(A/N) Minna-san, gomennasai... gomennasai... hontou ni gomennasai *bow *bow
hanya ini yang bisa kusampaikan sebagai seorang author yang payah...
0=0=0=0=0=0=0
Chain 11 : Time of Dying (part I)
0=0=0=0=0=0=0
Sasuke duduk termenung sambil memandangi langit dari dalam selnya. Langit yang luas itu hanya tampak dari lubang ventilasi berteralis yang kecil. Ia bisa melihat bintang-bintang bertaburan dari celah kecil itu. Malam ini sangat cerah dan indah, mata Sasuke tidak beranjak dari pemandangan itu dalam waktu yang cukup lama.
Sesekali Sasuke menggosok-gosok lengannya yang terasa dingin, kadang tubuhnya gemetar. Hal ini sudah biasa ia alami, akan tetapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, ia sendiri tidak mengerti apa itu. Perasaan Sasuke tidak nyaman, sudah berulang kali ia berusaha memejamkan matanya tapi ia tidak bisa tidur. Sasuke perlahan mendekati pintu selnya, ia melihat keadaan sekitar dan tidak merasakan apa-apa. Kemudian ia mendekati ventilasi dan berusaha mengintip keadaan di luar, tidak ada siapa-siapa. Bingung dengan apa yang akan ia lakukan, Sasuke akhirnya membuka laci meja kecilnya. Di tempat itu tersimpan dengan rapi puluhan lipatan pesawat kertas berisi tulisan tangan yang sangat berharga baginya.
Sasuke membaca lembaran-lembaran itu satu-persatu, kadang terbentuk senyuman kecil di wajah yang biasanya suram itu. Barisan huruf-huruf itu lama-lama membuat mata Sasuke lelah, sampai akhirnya pikirannya berada di antara alam mimpi dan kenyataan.
=0=0=0=0=0=0=0=
Belum seberapa lama Sasuke terlelap dalam ketenangan, ia dikejutkan oleh rasa sakit yang tiba-tiba terasa di kepalanya, sebuah tangan yang besar menarik rambut ravennya dengan paksa. Spontan Sasuke menjerit kesakitan dan berusaha melepaskan diri namun tak berhasil.
"Danzo?!", Sasuke terkejut ketika melihat wajah orang yang membangunkannya. Ia bisa melihat amarah dari mata kiri kakek itu. Sasuke tidak paham dengan apa yang ia alami saat ini. Kemunculan Danzo yang tiba-tiba saat masih dini hari benar-benar membuatnya keheranan.
Pandangan Danzo beralih pada kertas-kertas yang tergeletak di lantai, lalu ia melepaskan cengkeramannya terhadap Sasuke dengan kasar. Sasuke berhasil menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia tidak sampai membentur dinding. Mata Sasuke terbuka lebar saat melihat kakek itu hendak memungut sebuah pesawat kertas yang tergeletak di lantai.
"Jangan sentuh!" Sasuke memperingatkan, namun ia sudah terlambat, shinobi tua itu sudah menggenggam secarik kertas berharga itu. Sasuke yang panik tiba-tiba berlari dan melayangkan tinjunya ke wajah Danzo dengan sekuat tenaga. Namun, usahanya itu sia-sia. Danzo dengan sigap menangkis pukulannya.
"Dengan rantai pengikat itu pukulanmu tidak akan berhasil," Danzo berkata.
Sasuke menyadari bahwa perkataan Danzo itu benar, namun ia tidak bisa tinggal diam.
"Aku tidak membutuhkan kertas ini, aku sudah tahu semuanya," Danzo membuang kertas yang ia pegang, Sasuke hanya berdiri terpaku sambil berusaha memahami kata-kata yang baru saja ia dengar.
"Berani-beraninya sampah sepertimu mendekati cucuku!"
"Apa..apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh, selama ini kau yang mempengaruhi cucuku sampai dia berani membantahku. Dia mengabaikan kesehatannya hanya untuk bertemu denganmu. Gara-gara kau cucuku sangat menderita."
"Tidak mungkin.., apa ini berarti.."
"Ya, Sakura adalah cucuku," Danzo mempertegas perkataannya.
DEG… Jantung Sasuke seolah terhenti saat mendengar kalimat itu.
"Apa yang terjadi pada Sakura? dimana dia sekarang?"
"Cucuku sedang berjuang untuk mempertahankan nyawanya di rumah sakit dan saat ini kondisinya memburuk. Ini semua gara-gara kau!, pembawa sial!" Danzo menyelesaikan kalimatnya dengan sebuah tamparan keras ke pipi Sasuke dengan punggung tangan kirinya. Sasuke jatuh terduduk karena tamparan itu.
Sasuke tidak terlalu menghiraukan rasa sakit di wajahnya, seluruh pikirannya tertuju pada Sakura.
"Apa yang terjadi? Sakura bilang dia sedang menjalankan misi…" Sasuke berkata sambil menunduk.
"Misi apa? sejak kecil Sakura menderita sebuah penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Semakin lama kondisinya semakin parah, ia harus berhenti menjadi ninja, dan pada akhirnya ia harus tinggal di rumah sakit. Namun ia malah kabur setiap hari untuk menemui sampah sepertimu."
'Kenapa Sakura selama ini berbohong padaku? aku memang tidak berguna' Sasuke menggumam dalam hatinya.
"Kau harus membayarnya, bocah sial!"
"Kotetsu! Izumo! cepat kemari!" Danzo memanggil anak buahnya.
Tidak lama kemudian dua chuunin itu datang dan memberi hormat pada atasannya.
"Siksa anak ini dan pastikan ia menerima siksaan yang lebih kejam daripada sebelumnya. Kali ini aku tidak peduli lagi kalau ia sampai mati."
DEG…, Sasuke merasa seolah tubuhnya kaku karena aliran darahnya berhenti.
"Serahkan saja pada kami, Danzo-sama" dengan sigap kedua orang chuunin itu segera memegangi tangan Sasuke, dan memastikan bahwa Sasuke tidak akan bisa melawan. Sasuke hanya diam saat pergerakannya dikunci, pikiran dan hatinya masih terlalu kacau karena kata-kata Danzo.
"Akan kupastikan kau menderita sampai menemui ajalmu," Danzo berkata tepat di depan wajah Sasuke dengan raut wajah kejamnya.
"Kumohon… izinkan aku bertemu dengan Sakura," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Sasuke. Ia tanpa sadar melakukan hal yang sangat tidak ingin ia lakukan, memohon kepada Danzo. Namun kali ini benar-benar tidak ada pilihan baginya.
"Heh, kau pikir kau siapa? Makhluk kotor sepertimu tidak pantas masuk ke kehidupan cucuku."
Sasuke seperti sudah memperkirakan jawaban itu akan keluar dari mulut Danzo dan sekarang ia menyesal sudah memohon pada kakek tua itu.
"Seseorang yang pantas mendampingi Sakura hanyalah Naruto, calon hokage desa ini," Danzo menambahkan.
Sasuke langsung teringat dengan anak laki-laki berambut pirang seumurannya saat mendengar Danzo menyebut nama Naruto. Di mata Sasuke, Naruto terlihat sebagai orang baik. Mungkin Naruto akan bisa melindungi Sakura. Namun, tentunya ia tidak akan rela begitu saja melepaskan Sakura.
"Kalau kau benar-benar menyayangi cucumu, seharusnya kau tidak memaksakan kehendakmu padanya."
"Hah, asal kau tahu, Sakura sudah setuju untuk menikah dengan Naruto jika ia sudah sembuh. Ya, sebenarnya ia memintaku membebaskanmu dari penjara, tapi aku tidak ingat pernah mengatakan akan membiarkanmu melanjutkan hidupmu. Jadi, sebagai gantinya aku akan membebaskanmu dan mengirimmu ke neraka," Danzo berkata dengan tatapan liciknya.
Hati Sasuke hancur saat mendengar kalimat itu, seketika emosinya meluap, "Teganya kau membohongi cucumu sendiri, kakek macam apa kau hah?!" Sasuke berteriak.
"Ini demi kebaikan cucuku dan juga demi Konoha, aku tidak mungkin melepaskan penghianat sepertimu."
Darah Sasuke semakin mendidih, ia sangat ingin menghajar kakek tua yang berdiri di depannya itu.
"Siaaaaaaaaal! akan kuhajar kau!" Sasuke mengepalkan tinjunya dan berteriak sekuat tenaga. Namun, belum sempat ia melangkah, pergerakannya terhenti karena cengkeraman dua orang shinobi yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
"Hahaha, apa kau tidak sadar kalau kau itu tidak bisa melakukan apa-apa? selama rantai itu mengikatmu kau tidak akan bisa lari. Dan satu hal yang perlu kau ingat, takdirmu sudah terbelenggu dengan rantai yang mengikatmu itu, sampai kapan pun kau tidak akan pernah bebas."
Sasuke hanya bisa menunjukkan tatapan tajamnya. Kata-kata Danzo itu memang tidak sepenuhnya salah. Namun, mengakuinya sama saja dengan menyerah dan Sasuke tidak akan pernah melakukannya. Sasuke terus berusaha melepaskan diri namun tidak bisa.
"Masih membangkang, huh? sudah kubilang kau itu tidak bisa apa-apa, bahkan jika aku melakukan ini," Danzo lalu mengambil sebuah kertas surat yang tergeletak di lantai kemudian merobeknya di hadapan Sasuke. Seketika mata Sasuke terbuka lebar dan ia hanya bisa tercengang dengan mulut terbuka.
"Hahahaha…, kau tidak pantas bergaul dengan cucuku," Danzo tertawa lebar. Kemudian ia berjalan dan tangannya meraih sebuah gagang laci yang tertutup rapat. Danzo tersenyum melihat barisan kertas yang sama dengan sebuah kertas yang baru saja dirobeknya, hatinya sudah tidak sabar untuk menghancurkannya.
"Hentikaaaan!" Sasuke hanya bisa berteriak sekuat tenaga semenara Kotetsu dan Izumo masih menahan tangannya.
'mengapa…?'
'mengapa aku selalu berakhir seperti ini?'
'mengapa aku tidak bisa melakukan apa-apa?'
'lemah…'
'aku…benar-benar lemah…'
'aku ingin melindungi orang yang aku cintai…'
'tapi melindungi diri sendiri saja aku tidak bisa…'
'seandainya aku memiliki kekuatan…'
Danzo berjalan ke depan Sasuke, lalu ia merobek kertas-kertas yang ia temukan tepat di hadapannya. Lembaran kalimat itu pun hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu jatuh perlahan seperti salju di musim dingin. Danzo kegirangan melihat Sasuke yang hanya mematung dengan wajah seperti ingin menangis..
=0=0=0=0=0=0=0=
Kemarahan Sasuke tidak terbendung lagi. Ia bisa merasakan tubuhnya bertambah panas dan darahnya seolah mendidih. "AAAAAAAAAAAAAARGH!" Sasuke meraung sekeras-kerasnya.
Tanpa Sasuke sadari, kemarahannya menjadi sebuah kekuatan. Dalam sekejap chakranya meningkat dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya hancur. Kotetsu dan Izumo yang masing-masing memegang lengan Sasuke terkejut. Sasuke tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia membuat chidori di kedua telapak tangannya dan menyerang dua orang sipir itu bersamaan sampai mereka jatuh tersungkur.
Sekarang dua orang chuunin itu tidak bisa menghalanginya lagi. Kemudian pandangan Sasuke beralih ke arah Danzo yang masih berdiri dan kali ini ekspresinya terlihat tidak senang. Sasuke menatap tajam dengan segenap kebenciannya dan tanpa ia sadari mata onix miliknya berubah menjadi berwarna merah darah dengan tiga bintik yang mengelilingi pupilnya, pola itu kemudian berubah menjadi sebuah bintang dengan enam sudut. Danzo tercengang melihat perubahan yang terjadi pada Sasuke, ia terkejut dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul pada Uchiha terakhir itu.
'amaterasu..'
Sasuke mendengar sebuah suara yang ia tidak tahu darimana asalnya. Yang ia lakukan hanya menatap Danzo dan ingin membunuhnya. Sasuke merasakan sakit yang tiba-tiba pada kedua matanya, ia bisa merasakan mata kirinya menangis meskipun Sasuke tidak memerintahkannya untuk menangis. Sasuke bermaksud untuk menghapus air matanya namun ia sadar bahwa itu bukanlah air mata, melainkan darahnya sendiri.
'amaterasu…'
Suara itu terdengar lagi, Sasuke merasa tidak asing dengan suara itu. 'Itachi…' Sasuke akhirnya mengingat suara itu, ya.. itu adalah suara kakaknya.
Sasuke tidak melupakan pertarungannya dengan Danzo. Ia akhirnya sadar bahwa kekuatannya telah bangkit. Kekkei genkai klan Uchiha yang legendaris telah muncul padanya. Dan kekuatan milik Itachi yang ada pada Sasuke juga bangkit bersamaan dengan sharingan miliknya meskipun Sasuke belum menyadari hal ini.
Sasuke memfokuskan pandangan kebenciannya pada Danzo dan seketika api hitam yang membara muncul di sekujur tubuh kakek itu. Danzo berteriak kesakitan, ia mencoba memadamkan api itu namun usahanya sia-sia, amaterasu terus membakar tubuhnya sampai hangus tak bersisa.
Sasuke terbelalak melihat pemandangan di depan matanya. Ia masih tidak percaya bahwa semua yang terjadi adalah akibat dari kekuatannya. Sasuke menunduk dengan napas terengah-engah, kekuatan itu cukup menguras tenaganya.
Sasuke memejamkan kedua matanya, ia berpikir ulang atas semua yang baru saja terjadi. ia menjadi bertanya-tanya apakah yang ia lakukan adalah hal yang benar. Bagaimana pun juga Danzo adalah kakek Sakura dan membunuhnya berarti…
"Jangan pikir aku akan mati semudah itu, bocah!" sebuah suara muncul dari belakang Sasuke.
"B..Bagaimana mungkin kau?!" Sasuke melihat dengan jelas Danzo yang ia pikir sudah mati ternyata masih bisa berdiri tegap. Mata Sasuke terbuka lebar melihat sosok Danzo yang tiba-tiba muncul. Kali ini Danzo tidak menutup bagian kanan tubuhnya, mata dan tangan kanannya terlihat jelas. Bagian tubuh itu terlihat sangat mengerikan dengan puluhan sharingan berada di lengan kanannya dan mata kanannya juga merupakan sharingan.
"Ya ampun, tidak kusangka aku harus menggunakan Izanagi dan mengorbankan sebuah sharingan untuk melawan bocah sepertimu. Tapi asalkan aku menggunakan jutsu ini, dewa kematian pun tidak bisa membunuhku," Danzo berkata dengan angkuh.
"Kurang ajar… berapa banyak Uchiha yang kau bunuh untuk mendapatkan sharingan itu, hah?!"
"Sharingan ini lebih bermanfaat di tanganku daripada digunakan oleh pengkhianat seperti kalian."
"Dan aku juga akan mengambil sharingan milikmu, sharingan yang sempurna dengan kekuatan milik Itachi."
"Tunggu, kekuatan Itachi katamu?" Sasuke menyadari sesuatu, "Jadi, apakah ini alasanmu membiarkanku hidup sampai sekarang?"
"Ya. Saat aku mengambil mata milik Itachi, sharingannya tidak berfungsi. Jadi aku menduga bahwa ia mentransfer kekuatan miliknya pada seseorang. Dan tidak salah lagi, orang itu pasti adalah kau."
"…" Sasuke hanya diam. Membayangkan Danzo mengambil mata setiap anggota keluarganya membuat hatinya terasa sakit.
"Awalnya aku pikir kekuatan itu akan muncul saat kau sudah setingkat chuunin, oleh karena itu aku mengutus Kakashi untuk melatihmu meskipun dia tidak tahu rencanaku yang sebenarnya. Dan ternyata sharinganmu bangkit di saat yang tepat."
Danzo bersiap untuk bertarung melawan Sasuke meskipun kekuatan Sasuke yang sempurna itu diluar perkiraannya. "Majulah, Sasuke! akan kuambil matamu itu."
Sasuke tidak takut sedikit pun, ia sudah bertekad untuk bertarung sekuat tenaga.
dan sebuah pertarungan sengit di saat fajar itu pun tak terelakkan…
=0=0=0=0=0=0=0=
BRUKK… Tubuh Danzo membentur dinding dengan keras, ia tidak berdaya setelah terkena genjutsu Sasuke dan saat ini chakranya sudah tidak cukup untuk menggunakan sharingan yang masih tersisa di tubuhnya. Kesombongan Danzo telah menjadi jurang kekalahan bagi dirinya sendiri. Sekarang Danzo hanya bisa terduduk dengan tubuh gemetar. Ia bisa melihat Sasuke berjalan pelan menghampirinya dengan chidori yang menyilaukan. Danzo masih belum ingin kalah namun kenyataannya ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Chidori itu terdengar semakin dekat dan siap untuk menembus jantungnya. Danzo menutup kedua matanya rapat-rapat, berharap ia tidak akan merasakan sakit saat nyawanya dicabut.
5 detik… 10 detik… 20 detik… mungkin sudah 1 menit berlalu…
Danzo benar-benar tidak merasakan apa-apa. Apa ia sudah mati sekarang?, akhirnya Danzo memberanikan diri membuka matanya untuk mengetahui hal yang sebenarnya.
Redup… lembab.., Ia masih berada di penjara Konoha. Itu artinya ia belum mati…
Danzo menundukkan pandangannya, di depannya tergeletak tubuh seseorang yang tidak sadarkan diri.
Sasuke… di depannya tergeletak Sasuke…
Pertarungan telah berakhir…
Danzo… menang…?
0=0=0=0=0=0=0
To be continued…
0=0=0=0=0=0=0
Ne, minna-san…
Do you hate me?
Karena aku membuat akhir chapter yang seperti ini?
