachi.

"Kufikir ini tidak terlalu penting"Ucap Kakashi yang memotong pembicaraan mereka.

Mereka semua diam melihat Kakashi.

"Ada apa Itachi-san?"Tanya Hinata.

Kakashi memberitahukan kalau ia mendengar percakapan Naruto, Sai dan Sasori tentang pembuktian cinta Naruto dengan cara berduel Karate.

Suigetsu menahan tawanya, "Uzumaki itu hanya akan mempermalukan klannya sendiri", Hinata memandang tak percaya mendengar tanggapan Suigetsu.

"Dia akan menjadi samsak Neji", dan Hinata lebih gila mendengar tanggapan Sasuke yang sama sekali tidak membantu.

"Sasuke-kun! Oh Tuhan, Naruto-kun! Apa yang dipikirkannya? Dia akan berada di dalam masalah"Hinata memegang kepalanya yang tiba-tiba saja pening.

"Tuan Sasori juga akan mengajak Tuan Sasuke bertanding dengan senjata api"Ucap Kakashi. Suigetsu menggeleng tak percaya, begitupun Hinata.

Sasuke mendecih, "Aku mempunyai izin memegang dan memiliki senjata api, aku tak masalah"Sasuke mengendikkan bahunya tak perduli. "Coba kau tebak Kakashi, dimana aku menyembunyikannya?"Tantang Sasuke. Kakashi menyeritkan keningnya berfikir.

"Di balik saku jas? Di pinggang? Di balik sepatu? Di kakimu? Belakangmu? Dalam celanamu?"Tebak Suigetsu. Kakashi terkekeh pelan dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, Suigetsu sudah menebak semua bagian yang dipikirkannya.

Sasuke menyender dengan santai, "Aku menyembunyikannya dengan sangat baik"

Suigetsu nampak berfikir dengan keras, "Guyssss! Pikirkan Naruto-kun. Demi tuhan! Dia mau bunuh diri,"Hinata berteriak kesal.

"Aku punya ide"Ucap Suigetsu. "Cinta tak akan menyakiti"Lanjutnya.

Dahi Kakashi mengerut, alis Sasuke bertaut dan wajah Hinata memberenggut.

"Kau tidak sedang curhatkan Sui?"Tanya Kakashi yang terdengar seperti meledeknya.

"Aku tidak mengerti"Ucap Hinata, "Hmm?"Sasuke mengedipkan matanya beberapa kali, ia juga tidak mengerti dengan ucapan Suigetsu.

"Buat Naruto melawan Hinata, Naruto berduel dengan Hinata, bukan dengan Neji"Ulang Suigetsu memperjelas ide dan maksudnya.

"Apa maksudmu Sui?"Tanya Sasuke bingung, ia capek bermain tebak-tebakan seperti ini, sepertinya sakit alergi yang kambuh mempengaruhi kecerdasan dan kecepatan otak si bungsu Uchiha ini.

"..."

"?"

"!", "Aku mengerti. Cinta tak akan menyakiti"Kakashi mengangguk mengerti, ia tersenyum menyeringai walau tertutup masker.

"Aku sama sekali belum mengerti"Hinata menggaruk pipinya yang tak gatal.

"Jelaskan Kakashi, aku mendengarkan"Pintah Sasuke.

Well, sepertinya Sasuke, Hinata, Suigetsu dan Kakashi berakting dengan sangat bagus di Resturant tadi. Semua ini adalah rencana mereka berempat. Sepertinya yang harus disalahkan adalah ... Suigetsu si melow drama.


Hai.. Hai..

Chap 15 update Finnaly! *Bersorak, goyang gaje, music : Dont let me down

Update-an kali ini bukan sebuah kabar bagus yah. Cherry masih belum membeli Handphone atau notebook atau sejenisnya T,T uangnya udah ada sih *hehehe, tapi masih kurang *plak.

Handphone yang pengen Cherry beli juga belum beredar dipasaran, *Wadduh, hp apaan tuh? Iphone 10, hheheheee. Gak becanda.

Betewe ngomong-ngomong, Chapter ini Cherry mencoba mengupgrade gaya penulisan Cherry yang sebelumnya sangat amburadul. Bagaimana? Atau malah lebih buruk? Pendapatnya yah?

Untuk sementara Cherry ngetik lewat Tablet milik adek Cherry. Tapi gak bisa nulis banyak-banyak. Pakeknya gantian sih T,T maklum adeknya banyak, bukan cuma 2 *Walah curhat

Chapter 16 sama sekali belum ditulis T.T dan Liburan udah selesaaaaii *Trililililili~~ *music on : My love

Hay pemadatan!

Hay pulang sore!

Hay pelajaran kelas 10!

Hay pelajaran kelas 11!

Hay pelajaran kelas 12!

Hay Matematika!

Hay Kimia!

Hay Biologi!

Hay Fisika!

Hay Tugas yang menumpuk!

Selamat tinggal Dumay! *Hiks

Selamat tinggal Kaali dan Gauri! *Plak, entah kenapa saya jatuh cinta dengan adegan Romantis Yug dan Kaali, *Mohon jangan Hinaa saya tentang hal ini.

Selamat tinggal Jinny oh jinny! *Entah kenapa adegan konyol pak baroto dan jaka serta Bagus sama jinny membuat Cherry ngakak dan senyum senyum sendiri.

Selamat tinggal hal gila yang sering Cherry lakukan!

Sampai jumpa cerita yang selalu Cherry tunggu-tunggu!

Pusing juga sih, masa kelas 12 sudah di depan mata, Mana ujian pakek labtop. Punya Cherry udah diambil orang yang butuh sampai ngambilnya gak bilang-bilang. Walaahhhhh pusing eh.

ABAIKAN!


Hai ... Haii

Terimakasih kalian para readers yang setia menunggu cerita ini, cerita ini tidak akan sampai disini tanpa dukungan dan keinginan kalian. 3 chapter sebelum cerita ini berakhir mohon maaf jika banyak sekali kesalahan dalam penulisan. Cherry masih baru di dunia menulis cerita. Baru 4 tahun belajar, itu adalah umur yang sangat muda. Cherry menulis dengan gaya bahasa, penulisan dan ide cerita Cherry sendiri. Mohon maaf karena cerita ini sedikit absurd, terdapat beberapa chapter yang didalamnya gaya penulisannya berbeda karena Cherry sendiri belum menemukan ciri penulisan Cherry sendiri.

Semua dukungan, pendapat, saran, dan kritikan telah Cherry terima dengan baik dan tidak. Sepertinya chapter 16 akan sedikit lama tertunda. Menulis hanya hobby Cherry dan bukan kewajiban. Cherry menulis untuk menghibur. Mohon pengertiannya. Cherry juga mengharapkan yang terbaik. Biar bagaimanapun dunia nyatalah yang harus Cherry nomor satukan.


Hai haiii..

Maaf menunggu lama.


Perusahaan.


Biar jelas yah, Cherry jelassin semuanya.

Perusahaan milik para cameo-cameo diatas.

Shi Co, atau Shimura Construction. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang multibangunan. Pemiliknya sendiri adalah keluarga Shimura. CEOnya yang menjabat saat ini adalah Shimura Sai. Keluarga Shimura sendiri terkenal dengan kehebatan rancangan bangunan mereka. Jadi, ini adalah perusahaan Keluarga.

Hyuga Corp, atau Hyuga Corporation. Sebuah perusahaan dalam bidang perhotelan dan perbankan. Pemiliknya adalah Hyuga group Inc. CEOnya adalah Hyuga Neji. Jadi, ini adalah perusahaan bersama yah.

Sa Enterprise, Sabaku Enterprise. Sebuah perusahaan begerak dalam bidang industri hiburan yang berada di Korea selatan. Pemiliknya adalah keluarga Sabaku. CEOnya adalah Sabaku Garaa. Jadi, ini adalah perusahaan keluarga.

UCorp atau Uchiha Corp, atau Uchiha Corporation. Sebuah perusahaan Universal yang bergerak dalam berbagai bidang, khususnya Fashion, industri hiburan, teknologi dan komunikasi, serta properti. Perusahaan ini salah satu perusahaan berpengaruh di Konoha dan Dunia. Pemiliknya adalah keluarga Uchiha. CEOnya adalah Uchiha Sasuke. Walau Sasuke sudah menjadi Presider atau CEO tapi, kekuasaan masih dipegang oleh Fugaku. Walaupun Itachi hanya sebagai bos disalah satu anak perusahaan terkadang ia mengambil peran penting untuk membantu Sasuke menjalankan perusahaan, karena ini perusahaan yang sangat besar. Jadi, perusahaan ini milik keluarga.

Uzumaki Mobile Corp, atau Uzumaki Mobile Corporation. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang sektor pertambangan, migas, dan tekno migas. Perusahaan ini juga cukup berpengaruh di dunia. Pemiliknya adalah keluarga Uzumaki. CEOnya adalah Minato, Naruto belumlah dilantik untuk diangkat sebagai CEO pusat, dia hanya memegang kendali yang berada di Jepang. Minato dan Kushina belum bisa memberikan jabatan itu karena mereka menganggap Naruto masih terlalu muda untuk menaggung beban perusahaan serius ini. Oh yah, selama ini Minato dan Kushina gak pernah disebut, tapi nanti mereka ada kok. Mereka berada di New York, karena pusat perusahaan ada disana. Jadi, ini adalah perusahaan keluarga yah Guys.

Nara System. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi pertahanaan. Seperti perlindungan software, penyedia sistem keamanan kelas internasional, dan sejenisnya. Perusahaan ini bisa dibilang antara penyedia jasa dan barang. Pemilik dan CEOnya adalah Nara Shikamaru. Jadi ini adalah perusahaan pribadi Shikamaru.

Aka-Mega Store, atau Akasuna mega store. Sebuah perusahaan market yang besar. Pemiliknya keluarga Akasuna dan CEOnya adalah Akasuna Sasori. Jadi, ini perusahaan keluarga.


Jelasin lagi pekerjaan para cast yang lain


Haruno Sakura, kan udah jelas yah. Sakura seorang model, dia juga mahasiswa tingkat akhir fakultas kedokteran. Sakura menjadi Model untuk meringankan beban orang tuanya dalam pendidikan kedokterannya. kita kan tahu sendiri, biaya sekolah kedokteran sangat besar. belum lagi untuk anak yang merantau jauh dari orang tua biaya yang dikeluarkan cukup besar.

Yamanaka Ino, udah jelas juga kan? Ino adalah perancang busana terkenal di Paris.

Hyuga Hinata, kalian belum tahu kan? Disini Hinata itu bekerja di perusahaan Hyuga group Inc. Neji mengurus perbankan sedangkan dirinya mengurus perhotelan. Tapi, Hinata juga mencintai Fashion jadi dia mempunyai butiknya sendiri. Walau belum terkenal.

Matsuri, Jelas baget kan. Matsuri seorang model di Paris.

Hyuga Shion, udah pada tau juga kan? Shion ini seorang penyanyi yang cukup terkenal di Eropa. Sejak kecil Shion sudah merambah dunia tarik suara di Paris.

Tenten, Dia sekretaris Shikamaru.

Temari, sekretaris Sasori.

Kakashi adalah asisten pribadi Sasuke.

Suigetsu adalah asisten pribadi Itachi.

Uzumaki Karin, Karin manager disalah satu perusaahaan milik Uzumaki Mobile Corp.


Balasan review


Pertanyaan menyangkut cerita atau apa saja, bisa lewat review ^^v


Big Thanks yang udah Favo, Follow, Review, Silent reader, yang nunggu degan sabar fict ini, Sepupu kesayangan Cherry (Lemon dan Melon), Para teman Cabe Cherry, yang udah dukung dan support Fict ini, Teman suka duka Cherry. Buat papa Sasu yang berulang tahun 23 Juli. Lavyu All!

Thank You verry much

Cherry Aiko / AA / SKAS / Ai / SK

My Home sweet Bedroom ^o^

Jayapura, 23 Juli 2016