"Aku tidak mau berpikiran buruk, tetapi aku punya firasat yang tidak baik ketika Matsuri ada disini."Terang Sakura. Ino berbaring sembari menutup mata. Masker di wajahnya mulai kering dan perempuan itu mengajaknya berbicara. Ino mengerang pelan.

Dengan tetap menutup mata Ino berkata, "Matsuri tidak mungkin memanggil pawang untuk memanggil badai di Konoha. Itu hal yang sangat mengelikan Sakura."Ucapnya tidak jelas dan sangat berhati-hati agar maskernya tidak retak.

Sakura tertawa pelan, "Aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Aku hanya memiliki perasaan tidak enak. Mungkin... Sesuatu akan terjadi."

Ino bangun menatap tajam Sakura, "Berhenti bicara Sakura. Maskerku akan hancur."

Sakura mengabaikan peringatan Ino, "Ngomong-ngomong kau dari mana? Aku mencarimu tadi."

Ino kembali tidur dan menutup mata, "Aku tidak akan menjawab pertanyaan apapun."

Ino melirik Sakura kecil, Sakura sangat keras kepala sekali. Lebih baik ia menjaga Sakura agar ikut campur masalah Gaara dan Matsuri. Sakura tidak mengetahui semuanya, itulah masalah utama. Dan Ino tidak bisa memberitahu segalanya.

Tapi, benar juga. Ino merasakan hal yang sama. Matsuri kali ini berbeda, beda dengan terakhir kali ditemuinya. Ada sesuatu yang lain dari cara perempuan itu memandang dirinya, jangan bilang...

... Oh, tidak.


Matsuri menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Membersihkan make-up diwajahnya setelah menyuci wajahnya.

"Berhenti. Kita tidak akan melakukan hal apapun disini."

"So, Idiot."

"Pindah dan biarkan aku melakukan satu hal yang benar."

"Kau tidak pernah melakukannya dengan benar. Kau hanya mengacaukan semuanya."

"Ino cepat atau lambat akan tau."

"Bisa kau enyah? Jangan mengganggu dulu, Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan malam ini."

"Aku tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi."

"Kau terlalu lemah. Kau tidak bisa melawanku."

"Saat aku berhasil mengambil alih lagi kembali, selanjutnya Uchiha akan mengetahuinya."

"Kau tidak akan pernah bisa keluar. Jangan harap."

"Aku tahu Yamanaka bukan hal besar untukmu, tapi Uchiha. Kau sama sepertiku, Kita takut dengan Uchiha. Uchiha Sasuke."

"Diam!"

Matsuri membanting pintu kamar mandi. Dengan kesal ia meraih jubah mandi dan keluar dari kamarnya. Malam ini ia akan mendapatkan apa yang ia mau. Dengan senyuman sinis ia berjalan menuju kamar Gaara.


Itachi menatap sang adik yang terbaring dengan tenang di atas kasur.

"Iya Bu, Sasuke baik-baik saja."Jelas Itachi.

"..."

"Aku tidak bermaksud...Bu..."Itachi menghela napas harus mendengar ocehan panjang ibunya.

"Tentu saja aku tidak mau mengurus semuanya."Itachi memijit pelipisnya yang berdenyut pelan.

"Bu, Tenang oke. Sasuke baik-baik saja."

Untuk kesekian kalinya dalam 5 menit terlama dalam hidup Itachi, pria itu menghela napas. Ingatkan dia untuk menghajar Suigetsu dengan keras ketika tangan kanannya itu muncul di hadapannya. Karena siapa lagi yang patut ia curigai selain gigi hiu itu? Suigetsu pasti telah melapor ke Ibunya bahwa Sasuke sedang sakit, akibatnya telinganya cukup panas mendengar amarah sang Ibu. Belum lagi ditambah kasus Sakura. Itachi sebaiknya segera menyiapkan peti mati untuk dirinya, jika hal ini terus berlangsung. Tidak menjadi pewaris perusahaan saja sudah begini, apalagi jika dia mengambil posisi itu. Itachi menggeleng keras. Tidak, tidak akan pernah. Sasuke harus tetap sehat supaya dia tidak mengambil alih posisi itu.

Itachi menyentuh dahi Sasuke, suhu tubuh adiknya sudah kembali normal. Dengan pelan Sasuke mengelus pipi adiknya. Kapan lagi dia bisa menyentuh wajah adiknya tanpa harus menghadapi tatapan mematikan Sasuke. Itachi dengan pelan menampar pipi Sasuke. Dahi Sasuke mengerut, tetapi tidak terbangun dari tidurnya. Itachi terkekeh.

"Cepat sembuh bocah."


"Kau sangat menjijikan."

"Terima kasih."

"Kau mempermalukan kita."

"Apa maksudnya kata-kata itu?"

"Dengar, kau membuatku terlihat murahan."

"HEI! BERHENTI MERENDAHKAN KU? Kau bukan siapa-siapa tanpaku. Kau hanya pengecut."

"Aku sangat bersyukur Gaara menolakmu. Kau hanya memperburuk semuanya."

"PERGI KAU!"


Seharusnya Neji tau bahwa sangat tidak menarik membuat segalanya mudah bagi Naruto. Pria itu mendengus pelan. Mungkin seharusnya Neji membuat sesuatu untuk menghibur dirinya, seandainya saja ia tahu bahwa acara akan diundur. Maka dia akan...

"Dengar Neji, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan membuat keributan."Ucapan Sai membuat Neji menatap pria pucat itu dengan tanda tanya.

Sai memakan buah peach dengan tenang, dengan senyuman dan nada suara yang menghina, "Karena Naruto akan merengek lebih merepotkan dari pada lansia ataupun anak bayi. Jadi berhentilah."

Neji hanya menatap Sai suram mengetahui bahwa temannya lebih dulu mengancamnya dibanding otaknya memproses untuk menyusun rencana. Shikamaru menghampiri mereka dengan wajah malas khasnya.

Sai berdiri seketika, masih tetap memegang piring yang berisi buah peach-nya.
"Bagus kau sudah disini, ayo kita jenguk Sasuke."

Shikamaru mendengus, "Setelah ku pikir, lebih baik kita biarkan Sasuke beristirahat."

Membiarkan ucapan Shikamaru, Sai lebih dulu berjalan dengan santai dan garpu berada di mulutnya, "Aku merasa tidak adil jika benar Sasuke hanya bermalasan di kamar. Angkat pantatmu anak muda."

Neji dan Shikamaru hanya saling bertatapan dan membuang napas, lalu mulai mengikuti langkah Sai.


Inodengan semangat mengetuk pintu kamar Temari dan Tenten. Pagi hari yang indah harus diawali dengan senyuman, moto hidup Ino. Dengan tidak sabaran Ino mengetuk tambah keras tiap detiknya.

"Hai Yamanaka-san, mencari kami?"Tegur Temari di balik punggung Ino.

Ino yang terkejut berbalik menatap kesal Temari dan Tenten yang memandangnya balik bingung. Ino mengatur detak jantungnya dan mengambil napas panjang. Kemudian senyuman terukir di wajahnya yang mirip dengan barbie.

"Kalian sudah bangun?"Tanyanya.

Tenten terkekeh, "Yamanaka-san, tentu saja. Kami berada di depanmu."Jawabnya.

Jawaban Tenten membuat Ino mendengus kesal. Sedetik kemudian ia merasa malu dengan pertanyaan yang diajukannya. Sangat tidak masuk akal. Ia terkekeh pelan.

"Ada apa Yamanaka-san?"Tanya Temari.

Tatapan Ino berubah serius, "Ino saja, tolong. Kalian harus membantuku."Ucapnya.

Temari dan Tenten saling menatap satu sama lain.

"Tentu saja, Ino-san. Apa yang bisa kami bantu?"
Ino tersenyum lebar.

"Ayo ikut denganku."


"Baiklah, check."Ucap Neji.

Shikamaru memandang serius pada papan catur di depannya.

Sai menguap bosan, menatap piring buahnya yang telah kosong. "Dimana Kakashi dan Itachi?"Sai melemparkan pertanyaan itu pada Sasuke yang terlihat serius di depan iPad milik pria itu.

"Mereka berdua, pergi mengambil sarapan."Jawab Sasuke melirik Sai sekilas.

Bibir Sai mengerucut, "Bisa beritahu Kakashi untuk membawakan kami sarapan juga?"

"Hn."Sasuke tetap serius pada hal yang dilakukannya.

Shikamaru melirik malas pada Sai dan Sasuke.

Neji mengikuti arah tatapan Shikamaru, "Hei Uchiha, Berhentilah berkerja. Kau lagi sakit."Pria bermata amethys itu berdiri menyambar iPad Sasuke dan menjauhkannya.

Sasuke menghela napas pelan. "Apa yang kalian lakukan sebenarnya kemari?"

Sai mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Sasuke. Bukankah sudah jelas?
"Kami sedang menjengukmu."Ucapnya dengan bingung menatap Sasuke. Apa Sasuke tidak menyadarinya?

Sasuke menatap teman-temannya satu persatu, "Terserah kalian saja."

Shikamaru yang sedari tadi terdiam kini bicara, "Uchiha, kau sudah seharian tidak keluar. Kau melewatkan banyak hal."

Sasuke tidak menyahut, namun ia hanya duduk terdiam menatap Shikamaru. Menyiratkan bahwa ia mendengarkan perkataan Shikamaru dan menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.

"Masalah Sakura sudah tuntas. Jadi kau tenang saja. Lalu acara pernikahan..."

"...Aku sudah tau itu dari Itachi-nii yang itu."potong Sasuke.

Shikamaru mengangkat bahunya, "...Okey, Matsuri dan Sabaku sudah berada disini."

Ucapan Shikamaru kali ini membuat dahi Sasuke mengerut perlahan. "Sabaku dan Matsuri ada disini?"

"Ya. Ada masalah?"Kali ini Sai yang bersuara.

Sasuke menggeleng pelan, wajahnya kembali datar.

"Jadi Sasuke, semoga kau segera sembuh dan sangat sehat untuk menghadiri pernikahan adikku."Neji menepuk pelan lengan Sasuke.

Sasuke mengangguk pelan, tentu saja dia ingin segera sembuh. Sangat tidak enak sakit. Ia juga membenci dirinya yang terlihat lemah.

"Aku tidak yakin bisa menghadirinya. Lusa aku harus sudah kembali, ada beberapa hal yang tidak bisa ditunda."

"Sasuke..."

Semua terkejut dengan ucapan Sasuke.

Sasuke memandang heran, "Aku sudah beritahu Naruto dan Sasori."

Pintu terbuka dan Itachi masuk.

"Hai Itachi-nii!"Seru Sai.

Dengan langkah tenang Itachi mendekati mereka.
"Pergilah. Siapa yang menyuruh kalian kemari?"Usir Itachi dingin.

"Ta... ta..."Sai terkejut dengan ucapan Itachi yang sangat menusuk dan dingin. Itachi dalam mode protektif sangat menyeramkan.

Shikamaru berdiri lebih dulu, "Apa boleh buat. Si sulung sudah mengusir kita."Shikamaru berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kegugupannya dengan menghindari tatapan tajam Itachi.

Neji meringis kecil.

"Aku yang memanggil mereka. Mereka akan membantuku mengerjakan pekerjaan. Mereka memang teman yang baik."Sasuke tersenyum kecil menatap kakaknya. Itachi berdehem pelan.

"Baiklah. Akan ku suruh Kakashi mengambil cemilan. Apa kalian sudah sarapan?"Ucapan Itachi berubah 180 derajat menjadi sangat lembut. Kemudian Itachi kembali menghilang begitu saja di balik pintu.

Neji memandang Sasuke tidak percaya.

Sai mendengus kasar, "Sasuke ingin membunuh kami?"

Shikamaru duduk dengan kasar, "Sepertinya itu alasanmu tidak mengusir kami dari awal."

"Ini hanya MOU."Sanggah Sasuke dengan tenang dan wajah pucatnya.

"... Dan?"Neji tidak percaya semudah itu. Sasuke tidak mungkin memanfaatkan untuk meminta bantuan mereka dengan terang-terangan. Itachi juga terlihat memperbolehkan mereka membantu Sasuke. Pasti lebih dari itu.

"Hanya projek Dubai."

Seketika erangan lolos dari mulut mereka bertiga. Siapa yang tidak mengetahui projek Dubai Uchiha Cooperation? Projek bernilai ratusan miliar dollar Amerika yang berhasil menarik atensi dunia pebisnisan kelas atas.

Sasuke menatap teman-temannya dengan kebingungan. "Ayolah, setidaknya ini bukan projek Eropa. Hanya Dubai."

Dan mereka akhirnya paham kenapa Sasuke tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.

Tapi, ada satu hal yang terus menarik perhatian Sasuke. Untuk apa Matsuri dan Gaara datang lebih awal?

"Sudah kubilang, lebih baik kita biarkan Sasuke beristirahat. "Tukas Shikamaru.

Neji memutar matanya bosan, "Yah Sai, Sasuke hanya bersantai di kamar dan kita akan ikut bersantai dengannya."Sindirnya.

"Mana aku tau. Anggap saja kita sedang mengerjakan tugas kelompok fisika."Sai membela diri.

Shikamaru menatap malas Sai, "MOU dan Fisika adalah dua hal yang berbeda, man."

Ngomong-ngomong, Sakura sudah lebih baik. Syukurlah. Pikir Sasuke.


Treat People With Kindness, HS

Cherry Aiko