Oke, aku ingin minta maaf kalau penyiksaan yang kulakukan menurut kalian terlalu kejam..^^v
Tapi... membuat Sasuke hancur adalah bagian dari ceritaku. Sejujurnya aku jadi lebih bersemangat saat menulis tentang penyiksaan itu *evil grin*. Dan asal kalian tahu, itu kulakukan bukan karena aku membenci Sasuke. Justru Sasuke adalah chara favoritku. Tapi, aku memang suka menyiksanya sampai aku ingin menangis...
Dan sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku tidak akan menghentikan scene torture and abuse dalam fanficku fufufu..=^^=
Kuharap kalian tidak membenciku dan masih mau membaca fanficku...
Arigatou...
0=0=0=0=0=0=0
Sasuke membuka matanya, namun ia tidak dapat melihat apa-apa. Kemudian ia tersadar, ia berada di dalam lemari kamarnya. Kakaknya yang menyuruh ia bersembunyi, tanpa menjelaskan apa pun. Sasuke menurut saja dengan ucapan serius kakaknya. Sasuke tahu ada yang tidak beres dalam rumahnya. Ia bisa mendengar teriakan dan suara senjata yang sedang beradu.
Setelah suara-suara itu menghilang, Sasuke memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Ia sempat melihat jam di meja kamarnya, 01.04 a.m. Tangan mungilnya meraih gagang pintu, ia membukanya perlahan. Kemudian ia menuruni tangga menuju ruang keluarga. Mata Sasuke terbuka lebar, ia tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Ruangan itu porak-poranda setelah sebuah pertarungan sengit terjadi. Di ruangan itu ayah dan ibunya terbaring tak bernyawa, di sekitarnya terdapat empat mayat anbu dan beberapa gundukan abu, yang sepertinya itu juga mayat manusia yang sudah hancur. Darah segar terciprat dimana-mana. Di sebuah sudut, Itachi terduduk lemas tak berdaya.
Sasuke menghampiri Itachi, ia tidak tega melihat keadaan kakaknya yang bermandikan darah. Di dada Itachi terdapat bekas sabetan pedang yang cukup dalam. Sasuke meraih wajah Itachi, Mata kanannya mengeluarkan darah, di kedua sudut bibirnya juga. "Nii-san...," Sasuke memanggil kakaknya sambil menitikkan air mata.
"Ssshh.., jangan menangis, Sasuke..." Sasuke terkejut, ternyata Itachi masih hidup. Itachi memeluk adiknya yang masih berusia 8 tahun itu, ia berusaha menenangkannya.
"Nii-san.., apa yang terjadi?" mata Sasuke yang berkaca-kaca menatap mata onix Itachi.
"Maaf, Sasuke... Selama ini kami tidak pernah mengatakannya padamu, kau masih terlalu kecil." Itachi berkata dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti..."
Itachi menarik napas panjang,"Sebenarnya klan kita berencana untuk melakukan kudeta pada Hokage, tapi Hokage dan para tetua desa mengetahui rencana kami dan memutuskan untuk menghabisi klan Uchiha tanpa menyisakan seorang pun..."
Itachi terbatuk dan memuntahkan darah, kemudian ia melanjutkan ceritanya, "Sayangnya, klan kita tidak siap menghadapi serangan mendadak ini, jumlah mereka terlalu banyak."
"Ayah.., Ibu...," Sasuke menoleh ke arah mayat kedua orang tuanya.
"Maafkan kami, Sasuke.., Aku sadar klan kita memang salah *cough* Seharusnya kita tidak pernah mengkhianati Konoha," Itachi berkata sambil menahan rasa sakit.
"Jadi..., aku juga.. akan.. dihukum mati...?" Sasuke berkata sambil menangis sesenggukan.
"Tidak, Orokanaru otouto.., kau harus bertahan hidup. Kau tidak seharusnya mengalami hukuman ini." Itachi berkata.
"Bagaimana denganmu? Kau akan menyelamatkan diri juga kan? Aku tidak ingin berpisah denganmu, Nii-san... Aku tidak mau hidup sendi-"
"Ssshh..", Itachi memutus kalimat Sasuke, ia memegang erat pundak adiknya.
"Kau harus kuat Sasuke, kau pasti bisa... *coughcough* Pergilah ke Kuil Nakano, di bawah tatami ke tujuh dari kanan adalah jalan masuk ke tempat rahasia Uchiha, disana kau akan aman. Tunggulah beberapa hari, setelah itu kau harus kabur dari desa ini dan melanjutkan hidupmu. Kau harus memendam semua rahasia tentang Uchiha."
"Ak..aku tidak mau meninggalkanmu... Kau adalah kakak yang hebat, kau harus bisa bertahan...", Sasuke memaksa sambil menahan air matanya.
Itachi meraih kedua pipi Sasuke yang basah dengan air mata dan berkata dengan suara yang tidak lebih dari sebuah bisikan, "Kumohon berjanjilah padaku Sasuke..."
Itachi menatap mata adiknya lekat-lekat, "Berjanjilah bahwa kau akan terus bertahan hidup, Sasuke. Larilah.. dan berjuanglah sampai kau menemukan kebahagiaanmu."
Sasuke diam dan menundukkan kepalanya."Aku.., berjanji..." akhirnya Sasuke mengatakannya.
"Ma... afkan aku, Sasuke.., sebagai kakak aku tidak bisa melindungimu.", Itachi berkata sambil menangis, air matanya membasahi wajahnya yang berlumuran darah.
"Maaf, selama ini ayah, ibu, dan aku sudah membohongi desa, kami mengkhianati Konoha. Tapi satu hal, kami tidak pernah berbohong dalam menyayangimu, Sasuke. Karena itulah, kami ingin kau selamat agar suatu saat nanti kau bisa menemukan kebahagiaan." Itachi menatap wajah adiknya, pandangannya mulai kabur, dadanya terasa sesak, namun ia berusaha keras untuk memberikan senyuman untuk adik yang sangat dicintainya.
Tubuh Itachi sudah tidak kuat lagi, tenaganya habis, ia sudah terlalu banyak kehilangan darah. Itachi tetap memegang pipi adiknya, ia menghapus tetesan air mata dari wajah mungil itu. Kemudian Itachi tersenyum dengan sisa tenaga yang ia miliki, "Ma..afkan a..ku, Sa..su..ke, Inilah akhir..nya..."
Itachi menempelkan Dahinya ke dahi Sasuke. Mata Sasuke menatap langsung ke bola mata kakaknya. Dan saat itulah ia menyadari bahwa mata Itachi mulai kehilangan cahayanya. Setelah itu Itachi tidak bergerak lagi, kepalanya terkulai lemas ke bahu Sasuke. Sasuke memeluk kakaknya dengan tubuh kecilnya.
"Nii-san.., nii-san.." Sasuke menggerak-gerakkan tubuh kakaknya, namun tidak ada respon.
"Nii-saaaaaaaaaaaaaan..." Sasuke menjerit berurai air mata. Kakak yang paling ia sayangi telah pergi untuk selama-lamanya.
0=0=0=0=0=0=0
Sasuke bingung harus melakukan apa. Ia masih belum bisa menerima kenyataan, namun ia teringat dengan janjinya. Setelah menatap jasad ayah, ibu, dan kakaknya untuk terakhir kali, Sasuke memutuskan untuk pergi. Ia akan pergi ke kuil Nakano sesuai pesan Itachi.
Sasuke keluar dari rumahnya dengan hati-hati. Kuil Nakano sebenarnya tidak terlalu jauh, namun Sasuke harus mengendap-endap dan melewati jalan kecil agar tidak ketahuan anbu yang masih berjaga, hal itu membuat perjalanannya memakan waktu lama.
Sasuke ingin menangis setiap ia melihat mayat orang-orang dari klannya yang dibantai tanpa belas kasihan. Di jalan yang ia lewati banyak mayat Uchiha bergelimpangan berlumuran darah.
Sasuke berlari kecil saat ia hampir sampai di kuil Nakano, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat sebuah kunai menggores bahu kirinya. Sasuke terjatuh ke tanah. Tiba-tiba seseorang mengenggam rambutnya dan mengangkatnya sampai ia mendongak. Sasuke mendesis kesakitan.
"Lepaskan aku!", Sasuke memberontak. Namun, anbu yang menangkapnya itu malah mengeluarkan pedang dan mengayunkannya untuk menebas leher Sasuke.
Jantung Sasuke berdegup kencang, ia berteriak sekeras-kerasnya.
"Tunggu, jangan bunuh dia!" tiba-tiba seseorang yang tidak Sasuke kenal muncul di depannya.
"Kami mempunyai rencana lain." orang itu menambahkan.
"Siap!, Danzou-sama.", anbu itu menjawab.
Setelah itu Sasuke merasakan sebuah pukulan di punggungnya dan itu membuat dunianya menjadi gelap seketika.
0=0=0=0=0=0=0
Sasuke terbangun dan menyadari tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia terikat di sebuah kursi logam di sebuah ruangan yang tidak ia ketahui. Tidak banyak perabotan di ruang itu, hanya ada sebuah lemari dengan puluhan laci dan sebuah kursi yang kini ia duduki, di depannya terdapat sebuah pintu besi. Perasaan Sasuke tidak karuan, ia takut dibunuh oleh orang-orang yang menangkapnya. Sasuke putus asa, ia tidak bisa menepati janjinya dengan Itachi, ia merasa lemah dan tidak berguna.
Tidak lama kemudian, pintu kokoh di depannya terbuka dan masuklah dua orang shinobi. Mereka adalah Morino Ibiki dan Yamanaka Inoichi, interogator paling kejam di Konoha. Sasuke tidak mengenal mereka, namun perasaannya mengatakan bahwa mereka bukanlah orang yang akan menolongnya.
"Lepaskan aku! Dasar kalian orang jahat!" Sasuke berteriak sambil berusaha menyingkirkan rasa takutnya.
"Jadi kau anaknya Fugaku, huh?!, pengkhianat seperti dia pasti tidak pernah mengajarimu sopan santun." kata seorang pria yang penuh bekas luka di wajahnya.
"Lepaskan! Biarkan aku pe-"
PLAKK.., sebuah tamparan menghentikan kata-kata Sasuke. Ia menatap kedua pria itu dengan sinis.
"Kau tidak sedang dalam posisi untuk melawan, bocah!" kata pria berambut pirang yang baru saja menamparnya.
Kedua shinobi itu kemuadian menjalankan tugasnya. Mereka menanyakan semua hal tentang pengkhianatan Uchiha pada Sasuke, namun jawaban yang mereka dapatkan hanya kalimat 'aku tidak tahu'.
Napas Sasuke tidak teratur, wajahnya serasa terbakar setiap ia menerima pukulan karena tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Rencana pemberontakan, kekuatan Itachi, sharingan, Uchiha bungsu itu benar-benar tidak mengerti dengan semua hal yang mereka katakan. Pada akhirnya ia memilih untuk diam.
Kesal karena usahanya sia-sia, kedua interogator itu akhirnya menggunakan cara paksa. Inoichi menggunakan kekuatannya untuk membaca pikiran Sasuke. Ia meletakkan telapak tangannya yang diselubungi chakra di kepala Uchiha kecil itu. Sasuke hanya tertunduk lemas. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit seperti ditusuk-tusuk, ia berteriak sekuat tenaga sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri.
Interogasi itu tidak membuahkan apa-apa. Kedua interogator itu meninggalkan ruangan untuk melapor kepada atasannya.
"Kalu begini kita hanya bisa menunggu. Taruh dia di penjara!" kata seorang tetua desa yang menjadi pemimpin pasukan anbu.
"Baik, Danzou-sama." mereka menjawab serempak.
0=0=0=0=0=0=0
Saat terbangun, Sasuke berada di sebuah ruang tahanan. Sebuah gelang besi berantai mengikat kedua pergelangan tangan kecilnya. Kepalanya masih terasa sakit. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Sejak saat itulah penderitaan Sasuke dimulai. Penjaga penjara sering menyiksa dan menghinanya. Awalnya Sasuke selalu melawan, namun orang-orang di penjara justru semakin membuatnya menderita.
Sasuke sering menghabiskan waktunya untuk menangis. Ia rindu keluarganya. Ia ingin mendapat kasih sayang. Tapi semua itu hanya fatamorgana. Tidak ada seorang pun yang menaruh belas kasihan padanya. Pada akhirnya Sasuke hanya pasrah dan menurut dengan perintah yang ia terima, namun siksaan itu tetap ia rasakan sampai tubuhnya tidak sanggup lagi.
0=0=0=0=0=0=0
Sasuke membuka matanya, penglihatannya agak kabur, seluruh tubuhnya terasa sakit. Ingatan masa lalunya itu terasa begitu nyata. Sudah tujuh tahun sejak ia kehilangan segalanya dan sampai kapan pun kesedihannya itu tidak akan pernah terobati.
Sasuke memperhatikan langit-langit bercat putih di hadapannya. Ia tersadar kalau ia sedang berada di ruang kesehatan penjara. Ini bukan pertama kalinya ia terbangun di ruangan itu. Sasuke berusaha duduk tapi tubuhnya masih terlalu lemah. Sebuah perban melingkar di kepalanya, tubuhnya terbalut perban yang menutupi dada, perut, sampai punggungnya, ia hanya memakai celana pendek dan sebuah selimut. Luka-lukanya masih terasa perih. Lama-kelamaan Sasuke bisa bangkit, ia duduk dan memegangi kepalanya yang sakit.
Tidak lama kemudian seorang anbu wanita masuk dan membawakan pakaian untuk Sasuke.
"Pakai ini!" seru wanita itu sambil melemparkan pakaian yang dipegangnya pada Sasuke.
Sasuke segera memakainya tanpa berkata apa-apa. Ia sudah paham kalau perawat disini bukanlah orang yang seharusnya ramah dan baik terhadap pasiennya, apalagi jika pasiennya itu adalah seorang Uchiha.
"Kotetsu bilang, hari ini Kakashi ada misi, jadi ia menyuruhmu berlatih sendiri di halaman belakang dan mengerjakan tugasmu seperti biasanya," wanita itu berkata sambil memakaikan gelang pengikat di pergelangan tangan Sasuke.
Sasuke segera berusaha turun dari tempat tidur, ia ingin segera meninggalkan ruangan ini. Ia tidak suka jika harus berlama-lama dengan petugas penjara. Dengan susah payah ia berusaha berdiri sambil menahan rasa sakit. Wanita itu tidak peduli sedikitpun, ia malah duduk manis di kursinya dan mengambil secangkir kopi untuk ia nikmati. Ia samasekali tidak menghiraukan Sasuke yang jatuh berkali-kali karena kakinya belum kuat untuk menopang tubuhnya.
Sasuke berjalan sambil bertumpu pada tembok di lorong-lorong yang ia lewati. Sesampainya di halaman belakang ia hanya duduk bersandar di tembok sambil merapatkan kedua kakinya, kepalanya menengadah ke langit. Kali ini ia tidak mengerjakan tugasnya. Ia tidak peduli kalau ia akan dihukum lagi.
'Mungkin kalau mereka menyiksaku lagi aku akan mati. Kurasa itu lebih baik,' pikirnya.
Tiba-tiba ia teringat janjinya pada Itachi untuk terus bertahan hidup, ' kebahagiaan? Kebahagiaan apa?, aku tidak akan pernah mendapatkannya. Mungkin satu-satunya kebahagiaan bagiku adalah menyusul keluargaku.'
'Untuk apa aku bertahan? Aku sudah kehilangan segalanya. Keluargaku.., klanku, kehormatanku, bahkan aku sudah kehilangan harga diriku sebagai manusia. Aku tidak sanggup lagi hidup seperti ini...' saat Sasuke semakin hancur dalam keputusasaannya, wajah Sakura tiba-tiba muncul di pikirannya. 'Apa maksudnya ini?, kenapa aku memikirkannya? Kenapa? Apakah mungkin sebenarnya aku mengharapkannya? Tidak.., tidak mungkin... Harapan hanyalah kebohongan, kebebasan hanyalah ilusi, tapi kenapa aku tidak bisa melupakannya?'
"Aaaargh!" Sasuke berteriak sambil memegangi kepalanya, ia berusaha menyingkirkan pikiran-pikirannya yang membingungkan, tapi wajah gadis berambut pink itu tidak bisa hilang.
'Apa mungkin aku harus bertahan lebih lama lagi...?' hati kecilnya berbisik memberi semangat.
0=0=0=0=0=0=0
To be continued...
0=0=0=0=0=0=0
A/N : Hiks..hiks... TT^TT
Aku menangis saat menulis chapter ini... *lebay*
scene saat itachi meninggal itu selalu terasa mengharukan... Hiks
Yeah, apapun opinimu tentang fanficku, bagus atau jelek...
Please Review... Hiks..
