Akhirnya, Naruto melakukan semua yang direncanakan oleh mereka malam itu. Neji akhirnya memberikan restunya, dan hal ini membuat Naruto senang dan lepas beban. Pagi ini senyumnya tak kalah cerah dengan mentari yang bersinar terik di atas langit.

Hinata pun demikian, dia tidak bisa berhenti tersenyum sejak mendengar berita ini. Akhirnya, semua masalah sudah selesai. Semoga saja kedepannya tidak ada hambatan apapun lagi.

pagi ini, mereka (Naruto dan Hinata) akan melakukan berbagai pengecekan persiapan. H-2 sebelum pernikahan, besok mereka akan segera melakukan geladi bersih.


Temari baru saja melakukan ritual paginya selama liburan ini. Membersihkan diri dan menikmati suasana pagi yang selama ini sering di lewatkannya. Hal yang dilakukan nya ketika menikmati pagi adalah memandangi matahari terbit. Matahari terbenam terlalu sering dilihat nya. Dari ruangan bosnya pun terlihat jelas.

Temari melihat Shikamaru, pria pemalas itu baru saja menyelesaikan lari paginya. Membuat Temari merasa mood paginya hancur berantakan. Temari mengalihkan tatapannya agar tak bertemu dengan pria itu, berusaha untuk pura-pura tidak menyadari kehadiran pria itu.

Shikamaru baru saja menyelesaikan lari paginya. Kegiatannya di waktu senggang. Biasanya ia lebih memilih berolahraga di tempat Gym pada waktu malam hari, tapi dia tidak mungkin mencari tempat Gym saat ini. Kemarin mudah saja karena merupakan fasilitas dari hotel.

Dari kejauhan dia melihat perempuan bercepol empat itu, nafasnya tiba-tiba saja memburu. Degup jantung nya berkali kali lebih cepat membuatnya kelelahan. Rasanya ia gugup. Ada apa? Itu hanya perempuan bercepol empat yang membawa malapetaka padanya.

Perempuan itu sepertinya tidak menyadari kehadiran nya. Apa yang harus di lakukan nya? Menyapanya atau mengajaknya mengobrol? Atau lebih baik mengabaikan nya?

Lebih baik menyapanya, itu membuat hubungan mereka lebih baik. Hubungan? Shikamaru hampir saja tertawa tergelak, hubungan apa? Hubungan yang tidak akur pantas di sebut apa? Lagi, otak jeniusnya mati jika berhadapan dengan perempuan itu.

Shikamaru memberanikan diri menghampiri Temari. Beberapa langkah lagi, Shikamaru merasa ada yang berlari melewatinya.

"Teman!?"Seru orang itu.

Shikamaru terdiam di tempatnya, entah mengapa panggilan sayang Temari-Neji itu sangat mengesalkan baginya. Rasa tidak suka, rasa benci, rasa iri.

Temari berbalik dengan wajah kesal lalu tersenyum. Shikamaru membenci cara perempuan itu tersenyum itu mempengaruhi Shikamaru. Rahangnya mengeras. Shikamaru berputar dan kembali berlari berbalik dari arah tujuannya. Ia berlari dengan cepat tanpa melihat siapapun di depannya.

Sampai terdengar suara rintihan ketika dia menabrak seseorang, atau lebih tepatnya seorang perempuan.

"Brengsek kau!"Shikamaru mendesis kecil, sepupu kecilnya. Tenten.

"Apa yang kau lakukan disini?"Tanya Shikamaru malas, dia mengulurkan tangannya membantu Tenten berdiri. Uluran itu di sambut Tenten kesal.

"Kau bertanya padaku, harusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau berlari tidak menggunakan mata huh?!"Serunya kesal. Shikamaru mengangkat bahunya pelan. "Ketika menabrakmu mataku kemasukan debu. Lagi pula aku lari menggunakan kaki, bukan dengan Mata"

Tenten tidak ingin memulai pertengkaran, ia melempar tatapan Sinisnya dan meringis melihat kakinya yang terkilir. "Aku terkilir"Ucapnya kesal.

Shikamaru melihat kaki Tenten, benar saja kaki itu memerah dan pasti sedikit lagi membengkak dan membiru.

"Mendokusai, Kakimu seperti kaki mermaid saja, sensitive"sindir Shikamaru. Tenten memandang sinis Shikamaru.

"Mermaid tidak punya kaki, brengsek! Cepat papah aku. Aku tidak kuat berdiri terlalu lama"Rintih Tenten. Shikamaru menyesalinya. Kasihan sepupunya menjadi korban dari kekesalannya. Tapi kesal karena apa?

"Ku gendong. Kita ke kamarku, akan aku obati"Shikamaru berjongkok membelakangi Tenten. Dengan senang hati Tenten melompat ke punggung Shikamaru, membuatnya (Shikamaru) meringis. Tenten memang suka sekali bermanja pada Shikamaru. Tapi itu dulu, ketika masih kecil.

"Kau bertambah berat, Mendokusai"Ucap Shikamaru mulai berjalan kembali kearah tujuannya.

"Berhentilah mengeluh, kau tidak pernah menggendongku lagi. Terakhir sewaktu SMP"Shikamaru menggumam mengiyakan.

"Ya, waktu itu kau masih terasa seberat ranting kayu. Kau kurus sekali"

Tenten memukul pelan punggung Shikamaru tidak terima. Mereka kembali bernostalgia.

Sudah lama sejak Shikamaru menggendong sepupu tersayangnya itu lagi. Terakhir kali ketika Tenten menangis karena Shikamaru memutuskan masuk sekolah khusus laki laki dan membuat Tenten menangis tak terima. Sebagai syarat, Shikamaru harus menggendong Tenten selama perjalanan pulang mereka.

Banyak orang yang mengira bahwa ia dan Tenten adalah sepasang kekasih karena kebersamaan mereka. Tapi Tenten dan Shikamaru adalah sepupu jauh. Karena Hanya Tenten yang berani menentang, memarahi dan memerintah Shikamaru sesuka hatinya tanpa ada penolakan dari pria itu. Shikamaru sendiri sudah menganggap Tenten seperti adik perempuannya.

Tenten menyenderkan kepalanya ke punggung Shikamaru, mereka terlihat seperti sepasang kekasih sekarang. Orang-orang yang melihatnya memandang iri sekaligus takjub.

Ketika melewati Temari dan Neji yang masih asik berbicara, Shikamaru dan Tenten sama sekali tidak menyadarinya. Shikamaru sibuk konsentrasi untuk menggendong Tenten, sedangkan Tenten menyenderkan kepalanya dengan nyaman di punggung Shikamaru dan berbalik ke arah yang berlawanan dengan tempat Neji dan Temari.

Shikamaru menarik nafasnya pelan ketika ia harus menuruni tangga untuk sampai ke kamarnya. Dengan pelan ia menuruni anak tangga satu persatu. Sementara Tenten mulai sadar dan mulai mengeratkan pelukannya sambil sesekali berteriak kesal bercampur tawa mengarahkan Shikamaru menuruni tangga. Sampai di anak tangga yang ke sepuluh Shikamaru dan Tenten sudah terlihat lagi. Hanya terdengar jeritan-jeritan kesal dari Tenten.

Neji dan Temari yang sedari tadi memperhatikan Shikamaru dan Temari sampai tidak terlihat lagi, kemudian saling menatap.

"Apa yang terjadi?"Tanya keduanya bersamaan.

"Well, aku bertanya padamu"Ucap Temari

"Aku kira kau tau"Neji mengerutkan keningnya.

Temari memutar matanya kesal. Kenapa pria brengsek itu menggendong perempuan lain, ralat Tenten. Kenapa Tenten mau?

"Tapi, kalau aku simpulkan Tenten biasa bermanja pada Shikamaru"Neji mengingat beberapa kali Shikamaru pernah menyinggung sepupunya.

"Bermanja?"Temari tidak bisa menahan Nada kesalnya.

"Kenapa? Wajarkan, mereka berdua sepupu"Neji menyadari raut tak suka dari wajah Temari.

"Sepupu, Tcih! Kalau aku jadi Tenten aku tidak akan mengakui nya sebagai sepupu"Temari mendengus kesal.

Neji tersenyum mengejek, "Sebagai apa harusnya? Seorang pria?"

Temari mengerutkan keningnya, ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Neji. Lelaki bermata amethys itu seakan sedang memancingnya akan sesuatu, dan dia bukan orang bodoh.

"Aku sama sekali tidak sedang iri ataupun cemburu"Ucapan Temari terdengar tegas.

Neji tertawa, kali ini dia tidak bisa mempermainkan Temari lagi. Perempuan itu sudah memasang benteng dan seperti nya banyak belajar dari kejadian yang lalu.

"Aku tidak berasumsi seperti begitu"

Temari menahan kekesalannya. Simpulan nya terhadap Neji adalah Jangan hanya melihat orang dari covernya saja dan juga jangan menilai orang dari perbuatan awalnya saja. Tapi, lihat dan Dalami sifat dalamnya. Busuk atau tidak. Itulah pelajaran yang diambil oleh Temari. Cover dan perbuatan awal seseorang hanya kedok dan sifat aslinya akan muncul seiring berjalannya waktu.

"Berhenti memainkan peran Drama korea di sini. Naruto sudah berkeliling dengan wajah idiot dan memaksa untuk sarapan"Sai muncul bersama Sasori dengan wajah yang di tekuk dan dengan wajah kelelahan.

Sasori mengangguk, kantung matanya tebal. Naruto yang malam itu langsung melancarkan rencana mereka memaksa masuk kedalam kamar Sai dan Sasori untuk membuat perayaan kecil sebagai bentuk terima kasih. Sebenarnya Naruto juga ingin mengajak Shikamaru, tapi setelah pintu kamarnya di ketuk selama 25 menit dan tak ada jawaban Naruto menyerah. Intinya semalam Sai dan Sasori hanya tidur sekitar 2 jam.

"Kau menyeramkan beruang merah"Ejek Temari. Neji terkekeh pelan.

"Sebaiknya kita segera sarapan dan kalian berdua bisa beristirahat tenang"ajak Neji akhirnya.


Sakura mendapat pesan pagi ini bahwa Hinata mengajak nya pergi bersama Naruto untuk mengecek berbagai persiapan dan Ini merupakan suatu kehormatan baginya. Pernikahan hanya sekali seumur hidup dan menjadi dari bagian hal itu membuat Sakura sangat senang.

Sakura menaiki tangga-tangga itu sepenuh hati, angin pagi dan mentari pagi menerpa wajahnya membuatnya merasa nyaman.

sesaat melewati kamar Sasuke, ia melihat Kakashi yang berdiri di depan pintu seakan sedang menjaga pintu.

"Ohayou Kakashi-san, apa yang kau lakukan di luar sini?"Tanya Sakura bingung.

"Tuan Sasuke sedang menerima tamu, jadi saya berjaga di luar"Jawab Kakashi tenang. Lelaki bermasker itu berdiri menyender di kunsen pintu dengan kedua tangannya ia lipat. Secara tidak langsung memamerkan otot bisep di lengannya yang terbungkus kemeja hitam.

Sakura menaikan alisnya penasaran, Tamu penting siapa yang kini bersama Sasuke sampai Kakashi saja tidak diperbolehkan seruangan untuk memberikan mereka privacy.

"Anda tidak ingin masuk Nona Sakura?"Tawar Kakashi, Sakura tersentak kaget dari lamun nya.

"Nona Hinata-lah dan Ino yang berkunjung, Mereka berdua ada di dalam bersama tuan Sasuke"

"Apa yang mereka lakukan pagi-pagi begini? Apa yang mereka bicarakan? Kau tidak mendengarnya Kakashi-san?"Tanya Sakura penasaran.

Kakashi terlihat bingung, "Saya dari tadi disini, Jelas saya tidak mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam. Kenapa nona Sakura tidak masuk dan ikut bergabung saja?"

bertahun-tahun menjadi pelayan Sasuke, Kakashi berusaha untuk tidak pernah melanggar batas privasi antara pelayan dan tuan. Mungkin dia hanya sekedar memberi saran tanpa ada paksaan meminta untuk di turuti.

"Berikan aku alasan kenapa harus masuk?"Tanya Sakura. Kakashi mengerutkan keningnya.

"Anda penasaran Nona"Jawaban Kakashi benar-benar menjawab pertanyaannya, membuat wajah Sakura memerah menahan malu, "Lupakan saja. Malam itu, sewaktu di Resturant, kau pergi dengan Sasuke, kalian kemana saja?"Tanya Sakura.

Kakashi tidak mungkin menceritakan kejadian malam itu. Setelah dompetnya diambil, mereka segera ke kantor polisi mengurus cepat surat kehilangan dan pergi langsung ke kedutaan besar Jepang di Paris. Syukur saja Kedubes Jepang itu merupakan salah satu kolega ayah Sasuke. Mereka malam itu juga langsung mengurus pembuatan surat keterangan Identitas sementara sebelum Kakashi kembali ke Jepang untuk mengurus IDnya yang baru menggantikan yang hilang bersama dompetnya. Itu adalah hal memalukan.

"Maafkan Saya Nona Haruno, Anda tidak berhak tahu"Jawab Kakashi dengan suara rendah. Terdengar seperti peringatan yang merupakan titah dari tuannya.

"Kenapa aku tidak berhak tau?!"Sakura tanpa sadar menaikkan suaranya.

Pintu di belakang Kakashi terbuka cepat, membuat Sakura tersentak kaget.

"Hinata?"

"Sakura-chan?"

"Ino?"

Mereka saling berpandangan bingung.

"Kakashi, kau dipanggil oleh Sasuke"Begitu Kakashi masuk, Ino segera menutup pintu di belakang nya seolah tak mengizinkan Sakura mengintip walau hanya sebentar.

"Apa yang kau lakukan disini?"Tanya Ino dengan gugup, Sakura menggeleng pelan. "Aku ingin mencari Hinata mengucapkan selamat untuknya"

"Terimakasih Sakura-chan. Kuharap sebentar kau tak keberatan ikut denganku"Sela Hinata Cepat.

"Tidak masalah, Kau dan Naruto adalah temanku, Aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan"Sakura memeluk Hinata balik.

Ino ikut memeluk kedua temannya, "Warm Hug"Desis Ino pelan.

"Warm Hug"Hinata membenarkan. "Jadi Apa yang kalian bicarakan di dalam?"Tanya Sakura pelan.

Ino dan Hinata segera melepaskan pelukan mereka, saling memandang. "Ini sudah waktunya sarapan, yang lain sudah menunggu di Resto. Kita harus bergegas"Hinata mengingatkan.

Ino mengangguk setuju, "Kau benar. Naruto sudah mengubungi Kita ratusan kali tadi, jangan membuatnya menunggu lebih lama. Ayo"Ino berjalan duluan meninggalkan Hinata dan Sakura.

"Sasuke tidak ikut?"Tanya Sakura penasaran. Hinata tersenyum gugup, "Eh? Sasuke-kun tidak ikut bergabung dengan kita. Inoooo Cotto!"Teriak hendak Hinata mengejar Ino.

"Eh? Nani?"Tanya Sakura masih penasaran.

"Sakura, berhentilah terus bertanya, Semua orang lapar menunggu Kita"Seru Ino yang berada kini cukup jauh dari mereka.

"Ayo Sakura-chan"Hinata menarik lengan Sakura pergi dari sana.

Sakura memandang bingung kedua sahabatnya ini. setelah Sasori, kini mereka berdua. Ada apa sebenarnya, kenapa mereka seakan tidak memperbolehkan Sasuke dengannya bertemu. Apa yang terjadi?


Wajah Hinata tampak berseri hari ini, senyum lebar tidak pernah hilang dari wajahnya. Kedua matanya memancarkan binar kebahagian dan tawanya terdengar lebih banyak hari ini.

Sakura mengikuti Hinata dari belakang. Seharusnya ia ikut bahagia dengan perasaan Hinata. Tapi entah kenapa moodnya menghilang dari pagi. dari kemarin. Sakura berjalan lesu yang terlihat dipaksakan bersemangat.

"Hari ini kita akan mengecek persiapan gedung, dekorasi, kue, katering, musik, lalu..."Sakura tidak mendengarnya lagi, pikirannya melayang.

Sasuke jelas sedang menghindarinya, karena Sasori. Sakura tahu hal itu. tapi pagi tadi Hinata dan Ino jelas berusaha mengalihkan topik yang berhubungan dengan Sasuke di pembicaraan mereka, hal ini jelas membuktikan ada sesuatu hal yang terjadi pagi tadi. Di dalam kamar Sasuke. Apa yang mereka bicarakan? Kakashi bahkan tidak boleh mendengarnya?

lagipula, malam itu Sasuke dan Kakashi kemana? Pikiran Sakura berkecamuk. Apa Sasuke menyuruh Hinata dan Ino membantunya menjauhkan diri dari dirinya?

"Sakura-chan? Apa yang kau pikirkan?"Sakura tersentak kaget bahkan ia hampir saja terjungkal ke depan kalau saja Hinata tidak menolongnya.

"Kami-sama! Astaga.. "

"Dimana Naruto?"Tanya Sakura mengalihkan pertanyaan Hinata.

Hinata terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Sakura. "Naruto-kun sudah di tempat katering"Jawab Hinata tersenyum, Sakura mengangguk.

"Tadi sudah ku katakan"

Sakura kembali menyerit, "Dimana Ino? Apa dia tidak ikut?"Tanyanya yang baru tersadar bahwa Ino tidak bersamanya sedari tadi.

Hinata memandang Sakura bingung, "Ada apa denganmu Sakura-chan? Ino mempunyai urusan dengan Sasuke, sepertinya mereka sedang sibuk. Kau lupa tadi Ino mengatakannya tadi"

Sakura mengangguk berpura-pura mengingatnya, "Astaga, Aku lupa"

Hinata tersenyum menatap Sakura.

"Aku bahkan sudah memberitahumu lagi tadi Sakura-chan?"

Sakura merutuki dirinya. Dia menjadi linglung alias bingung. Astaga Sasuke hanya menjauhinya, kenapa ia harus seperti orang Idiot tambah Autis seperti ini?


Ino menghela nafas bosan untuk kesekian kalinya. Kartu di tangannya sedari tadi dimainkan nya tidak jelas. Kartu itu berisi nama-nama orang yang akan di undang pada acara pernikahan Hinata dan Naruto. Tidak banyak memang hanya dibatasi 50 orang saja.

"Membosankan sekali Sasuke"Keluh Ino, miniatur meja kini menjadi sasarannya. Ino memainkannya dengan tidak bersemangat.

"Hn" Sasuke mengambil (merampas) Miniatur meja itu dari tangan Ino dan meletakkannya di tempat semula.

Ino kini sedang bersama Sasuke membantu Hinata untuk mengatur meja untuk tamu undangan. Sebagian besar meja memang sudah diisi hanya tinggal beberapa lagi dan tugas mereka akan selesai. Sebenarnya tugas ini hanya untuk Sasuke.

"Demi Tuhan! Aku harusnya ikut bersama Sakura, Hinata dan Naruto sekarang"Keluh Ino lagi,

"Hn" Hanya itu tanggapan Sasuke sedari tadi. Ino kembali mendesak kesal.

"Cuppa? Nona Ino"Kakashi meletakkan dua cangkir teh berisi teh mint kesukaan Sasuke di atas meja. Ino tersenyum sekilas pada Kakashi. (ket: Cuppa : Cup Of tea : secangkir teh -Istilah dalam British- )

"Sasuke, kau membuatku mati bosan!"Geram Ino kesal, sudah setengah jam mereka berdua duduk dan menyusun meja dan sama sekali tidak ada percakapan. Sasuke hanya diam, sedari tadi Ino meletakkan nama-nama pada meja. Namun, Sasuke mengambilnya dan menaruhnya pada tempat lain.

"Berhenti. Mengeluh. Ino"Ucap Sasuke dengan nada sarkastik. Tatapan tajam sekilas pun dilayangkan pada Ino.

Ino meniru ucapan Sasuke tanpa suara. Membuat Sasuke meliriknya tajam, "Kau hanya demam. Malam itu kau juga yang bodoh. Childish"Ino berusaha membela dirinya sendiri.

Sasuke hanya memutar matanya bosan mendengar komentar dan ucapan Ino yang egois. Dia juga ingin segera tugas ini berakhir dan segera beristirahat dengan tenang. Jika bukan karena Hinata yang memintanya Sasuke pasti akan menolak mentah-mentah permintaan tolong ini. Ayolah, mengatur meja berada pada bagian nomor 2 terumit setelah gaun pengantin. Membutuhkan pikiran dan itu menguras sisa tenaga dan kewarasan nya.

"Aku menyuruhmu disini untuk membantuku, bukan untuk menceramahiku. Jelas? Atau perlu ku ulangi agar lebih jelas"

Ino mengerti, ini peringatan terakhir kalinya yang akan dilayangkan Sasuke.

Jika bukan karena Hinata (lagi), Ino lebih memilih mengurus gaun pengantin yang baru saja kemarin datang dari Perancis ataupun membantu memilih makanan pernikahan, dia rela menelan semua gula dan kalori ataupun lemak daripada harus mengatur meja. Lebih tepatnya hal yang membuat nya menemani Sasuke. Itu hal yang sangat membosankan, merepotkan, menyebalkan dan membuang waktu.

"Kenapa kita harus mengatur meja, mereka bisa langsung saja datang dan memilih meja mereka sendiri? Siapa yang paling cepat datang dia bisa di depan"Gerutu Ino pelan. Sasuke mengabaikannya sambil mengambil kertas berisi nama seseorang yang Ino telah letakkan namanya di sebuah meja dan memindahkannya pada meja yang lain.

Melihatnya Ino bertambah kesal, "Demi Tuhan! Sasuke, aku sama sekali tidak kau butuhkan di sini!"

"A Women, act like lady, think like boss. and A boss have full Of responsibilities. I need your responsibilities"

Ino mengerutkan kening, Sasuke speak dengan aksen khasnya yaitu Britsh. terkadang Ino cemburu dengan Sasuke yang mempunyai aksen British- yang sempurna tanpa cela layaknya orang Inggris yang lama menetap di sana. Aksen Jepang sama sekali tidak terdengar ketika Sasuke mulai Speak. Begitu pun sebaliknya. dan ketika Sasuke berbicara bahasa Italia, aksennya sungguh seksi.

"Respon apa? memberi respon?"Ino tidak suka ketika Sasuke mulai menyombongkan bahasa Inggrisnya.

"Responsibilities : Tanggung jawab"

Sasuke mendesah kesal.

"Ya.. ya .. Tanggung jawab apapun itu maksudmu"Ino membalas dengan Nada yang mengejek yang sangat menyebalkan.

"Kau boleh pergi Ino"Sasuke berdiri dari kursinya. kartu-kartu nama itu masih banyak yang berhamburan. Ino merasa tidak enak dengan Sasuke.

"Aku minta maaf"Budaya barat terbiasa mengajarkan Ino untuk meminta maaf atas apapun yang terjadi. Ino tahu bahwa urusan meja belum selesai dan Sasuke mengusirnya keluar.

"Tetap di tempat mu Uchiha!"Seru Ino kesal.

Sasuke berhenti tanpa berbalik, "Kau pergi Ino. Aku ingin istirahat, nanti akan ku lakukan sendiri. Kepala ku pusing sekali"Sasuke memegang kepalanya yang bertambah pening. Entah mengapa efek alergi nya terhadap kucing belum juga sembuh malah semakin memburuk.

"Sasuke, sungguh aku minta maaf... "

"Get Out, Ino! Get Out!"Desis Sasuke kasar. Tanpa berbalik Sasuke berjalan menuju kamar tidurnya.

Ino berdiri dari kursi dengan kesal.

"Fine, I am oat!"Seru Ino kesal sambil memukul meja membuat teh yang dia atas meja sedikit tertumpah.

"Out Ino, bukan Oat"Sasuke berucap pelan, tapi Ino masih dapat mendengarnya.

"Yayaya.. whatever! Damn you! Fuck yourself!"Seru Ino kasar.

Sasuke mengangkat tangannya satu melambai, "Setidaknya makianmu dalam bahasa Inggris tidak mengecewakan"Sasuke menutup pintu kamar di belakangnya kasar.


Sakura merutuki ingatannya yang akhir akhir ini mengalami penurunan drastis alias masalah ingatannya yang tidak baik akhir-akhir ini, singkatnya PIKUN. Sakura melupakan ponselnya. Bodohnya. Cukup selama di Paris ini ia melupakan ponselnya. Tapi tidak ketika disini.

Untungnya Naruto berbaik hati mengizinkannya bersama Hinata untuk kembali mengambil ponselnya. Sakura menuruni tangga-tangga buru-buru. Ia kembali masuk kedalam kamarnya mengambil ponselnya lalu keluar dan menguncinya lagi. Sakura menaiki tangga-tangga itu sama bersemangatnya dengan cara dia menuruninya tadi, ia sampai tidak sadar bahwa sebuah pintu yang hendak terbuka keras hampir saja membuatnya terdorong dan jatuh menggelinding.

"Astaga Ino!?"Serunya kaget, begitupun dengan Ino yang tidak kalah sama kagetnya.

"Apa yang kau lakukan di sini? Maksudku.. Bukannya kau bersama Hinata dan Naruto sekarang?"Tanya Ino.

"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini?"Tanya Sakura menyadari wajah Ino sangat memerah seperti kepiting rebus atau buah tomat kesukaan Sasuke. Kenapa harus Sasuke lagi? Sakura mengutuk pikirannya.

"Aku.. aku..."Wajah Ini tambah memerah, Sakura menatapnya bingung. "Demi Tuhan dia sangat menyebalkan!"Serunya kesal.

"Dia sakit dan aku yang harus bertanggung jawab. Dan ketika dia sakit sifat menyebalkan nya menjadi berkali kali kali kali kali lipat bertambah sangat menyebalkan"Jelas Ino yang sama sekali Sakura tidak mengerti.

Dahi Sakura mengerut, "Dia siapa?"Tanyanya. Entah Ino masih kesal atau sedang dalam mood yang sensitive, Pertanyaan Sakura sungguh membuatnya emosi.

"Sasuke, demi Tuhan?! My Lord!? God save the Queen Elizabeth, Fuck damn! Siapa lagi kalau bukan dia? Our majesties, The Last Uchiha. Damn it!"Seru Ino kesal. Sakura mengangguk. Satu Informasi baginya, Sasuke sedang sakit. Tapi kenapa Ino yang bertanggung jawab? Apakah Masih ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari yang lalu, pikir Sakura.

Ino menarik nafasnya pelan dan mengeluarkan nya perlahan, emosi membuat kerutan di wajah akan tertekuk dan membuatnya mengalami penuaan dini.

"Sakura, Apa Hinata masih diatas?"Tanya Ino Pelan.

"Yah, dia menunggu ku di atas"

"Sakura, Gaun Hinata baru saja datang. Aku harus segera mengurus nya dengan cepat. Tapi Sasuke menyuruhku entahlah apa maksudnya tentang tanggung Jawab. Aku sama sekali tidak peduli. Jadi, intinya bisakah kau tunggu disini"

"Eh apa?"Sakura bingung dengan Ucapan Ino yang terlalu cepat.

"Kau kan seorang dokter.."

"Yah, Calon dokter"Ralat Sakura

"Yup, Calon dokter. Kau paling mengertilah masalah itu. Kesabaran pasien atau apapun namanya, dan aku sam sekali tidak peduli. Sedangkan aku hanya seorang designer. Aku hanya tau merancang dan mewujudkan gaun impian setiap orang. Jadi aku mau kau merawat Sasuke selama aku mengurus gaun Hinata"

"Eh?"

"Terima kasih, aku menyayangi mu. Akan Ku sampaikan permintaan maafmu pada Hinata dan Naruto. Kau rawat dia yah"Ino memeluk Sakura erat dan mencium pipi Sakura, lalu ia mendorong Sakura masuk kedalam kamar Sasuke. Sedangkan Ino berlari menaiki tangga dengan semangat.

Hinata bingung melihat Ino muncul dengan wajah berseri. Sakura tadi janji hanya sebentar namun, sampai sekarang belum juga kembali.

"Aku akan menemanimu"Ino merangkul Hinata erat dan menariknya segera pergi.

"Eh? Dimana Sakura-chan?"Tanya Hinata bingung. Ino mengangkat bahunya tak peduli, "Ku suruh dia untuk menjaga Sasuke"Jawabnya enteng.

Tubuh Hinata membatu seketika. "Ino-chan, katakan ini bercanda"Ucapnya dengan wajah pucat pasi.

"Apa yang bercanda?"Ino bingung.

"Sasuke akan membunuh kita"Hinata berbalik dengan cepat.

Ino menyadarinya, ia meninggalkan Sakura mendekati Sasuke. Astaga, apa yang di lakukan nya? Dia sedang menggali kuburannya sendiri. Ingatkan Ino untuk segera memesan petinya sendiri, segera.

"Jangan Hinata!"Seru Ino mencekal Hinata.

"Sudah terlanjur. Sakura harus tau kenapa Sasuke menjauhinya"Ino menarik Hinata menjauh.

Sakura memandangi ruangan itu. Kosong tidak ada Sasuke maupun Kakashi. Gelap dan sunyi. Gordennya tidak di buka dan di biarkan tertutup, lampunya dimatikan.

Mata Sakura melihat sebuah pintu yang tertutup rapat berwarna coklat, apa itu kamar Sasuke? Dengan penuh keyakinan. Sakura berjalan dan membuka pintu itu.

"Aku bilang tinggalkan aku sendiri Ino"Suara berat yang sudah di hapal luar kepala Oleh Sakura itu berasal dari atas kasur yang orangnya tertutup dengan selimut hitam dengan sempurna. Sakura bahkan hanya mengira itu hanya gumpalan selimut jika Sasuke tidak berbicara.

Sakura menarik nafasnya, dia tidak menampik bahwa ia merindukan Sasuke, "Ini aku, ku dengar kau sakit"Ucap Sakura akhirnya.

Gumpalan itu sama sekali tidak bergerak.

Sakura menganggap tidak ada penolakan sama sekali yang berarti. Ia berjalan mendekati kasur Sasuke.

"Berhenti tepat di mana kau berada Sakura"Suara itu terdengar parau dan dalam. Sakura menghentikan langkahnya.

"Berbaliklah dan pergi dari sini"

Sakura sama sekali tidak bergerak, ia terkejut dengan pengusiran halus Sasuke yang terdengar sangat kasar. Sakura sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.

Kalau selama ini Sasuke bisa egois terhadap nya, kenapa ia tidak?

"Sasuke, jangan menghindari ku!"Seru Sakura, ia menarik selimut yang menutupi Sasuke. Tapi selimut itu di tahan Sasuke dengan cukup kuat.

Sakura kembali menariknya dengan sekuat tenaga. Dan Sasuke menahannya kembali dengan sekuat tenaga.

"Jangan keras kepala"Sakura tidak mau kalah menarik selimut itu. Sasuke masih kukuh menahan selimut itu menutupi dirinya.

"Sasuke.."Sakura menariknya keras, "Jangan keras.."Sasuke masih menahannya erat, "Kepala"Akhirnya Sasuke melepaskan selimut itu dan membuat Sakura terhempas jatuh dengan kuat bersama selimut itu.

Sasuke dengan cepat bangun dan membuang selimut hitam itu ke arah Sakura. Selimut itu besar dan berat hingga membuat Sakura terjebak di dalam selimut itu. Sejenak Sakura bisa mencium aroma tubuh Sasuke yang menempel erat. Dan aroma itu membuatnya merasa nyaman.

Sementara Sakura masih terjebak di dalam selimut hitam tebal itu, Sasuke berlari keluar kamarnya dan menguncinya dari luar.

Apa yang di lakukan nya? Dia mengunci Sakura di dalam kamarnya. Astaga, hampir saja. Kalau kewarasannya hilang semua pasti dia akan menarik Sakura kedalam pelukannya, lalu bermanja seakan bukan dirinya.

Astaga, apa yang di fikirkannya. Sasuke benar-benar kacau. Otaknya sudah tidak waras. Kakashi, dimana pelayan kepercayaan nya itu? Kenapa Sakura bisa dengan mudah masuk kedalam kamarnya?

Suara gebukkan pintu terdengar, Sakura pasti mengamuk di dalam kamarnya.

"BUKA UCHIHA?! KENAPA KAU MENGUNCIKU DISINI? SIALAN KAU!"Teriakan Sakura semakin membuat Sasuke pusing sendiri.

Kakashi berlari menuju tuannya yang berdiri kesal di depan pintu, "Nona Haruno? Kenapa dia bisa berada di dalam?"tanya Kakashi bingung.

"Tanyakan itu pada dirimu Kakashi. Kenapa Sakura bisa masuk ke dalam kamarku?"Tanya Sasuke kesal. Kakashi menggeleng, dia tadi keluar sebentar karena bosan mendengar perdebatan tuannya dengan Ino yang terdengar sangat menyebalkan dan menyakitkan telinga.

"Maaf Tuan. Aku tadi keluar sebentar"

Suara gebukan itu semakin kuat di serta Teriakan mengutuk, membuat Sasuke dan Kakashi heran menatap pintu itu masih kokoh dan tidak roboh menahan pukulan dashyat.

"Aku sudah peringatkan padamu untuk tidak membiarkan Dia masuk dan mendekatiku!"Teriak Sasuke tanpa sadar. Seketika, suara gedebuk pintu di pukul dan cacian berhenti seketika.

Sasuke dan Kakashi menatap pintu itu heran.

"BANGSAT KAU UCHIHA?! AKU HANYA INGIN MELIHAT KONDISIMU BRENGSEK. BANJINGAN, AKU MEMBENCIMU!"

Sasuke menutup matanya menahan pusing kepalanya yang makin menjadi.

"Aku akan beristirahat di kamar Shikamaru"Sasuke berbisik pelan ke Kakashi.

Kakashi mengangguk dan mengangguk bingung, apa yang harus dilakukannya sekarang?

"Ini kuncinya, ketika aku sudah pergi kau baru membukanya. Jangan katakan padanya aku pergi kemana"Sasuke menyerahkan kunci kamarnya pada Kakashi.

Kakashi mengangguk mengerti.

"SASUKE BUKA PINTUNYA! AKU AKAN MEMPERTIMBANGKAN KEMBALI UNTUK MEMBENCIMU. UCHIHAAAAA! AKAN KU LAPORKAN PADA KAA-SAN, LIHAT SAJA BRENGSEK! KAU AKAN DI CERAMAHI HABIS-HABISAN. AKU JUGA AKAN MELAPORKANNYA PADA TOU-SAN"Teriak Sakura.

Sasuke menghela nafas pelan, seorang gentleman memegang teguh Janjinya. Seorang gentleman tidak memainkanan perasaan perempuan. Seorang gentleman tidak boleh kehilangan kontrol atas dirinya.

Sasuke mengenakan jaket abu-abu nya yang terletak di atas sofa.

Baru saja Sasuke hendak membuka pintunya.

"Otou-otou, ku dengar kau sakit?"

Brengsek, dari mana datangnya mahluk ini?


Bersambung...


Q : Kapan SasuSaku deket lagi?

A : Akan ada saatnya~

Q : Jadi kalo ada cermin kepribadiannya (Matsuri) bisa berubah atau bgmna?

A : Menurut beberapa film yang aku pernah tonton -,- orang yang memiliki kepribadian ganda itu dapat berubah-ubah tergantung emosi mereka. Nah, dari pada bikin bingung kalau Matsuri bicara sendiri, Cherry bikin Matsuri melihat pantulannya. Kepribadian ganda itu bisa keluar sebenarnya kapan saja dan dimana saja. Kepribadian ganda keluar jika kepribadian yang satunya merasa terancam dan tidak bisa menanganinya. begitu sih yang Cherry simpulin ^^v

Q : Nama Facebook?

A : Facebook udah jarang Cherry pakek sih. lebih seringnya ke tetangga-nya Facebook. Mbak IG hehe. tapi kalau mia mau add gak papa kok. Namanya : Anjali amalia

Q : Sasuke dibuat cemburu sampai kebakaran jenggot?

A : Chap depan gak berarti Chap ini? ada khusus Chapnya tenang ajah. *Hahaha tawa nistah

Q : Kenapa updatenya lama?

A : Reality guys, Reality.


Gak banyak curcol sih kali ini

cukup mau bilang, akun Cherry bermasalah pada emailnya dan tiba-tiba ada notice kalau gak segera diperbaiki bakal di disable or something like that.

Jadi kalau tiba-tiba akun Cherry gak bisa terbuka lagi, Cherry akan buat pengumuman panjang di Review, probably. sebagai guest.

sedih banget bacanya. Cherry udah berusaha perbaiki, tapi emailnya bermasalah dan gak bisa dibuka. udah sending code tapi gak masuk-masuk. Anyone can help me?

Begini aja deh, kalau begini dalam waktu dekat Cherry bakal umumin sesuai janji Cherry dan fict HOLIDAY bakal Cherry pindahin ke Wattpad. Nama akunnya ada di Bio.

Cherry juga mau bilang, Cherry mau bikin project cerita dalam waktu dekat. tapii di wattpad. di sana Cherry bakal sering update. mungkin seminggu biisa 5 kali kalau tidak sibuk. Fict tentang Naruto tentunya. Juga dengan Pair Favorite kita. tapi... itu tergantung respon kalian sih.

semoga aja Akun Cherry di FFn baik-baik saja, karena aku sayang kalian.

With a lot love.

Jayapura, 27 Nov 2016

Cherry Aiko