0=0=0=0=0=0=0
Chain 10 : Dakara Bye-bye
0=0=0=0=0=0=0
Satu hari… dua hari… Sakura sudah lupa berapa hari ia menghabiskan senja dan berdiri menunggu seseorang yang pernah berjanji untuk selalu menunggunya di tempat ini. Ini adalah hari terakhirnya, mungkin. Besok operasi akan dilakukan, tidak ada seorang pun yang tahu apakah ia bisa melihat dunia ini lagi. Sakura juga tidak tahu apakah ia ingin sembuh atau tidak. Jika ia sembuh tapi harus kehilangan Sasuke, mungkin lebih baik ia pergi dari dunia ini dan menunggu Sasuke di dunia yang abadi.
Sakura melangkah mendekati pagar penjara. Ia bisa melihat halaman itu sepi, daun-daun berserakan memenuhi hamparan rumput hijau yang tidak terawat. Melihat itu, Sakura tahu beberapa hari ini Sasuke tidak pernah ke halaman itu untuk membersihkannya. Perasaan Gadis itu semakin khawatir, takut terjadi sesuatu terhadap Sasuke.
Sakura memandang langit yang tiba-tiba berubah menjadi lebih gelap dari biasanya. Angin dingin berhembus menerpa tubuhnya yang rapuh, membuatnya gemetar. Ia bisa mendengar gemuruh yang menjadi pertanda akan datangnya hujan. Namun Sakura tetap berdiri, ia akan tetap menunggu, paling tidak sampai bel penjara berbunyi.
Dalam diam Sakura terus berdoa, mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya, tapi ia tidak mau putus asa. Kenangan pertemuannya dengan Sasuke terproyeksi di pikirannya. Setelah ini, semuanya akan berakhir... Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Sakura dan butiran kesedihan itu mulai mengalir mendahului langit yang juga akan menangis.
KRIIIIIING...
Dada Sakura terasa sesak tiba-tiba saat ia mendengar suara bel itu. Kali ini waktunya benar-benar habis. Ia berusaha menghapus air matanya namun titik-titik air itu tidak bisa berhenti. Mata emerald yang basah itu menatap penjara untuk terakhir kalinya. Ia membayangkan sosok Sasuke berdiri di sana namun ilusi itu seakan hilang tertiup angin.
Sakura membalikkan badannya, ia memutuskan untuk pergi. Ternyata, sampai akhir ia tidak bisa bertemu dengan Sasuke. Meskipun ia ingin mengucapkan selamat tinggal, tapi ternyata takdir tidak mengizinkannya, apa boleh buat...
Sakura melangkahkan kakinya, hatinya hancur. Cintanya harus berakhir seperti ini...
_0=0=0=0=0=0=0_
"Jangan pergi...!"
Langkah Sakura terhenti. Ia terkejut, kertas-kertas yang ia genggam jatuh berhamburan. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara itu. Di hadapannya, Sasuke berdiri, dia benar-benar Sasuke, ini bukan ilusi. Sakura segera mendekat ke arah Sasuke, tidak mempedulikan pagar di hadapannya. Ia tidak memerlukan pesawat kertas, lagipula ini untuk terakhir kalinya.
Napas Sasuke terengah-engah, ia bersusah payah berlari dari ruang kesehatan. Kondisinya belum pulih sepenuhnya, tapi perasaanya memberitahu agar ia segera pergi ke halaman ini. "Maafkan aku.., Sakura.."
Sasuke dan Sakura berhadapan, terpisah oleh pagar penjara. Sepasang mata emerald itu bertemu dengan mata onix Sasuke. Ini pertama kalinya mereka berdiri sedekat ini, meskipun itu tidak akan lama.
"Tidak apa-apa... aku senang melihatmu baik-baik saja... aku khawatir..." Air mata Sakura tidak berhenti mengalir.
"Kau datang ke tempat ini setiap hari?"
Sakura mengangguk, "Aku menepati janjiku..." Sakura berusaha tersenyum walaupun sedang berlinangan air mata.
"Maafkan aku, Sakura... Aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpamu.."
"Karena itu, aku... aku akan selalu menunggumu..."
"Sasuke, aku.. sebenarnya aku kesini untuk mengucapkan selamat tinggal..."
DEG...
Jantung Sasuke tersentak, "Apa maksudmu?"
Sakura menunduk, ia merasa tidak sanggup untuk mengatakannya, tapi ia juga tidak bisa memendamnya lebih lama lagi. "Aku harus menjalankan misi yang sulit... mungkin akan menghabiskan waktu lama..." air mata Sakura menetes, "Dan aku.. tidak yakin apakah aku bisa bertemu denganmu lagi..." Sampai akhir Sakura tetap tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya, ia juga tidak sanggup menatap mata Sasuke.
"Kau harus yakin bahwa misimu akan berhasil, Sakura.., semua orang yang menyayangimu pasti menunggumu kembali"
"Aku akan selalu mendoakanmu..."
"Sasuke-kun.." Sakura akhirnya berani menatap pemuda raven itu dengan tetap berlinangan air mata.
Sasuke mendekat dan menjulurkan tangan kanannya ke arah pagar penjara ia menemukan sebuah lubang yang lebih renggang daripada bagian pagar lain, tangan Sasuke berusaha melewati pagar kawat itu, ia sedikit kesulitan, lubang itu terlalu kecil bahkan untuk tangannya yang kurus.
"A..apa yang kau lakukan? Tanganmu berdarah..." Sakura setengah berteriak saat melihat Sasuke memaksa mengeluarkan tangannya, pergelangan tangan pemuda itu terlihat memar karena bekas rantai yang selama ini mengikatnya. Tanpa sengaja kawat yang tajam itu menggores tangan Sasuke dan membuatnya terluka.
Sasuke menahan rasa sakit yang ia alami, lagipula ia sudah terbiasa. Sasuke mendekatkan tangannya ke wajah Sakura. Perlahan ia menghapus air mata yang mengalir di pipi gadis itu, Sakura hanya diam, tanpa sadar pipinya merona.
"Jangan menangis, Sakura... Tersenyumlah..."
Air mata Sakura berhenti. Ia hanya bisa diam seperti patung. Untuk pertama kalinya Sasuke bisa menggapainya dan itu membuat perasaannya tenang.
Kedua tangan Sakura menggenggam erat tangan Sasuke, ia tidak ingin genggamannya terlepas.
"Aargh.." Sasuke merintih kesakitan, ia tidak sanggup lagi menahan sakit karena pagar itu. Sakura terpaksa melepaskan genggamannya.
"M..maaf tanganku kasar dan menjijikkan" ucap Sasuke dengan wajah memerah.
Sakura menggeleng dan tersenyum, "Tidak.., tanganmu terasa hangat.."
_0=0=0=0=0=0=0_
TIK.. TIK.. TIK...
Tanpa terasa langit semakin gelap dan tetesan air hujan jatuh membasahi Konoha.
"Aku harus pergi, Sasuke..."
"Teruslah bertahan dan jangan pernah menyerah..."
Sasuke mengangguk, "Aku akan selalu menunggumu, Sakura..."
Sakura berusaha tersenyum, air matanya berlinang lagi, tapi kali ini hujan menghapusnya.
"Aku.. aku menc-" Sasuke tidak bisa meneruskan kata-katanya. Kalimat itu berhenti begitu saja, suara gemuruh yang menggelegar membuat Sakura tidak mendengar kalimat itu.
Sakura menatap wajah Uchiha itu seolah merekamnya untuk ia simpan dalam memorinya yang paling dalam. Kemudian ia berbalik dan melangkah pergi. "Selamat tinggal, Sasuke.." ucap Sakura pelan sambil terus berjalan.
Sasuke tetap berdiri mematung. Ia membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya. Entah mengapa... ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Sakura. Ia terus menatap gadis itu sampai sosoknya tidak terlihat lagi. Dalam hatinya ada perasaan bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan Sakura...
_0=0=0=0=0=0=0_
"Naruto, apa yang terjadi dengan cucuku?" Tanya Danzou panik.
"Aku tidak tahu.. aku menemukannya pingsan di jalan ditengah hujan lebat" jawab naruto sambil membaringkan gadis yang digendongnya di ranjang rumah sakit.
_0=0=0=0=0=0=0_
Beberapa jam kemudian Sakura sadar. Hal terakhir yang ia ingat adalah perpisahannya dengan Sasuke dan hujan lebat yang menghalangi pandangannya, lalu semuanya gelap. Tidak lama kemudian Danzou, Naruto, dan Tsunade memasuki kamarnya.
"Syukurlah, kau sudah sadar..." Tsunade berkata.
"Kondisimu turun lagi, mungkin operasi akan ditunda" tambahnya.
"Kau pergi kemana Sakura? Kau tahu besok adalah saatnya operasi, kau harus menjaga kondisimu..." nasihat Danzou.
"Aku hanya berjalan-jalan sebentar, aku merasa bosan..." jawab Sakura sambil memandang ke arah jendela.
"Hentikan, Sakura! Aku tau kau berbohong..." ujar Naruto yang sedari tadi hanya diam.
"N..Naruto? apa maksudmu?" Sakura menjawab ketakutan.
"Aku tahu kau pasti keluar untuk menemui Sasuke. Kau bisa membohongi orang lain tapi kau tidak bisa membohongiku. Aku sudah tahu semuanya."
Semua orang yang mendengar kata-kata itu terkejut, terutama Sakura. Ia tidak pernah mengira kalau Naruto ternyata mengetahui rahasianya.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Danzou, "Apa yang kau maksud adalah Uchiha Sasuke? Bocah penjara itu?"
Naruto mengangguk mengiyakan, sementara Sakura hanya menangis sambil menundukkan kepala.
"Maafkan aku..." ucap Sakura lirih.
_0=0=0=0=0=0=0_
"Kumohon, maafkan aku, Jii-sama..." Sakura hanya bisa meminta maaf sambil menangis kepada kakeknya.
Saat ini Sakura hanya bersama kakeknya di ruangannya di rumah sakit. Danzou marah besar, ia tidak terima seorang Uchiha masuk dalam kehidupan cucunya.
"Kau seharusnya tahu posisimu, Sakura. Kau seharusnya menghargai Naruto. Dia melakukan segalanya untukmu, hanya dia yang bisa membuatmu bahagia. Kurang ajar Uchiha itu, bisa-bisanya dia mempengaruhi cucuku. Aku tidak akan memberinya ampun." Emosi Danzou meluap-luap.
"Tidak, kumohon... Ini semua salahku.."
"Bagaimana bisa kau mengenal bocah itu, Sakura?"
Hiks.. Sakura tidak bisa menghentikan isak tangisnya, "Aku... bertemu dengannya di halaman belakang penjara, dan kami saling berkirim surat.."
"..."
"Dia adalah orang baik, Jii-sama... Aku... Aku mencintai Sasuke."
"Ini tidak boleh terjadi! Kau tahu dia adalah seorang Uchiha. Dia adalah tahanan di penjara."
" Uchiha memang selalu membuat masalah. Aku harus memberinya pelajaran." Danzou bergerak menuju pintu, ia tidak main-main dengan kalimatnya.
"Tidak, kumohon jangan sakiti Sasuke lagi... Sasuke sudah cukup menderita selama ini..." Sakura memeluk kaki Danzou, berusaha mencegahnya pergi.
"Lepaskan, Sakura! Anak itu memang pantas dihukum."
"Kalau kakek melakukannya, lebih baik aku mati saja!"
"..." Danzou terdiam mendengar kalimat itu. Emosinya sedikit mereda.
"Sakura... kau tahu aku tidak mungkin merestui hubunganmu dengan Sasuke. Aku sangat mengharapkanmu bersama Naruto. Dia juga anak yang baik, Sakura... dan dia adalah calon Hokage. Karena itu kau harus sembuh, jangan buat Naruto kecewa..."
"..."
"Aku menyayangimu, Sakura... Aku ingin mewujudkan semua keinginanmu, tapi tolong lupakan Sasuke..."
Sakura menarik napas panjang, "Kalau begitu, aku punya satu permintaan"
"Katakanlah..." jawab kakeknya.
"Aku minta kakek melepaskan Sasuke dari penjara" ucap Sakura tegas.
"..." Danzou berpikir bahwa itu adalah hal yang sulit dan melanggar keputusan desa, ia sudah membiarkan Sasuke hidup bertahun-tahun dan kini Sakura meminta untuk melepaskannya? Yang benar saja?!.
"Apa kalau aku melakukannya kau akan bersedia menikah dengan Naruto suatu saat nanti?"
Sakura berpikir, kalau ia menyetujui perjanjian ini, ia benar-benar harus mengubur cintanya pada Sasuke dan hidup bersama Naruto. Namun, paling tidak Sasuke bisa bebas dan menemukan gadis lain yang mencintainya. Sasuke tidak perlu menderita lagi. Asalkan Sasuke bisa bahagia aku...
"Ya, aku bersedia." Jawab Sakura dengan yakin.
"Baiklah, aku akan membebaskan bocah itu. Sekarang beristirahatlah, aku ingin segera melihat cucuku sembuh" Danzou membantu Sakura berbaring dan memasangkan selimutnya. Selanjutnya ia beranjak pergi dari ruangan itu.
Malam ini Sakura tidak bisa memejamkan matanya. Ia sudah mengatakannya, seharusnya ia sudah rela melepaskan Sasuke, tapi hati Sakura terasa sakit setiap mengingatnya. Di dunia ini, memang tidak ada tempat untuk mereka.
Air mata Sakura mengalir membasahi bantal dan selimutnya. Isak-tangisnya tidak bisa berhenti sampai tubuhnya gemetar. Ia mengambil beberapa lembar pesawat kertas yang masih ia simpan. Sakura memeluk kertas-kertas itu sambil mengingat saat-saat bersama Sasuke. "Aku bahagia bisa mengenalmu, Sasuke... aku akan selalu berdoa agar kau bahagia..." Sakura akhirnya memejamkan matanya yang lelah.
_0=0=0=0=0=0=0_
Di deretan kursi di depan kamar Sakura Duduk seorang kakek tua dengan tenang, di bibirnya tersungging sebuah senyum yang menyeramkan. Dari tempat itu ia tidak mendengar isak tangis cucunya yang terluka. 'Baguslah, Sakura mau menerima Naruto...'
'Semuanya akan berjalan sesuai rencana...'
'membebaskan Uchiha itu?'
'Tentu aku akan membebaskannya...'
'Tapi setelah itu aku akan mengirimnya... ke neraka...' #smirk
0=0=0=0=0=0=0
To be continued...
0=0=0=0=0=0=0
Yatta~ dua chapter sekaligus... aku baik kan?!
Chapter romance lagi... kuakui kemampuanku memang payah, tapi kuharap kalian tidak kecewa, minna-san...
Jangan lupa Review, kalo perlu review per chapter...
A/N : Rencana chapter selanjutnya...
Chain 11 : Time of Dying
