Baru saja Sasuke hendak membuka pintunya.
"Otou-otou, ku dengar kau sakit?"
Sasuke terkejut Luar biasa mendapati kakaknya berdiri dengan khawatir di depan pintu. Itachi maju selangkah memeluk Sasuke, namun Sasuke dengan refleks mundur selangkah. Rasa terkejutnya belum hilang.
"SASUUUKEE!! BUKAAAA!!!"Sakura ternyata belum menyerah. Gedorannya pada pintu semakin kencang. Itachi melepaskan pelukan nya dengan cepat. Ia memegang kedua bahu adiknya dan menatap Sasuke serius.
"Itu Sakura bukan?"Itachi bertanya padahal ia sudah mengetahui sendiri jawabannya. Sasuke menghela napas pelan. "Yah..."
.
.
HOLIDAY
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku, Slight/ NaruHina, ShikaTema, NejiTen, SaIno, etc.
Happy reading ! Don't Like Don't Read ! Don't Ask too Much!
.
.
Sakura duduk dengan wajah pucat. Itachi menatap tajam Sasuke yang duduk dengan wajah lesu menyender pada sofa.
"Ini masalah serius"Ucapan Itachi berhasil menarik perhatian Sasuke. Sasuke mendengus pelan sebelum melipat kedua lengannya di depan dadanya. Tatapan tajam dan mematikan yang diberikan Itachi seakan tidak mempan pada Sasuke. Sasuke menatap balik menantang Itachi lebih tajam, sedangkan Sakura tertunduk bisu.
"Kau janji akan menjaga nya."Tuduh Itachi. Sasuke mendengus keras. Sakura mengadahkan kepalanya, ia tidak percaya dengan perkataan yang dilontarkan oleh Itachi, Bos besarnya.
"Kau melaporkan hal tidak benar pada Madre."Balas Sasuke tenang. Itachi tidak menampik hal itu. Dialah yang memang menghasut Mikoto.
"Hal itu kita sudah pernah membahasnya. Tapi kau berjanji akan menjaga Sakura sampai dia kembali."Itachi kembali menuduh Sasuke. Sasuke memutar matanya bosan.
"Dia tidak ada goresan sedikitpun. Kau bisa mengeceknya."Sasuke bangkit dari kursinya. Itachi ikut berdiri. Sakura hanya diam menatap bergantian adik kakak itu.
Kepala Sasuke kembali terasa pening. Belum selesai masalah Sakura, Itachi datang disaat yang tidak tepat. Beristirahat dengan tenang itu yang dia inginkan sekarang. Sasuke berjalan meninggalkan kursinya. Itachi menahan bahunya.
"Aku menyuruhmu untuk tidak menyakiti modelku."Ucap Itachi serius.
Sasuke mendesis keras, "Aku menjaganya dengan sangat baik, asal kau tahu. Aku memperlakukannya seperti tuan putri. Seperti Aurora yang keluar dari istana dengan kawalan ketat prajurit."Sasuke merasa tidak senang disalahkan atas apapun yang kakak nya sama sekali tidak mengetahui alasannya. Dan demam yang di derita Sasuke membuat kata-kata kasar dikeluarkannya begitu saja.
Sakura merasa terluka. Dia bukan seperti princess atau apapun yang dikatakan Sasuke. Sasuke memang menjaganya dengan baik selama ini. Memperlakukannya dengan sangat baik. Tapi Sakura sakit hati mendengar alasan Sasuke memperlakukannya dengan baik adalah karena Janjinya dengan Itachi. Karena Sakura adalah model nya Itachi. Bukan karena Sasuke memang ingin menjaga nya dengan baik. Atau bukan keinginan Sasuke memperlakukan Sakura dengan baik. Jadi semua perlakuan baik Sasuke padanya hanya sekedar tuntutan dari Uchiha Itachi dan juga ibu-Ayah Sasuke. Mata Sakura berkaca tanpa di sadari nya sendiri.
Sasuke tahu inilah satu-satunya cara untuk membuat Sakura menjauh darinya. Satu-satunya cara membuat agar dia dan Sakura memiliki jarak, agar mereka berdua kembali seperti awal. Saling tidak peduli satu sama lain. Cara agar Sakura membencinya dan mereka berada pada zona yang aman. Jadi Sasuke mulai menghitung apa saja yang akan dikatakan olehnya. Menghitung perkataannya yang akan menyakiti Sakura.
"Aku muak harus mendengarkan ocehan Madre karena kau Aniki! Kau yang memprovokasi Madre bahwa aku menyukai Sakura. Padahal tidak sama sekali. Konyol sekali", Satu
Sasuke menarik napasnya sebelum kembali melanjutkan.
Dua, "Aku harus mengurus Karin dengannya. Kau tahu sendiri aku paling malas mengurusi Karin, apalagi yang lainnya."
Sasuke terus melanjutkan hitungannya.
Tiga, "Modelmu itu senang sekali ikut campur dalam urusan orang lain. Dia sangat manja dan menyebalkan. Benar-benar membuatku muak"
Sasuke terus melanjutkan hitungannya dan berharap cukup membuat Sakura membencinya. Pergi, itu yang Sasuke harapkan.
Empat, "Aku juga harus berurusan dengan Sahabatku sendiri, Sasori mengancam ku. Mengancam ku jika aku mendekatinya. Cukup sudah sekarang. Aku tidak perlu menjadi seperti seorang butler yang mengurusi putri tuan nya."
Sasuke melirik Sakura yang terdiam.
"Empat. Itu empat kesulitan Tugasku sebagai tuan penjaga modelmu sudah berakhir Aniki. Sekarang aku lelah. Aku mau beristirahat dengan tenang. Demi Tuhan! Aku hanya ingin istirahat. Kepalaku sakit sekali!"Sasuke berjalan memasuki kamarnya lalu membanting pintu di belakangnya.
Harusnya penjelasan Sasuke cukup membuat Sakura sakit hati lalu berlari pergi dan bersumpah untuk tidak pernah melihat Sasuke lagi, atau sangat cukup untuk membuat Sakura berjalan melayangkan tamparan pada wajah Sasuke. Tapi Sakura hanya terdiam dengan bulir air mata tidak bisa di hentikan nya. Jadi selama ini, Sasuke hanya menganggap nya seperti bayi besar yang harus di asuh. Seperti itulah penilaian Sasuke padanya, bahkan Sasuke terpaksa berlaku baik padanya, Sasuke terpaksa menjaganya. Dan sepupunya sendiri yang membuat Sasuke pergi menjauhinya. Seperti pikirannya selama ini.
Sakura menunduk. Kakashi yang berada disana hanya bisa berdiri terdiam. Tuannya tidak pernah marah sebanyak ini. Dan hari ini bosnya sangat emosi dan sebaiknya ia tidak ikut campur dalam masalah ini. Tapi Kakashi tau apa yang di ucapkan bosnya tadi tidak sepenuhnya benar. Ada beberapa ungkapan yang tidak bosnya ucapkan. Lagipula bosnya sedang sakit jadi wajar saja kata-kata kasar keluar dari mulut bosnya.
Itachi berbalik menatap Sakura khawatir. Dia menghampiri dan memeluk Sakura pelan. Pelukan yang nyaman, namun tidak senyaman Sasuke. Bahkan disaat Sasuke sudah menyakiti nya Sakura masih membandingkannya.
"Ini semua salahku"Sakura terisak di bahu Itachi.
"Maaf kan aku Sakura, Aku lupa jika Sasuke bisa berubah menjadi sebrengsek itu."Itachi berusaha menenangkan isakan Sakura. Sakura menggeleng pelan dalam pelukan Itachi.
Rasa penyesalan Sakura menyeruak begitu saja. Andai saja waktu itu dia menerima langsung ajakan Naruto atau menolak keras tawaran Sasuke. Pasti jadinya tidak akan seperti ini.
Melepaskan pelukan Itachi, Sakura berlari mengabaikan teriakan Itachi yang memanggilnya. Sakura berlari, berlari menuruni tangga dengan cepat. Tidak peduli nantinya dia akan jatuh dari tangga. Bahkan beberapa kali kakinya terselip karena Heels yang di kenakan nya. Sakura tidak peduli kalau kakinya akan bengkak karena terkilir. Yang di pikirannya adalah segera pergi, jauh. Jauh dari Sasuke itu yang dibutuhkan nya sekarang.
Ini permainannya dan Sakura mengaku kalah akan permainannya sendiri. Permainan iseng yang berakhir dengannya yang terluka.
"Brengsek."Sakura menangis di balik pintu kamarnya yang ia banting keras.
...
"Itu Sakura."Bisik Tenten pelan. Shikamaru mengadahkan kepalanya dan melihat perempuan berambut merah muda berlari dengan cepat menuruni anak tangga dengan heels nya. Shikamaru menggumam mengiyakan sambil mempelajari apa yang sedang terjadi.
"Ada apa dengan nya?"Tanya Tenten penasaran. Kakinya yang terkilir sudah jauh lebih baik karena Shikamaru sudah mengobati nya. Shikamaru mengangkat bahunya tak mengerti. Tenten kembali menaiki anak tangga dibantu oleh Shikamaru.
Tenten dan Shikamaru terkejut mendengar suara bantingan pintu kamar Sakura.
"Ada masalah serius. Kudengar tadi seharusnya Sakura pergi bersama Hyuga dan Naruto. Tapi sepertinya mereka sama sekali tidak terlihat. Kau panggil Sasori dan aku akan mencoba membujuknya"Pintah Tenten. Shikamaru mendengus kasar.
"Kita sebaiknya tidak ikut campur."Shikamaru memperingatkan. Dia sendiri pun tidak ingin ikut campur dengan masalah teman-teman nya. Kecuali jika memang terpaksa.
Tenten menatap sinis Shikamaru. Bosnya ini memang paling tidak bisa diandalkan. Dia harus mempertanyakan rasa sosial Shikamaru. The Humanity Shikamaru dirasanya sudah lenyap. Jika ada orang yang menjual rasa kemanusiaan Tenten akan membelikan Shikamaru satu lusin.
"Cepat kau lakukan saja. Kau panggil Sasori, sekalian Temari. Aku juga butuh bantuan seorang wanita."
Shikamaru menatap Tenten tak percaya. Dia baru saja mengabaikan wanita itu tadi dan kini Tenten menyuruh nya untuk meminta Temari. Nice Cousin.
"Kau memang paling cerdas."Sindir Shikamaru.
...
Sudah lama banget aku nulis ini.
Banyak yang nanya kenapa nggak dilanjut?
jujur aja, FFn membuatku sedikit muak, aku gagal log-in pakek browser. Untung saja aplikasinya sekarang bisa update. hahaha. love it!
pendek? banget!
aku lagi ngestuck!
aku malas nulis lagi yang dari notebook ilang kemarin. BTW besok aku UN Matematika, doakan yahh
