Gomennasai, minna-san… updatenya lama.
Aku tau chapter sebelumnya memang… membosankan dan mungkin chapter ini juga. Tapi aku harap kalian masih berminat pada Chain of Destiny…
I still need more training… (_iii_)
Dan chapter 9 ini sengaja aku update sebelum UTS. UTS akan memakan waktu 2 minggu, belum lagi tugas-tugas laporan… orz
Gomennasai… Gomennasai… #bow..bow
Ok, enough with the chatter and now please enjoy this chapter…
0=0=0=0=0=0=0
Chain 9 : Rival
0=0=0=0=0=0=0
"Dunia ini begitu luas, tapi mengapa tidak ada tempat untukku dan Sasuke..?"
"Dunia dimana aku dan Sasuke bisa bergandengan tangan…"
"Dunia dimana Sasuke bisa tersenyum…"
"Apa keinginanku terlalu mustahil…"
"Kalau bukan di dunia ini, mungkin…"
"…."
Sakura tersadar, mata emeraldnya menjelajahi langit-langit ruangan putih tempatnya berada. Ia masih berada di tempat yang sama. Perlahan ia mencoba menggerakkan anggota tubuhnya. Hangat…, itulah sensasi yang ia rasakan. Seseorang sedang menggenggam erat tangannya.
Naruto? Sakura melirik laki-laki yang tertidur di kursi samping ranjangnya. Mestinya Sakura tidak perlu kaget, sejak Naruto kembali, ia memang selalu menjaga Sakura. Meskipun sebenarnya Sakura tidak ingin, tapi ia tidak mungkin menolak niat baik sahabatnya itu. Sakura segera melepaskan genggaman itu, membuat Naruto terkejut hingga ia terbangun.
"Huh? Sakura-chan…" dengan wajah yang masih mengantuk Naruto berkata.
"Kau baik-baik saja kan, Sakura-chan? Apa kau butuh sesuatu?" shinobi Pirang itu mendadak panik karena alasan yang tidak jelas.
"Aku baik-baik saja, Naruto."
"Oh, syukurlah.. Mungkin aku hanya terlalu khawatir." Naruto menghela napas lega.
"Kau tidak pulang, Naruto?" suara Sakura terdengar sangat lemah dan pelan.
"Tidak", Naruto menggeleng. "Aku ingin selalu menjagamu", lanjutnya sambil tersenyum lebar. Sakura hanya membalas dengan senyum palsu yang terpaksa ia buat. Selanjutnya mereka berdua hanya diam. Naruto yang biasanya hiperaktif hanya membisu, ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi bingung untuk memilih kata yang tepat.
"Ne, Sakura-chan.." suara Naruto membuyarkan lamunan Sakura.
"Siapa itu Sasuke?"
DEG…
Jantung Sakura seolah melompat saat mendengar pertanyaan itu. Aliran darahnya seakan berhenti, lidahnya terasa kaku. Ia bingung darimana Naruto bisa mengetahui nama Sasuke. Sakura tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya pada Naruto, tapi ia bingung bagaimana harus menyembunyikannya.
"A..apa maksudmu, Naruto?"
"Saat kau tidur, kau menyebut-nyebut nama Sasuke, tentu saja aku ingin tahu…"
Sakura hanya tercengang mendengar perkataan Naruto, 'Bodoh sekali kau Sakuraaa! Bagaimana ini? Cepat berpikir.. berpikir…!' Sakura berusaha keras memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan itu.
"Ahhahaha.." tiba-tiba saja Sakura tertawa. Lagi-lagi itu hanya sandiwara.
"Itu sebenarnya ngg.. nama… tokoh utama novel yang pernah aku baca… Mm..mungkin karena aku sangat suka jadi... sampai terbawa ke mimpi." Sakura mengakhiri kebohongannya dengan senyuman.
'Kurasa Naruto akan percaya dengan hal itu, lagipula ia tidak terlalu pintar.' Nurani Sakura meyakinkan.
"Oh, begitu rupanya.. Hahaha…" Naruto tersenyum lebar.
'Fiuhh.. syukurlah Naruto percaya…' pikir Sakura lega.
"Ah, sudah jam 3 sore ternyata. Sudah saatnya berlatih bersama Ero-Sannin."
"Aku akan kembali lagi nanti malam. Kau beristirahatlah, Sakura.." Naruto tiba-tiba beranjak dari kursinya.
"Emm, hati-hati.. Naruto.." Sakura tersenyum sambil melambaikan tangannya.
'Syukurlah Naruto pergi, ini adalah kesempatanku' nurani Sakura berbisik. Ia segera menyusun rencana untuk kabur dan pergi ke penjara. Ia tidak peduli pada kondisi tubuhnya yang lemah.
_0=0=0=0=0=0=0_
Naruto berjalan keluar dari rumah sakit. Ia menyusuri jalan tempat menuju tempat latihannya. Langkahnya cepat dan tangannya mengepal erat, matanya memandang tajam, dan sesekali giginya bergemeretak. Ia sampai di tempat latihannya, tidak ada seorang pun ditempat itu. Naruto meneruskan langkahnya, tempat itu memang bukan tujuannya.
Sakura ternyata salah menduga, Naruto tidak sebodoh yang ia pikir. Naruto tahu Sakura berbohong dan ia tidak akan tinggal diam, ia akan mencari kebenaran.
Langkah Naruto berhenti di sebuah rumah besar yang dijaga oleh dua orang anbu. Penjaga itu memberi hormat dan mempersilakan Naruto masuk.
_0=0=0=0=0=0=0_
"Siapa orang yang bernama Sasuke itu, Danzou-sama?" Naruto bertanya sambil meledak-ledak.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?" Tanya Danzou heran.
Naruto menunduk dan berusaha lebih tenang, "Uhh.., aku hanya penasaran saja. Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya" tangan Naruto mengepal erat, ia tidak mengatakan kalau ia tahu nama itu dari Sakura.
"Oh, baiklah…" Ucap Danzou sambil berjalan mendekat ke arah Naruto. "Sasuke itu adalah…" Danzou membisikkan sisa kalimatnya ke telinga Naruto. Calon Hokage itu tampak terkejut, matanya terbuka lebar saat mendengar kata-kata Danzou.
_0=0=0=0=0=0=0_
Konoha Prison…
Sasuke masih terbaring di ranjang ruang kesehatan penjara. Tubuhnya masih belum bisa bergerak bebas. Ia merasa bosan, ia ingin segera sembuh agar bisa segera berlatih bersama Kakashi. Tapi berada di ruangan ini tidak terlalu buruk juga, karena selama Sasuke masih sakit, ia tidak akan disiksa. Lebih dari berlatih bersama Kakashi, ia ingin bertemu Sakura, sudah tiga hari sejak pertemuan mereka di malam itu. Namun, Sasuke ragu apakah ia harus menemui gadis itu lagi. Malam itu, ia telah mengusir Sakura, ia menyuruh Sakura untuk melupakannya.
'Mungkin sebaiknya berakhir begini…' Sasuke menatap dengan pandangan kosong ke arah langit-langit.
"Hey, ada seseorang yang ingin menemuimu." Ucap perawat yang masuk tiba-tiba dan membuyarkan lamunan Sasuke.
"Silakan masuk, Naruto-sama…" wanita itu berkata dengan lembut dan mempersilakan seseorang masuk.
Sasuke berusaha duduk bersandar di dinding, tulang-tulangnya ngilu saat ia berusaha mengubah posisi. Ia bisa melihat seseorang berambut pirang memasuki ruangan. Ia sama sekali tidak mengenalnya, tapi ia bisa memperkirakan kalau usia orang itu tidak begitu jauh dengannya.
"Dia adalah Naruto-sama, calon Hokage Konoha. Kau harus bersikap sopan padanya." Perawat itu mengingatkan.
Naruto menyuruh perawat itu keluar ruangan. Ia tidak ingin orang lain mendengar pembicaraannya dengan Sasuke.
"Jadi kau Uchiha Sasuke?!" Naruto memperhatikan orang yang ia cari. Ternyata Sasuke seumuran dengannya. Naruto cukup terkejut mengetahui Sasuke adalah seorang Uchiha dan ia tahu karena itulah Sasuke mendekam di penjara. Sebenarnya ada rasa kasihan di hatinya saat melihat Sasuke yang penuh luka, tapi kemarahan sedang menguasainya saat ini.
"Apa hubunganmu dengan Sakura? Bagaimana kalian bisa saling kenal?" Naruto tiba-tiba membentak.
"Cih, bukan urusanmu"
"Jawab aku!"
"Kubilang itu bukan urusanmu!" mata onix Sasuke menatap tajam dua bola safir dihadapannya.
"Beraninya kau… aku adalah calon Hokage, aku bisa melakukan apa pun padamu!"
"Cih, calon hokage? Wajahmu itu terlihat terlalu bodoh untuk disebut Hokage." Sasuke tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Kurang ajar!" Naruto mengepalkan tangannya, kesal.
"Sebaiknya kau jauhi Sakura karena dia akan menjadi istriku suatu saat nanti!"
"Apa Sakura mau? Kurasa dia lebih memilihku" Jawab Sasuke tenang.
"Sial! Jadi kau dan Sakura memang saling kenal? Sudah sejauh mana hubungan kalian?"
"Berisik! Jangan pikir karena kau calon Hokage kau bisa mengetahui segalanya."
"Aku berhak tahu. Memangnya kenapa kalau aku calon Hokage, huh?! Aku berjuang keras untuk mendapatkannya dan aku memang pantas. Lihat dirimu, kau seorang Uchiha. Sejak dulu yang kalian lakukan hanya membuat masalah. Kau tidak akan bisa membuat orang lain bahagia."
Sasuke menunduk menerima cacian dari Naruto, "Diam kau…"
"Jangan menghina Uchiha!"
"Kau masih saja membela klanmu yang pengkhianat itu?! bodoh!"
Telinga Sasuke terasa panas, ia tidak terima keluarganya dicacimaki oleh seseorang yang baru ia temui, "Egois… Kalian semua hanyalah orang munafik yang menggunakan kedudukan untuk berbuat seenaknya. Untuk kesejahteraan desa, kalian menggunakan alasan itu dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah."
"Klanmu memang bersalah, Kau tidak bisa mengelak lagi!"
"Dari awal Konoha memang membenci Uchiha.., kalian mengucilkan kami. Pengkhianatan Uchiha menjadi kesempatan yang tepat bagi kalian untuk menyingkirkan Uchiha, iya kan?! Tanpa belas kasihan kalian membunuh semuanya, bahkan anak-anak yang tidak mengerti apa-apa. Semua demi Konoha, demi desa, huh?!"
"…" Naruto hanya diam, kata-kata Sasuke benar meskipun ia tidak akan mengakuinya.
"Kau juga sama saja… demi kebaikan Konoha, kau mengatakannya tapi kau tidak peduli meskipun orang lain menderita asalkan kau mendapatkan yang kau inginkan. Kalian hanyalah manusia kejam yang tertawa puas diatas penderitaan orang lain."
"Teme! Aku bukan orang yang seperti itu!" Naruto mengepalkan tinjunya, emosinya kini telah memuncak. Kata-kata Sasuke benar-benar membuatnya marah, ia tidak terima. Laki-laki raven itu harus diberi pelajaran, Naruto melayangkan tinjunya ke wajah Sasuke yang dengan keadaannya sekarang tidak akan bisa mengelak.
Tangan Naruto tetap mengepal erat, tapi tinju yang kuat itu berhenti sebelum menyentuh wajah Sasuke.
"Kenapa berhenti?" Sasuke berkata dengan tenang, ia tidak berusaha menangkis serangan Naruto.
"Aku tidak mau mengotori tanganku dengan menyentuh Uchiha" jawab Naruto sedikit gemetar sambil menurunkan tangannya.
"Cih, lakukan saja semaumu, lagipula kau calon Hokage, menghajar seorang Uchiha itu bukan masalah kan?!"
"Aku hanya tidak ingin menghajar orang yang sedang sakit."
"…"
"Kalau kau sudah bisa berdiri tegap, barulah aku mau melawanmu." Ucap Naruto sambil membalikkan badannya.
Naruto berjalan perlahan menuju pintu, langkahnya berhenti saat ia menggenggam gagang pintu di depannya. Ia menoleh ke arah Sasuke, "Kuperingatkan sekali lagi, Jauhi Sakura! Kau tidak pantas." Setelah itu Naruto pergi menghilang dari pandangan Sasuke.
"..." Sasuke hanya diam, ia tidak ingin berdebat lagi. 'Mungkin Naruto tidak seburuk yang kuduga' Sasuke bisa merasakan bahwa Naruto bukanlah orang jahat, ia berbeda dengan Danzou yang dan penjaga yang sering menyiksanya. Sasuke bisa merasakan itu dari tatapan mata Naruto. Calon Hokage... itu berarti Sakura akan aman jika bersama Naruto.
'Sepertinya aku tidak punya kesempatan...' Sasuke menatap nanar ke langit-langit yang membisu.
_0=0=0=0=0=0=0_
Naruto meninggalkan penjara Konoha. Kemarahannya belum hilang. Ia melangkah menuju tempat latihannya, ia bermaksud melampiaskan kemarahannya pada kunai dan papan sasaran. Naruto tidak bisa menerima kenyataan bahwa Sakura menyukai orang lain. Selama ini ia pergi dan berjuang keras demi kesembuhan Sakura, tapi gadis itu tidak membuka hatinya sedikit pun untuk Naruto.
Naruto kecewa... namun ia bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia yakin, ia pasti bisa meluluhkan hati Sakura dengan caranya sendiri.
_0=0=0=0=0=0=0_
Di sebuah pohon tidak jauh dari halaman belakang penjara, bersandar seorang gadis bermata emerald. Ia membawa lembaran-lembaran kertas kosong dan sebuah pena. Tak ada seorang pun yang tahu ia telah berdiri di sana sangat lama, menunggu seseorang. Namun orang yang ia tunggu tidak muncul juga.
Matahari sudah hampir terbenam, tidak lama kemudian ia mendengar suara bel penjara. Ia memandangi pagar penjara dengan tatapan berkaca-kaca, masih berharap bertemu dengan orang yang ia rindukan. Namun kali ini penantiannya sia-sia. Langit semakin gelap, ia harus segera pulang. Dengan langkah gontai ia meninggalkan tempat itu. Ia masih akan kembali lagi besok, dan esok hari lagi, meskipun ia tahu waktunya sudah tidak banyak lagi.
"Kau baik-baik saja kan, Sasuke?"
"Apa kau benar-benar tidak mau menemuiku lagi..?"
"Kumohon, Sasuke..."
"Waktuku tidak banyak..."
0=0=0=0=0=0=0
To be continued...
0=0=0=0=0=0=0
