Sisa sore itu dilewati dengan kabar buruk dari Konoha. Mereka duduk di meja panjang sembari menikmati makan malam. Tentu saja Sasuke dan Kakashi tidak hadir, sebagai gantinya si sulung Uchiha duduk dengan tenang di kursinya. Pria itu duduk dengan tenang, mengeluarkan wibawa khas Uchiha yang mendominasi walaupun dia tidak melakukan hal apapun. Itachi sesekali tersenyum membalas tatapan bingung orang-orang. Pria itu sadar, apa maksud dari tatapan mereka. Kehadirannya lebih awal pasti menjadi tanda tanya bagi mereka.

Suasana hening seketika membuat Itachi menyilangkan sendok dan garpu nya.

"Sebelumnya, atas nama Sasuke pribadi dan Keluarga, kami meminta maaf atas kekacauan yang terjadi..."

"... Sasuke sedang dalam kondisi yang tidak baik jadi aku memutuskan untuk kemari, maaf mengejutkan."Jelasnya. Sekarang Itachi benar-benar menjadi atensi semua orang di meja makan.

"Sasuke adalah prioritas utama bagiku. Kalian tahu, dia adalah calon pewaris..."

"... Uchiha Kingdom, yah kami tau."Potong Ino,

"... Perusahaan keluarga."Itachi menyelesaikan ucapannya sekaligus memperbaiki ucapan Ino. Jelas saja Itachi tidak menyukai sebutan Ino untuk keluarganya.

Itachi tersenyum menatap Ino, si pembuat onar Yamanaka. Barbie hidup yang lebih banyak menimbulkan masalah sedari dulu.

"Halo Miss Yamanaka, it's pleasure can be here to see you. You're not even say hi to me. By the way, I heard about the Gala, that's unique isn't? Is that Naruto's idea?"Ucap Itachi dengan senyumannya.

Ino memutarkan matanya, "Tuhan pun tau Sasuke baik-baik saja. Kau tidak perlu hadir di sini, karena... Itu sedikit membunuh kesenangan kami."Balas Ino dengan Sarkasme. Ino tau Itachi mempermainkan nya. Si sulung Uchiha jelas tau bahwa Ia tidak terlalu mengerti bahasa Inggris. Sangat buruk malah.

Tatapan Itachi berubah serius, "Ah, karena itu aku memutuskan kemari. Ku dengar kau yang menyebabkan ini. Ino, kita tau alergi Sasuke bukan sesuatu yang bisa dipermainkan. Dia bisa mati karenanya. Uchiha akan kehilangan pewarisnya dan aku akan kehilangan adikku. Apa kau memikirkan hal itu sebelum melakukannya Yamanaka? Hubungan keluarga kita akan hancur kalau kau memikirkannya dengan akal sehatmu."

Suasana menjadi kaku seketika dengan ucapan Itachi. Ini yang menjadi alasan sebagian dari mereka khawatir, Sedingin dan kejamnya ucapan Sasuke. Itachi punya 1001 cara menjadi lebih kejam dari Adiknya itu. Itulah mengapa, Itachi merasa bahwa dirinya tidak cocok menjadi pria dengan kontrol perusahaan besar, Itachi takut bahwa dia akan menjadi orang yang tidak memiliki perasaan. Bisnis sangat kejam, man. Semua orang tau bahwa Itachi tidak pernah main-main dan sangat serius dengan perkataannya.

Sasori kali ini ikut menimpali, "Apa kau disini berbicara mengenai Sasuke. Karena aku sama sekali tidak tertarik."Ujarnya.

Naruto tiba-tiba tertawa canggung. "Ayolah, kita disini untuk hal yang menggembirakan. Jangan menambah banyak kesedihan. Cukup dengan berita yang akan ku sampaikan pada kalian."

Itachi melanjutkan, "Ah biar aku saja."

"Badai terjadi di Konoha. Angin terus terjadi dan penerbangan ditutup karena membahayakan keselamatan. Aku cukup beruntung karena pergi sebelum kabar buruk tersebut."

Naruto mengangguk, "Lalu ada masalah yang terjadi disini. Tapi tenang saja, semua akan segera beres. Aku harap begitu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kemungkinan besar pernikahan kami akan diundur sampai tiga atau empat hari kedepan. Bisa lebih, badai di Konoha membuat pesawat yang ditumpangi tamu tidak dapat lepas landas. Kita tidak bisa menikah tanpa orang tua Hinata ataupun orang tuaku."

Sai mengehela napas, "Yah setidaknya ada kabar baiknya. Kita akan memiliki libur yang panjang disini."Ujarnya. Suasana kembali riuh setelah Sai menyelesaikan ucapannya.

Itachi tersenyum berdiri, berjalan pergi setelah menepuk bahu Naruto seakan memberikan pria itu semangat.

Temari memundurkan tubuhnya, "Tenten. Aku prihatin dengan kondisi Uchiha, dia tidak sekarat bukan?"Tanyanya.

Tenten ikut memundurkan tubuhnya, "Uchiha mengurung dirinya di dalam kamarnya. Kita tidak tahu bagaimana kondisinya."

Shikamaru yang berada disebelah Tenten ikut menimpali, "Yeah, Ladies berhenti bergosip."

Tenten memberikan cubitan ringan ke tangan sepupunya itu. "Yeah, berhenti ikut campur Shikamaru."Sinis Temari. Shikamaru mengangkat tangannya pelan, ia hanya memperingatkan.

Sakura sedari tadi terdiam. Apakah separah itu? Dan kenapa ia harus peduli, Sakura menggelengkan kepalanya. Ia merasa bersalah. Nanti, lebih baik nanti saja ia minta maaf. Setelah Sasuke sembuh dan pria itu menjadi waras, pikirnya.

Hinata mengelus lengan Sakura lalu tersenyum, "Semua akan baik-baik saja Sakura. Jangan khawatir."Ucapan Hinata yang lembut nyaris membuat Sakura percaya bahwa tidak ada masalah yang mereka hadapi. Tidak sampai...

"Hi guys. Aku mencari kalian dan kudengar kalian berkumpul disini." Suara Matsuri jelas menarik atensi mereka semua. Perempuan itu tampak cantik dengan jumpsuit floral hitam coklat dengan kacamata hitam bertengger di kepalanya serta anting bundar besar menggantung di telinganya, what typical seleb Holiday. Gaara berdiri di samping Matsuri dan menatap secara bergantian Hinata lalu Sakura.

Sakura tau bahwa akan ada masalah saat ini?


Temari berdiri dan menyampaikan bahwa ia kembali lebih awal karena perutnya mendadak Sakit. Tenten disebelahnya juga ikut berdiri dan pamit bersamanya.

"Hei... Kenapa aku tidak begitu menyukai Matsuri. Dia penuh misteri."Ujar Tenten

Temari mengangguk, perutnya sebenarnya tidak sakit hanya ia merasa mengantuk dan ingin kembali ke kamar. "Tapi... Entah mengapa aku paling tidak menyukai Gaara. Aku hanya tidak menyukainya."Jelasnya.

Tenten mengangguk dan terkejut mendapati tubuhnya di disenggol oleh seseorang, tubuhnya terhuyung pelan. Sang pelaku berhenti mengucapkan permisi lalu berjalan. Neji, mereka bahkan tidak sadar pria itu tidak berada di meja makan tadi.

"Tidak ingin minta maaf?"Seru Tenten kesal. Temari terkikis kecil.

Neji berbalik menyadari siapa yang ditabraknya. Pria itu mendekat dengan ponsel masih di telinganya.

"Sudah dulu Hanabi. Iya, semua akan baik-baik saja. Sampai jumpa. Peluk untukmu."

"Sibuk bermesraan dengan seseorang di telepon sampai tidak sadar menabrak manusia, bukan tiang."

"Ah, Tenten. Sepertinya Tuhan ingin aku menyelesaikan masalahku dengan cepat. Karena aku sama sekali tidak punya waktu untuk hal seperti ini, lagi. Sayang sekali. Aku minta maaf dan mohon kemurahan hatimu. Hai Temari."Neji merasa tidak cukup baik hari ini dan pria itu berharap Tenten berhenti bersikap seperti anak kecil. Pria itu tersenyum meringis pada Temari, meminta bantuan kecil perempuan itu.

Tapi Temari merasa bahwa ia tidak perlu ikut campur.

"Tidak masalah aku baik-baik saja."Entah mengapa Tenten merasa kesal dengan ucapan Neji, seakan-akan pria itu menganggapnya sebagai sebuah masalah yang bisa berjalan bagi Neji.

"Oh Tuhan, terima kasih! Sampai jumpa kalian berdua. Sampai nanti."Ponsel Neji kembali berdering. Lalu pria itu pergi secepat kilat

"... Halo babe. Aku di... Jangan marah kumohon. Sayang..."

Tenten menatap Neji tidak percaya, Apa pria itu tidak mendengar kekesalannya? And what the hell happened? Pria itu sangat menjijikan dengan teleponan dengan siapapun itu dengan ...

"Tenten, kau baik-baik saja? Aku sangat mengantuk."

"Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya... Did you think that's the most gross thing..."

Temari terkekeh, "Tenten... Neji bicara dengan kekasihnya. That's not Gross."

"Okay."


Ino menyender pada tangga menatap bintang di langit. Sesekali memainkan sendal jepitnya. Handphone di tangan kirinya terus ia putarkan tidak jelas. Melirik kembali lautan yang gelap. Terlihat indah sekaligus menyeramkan pada satu waktu. Pantulan bulan di airnya sangat memesona tapi melihat gelap dan tenangnya air di laut menjadi misteri juga tanda tanya apa yang terdapat di dalamnya.

Ino mengerucutkan bibirnya. Oke malam ini ia tidak tahu apa yang harus ia kirimkan pada Sai. Angin semilir yang menghembus menerpa wajahnya membuat Ino tersenyum pelan. Kemudian suara riuh menarik perhatiannya. Diliriknya orang-orang berkumpul tertawa dengan kesenangan. Tepukan tangan meriah terdengar ketika sepasang insan yang sedang jatuh cinta saling berciuman. Ah, Pernikahan. Ino tidak pernah membayangkan kebahagian seperti itu akan menghampirinya. Menjadi seorang designer baju membuatnya kerap kali berpikir akankah dia merancang gaun pernikahannya sendiri? Ino lalu tersenyum menatap acara orang-orang asing itu. Dia memotret sepasang suami-istri itu yang berpelukan saling bertatapan dan tersenyum bahagia. Ino tersenyum menatap hasil foto tersebut. Meski ia tidak mengetahui siapapun mereka, ia turut bahagia dengan mereka. Ino teringat dengan senyuman milik Sai. Pria itu memiliki senyum yang menenangkan. Seperti Morfin, cara pria itu tersenyum Ino tau semua akan baik-baik saja.

From : Yamanaka_Ino

To : ShimuraS_

Subject : Pembuktian Perasaan? 2

"Aku menyukai senyummu."

Aku tahu ini sangat menggelikan, Aku tidak tahu mereka dan aku tiba-tiba teringat senyummu.

IMG_201609024_.jpg

Playlist : DJ SNAKE ft Lauv - A Different Way

tap the link :

https/open./track/0Wv5wuenRLI3BcwgT3HPIP?si=DrsWKd4bSLebWgYZ8vKt-Q


Shikamaru memberikan gelas champage itu pada Sai. Mereka berdua duduk berdua di balkon menikmati alunan musik alam yang sangat hikmat.

"Apa Sasuke baik-baik saja?"Shikamaru yang pertama kali memecah keheningan.

Sai menyesap pelan minumannya, "Alerginya begitu parah. Ingat waktu SMA pria itu tidak sengaja makan sosis udang. Kita hampir dibunuh oleh Itachi."

Shikamaru mengangguk, "Yah. Setelah itu Kakashi selalu mengecek makanan di kantin kita. Sangat menggelikan."Dengusnya menahan tawa. "Ah jangan lupakan kucing peliharaan Naruto."Tambah Shikamaru.

Sai tersedak minumannya. Dia tertawa keras, "Siapa namanya? Aku lupa astaga. Tapi aku tidak bisa lupa bagaimana Sasuke berlari di lorong setengah telanjang berteriak kencang dan setelahnya kucing itu menghilang. Naruto menangis selama seminggu tiap malam. Ugh, itu sangat mengganggunya mendengar pria itu menangis."

Shikamaru tertawa, "Untuk pertama dan terakhir kalinya kita melihat Sasuke kehilangan harga diri. Tapi dia sialan beruntung karena hanya ada kita di asrama."

Shikamaru dan Sai tersenyum mengenang masa lalu mereka. Ah, SMA masa yang tidak dapat dilupakan.

Teriakan ricuh terdengar. Shikamaru dan Sai melihat asalnya. Acara pernikahan. Sai tersenyum meledek, "Sekarang teman kita yang meraung karena kucing itu akan segera menikah."

Shikamaru mengangguk pelan setuju, "Aku tidak percaya dia telah menemukan tempat pulangnya..."

"... Man aku tidak yakin kita bisa mengikuti jejaknya."Lanjut Shikamaru menatap kerumunan orang di acara itu.

Sai terdiam kemudian dalam hatinya setuju.

"Kau tahu, Aku senang Naruto akan segera menikah. Bukan karena si bajingan menyusahkan itu akhirnya tidak akan menyusahkan kita lagi. Tapi liburan ini, Berkumpul bersama kalian, mempermasalahkan alergi milik Sasuke dan masalah-masalah kecil lainnya. Damn, itu hanya terjadi ketika SMA, akhir-akhir ini masalahku adalah client, MOU, segala macam pekerjaan."Sai tanpa sadar mengeluarkan air matanya.

"Kita semua terlalu sibuk dengan pekerjaan. Selama ini kita mengecap Sasuke sebagai Workaholic, tapi nyatanya kita tidak beda jauh dengan dirinya. Kapan terakhir kali kita saling membicarakan masalah kita? atau kapan terakhir kali kita liburan bersama? Kita terlalu asik bermain sendiri sampai lupa segalanya, Naruto sudah jauh melangkah, Aku takut kita tidak memiliki kesempatan."Lanjut Sai.

Shikamaru terdiam. Kemudian dia mendengus pelan, "Ingat dulu yang sering kita ucapkan?"

"Tidak masalah merepotkan satu sama lain. Jangan pernah takut untuk jatuh cinta, man. Karena kita akan lemah jika tidak bersama. Ketika kita bersama kita saling menguatkan. Millionaire Trouble makers."

"Sasuke sangat jijik mendengarnya."

"Aku juga. But that's damn true."

Sai merasakan getaran di ponselnya. Perlahan ia melihat notifikasi.

You got a new message from Yamanaka Ino

Sai tertawa pelan melihat gambar tersebut. Kembali kebetulan bukan? Wanita itu sedang melihat acara yang sama dengannya. Dimana perempuan itu?

Sai melirik ke bawah dan menemukan Ino bersender di tangga.

"Sai, do you believe we can be happy together or on our way?"

"On our way Shika. But I know we're strong together. Do you mind if i play a song."

Shikamaru menaikan bahunya tanda tidak masalah.

separuh lagu dan Akhirnya Shikamaru berani berbicara.

"Is that you? or Aku tidak yakin kau suka lagu seperti itu. Apa yang terjadi dengan musik klasik, Sai?"

Sai terkekeh, "Kita berteman kan? Ada hal yang ingin ku ceritakan..."

dan Sai menceritakannya.


Oh Hai. Butuh satu playlist lagu dan Chapter 18 bagian satu terbentuk. Yah, akhirnya Aku buat Chapter kembali terpisah.

aku nulis ini sambil dengar Lagu-lagu one direction. You and I, If I Could Fly, Strong, History dan lagu terbaru Zayn There You Are. Seketika pengen aja buat friendship antara Boy Gang terlihat. Yah I feel like One Direction same like them. Too much ego, too much talent and too much pain. but their strong if together, a lot history left behind almost forgetting but i hope that their always know that there's home need them to came back.

Treat People With Kindess

- HS

Cherry Aiko

Makassar, 24 Dec 2018

little gift for Christmast night.