Chapter 13 : Freedom?


#Normal PoV#

Semuanya sudah berakhir bagi Sasuke. Dunia ini hanyalah kegelapan yang tiada batas. Ia tidak lagi merasakan apa-apa, tidak mendengar apa-apa, dan pikirannya sudah terlalu lelah untuk bekerja. Mungkin inilah saatnya untuk menyerah. Ya, tidak semua janji bisa ditepati. Tidak semua impian bisa terwujud. Dunia ini memang tidak akan pernah bisa menjadi seperti apa yang ia inginkan. Keputusasaan kini hampir menguasai dirinya. Namun, hatinya masih berteriak menyuruhnya untuk bangkit.

'Apa yang terjadi padaku?' hati Sasuke bertanya-tanya saat ia terbangun dari tidurnya. Ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya tidak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya terasa kaku seperti tertindih sesuatu yang berat dan matanya masih tertutup kain. Ia sempat berpikir kalau saat ini ia sudah mati, tapi ia masih bisa merasakan tubuhnya walaupun baginya ini terasa seperti terkubur hidup-hidup.

Perlahan Sasuke mencoba menggerakkan kedua tangannya dan tanpa ia sangka ia bisa meraih penutup mata yang menghalangi pandangannya, sinar matanya kembali dan ia bisa melihat keadaan di sekitarnya.

'Apa yang telah terjadi?' Sasuke masih bertanya-tanya dalam keheningan, ia masih berpikir bahwa ia tidak lagi berada dalam dunia fana. Tapi, kegelapan ini bukanlah suatu hal yang asing, udara dingin dan lembab ini sudah terlalu sering ia rasakan. Akhirnya Sasuke tersadar bahwa ia masih berada di tempat yang sama, namun tempat itu kini telah berubah menjadi puing-puing. Pandangan Sasuke beralih pada kedua tangannya dan betapa terkejutnya ia melihat belenggu tangannya telah putus. Beberapa inchi rantai itu masih melekat tapi itu sudah tidak berfungsi lagi.

'Mungkinkah ini… kesempatan bagiku? Terima kasih, Kami-sama…' Sasuke bersyukur, dalam hatinya ia bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Sasuke berjalan keluar dari ruangan yang ia tempati, di hadapannya terbentang sebuah lorong yang panjang, di sisi kanan dan kiri banyak ruangan kosong tempat untuk menyiksa tahanan secara khusus. Sasuke terus menyusuri lorong itu. Cahaya dari luar yang masuk melalui lubang di dinding membuat tempat itu tidak segelap biasanya. Sasuke menjadi lebih mudah untuk menemukan jalan menuju pintu keluar.

Sasuke mengaktifkan sharingannya agar ia segera bisa mengetahui kalau ada orang lain. Gerakan yang ia lakukan sangat berhati-hati, ia tidak mau tertangkap lagi, apalagi ruang yang harus ia lalui sebentar lagi adalah ruang para tahanan. Sasuke menarik napas panjang sebelum melanjutkan langkahnya. Ia memasang kuda-kuda, bersiap untuk mengalahkan siapa pun yang berniat untuk menghalanginya.

=0=0=0=0=0=0=0=

Betapa terkejutnya Sasuke melihat banyak tahanan yang sudah tidak bernyawa, mayat mereka bergelimpangan, ruangan mereka hancur, bahkan beberapa anbu yang biasa bertugas juga menjadi korban. Tapi, Sasuke tidak melihat sosok Kotetsu dan Izumo diantara mayat-mayat itu.

Sasuke memberanikan diri mengambil rompi dan topeng anbu dari salah satu korban untuk ia gunakan sebagai penyamaran. ia juga tidak lupa mengambil kantong senjata untuk berjaga-jaga. Perlahan tapi pasti, Sasuke melangkahkan kakinya menuju kebebasan. Akhirnya ia pun melewati gerbang depan penjara tanpa ada yang menghalangi.

Sakuke berhenti sejenak, udara yang biasa ia hirup terasa berbeda, bahkan langit yang ia pandang setiap hari terlihat lebih luas di dunia luar ini.

Pandangan Sasuke beralih ke hutan yang terbentang di depannya. Jika ia menyusuri hutan itu ke utara, ia akan sampai ke desa lain dan dapat benar-benar bebas, sedangkan ke arah selatan adalah desa kelahirannya, Konoha yang selama ini mengurungnya dari dunia luar. Sasuke bersiap, ia mengenakan rompi dan topeng anbu yang ia ambil. Raut wajahnya tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, lalu ia segera berlari ke arah selatan.

=0=0=0=0=0=0=0=

Sasuke tidak tahu lagi harus terkejut seperti apa. Konoha yang ia tuju sedang dalam keadaan kalang kabut. Sebagian rumah penduduk telah hancur dan yang lebih mengagetkan lagi ular-ular besar sedang mengamuk di beberapa tempat. Para shinobi sedang berjuang mengamankan desa sementara Sasuke masih terpaku di tempatnya.

Jantung Sasuke serasa berhenti mendadak saat seseorang menepuk pundaknya, "Hei! jangan diam saja, cepat bantu anbu yang lain.". Sasuke hanya mengangguk mengiyakan, untunglah penyamarannya berhasil. Secepat kilat ia berlari menjauh dari pandangan orang itu. Sebisa mungkin ia harus menghindari kontak dengan orang lain.

Hati Sasuke semakin tidak tenang, dalam setiap langkah ia mendengar teriakan penduduk desa yang ketakutan. Mereka berlari mencoba menyelamatkan diri. Beberapa anak kecil yang ia lihat hanya bisa menangis di dekapan orang tuanya. Keadaan yang memilukan ini mengingatkannya pada pembantaian yang terjadi pada uchiha tujuh tahun lalu. Tapi, ini bukan saatnya untuk menjadi seorang pahlawan. Apalagi bagi seorang Uchiha yang dibenci oleh orang-orang Konoha. Sasuke terus saja berjalan sambil mencoba mengingat-ingat jalan menuju rumah sakit Konoha. Jalanan Konoha tidak banyak berubah, namun waktu tujuh tahun di penjara adalah waktu yang cukup untuk mengikis ingatannya.

Akhirnya Sasuke bisa melihat rumah sakit Konoha. Ia mempercepat langkahnya saat melihat seekor ular raksasa mencoba menyerang bangunan itu. Ia menyimpan dalam-dalam rasa penasarannya tentang siapa yang menyebabkan kekacauan ini. Ia tetap fokus untuk mencapai tujuannya.

Teriakan orang-orang terdengar semakin keras. puluhan perawat dan pasien yang luka ringan berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Sasuke menerobos kerumunan itu dan mencoba memasuki rumah sakit. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.

Lantai yang ia pijak berguncang semakin keras, namun tubuh Sasuke tidak gemetar sedikitpun. Ia terus menyusuri lorong-lorong rumah sakit sambil membaca tulisan yang terpasang di setiap pintu kamar. Sudah dua lantai yang ia lewati namun ia belum menemukan seseorang yang ia cari. Kalau dipikir lagi, ada kemungkinan Danzo atau Naruto sudah menyelamatkan Sakura terlebih dahulu, namun Sasuke tidak ingin berputus asa. Di dalam hatinya ia percaya bahwa ia pasti akan bertemu dengan belahan jiwanya.

Kini Sasuke sudah sampai di lantai 4, ini adalah kesempatan terakhirnya. Kalau seseorang yang ia cari tidak ada di tempat ini maka pupus sudah harapannya. Satu persatu pintu kamar ia perhatikan dengan seksama, kebanyakan kamar sudah tak berpenghuni, sementara langit-langit rumah sakit mulai bergemeretak dan merontokkan serpihan-serpihan kerikil.

Pandangan Sasuke berhenti di sebuah pintu kamar yang masih tertutup bertuliskan "Haruno Sakura". Dengan penuh harap ia memutar gagang pintu di hadapannya.

Keyakinan Sasuke ternyata tidak sia-sia. Ia segera berlari menghampiri gadis berambut merah muda yang terbaring tidak sadarkan diri itu. Ketakutan tiba-tiba menghampirinya karena gadis itu seperti tak bernapas, namun denyut nadinya masih terasa meskipun sangat lemah.

Perasaan Sasuke kini campur aduk antara senang karena ia bisa bertemu lagi dengan Sakura, sedih karena orang yang ia cintai sedang sakit dan tidak sadarkan diri, dan takut akan terjadi apa-apa kalau ia ketahuan. Meskipun begitu Sasuke berusaha mengabaikan perasaannya, saat ini yang terpenting adalah keselamatan Sakura. Sasuke segera menggendong gadis itu dan mencari jalan keluar sebelum ruangan yang ia tempati runtuh.

PRANGG… Kaca jendela kamar Sakura tiba-tiba pecah karena beturan ular raksasa yang ada di luar. Goncangan yang keras itu hampir menggoyahkan pijakan Sasuke. Ia bisa melihat para anbu masih berusaha untuk mengalahkan ular itu.

Sasuke mempererat dekapannya dan berlari sekuat tenaga, ia menuruni tangga dengan gesit dan memutuskan untuk melompat keluar dari lantai dua. Ia mendarat dengan sempurna di halaman samping rumah sakit. Sebentar-sebentar ia melihat keadaan Sakura dan memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa.

Tanpa banyak membuang waktu Sasuke terus berlari mencari tempat persembunyian yang aman. Keributan yang sedang terjadi ini membuatnya bisa menyelinap dengan mudah. Perlahan warna langit mulai redup dan angin yang bertiup terasa semakin dingin, Sasuke mengurangi kecepatannya untuk melindungi Sakura dari udara yang berhembus. Tempat yang ia tuju sudah tidak terlalu jauh, ia tidak mungkin melupakan jalan menuju ke tempat ini meskipun tujuh atau bahkan puluhan tahun ia tidak melewatinya.

=0=0=0=0=0=0=0=

'Tadaima…' Sasuke berkata dalam hati saat memasuki tempat dimana ia dan keluarganya menetap dulu. Di tempat ini tidak terdengar lagi keributan orang-orang meskipun disini masih wilayah Konoha. Rumah-rumah tak berpenghuni dan tiang-tiang lampu yang tidak menyala menjadi saksi bisu yang menyambut kedatangannya dengan Sakura. Lambang-lambang Uchiha yang terukir di dinding dan menghiasi bagian depan rumah penduduk sudah hampir tak terlihat karena ditutupi dengan coretan-coretan berwarna merah, Sasuke menjadi sedih saat melihatnya.

Langkah Sasuke berhenti di depan sebuah bangunan kayu yang masih terlihat kokoh meskipun telah dimakan usia. Kuil Nakano, inilah tujuan Sasuke yang sebenarnya. Di tempat ini ia akan aman bersama Sakura, paling tidak sampai ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Sasuke menempelkan tangannya tepat di sebuah lambang kebanggaan Uchiha yang terukir di depan sebuah pintu yang didesain khusus, hanya Uchiha yang bisa membuka pintu itu. Sasuke berkonsentrasi dan menyalurkan chakra ke telapak tangannya. Perlahan pintu di hadapannya terbuka dan ia pun masuk.

Udara lembab langsung menyambut kedatangan Sasuke. Tempat ini sedikit mengingatkannya pada ruang tahanan yang tidak ingin ia datangi lagi. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah altar di bagian depan, dan beberapa kursi panjang di bagian tengah, di bagian samping terdapat dua rak besar yang berisi buku-buku dan surat gulungan yang sudah usang. Sasuke membaringkan Sakura di sebuah kursi panjang dengan hati-hati kemudian ia melepas topeng yang sedari tadi ia kenakan. Udara di ruang itu cukup dingin, ini tidak baik bagi Sakura yang sedang sakit.

Sasuke berjalan ke bagian samping untuk menyalakan lampu minyak yang cukup untuk menerangi ruangan itu meskipun dengan cahaya yang redup. Tatapannya tiba-tiba tertuju pada lipatan berwarna putih yang cukup tebal di sebuah rak. Sasuke meraihnya, benda itu ternyata adalah sebuah selimut, tidak hanya itu, bahkan sebuah bantal juga ia temukan. Cukup aneh bisa menemukan benda-benda itu di sebuah kuil. Tiba-tiba terbersit sesuatu di pikiran Sasuke, mungkin Itachi yang meletakkan barang-barang itu untuknya tujuh tahun yang lalu. Dugaan itu semakin kuat saat sasuke menemukan beberapa bungkus makanan yang isinya sudah menjadi debu.

Tanpa berpikir lebih jauh lagi, Sasuke segera memakaikan selimut itu pada Sakura. Wajah gadis itu terlihat pucat, Sasuke menjadi bingung, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dengan ragu ia menempelkan telapak tangannya di dahi Sakura dan terasa panas, namun telapak tangan gadis itu sangat dingin. Sasuke duduk di lantai, menyampingi Sakura, ia tidak ingin melepaskan pandangannya dari gadis itu, namun rasa lelah setelah perjuangannya hari ini membuatnya terlelap tanpa ia sadari.

=0=0=0=0=0=0=0=

Beberapa jam kemudian Sasuke terbangun karena ia merasa ada sesuatu yang bergerak. Dan, ternyata benar, Sakura yang terbaring di depannya mulai tersadar.

"Sakura.. Sakura.." Sasuke mencoba membangunkan sambil memegangi tangan kanan Sakura yang dingin.

Gadis itu perlahan membuka matanya, tangan kirinya terangkat dan berhenti di pipi Sasuke. "S..Sasuke… A..Apa ini benar-benar kau?" ucapnya dengan suara yang lemah. Sasuke hanya menjawab dengan anggukan.

Sakura spontan memeluk Sasuke dengan erat seakan tidak ingin melepasnya lagi. Ia menangis tersedu-sedu di bahu Sasuke. Dengan canggung Sasuke merangkul gadis itu, membalas pelukannya. "Maaf, aku membawamu kesini, aku bisa jelaskan semuanya."

"Aku pikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi…" ucap Sakura dengan air mata yang mengalir deras.
"Aku selalu memikirkanmu,"
"Jangan tinggalkan aku, Sasuke.. Hiks.." isak tangis mengiringi kalimat yang Sakura ucapkan.

"Jangan menangis, Sakura… Aku pasti akan melindungimu…" Ucap Sasuke sambil menatap wajah Sakura dalam-dalam.

Gadis itu tersenyum dan menghapus air matanya. Napasnya menjadi sesak karena tangisan itu. Raut wajah Sasuke berubah menjadi khawatir.

"Aku tidak apa-apa…, mungkin hanya perlu tidur sebentar…" ucap Sakura berbohong agar Sasuke tidak khawatir.

Sasuke tahu bahwa Sakura berbohong agr ia tidak khawatir, namun ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Ia pun membantu Gadis itu berbaring dan menyelimutinya. Ia hanya bisa berharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. Tidak lama kemudian Sakura tertidur, Sasuke kembali duduk di sampingnya, menjaganya dengan sepenuh hati.

=0=0=0=0=0=0=0=

Sudah beberapa jam Sasuke berdiam diri, ia tidak bisa tidur lagi. Pikirannya juga tak kunjung mencapai jalan keluar tentang apa yang harus ia lakukan. Ia dan Sakura tidak mungkin selamanya tinggal di kuil ini. Kondisi Sakura juga masih tidak stabil, Sasuke tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Namun kalau ia tidak segera menemukan jalan keluar, Danzo dan shinobi Konoha pasti akan lebih dulu menemukan mereka.

Sasuke berdiri dan menarik napas panjang, ia ingin menghirup udara segar. Ia menengok ke arah Sakura yang masih terlelap lalu menuju ke sebuah pintu yang terletak di ujung ruangan. Ia membukanya perlahan agar Sakura tidak terbangun.

Di balik pintu itu adalah bagian belakang kuil Nakano. Di halaman itu berjejer puluhan batu nisan tak bernama. Beberapa kunang-kunang terlihat beterbangan menebarkan cahaya di tengah gelapnya malam. Sasuke hanya diam terpaku. Ia melangkah lebih dekat dengan tempat peristirahatan keluarganya itu. Cukup lama ia berdiri dan mengenang masa lalunya sambil menundukkan kepala. Ia membiarkan angin malam membelai rambutnya, perlahan titik-titik air menetes dari wajahnya.

DEG.. Jantung Sasuke tiba-tiba berdegup kencang, air matanya tiba-tiba berhenti saat rasa dingin yang ia rasakan di punggungnya menghilang. Ia terkejut saat seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang, namun Ia tidak berkata apa-apa, perlahan perasaannya menjadi tenang.

"Kau tidak perlu bersedih sendirian lagi, Sasuke… Aku bersamamu…", sebuah suara yang lembut membuat perasaannya semakin damai. Sasuke tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, namun jarak yang dekat telah membuat hati mereka saling bicara.

Sasuke kemudian berbalik arah, udara malam ini tidak baik bagi Sakura. Dan benar saja, wajah Sakura terlihat semakin pucat. Tidak lama kemudian tubuh gadis itu pun roboh, Sasuke dengan sigap menangkapnya, ia beberapa kali memangil nama gadis itu, namun tidak ada respon. Ia pun segera membawanya masuk dan menyelimutinya. Ia pun kembali duduk dan menjaga gadis itu dengan sepenuh hati.

=0=0=0=0=0=0=0=

To be Continued...

=0=0=0=0=0=0=0=