"Sakura buka pintunya."Temari berusaha mengetuk pintu. Tenten disebelahnya gelisah. Mereka berdua saling bertatapan dan sesekali bergantian mengetuk serta membujuk Sakura buka pintu.

"Entah kenapa aku sama sekali tidak memiliki kontak milik Uzumaki, Hyuuga maupun Yamanaka."Runtuk Tenten pelan. "Ngomong-ngomong dimana Shikamaru. Aku menyuruhnya memanggilmu dan kini ia menghilang."

Temari meringis kecil, "Sasori berada di tengah lautan. Shikamaru sedang menunggu Sasori berlabuh."Jawab Temari.

"Haruno-san. Tolong buka pintunya. Kami khawatir."Bujuk Temari.

Tenten mengetuk pelan, "Sakura-san. Aku akan benar-benar mendobrak pintu ini kalau kau tidak membuka pintunya."Ancam Tenten serius.

Temari menatap Tenten horor, "Oke itu cara bujukan yang paling tidak masuk diakal, kau tidak akan melakukannya kan?"Tanya Temari histeris.

Tenten menyinggungkan senyum miring, "Jangan remehkan aku. Walau tubuhku kecil, aku bisa menghancurkan batu bata dengan tanganku."Tenten mengambil posisi.

Temari mengetuk pintu Sakura kencang, karena Tenten sudah mengambil posisi akan mendobrak pintu. Mereka akan merusak properti milik orang lain dan mungkin saja mereka bisa diusir.

"Haruno, aku serius. Buka pintunya. Tenten, astaga, kau bisa mengacaukan segalanya."Seru Temari histeris.

"Baiklah, satu ..."dan saat suara nyaring Tenten mulai menghitung, Sakura membuka pintunya perlahan.

.

.

HOLIDAY

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku, Slight/ NaruHina, ShikaTema, NejiTen, SaIno

Happy reading ! Don't Like Don't Read

.

.

Sasuke mengambil selimut menutupi tubuhnya. Tak peduli dengan Itachi yang terus mengawasi nya dengan tatapan mematikan dan penuh kekecewaan.

"Sasuke,"Baru saja Itachi memanggil namanya, Sasuke buru-buru mengangkat tangannya. Tanda ia tidak ingin melakukan pembicaraan apapun.

Kakashi datang di pintu, seakan memanggil Itachi untuk mengatakan sesuatu.

"Baiklah, istirahat. Setelah kau bangun, kita akan membicarakan semuanya."Ucap Itachi. Sasuke menurunkan tangannya dan kembali menyamankan posisi tidurnya.

Itachi berlalu dan menuju kearah Kakashi.

"Apa yang terjadi?"Tanya Itachi setalah ia menutup rapat pintu kamar Sasuke.

"Kondisi Tuan muda Uchiha drop. Alerginya kemarin kambuh dan kurasa belum sembuh total. Dan Cuaca Yunani yang kering ini, Sepertinya kembali mempengaruhi kondisi Tuan Sasuke."Jelas Kakashi.

Itachi menarik napasnya. Kakashi melanjutkan.

"Selain itu, ada beberapa pertemuan mendadak yang seharusnya di jadwalkan terpaksa diundur dan pertemuan kemarin di Venice gagal karena nona Sakura, sempat menghilang."Ucap Kakashi.

Kali ini, Itachi mengerut pangkal hidungnya perlahan. Migrannya terasa kambuh seketika.

"Ku pikir semuanya sudah beres?"

Kakashi menggeleng pelan, "Anda pasti mengerti dunia kelam bisinis, take it or leave it. Kau harus siap meskipun kau sedang tidak siap. Jadi walaupun mengosongkan jadwal dari awal itu tidak ada gunanya begitu ternyata MOU-nya selesai pada waktu itu."

"Ada lagi?"Tanya Itachi.

Kakashi mengangguk, "Ada beberapa dokumen kerja sama yang tidak bisa ditunda pertemuannya untuk segera ditandatangani dan tuan muda Sasuke harus kembali secepatnya ke Konoha. Lalu masalah Mega proyek..."Ucapan Kakashi terhenti melihat Itachi menaikan tangannya.

"Sudah, cukup aku tidak bisa dengar lagi. Oh Tuhan. Apa Padre tahu?"Itachi duduk sembari melipat tangannya. Berharap bahwa jawaban Kakashi dapat menenangkan pikiran dan hatinya yang tidak berhenti berseteru.

Kakashi mengangguk, "Tuan Uchiha sudah tahu. Karena masalah Mega proyek ini harus terus di laporkan langsung pada tuan Uchiha. Dan tadi pagi, Uchiha-sama baru saja menelepon. Dia berbicara langsung pada Sasuke-sama."

Itachi meremas telapak tangannya, "Hanya masalah Mega proyek kan? Lalu apa yang dikatakan Padre?"

Kakashi mengangkat bahunya pelan, "Anda tahu sendiri jawabannya Tuan Itachi."

Kakashi mengumpat kasar, "Sial."

"Sepertinya saya memang terlalu bersikap lebih dengan membiarkan nona Sakura masuk, padahal Tuan Sasuke sudah melarang saya melakukannya."Kakashi terlihat menyesal dalam ucapannya.

Itachi mengangguk perlahan, mengakui dalam hati. Ia juga berperan dalam kesalahan ini, Sasuke sekarang adalah CEO, dia yang harus bertanggung jawab akan hal ini. Tidak ada gunanya memang mengosongkan jadwal dari jauh hari kalau tiba-tiba banyak MOU yang minta ditandatangani langsung.

"Kita biarkan Sasuke beristirahat."


"Aku benci laki-laki ayam itu."Sakura terlihat menahan tangis air matanya. Tenten mengompres pergelangan kakinya dengan es batu. Temari yang hanya bisa menenangkan mengelus lembut punggung Sakura.

Tenten dan Temari saling melirik, "Tidak masalah. Kau pantas membenci kalau itu membuatmu tenang."Ucap Temari.

Sakura terisak pelan, "Aku membencinya sekali. Sialan."

Tenten meringis melihat kaki bengkak Sakura. Hal ini mengingatkannya tentang kejadian sang pria buta tak berperasaan itu, juga kejadian tadi pagi. Ia melihat Shikamaru memijat kakinya perlahan dan pijatan itu benar-benar bekerja karena Tenten tidak merasakan sakit yang berlebih lagi.

"Dengar Sakura-san. Aku akan memijat pergelangan kakimu sebelum bengkaknya terlihat. Percayalah, ini tidak akan terlalu sakit dibanding kalau sudah terlanjur bengkak. Kau lihat kakiku ini lagi, aku juga terkilir hari ini dan aku merasa lebih baik."

Sakura meringis melihat kakinya lalu mengangguk pelan, dan Tenten mulai memijat kaki Sakura.

Pintu kamar Sakura terbuka dan wajah Naruto yang muncul lebih dulu.

"Kau tidak apa-apa kan? Apa yang membuatmu menangis Sakura?"Tanya Naruto dengan napas tersengal. Kehadiran Naruto membuat kaget mereka. Namun isak tangis Sakura kembali pecah.

"Aku benci laki-laki ayam itu. Aku mau pulang saja."Ucapan Sakura pelak membuat Naruto menarik napas lelah.

"Kau tidak bisa pulang seenak itu Sakura. Apa yang dilakukan ayam itu padamu?"Tanya Naruto.

Sakura menggeleng, ia enggan menceritakan hal ini. "Aku mau pulang saja."Gumam Sakura terisak.

Naruto mendudukkan dirinya di kursi terdekat dan mengatur napasnya.

"Aku berlari kesini karena Shikamaru meneleponku kalau ia mendapatimu menangis. Hinata dan Ino harus menyelesaikan pemilihan. Begitu pilihan selesai, mereka akan langsung kesini."Jelas Naruto.

"Aku mau pulang."Isak Sakura menatap Naruto.

"Sakura, kau tega meninggalkan Hinata? Dia hanya ingin kau hadir di pernikahannya."Melas Naruto.

"Aku hanya mau pulang."Balas Sakura tak kalah sendu.

"Sakura... Hanya tinggal dua hari."Bujuk Naruto.

"Please... Aku hanya ingin pulang."Jawab Sakura.

"Sudahlah Uzumaki-san. Biarkan Haruno beristirahat dulu sejenak menjernihkan pikirannya."Ucap Temari.

Naruto mengangguk pelan.


Sekitar 20 menit kemudian Sasori muncul di depan pintu kamar Sakura. Dan syukurnya Sakura sudah berhenti menangis.

"Apa yang terjadi?"Tanya Sasori.

Sakura menggeleng pelan, "Aku hanya mau pulang."Jawab Sakura.

Sasori menatap Temari meminta keterangan dari sekretarisnya itu. Temari hanya menggeleng pelan dan mengucapkan nama Uchiha tanpa suara.

Sasori mendecih, "Sudah kuduga. Memang ada kaitannya dengan Sasuke. Biar aku menemuinya." Sasori berbalik pergi dari kamar Sakura.

Naruto yang melihat emosi di wajah Sasori mengikutinya dari belakang.

Shikamaru muncul tak lama kemudian dengan raut wajah bingung, "Nah, apa yang terjadi?"Tanyanya.

Tenten hanya memutar matanya bosan.


Kakashi bergegas membuka pintu ketika mendengar ketukan keras dan suara panggilan yang kasar.

"Mana Sasuke?"Tanya Sasori.

Kakashi menyerit sebelum melirik Naruto yang khawatir di balik Sasori. "Maaf, tapi tuan Sasuke harus beristirahat. Kalian tidak boleh mengganggunya."Ucap Kakashi dengan nada perhitungan.

Sasori mendesis sebelum kembali berbicara, "Kakashi, beri aku jalan. Aku mau masuk bertemu dengannya."

Kali ini Naruto yang menyahut dari belakang, "Kakashi, please. Kami hanya ingin bicara sebentar."Naruto berusaha membujuk Kakashi yang terlihat sama sekali tidak ingin memberikan mereka cela untuk masuk.

"Ada apa ini?"Uchiha Itachi muncul di balik tubuh Kakashi. Hal ini sontak membuat Sasori dan Naruto terkejut. Karena melihat sang sulung Uchiha telah berada di Santorini tanpa kabar lebih dulu.

"Aku ingin bertemu dengan Sasuke."Ucap Sasori.

"Biarkan kami bicara 5 menit saja dengan Sasuke. Kami hanya minta ia menjelaskan kenapa Sakura-chan menangis. Sakura juga terus meminta pulang."Sambung Naruto.

Itachi mengangguk, "Biarkan mereka masuk Kakashi. Aku yang akan menceritakan semuanya."Pintah Itachi. Kakashi dengan enggan membuka jalan untuk Sasuke dan Naruto.

"Ku harap kalian tidak berisik. Adikku sedang istirahat. Dia sangat membutuhkannya."Itachi mempersilahkan Sasori dan Naruto duduk.

"Dan aku juga membutuhkannya untuk menjelaskan sesuatu dimana dia."Seru Sasori emosi.

Itachi menatap tajam Sasori, "Berhenti bertingkah seperti anak kecil. Ku bilang, aku yang akan menjelaskan semuanya."Ucapan Itachi ia tekankan tiap kata.

Naruto menutup matanya, "Lebih baik, langsung saja. Apa yang sebenarnya terjadi. Karena Sakura menolak untuk menceritakannya."

Itachi terdiam, ia juga bingung harus darimanakah ia bercerita.

"Jadi..."

"Aku yang salah. Dan kau tidak perlu khawatir Sasori, Aku melakukan hal tersebut karena aku menghargai keinginan mu. Kau menyuruhku untuk menjauhinya. See? Aku menghindarinya."Sasuke tiba-tiba muncul. Wajahnya masih tampak pucat. Kakashi berdiri di belakangnya.

"Sasuke."Itachi berdiri melihat adiknya yang masih lemas.

"Aku tidak mengerti, tapi kenapa kau membuatnya menangis Sasuke? Sakura terus saja meminta pulang. Hinata akan sedih jika mendengarnya. Demi Tuhan kami hanya ingin menikah dengan tenang disini."

Sasuke melirik Naruto yang menyalahkan dirinya.

"Aku meminta kau menjauhinya, tapi ternyata kau masih bisa menyakitinya."Ucap Sasori.

Sasuke berbalik, ia tidak sanggup lagi berdiri karena sakit kepalanya. "You ask me to avoid her and i did. So? When she try to close with me, i have to push her go. And hurt her? I choose that way. Ups, Wrong way. I cross the limit."Ucapan Sasuke menarik emosi Sasori. Naruto menahan tubuh Sasori yang ingin menerjang Sasuke.

Itachi berdiri menghalangi Sasori.

"Brengsek. Aku berusaha membuat itikad baik denganmu Sasuke."Seru Sasori.

Itachi menyerit, "Jaga mulutmu. Kau berurusan dengan dua Uchiha saat ini."

Sasuke berbalik dengan tampang datarnya.

"Huh, easy boy. I am finish play with her. Dan Uchiha tidak pernah main-main dengan apa yang mereka katakan. Since you ask me to avoid her, Aku akan melakukan berbagai cara untuk melakukannya."ucap Sasuke.

"Sasuke maksudmu apa?"Naruto menyerit bingung.

"Listen, aku bisa saja mengingkari keinginan mu ini Sasori. Tapi kau sahabatku. Dan aku make my promise di depan kalian semua. Demi persahabatan kita."Sasuke terkekeh kecil, "For Godness sake, sakit kepala ini membuat aku banyak bicara."

"After Naruto's Wedding, no after wedding blessing. I decide to go. And i hope you guys don't ever and never make this plan again. I like holidays but God know, i born for work."Sasuke berjalan berbalik masuk ke dalam kamarnya.

"One Thing. Aku tahu ini salah aku, so, i am sorry. Aku menyesalinya. Aku hanya butuh istirahat."Sasuke menutup pintu kamarnya. Tak lama suara di kunci terdengar.

Sasori menyeritkan keningnya, "Dia sama sekali tidak terlihat menyesalinya."

Naruto menggeleng cepat. "Setidaknya Sasuke sudah berjanji tidak akan mendekati Sakura lagi. Sebaiknya kita tenangkan Sakura dan membujuknya untuk memikirkan kembali. Aku turut bersalah tentang apa yang terjadi disini. Kak Itachi, kami pamit."Naruto mendorong tubuh Sasori keluar dari pintu.


"So? Sasuke telah membuat keputusannya. Cukup sedih karena ia tidak bisa menemani hingga acara berakhir."Ucap Naruto.

Sasori mendecih, "Tidak. Itu keputusan yang paling baik."


Menurut kalian bagaimana guys?

Apakah Sasuke sudah membuat keputusan yang baik?