Chain 12 : Time of Dying (part II)
# Sasuke's POV #
Kekuatan ini… tidak terasa asing bagiku, aku bisa mengendalikannya seolah aku sudah pernah mempelajarinya. Kesempatan ini tidak akan kusia-siakan.
Hah..hah… aku hampir kehabisan napas karena pertarungan ini. Danzo adalah lawan yang tangguh, ia sudah memojokkanku beberapa kali dengan kekuatan sharingan yang bukan miliknya itu. Namun, aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan kalah. Aku tidak akan kalah dengan seseorang yang mengambil kekuatan Uchiha untuk ambisinya sendiri. Sudah kuputuskan, sejak aku bisa terlepas dari rantai yang mengikatku, aku akan menentukan takdirku sendiri. Aku akan menepati janjiku, Nii-san…
=0=0=0=0=0=0=0=
Dari kejauhan aku bisa melihat Danzo terduduk lemas setelah kulemparkan dengan keras, sepertinya ia sudah tidah bisa bangkit lagi. Saat ini chakra milikku sudah hampir habis dan sekujur tubuhku terasa sakit. Mungkin aku terlalu banyak menggunakan kekuatan baruku ini. Aku harus segera menyelesaikan pertarungan ini sebelum Danzo pulih.
Aku melangkah perlahan dengan tenagaku yang masih tersisa. Dalam setiap langkah aku mengingat penderitaan yang aku alami karena kakek tua itu. Berawal dari kekejamannya saat menghabisi keluargaku. Kemudian ia menjebloskanku ke penjara meski aku tidak tahu apa-apa. Dia mempengaruhi semua orang untuk membenciku. Dia selalu mengatakan hal yang menyakitkan hati. Hari-hariku menjadi penuh penderitaan. Dan hari ini, saat kekuatanku bangkit, di ingin mengambilnya. Namun, yang paling membuatku marah adalah karena ia ingin memisahkan aku dengan Sakura, satu-satunya alasan bagiku untuk bertahan. Tidak bisa dimaafkan. Aku tidak akan membiarkan semua berjalan sesuai dengan rencananya.
Maafkan aku, Sakura… Aku tidak bisa memaafkan orang ini…
Aku membuat chidori di telapak tangan kiriku. Dengan menahan rasa sakit karena pertarungan ini, aku terus melangkah maju. Aku tidak boleh ragu lagi.
Setiap langkah terasa semakin berat, rasanya setiap sel di tubuhku terasa sakit. Tapi, aku harus bertahan. Aku bisa melihat Danzo yang gemetar, kini ia pasti bisa merasakan ketakutan seperti yang telah aku rasakan. Aku sudah semakin mendekatinya dan chidori di tanganku ini akan mengakhiri semuanya.
DEG… Tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa. Pandanganku berkunang-kunang, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di hadapanku. Kepalaku sakit, dunia seolah berputar tak terkendali. Kakiku berhenti melangkah. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Chidori di tanganku lenyap. Aku menundukkan kepalaku dan melihat lantai yang seolah bergetar, semakin lama lantai itu terasa semakin dekat. Apa yang terjadi…? apa yang terjadi…? padahal sedikit lagi… sedikit lagi aku akan…
=0=0=0=0=0=0=0=
"Apa yang terjadi, Danzo-sama? apakah anda menggunakan jutsu padanya?" Aku bisa mendengar suara seseorang, mungkin itu Kotetsu atau Izumo. Aku tidak bisa membedakannya lagi. Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku lagi meskipun otakku sudah memerintahkannya.
"Tidak. Mungkin tubuhnya belum dapat menyesuaikan diri untuk menggunakan kekuatan sebesar itu." Suara lain terdengar oleh telingaku yang masih berfungsi.
"Cepat kalian ba….." Aku tidak bisa lagi mendengar sisa kalimat itu, bahkan rasanya otakku sudah tidak bisa berpikir lagi dan kini semuanya menjadi gelap gulita.
=0=0=0=0=0=0=0=
Aku tersadar dan mencoba membuka mata tapi aku tidak melihat apa-apa, semuanya gelap. Tunggu, apakah mereka sudah mengambil mataku? Kurasa tidak, aku masih bisa merasakannya. Mereka pasti sengaja menutup mataku agar aku tidak bisa menggunakan sharingan.
Punggungku terasa dingin, tangan dan kakiku tidak bisa kugerakkan, namun rasa sakit yang tadi sudah hilang. Kurasa aku sudah mengerti posisiku sekarang. Mereka mengikatku dengan rantai yang terhubung langsung dengan dinding, dengan begini aku tidak akan bisa kabur. Aku tetap memaksa untuk lepas tapi percuma.
Otakku mulai berpikir mengenai hal yang telah aku alami. Kini semuanya sudah jelas, aku sudah mendapatkan jawabannya. Tentang kenapa aku dibiarkan hidup selama ini, kekuatan Itachi yang dulu mereka tanyakan, Kakashi-sensei yang selama ini mengajariku menjadi seorang shinobi, dan semua tekanan yang selama ini kualami. Semuanya terjadi karena mereka menginginkan mata ini. Apa aku akan benar-benar kehilangannya? kekuatanku… masa depanku…
Kenapa aku harus pingsan saat aku nyaris menyelesaikan semuanya? Kenapa aku harus berakhir begini lagi? "ARRRGH, SIAAAAAL!" aku mengumpat sekeras-kerasnya.
CLANG… tiba-tiba terdengar suara pintu penjara yang terbuka. Kurasa seseorang datang karena mendengar umpatanku. Jantungku berdetak lebih cepat, kurasa aku takut… walaupun aku tidak ingin mengakuinya. Aku takut kalau mereka melakukan sesuatu padaku.
"Yo, Sasuke-chan… kau sudah bangun rupanya."
Aku mendengar suara seseorang, mungkin suara Kotetsu atau Izumo, ah entahlah, aku tidak peduli siapa itu, yang jelas aku tidak suka dengan kehadiran mereka. Lebih baik aku diam saja.
"Ahahaha… bisa-bisanya kau jatuh cinta pada cucu Danzo-sama, itu benar-benar konyol."
Suara yang sama terdengar lagi. Aku yakin ia mengatakannya untuk membuatku kesal, dan itu berhasil, tapi aku tidak ingin menunjukkan emosiku dan membuat mereka senang.
"Hmm… masih pura-pura tidak dengar, huh?"
Nada bicara orang ini semakin menyebalkan dan kali ini ia menggunakan tangannya untuk mencengkeram pipiku agar aku berbicara.
"Hey, Sasuke, Sakura akan segera menikah dengan Naruto.."
"Apa katamu?!"
"Haha, kena kau. Aku hanya bercanda."
Sial, ia berhasil membuatku tali kesabaranku putus. "Apa maumu, hah? kalian mau menyiksaku lagi kan?! cepat lakukan saja!"
"Wow, apa kau sekarang sudah menjadi seorang masokis, Sasuke-chan?"
"Aku hanya ingin memberitahumu kalau Danzo-sama akan segera mengambil matamu itu, jadi bersiaplah untuk mati."
DEG… pandanganku menerawang jauh ke kegelapan yang tak terbatas. Aku tidak bisa melihat apa-apa, aku tidak menemukan siapa-siapa, bahkan Sakura yang selalu aku pikirkan, aku tidak bisa melihatnya.
"Tapi, kalau kau memohon dengan sungguh-sungguh mungkin kami akan membiarkanmu hidup dalam keadaan buta dan mengijinkanmu tetap menjadi budak di penjara ini.. haha…"
"SIAAAAAAL! lebih baik aku mati" Hah…hah… Aku hanya bisa mengepalkan telapak tanganku untuk menunjukkan kekesalan.
"Hentikan itu, Izumo! Kalau dia mengamuk lagi, kita bisa kerepotan."
Aku mendengar suara yang berbeda, kurasa ia sudah dari tadi ada disini namun baru kali ini ia bicara.
"Aah, kurasa kau benar, ayo kita pergi."
"T..tunggu, apa kalian tahu keadaan Sakura?"
"Hahaha, mau mati saja masih sempat memikirkan orang lain, dasar bodoh."
=0=0=0=0=0=0=0=
Mereka pergi tanpa menjawab pertanyaanku. Saat ini yang kupikirkan hanyalah Sakura. Mungkin aku sudah menyerah pada keadaanku. Mungkin tidak ada gunanya lagi memikirkan diriku. Tidak lama lagi semuanya akan berakhir. Mungkin di dunia ini memang tidak ada tempat untukku dan Sakura.
Tanpa aku sadari air mataku mengalir, hatiku terasa sakit. Kenapa aku menangis?
Air mataku tidak bisa berhenti. Penutup mataku menjadi basah karenanya. Semakin aku memikirkan Sakura, hatiku semakin sakit dan air mataku mengalir semakin deras.
Aku sudah berusaha untuk bertahan sampai hari ini. Hari-hari yang penuh penyiksaan. Setiap hari aku menderita, setiap hari tubuh ini kesakitan, tapi aku tidak pernah menangis sekeras ini. Menangis karena harus berpisah denganmu selamanya.
Selama ini aku percaya, jika aku bersamamu, aku bisa tersenyum dalam nasibku yang malang ini. Kau membuatku yakin bahwa aku masih memiliki masa depan. Meskipun dari awal aku merasa tidak pantas, aku berusaha sekuat tenaga untuk meraihmu, dan kau selalu tersenyum serta mengulurkan tangan untukku.
Kini waktuku sudah habis. Aku bersyukur dalam hidupku yang singkat ini aku bertemu denganmu. Aku bisa merasakan cinta, meskipun tidak berakhir bahagia. Namun, aku masih berharap kau akan bahagia dengan orang lain. Karena itu, kau harus sembuh, Sakura…
Aku memejamkan mataku. Kurasa aku sudah ikhlas melepas segalanya. Tapi mengapa hatiku masih terasa sakit? mengapa air mataku tidak berhenti mengalir? Hati kecilku berkata bahwa aku masih ingin hidup lebih lama lagi. Di saat-saat terakhir hidupku ini aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin bicara denganmu. Aku ingin berkata bahwa aku sangat mencintaimu.
Aku mohon…, Kami-sama… izinkan aku bertemu dengannya pada kesempatan terakhirku ini. Izinkan aku menyampaikan perasaanku padanya…
Onegai…, Kami-sama…
=0=0=0=0=0=0=0=
Air mataku masih tidak berhenti. Tubuhku jadi terasa lelah. Kepalaku terasa semakin ringan. Aku jadi merasa kalau dunia ini berputar terlalu cepat. Tidak, kurasa memang ada sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi. Aku merasakan tubuhku bergetar. Bukan, rasanya seluruh ruangan ini bergetar.
Ah, kepalaku terlalu sakit untuk memikirkannya. Aku tidak tahan lagi. Lama-lama semuanya hilang…
=0=0=0=0=0=0=0=
To be continued…
=0=0=0=0=0=0=0=
A/N: Maaf, chapter ini pendek. Awalnya chapter 'Time of Dying' itu ingin kujadikan 1 chapter. Tapi karena di chap. sebelumnya jumlah kata-kata yang kugunakan sudah melebihi standar penulisanku yang biasanya, jadi aku jadikan 2 bagian saja.
