Hinata memasuki kamar Sakura dengan wajah sembab. Di belakangnya Ino menatap Sakura dengan kecewa. Hinata langsung berlari memeluk Sakura. Temari dan Tenten menjauh memberikan ruang untuk mereka berdua.
"Jangan pergi."Bisik Hinata tersendu. Seketika Sakura merasa telah menjadi sahabat yang egois. Ia membalas pelukan Hinata. "Aku minta maaf."Balas Sakura.
Ino melipat kedua tangannya di depan dada, "Biarkan saja dia pergi Hinata. Sakura akan terus memohon untuk pulang. Tidak ada gunanya kau memintanya."Ucap Ino yang sangat kecewa mendengar telepon Naruto tadi tentang Sakura yang terus merengek minta pulang.
"Tenten dan Temari, bisa kalian tinggalkan kami sebentar aku ingin membuka pikiran wanita bodoh ini."
Temari dan Tenten mengangguk tersenyum mendengar pintah Ino, mereka meninggalkan kamar Sakura.
Begitu tenten dan Temari meninggalkan mereka dan menutup pintu memberikan privasi, Ino langsung maju mendekati Sakura yang masih enggan dilepas pelukannya oleh Hinata.
"Dengar Sakura. Aku memberikan kau kesempatan. Aku tahu mengapa kau terus-menerus dijauhi oleh Sasuke. Aku memberikan kau kesempatan itu dan kau menolak alasan mengapa ia menjahui mu. Sasuke bisa saja akan membunuhku kalau ia tahu aku yang menyuruhmu merawatnya sakit."Jelas Ino. Hinata melepaskan pelukannya dari Sakura.
"Aku hanya kalian menyelesaikan semuanya. Dan apapun alasannya kau harus menghargainya Sakura. Mungkin kau sakit hati dengan ucapan Sasuke. Tapi kupikir kau sudah mengetahui betapa berbahayanya mulut Sasuke. Dengar, kalau kau ingin pulang. Silahkan. Aku tidak akan menahanmu. Malah aku yang akan menahan Hinata untuk menahanmu. Your decide, Ada kapal sebentar kau bisa pulang sekarang. Tapi ingat, kau telah mengecewakan kita semua kalau kau pulang."
Hinata menganguk.
"Aku tidak akan menahanmu Sakura-chan. Aku tidak masalah bukan kau yang menjadi salah satu brides maid."Ucapan Hinata membuat air mata Sakura kembali mengalir..
"Aku minta maaf karena telah bersikap egois. Aku tidak mungkin melewatkan penikahan Hinata."
Ino tersenyum mendengarnya, berikut Hinata yang kembali menghambur ke pelukan Sakura.
"Jadi bagaimana? Apa kita beritahu semuanya?"Tanya Naruto pada Sasori.
Sasori menggeleng pelan.
"Aku rasa sebaiknya ini hanya antara kita. Karena aku yakin Sasuke juga menginginkan hal yang sama."Jawaban Sasori terdengar masuk akal di Naruto.
Awalnya ia ingin memberitahu yang lain mengenai keputusan Sasuke. Agar mereka bisa memanfaatkan waktu dengan baik bersama Sasuke sebelum pria tembok itu kembali masuk ke dalam dunia gila kerjanya. Namun ucapan Sasori jauh masuk akal dan Naruto juga yakin yang Sasuke butuhkan dalam liburan ini adalah ketenangan dan istirahat.
Temari dan Tenten menunggu diluar hal ini membuat Naruto menyerit bingung.
"Hyuuga dan Yamanaka-san berada di dalam. Mereka meminta privasi, jadi aku dan Tenten memutuskan untuk menunggu disini."Ucap Temari tanpa menunggu Sasori bertanya.
Naruto mengangguk mengerti, ia hanya dapat berharap Ino dan Hinata dapat mengubah pikiran Sakura.
"Kalian kembalilah ke kamar kalian masing-masing. Terima kasih sudah menemani Sakura. Nikmati liburan kalian disini."Ucap Naruto dengan cengiran khasnya.
Temari dan Tenten mengangguk dan berjalan pergi.
"Kita tunggu sampai mereka keluar, atau kita masuk?"Tanya Naruto.
Sasori menyeritkan keningnya.
"Kita bisa mengetuk."Balas Sasori. Naruto mengangguk setuju. "Aku juga tidak mau menunggu."
"Sudah selesai?"Shikamaru menyender dengan santai melontarkan pertanyaannya ketika melihat Temari dan Tenten muncul di hadapannya.
Tenten merenggut kesal, "Kau sama sekali tidak berguna."Keluhnya, Shikamaru mendecih sebelum menjawab.
"Aku harus menunggu sekitar 30 menit di bawah terik matahari hanya untuk memberitahu Sasori kalau adik kesayangannya sedang menangis dan terluka. Apa aku masih dibilang tidak berguna?"Tanya Shikamaru.
Temari memutar bola matanya bosan karena sepertinya ia akan terjebak dalam pertengkaran Tenten dengan Shikamaru.
Naruto melihat senyuman di wajah calon istrinya dan tahu masalah telah terselesaikan. Ia sedikit merasa lega karena kalau masih berlangsung, Naruto tidak tau apa yang akan dilakukannya untuk memperbaiki keadaan.
"Aku menyesal."Akhirnya Sakura lah yang pertama kali bersuara, memecah atmosfer kecanggungan di ruangan itu.
Ino terlihat tersenyum puas, tidak ada salahnya memang mulut jahatnya diciptakan. Karena akan berguna disituasi seperti ini. Tuhan memang adil.
"Aku telah berpikiran buruk dan aku minta maaf. Mungkin Aku hanya sedang mengalami kenaikan hormon, makanya aku sedikit sensitif dan bertindak bodoh seperti tadi."Sakura melanjutkan perkataannya dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Syukurlah."Balas Sasori.
"Ah, yah mengenai Sasukeā¦."Sakura berusaha mengubah topik pembicaraan.
Naruto teringat Sasuke yang telah memutuskan akan pergi dan menjauh setelah nanti upacara pemberkatannya. Bukannya hal ini tidak perlu Sasuke lakukan, lagipula Sakura tidak jadi pergi. 'Mungkin, besok saja baru mengatakannya dengan Sasuke.', pikir Naruto.
Sebelum Sakura melanjutkan ucapannya dan hanya akan mengundang sulut emosi Sasori, Naruto berpikir bahwa ia lebih baik mengubah topik yang lain.
"Hina-chan, Ino-chan, sudah memilih tadi? Apa yang kalian pilih?"Tanya Naruto.
Ino yang menyadari bahwa Naruto segera mengubah topik langsung menyahut Naruto.
"Tenang Saja, Naruto."Ino berkata dengan cepat. Namun setelah itu ia membeku dan menatap Hinata di sampingnya.
Hinata tertawa begetar mendengar jawaban Ino sebelum akhirnya ia juga tersadar, "Kami belum memilih apapun."Jawab Hinata tersadar.
Senyum Naruto benar-benar luntur.
Sepertinya ia salah memilih topik pembicaraan.
"Sasori apa menurutmu kita beritahu saja Sasuke agar ia tidak buru-buru pulang?"
"Itu keputusannya Naruto. Seperti yang kau tahu, Uchiha tidak pernah merubah keputusannya."
Neji dan Sai dari kejauhan melihat Shikamaru, Temari dan Tenten sedang bercanda. Yah, walaupun yang terlihat lebih terlihat adalah Shikamaru di bully oleh Sepupunya sendiri.
"Apa kau ingin bergabung?"Tanya Sai menawarkan pada Neji.
Neji yang mengenakan kaca mata hitam menurunkan sedikit kacamatanya, rambut panjangnya yang ia ikat sembarang tertiup angin.
"Meninggalkan segala kedamaian ini? Tidak, terima kasih. Kita bisa bergabung nanti saja. Ini liburan, lebih baik kita nikmati saja."
Neji mengambil posisinya kembali tidur sembari berjemur.
Sai meminum es kelapa dan menaikan bahunya, ia memakai kacamata hitamnya juga. Perkataan Neji ada benarnya. Mumpung Naruto si ribut itu tidak bersama mereka berdua, Jadi biarkan saja semilir angin dan panasnya sinar matahari yang menemani mereka siang ini. Tenang, tidak ada masalah.
.
.
.
Tidak seperti yang sedang dialami oleh semua teman-temannya.
Bersambung...
