Neji menarik nafasnya dalam, menghirup udara segar dan aroma laut Santorini. Ia berdiri di sebuah balkon yang cukup besar yang menghubungkan 6 buah kamar. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, naik pesawat, mobil, lalu speedboat akhirnya mereka dapat sampai di Santorini.

Untunglah Hinata berbaik hati menawarkan untuk merapikan barang-barangnya sewaktu di pesawat. Jadi, sekarang Neji bisa menikmati pemandangan siang Santorini di saat yang lain sibuk dengan bawaan mereka masing-masing.

"Santorini, aroma laut yang menyenangkan"Gumamnya sendiri.

Tanpa di sadarinya Temari sudah ikut berdiri di sampingnya, "Aku juga berfikir demikian, jujur saja aku tidak tahu ada tempat seindahi ini"Temari menutup matanya menikmati angin sejuk Santorini yang berbau asin menerpa wajahnya dan menerbangkan anak rambutnya.

Neji terkekeh geli menatapnya, "Kampungan Temari, Kau belum lihat Raja Ampat. Di sana juga sangat indah"

"Raja Ampat? Dimana itu?"

"Di Indonesia. Dulu kami sering kesana. Dan beberapa tempat lainnya juga. Di sana sangat indah. Kau sekali-sekali harus kesana"

"Aku akan mengusulkan Sasori membuka mega marketnya disana"Temari akhirnya melihat Neji. Neji tampak lebih santai dengan celana pendek coklat tua, kaos oblong putih dan rambut panjangnya diikat.

"Kapan Naruto akan melawan Hinata?"Tanya Temari. Bukannya menjawab, Neji tersenyum geli membuat Temari bingung.

"Mencoba untuk dekat denganku?"Godanya, Temari menatap tak suka dengan pertanyaan Neji. Dia tersenyum miring menanggapi, "Kita teman bukan?"Balasan Temari yang datar membuat senyuman jahil di wajah Neji menghilang. Temari balas dendam. Neji dan Temari bertatapan tanpa suara.

"Boleh aku bergabung"Suara Tenten mengintrupsikan mereka berdua menghentikan tatapan tak mau kalah itu. Neji tersenyum manis, "Tentu saja" Temari mencibir kesal.

'RIIIIIIIIIIINGGGGGGGGGGGG'

Neji mengeluarkan ponselnya yang berbunyi dari saku celananya. Ia melirik ragu Temari sekilas sebelum akhirnya menyodorkan ponselnya pada Temari. "Teman, Adikmu menelpon", Temari mengambilnya cepat.

"Akhirnya, Aku ingin membicarakan Armani dengannya sebentar"Temari menslide tombol hijau.

"Okay Silahkan"Neji tersenyum mengangguk, "Aku tinggal sebentar"Temari menepuk pundak Tenten sebelum pergi menjauhi mereka berdua.

Neji tersenyum kembali melihat melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Neji.

"Sialan! Temari akan membunuhku setelah ini!"Neji memandang tak percaya apa yang sudah dilakukannya. Dengan bodohnya ia membiarkan Temari menerima telepon dari adiknya. Temari juga bilang akan membicarakan soal Armani yang sama sekali adalah bualan omong kosong balas dendam darinya. Temari akan menayai adiknya dan ia akan mengetahui kalau perjanjian Armani itu sama sekali tidak benar.

"Kau sepertinya, cukup dekat dengan Temari"Tenten memperhatikan Neji yang memperhatikan Temari menelpon. Neji tersenyum lalu berbalik kembali menghadap laut. Biarkan saja, toh yang rugi besar adalah Shikamaru, bukan dirinya.

"Dia orang yang menyenangkan, aku menyukainya... "Neji tersenyum kecil. Setidaknya Temari bukanlah perempuan cerewet yang membicarakan New York Fashion week atau perempuan penggerutu yang merasa gila karena tidak bisa mendapatkan tas limited edition Hermes. Bukan juga perempuan yang memikirkan style berbusana harus berjalan lurus dengan label.

"Ummmmm..."Tenten mengangguk mengerti, Neji menyukai Temari. Itu sebabnya mereka menjadi dekat, entah mengapa hal itu membuat sesuatu di pikirannya terusik. Neji menyukai Temari, dan sepertinya Temari juga menyukai Neji. Mereka sangat dekat, walaupun baru berkenalan, entah mengapa itu membuatnya sedikit kecewa... itu alasan mengapa Temari membela Neji. Walau memang benar Neji dibandingkan dengan Shikamaru, Neji-lah yang lebih baik.

Neji menyadari kebisuan Tenten, sepertinya jawabannya tadi membuat Tenten salah kaprah tentang 'Menyukai' yang ia maksud. "Maksudku, aku menyukai Sifatnya. Tentu saja"Neji mencoba menjelaskan.

Tenten mengangguk cepat dan menyadari pemikirannya, "Benar, tentu saja"

Aura canggung yang tadi menyelimuti berangsung hilang, "Santorini. Kau menyukainya?"Tanya Neji. Tenten tertawa, ia bingung harus menjawab apa. Pertanyaan Neji entah mengapa terasa konyol di telinganya.

"Jangan bercanda. Ini baru pertama kalinya aku mengetahui ada tempat seindah ini"Tenten tersenyum memandangi pemandangan Santorini. Ia menyukai udara segar bebas polusi dan AC.

Neji menatap tak percaya, ada apa dengan dua perempuan ini? Temari dan Tenten sama sekali tidak mengetahui ada tempat seperti ini. Semua ini adalah impian perempuan, berlibur di temani indahnya pemandangan alam laut Santorini, dilamar oleh kekasih disini, melakukan foto prewedding disini, berbulan madu ditempat ini ataupun mengucap janji pernikahan disini. Itu semua impian perempuan.

"Jadi kau benar sama sekali tidak mengetahuinya?"Tanya Neji meyakinkan. Dan anggukan tegas dan kekehan Tenten menjawab pertanyaan tersebut.

"Kau yakin? Bahkan nama?"Tanya Neji sama sekali tidak percaya. Apa Teman-temannya mengurung sekretaris mereka? Bahkan tempat seindah ini mereka tidak mengetahuinya

"Tidak"Tenten yakin dengan jawaban. Nama Santoroni sangat asing ditelinganya. Tenten sudah akan gila jika mengetahui tempat yang dikunjunginya adalah impian setiap perempuan, apalagi ditemani kalangan Jetset dan tampan.

Neji tersenyum, entah kenapa senyum Tenten dapat menarik senyum diwajahnya.

"Mau aku jelaskan? Aku tau sedikit tentang Santorini"

Tenten mengangguk dan Neji mulai menceritakan segalanya.

.

.

HOLIDAY

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku, Slight/ NaruHina, ShikaTema, NejiTen, SaIno, SuiKar, SasoShion, KakaRin.

Happy reading ! Don't Like Don't Read

.

.

Temari ingin sekali membanting ponsel di genggamannya, laki-laki polos yang dianggapnya sebagai malaikat tanpa sayap kini mulai menunjukan sifat iblisnya. Neji berbohong padanya, Demi dewa! Balas dendam Neji tentang Armani sama sekali tidak lucu. Satu setelannya bisa berharga ribuan dollar dan dia sangat yakin Shikamaru sudah menganggapnya sebagai perempuan mata uang dan memanfaatkannya.

"Sialan kau Hyuga!"Geramnya baru saja dirinya melangkah menuju kembali pada Neji dan Tenten, sebuah tangan besar mencengkram lengannya kuat membuat langkahnya terhenti. Temari menoleh kasar dan mendapati Shikamaru-lah yang menahan dia.

"Apa maumu?!"Desis Temari menghentakkan tangannya membuat cengkraman Shikamaru terlepas. Shikamaru benar-benar selalu membuat emosinya selalu naik, lihat saja wajahnya yang menurut Temari sangat mengesalkan itu. Apapun yang dilakukan Shikamaru akan selalu salah dimatanya.

"Kau tidak berniat mengganggu mereka bukan? Mereka sepertinya sedang menikmati"Jawaban Shikamaru membuat dahinya berkerut. Apa yang diucapkan Shikamaru? Ia sama sekali tidak mengerti, Mengganggu? Mengganggu apa? Menikmati? Menikmati apa?

Tapi tatapan Temari beralih pada Neji dan Tenten yang sedang berbincang dengan cukup akrab, tapi Temari hanya mengerti kata mereka yang dimaksud dengan Shikamaru.

"Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataanmu. Tapi, aku mengerti sebaiknya aku meninggalkan mereka selama beberapa saat"

"Kau mengerti"

Shikamaru menyadari pilihan katanya yang sulit di mengerti dan berat. Ia menyesali kenapa otaknya yang jenius selalu tidak bisa berguna dan mati jika berhadapan dengan Temari. Dia seperti professor idiot yang tengah menjelaskan suatu penemuannya dengan manusia normal.

"Tentu saja, aku mengerti. Tapi, kini aku terjebak denganmu, sial bukan?"

"Eh?"

"Aku akan mengembalikan Armaninya. Adikku tidak meminta Armani, Neji menipuku"Ucapan Temari membuat Shikamaru berbalik menyerit bingung.

"Untukmu saja"Shikamaru menolak menerima kembali pemberian Armaninya. Temari bersidekap dada melihatnya, "Kau yakin?", Shikamaru mengangguk

"Terimakasih"

Temari melihat jam di tangan kirinya,.

"Adikmu ..."Shikamaru menghentikan ucapannya karena Temari tiba-tiba menatapnya dengan aneh, senyum miring tersinggung di bibirnya.

"Kau sekarang mencari topik pembicaraan?"Ucapan Temari entah dikategorikan apa, bertanya atau menyindir. Shikamaru menghela nafasnya pelan. Jika seperti ini terus, kesalah pahaman diantara mereka akan terus terjadi dan tidak akan pernah selesai.

Shikamaru mengangkat kedua bahunya, lalu bersidekap seperti Temari, "Kalau kau tidak ingin bicara, aku bisa diam. Itu keahlianku", suara decihan kecil Temari terdengar.

Temari menyeringai melihat Shikamaru, "Well, Kau bisa bicara dan aku akan mendengarkan"Pintah Temari kedua tangannya berpindah menjadi berkacak pinggang seakan menantang Shikamaru.

Shikamaru menatap Temari tidak percaya, berdiam itu keahliannya. Tentu saja hal yang sebaliknya itulah kelemahannya. Perempuan itu memang sengaja ingin mempermainkan emosinya. "KAU GILA?!"Desis Shikamaru tanpa sadar. Temari mengangkat alisnya satu.

Shikamaru menyadari ucapannya, "Maaf, maksudku aku tidak bermaksud... Sial! Maafkan aku"Shikamaru bingung menjelaskannya pada Temari.

"Maaf apa?"Temari mengerjapkan matanya polos beberapa kali, membuat Shikamaru berdecak bodoh dalam hatinya.

Shikamaru menarik nafasnya dalam, "Karena menyebutmu gila"Ucapnya tulus.

"Kau masih memiliki etika rupanya"Ucapan Temari jelas meledek ketulusan Shikamaru.

"Tentu saja! Kau fikir aku lelaki macam apa? Keluargaku jelas mengajakan aku etika. Dan soal yang lalu aku sungguh minta maaf kerena telah menabrakmu, saat itu aku sedang kesl. Moodku sangat buruk. Naruto sok berkuasa atas segalamya dan Tenten menambah kekesalanku"Untuk terakhir Kali ini saja Shikamaru berharap perempuan itu mau memaafkannya.

Shikamaru memandang bingung melihat Temari yang tersenyum seperti sedang mengejeknya, "Kau berbicara", Terima kasih tuhan karena dirinya mempunyai pengendalian emosi yang cukup kuat.

"Tentu saja, kau fikir aku sedang apa? Kau mendengarkan bukan?"

Temari menggeleng pelan, "Aoh, Sayang sekali. Kau berbicara apa? Aku terkejut mendengarmu berbicara banyak dan tidak memperhatikan apa yang sedang kau bicarakan"

"Bagus sekali"Desis Shikamaru kecil.

"Kau bilang apa?"

"Tidak, Neji memanggilmu"

Temari berbalik melihat Neji yang melambai padanya seakan sama sekali tidak bersalah. Meninggalkan Shikamaru, Temari berlari kecil menghampiri Neji dan Tenten.

Shikamaru memperhatikan Temari yang memarahi Neji kesal dan hanya dibalas kekehan oleh Neji. Kenapa Temari bisa dekat dengan mudahnya dengan Neji sedangkan mereka berdua saja untuk berbicara saja susah bagaimana ingin akrab?

"Kenapa ia bisa cepat akrab sekali dengan Neji?"Gumam Shikamaru tanpa sadar.

"Shikamaru bisa kau potret kami bertiga?"Teriak Tenten membuyarkan pikirannya.

"Kenapa aku harus peduli? Mendokusai"


"Hai"Sakura memanggil Sasuke yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Apa yang kau lakukan disini?"Tanya Sasuke bingung. Dia baru saja keluar bermaksud untuk menikmati udara segar dan ia mendapati Sakura berdiri dengan kaku di depan pintunya. Sekelebat ingatan tentang pertengkaran semalam dengan Sakura di Resturant berkilas jelas. Badannya terasa tidak enak dan Sasuke sedang malas beradu mulut dengan Sakura. Selama perjalanan-pun Sasuke menghindari Sakura dan memilih menyendiri bersama Kakashi. Selain itu ia juga ingin menepis pikirannya yang entah mengapa merindukan Sakura.

"Aku ingin meminta maaf"Sakura berucap menyesal.

"Untuk yang mana?"Pertanyaan Sasuke pelak membuat Sakura bingung, memangnya Sakura salah dimana saja sampai ditanya 'yang mana'. Itu tandanya ia mempunyai banyak salah pada Sasuke.

"Untuk mengataimu Bajingan terkutuk dan Keturunan Lucifer"Cicit Sakira kecil sambil menunduk tidak berani menatap mata Sasuke.

"Oh yang itu, sangat melukai harga diriku", Sakura meringis kecil mendengar pernyataan Sasuke.

"Aku sungguh minta maaf untuk, aku hanya tidak suka kau mencampuri urusanku dengan Gaara"Sakura memberanikan dirinya menatap mata Sasuke.

Mencampuri urusannya dengan Gaara. Sasuke ingin sekali tertawa mendengar pernyataan itu. Kemarahannya kemarin bukan tanpa alasan, dia tidak ingin Sakura ikut campur dan membahayakan dirinya. Setelah mendapat ceramah panjang dari Ino tentang perasaanya sendiri, Sasuke menyadari ia memiliki rasa pada Sakura. Entah darimana perasaan itu bermula. Sejak awal di pesawat? Atau sebelumnya? Karena Sakura tidak percaya dan peduli bahwa dia seorang Uchiha, atau mungkin saat di Canal Grande. Sasuke tidak tahu pasti, tentunya saat ia melihat Sakura berdansa dengan Gaara perasaan itu mulai tampak. Ia tidak ingin miliknya di ganggu oleh ?

Ada alasan logis kenapa ia perduli dan perhatian pada masalah Hinata. Selain karena keluarga mereka dekat sejak dulu, ia sudah menganggap Hinata bagai adik sendiri. Tapi ia tidak mempunyai alasan logis kenapa ia harus perduli dan perhatian pada Sakura yang jelas-jelas baru dikenalnya belum cukup 10 hari. Ia berubah karena perempuan itu, selalu kalah telak, bersikap bukan dirinya dan melakukan hal bodoh yang sama sekali ia tidak tertarik sebelumnya. Ia hanyut dalam permainannya sendiri.

Tentu saja Ino tidak mengetahui hal ini,sewaktu di pesawat Sasuke hanya diam sambil menutup matanya dan mendengarkan ceramah Ino. Ia membuka matanya seakan tidak tertarik dengan ucapan Ino padahal dirinya mendengar dengan seksama apa saja yang Ino bicarakan tentang Sakura.

Untuk kali ini, ia akan kembali membuangnya. Seperti seharusnya, ia harus menghapus perasaannya. karena hal ini membuat seorang Uchiha Sasuke menjadi lemah dan berbeda. Hal itu tidak akan terjadi, tidak akan ada yang tahu perasaannya. Ia akan membunuh perasaan itu sebelum semakin membesar dan mempengaruhi dirinya. Dia tidak ingin seorangpun tahu bahwa kelemahannya adalah perempuan merah muda keras kepala yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.

"Tentu saja, kenapa aku harus mencampurinya? Urusan kalian adalah urusan kalian. Aku bukan siapa-siapa. Permainan kita telah berakhir dan disini tidak ada Karin atau ibuku. Apapun yang kaulakukan, terserah dirimu saja. Itu sama sekali bukan urusanku"Ucapan Sasuke entah mengapa seakan membuat dadanya terasa ngilu. Ada perasaan berbeda saat Sasuke mengatakan hal itu, ia seakan merasa kehilangan.

"Aku minta maaf"Sakura berusaha menyetabilkan nafas nya yang entah kenapa semakin memburu. Matanya terasa memanas dan Sakura berharap segera pergi dari hadapan Sasuke. Sasuke bukanlah siapa-siapa baginya.

Sakura merasa ketika Sasuke tidak memperhatikan dan mempertengkarkan keputusannya ada sesuatu yang membuat Sasuke menjauh darinya.

"..."Sasuke hanya diam, dia tidak boleh melakukan hal apapun. Walaupun sebenarnya ia merasa rindu pada Sakura.

Sakura hanya mampu menundukkan kepalanya. Harusnya ia segera pergi, tapi kakinya terasa lemas dan tidak bisa bergerak. Saat Sakura mendongkakkan kepalanya Sasuke sudah naik ke atas meninggalkannya sendiri. Setitik air mata iti jatuh, diikuti dengan titikan yang lainnya.

Sasuke tahu satu hal, jika Sakura tidak juga pergi dari sana maka dialah yang akan melakukannya. Sasuke menapaki tangga keatas meninggalkan Sakura sendiri. Dia harus mencari cara agar dapat mengeyahkan perasaannya dan membuat Sakura tidak menyadari perasaannya. Hanya ada satu cara membuat perempuan itu terluka dan membenci nya. Dan Itu hal mudah bagi seorang Uchiha Sasuke. Jika dia dapat membuat banyak orang mencintainya, maka membuat seorang membenci nya itu adalah hal mudah.

Sakura tertawa parau menyadari air mata telah membanjiri wajahnya. Kenapa ia menangis? Dia yang meminta Sasuke menjauh, dan itu adalah keputusan yang benar.


Matsuri memandangi cermin besar di hadapannya. Ia memandangi seseorang yang yang sangat ditaunya tapi sama sekali tidak dikenalnya. Ruangan itu minim penerangan, sebuah kaca besar yang menjadi dinding pemisah antara ruangan itu dengan gemerlap kota Paris yang terlihat dari sana. Lampu-lampu dari sanalah yang menerangi ruangan itu. Orang itu tersenyum jahat menatapnya dari kegelapan. Sosok itu sudah lama tak dilihatnya.

"Apa kau sudah puas?"

"Apa kau juga tidak mengerti?"

"Apa lagi yang harus ku mengerti? Aku mencintainya, tapi menjadi miliknya sama sekali tidak membuatku bahagia. Aku bahagia kalau dia bahagia"

"Kau bodoh!? Dia itu milikmu, kenapa kau bodoh sekali? Kemarin Hinata, dan sekarang teman pink nya itu ingin merebut kekasih mu tolol!? Kenapa kau juga tidak mengerti? Kau juga menceritakan kita pada rambut pirang itu, itu tindakan bodoh. Apa kau fikir dia akan percaya padamu?Dia akan menganggap aneh dan gila"

""Keputusanku untuk menceritakan hal ini pada Ino adalah tepat. Ino pasti percaya. Dan jikadia bahagia sama perempuan itu, kenapa aku harus menghancurkannya?"

"Kau benar-benar bodoh dan tolol! Apa kau akan melepaskannya? Setelah semua ini. Setelah semua yang kita upayakan. Kau benar-benar tidak punya otak! Hal yang harus kau lakukan adalah membuat peringatan pada perempuan itu, kalau Garaa hanya milikmu, milik kita. seperti dulu yang kau lakukan pada Hinata"

"Aku tidak akan melakukannya, aku tidak bisa menyakiti orang lain lagi karena dia. Kami akan terluka. Kita juga akan terluka"

"Jangan pernah kau katakan kita kalau kau tidak mau menuruti ku!? Sialan enyah kau! kau sama sekali tidak berguna. Biarkan aku yang melakukannya"

"Tidak! Kau tidak boleh keluar"

"It's time to you sleep and hide. Have a nice dreams my dear.."

Mata Matsuri kini menatap ekspresi sedih di cermin itu, tapi dibalasnya dengan senyuman evil.

"Matsuri apa kau di dalam?"Suara teriakan Gaara terdengar. Matsuri seketika berbalik menatap pintu di belakangnya yang tertutup. Matsuri tersenyum dan berbalik sepenuhnya menghadap pintu dan membelakangi cermin.

"Aku disini"Balas teriaknya. Seseorang yang kini berada di kegelapan itu menggeleng pelan menolak apapun yang dilakukannya.

Sebuah bayangan hitam terlihat dari celah bawah pintu, tak lama kemudian pintu itu terbuka.

"Kau sudah siap? Kita sangat terlambat"Gaara menatapnya bingung, "Apa yang kau lakukan disini?"Tanyanya kemudian.

Matsuri tersenyum menggoda, ia berjalan keluar dari ruangan itu, "Tidak apa-apa aku suka menatap pemandangan nya"

Gaara menatap bingung Matsuri, mengabaikannya Gaara menutup pintu itu.

"Kita sudah terlambat, aku menelpon mu berulang kali"

"Sesekali terlambat tidak membuat kita mati Gaara-kun. Ponsel ku ada di ...,Aku lupa meletakkannya dimana, "Matsuri mengerutkan keningnya.

Gaara melakukan hal yang sama seperti yang Matsuri lakukan, tidak biasanya"Kau meletakkannya di atas meja Mini Bar", Tidak biasanya Matsuri melupakan dimana ia meletakkan ponsel nya. Ponsel itu bagaikan hidup Matsuri.

"Ah.. Benar, aku meletakkannya disana. Ingatanku sungguh buruk sekali"

"Sebaiknya kita bergegas. Kita sudah sangat terlambat"Gaara memberikan ponsel Matsuri dan diterimanya sembari tersenyum manis.

"Ayo"Matsuri berjalan meninggalkannya.

Tidak biasanya, ini hal yang beda. Matsuri selalu menunggunya dan berjalan di sampingnya sembari merangkul nya, kecuali ketika ia marah. Matsuri tidak pernah melupakan ponsel miliknya. Matsuri memiliki ingatan yang bagus. Matsuri pernah memberitahu nya, jika ia benci memasuki ruangan tadi. Dan ia berbohong mengenai ponsel Matsuri di Mini Bar. ponsel itu ada di atas sofa, seperti biasa.

Matsuri tersenyum menatap Garaa selama sisa perjalanan. Tatapan memuja menguar begitu kuat. Ahh.. Matsuri merindukan Garaa. Mereka sudah lama sekali tidak bertemu, semua karena Matsuri yang lain tidak mengizinkannya untuk keluar. Tapi sekarang berbeda, dialah yang akan mengunci Matsuri yang lain untuk keluar. Biarkan dia menyelesaikan masalah kecil ini terlebih dahulu. Pekerjaan pertama yang Matsuri lakukan adalah hal yang mudah, memastikan Garaa tidak curiga, pekerjaan kedua cukup mudah, ia hanya harus menyingkirkan orang yang menghalangi jalannya, dan ketigalah yang agak sulit memastikan Matsuri yang lain tidak keluar sebelum ia menyelesaikan pekerjaannya.

Sosok Matsuri itu tersenyum dengan cara yang berbeda dan salah. Garaa menyadarinya ini bukanlah Matsuri yang seperti biasanya. Ini berbeda. Ada yang salah.

Yah, tidak banyak yang tahu jika Matsuri mempunyai dua kepribadian. Tentu saja sekarang bertambah satu karena Ino telah mengetahuinya.


Hinata memandangi langit cerah Santorini. Sambil menyender pada pundak Naruto, Hinata menutup matanya menikmati semilir angin yang menerbangkan rambutnya. Ia merasakan punggung tangan Naruto mengelus pelan rambutnya membuatnya merasa bertambah nyaman.

"Aku berharap kita bisa seperti ini selamanya" Gumam Hinata. Elusan di rambut Hinata berubah menjadi rangkulan pada bahunya.

"Aku juga berharap demikian"

"Ini H-3 sebelum hari pernikahan kita"Hinata membuka matanya memandang lautan.

"Yah, dan aku belum belum membuktikan kesungguhanku pada Neji-nii"Naruto menghela nafasnya. Hinata mendongkak menatap wajah Naruto yang sedih.

"…"

"Ibu dan Ayah akan datang 2 hari lagi. Harusnya aku mengikuti sarannya untuk ikut campur dalam pernikahan kita"Naruto menyesali keputusannya.

"Naruto-kun, kita tidak ingin membuat Ayah dan Ibu sibuk. Kita sudah dewasa, kita akan mengurus semuanya. Tenang saja, semuanya akan berjalan sesuai rencana"Hinata berusaha menyemangati Naruto.

Hinata melepaskan pelan rangkulan Naruto. Dia berjalan mendekati pagar pembatas. Angin kencang menerbangkan rambutnya.

"Aku mencintaimu Naruto-kun. Aku selalu mencintaimu. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu"

Ucapan Hinata pelak mengundang tanya Naruto. Apa Hinata mulai meragukanbahwa dirinyabisa membuktikan kesungguhannya?

Naruto berjalan mendekati Hinata dan memeluknya dari belakang. Hinata menyenderkan tubuhnya pada tubuh tegap Naruto. Ia memeluk lengan Naruto yang melingkari perutnya. Hinata menyukai kenyamanan dari Naruto.

Naruto mengucup puncak kepala Hinata.

"Aku juga mencintaimu Hinata-hime. Kau harus tau itu. Aku mencintaimu dan tidak ada yang bisa menghalangi kebahagian kita berdua"Ucapan Naruto seperti janji mati Naruto pada Hinata.


Sasuke melihat Naruto dan Hinata sedang berpelukan mesra di hadapannya. Ada rasa bahagia melihat sahabatnya bahagia dan ada rasa iri di hatinya. Mereka bermesraan di depan matanya. Adegan ini seperti melukai secara tak langsung harga dirinya yang masih sendiri.

"Kuharap kalian tidak bermaksud melakukan hal yang lebih lanjut. Karena aku tidak ingin menjadi saksi amukan Neji."

Naruto dan Hinata dengan refleks saling menjauhkan diri. Hinata tersenyum gugup menatap Sasuke, wajahnya merah seperti kepiting rebus. Sedangkan Naruto nyengir sambil mengelus tengkuk lehernya.

"etoo.. Jangan laporkan pada Neji-nii"cicit Hinata pelan.

"Yah, jangan laporkan"Naruto menatap dengan memohon.

Sasuke menghela nafas, kepalanya sedang pusing dan dia tidak sedang mencari hiburan (dalam artian perkara).

"Tentu saja. Tapi, bisakah kalian mencari tempat lain?"Usir Sasuke.

Naruto tersenyum kecut, "Baiklah. Kami akan mencari tempat lain"Naruto menarik lengan Hinata pergi.

"Arigatou Sasuke-kun"

"Hn"

Sasuke selalu menikmati kesendirian. Kesendirian dapat membantunya berfikir. Kesendirian membuatnya fokus dan bisa memikirkan segalanya dengan tenang.

Sasuke bisa merasakannya. Seseorang berjalan ke arah nya dari belakang. Tapi, dia hanya mengabaikannya dan tetap diam menutup matanya berusaha fokus.

Orang itu berdiri tepat di sampingnya. Tanpa membuka matanya, Sasuke bisa mengenali siapa orang di sampingnya dari aroma parfum nya. Mengabaikannya lagi, Sasuke berusaha fokus dan berusaha masuk dalam palace mind -nya (istana pikirannya)

Orang itu juga sepertinya tidak ingin mengganggu Sasuke. Ia hanya berdiri menunggu Sasuke.

Beberapa lama dalam keheningan. Sasuke sibuk dengan pikirannya dan orang itu setia menunggu Sasuke. Tapi ketika Sasuke sakit apapun bisa mengganggu fokus nya. Termasuk hanya bau parfum.

Sasuke membuka matanya dan melirik tajam orang di sampingnya, seperti dugaannya.

"Apa maumu Sasori?"Tanyanya langsung.

Sasori terkekeh, "Aneh bukan, seharusnya aku yang bertanya"

Sasuke menutup matanya dan kembali membukanya tapi, kali ini menatap pemandangan di hadapannya.

"Kau tau apa mauku Sasuke"dan sejujurnya Sasuke memang tau apa yang di inginkan Sasori tanpa dia datang padanya. Demi tuhan! Dia sedang merencanakannya.

Sebenarnya, Sasori melihat atau lebih tepatnya menonton pembicaraan Sakura dan Sasuke. Menurutnya berbicara dengan Sasuke kali ini akan lebih mudah, dan kali ini Sasori akan berbicara secara baik-baik.

"Hhh.. Aku ingin kau menjauhi Sakura. As simple it, jauhi dia. Ini bukan permainan Sasuke. Lelaki tidak bermain dengan..."

"… perasaan perempuan. Hn, aku tau"Sasuke menyela ucapan Sasori.

"Yah, karena kaulah yang mengajarkannya"Sasori menyindir Sasuke.

"Tch!"

Sasori mengikuti apa yang dilakukan Sasuke. Sepertinya pembicaraan dengan Sasuke bisa berjalan dengan lancar. Tanpa harus ada emosi, kali ini semua bisa dibicarakan dengan kepala dingin.

"Aku tak ingin pertemanan kita rusak"

"Aku tak tahu, kau masih menganggap ku teman?"

atau tidak. Sasuke kini merusak segalanya.

"Please. Sakura akan terluka"

Sasuke melirik Sasori di sebelahnya, dia menghela nafas keras.

"Aku…"

"Apa yang kalian lakukan disini?"Sakura muncul dari arah belakang, sangat tidak diharapkan.

Sasori menatap Sasuke penuh harap. Tanpa menjawab Sasori ataupun Sakura, Sasuke pergi meninggalkan Sasori dan Sakura. Ia berjalan melewati Sakura tanpa menoleh atau melirik nya sama sekali.

Sakura menatap Sasuke yang pergi dengan perasaan bingung dan sedih. Sasori memukul pundaknya membuat Sakura menyadari pikirannya.

"Hanya pembicaraan bisnis, ada apa Sakura?"Tanya Sasori tersenyum. Senyum itu lebih lebar dari akhir-akhir ini. Sakura tau ada hal yang salah.

"Tidak, Saso-nii. Aku mencarimu karena ingin … lupakan saja, Aku sudah lupa apa yang tadi ingin kulakukan"

Bohong, Sakura ingin bertemu Sasuke lagi.

Sasori menepuk pelan kepala Sakura.

"Ya sudah, ayo kita kembali, di sini anginnya kencang sekali"Sasori merangkul Sakura pergi dari sana.

Sasori tau hal ini akan berhasil, karena…


Hari sudah beranjak malam. Ino sudah berjanji. Hari ini dia akan menyatakan cintanya pada Sai. Melihat Sai yang sedang duduk menyendiri di kursi Ino memberanikan dirinya mendekati Sai.

"Hai Sai, ada yang ingin aku bicarakan denganmu"Ucap Ino gugup ia berusaha menahan debaran aneh di dadanya. Sai yang sedang menggambar menutup bukunya dan mengalihkan perhatiannya penuh pada Ino.

"Tentu saja, apa yang ingin kau bicarakan?"Sai tersenyum.

"Aku menyukaimu"Ucap Ino dengan lancar. Sai terdiam, lalu tak lama senyum kembali menghiasi . Namun, Sai sama sekali tidak mengucapkan hal apapun.

"..."

"..."

"lalu?"setelah sekian lama akhirnya Sai menanggapi pernyataan Ino. Tapi jawabannya sama sekali membuat Ino bingung. Jadi, Apa dia sedang ditolak?

Wajah Ino memerah, "Aku ingin kau menjadi kekasihku karena aku menyukaimu "

Sai tertawa keras, membuat Ino bingung. Jadi apa? Ia sedangditolak atau …

"Astaga, Ino-chan.." Sai tak bisa menahan tawanya lagi, ia tertawa terbahak-bahak.

"Apa ada yang salah?"Ino merasa salah tingkah.

"Apa kau selalu menyatakan cintamu seperti ini? Secepat ini?"

Ino menyerit bingung. Kenapa Sakura dan kini Sai meragukannya?

Dia telah menyatakan perasaanya. Lalu apalagi yang butuh penjelasan?

"Umm.. Ya, beberapa"Jawab Ino ragu.

"Apa kau serius? Maksudku, apa kau yakin menyukaiku?"Tanya Sai.

"Tentu saja"Jawab Ino yakin.

Sai tersenyum tulus pada Ino, ia membuka lembaran terakhir pada buku sketsa-nya.

"Duduklah Ino-chan. Aku ingin memperlihatkan kau sesuatu"

Ino menurutinya. Ia duduk di sebelah Sai.

"Ada beberapa hal yang mereka katakan tentang jatuh cinta. Debaran, perasaan, pikiranmu, dan ucapanmu. Sama seperti mendesain sebuah bangunan, tidak ada yang tidak mungkin memang, tapi kita tidak bisa merancang bangunan tanpa perhitungan. Kita harus memikirkan segalanya terlebih dahulu"Jelas Sai, ia menggambar sebuah gedung yang terlihat mustahil akan berdiri kokoh.

Ino menggeleng pelan "Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu" , termasuk gambar gedung aneh yang dibuat Sai. Gedung itu berbentuk Bintang dengan salah satu ujungnya yang menjadi titik tumpu. Itu aneh.

"Ketika kau merasa berdebar kau akan asumsikan itu sebagai rasa suka padanya, padahal bisa saja itu karena kau gugup bertemu dengannya. Ketika perasaanmu nyaman padanya kau akan asumsikan kau menyukainya, tapi itu bisa saja karena kau hanya terbiasa dengan kehadirannya.

Ketika kau selalu memikirkannya kau akan asumsikan kau menyukainya, tapi bisa saja itu hanya sebatas kau mengaguminya. Dan ketika kau bisa mengatakan kau menyukainya padahal kau belum tahu siapa dia dan apa sebenarnya apa yang kau rasakan padanya.

Ino-chan mengungkapkan perasaanmu pada seseorang itu sama seperti merancang bangunan. Mudah sekali untuk membayangkan dan menggambarnya. Tapi sulit untuk direalisasikan.

Ketika kau menyukai seseorang akan begitu banyak pertimbangan. Sampai akhirnya mengatakannya tidak akan semudah ini"

"Aku…" Ino bermaksud untuk berbicara, tapi dipotong oleh Sai kembali.

"Ini seperti kepercayaan Ino-chan. Neji tidak bisa mempercayai Naruto begitu saja tanpa pembuktian kalau ia benar mencintai Hinata. Semua hal perlu dipikirkan, berulang kali. Bisa saja perasaanmu ini hanya sementara karena kau sama sekali belum memahami perasaanmu"

Ino merasa apapun yang di katakan Sai ada benarnya. Sekarang ia mengerti apa yang di maksud Sakura.

"Jadi Sai-kun kau ingin aku membuktikan perasaanku?"

Sai mengangguk, "Hanya untuk memastikan"

"Aku ingin setiap harinya kau mengirimkan sebuah gambar yang menyatakan bagaimana perasaanmu padaku hari-harinya"Ucap Sai.

"…"

"Hanya 5 hari. Kita akan lihat Ino-chan, bagaimana perasaanmu sebenarnya padaku"

"Baiklah…"


... Loading to next...


Hai? Miss me? Miss me?

kedengaran seperti Annabelle atau Prof. James Moriarty di Sherlock Holmes series? Hahahaha.. #PLAK!

Iya tau, ini sudah setahun lewat dan Fict ini belum juga selesai. T.T

BTW, Cherry udah beli HP baru loh! tapi untuk sementara untuk di pake buat kerjain tugas T.T

jangan dendam yah. wkwkwk :v

kelas 12 dan merasa seperti di "WELCOME TO THE HELL"

Sekolah Cherry jahat deh sumpah, sekolah lain itu belum ada pelajaran tambahannya, tapi sekolah Cherry sudah ada pelajaran tambahannya sejak 2 minggu awal pelajaran baru. Kejam.

Cherry baru ngerasa efeknya nih sekarang, lagi drop banget. Padahal kemarin itu hanya terkena hujan, tap langsung flu begini T.T

Ini nyuri kesempatan update. btw kalian beum tau kan selama notebook Cherry diambil orang yang lebih membutuhkan, Cherry ngeUpnya pakek Labtop bapak Cherry da itu hanya berkesempatan ketika... YAK UJIAN TIBA.

iya.. Cherrry lagi ujian MID nih, Doakan yang terbaik yah.


Ngomong-ngomong, Cherry mau beritahu sesuatu. Kemarin Cherry bilang 3 Chapter lagi bakal selesai. dan Yup, 3 Chapter lagi Holiday bakal selesai. tapi tenang aja, kita bakal ketemu di next cerita Cherry.

3 chapter ini bakal long banget isinya. setelah kemarin melihat Chapter 15 yang panjangnya bejibun (GILA 9K word) bikin Cherry lelah sendiri bacanya. bayangin, Cherry baca cerita sendiri ampe bosan. 3 hari baru selesai.

maka dari itu... jengjengjeng... untuk chapter 16 bakal di pisah menjadi 3. Hehehehee.. tenang dikit aja kok Wordnya. ini part satunya yah. Part dua bakal di Update minggu ini.

dan untuk next Chapnya juga bakal gitu. Cherry tulis dulu, baru update bertahap dalam waktu dekat.

emang sihh FFn App udah bisa nulis cerita, tapi kayakanya belum sempurna deh. Enter, spasi, dll. gak bisa ke upload dengan benar.

semoga aja segera di perbaiki pihak FFn supaya bisa menulis di sana, di post di sana. biar dikit-dikit tapi tiap hari, walaupun sechapternya cuma 500 word dan Chapternya bakal bayak yang penting cepat selesai kan? hehee...


Oh yah, Balasan review di Part 2 yah. besok MID kimia dan PKn Cherry belajar dulu. setelah itu lanjut nulis Chapter Last Holiday. See you All Soon.


Mari berteman yuk gaes, Cherry udah nyantumin beberapa Account Media Sosial Cherry. kita bisa share bareng.

memang sih Hanya beberapa Account ajah hehe..

BTW, diantara kalian ada gak yang sering baca Di Wattpad.

karena banyak penulis yang sering susah masuk FFn mereka banyak beralih ke Wattpad.

tapi serius deh, Cherry lebih suka readers di sini di banding di Wattpad. Rasa sosialisasi mereka kurang dan egoismenya mereka tinggi banget.

emang sih, untuk para pecinta menulis Wattpad adalah sarana terbaik dan lebih mudah di aksesnya.

tapi, kalian lebih perfect di banding mereka.

lov yu all

Cherry Aiko