0=0=0=0=0=0=0

Sasuke tidak menyadari berapa lama ia memandangi langit. Lamunannya buyar saat sebuah pesawat kertas mendarat di kepalanya. Gadis yang sedari tadi ia pikirkan kini muncul di depannya dengan wajah penasaran seolah menyuruh Sasuke agar cepat membalas suratnya.

Sakura selalu menyempatkan diri untuk menemui pemuda yang baru dikenalnya itu. Ia sebenarnya selalu menyelinap keluar rumah sakit setiap sore demi menemui Sasuke. Saat di rumah sakit ia sering merasa bosan. Saat berbaring ia sering memandangi pesawat kertas yang ia dapat dari Sasuke. Meskipun ia belum mengetahui nama laki-laki yang ditemuinya setiap hari itu, ia selalu memikirkannya. Sakura selalu berharap agar waktu cepat berganti senja agar ia bisa menemui tahanan muda itu.

"Hey, apa yang terjadi padamu?" . Sasuke membaca surat dari gadis yang menemuinya itu. Ia tahu Sakura pasti bisa melihat keadaannya yang menyedihkan ini. Perban di kepalanya, luka-luka memar di wajahnya, dan masih banyak lagi luka di tangan dan kakinya yang tidak bisa ia sembunyikan.

Kali ini perasaan putus asa sedang menguasai Sasuke. Di satu sisi Sasuke senang Sakura selalu datang menemuinya, namun di sisi lain ia merasa sedih. Ia teringat dengan dua orang penyiksanya yang selalu mengatakan bahwa ia tidak akan pernah bebas dan pada akhirnya ia akan dihukum mati. Kalau memang itu benar, lebih baik ia tidak pernah bertemu Sakura. Lebih baik ia sendirian sampai akhir hidupnya yang tidak akan lama.

"Kenapa kau selalu menemuiku? Kenapa kau peduli denganku padahal aku tidak pernah melakukan apa-apa? Bukankah seharusnya kau membenci orang sepertiku?" Sasuke menerbangkan surat balasannya sambil berjalan tertatih-tatih.

Sakura mengernyitkan dahinya saat membaca balasan Sasuke.
"Aku tidak pernah berpikir kalau kau adalah orang jahat. Aku juga tidak mengerti alasannya tapi, setiap aku bertemu denganmu, aku merasa lebih tenang. Kau membuatku menyadari hal-hal berharga. Karena itu, aku ingin berteman denganmu…" Sakura mengatakan isi hatinya.

"Kita ini berada di dunia yang berbeda, mengenal seorang pendosa sepertiku tidak akan ada gunanya bagimu." Sasuke menanggapinya dingin.

"Saat pertama kali kau memberiku surat, kau menyuruhku tersenyum meskipun kau tidak tahu apa-apa tentangku. Kau membangkitkan semangatku tanpa peduli siapa aku. Dari situ aku tahu kau adalah orang yang tulus. Aku ingin mengenalmu..."
"Saat menatap matamu aku bisa merasakan kesedihan yang terpancar. Aku berharap suatu saat nanti bisa menghapus kesedihan itu." Sakura membalas.

Sasuke terkejut membaca balasan Sakura. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan gadis sebaik itu. Tapi Sasuke takut kalau Sakura mengetahui hal yang sebenarnya, sakura akan kecewa.
"Kesedihan katamu? Kau tidak mengerti apa-apa. Pulanglah... Sebaiknya kita tidak saling kenal. Aku tidak akan pernah bebas dari sini. Kau akan menyesal jika mengenalku."

Sakura tetap berkeras hati agar Sasuke mau menerimanya. Ia yakin bahwa perasaannya terhadap Sasuke bukanlah hal yang salah.
"Karena itu…, bagilah kesedihanmu itu dengan orang lain. Kau tidak harus menanggungnya sendirian."

"Percuma saja… aku tidak punya harapan lagi." Sasuke tetap pada pendiriannya.

"Aku tidak ingin melihatmu putus asa... aku ingin menolongmu bagaimanapun caranya... Sekarang juga aku akan pergi ke tempat Hokage dan memaksanya untuk membebaskanmu, atau paling tidak aku bisa membantu meringankan hukumanmu."

'Apa?' Sasuke terlonjak membaca balasan Sakura.
Sasuke segera memberi balasan sebelum Sakura benar-benar melaksanakan perkataannya. Ia tidak ingin gadis yang berniat baik itu mengalami nasib buruk karena melakukan usaha yang sia-sia untuk menolongnya, "Bodoh! Jangan lakukan itu!"

"Kenapa? Kau ingin bebas kan? Aku tulus ingin membantumu..., meskipun aku belum tahu siapa dirimu. Mungkin suatu saat nanti kau bisa mempercayaiku." Sakura berkata.

"Kalau kau melakukannya, aku tidak mau bertemu denganmu lagi."

"Tapi mencoba tidak ada salahnya kan?! Kenapa kau tidak bisa percaya padaku?"

"Maaf, sebenarnya dari awal aku percaya padamu... Aku selalu berharap agar bisa bertemu denganmu... Tapi, biarlah aku bebas dengan caraku sendiri."

"Jadi, kau mau berteman denganku kan?"

"Iya… Terimakasih, Sakura... Aku pasti bisa menahan rasa sakit ini asalkan aku bisa bertemu denganmu."

"Aku akan berusaha agar bisa menemuimu setiap hari... Aku berjanji..", balas gadis itu sambil tersenyum.

"Aku akan selalu menunggumu di tempat ini..." kata anak berambut hitam itu.

0=0=0=0=0=0=0

Akhirnya Sasuke memutuskan untuk bertahan. Mungkin Sakura benar, harapan itu ada, yang ia harus ia lakukan adalah mempercayainya dan tidak pernah menyerah. Sasuke akan terus berjuang meskipun hidup yang ia lalui sangat keras. Ia berlatih dengan serius karena ia sekarang memiliki impian dalam hidupnya.

Sakura.., itulah impiannya. Sebuah cahaya yang menyinarinya saat ia hampir layu dan mati dalam kegelapan. Dengan Sakura ia bisa merasakan sedikit kebebasan dari balik jeruji. Saat ia merasa dunianya hanya kegelapan, gadis itu membawakan secuil dunia untuk Sasuke sehingga ia tidak lagi putus asa.

Sakura sering menceritakan pengalamannya, tempat-tempat di Konoha, dan juga teman-temannya. Tapi ia tetap merahasiakan penyakit yang dideritanya. Sakura bisa membuat Sasuke percaya bahwa suatu saat nanti ia bisa terlepas dari rantai penderitaan yang mengikat takdirnya ini.

Sasuke bertekad untuk melindungi dan membuat gadis pujaannya itu bahagia bagaimanapun caranya. Suatu saat nanti…, Sasuke yakin hari itu pasti akan datang.

0=0=0=0=0=0=0

Waktu terus berlalu, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah beberapa bulan ini Sasuke tetap bertahan dengan semangat dari Sakura. Cahaya matahari senja membuat benih-benih cinta tumbuh subur di hati mereka, meski mereka tidak pernah mengatakannya.

Sakura selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan Sasuke. Ia selalu lolos dari pengawasan perawat di rumah sakit saat kabur untuk pergi ke penjara. Akan tetapi, keadaan Sakura tidak menunjukkan hal positif. Saat keadaannya memburuk, ia harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit dan harus merelakan hari-harinya berlalu tanpa bertemu laki-laki yang disukainya. Saat hal itu terjadi, Sakura akan berbohong kepada Sasuke dan mengatakan bahwa ia sedang menjalankan misi. Kadang Sasuke kuatir melihat wajah Sakura yang pucat dan tubuhnya semakin kurus, namun Gadis itu selalu bisa menyembunyikan keadaannya dengan beralasan kalau ia kelelahan. Sakura tidak ingin Sasuke mengetahui keadaannya yang menyedihkan. Baginya yang terpenting adalah bisa bersama dengan Sasuke dan membuatnya bahagia meskipun ia tidak tahu sampai kapan tubuhnya bisa bertahan.

Sasuke juga memiliki prinsip yang sama, sampai saat ini ia belum mengatakan namanya atau menceritakan masa lalunya pada Sakura. Ia hanya tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Mungkin saat ia bebas nanti, walaupun ia sendiri belum sepenuhnya yakin akan hal itu. Ia akan terus bertahan menghadapi siksaan yang membuatnya menderita asalkan Sakura yang ia cintai bisa terus tersenyum.

0=0=0=0=0=0=0

(23.07 p.m.) Prison…

BRUKK… Tubuh Sasuke tumbang di atas kasur tipisnya. Hidung dan bibirnya berdarah, tubuhnya penuh luka, tenaganya terkuras habis. Namun kali ini tidak ada setitik pun air mata. Malam ini kedua penjaga penjara yang kejam itu memutuskan untuk memberinya siksaan pengantar tidur dan seperti biasa Sasuke tidak bisa melakukan apa-apa.

"Sial!, kalau bukan karena rantai ini, aku pasti sudah mengirim mereka ke neraka" gerutunya sambil memperbaiki posisi tidurnya.

Dengan susah payah ia merogoh bagian bawah bantalnya dan menggenggam sebuah pesawat kertas. Ia membuka lipatan kertas itu dan memandangi isinya dengan cahaya redup di ruangannya.

"Sampai jumpa lagi… Jaga dirimu baik-baik…", itulah kalimat yang tertulis di kertas itu.

Sasuke tersenyum melihatnya. Pikirannya hanya terfokus pada gadis yang dicintainya. Ia samasekali tidak mempedulikan rasa sakit di tubuhnya. Inilah caranya untuk bertahan. Surat itu adalah kekuatannya untuk melanjutkan hidup.

Sasuke merebahkan kepalanya di bantal nya yang keras. Tangannya masih memegang surat itu dengan erat. Ia menghadap ke samping dan mendekatkan surat itu ke dadanya. Kemudian ia memejamkan matanya. Sebelum tidur ia berharap agar dapat segera bertemu Sakura.

0=0=0=0=0=0=0

(23.07 p.m.) Konoha Hospital…

Di sebuah ruangan yang gelap seorang pasien berambut pink sedang terbaring beristirahat. Sebuah selang infus terjuntai dari pergelangan tangannya. Beberapa kabel kecil menghubungkan tubuhnya yang rapuh dengan peralatan rumah sakit. Di ruangan itu hanya terdengar suara monitor yang menunjukkan detak jantungnya .

Tanpa diketahui seorang pun, tangan kanan gadis itu menggenggam erat sebuah pesawat kertas yang terlipat.

"Semoga misimu berjalan lancar. Kau pasti bisa…"
"Aku akan selalu menunggumu…", itulah isi dari pesawat kertas yang ia genggam erat.

Sakura yakin ia pasti bisa bertemu lagi dengan Sasuke. Ia tidak akan kalah dengan penyakitnya.

0=0=0=0=0=0=0

To be continued…

0=0=0=0=0=0=0

A/N : e..to.. ano… entah kenapa kupikir chapter ini agak aneh ~.~a
AAAARGH… Aku memang tidak berbakat… Gomennasai…
Please Review…

Chapter 6 sudah selesai kukerjakan. Tapi, kalo aku gak dapat review gak bakal kupublish..^^*smirk