Chain 14: The Serpent's Ambition

=0=0=0=0=0=0=0=


"Jangan tinggalkan aku, Sasuke…"

Kalimat itu terus terngiang di telinga Sasuke yang sedang bersembunyi di balik sebuah bangunan. Ia tidak bisa menghapus rasa khawatir yang terus menghantuinya, tapi ia tidak punya pilihan lain, ia tidak bisa bersembunyi di kuil itu selamanya. Sakura sedang sakit dan keadaannya bertambah buruk, paling tidak ia harus mendapat nutrisi agar tetap bisa bertahan. Atas dasar itulah Sasuke memutuskan untuk keluar mencari makanan dan air untuk Sakura. Ia terpaksa meninggalkan gadis itu sendirian, awalnya Sakura menolak dan mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja selama Sasuke bersamanya, namun akhirnya ia bisa pergi dengan meyakinkan gadis itu bahwa ia hanya akan pergi sebentar dan akan kembali dengan utuh.

Dan disinilah akhirnya Sasuke berdiri, di tengah-tengah Konoha yang masih kacau balau dengan memakai topeng anbu yang ia ambil kemarin. Penyamarannya berjalan lancar sampai di tempat ini, namun hal terpenting yang membuatnya bingung adalah bagaimana caranya ia akan mendapatkan makanan. Ia melihat beberapa toko yang masih buka saat berjalan tadi, tapi ia tidak mungkin dengan santai menghampiri toko itu dan membeli makanan seperti yang seharusnya orang lakukan. Yah.. alasan pertama adalah ia tidak punya uang, bahkan ia sudah lupa bahwa uang adalah sesuatu yang sangat penting karena di penjara ia tidak membutuhkan uang. Alasan kedua adalah resiko yang harus ia hadapi bila seseorang melihatnya dan kemudian merasa curiga. Otak Sasuke berputar keras mencari akal sampai ia mendapat sebuah ide. Mencuri… yah, mencuri adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki. Ia tahu itu adalah hal buruk, tapi tidak ada pilihan lain. Lagipula, secara hukum ia adalah seorang kriminal yang seharusnya dihukum mati, jadi mencuri bukanlah masalah besar. Sekali lagi Sasuke meluruskan niatnya dan membuang jauh-jauh semua pikiran yang tidak penting. Semua ini demi Sakura, ia melakukannya demi kebaikan.

Mata Sasuke melirik dengan waspada mencari tempat yang tepat dan akhirnya pandangannya tertuju pada sebuah tenda berwarna putih. Dari dalam tenda itu keluar seorang shinobi yang menggigit sepotong roti. Tenda yang merupakan barak penyimpanan makanan itu pun menjadi sasaran utamanya. Dengan hati-hati Sasuke berjalan mendekat dan memastikan bahwa tidak ada orang di sekitarnya.

=0=0=0=0 =0=0=0=

Glek…, Sasuke menelan ludah sambil berusaha menyingkirkan keraguannya. Tangannya perlahan meraih bungkusan roti yang ada di depannya, namun sebelum ujung jarinya menyentuh makanan itu seseorang menghentikannya.

"Siapa kau sebenarnya?" ucap seorang anbu yang tiba-tiba mucul tanpa Sasuke sadari.

Sasuke membalikkan badannya, situasi seperti ini sudah ia perkirakan. Dengan sigap ia memasang kuda-kuda.

"Gelang besi di tanganmu itu… Mugkinkah kau… Sasuke?" Pria itu berkata, kemudian ia membuka topengya.

"K-Kakashi… sensei…" Ucap Sasuke terkejut melihat gurunya. Sudah cukup lama ia tidak bertemu pria berambut putih itu.

Sasuke juga membuka topengya, sudah tidak ada gunanya lagi menyembunyikan identitasnya. Meskipun begitu, sikap waspada Sasuke tidak berkurang sedikit pun, Ia menyadari bahwa posisinya saat ini adalah seorang missing-nin dan itu artinya konoha pasti tidak akan membiarkannya lolos.

"Kalau kau ingin menangkapku, aku akan melawanmu dengan segala yang aku punya, Sensei!"

"Ha?"Jounin itu itu haya menunjukkan ekspresi keheranan yang tidak terlihat dibalik maskernya.
"Ah, aku mengerti. Memang benar, beberapa hari yang lalu ada perintah dari desa untuk menangkapmu. Atasanku bilang kalau sharinganmu itu sangat penting untuk menjaga keamanan desa. Mereka juga bilang kalau Sharinganmu itu sukses ditransplantasikan ke Naruto, perang seperti ini pasti akan dapat dihindari."

Wajah Sasuke terlihat serius mendengar penjelasan gurunya. Tinjunya mengepal semakin erat. Selama ini ia percaya pada Kakashi dan ia tidak ingin hal itu berubah.

"Danzo lah yang mendesak hal itu dan pada akhirnya hokage setuju. Tapi… secara pribadi aku tidak peduli." Lanjut Kakashi.

"Kenapa?" Sasuke terkejut mendengar perkataan gurunya itu. Mendadak tangannya rileks.

"Aku tahu seberapa kerasnya kehidupan ini bagimu dan kau berusaha keras untuk bertahan. Meskipun begitu, takdir yang menunggumu adalah kematian, ini sangat tidak adil…"
"Melindungi desa dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah, yang benar saja?"

"Sensei…"

"Kau adalah anak yang baik, kau memiliki hak untuh hidup. Pergilah Sasuke, carilah kebahagiaanmu."

Tanpa ia duga, ternyata masih ada orang di dunia ini yang menyayanginya. Sasuke hanya terdiam, namun raut wajahnya terlihat senang.

Perbincangan ini hampir membuat Sasuke melupakan tujuannya yang sebenarnya. Ia kemudian melirik tumpukan roti yang tadinya akan ia curi. "Ano.., Sensei.."

"O..oh, kurasa kau membutuhkan perbekalan kan?! Ambillah!" Untunglah guru yang satu ini sangat pengertian. Tanpa perlu dijelaskan, ia sudah mengerti maksud Sasuke.

Sasuke pun tidak membuang waktu, ia mengambil dua bungkus roti dan sebotol air minum yang kemudian ia masukkan ke dalam kantong senjata yang ia bawa.

"Ne, Sasuke," suara Kakashi terdengar serius saat mengatakannya. "Apakah kau membenci Konoha?"

Pertanyaan itu seolah langsung mendarat di jantung Sasuke. Apa maksud dari pertanyaan itu? Jawaban apa yang harus ia berikan? Ia sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakan. Perasaannya mendadak menjadi kacau.

"Aku… belum memikirkan hal itu. Tapi, apa kalau aku menjawab 'ya' sensei akan berubah pikiran?." Akhirya Sasuke menjawab sambil menundukkan kepalanya.

#sigh..
"Tidak juga, karena saat ini aku tahu bahwa kau tetap Sasuke yang aku kenal. Tapi aku ingin kau ingat satu hal, dunia ini tidak sekejam yang kau pikirkan."

Sasuke terpaku, dalam hati ia berharap apa yang dikatakan gurunya itu benar. Selama ini dunia telah terlalu kejam padanya.

"Hontou ni… arigatou gozaimasu, Sensei…" Sasuke membungkukkan badannya dengan sungguh-sungguh di depan pembimbingnya itu. Hanya kalimat itu yang dapat ia sampaikan untuk membalas kebaikan gurunya.

Pertemuan antara guru dan murid itu pun harus berakhir. Sasuke bersiap-siap pergi, untunglah keadaan diluar masih sepi.

"Berhati-hatilah, Sasuke. Lindungilah apa yang paling berharga bagimu…" ucap jounin itu sebelum anak didiknya menghilang dari pandangannya.

Kalimat itu membuat Sasuke bertanya-tanya apakah Kakashi mengetahui kalau Sakura ada bersamanya. Namun, ia memutuskan untuk menyimpan rasa penasarannya. Ia harus tetap fokus agar tidak tertangkap. Ia pun terus berlari untuk kembali ke kuil Nakano.

=0=0=0=0=0=0=0=

Langit semakin gelap dan hewan-hewan malam mulai keluar dari persembunyiannya. Sasuke tidak terlalu mengerti dengan apa yang terjadi, namun hari ini keadaan desa sudah tidak terlalu kacau. Mungkin konoha sudah berhasil mengalahkan musuh dan itu artinya tidak lama lagi ia dan sakura bisa keluar dari tempat persembunyian dan melarikan diri ke tempat yang aman dan jauh dari konoha.

Sasuke berdiri di depan pintu kuil dan bersiap untuk membukanya, tapi tangannya tiba-tiba berhenti. Ia merasakan kehadiran seseorang, dengan sigap ia melempar sebuah shuriken ke semak-semak di belakangnya. Tidak salah lagi, dengan sharingannya ia bisa merasakan chakra seseorang dan sosok tak dikenal itu semakin jelas.

Seorang pria berambut panjang tiba-tiba muncul di depan Sasuke. Kulitnya pucat dan kedua tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya. Spontan Sasuke melompat menjauh dari pria menyeramkan itu.

"Kupikir aku sedang bermimpi bertemu dengan seorang Uchiha… khu..khu..khu.." ucap pria itu sambil menjulurkan lidahnya yang panjang.

"Siapa kau? Apa maumu?" Sasuke berkata dengan wajah datar. Ia sengaja menyembunyikan ekspresinya meskipun kehadiran pria itu membuat perasaannya tidak enak.

"Oh, aku lupa untuk memperkenalkan diri, aku adalah Orochimaru, orang yang menyerang Konoha dan membunuh Sandaime."

Suara parau pria itu membuat tubuh Sasuke merinding, tapi ia tidak menampakkan rasa takutnya. Lagipula ia masih tidak tahu maksud kemunculan pria ini.

"Aku tidak takut! Kalau kau ingin menghalangiku maka aku akan melawanmu"

"Khu..khu… apa semua Uchiha bersikap dingin seperti ini?"
"Jangan terburu-buru, aku bukan ingin bertarung denganmu. Justru aku ingin kita bekerjasama."

"Jangan bercanda! Aku tidak mau!"

"Hmm.., jangan sekasar itu.., aku belum menjelaskan semuanya.., Sasuke-kun." Manusia ular itu bicara dengan tenang. Aura jahatnya memenuhi atmosfer dan semakin membuat Sasuke merasa tidak enak.

'Cihh, ia telah membunuh Sandaime, apa ini artinya aku tidak memiliki kesempatan untuk menang darinya? Tidak.. aku tidak boleh takut. Aku sudah berjanji pada Sakura akan kembali dengan selamat.'

"Darimana kau tahu namaku?" bentak Sasuke untuk mengurangi rasa khawatirnya.

"Sebenarnya aku sudah mengikutimu sejak tadi, dan ternyata benar kau adalah Uchiha. Kupikir Uchiha sudah musnah, tapi ternyata masih ada satu yang tersisa."
"Ayo ikutlah denganku, Sasuke… kita gabungkan kekuatan untuk menghancurkan Konoha."

"Aku menolak! Hal itu tidak ada untungnya bagiku."

"Ahh, keras kepala… Apa kau mau mengatakan kalau kau masih membela Konoha setelah apa yang kau alami?"

"Uzakenda! Tahu apa kau soal hidupku?"

"Lihatlah dirimu! rantai ditanganmu dan bekas luka di sekujur tubuhmu itu. Aku tahu selama ini kau tinggal di penjara elite Konoha dan aku tahu bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat kejam. Kau pasti selalu disiksa selama ini kan?! Ayo gunakan kebencianmu itu untuk membalas dendam, orang-orang desa yang selama ini hidup damai, mereka semua tertawa setelah memusnahkan klanmu, karena itu mereka juga pantas untuk dihukum!"

Kalimat panjang itu seolah menjadi sebuah tali yang mencekik Sasuke. Pria ular itu ada benarnya dan Sasuke kehilangan kata-kata untuk mengelak. Di pikirannya terproyeksi masa lalu saat di penjara, saat ia menangis, merintih kesakitan, saat ia dicaci maki, saat ia tiba-tiba terbangun dalam keadaan terikat, kelaparan, dan berlumuran darah. Mengingat semua itu membuat dadanya terasa sesak. Kebencian mulai muncul dalam hatinya dan berusaha menenggelamkannya.

'Rasa sakit ini, ketakutan, penderitaan, keputusasaan, kenapa hanya aku yang merasakan? Ia benar, orang-orang itu seharusnya merasakan apa yang aku rasakan. Mereka yang hidup bahagia di atas penderitaanku pantas dihukum…'

"Ayo Sasuke-kun, tidak perlu ragu lagi ikut denganku…" Sannin itu mendekat ke arah Sasuke sampai hanya berjarak beberapa senti.

Kegelapan hati Sasuke menyuruhnya untuk balas dendam, namun ada setetes cahaya yang membentuk riak-riak yang mengacaukan kegelapan itu.

"Sasuke-kun, aku percaya padamu" sebuah suara lembut yang entah darimana asalnya menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Ia tidak ingin kegelapan itu menguasainya. Ia sudah memustuskan untuk menjadi lebih kuat.

"Sakit hatimu itu pasti akan terbalaskan, Sasuke…" sekali lagi sannin itu berkata dengan suara paraunya.

Diluar dugaan Orochimaru, Sasuke tiba-tiba melayangkan sebuah tinju ke wajahnya, namun ia segera melompat untuk menghindarinya.

"Apa yang kau laku-"

"Diaaam!" Sasuke berteriak memotong kalimat Orochimaru.
"Selama ini aku hidup menderita dan menanggung semuanya sendirian. Tapi aku yakin bahwa semua yang telah terjadi ini membuatku menjadi lebih kuat. Aku akan menentukan jalan hidupku sendiri dan aku tidak mau bergabung denganmu." Dengan tegas Sasuke menyatakan pilihannya

"Cih, kau mengkhianati perjuangan klanmu."

"Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Perang hanya akan melahirkan penderitaan. Kalaupun aku membalas dendam, klanku tidak akan kembali."

"Dasar bodoh, sampai kapan pun kau adalah pengkhianat Konoha dan mereka tidak akan membiarkanmu hidup tenang,"

"Aku memang belum bisa memaafkan mereka yang telah menyakitiku. Oleh karena itu, aku tidak ingin menjadi seperti mereka!"

"Pembicaraan ini hanya membuang waktu. Sebaiknya aku ambil dengan paksa apa yang aku inginkan."

"Apa maksu-" Sasuke tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Orochimaru tiba-tiba berada di belakangnya, lidahnya yang panjang itu terjulur dan menyentuh pipi Sasuke. Sasuke pun melompat menjauh setelah sensasi yang tidak enak itu membuatnya merinding.

"Hahaha… kau tidak memiliki kesempatan untuk mengalahkanku, Sasuke." Orochimaru tertawa licik seolah kemenangannya sudah jelas.

"Kau mungkin sudah menang dari Sandaime, tapi pertarunganmu dengannya itu pasti membuatmu kewalahan. Aku tahu kalau tanganmu itu lumpuh, kau tidak akan bisa membuat kunci chakra dan itu artinya aku masih memiliki kesempatan," kata Sasuke sambil mengaktifkan sharingan miliknya.

"Hah, kita buktikan saja, aku bahkan tidak memerlukan tangan untuk mengambil matamu itu," dengan angkuh Sannin itu berkata.

Orochimaru tidak membuang waktu lagi, ia mulai menyerang. Dari lengan bajunya keluar ular-ular yang ia gunakan untuk menyerang Sasuke dengan cepat. Ular-ular itu seolah menyerang secara bersamaan dari berbagai arah. Dengan sharingan Sasuke dapat membaca gerakan ular itu dan lolos dari setiap serangan yang menghujaninya. Akhirnya serangan itu pun berhenti.

"Kekuatan sharingan memang hebat, aku jadi semakin menginginkannya," Orochimaru berdiri, bersiap dengan serangan selanjutnya.

"Jadi tujuanmu sejak awal adalah sharingan. Cih, dasar busuk!" Sasuke menyerang balik dengan jurus api. Ia menggunakan api itu untuk menutupi serangan berikutnya, api itu menghalangi penglihatan mereka, tapi Sasuke bisa mengetahui posisi lawannya dari aliran chakra. Sasuke melempar kawat baja yang telah ia siapkan ke arah musuh dan benar saja, setelah kobaran api itu hilang, terlihat sosok Orochimaru yang berusaha melepaskan diri dari tali yang melilitnya. "Katon: Goukakyu no jutsu," Sasuke menyerangnya lagi dengan bola api yang besar.

Lambat laun kobaran api di tubuh Orochimaru padam dan itu membuat Sasuke terkejut saat ia tersadar bahwa yang ia bakar hanyalah selongsong kulit ular yang sangat besar. Ia segera mencari keberadaan musuh namun tidak merasakan apa-apa. Orochimaru tiba-tiba muncul dari dalam tanah di belakang Sasuke seperti ular yang telah siap menelan mangsanya.

"Chidori!" Sasuke memberi serangan kejutan pada musuhnya. Tangan Sasuke berhasil menembus sosok di hadapannya namun sekali lagi itu hanya kawarimi no jutsu milik Orochimaru.

Chidori yang baru saja ia keluarkan membuatnya harus mengumpulkan napas untuk memulihkan chakranya. Orochimaru tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dari dalam tanah di sekeliling Sasuke muncul ular-ular yang langsung melilit tubuhnya, ia tidak sempat menghindar.

Sasuke berusaha melepaskan diri, namun semakin ia memberontak, lilitan itu semakin erat. Ia mulai panik saat pria ular itu mendekatinya.

"Khu..khu… kau telah berada dalam genggamanku, dan sebentar lagi sharingan itu akan menjadi milikku" Orochimaru tertawa licik.

Mendengar kata 'sharingan' membuat Sasuke mendapat ide untuk melepaskan diri dengan genjutsu. Kalau hal itu berhasil, ia bisa mengendalikan Orochimaru untuk melepaskan ular yang melilitnya.

"A-Ack…" Sasuke kesulitan bernapas saat Orochimaru mencekiknya sementara ular yang melilitnya semakin erat berusaha meremukkan tulang-tulangnya. Konsentrasinya untuk melancarkan genjutsu buyar seketika.

"Tidak akan kubiarkan kau menggunakan genjutsu padaku," sannin itu bilang seolah sudah mengetahui rencana Sasuke sejak awal.

"A-a-ku ti-dak bo-leh ma-ti d-di-si-ni, a-ku s-sudah ber-jan-ji p-pa-da sa-ku-ra" Sasuke berusaha menggerakkan tangannya untuk melepaskan diri. Usahanya itu sedikit berhasil, untuk sesaat ia bisa membuat kunci chakra.

"Ki-rin" dengan suara lirih Sasuke melepaskan kekuatan yang tidak terduga.

"Hah? Apa? Aku tidak dengar. Apapun katamu, itu akan menjadi pesan terakhir karena kau akan menjadi mayat saat aku telah meremukkanm-"

GLARR… Sebuah kilat yang sangat besar menyambar diikuti guntur yang memekakkan telinga. Aliran listrik yang sangat besar itu tidak memberi kesempatan bagi siapa pun yang ada di bawahnya. Tegangan tinggi itu menghancurkan tanah dan menimbulkan debu yang menghalangi pandangan. Tidak lama kemudian debu itu pun hilang terbawa angin malam.

Di depan kuil yang telah berubah menjadi arena pertarungan itu tergeletak dua orang yang tidak sadarkan diri, tubuh mereka babak belur terkena aliran listrik. Agin yang berhembus seolah menunggu siapa yang akan bangkit terlebih dahulu dan menjadi pemenang pertarungan ini.

Dalam waktu yang bersamaan kedua orang itu berusaha bangkit. Di tubuh mereka masih terlihat aliran listrik yang mengalir dan membuat keduanya berusaha berdiri dengan gemetar. Sasuke bersusah payah menegakkan tubuhnya, jurus yang baru saja ia gunakan juga mengenainya. Ia terpaksa melakukannya karena ini adalah cara satu-satunya agar bisa melepaskan diri.

"Kurang ajar!" Orochimaru sangat marah melihat mangsanya berhasil lepas.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini?"

"Hah, api yang aku lontarkan di awal pertarungan tadi bukan untuk menyerangmu, tapi untuk membuat awan mendung yang akan menghasilkan petir yang dahsyat. Sayang sekali aku harus menggunakannya di saat yang tidak tepat," jelas Sasuke sambil membersihkan darah yang mengalir di dagunya.

"Aku tidak akan membiarkanmu lolos lagi, Sasuke." Sannin itu berdiri sambil mendongakkan kepala, ia menjulurkan lidahnya yang panjang, dan dari dalam mulutnya perlahan keluar sebuah logam mengkilat. Pemandangan yang tidak lazim dan suara mengerikan yang datang dari Orochimaru itu membuat Sasuke mual.

Pedang Kusanagi yang keluar dari mulut sannin itu telah sampai pada gagangnya, ia melilit pedang itu dengan lidahnya, sangat mengerikan. Sasuke bersiap menghadapinya meskipun kondisinya tidak menguntungkan, ia hanya memiliki kunai dan shuriken, dan chakranya sudah tidak banyak tersisa.

Dengan tekad bulat Sasuke menggenggam kunai di kedua tangannya, sharingannya bersinar seterang api yang mengalir dalam darah Uchihanya, ia akan terus maju, ia tidak akan menyerah, dan dia tidak akan membiarkan kehormatan Uchiha yang terakhir jatuh ke tangan musuh.

Orochimaru membuat dua kagebunshin dengan chakranya yang juga sudah menipis. Ia yakin serangannya kali akan mewujudkan segala impiannya.

"Kau tidak akan bisa menghindari seranganku ini, Sasuke. Bahkan kau tidak akan bisa tahu diriku yang asli dengan sharinganmu itu. Kemenanganku sudah jelas!"

"…" Sasuke malas menanggapi pria ular itu, ia memilih untuk fokus dalam menghadapi serangan yang akan datang. Kata-kata Orochimaru ternyata benar, tiga sosok sannin itu tidak bisa dibedakan dengan sharingan, dan ini berarti akan semakin sulit untuk menghindari serangannya.

Orochimaru memulai serangannya, ia dan dua bunshin miliknya menyerang Sasuke bersamaan. Sasuke dengan susah payah menahan setiap serangan yang menghujaninya. Julukan 'Sannin' memang bukan hanya omong kosong, sabetan katana Orochimaru sangat lincah meskipun ia tidak memegangnya dengan tangan. Sejauh ini Sasuke masih bisa membaca srangan lawan dengan sharingan, tapi ia kesulitan untuk melakukan serangan balik.

Suara kunai dan pedang yang beradu mengusik keheningan malam, pertarungan sengit ini tidak akan berhenti sampai ada yang mati.

Ketiga bunshin Orochimaru menghilang dari pandangan Sasuke, namun ia bisa merasakan aura jahat dari pria ular itu. Sasuke terdiam dan tiba-tiba Orochimaru muncul di depannya.

CRASH…, katana milik Orochimaru menembus bahu kiri Sasuke. Darah Uchiha itu mengalir mewarnai kulitnya yang pucat.


=0=0=0=0=0=0=0=

To be continued

=0=0=0=0=0=0=0=


A/N:

Untuk kesekian kalinya, Gomennasai karena updatenya lama…

Selain itu, kurasa chapter ini panjang dan membosankan, mungkin juga banya tipo. T-tapi beberapa chapter selanjutnya sudah kuselesaikan dan dengan beberapa review akan segera kupublish…

Oiya, ini adalah beberapa fanart yang kubuat dari beberapa scene Chain of Destiny, tidak terlalu bagus sih.., I'm still a beginner… but I just wan't you to know…, jadi kalo sempat yaa.., please..
tambahkan "hatetepe-titikdua-slashslash(ngerti maksudnya kan?!) anonimme. deviantart. com" tapi tanpa spasi di bagian depan link berikut:

art/Sasusaku-soba-ni-iru-kara-2-376246020

art/Sasusaku-375468652

cover:

art/Cover-Fixed-375463185

Arigatou minna~