Naruto menggeram frustasi, niatnya berdiskusi dengan Sasuke rusak sudah. Awalnya memang tampak sempurna, sapaan basa-basi yang tak menonjol lalu masuk pada bagian intinya.
"Ku dengar kau berbicara dengan Neji kemarin?"
Jawaban Sasuke benar-benar membakar rasa kecewanya.
"Aku kemarin sama sekali tidak berbicara dengan Neji"
Tidak menyerah, Naruto berusaha menggali informasi.
"Bukan Kemarin. Kemarin-kemarin nya"
"Ah yah, yang itu. Ada apa?"Tanya Sasuke polos.
"Aku hanya ingin tahu apa yang kalian bicarakan tentang Hinata dan ... "
Sasuke mengangguk menyela ucapan Naruto, "Kami memang sempat berbicara singkat. Tentang kau dan Hinata"
Jawaban Sasuke yang ini, membuat Naruto bersemangat.
"Jadi Apa yang kalian bicarakan?"
"Sebenarnya tidak terlalu penting. Hanya 'Apa Hinata, kau dan aku dari mengunjungi Ino?', lalu aku jawab kau tidak ikut"Sasuke tersenyum.
"Hanya itu?"
Naruto tidak percaya, apa maksud Neji dengan membicarakannya dengan Sasuke? Apa itu hanya omong kosong?
"Hanya itu. Ada apa?"Sasuke menyerit bingung.
"Tidak"Naruto menahan rasa kecewa.
"Hn"
"Sasuke, menurutmu.. "
Naruto menahan umpatannya melihat Sasuke sudah berjalan memunggunginya sambil melambai pelan.
"Aku tadi menawarkan bantuan, kau bilang tidak. Sampai jumpa"
Naruto merasa ingin membenturkan kepalanya ke tembok sekarang.
"Jadi sama sekali tidak?"Pertanyaan Sai benar-benar memancing emosi Naruto tanpa sebab.
Naruto memukul meja keras membuat ketiga sahabatnya itu terlonjak kaget. Ini sudah malam dan Naruto ingin mengamuk? Wrong time rubah.
"Sai hanya bertanya Naruto. Jangan terlalu berlebihan" Shikamaru mendecih. Sasori mengangguk setuju, pukulan meja tadi bisa mengundang orang-orang.
Naruto menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan, berusaha menahan emosinya.
"Sama sekali gagal total. Aku stress. Tinggal 3 hari menjelang pernikahan"Naruto memijit pelipisnya.
Kali ini Teriakan Sasori dan Sai yang mungkin dapat didengar seluruh penghuni pulau itu. Shikamaru mendengus malas. Sai dan Sasori terlalu berlebihan. Seperti wanita yang mendengar jika akan diadakan midnight sale 75% off all item.
"Kau akan menikah?"Pertanyaan Sai jelas meragukan apa yang diucapkan Naruto.
"Bilang ini bercanda Naruto dan kita tertawa bersama. Kau dan Hinata akan menikah, itu terlalu cepat"Sasori sama sekali tidak percaya dengan ucapan Naruto. Naruto memang sudah lama menjalin hubungan dengan Hinata, tapi tidak ada tanda-tanda akan seserius ini. Mereka hanya terlihat seperti kekasih remaja biasa.
"3 hari. Pikirkan apa yang direncanakan Neji sebenarnya. Simple, dan kau bisa melewatinya" Saran Shikamaru, ia menyenderkan pundaknya santai ke kursi. Ia tidak heran mendengar pernyataan Naruto, karena memang dari awal ia mengetahui ada yang aneh dengan tujuan liburan ini.
Naruto mengusap wajahnya pelan sebelum mengerang sebentar. "Aku akan menikah dan ini bukan lelucon. Memangnya kenapa jika menikah dengan berpacaran lebih dari 5 tahun. Sasori itu bisa dikatakan waktu yang cukup lama. Tidak bisakah kalian bersikap seperti Shikamaru yang langsung memberikan saran. Aku benar-benar telah berdiskusi dengan orang yang salah"
Sai menggeleng tanda masih tidak percaya dengan pernyataan Naruto. Sasori nampak ia tidak bisa berfikir jernih sekarang, pikirannya terbagi antara menemukan jalan keluar untuk masalah Naruto atau Pernikahan Naruto yang tinggal menghitung Hari.
"Maaf aku meragukan ucapanmu, maksudku ini semua terlalu cepat. Kau baru saja meminta restu Neji dan itu belum ada seminggu. Harusnya kau meminta restunya itu setahun sebelum kalian menikah. Itu lebih mudah"Ucap Sasori.
Naruto menggeleng frustasi, "Sekarang aku butuh bantuan kalian untuk menyatakan kesungguhanku, bukannya mendikteku"
Sai menggeleng, "Ini salahmu. Kau salah dengan berusaha menyembunyikannya dari kami. Harusnya kau mengatakannya dari jauh hari" Sai berpendapat sama seperti Sasori.
"Berisik, Mendokusai. Sekarang itu kita bantu dulu Naruto. Cuacanya makin dingin"Shikamaru mendengus kesal. Ia merapatkan Jaketnya. Angin malam di Santorini memang sedang berhembus kencang apalagi ditambah mereka ada di sebuah pulau yang terletak di tengah lautan, belum lagi bentuk pulaunya yang serupa tebing membuat angin laut begitu saja menerpa.
"Just help me please and you can judge me latter, 'kay?"Naruto mengerang putus asa dengan sisa semua terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Shikamaru menenggakkan tubuhnya, "Siapa yang mempunyai ide untuk menyuruh Naruto menantang Neji berduel?", Seakan Refleks Naruto dan Sasori menatap Sai.
Sai menggeleng keras, "Oh oke. Setelah semuanya, ini semua hanya salahku"Sai tak percaya, Sasorilah yang memotivasi dirinya mempunyai ide brilian kemarin. Well, ini bukanlah sepenuhnya salahnya. Naruto juga salah, ia hanya diam dan sama sekali tidak mempunyai rencana. Demi Tuhan! Dia hanya berniat membantu bukan menambah kerumitan Naruto.
"Kau yang mengusulkannya. Begitupun sewaktu di meja makan, kau yang berteriak. Apa perlu ku jelaskan ulang rincian kejadiannya?"Ucapan Sasori menyindir Sai. Naruto mengangguk setuju, Sai yang memberinya ide dan Sai-lah yang menyatakan kalau Dia ingin menantang Neji berduel.
Sai menatap sinis kedua temannya, jika sudah begini mereka pasti akan menyalahkannya sepenuhnya, tidak tau berterimakasih. Ia sudah bersusah payah memikirkan hal ini dan akhirnya ia tetap yang disalahkan.
"Sewaktu aku memberikan ide kemarin, Aku hanyalah gadis remaja penuh hormon"
Ucapan Sai pelak membuat Sasori dan Naruto tersedak udara, serta Shikamaru yang menyerit bingung. Remaja penuh Hormon? Apa maksudnya?
"Lupakan saja. Begini, kau ingin membuktikan kesungguhanmu dengan cara menantang Neji berduel. Karate, tentu saja. Tapi Neji malah menolaknya dan menyuruhmu berduel dengan Hinata. Itu tidak masuk akal memang"Shikamaru menyimpulkan.
Naruto mengangguk Rencananya -Maksudnya Rencana Sai- malah memperumit masalah.
"Aku tak mengerti apa yang diinginkan Neji. Dia sangat overprotektif pada Hinata, di dalam pikiranku hanya Sasori yang mempunyai masalah yang sama, ia pasti memiliki pemikiran yang sama"Naruto menjelaskan
"Yah, dalam sisi pandangku, aku akan menantang siapa saja yang mendekati sepupuku untuk menyatakan kesungguhannya. Dan hal pasti yang kutantang adalah dengan keahlianku"Tambah Sasori, Sai terdengar mendengus. "Yah, dan berkat itulah ide gadis remaja penuh hormon itu terbentuk"Sinisnya.
"Kumohon"Desah Naruto lelah.
Shikamaru memperhatikan pantulan cahaya yang berada di kaca.
"Neji sangat menyayangi Hinata"Ucap Shikamaru.
"Overprotektif"tambah Naruto. Shikamaru mengangguk, ia berusaha memecahkan masalah ini.
"Kalau Neji menyayangi sepupunya itu pasti ia tidak ingin melihat Hinata terluka"Senyum di wajah Shikamaru mengembang. Ia berhasil menemukan jalan keluarnya.
"Apa itu alasan kenapa Neji menyuruh Naruto dan Hinata berduel?"Sasori belum mengerti dengan ucapan Shikamaru, begitupun dengan Naruto. Sai mendengus malas.
"Kau jelas orang dicintai Hinata, menyakitimu Naruto sama saja menyakiti Hinata. Dia tidak mungkin menyakitimu, dia pasti ingin mengujimu untuk menyakiti Hinata. Itu yang dia inginkan, kau menyakiti Hinata atau Hinata yang menyakitimu. tapi kalian pasti tidak bisa saling menyakiti"Sai mengambil simpulan malas. Dia sudah tidak berniat ikut campur lagi dalam masalah ini. Percuma, dia akhirnya yang akan di salahkan.
"Mana mampu aku menyakiti Hinata!"Seru Naruto tidak percaya dengan ucapan yang dilontarkan Sai.
Shikamaru tersenyum, "Sai benar"
"Eh?"Naruto bingung, "Sai benar?"Sasori tidak percaya.
"Kenapa aku benar?"Sai bahkan sama sekali tidak mengerti apa yang ucapakannya tadi.
"Yang dikatakan Sai benar"jelas Shikamaru mengulang perkataannya. Ia mulai malas berbicara dengan otak lemot teman-teman nya ini.
"Memangnya aku tadi katakan apa?"Sai menyerit bingung. Selain tidak mengerti apa yang dikatakannya tadi, Sai sama sekali tidak ingat apa yang dikatakannya.
Shikamaru menggeleng pelan frustasi, begini sudah jika berbicara dengan otak lemot para sahabatnya. Otak mereka sebenarnya tidak lemot, mereka cuman tidak peka dengan jalan keluar yang sebenarnya ada di hadapan mereka sendiri.
"Neji tidak mungkin menyakiti Hinata. Kau juga tidak mungkin ingin menyakiti Hinata bukan?"
"Sama sekali tidak, walaupun dalam khalayan sedetik"
"Neji menantangmu berduel untuk menyakiti Hinata. Kau jelas tidak dapat menyakiti Hinata, jika kau memilih untuk menyakiti Hinata jelas itu bukan tujuan Neji. Cinta itu tidak dapat menyakiti"Ucap Shikamaru bijakmembuat Sasori, Naruto dan Sai menatapnya dengan tatapan terpukau.
"Jadi?"Pertanyaan Naruto membuat Shikamaru ingin segera beranjak dan kembali ke dalam kamarnya menikmati hangatnya ruangan itu dan kasur yang empuk. Jujur saja bokongnya dan tulang belakangnya sudah sedikit nyeri karena lama sekali duduk di kursi besi yang dingin itu.
"Kau tidak mampu menyakiti Hinata, Cinta tidak mampu menyakiti, artinya itulah yang diinginkan Neji kau menyerah"Sasori berusaha menerjemahkan sendiri ucapan Shikamaru yang menurutnya menggunakan bahasa untuk setingkat IQ Albert.
Shikamaru tersenyum lega sambil mengangguk setuju. Naruto memukul jidatnya, kenapa hal ini tidak terpikirkan olehnya? Itulah yang diinginkan Neji, kalau dia mencintai Hinata pasti ia tidak dapat melukai Hinata. Sama seperti Neji yang tidak bisa membuat Hinata terluka atau menyakiti Hinata. Sekarang Ia mengerti. Ah, Andai saja, Andai saja dari dulu dia berdiskusi bersama Shikamaru masalah ini cepat terselesaikan. Lihat duduk sejam mereka langsung menemukan jalan keluarnya. Sedangkan Sai dan Sasori walaupun mereka hampir sepanjang siang duduk untuk memecahkan masalah ini sulit sekali, banyak perdebatan yang dilewati serta omong kosong lainnya.
"Jadi Aku ..."
Tidak mendengar ucapan Naruto, Shikamaru sebenarnya sedari tadi merasa diawasi, mengabaikan perasaan itu dia pura-pura tidak peduli. Tapi sepertinya firasatnya ini sangat kuat. Benar saja ketika ia melihat keatas tempat dimana ia merasa diawasi ada Sasuke di sana tersenyum simpul. Ah, pria licik bajingan yang penuh akal itu mendengarkan diskusi mereka. Shikamaru membalas senyuman itu dan di balas Sasuke dengan tanda terimakasih.
Sasuke sebenarnya sedari tadi memperhatikan keempat temannya yang duduk di bawah. Sasuke sekarang berada di Teras atas, kamarnya memang terletak di atas sedangkan temannya-temannya di bawah.
Sedari tadi ia memperhatikan bagaimana temannya itu memecahkan masalah Naruto. Ini hiburan tersendiri baginya, Ia tahu Shikamaru dapat diandalkan dia dapat dengan mudah memecahkan ini. Ia tidak mau menunggu terlalu lama Naruto dan Hinata terpuruk berdua dalam bayangan tantangan Neji. Rencananya bersama Hinata berjalan mulus. Tambahkan nama Suigetsu dan Kakashi di sana.
Shikamaru sepertinya menyadari ada yang mengawasi mereka sedari tadi, menatap kearahnya, Sasuke tersenyum. Shikamaru juga membalas senyuman itu, Sasuke membungkukkan sedikit badannya tanda terima kasih. Shikamaru sedikit terkekeh melihatnya dan hal ini sepertinya disadari Sasori yang melihatnya.
Sasuke tersenyum menyapa, sepertinya hanya Sai dan Naruto yang tidak peka dengan sekitarnya. Yah walaupun sebenarnya Sai dan Naruto Duduk membelakangi Sasuke sedangkan Shikamaru dan Sasori menghadapinya,tapi apa mereka sama sekali tidak menyadari Sasori dan Shikamaru jelas tidak memperhatikan Mereka berdua lagi?
Sasori membalas tersenyum, setidaknya untuk saat ini Sasuke bersedia menjalin kerja sama darinya. Yah kerjasama yang berisi untuk menjauhi Sakura. Sasuke menaikan tangannya menyuruh mereka untuk mengabaikan keberadaannya, akhirnya Sasori dan Shikamaru kembali larut dalam diskusi mereka.
Sasuke tersenyum, walaupun badannya kini merasa tidak enak tapi jika menikmati udara segar seperti ini membuatnya selalu bersemangat dan sehat. Ia merapatkan jaket Hoodie abu-abunya. Pemandangan malam yang indah, gelap dan sunyi. Itulah yang disenangi Sasuke. Walaupun ia seorang workaholic, tapi tetap saja jika berlibur seperti ini tidak dinikmati sia sia saja.
Sakura, perempuan itu kembali terlintas di benaknya. Perempuan berambut pink, bermata Hijau jernih yang bahkan tingginya hanya sebatas dagunya itu telah merusak semua ketenangan dan berhasil memporak-porandakan perasaanya. Wangi perempuan itu masih teringat jelas di benaknya, bau aroma Cherry yang menyenangkan.
Awalnya biasa saja, ia sama sekali tidak pikir untuk tertarik dengan perempuan itu. Perempuan itu seperti dengan perempuan umumnya, tapi seketika itu poin penilaiannya bertambah saat Sakura tidak percaya dan peduli bahwa ia adalah putra bungsu Uchiha yang digadang-gadang akan mewarisi kejayaan Uchiha. Perempuan itu tidak peduli, yang ia peduli adalah pekerjaannya sendiri.
Rasa posesif itu muncul ketika mereka memainkan peran sebagai seorang kekasih di hadapan kedua orang tuanya dan rasa-rasa lain mulai bermunculan setelahnya. Perempuan itu membuatnya hilang kendali, bertingkah konyol hanya untuk memancing emosi perempuan itu. Ia terjebak, terjebak dalam permainannya sendiri.
Sasori, Sasuke sama sekali tidak menyangka temannya itu ternyata sepupu Sakura. Memancing emosi Sasori merupakan kesenangan sendiri baginya, tapi kesenangan itu hanya sesaat. Ia menikmati permainan itu bukan karena senang memancing emosi Sasori, tapi karena Sakura. Ia terlalu larut sampai lupa bahwa dia hanya bermain.
Sekarang ia akan menjauh. Itu keputusan yang tepat, syukurlah Sasori memintanya ia mempunyai alasan untuk menjauhi Sakura.
Ia merindukan perempuan itu.
Walau siang tadi ia menemui perempuan itu, tapi terasa salah ketika ia menghindar pergi meninggalkannya. Rasa salah yang benar. Sasuke bohong jika ia tidak melihat mata hijau yang berkilau itu berkaca.
Ia menghindari perempuan itu, harus. Apapun yang mereka telah mulai seharusnya tidak sejauh ini. Apapun yang saya sangat akan terjadi, Sasuke tau itu adalah hal buruk. Sebaiknya ia menjauhi Sakura. Itu hal tepat yang dilakukannya kini.
Sasuke berbalik, dan terkejut mendapati perempuan bersurai pink yang dirindukannya berdiri tak jauh darinya. Wajahnya terlihat memerah dan terkejut.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?"Tanya Sasuke dengan Suara dingin. Sasuke menyukuri ia mampu mengendalikan perasannya. Wajah Sakura terlihat kecewa mendengarnya.
"A.. Aku hanya ingin menikmati.. em.. angin"Suara Sakura terdengar agak gugup.
Awalnya ia memang hendak menikmati malam ini, suasana hatinya sedang buruk entah karena apa. tapi ini bermula ketika Sasuke mulai mengacuhkannya. ia ingin memperbaiki moodnya dengan berkeliling sebentar.
Sasuke memejamkan matanya. Ini salah, ia berusaha merapalkannya dalam hati. Sasuke mengabaikan Sakura, lagi. Ia kembali memperhatikan teman-temannya yang masih berdiskusi di bawah.
Sakura tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"Bulannya indah"Ucapan Sakura membuat Sasuke tersentak kaget.
Degupan Jantungnya berdetak berkali kali lebih cepat tanpa Sasuke bisa kontrol. Tatapannya langsung jatuh pada Sasori yang berada di bawah sana. Mereka telah membuat kesepakatan. Dia akan menjauhi Sakura, demi kebaikan perempuan itu. Dan dirinya. Uchiha selalu menepati Janjinya.
Seakan menyadari akan sesuatu, Sasori mendongkak ke atas dan mendapati Sasuke sedang bersama Sakura. Sasuke sedang menatap ke arah nya sedangkan Sakura sibuk membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Sasuke.
Sasori menatap Sasuke memohon dan Sasuke segera pergi tanpa menghiraukan Sakura yang terkejut melihatnya. Sasori tersenyum, Sasuke kembali menepati kesepakatan mereka.
Sakura terkejut melihat Sasuke yang tanpa berkata apa-apa begitu saja berlalu meninggalkannya. Demi Tuhan! Bahkan ucapannya sama sekali diabaikan. Apa sebenarnya yang membuat pria itu menjauhinya kini? Menunduk lesu kebawah Sakura melihat sepupunya dan ketiga temannya sedang duduk di teras sambil berdiskusi. Sasori memperhatikannya, jangan-jangan...
Dugaan Sakura benar, senyuman sepupunya itu ada yang salah.
Shikamaru adalah orang yang sangat peka dengan IQ yang tinggi, ia bisa dengan cepat menyadari apa yang terjadi dengan sekitarnya. Sasori sama sekali tidak memperhatikan Sai yang sedang menjelaskan rencananya.
Mengikuti tatapan Sasori, ia melihat Sakura berdiri di Sasuke? Kenapa sudah berganti dengan Sakura? Seharusnya juga jika ada Sasuke tadi dan Sakura yang kini ada, mereka berdua pasti akan membuat keributan yang mengundang perhatian Sasori dan memancing emosi pria itu.
Jujur saja, ia senang melihat Si perempuan berambut pink dengan Sasuke jika bersama. Sasuke terlihat lebih beremosi, tidak kaku dan lebih normal. Sakura telah membuat warna di kehidupan Sasuke tanpa sadari Sasuke atau memang disadarinya.
Pasti Sasuke pergi ketika Sakura menghampirinya. Wajah Sakura terlihat kecewa bercampur bingung menatap Sasori. Sasori pasti merencanakan sesuatu dengan Sasuke.
Sai masih sibuk menjelaskan rencananya, Shikamaru berbisik pelan ke telinga Sasori.
"Apapun yang kau lakukan dengan Uchiha, kau sebaiknya memikirkannya lagi"
Sai yang menyadari hal ini terdiam, dan menyerit bingung. "Berhenti berbisik, apa yang kalian sembunyikan?"Tanyanya tidak suka.
Shikamaru berdiri dari kursinya sembari menguap malas.
"Ku bilang, Tugasku sudah selesai dan ini sudah malam. Berhubung aku sudah mengantuk, lebih baik aku segera istirahat"Shikamaru meninggalkan teman-temannya.
"Kau selalu mengantuk Shikamaru, taruh kembali bokongmu di kursi itu!"Teriak Sai dengan nada memerintah.
Shikamaru mendelik pelan tanpa berbalik, "Hoaam! Mendokusai"Ia kembali ke kamarnya.
Sasori memperhatikan Shikamaru.
Memikirkan kembali apa?
Ino bingung, awalnya mudah saja. Bicara memang mudah, sekarang ia bingung gambar apa yang akan dia berikan kepada Sai malam ini. Yah, gambar yang membuktikan perasaanya nyata pada Sai. Dari jendela kamarnya Ino memandangi langit yang penuh bintang.
Ah, ternyata hal mudah seperti ini saja membuatnya pikiran bagaimana dengan Naruto yang masih terikat utang dengan Neji. Dia pasti stress. Sai benar, ini tidak mudah. Gambar apa? Search diGoogle?
Ino mulai mengetik di mesin pencari pintar itu, 'Gambar untuk menyatakan perasaan' yang muncul adalah gambar dengan Quote-quote memuakkan. Ino mengecek jam di ponselnya, 15 menit lagi hari akan segera berganti. Tapi ia belum bisa memikirkan gambar apa yang akan diberikan pada Sai?
Bosan menunggu ide muncul, Ino memutar musik di ponselnya. Sambil menatap langit penuh bintang Ino mengikuti lyric lagu itu
So i am following the maps that leads to you
Aint nothing i can't do the maps that leads to you.. following.. following.. following
Ino terkekeh penggalan lyric ini cukup cocok untuknya. Dia sedang mencari jalan apa perasaannya terhadap Sai.
Ino tersenyum, malam ini ia menemukan foto pertama yang cocok.
Memotret langit penuh bintang itu, Ino puas dengan hasilnya.
From : Yamanaka_Ino
To : ShimuraS_
Subject : Pembuktian perasaan?
"Aku masih terus mencari, apa arti perasaanku. Dimana perasaan itu, aku masih mencari"
Semoga Adam Levine menunjukkan jalannya padaku *peace
Playlist : Maroon 5 - Maps
IMG_20160923_.jpg
Maroon_5_-_Maps_.mp3
Diskusi malam(?) Untuk Naruto telah lama berakhir sekitar 3 jam yang lalu. Tapi Sai tidak bisa tidur. Sekedar iseng menambah koleksi gambar di buku sketsa-nya Sai menggambar indahnya langit malam dari jendela kamarnya. Gambar itu sudah selesai dan Sai sudah akan bersiap tidur ketika ponselnya berbunyi tanda email masuk.
23.59 l Ino Yamanaka sending you message
Sai tertawa melihatnya. Gambarnya hampir sama persis dengan foto yang dikirimkan Ino. Objek yang sama, langit yang sama. Hanya saja sudut pengambilan dan bentuk gambar itu cukup berbeda. Sai menggambarnya di buku sketsa, Ino dalam bentuk fotonya.
"Benar Ino-san aku juga masih mencari, apa perasaanku ini Hanya sesaat saja? Karena kau pantas mendapat yang lebih baik jika itu benar. Semoga aku bisa menunjukkan jalannya" Sai tersenyum dan segera bersiap tidur.
Sakura tidak bisa tidur, Sasuke menjauhinya. Sasuke menjauhinya. Ungkapan itu terngiang di kepalanya.
Sasuke menjauhinya Karena Sasori, dan juga Garaa.
Astaga, Ia bahkan melupakan laki-laki berambut merah itu. Apa Sasuke benar marah padanya karena masalah yang di Resturant itu? ada apa sebenarnya, dia hanya ingin membantu Garaa. Astaga, Sasuke kekanakan. Kenapa harus segitu marahnya?
kenapa ia harus pikirannya?
"SHANAAROOOO"Teriak Sakura sembari menutup wajahnya dengan bantal.
kalau Sasuke marah padanya, berarti tidak ada ejekan, tidak ada sindiran, tidak ada gurauan, tidak ada lagi godaan. stooop! apa yang dipikirkannya. Sasuke bahkan baru kenalnya 10 hari. Melupakannya tidak akan sesulit ia melupakan Sasori ( yang notabene sepupunya yang di kenalnya hampir seumur hidup ) yang dilupakannya hanya dalam waktu sehari.
melupakan Sasuke Sejam cukup.
"Tuan Sasuke, Anda harus beristirahat"Ucap Kakashi. Sasuke meliriknya sekilas.
"Aku belum mengantuk. Apa kau sudah menemukan kabarnya?"Jawab Sasuke. wajah Kakashi memerah mendengarnya.
alasan keterlambatan mereka kemarin adalah karena malam itu juga mereka segera mengurus ID Kakashi yang hilang di ambil oleh -ekhem Teman lama Kakashi bersama dompet-dompetnya.
"Saya sama sekali belum menemukan dimana dia"Kakashi sama menatap kearah lain.
"Anda ada masalah dengan Nona Sakura?"Pertanyaan Kakashi pelak mengundang guratan tak suka di wajah Sasuke. Jelas Sasuke sedang menghindari apapun yang berhubungan dengan Sakura.
"Aku mengantuk. jika ada telefon yang masuk bilang saja aku sedang beristirahat. Badanku rasanya tidak enak"
"Baik tuan"
Kakashi tau, tuannya itu sedang tidak ingin membicarakan Sakura, atau sekedar mendengar namanya di sebut di sekitar nya. Ada sesuatu yang terjadi, Kakashi tau. Tuannya kembali seperti sediakala, terlihat larut dalam pemikirannya. yah selama bersama Sakura, Tuannya berubah. Terkadang senyum sendiri, bergumam sendiri, tertawa sendiri atau emosi sendiri. khas orang yang.. er.. Jatuh Cinta.
Kakashi berharap, Tuannya jangan lagi kembali seperti dulu. Walau kini sudah terlihat, tapi ia berharap Tuannya jangan lagi kembali seperti manusia tanpa ekspresi.
Matsuri tersenyum senang merangkul lengan Garaa. walau sangat terlihat Garaa terlihat risih tetap saja Matsuri menganggapnya seakan tidak masalah.
Gaara menyeritkan keningnya, Matsuri merangkul lengannya sebenarnya lebih tepatnya Matsuri menyeret Garaa berjalan. Mereka baru saja bergegas masuk ke dalam Bandara. Sudah banyak orang yang menunggu mereka disana.
"Matsuri, Demi Tuhan! Aku akan jatuh jika seperti ini"Geram Gaara melepaskan paksa tangan Matsuri yang menggelayut manja di lengannya.
"Kenapa? kau tidak suka? kau kekasihku"Jawab Matsuri santai dengan Senyuman yang dianggap Gaara sangat menyebalkan. Senyum itu sudah dilihatnya sedari kemarin. Senyuman aneh yang membuat Gaara khawatir dan penasaran.
"Terserah saja!"Gaara berjalan duluan meninggalkan Matsuri.
Matsuri mendengus kesal melihat Gaara meninggalkan nya. Matsuri menatap pintu kaca di sampingnya yang menampilkan bayangan dirinya. Bayangannya yang kali ini merupakan Matsuri, sosok asli Matsuri.
"Apa hah?"Seru Matsuri kesal.
"Sudah ku bilang, kita akan terluka. Berhenti kumohon"Ucapnya
"Tidak, kau itu bodoh! Kau lemah, Jangan sekali sekali kau..."Ucapan Matsuri terpotong
"Maafkan aku. kali ini saja"Matsuri mengejar Gaara.
"Kau darimana? Kita sudah ditunggu"Ucap Gaara kesal. Gaara bangkit dari kursinya.
"Maaf"Ucap Matsuri pelan.
"Ck, lupakan saja! Ayo"Gaara menunggu Matsuri berjalan mendahuluinya seperti beberapa hari ini terakhir. tapi Matsuri sama sekali tidak berjalan, akhirnya Gaara berjalan lebih dulu dan Matsuri mengikuti dari belakang dengan kikuk.
"Ada apa denganmu?"Tanya Gaara akhirnya. Matsuri tersentak kaget dengan pertanyaan Gaara tiba-tiba.
Matsuri menggeleng pelan, "Tidak apa-apa. Maaf sudah merepotkanmu" Jawabnya kikuk. Gaara bingung, Matsuri kembali menjadi Matsuri yang lain.
"Bonn Nuit. Sir and Madam, let me help you. Sorry, Madam you can wait for a minute, sir please follow me"Ucap seorang pria dengan aksen Perancis yang kental.
"Soi, Merci"Matsuri tersenyum dan duduk di kursi terdekatnya.
Gaara menatap Bingung Matsuri. Sikapnya berubah, berbeda dengan yang tadi mereka masuk bersama ke Bandara. Sikapnya berubah, seperti Matsuri sebelumnya. Gaara membenci fakta bahwa ia tidak bisa menemuan alasan mengapa Sikap Matsuri bisa berubah secepat itu.
... Loading to next...
Hai, Cherry kembali membawa Holiday Chapter 16 Part 2
Xixixi.. Sesuai janji, Minggu ini bakal Update.
Part 3 sekaligus part terakhir Chapter ini Minggu depan baru Cherry Update yah..
Q : (Luca Marvell) Jadi yang selama ini jahat itu BlackMatsuri ya? Siapa saja yang tau tentang BlackMatsuri selain Ino?
A : Hanya sedikit yang tau. Orang tua Matsuri, Dokter yang menanganinya dan Ino.
Q : (Williewillydoo) Nama Akun Wattpadnya apa?
A : Still same, I love this name. Cherry Aiko.
Q : (Alif yusanto) Endingnya Sakura sama Sasuke kan?
A : Iya, Sesuai PAIR. Lihat ajah endingnnya yah...
Q : (nurvieee96) Setelah Holiday selesi mau buat cerita friendship yang lain gak?
A : Ide tentang cerit friendship, romance, Humor, dll. banyak banget, tapi lagi sibuk banget. Gak punya waktu luang untuk ngetik. Sekalinya punya (waktu) di pakai istirahat. Lagi mood nulis ehh.. idenya ilang. hahaha
Balasan Review :
Rei Shiina : Sungguh? Hahaha.. nggak nyangka loh !
billyyo566, sky ya, zarachan, R.D. 12 : Up part 2 . Thank yu ^^v
genie luciana : Makasih ^^v
Aikaa-chan : Iya Alhamdulillah T,T , Hahaha iya, kan solanya Chapter-Chapter kemarin full SasuSaku mulu-kan jadi mendekat Chapter akhir di minim dulu biar miss nantinya sama adegan mereka berdua. Aku lumayan suka Wattpad kok, banyak cerita-cerita keren dari sana. Yang Aku gak suka itu ketika CERITA TELAH DITERBITKAN. Benci banget. Oh yah, sama readers-nya. Mereka suka ngebully penulisnya. Padahal nulis itu gak gampang. Aku sayang banget sama FFn tapi mau diapa, sekarang masuk FFn susah kan. Semoga aja internet positif gak ngeblock FFn lagi. *HalahCurhat. Aku cinta kalian.
Sesiliasan : Iya-iya Hahaha.. Aminn yahh
Cetan : Iya, hahaha.. Makasih MIDnya sudah selesai.. Terima kasih atas semangatnya.
Diah Cherry : Hahaha, HP BARU. Iya sibuk banget. 7am sudah sampai di sekolah - pulang jam 5pm. 6pm-8pm masak, melakukan pekerjaan wajib, dll. 8.05pm Tidur, 3am-5am Kerja tugas, 6am siap-siap. gitu terus rutinitasnya 4 kali seminggu. Jadi begitu ada free time di pakek istirahat dan melepas stress.
sungguh? Iya sengaja selama ini SasuSaku uda lengket aja macam prangko. Jadi kali ini di jauhin bentar. Buat Sasu cemburu? Liat aja di Chapter ke depan yah.
ElzaMarquez : Hay, selamat datang di Holiday, selamat membaca dan enjoy yah. Hehee.. Sasu kejam yah?
Thankss To :
Makasih yang udah Follow, Favo, Review, Silent Read.
Lav yu All
Cherry Aiko
Jayapura, 1 Oktober 2016
MY Bed SWEET
