A/N : Maaf kalau chapter sebelumnya menurut kalian terlalu pendek... aku baru pertama kali menulis fanfic, terutama scene romance... aku benar-benar gak punya pengalaman..ehehe
Chain 8 : Hero's Come Back
Matahari bersinar terik di Konoha. Semakin siang udara terasa semakin panas. Di penjara Elite Konoha kegiatan berlangsung seperti biasanya. Para narapidana bekerja keras membuat senjata di sebuah ruang khusus yang disediakan. Di sebuah sudut tampak dua orang shinobi sedang mengawasi para tahanan itu. mereka terlihat bosan dan tidak bersemangat.
"Hey, Izumo, kau tidak merasa ada sesuatu yang kurang?" seorang chuunin dengan perban yang melewati hidungnya berkata.
"Oh, maksudmu bocah itu?" jawab seorang lagi yang berambut coklat.
"Ya, dia masih berada di tempat itu kan?"
"Em. Tenang saja, dia tidak akan bisa lepas dari sana."
"Bukan itu maksudku. Apa tidak sebaiknya kita lepaskan dia?" Kotetsu berpendapat.
"Heh, kau mencemaskan di rupanya?!"
"Bukan begitu. Kalau dia mati, Danzou-sama pasti akan marah. Coba kau lihat dia."
"Baiklah… aku pergi"
Izumo kemudian keluar ruangan dan berjalan dengan malas.
0=0=0=0=0=0=0
Sesampainya di halaman belakang, Izumo bisa melihat Uchiha itu masih tetap berada di tempatnya. Baginya itu adalah suatu pemandangan yang indah. Ia terus berjalan mendekat dan memperhatikan anak itu dari depan. Uchiha itu masih tidak sadarkan diri sejak pertemuannya dengan Sakura tadi malam. Kepalanya tertunduk lemas, wajahnya tertutup rambut hitamnya yang berantakan. Izumo memicingkan matanya, ia menunjukkan ekspresi muak di wajahnya. Tubuh Uchiha di depannya itu penuh luka dan darah yang sudah mengering.
Izumo menjulurkan tangannya ke leher Sasuke. Ia memeriksa denyut nadi karotisnya. Ia bisa merasakan denyut itu walaupun sangat lemah. Ia kemudian menggenggam rambut hitam anak di depannya dan mengangkatnya sampai wajah Sasuke terlihat. Ada bekas aliran darah dari mulutnya dan bekas air mata yang sudah kering di wajah anak yang malang itu.
"HEY! BANGUN!" Izumo berteriak dengan kasar sambil menggenggam rambut anak itu lebih erat, namun anak itu tidak bergeming sedikit pun.
Chuunin itu lalu mencoba cara lain. Ia mencoba menekan sebuah luka yang terlihat kehitaman di dada Uchiha itu. Sentuhannya tepat mengenai tulang rusuk Sasuke yang patah.
"Nggh…" terdengar suara Sasuke merintih kesakitan. Matanya sedikit terbuka tapi pandangannya tidak bisa terfokus, ia ingin berteriak tapi kerongkongannya terasa sangat kering karena ia tidak menerima makanan dan minuman sejak kemarin. Seluruh tubuhnya terasa sakit saat ia bernapas.
"HEY, BANGUN! BUKA MATAMU, BODOH!"
Sasuke bisa mendengar seseorang bicara dengannya, tapi otaknya hanya menerjemahkan itu sebagai sebuah bisikan yang tidak jelas. Lama-lama kepalanya terasa semakin sakit, ia menutup matanya dan membiarkan kegelapan mengambil alih pikirannya.
Izumo terkejut melihat Sasuke kembali pingsan. 'Hah, kurasa aku harus melepaskannya' pikirnya.
Ia lalu melepaskan rantai yang mengikat pergelangan tangan Sasuke satu per satu. Ia bisa melihat pergelangan tangan itu bengkak dan memar, kemungkinan Sasuke mengalami dislokasi. Uchiha itu terjatuh saat kedua rantai itu terlepas. Izumo kemudian memanggul tubuh yang tidak berdaya itu seenaknya melewati bahunya seperti sebuah karung. Ia tidak peduli kalau hal itu dapat menyebabkan keadaan Sasuke bertambah parah.
0=0=0=0=0=0=0
Izumo sampai di ruang kesehatan penjara. Ia meletakkan Sasuke di atas tempat tidur yang tersedia.
"Hey, ada tugas untukmu, sembuhkan dia!" ucapnya pada seorang kunoichi medis yang sejak tadi duduk bersantai di ruangan itu.
"Hah.., kalian menyiksanya lagi dan sekarang aku yang harus merawatnya. Kau mengganggu waktu bersantaiku saja." Gerutu wanita itu.
"Bilang saja sebenarnya kau juga ingin menyiksanya." Jawab Izumo.
"Yah, mungkin kau benar, haha.."
"Kenapa kalian tidak membunuhnya saja agar tidak merepotkanku?"
"Sudah lakukan saja tugasmu. Lagipula ini adalah keinginan Danzou-sama."
"Hah, Baiklah…" jawab wanita itu dengan malas.
"Berapa lama dia akan sembuh?" Izumo bertanya.
"Hmm, mungkin satu atau dua minggu. Kenapa? Kau sudah tidak sabar untuk menyiksanya lagi ya?" jawabnya.
"Yup." Jawab Izumo sambil meninggalkan ruangan itu.
Wanita itu hanya menggelenggkan kepalanya kemudian ia menghampiri pasiennya yang terluka parah.
0=0=0=0=0=0=0
Konoha Hospital…
Sakura membuka matanya dan menyadari dirinya berada di tempat yang tidak asing baginya, ia berada di kamar yang biasa ia tempati saat dirawat di rumah sakit. Sakura kebingungan. Ia masih terbayang-bayang pertemuannya dengan Sasuke. Ia harap itu hanyalah sebuah mimpi buruk.
"Sakura…" sebuah suara memanggilnya.
"Kakek.." Sakura melihat kakeknya duduk di sebelah ranjangnya.
"Apa yang terjadi padamu, Sakura? Semalam penjaga menemukanmu pingsan di depan rumah. Kau pergi kemana?" Tanya kakeknya.
'Jadi, tadi malam itu bukan mimpi…' pikir Sakura.
"Mmm, aku.. aku hanya jalan-jalan ke luar, Jii-sama…" jawabnya bohong. Sakura tidak ingin kakeknya mengetahui hubungannya dengan Sasuke.
"Kau harus menjaga kondisimu, Sakura.., tadi dokter bilang kondisimu memburuk lagi." Nasihat kakeknya.
"Iya, maafkan aku…" jawab Sakura pelan.
"Lain kali jangan kau ulangi. Aku tidak mau cucuku satu-satunya kenapa-kenapa." Ucap kakek itu tegas.
"Baik, Jii-sama…"
"Sudahlah, jangan murung begitu, seharusnya hari ini kau bahagia." Ucap kakeknya.
Sebenarnya Sakura bukan murung karena memikirkan kondisinya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Sasuke. Ia harus mencari cara agar bisa bertemu dengannya secepatnya.
"Bahagia? Apa maksudnya?" Tanya gadis itu.
"Nanti seseorang akan datang dan memberimu kejutan."
"Siapa?" Sakura penasaran.
"Nanti kau juga akan tahu… Sekarang kau beristirahatlah, aku akan kembali bekerja." Jawab kakeknya.
0=0=0=0=0=0=0
Sakura terus berusaha memejamkan matanya, namun ia tidak bisa tidur. Yang ia pikirkan hanya Sasuke. Ia selalu gelisah. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada seseorang yang dicintainya.
Sakura membuka laci meja di dekatnya. Ia lega beberapa pesawat kertas yang ia tinggalkan masih utuh disana. Ia mengambil selembar dan melihatnya sambil membayangkan wajah Sasuke. Air mata Sakura menetes membasahi pesawat kertas itu. dalam hati ia berdoa agar laki-laki yang dicintainya itu baik-baik saja.
"Sakura-Chaaaaaaan…!" seseorang tiba-tiba masuk dan memanggil Sakura dengan suara yang sangat berisik.
"Naruto?!" Sakura terkejut melihat temannya yang tiba tiba muncul itu, sudah setengah tahun lebih ia tidak bertemu dengannya. Sakura cepat-cepat menghapus air matanya.
"Hey, kenapa kau menangis?"
"Ah? Tidak, tidak apa-apa.." jawab Sakura.
"Eh, benda apa yang kau pegang itu?" Naruto melirik pesawat kertas di tangan Sakura.
"Bukan apa-apa… Hey, Naruto, kalau masuk ketuk pintu dulu!" Sakura segera menyembunyikan pesawat kertasnya dan mengalihkan pembicaraan.
"Ahaha, maaf.. aku kan ingin memberimu kejutan" jawab anak berambut pirang itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
'Kejutan..?' kini sakura paham maksud dari perkataan kakeknya tadi.
"Bagaimana kalau jantungku langsung copot saat mendengar suaramu yang berisik itu?" ucap Sakura kesal.
"He? Jangan bilang begitu, Sakura-chan, baiklah aku minta maaf" jawab Naruto dengan senyum lebar di wajahnya.
Sakura hanya tersenyum melihat temannya yang dulu pernah satu tim dengannya. Naruto memang selalu ceria,sering bertindak bodoh, dan suka membuat keramaian. Tapi, dibalik wajah konyol yang dimilikinya, Naruto adalah seorang shinobi yang hebat dan pantang menyerah. Ia adalah putra dari alm. Hokage keempat dan juga seorang jinchuuriki kyuubi. Ia memiliki kekuatan yang sangat besar, karena itulah ia diberi latihan khusus bersama salah satu sannin, Jiraiya. Saat ini kekuatannya pasti sudah sangat jauh melebihi Sakura dan teman sebayanya yang lain. Sakura bisa melihat Naruto sudah bertambah tinggi dan gagah.
Suatu saat nanti Naruto akan menjadi Hokage negeri ini. Hal itu adalah keputusan Hokage ketiga yang saat ini sedang memimpin dan para pejabat tinggi Konoha, termasuk kakeknya. Naruto adalah sosok yang cocok dan sempurna untuk melindungi desa ini. Kyuubi yang ada dalam tubuhnya akan menjadi pertahanan terkuat yang tidak dimiliki oleh negara lain. Sakura ikut senang karena sahabatnya adalah seseorang yang hebat.
"Sakura-chan…" Naruto membuyarkan lamunan Sakura, kali ini nada bicaranya terdengar serius.
"Ya?"
"Sebenarnya, aku datang untuk menepati janjiku…" ucap Naruto.
"Janji…" Sakura berpikir, ia teringat dengan janji Naruto sebelum ia pergi meninggalkan desa. Naruto berjanji bahwa ia akan membawa Tsunade, salah satu sannin legendaris yang mungkin bisa menyembuhkannya. Awalnya Sakura pikir hal itu mustahil, tapi Naruto tetap bersikeras melakukannya.
Sakura tahu Naruto sangat mencintainya, bahkan setelah Naruto mengetahui penyakit yang diderita Sakura, ia tetap mencintai gadis itu. Naruto akan melakukan apapun untuk Sakura sekalipun itu adalah hal yang kelihatannya tidak mungkin. Namun, Sakura tidak memiliki perasaan yang sama terhadap Naruto. Ia hanya menganggapnya sebagai sahabat baik dan tidak akan pernah lebih dari itu. Rasa cinta yang ia miliki hanya untuk Sasuke.
Naruto pernah menyatakan cintanya pada Sakura, tapi Sakura menolaknya. Naruto tidak putus asa karena hal itu. Dengan percaya diri Naruto mengatakan kalau suatu saat ia akan membuat Sakura menyukainya dengan caranya sendiri.
"Aku berhasil menemukannya, Sakura.." kata Naruto.
"…"
"Aku telah berhasil membawa Tsunade untuk menyembuhkanmu" lanjut Naruto bangga.
Sakura tercengang, ia terkejut dan setengah tidak percaya mendengarnya.
Tanpa basa-basi lagi Naruto mempersilakan orang yang ia maksud memasuki ruangan. Sakura bisa melihat seorang wanita memasuki ruangan bersama asistennya yang membawa seekor babi. Sakura kaget melihat wajah sannin itu yang masih terlihat cantik dan muda padahal seharusnya sannin sudah berusia lanjut. Kulitnya juga masih kencang dan tubuhnya sangat sexy.
"Hey, Sakura.., jangan tertipu dengan dadanya yang besar, dia itu sebenarnya sudah nenek-nenek" ucap Naruto setengah berbisik.
Wanita itu langsung meninju kepala Naruto sampai benjol. "Aku mendengarmu, bocah nakal!" teriaknya kesal.
Sakura hanya tersenyum melihat Naruto mengelus-elus kepalanya.
"Ah, perkenalkan, aku Tsunade dan ini Shizune, asistenku, dan anak babi ini adalah Tonton" kata wanita itu sambil memperkenalkan asisten dan hewan peliharaannya.
"Mungkin setelah ini kami akan menetap di Konoha meskipun sebenarnya aku tidak ingin. Entah kenapa, aku tidak bisa mengabaikan usaha keras anak ini." Lanjutnya sambil melirik ke arah Naruto.
Naruto hanya tersenyum memamerkan giginya dengan bangga.
'Tidak kusangka Naruto benar-benar menepati janjinya…' batin Sakura
0=0=0=0=0=0=0
Tsunade melakukan tugasnya memeriksa Sakura. Ia meneiti dengan seksama kelainan yang dialami gadis itu. Ia mencatat beberapa hal penting yang ia temukan.
"Hmm, Sakura, kau juga seorang kunoichi kan?!" Tanya wanita itu menghilangkan suasana hening yang membuat Sakura tegang.
"Iya, tapi sejak penyakitku bertambah parah aku tidak diizinkan untuk berlatih lagi" jawabnya jujur.
"Kau tertarik tidak, untuk menjadi ninja medis?" tanyanya lagi.
"Em" Sakura mengangguk, "Sebenarnya aku tertarik sekali. Tapi aku tidak yakin apakah aku bisa…" ucap Sakura pasrah.
"Baiklah, pemeriksaannya sudah selesai.." ujar Tsunade tiba-tiba.
"B..Bagaimana hasilnya" Sakura penasaran.
Wanita itu tersenyum, "Kasus yang kau alami ini baru pertama kali kutemui, dan kurasa ini cukup sulit… Aku berani melakukan operasi, tapi kemungkinan berhasilnya masih sedikit. Beri aku waktu sepuluh hari untuk mempelajari ini lebih lanjut dan aku akan berusaha untuk menaikkan peluangnya menjadi 50%, baru setelah itu aku akan mengoperasimu."
Sakura terdiam dan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Angka 50% tidak menjamin apakah ia akan selamat.
"Tenanglah, Sakura.. asalkan dirimu yakin, kau pasti akan sembuh. Aku tahu kau memiliki keinginan yang kuat." Tsunade berusaha membangkitkan semangat Sakura.
"Dan kalau kau sembuh nanti, kau bisa belajar menjadi ninja medis denganku. Aku melihat kau memiliki potensi yang besar."
"Benarkah?" semangat Sakura muncul saat mendengar hal itu.
Tsunade tersenyum dan mengelus dahi gadis itu, "Sekarang beristirahatlah yang cukup. Kumpulkan semangatmu sampai saatnya operasi nanti."
Sannin itu kemudian beranjak pergi dari kamar Sakura.
0=0=0=0=0=0=0
Sakura tidak percaya akhirnya ia memiliki Harapan untuk sembuh, bahkan ia memiliki kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya.
Tapi…
Hati Sakura tidak sepenuhnya bahagia. Semua harapan ini bisa terjadi karena… Naruto.
Apa yang akan ia lakukan untuk membalas kebaikan sahabatnya itu? mungkin satu-satunya cara untuk membalas kebaikannya itu adalah dengan mencintai Naruto dan bersedia menjadi pendamping hidupnya dengan begitu ia bisa membuat Naruto bahagia bahkan kakeknya juga. Sakura tahu selama ini kakeknya sangat mendukung dirinya bersama Naruto. Tapi,itu sangat sulit… Tidak, Sakura tidak mungkin mencintai Naruto. Dari awal ia memang tidak memiliki cinta untuknya. Karena seseorang yang ia cintai hanyalah… Sasuke.
0=0=0=0=0=0=0
To be continued…
0=0=0=0=0=0=0
#sigh.. kurasa tidak akan ada air mata di chap ini…
KYAAAA… Bagaimana ?
apa alurnya terlalu cepat?
saat aku membaca ulang chapter ini, aku merasa ada sesuatu yang aneh… tapi aku juga bingung harus bagaimana… ~_~
ano.. sebelumnya aku mau minta maaf karena aku belum tau kapan bisa publish chapter 9...
yang pasti gak bisa dalam waktu dekat ini..
Gomennasai.. gomennasai... hontou ni gomennasai... (_ _)
Review…
Onegaishimasu…
