Yay, akhirnya update chapter 7...
kuharap kalian menyukai ini..

aku jadi semangat meng-update karena review dari kalian...^^
Terimakasih atas review yang kalian berikan, terimakasih juga pada reader yang mem-follow dan mem-fave fic ini...
Kuharap chapter ini mendapat banyak review...

Naruto©Masashi Kishimoto

Shuujin and Kami Hikouki©Shuujin-P (囚人P )
sung by Kagamine Len & Rin (Vocaloid)


Chain 7 : Love and Truth


0=0=0=0=0=0=0

'Sasuke… Jadi dia Uchiha Sasuke…'

'Uchiha…' Sakura tahu nama klan yang sekarang sudah tidak ada lagi itu. Uchiha adalah salah satu klan yang kuat di Konoha dan merupakan pengkhianat desa yang pernah berusaha menjatuhkan Hokage. Tapi sebelum mereka menjalankan rencananya, Hokage dan para tetua desa mengetahui rencana mereka dan Klan Uchiha akhirnya dibantai tanpa menyisakan seorang pun dalam satu malam. Kakeknya sendiri yang pernah menceritakan hal itu pada Sakura. Uchiha adalah Klan yang jahat, paling tidak itulah image yang tertanam di pikiran orang-orang mengenai klan Uchiha termasuk Sakura. Ia masih kecil saat tragedi berdarah itu terjadi.

Sakura melihat halaman buku yang masih ia pegang. Di halaman yang ia lihat hanya tertulis Sebuah Nama, sedangkan dalam kolom sebab dia masuk penjara hanya tertulis 'Keputusan khusus Konoha'.

Tapi, kenapa Sasuke masih hidup?. Pembantaian itu terjadi tujuh tahun lalu, berarti saat itu Sasuke masih kecil. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang ia lakukan sampai ia dipenjara?. Sakura bertanya-tanya pada dirinya sendiri. 'Apa Sasuke akan marah kalau aku bertanya langsung padanya?'.' Sekarang sudah malam, Sasuke pasti sudah masuk ke dalam selnya.' Pikir Sakura.

KLAKK… Sakura mendengar suara pintu terbuka. Ia mengintip dan melihat Kakeknya datang dengan dua orang chuunin, lalu mereka duduk di kursi tamu. Untungnya mereka tidak melihat Sakura. Sakura segera membereskan buku-buku yang ia baca agar tidak meninggalkan jejak. Dari tempatnya ia bisa mendengar percakapan Kakeknya dan dua orang shinobi itu.

"Jadi, apa Eksekusi mati akan dilakukan terhadap Sasuke, Tuan?" Seorang Chuunin berkata.

'Sasuke?' Sakura terkejut mendengar mereka membicarakan nama itu.

"Masih belum. Kita masih harus menunggu." Danzo menjawab.

"Tapi sampai kapan, Danzo-sama? Tidak ada perkembangan apa-apa darinya." Chuunin yang lain berkata.

"Terus saja tekan dia, tapi jangan sampai dia mati" Balas Danzo.

"Kami sudah melakukan itu, Tuan. Tapi sepertinya dia tetap tidak menyerah. "

"Tidak ada yang tahu kapan kekuatan itu akan muncul, jadi kita harus bersabar."
"Bagaimanapun juga dia adalah aset yang besar bagi desa kita."

"Jadi kita biarkan saja anak itu di tiang penyiksaan?" kata seorang Chuunin.

"Hmm, mungkin kita tolong saja saat dia sudah hampir mati… Hahaha…" kakek itu tertawa lebar.

'Tiang penyiksaan? Apa mungkin Sasuke…' Sakura memiliki firasat buruk, hatinya tidak tenang. Ia segera mencari jalan untuk keluar dari ruangan itu. Kemudian ia melihat sebuah jendela yang tertutup. Ia membukanya perlahan agar tidak ketahuan, untunglah usahanya berhasil. Sakura segera berlari ke arah penjara untuk memastikan dugaannya. Selama perjalanan hatinya benar-benar tidak tenang..

0=0=0=0=0=0=0

Jalanan Konoha sudah gelap. Semua orang sudah masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat. Udara semakin dingin, namun Sakura tidak peduli akan semua itu. Tujuannya hanya satu, Sasuke.

Napas Sakura tersengal-sengal, dadanya mulai sesak. Tapi ia terus berusaha menguatkan dirinya. Akhirnya ia sampai pada tempat yang ia tuju. Ia melangkah mendekati pagar penjara di bagian ujung dengan hati-hati. Setelah ia berada cukup dekat, matanya langsung terbuka lebar. Ia tidak percaya dengan apa yang ada di depannya. Seseorang yang ia rindukan sedang tergantung tidak sadarkan diri di antara dua tiang yang cukup tinggi. Air mata Sakura langsung membanjiri wajahnya, dadanya semakin terasa sesak. Ia tidak tega melihat Sasuke dalam keadaan seperti itu. Sasuke hanya memakai celana, tubuhnya berlumuran darah karena luka cambuk, kulitnya penuh luka memar yang tidak terhitung jumlahnya, dan wajahnya sangat pucat.

'Tega sekali kakek melakukan ini…' pikirnya.

"S..Sasuke…" Sakura memanggilnya sambil menangis tersedu-sedu, namun orang yang dipanggilnya tidak bergeming. Sakura lebih mendekat ke pagar agar suaranya bisa terdengar.

"AHH!" Sakura berteriak, tangannya terasa panas saat tidak sengaja menyentuh pagar penjara. Ia teringat perkataan Sasuke yang melarangnya terlalu dekat dengan pagar penjara. Sakura lebih berhati-hati dengan pagar yang dapat menghisap chakranya itu.

"Sasuke, bertahanlah… "
"Aku disini, Sasuke…"
"Sasuke…" Sambil menangis Sakura terus berharap agar Sasuke tersadar.

0=0=0=0=0=0=0

Perlahan Sasuke membuka matanya, pandangannya agak kabur, seluruh sel di tubuhnya terasa sakit. Ia bisa mendengar seseorang memanggil namanya berkali-kali. Ia kenal dengan suara itu, kemudian ia berusaha sedikit menoleh untuk memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Lama-lama pandangannya semakin jelas dan ia bisa melihat gadis yang selalu menemuinya memanggil namanya.

"D..darimana kau.. tahu.. namaku..?" suara Sasuke sangat pelan dan lemah, tapi Sakura masih bisa mendengarnya.

"Maaf, Sasuke…, aku menyelidikinya. Tapi.. aku.. aku.." Sakura bingung harus berkata apa.
"Kenapa kau ada di penjara ini? Bukankah saat kejadian itu kau masih anak-anak?"

"Aku juga tidak tahu… Mungkin ini sudah takdirku sebagai seorang Uchiha…" Sasuke menundukkan kepalanya. Ia berusaha menyembunyikan air mata yang membasahi wajahnya. Namun Sakura mengetahui kalau Sasuke menangis.

Sakura bertambah sedih melihatnya, "Aku turut bersedih atas kejadian itu…, tapi, kumohon jangan putus asa…"

"Pergilah…" Sasuke berkata.

Sakura terkejut mendengarnya, "Kenapa..?"

"Aku sudah bilang dari awal sebaiknya kita tidak saling kenal karena kau akhirnya pasti akan menyesal" jawab Uchiha yang terluka itu.

"Tapi aku…" Sakura berkata.

"Kau seharusnya membenci Uchiha karena kami adalah pengkhianat. Kami memang pantas untuk dibenci…" Sasuke berbicara lebih keras.

"Tidak, aku tahu kau tidak bersalah… Aku percaya padamu, Sasuke…" gadis itu menjawab sambil menangis.

"Tapi kenyataannya seperti ini… Semuanya sia-sia… Karena itu…, pergilah. Lupakan semua hal tentangku…" Sasuke menunduk dan memejamkan matanya.

Air mata Sakura menetes saat mendengarnya, "Aku.. tidak mau."

"Pergilah, ini demi kebaikanmu…" Sasuke berkata.

"Tidak.., aku-"

"Aku bilang cepat pergi!" Sasuke berteriak mengusir Sakura.

"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Dan aku ingin selalu bersamamu." Sakura berbicara keras dengan berurai air mata.
"Itu karena… Aku mencintaimu, Sasuke…"

Hati Sasuke terkejut mendengar kalimat itu. "Bodoh." Hanya itu tanggapan darinya.

Hati Sakura sakit mendengarnya, ia hanya terdiam. Ia ingin mendengar Sasuke menyatakan cintanya juga pada Sakura tapi yang ia dapat malah sebaliknya.

"Jangan katakan hal itu…" Sasuke mengatakannya meskipun ia juga mencintai Sakura.

"Tapi kenapa?" Sakura bertanya.

"Aku tidak bisa melakukan apa-apa… Aku bahkan tidak bisa menghapus air matamu dengan tanganku… Aku terperangkap disini… Aku hanya akan membuatmu sedih… Kau pasti bisa menemukan orang lain…" Uchiha itu berkata dengan pandangan ke tanah.

"Aku mencintaimu lebih dari apa pun, Sasuke… Aku tidak peduli meskipun kau seorang Uchiha." Air mata Sakura terus mengalir.

Hati Sasuke terenyuh mendengarnya. Sebenarnya perasaannya juga sama terhadap Sakura. Tapi Sasuke tetap tidak bisa menyatakannya, ia merasa tidak pantas.

Suasana hening dalam beberapa menit. Udara malam semakin dingin. Tubuh Sasuke gemetar karenanya dan terasa semakin Sakit.

"Sudahlah…*uhuk*" Sasuke terbatuk saat dadanya terasa semakin sesak. Batuknya semakin menjadi-jadi sampai darah keluar dari mulutnya.

"Pergi..lah dan jangan kembali la..gi.. kau ha..rus melupa..kan..ku…" Sasuke mengatakannya dengan berat hati.

"Sasuke-kun…" Sakura tidak tega melihatnya. Sasuke benar-benar butuh pertolongan.

"Pulang…lah… Hari su..dah semakin ma..lam. Kalau penjaga menge..tahui hal i..ni kita bisa ter..bunuh. Jangan pikir..kan aku… A..ku baik-baik sa..ja." Sasuke berbicara lagi setelah napasnya agak lancar.

Sakura tahu tidak ada yang baik-baik saja saat ini, "Aku akan menemanimu.., Sasuke"

"Ja..ngan. Ka..lau kau terus berdiri disitu kau ju..ga akan sakit."

Sakura baru menyadari kalau tubuhnya terasa semakin lemah, chakranya pasti sudah hampir habis karena diserap pagar di dekatnya. Sasuke benar, ia tidak bisa melakukan apa-apa disini. Keadaan hanya akan bertambah buruk jika ia ketahuan.

"Sasuke… Kumohon bertahanlah… aku akan menemuimu lagi…" air mata Sakura menetes lagi. Ia tidak tega meninggalkan Sasuke dalam keadaan seperti itu.

Akhirnya dengan berat hati Sakura pergi meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan ia tidak berhenti menangis. Dalam setiap langkah selalu terbayang sosok Sasuke yang penuh luka. Sementara itu dadanya terasa sakit. Penyakitnya kambuh lagi. Ia pun roboh sebelum sempat memasuki gerbang rumah kakeknya.

0=0=0=0=0=0=0

Sasuke sebenarnya tidak ingin Sakura meninggalkannya, tapi ia tidak ingin gadis yang dicintainya itu terseret dalam bahaya karena berhubungan dengannya. Sasuke tahu, hal ini memang menyakitkan. Dalam kesendiriannya, memori pertemuannya dengan Sakura terlintas dalam benaknya.

Seorang tahanan yang jatuh cinta dengan gadis dari luar pagar penjara…, itu sangat menyedihkan. Sasuke tidak pernah menyangka gadis itu mau mengenal dirinya yang kotor dan hina. Lalu ia dan Sakura saling berkirim surat melalui pesawat kertas yang terbang melewati pagar yang seolah menjadi batas dunia mereka. Lama-lama hal itu membuatnya bisa meyakini akan datangnya kebebasan, meskipun itu hanyalah ilusi, ia tetap mempercayainya. Gadis itu membuatnya bisa kembali tersenyum dan menyukai dunia ini. Asalkan Sakura bersamanya, ia yakin kebahagiaan pasti akan datang, meskipun semua itu hanyalah suatu kebohongan.

Semakin lama waktu berlalu, perasaan cinta itu semakin kuat. Pesawat kertas yang Sakura berikan menjadi kekuatannya untuk bertahan, namun sekuat apapun Sasuke menjalani hidupnya, tubuhnya semakin hancur. Dan sekarang ia tersadar bahwa ia tidak akan bisa membuat Sakura bahagia. Sasuke tidak bisa menyentuhnya, ia tidak bisa menggapainya, ia tidak bisa keluar dari tempat itu, ia tidak akan pernah bisa. Ia tersadar pada akhirnya ia harus meninggalkan gadis itu dan merelakannya pergi.

Tanpa sadar air mata Sasuke menetes membasahi wajahnya yang pucat dan terluka. Dalam hatinya ia masih ingin bertemu dengan Gadis itu lagi. Ia masih ingin melihat gadis itu menemuinya dan memberikan senyum manisnya.

Sasuke terbatuk lagi dan kali ini lebih parah. Hal itu membuat tubuhnya terasa semakin sakit. Tulang rusuknya yang patah terasa sangat menyiksanya. Ia berusaha memperbaiki posisinya tapi hal itu justru membuat kondisinya semakin buruk. Ia gemetar saat angin dingin menerpa lukanya dan membuatnya terasa semakin perih. Sasuke tidak yakin sampai kapan tubuhnya bisa bertahan menghadapi siksaan seperti ini. Lama-lama kelopak matanya terasa semakin berat dan ia pun akhirnya tidak merasakan apa-apa lagi.


0=0=0=0=0=0=0

To be continued…

0=0=0=0=0=0=0


A/N : bagian yang italic itu kuambil dari Lagu Shuujin by Len kagamine

Aku… benar-benar menginginkan Review darimu…
Bagiku review itu sangat berharga…
Katakanlah sesuatu, meskipun cuma satu kata...^^

Arigatou...