A/N: Maaf updatenya lama. Yah, author ini memiliki kemampuan yang payah... Gomen ne..
Dan terimakasih atas Reviewnya, minna-san...^^


0=0=0=0=0=0=0

#Sakura's POV#

Aku.., aku ingin hari ini hanyalah mimpi. Aku tahu suatu saat hal ini akan terjadi, tapi tetap saja aku tidak sanggup menerimanya. Pagi ini, aku ke rumah sakit untuk melakukan chek up rutinku. Sejak lahir, aku menderita kelainan jantung. Belum ada dokter yang bisa menyembuhkanku, mereka hanya bisa menolong untuk memperpanjang hidupku. Operasi bisa dilakukan, tapi dokter mengatakan keadaan jantungku terlalu lemah, jadi mereka tidak berani melakukan operasi yang hanya memiliki kemungkinan berhasil sangat kecil.

Pemeriksaanku pagi ini tidak menunjukkan hasil yang baik. Mulai besok aku harus dirawat di rumah sakit. Kurasa itu akan menjadi tempatku menunggu ajal. Duniaku akan berakhir, aku tidak punya masa depan lagi. Aku harus berhenti menjadi ninja. Impianku musnah. Dan pada akhirnya aku akan mati. Saat ini aku merasa putus asa.

Aku tidak bisa menerima semua ini. Kenapa harus aku yang mengalaminya? Kenapa aku dilahirkan kalau hanya untuk merasakan dunia sesingkat ini.

Kematian... Kematian..., hanya itu kata yang terus menggema di pikiranku. Aku pulang dari rumah sakit dan berjalan entah kemana. Aku tidak ingin pulang, Saat ini aku hanya ingin sendirian. Dadaku mulai terasa sesak, lalu aku berhenti di bawah sebuah pohon rindang. Kemudian aku menyadari bahwa pohon ini tidak asing bagiku. Saat kecil aku sering bermain disini. Pohon ini tidak jauh dari penjara Konoha. Dulu ayah sering menghabiskan waktu istirahat bersamaku disini. Ayahku seorang anbu yang bertugas di penjara, tapi ayahku sudah tidak ada lagi. Beliau meninggal saat aku berusia 8 tahun karena kelainan jantung, sama sepertiku. Kurasa tidak lama lagi aku akan menyusulnya.

Aku menghabiskan waktu berjam-jam menangis disini. Meratapi hidupku yang akan segera berakhir. Apa lagi yang bisa aku lakukan?. Aku hanya duduk sambil memeluk kedua kakiku dan membenamkan wajahku. Air mataku terus mengalir. Mungkin aku akan terus menangis sampai air mataku habis.

Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang jatuh di kepalaku. Aku mendongak dan melihat sebuah pesawat kertas jatuh di dekat kakiku. Aku memungut benda itu lalu membukanya.

"Dari tadi kau menangis? Kenapa?". Itu kalimat yang tertulis di pesawat kertas itu. Aku melihat sekeliling. 'Siapa orang iseng yang melemparkan benda ini?' aku menjadi kesal. Aku melihat seseorang di balik pagar penjara. Ia sendirian. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi ia membuatku kesal. Dia pikir dia siapa? Mau tahu masalah orang. Huh, dia pasti hanya melihatku sebagai anak cengeng yang menangis berjam-jam. Kemudian aku merogoh tas yang kubawa dan mengambil sebuah pulpen. Aku menulis balasan yang ketus di kertas itu.

"Bukan urusanmu! Kau ingin menyuruhku berhenti menangis? Kau ingin mengatakan kalau aku cengeng?.Kau tidak akan pernah mengerti, jangan ikut campur!" itulah balasanku. Kemudian aku menerbangkan pesawat itu ke arahnya.

Tidak lama kemudian pesawat kertas itu terbang lagi ke arahku. Orang ini benar-benar menyebalk-, kalimat itu terhenti di pikiranku saat aku membaca balasan yang ia berikan.

"Menangis saja kalau itu bisa membuatmu lebih baik. Kadang kesedihan bisa hilang bersama air mata." Aku terbelalak membaca balasannya. Kurasa kata-katanya itu memang benar dan itu membuatku lebih tenang. Mungkin orang itu memang bermaksud baik.

Sebelum aku sempat menulis balasan, sebuah pesawat kertas mendarat di depanku. Aku membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah gambar wajah anak perempuan berambut pendek dengan pita di kepalanya. Matanya bengkak dan bibirnya tebal. Hahaha.., aku tertawa melihat gambar yang jelek itu, jelek sekali, seperti gambar anak TK. Lalu mataku tertuju ke sebuah kalimat yang tertulis di bawahnya.

"Sayangnya saat menangis kau terlihat seperti ini. Tapi mungkin saat tersenyum akan lebih baik." Hey, dia menghinaku?!.

Aku melihat ke arahnya, tapi entah kenapa kali ini aku tidak merasa kesal. Surat darinya membuatku bisa sedikit melupakan kesedihan yang kualami hari ini. Aku tidak menulis balasan lagi, aku berjalan mendekat ke arahnya. Aku ingin tahu ia orang seperti apa...

Aku tinggal beberapa langkah dari pagar penjara, kemudian langkahku terhenti saat kudengar ia berteriak, "Berhenti, jangan mendekat!"

Aku tertegun memperhatikan orang yang berdiri di depanku. Ternyata ia masih muda, kurasa umurnya sama sepertiku. Dari pakaiannya aku tahu ia adalah salah satu narapidana di penjara ini. Di pergelangan tangannya terdapat gelang pengikat chakra yang biasa dipakai para tahanan. Kemudian pandanganku terhenti saat melihat wajahnya. Kulitnya putih agak pucat, ada luka memar di pipi kanan dan di sudut bibirnya. Rambutnya hitam tegak ke belakang, rambut depannya agak berantakan dan rambut bagian sampingnya terjuntai lurus membingkai wajahnya. Meskipun dia penghuni penjara, ia tidak terlihat seperti orang jahat. Justru ia terlihat sangat.., keren.

Jantungku berdegup kencang selagi memperhatikan wajah tampannya, wajahku terasa panas. Mata onixnya yang tajam balik menatapku. Mata itu..., aku bisa merasakan kesedihan terpancar dari matanya. Kenapa ia bisa berada disini? Apa yang telah ia lakukan?, hatiku bertanya-tanya namun perasaanku mengatakan bahwa ia bukanlah orang jahat. Aku jadi..., ingin mengenalnya.

"Pa... Pagar ini bisa menyerap chakra. K..kalau kau mendekat kau bisa pingsan." kata-kata anak laki-laki itu membuyarkan lamunanku. Aku pun berhenti di tempat.

"Hey, siapa namamu?" aku bertanya.

Seketika ia mengalihkan pandangannya ke tanah. Sepertinya ada rasa takut yang menyelimutinya. 'Apa mungkin nada bicaraku terlalu kasar?' aku malah merasa bersalah.

KRIIIIIIIIING...

Tiba-tiba terdengar suara bel penjara. Orang di depanku menoleh ke belakang, ekspresi wajahnya bingung seketika.

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Baiklah akan kuulangi, bolehkah aku tahu siapa namamu?" aku bertanya lagi dengan nada yang kuperhalus.

"Ma.. maaf aku mengganggumu, aku sebenarnya tidak bermaksud... Umm, maaf, aku harus pergi" anak itu segera berbalik badan dan berlari kecil menuju ke dalam penjara, kelihatannya ia terburu-buru.

"Tunggu!" anak itu berhenti saat mendengar teriakanku.

"Terimakasih..." aku tersenyum saat ia menoleh ke arahku. Namun ia tidak membalas perkataanku, ia terus berjalan masuk.

"Hey!, sampai jumpa besok!" aku berteriak untuk terakhir kalinya, tapi aku tidak yakin anak itu mendengarku. Ia sudah menghilang dari pandanganku.

Kupandang langit yang mulai memerah seperti pipiku yang bersemu. Aku pun berjalan pulang sebelum gelap. Pikiranku masih dipenuhi dengan wajah anak itu. Aku akan ke tempat ini lagi. Aku harus bertemu dengannya.

0=0=0=0=0=0=0

To be Continued...

0=0=0=0=0=0=0


Oiya, kelainan jantung yang dideria Sakura itu terinspirasi dari anime 'Hanbun no Tsuki ga Noboru Sora'. Lebih tepatnya, kubuat mirip seperti itu...

Ehhehe... alur tidak terlalu berkembang, huh?

OK, next chapter...

Review? Monggo...^^