Sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih para readers dan reviewers yang telah membuat hatiku berbunga-bunga *cieee…
Jujur aku tersanjung saat ada reviewer yang bilang kalau di sampai menangis baca ceritaku. itu artinya tidak sia-sia aku membuat fanfic ini dengan air mata bercucuran di keyboardku...
sekali lagi Arigatou gozaimasu
Tapi, sebenarnya aku menginginkan review yang lebih banyak lagi…
and, warning! in this chapter I'll do it again...*evil smirk
0=0=0=0=0=0=0
Konoha Hospital...
Sakura duduk di atas kasurnya sambil memandangi pesawat kertas yang selalu ia genggam selama ia tidak sadarkan diri. Hatinya sangat rindu dengan Sasuke. Sudah tiga hari ia harus dirawat intensif sehingga ia tidak bisa pergi ke penjara. Ia berharap keadaannya membaik dan ia bisa menyelinap keluar rumah sakit lagi. Ia selalu yakin bahwa suatu saat nanti ia akan sembuh walaupun kadang-kadang tubuhnya mengkhianati keyakinannya itu.
CLAKK… Sakura mendengar seseorang membuka pintu kamarnya. Ia cepat-sepat menyembunyikan pesawat kertas itu di laci meja di dekatnya. Orang yang masuk ke ruangannya ternyata adalah dokter yang biasa memeriksanya. Dokter itu tersenyum padanya. Ia harap itu adalah pertanda baik.
"Selamat pagi, Sakura…, bagaimana perasaanmu hari ini?" dokter wanita itu berkata dengan ramah.
Sakura menunduk menyembunyikan wajahnya, tangan kanannya mencoba merasakan detak jantungnya, "Kurasa aku baik-baik saja…"
"Hey, jangan murung begitu… Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu belakangan ini, tapi hasil pemeriksaanku menunjukkan bahwa keadaanmu membaik. Jadi pagi ini aku ingin bilang kalau kau mau, kau bisa keluar rumah sakit untuk beberapa hari… Yah, mungkin saja kau merasa bosan disini…" ucap dokter itu panjang lebar.
Sakura langsung menunjukkan ekspresinya yang berubah 180 derajat. Matanya berbinar-binar, wajahnya berseri, dan ia tersenyum bahagia, "Benarkah?, aku bisa pergi?"
"Ya, tapi kau harus tetap menjaga kondisimu. Jaga pola makanmu, tetap minum obat secara teratur, jangan tidur terlalu malam, jangan melakukan aktifitas fisik yang berat, jangan-"
"Aaaaku mengerti, Dokter… Jadi sekarang cepat lepaskan jarum infus ini." Kata Sakura tidak sabar.
Dokter itu hanya tersenyum melihat semangat pasiennya yang mengebu-gebu. Kemudian ia membantu melepaskan jarum infus di tangan Sakura.
"Semoga harimu menyenangkan, Sakura…" katanya sebelum meninggalkan ruangan.
Sakura segera bersiap dan membereskan barangnya. Ia tidak lupa untuk merapikan koleksi pesawat kertasnya untuk ia bawa beberapa lembar.
0=0=0=0=0=0=0
Sakura menarik napas panjang sesampainya di luar rumah sakit. Ia merasa bahagia menghirup udara luar. Meskipun ia sudah sering menyelinap untuk kabur, aroma udara kebebasan yang sebenarnya terasa berbeda. Ia tidak ingin segera kembali ke rumah sakit ini.
Sakura memilih untuk pulang sendiri. Ia bisa meyakinkan dokter kalau ia akan baik-baik saja di jalan. Sakura sudah mempunyai rencana yang akan ia lakukan hari ini. Pertama ia akan pulang dulu ke rumah kakeknya. Sebenarnya ia tidak ingin tinggal disana meskipun kakeknya sangat menyayanginya. Selama ini sakura lebih memilih tinggal sendiri di rumahnya meskipun kedua orang tuanya sudah meninggal.
0=0=0=0=0=0=0
Sakura akhirnya sampai di depan sebuah rumah tradisional yang sangat besar. Sebenarnya menurut Sakura rumah itu agak menyeramkan. Tempat tinggal kakeknya itu juga merupakan markas ANBU. Itu karena kakeknya adalah pemimpin organisasi tersebut. Sakura sebenarnya tidak terlalu suka dengan kakeknya, tapi saat ini hanya dia keluarga yang ia miliki.
Sakura memasuki gerbang rumah itu dengan tenang. Dua orang anbu yang bertugas menjaga gerbang samasekali tidak mencurigainya. Mereka sudah tahu bahwa Sakura adalah cucu kesayangan tuan mereka. Sakura terus berjalan masuk dan mencari keberadaan kakeknya. Tanpa ia duga kakeknya muncul dengan dua orang pengawal yang wajahnya tertutup topeng.
"Oh, Sakura, cucuku…, kau pulang dari rumah sakit rupanya. Kenapa dokter tidak memberitahuku? Seharusnya kau dijemput oleh para anbu disini." Ucap orang tua itu dengan senyuman.
"Tidak perlu, Jii-sama… Aku baik-baik saja." Balasnya dengan wajah berseri.
"Baiklah, kau istirahat saja di ruanganmu. Kalau perlu sesuatu panggil saja salah satu anbu yang bertugas. Saat ini aku harus pergi ke penjara. Ada sesuatu yang harus aku lakukan disana. Jaga dirimu baik-baik, Sakura." Kata pria itu sambil mengelus rambut pink cucunya.
"Iya." Sakura mengangguk, "Hati-hati, O jii-sama…"
Kemudian Sakura menuju ke kamar yang sudah disediakan untuknya. Ia beristirahat sebentar di kasurnya yang empuk. Tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawakannya makanan. Sakura memang dimanja oleh kakeknya. Ia bagai seorang putri raja saat tinggal di rumah ini. Tapi Sakura tidak terlalu senang dengan hal itu.
0=0=0=0=0=0=0
Sakura melihat jam di kamarnya menunjukkan angka 11.20. Kemudian ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia melihat sekeliling, keadaan rumah itu sepi. 'Ini saat yang tepat' pikirnya. Ia kemudian bergegas menyelinap ke ruang kerja kakeknya. Dengan hati-hati ia membuka pintu ruangan yang ia tuju.
Sakura langsung menghampiri sebuah lemari yang berisi buku dan dokumen penting milik kakeknya. Terdengar suara berdecit saat Sakura membukanya, jantungnya berdebar-debar. Untungnya tidak ada seorang pun yang datang.
Mata Sakura menjelajahi buku-buku yang berjejer dengan teliti. Kemudian ia mengambil sebuah buku yang menarik perhatiannya. 'Daftar Tahanan Penjara Elite Konoha' Sakura menatap judul buku itu dengan seksama. Buku itu tidak hanya ada satu, namun Sakura akan tetap melanjutkan pencariannya dengan sabar. Ia mulai membuka lembar demi lembar kertas dengan gambar wajah kriminal dengan identitas dan sebab mereka masuk penjara. Ia berharap bisa menemukan sesuatu yang ia cari.
'Aku pasti akan menemukannya…' gumamnya yakin.
0=0=0=0=0=0=0
Konoha Prison (10.30 a.m.)…
"Hey, Kotetsu menyuruhmu ke ruangannya." Kata seseorang sambil menepuk bahu Sasuke dari belakang. Sasuke terkejut, ia langsung meletakkan kunai yang sedang ia kerjakan dan bergegas menuju pintu.
'Cih, mau apa dia memanggilku?' perasaan Sasuke tidak enak.
Sasuke memasuki ruangan yang dimaksud namun tidak ada siapa-siapa disana.
"Silakan masuk, Danzou-sama" Sasuke mendengar suara Kotetsu dari arah pintu di belakangnya.
Sasuke bisa melihat seorang pria masuk dengan Kotetsu dan Izumo di belakangnya. Pria itu memakai baju longgar yang menutupi seluruh tubuhnya bahkan sampai menyentuh lantai. Ia memakai perban di kepalanya dan menutupi mata kanannya. Ia membawa tongkat kayu meskipun ia masih bisa berjalan tegak dengan kedua kakinya.
"Lama tidak bertemu, Sasuke. Masih ingat aku kan?! "
Sasuke menatap tajam pada pria tua itu. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah lupa dengan Shimura Danzou, salah satu tetua desa yang merupakan pemimpin Anbu, orang yang menjadi kepala penjara Konoha, orang yang menjebloskannya ke penjara ini, dan orang yang dulu menjadi pemimpin saat pembantaian Klan Uchiha.
"Sudah sampai dimana kekuatanmu? Latihanmu bersama Kakashi tidak sia-sia kan?!." Danzou berkata.
"Apa maumu, kakek tua?!" jawab Sasuke kasar.
"Hey, berani-beraninya kau tidak sopan terhadap Danzou-sama" Izumo mengingatkan.
"Buktikan kalau kau memang sudah bertambah kuat! Sekarang juga lawan Kotetsu dan Izumo dengan kekuatan Uchihamu!" Danzou memerintahkan tiba-tiba, membuat Sasuke dan kedua Chuunin itu terkejut.
"Apa-apaan ini, lepaskan dulu rantai ditanganku!" Sasuke berkata.
"Itu tidak perlu" jawab Danzou santai.
"Hey, kalian berdua, apa aku perlu mengulangi perintahku?" teriaknya pada dua orang chuunin dibelakangnya.
"Baik, Danzou-sama." Mereka berdua pun tidak membuang waktu. Dengan senang hati mereka akan menghajar Sasuke. Sasuke hanya bisa berusaha menghindari serangan dua shinobi itu. Ia tahu ia tidak akan bisa menang dalam pertarungan yang tidak adil ini. Ia akhirnya roboh setelah mendapat beberapa tendangan di tubuhnya.
Danzou mendekati tubuh Sasuke yang meringkuk tidak berdaya di lantai, "Ternyata sampai saat ini kau masih lemah, tidak berguna. Rupanya tekanan yang kau alami masih kurang."
Emosi Sasuke meluap, ia ingin sekali menghajar kakek itu.
"SIAAAAAL! BERHENTI MEMPERMAINKAN HIDUPKU!" Sasuke berteriak. Entah darimana tenaga yang ia dapatkan ia tiba-tiba bangkit dan membenturkan tubuhnya dengan tubuh Danzou, ia mendorong dengan sekuat tenaga. Pria itu tidak menduga serangan Sasuke dan tidak sempat menghindar. Dua orang Chuunin yang berdiri di belakang Sasuke juga tidak sempat mencegah gerakannya. Mereka berdua akhirnya jatuh ke lantai. Danzou langsung bangkit, wajahnya merah karena malu dan kesal. Sementara Sasuke tetap terbaring di lantai dengan napas terengah-engah.
"KURANG AJAR!" Danzou menendang Sasuke sekuat tenaga. Uchiha itu bisa mendengar suara tulang rusuknya yang patah karena tendangan yang ia terima, sakitnya tak tertahankan, ia terbatuk sampai mengeluarkan darah, tapi ia sedikit puas bisa menyerang tetua desa itu.
"Beraninya kau menyerang seorang pejabat tinggi Konoha."
"Hukum dia di tiang penyiksaan! Sekarang!" serunya pada dua orang bawahannya yang sedari tadi hanya diam.
0=0=0=0=0=0=0
Sasuke hanya menatap tajam seolah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada dirinya. Selanjutnya yang Sasuke tahu, tubuhnya diseret oleh dua orang chuunin itu. Ia dibawa ke halaman belakang, ke dua buah tiang yang selama ini ditakuti oleh seluruh penghuni penjara. Mula-mula orang yang menyeretnya melepaskan rantai di tangannya dan segera memasang rantai yang terhubung dengan masing-masing tiang. Sekarang posisinya tergantung diantara dua tiang itu seperti huruf Y dengan ujung kaki hampir tidak menyentuh tanah. Kemudian salah seorang shinobi merobek bajunya dengan sebuah kunai. Tampak banyak bekas luka yang sudah hampir sembuh di tubuh Uchiha terakhir itu.
Sasuke masih bisa melihat Danzou berdiri di depannya dengan senyum licik dan wajah puas menyaksikannya dalam keadaan tidak berdaya. Selanjutnya Kotetsu dan Izumo muncul dengan sebuah cambuk di tangan mereka masing-masing.
Tidak lama kemudian penyiksaan pun dimulai. SLASH… Cambukan pertama mengenai dada Sasuke. Sasuke merintih kesakitan. Cambuk yang mereka gunakan kali ini lebih keras dan bergerigi dan itu membuatnya merasa berkali-kali lipat lebih sakit dari cambukan biasanya. Apalagi dengan posisinya sekarang, ini adalah siksaan paling kejam dari semua siksaan yang pernah ia alami. Mereka berdua mencambuknya dari depan dan belakang dengan sekuat tenaga.
SLASH…
"Kumohon.. hentikan…"
SLASH…
"Aaaarrrghh.."
Seberapa sering pun Sasuke merintih dan memohon, siksaan itu tidak berhenti. Mereka terus melukainya…
lagi
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
dan lagi…
Dan terus berulang sampai akhirnya tubuhnya mati rasa dan ia tidak bisa melihat apa-apa lagi. Sasuke berusaha memikirkan Sakura untuk mengurangi rasa sakitnya, tapi tubuhnya tetap tidak sanggup.
Danzou dan kedua orang penyiksa itu meninggalkan Uchiha yang babak belur itu sebelum ia mati kehabisan darah. Mereka membiarkannya tetap tergantung pada tiang itu. Mereka bertiga lalu pergi ke rumah Danzou untuk membicarakan sesuatu.
0=0=0=0=0=0=0
Danzou's mansion…
Sakura membuka matanya, ia ketiduran saat sedang membaca. Saat ia terbangun hari sudah gelap,tapi ia belum menemukan identitas orang yang ia cari padahal sudah beberapa tumpukan buku yang ia baca.
'aku harus segera menemukannya sebelum kakek datang' pikirnya sambil terus membuka lembaran buku di pangkuannya.
Sakura mempercepat pencariannya sampai akhirnya pandangannya terhenti di sebuah halaman yang berisi foto seseorang yang tidak asing baginya. 'Uchiha Sasuke…' Sakura membaca nama yang tertulis di bawah foto itu dengan seksama. Ia terkejut mengetahui nama itu. Kemudian ia membaca semua keterangan yang tertulis disitu. 'Uchiha…'
0=0=0=0=0=0=0
To be continued…
0=0=0=0=0=0=0
A/N : sepertinya aku semakin kejam… *smirk
Tapi aku juga menangis saat menulis penyiksaan itu…
Review…
Katakan sesuatu…
Onegaishimasu…^^
