Chain 15 : The Unspoken Love
CRASH…, katana milik Orochimaru menembus bahu kiri Sasuke. Darah Uchiha itu mengalir mewarnai kulitnya yang pucat. Orochimaru tersenyum licik melihat tikamannya mengenai sasaran. Sannin itu mendongak bermaksud untuk menikmati ekspresi kekalahan lawannya, namun ia justru bertemu dengan sharingan yang membuatnya tercengang.
Kekuatan legendaris itu muncul lagi, namun kali ini Sasuke lah yang mengendalikannya. Persis seperti saat melawan Danzo, mata kirinya berdarah, namun ia sama sekali tidak merintih kesakitan. Tatapannya yang tajam seolah mampu menembus keangkuhan lawannya. Ia mempertaruhkan kemenangannya dengan jurus ini dan ia yakin kalau ia akan berhasil.
"Luka ini tidak akan menghalangiku," dengan mantap Sasuke membuat lawannya mematung.
"Amaterasu," satu kata itu membuat api hitam tiba-tiba muncul pada apa pun yang ada di hadapannya. Sasuke membakar musuhnya dengan api hitam yang tak dapat padam, kemudian dengan tenaga yang ia pusatkan di tangannya ia melayangkan sebuah tinju pada Orochimaru, tepat mengenai pipi kirinya. Pria ular itu pun terjatuh diikuti terlepasnya pedang yang menancap di bahu Sasuke.
Sannin itu mulai panik saat api hitam amaterasu mulai membakar rambutnya. Ia pernah mendengar tentang kekuatan ini, tapi ia tidak pernah menyangka akan merasakannya sendiri. Chakranya sudah tidak cukup untuk melakukan kawarimi, ia tidak bisa mengelak. Ia pun mulai meraung kesakitan dan tidak percaya kalau ia bisa dikalahkan oleh seorang bocah Uchiha.
"Tidak… Tidak mungkin.., Kau sseharusnya sudah mati saat aku menusukmu, seharusnya k-kau sudah tidak bisa bergerak," sannin itu masih tidak terima dengan kekalahannya.
"Rasa sakit ini, aku sudah terbiasa merasakannya," dengan tenang Sasuke berkata. Luka yang ia derita mungkin dapat membuat orang lain langsung tumbang, tapi berbeda bagi Sasuke, siksaan yang sering ia terima telah membuat tubuhnya berada di tingkat yang berbeda dalam merespon rasa sakit.
"Akan kubunuh kau, Sasuke! Aku masih bisa." Sannin itu merangkak ke arah Sasuke sementara amaterasu mulai menyebar membakar punggungnya.
"Sudahlah, kau kalah karena kesombonganmu. Dari awal kau meremehkan kekuatan Uchiha. Karena itu, matilah dengan semua impian busukmu!"
"Aaaargh… jangan sok mengguruiku, terkutuk kau… aaaaarrrrgh…" Orochimaru terus mengutuk Sasuke di penghujung nyawanya.
Teriakan ular itu semakin lama semakin lenyap saat amaterasu membakar habis tubuhnya tanpa menyisakan debu sebutir pun. Iris mata Sasuke berubah menjadi hitam saat ia sudah yakin bahwa tidak ada lagi ancaman baginya, kemudian ia berjalan tertatih-tatih menuju kuil sambil memegangi bahu kirinya.
=0=0=0=0=0=0=0=
Sasuke membuka pintu kuil setelah membasuh darah yang menempel di tubuhnya, ia tidak ingin penampilannya membuat Sakura ketakutan. Ia pun bernapas lega saat melihat Sakura masih terbaring di tempatnya semula. Gadis itu pun terbangun saat menyadari kehadiran seseorang.
Sasuke duduk di samping Sakura dan berusaha sebaik mungkin untuk memberikan ketenangan padanya. Namun, gadis itu bisa melihat sisa darah di bahu Sasuke dan itu membuatnya khawatir.
"Sasuke, apa yang terjadi? Kau terluka?"
"Tidak, aku tidak apa-apa, ini… ini hanya tergores," Sasuke mencari-cari alasan agar Sakura berhenti mencemaskannya.
"Tadi aku mendengar petir yang sangat keras, aku takut terjadi sesuatu padamu," kata gadis itu sambil berusaha duduk.
"Maaf, aku meninggalkanmu terlalu lama. Tapi jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Yang terpenting adalah keadaanmu" Sasuke menggenggam tangan Sakura yang dingin dan menatapnya dengan serius.
Sakura hanya tersenyum simpul mendengar ketulusan Sasuke, rasa cemasnya sedikit berkurang. Ia selalu mempercayai Sasuke dan ia yakin bahwa apa yang dikatakan Sasuke pasti betujuan untuk membuatnya tenang.
"Aku janji aku akan selalu melindungimu dan aku akan berusaha membuatmu selalu ba-," kalimat Sasuke terhenti saat tiba-tiba Sakura menciumnya.
Sasuke mendadak terpaku di tempatnya, jantungnya seolah berhenti dan matanya tidak berkedip. Ia tidak pernah berciuman sebelumnya dan saat ini ia bingung, ia hanya terdiam tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Namun hati Sasuke bisa mengerti bahwa Sakura benar-benar mencintainya.
Untuk beberapa saat bibir mereka bertemu. Di tengah keheningan malam mereka tenggelam dalam cinta yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Mereka memiliki perasaan yang sama dan mereka telah saling percaya satu sama lain.
Sakura mundur dan membuka matanya, Sasuke tidak membalas ciumannya. Tapi Sakura tersenyum simpul saat melihat Sasuke mematung di depannya dengan wajah yang merah. Baru kali ini ia melihat ekspresi Sasuke yang seperti itu. Pipi Sakura juga merona dan mereka berdua akhirnya hanya memandang satu sama lain dengan wajah malu-malu.
"M-M-Makanlah, Sakura…, sudah dua hari ini kau belum makan apa-apa," kata Sasuke yang masih sedikit bingung.
Sasuke mengeluarkan kantong makanan yang ia bawa, untunglah isinya masih dalam keadaan baik. Ia pun membuka bungkusan itu sebelum menyodorkannya pada Sakura.
Sakura sebenarnya tidak merasa lapar. Lidahnya terasa pahit seperti empedu, tapi ia tidak sampai hati menolak hasil perjuangan orang yang ia cintai. Dengan tangannya yang sedikit gemetar, Sakura meraih makanan itu. Sasuke sendiri mengabaikan rasa laparnya, ia sudah terbiasa, tidak makan tiga atau lima hari pun tidak masalah. Asalkan Sakura baik-baik saja, itu sudah cukup baginya.
"Terimakasih, tapi kau juga harus makan, Sasuke…" Gadis itu menyodorkan roti yang ia pegang pada Sasuke. Ia hanya sanggup menghabiskan setengahnya, perutnya sudah menolak untuk diisi. Sasuke tercengang, namun pada akhirnya ia mengangguk.
=0=0=0=0=0=0=0=
Malam itu Sakura menceritakan semuanya, ia tidak ingin menyimpan kebenaran yang selama ini membebaninya. Ia meminta maaf karena sudah menyembunyikan semuanya pada Sasuke, ia juga meminta maaf atas kekejaman yang dilakukan kakeknya selama ini. Sakura tidak memaksa Sasuke untuk memaafkannya, ia hanya ingin mengurangi beban di hatinya. Uchiha terakhir itu pun bisa mengerti keadaan Sakura, namun ia hanya terdiam saat gadis itu menceritakan tentang kakeknya. Memaafkan Danzo adalah hal yang sulit, bahkan rasanya tidak mungkin bagi Sasuke.
Hari yang penuh perjuangan bagi Sasuke itu pun berakhir. Sasuke terus terjaga di samping Sakura yang tertidur. Dalam hati ia berharap agar gadis itu segera sembuh. Dengan sabar Sasuke mengompresnya dengan kain robekan selimut, tanpa bosan ia mengganti air kompresan yang sudah tidak dingin lagi. Sebentar-sebentar Sasuke membelai rambut pink Sakura untuk menenangkannya. Ia tidak ingin masa-masa bersama dengan Sakura berakhir.
Sekali lagi Sasuke memantapkan hatinya. Apa pun yang terjadi, ia akan melindungi Sakura dan membuatnya bahagia. Gadis itu adalah segalanya bagi Sasuke, kalau bukan karena Sakura, ia pasti sudah menyerah sejak lama. Selama ini Sakura memberinya semangat, keberanian, dan membuatnya menyadari arti hidup ini. Mungkin kata Kakashi ada benarnya, dunia ini tidak sekejam yang ia pikirkan.
=0=0=0=0=0=0=0=
#Sasuke's POV#
Aku merasakan cahaya yang sangat terang seolah ingin menembus kelopak mataku. Cahaya yang menyilaukan itu memaksaku untuk membuka mata, ternyata sudah pagi. Matahari bersinar terik menembus atap kuil yang berlubang. Aku menggeliat, meregangkan otot-ototku yang berteriak kesakitan. Ini sudah biasa kurasakan, tapi luka karena pertarungan semalam benar-benar membuatku meringis kesakitan. Aku masih bisa merasakan saat pedang itu merobek daging di tubuhku yang tidak seberapa tebal.
Keadaanku bisa kuabaikan, perhatianku langsung tertuju pada Sakura yang terbaring di depanku. Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku atau bukan, tapi aku merasa wajah Sakura terlihat semakin pucat. Napasnya juga tidak stabil, ia seperti sedang mengalami mimpi buruk.
Kuberanikan diri untuk membangunkannya dengan harapan agar ia terlepas dari mimpi buruknya. Aku memanggilnya beberapa kali, kupegang tangannya yang dingin seperti es dan perlahan Sakura mulai berusaha membuka matanya. Aku segera menenangkannya dan menawarkan air minum, ia pun mengangguk dan aku membantunya minum. Kutanyakan apakah ia bermimpi buruk, tapi Sakura menggeleng. Bahkan setelah tersadar napas Sakura masih tidak stabil, demamnya juga tidak turun walaupun sudah dikompres semalaman.
Sakura berusaha bangun, tapi aku melarangnya. Saat ini keadaannya terlalu lemah, melihat Sakura menderita seperti ini benar-benar membuatku sedih. Seandainya bisa, biar aku saja yang menanggung rasa sakitnya. Dengan suara lirihnya Sakura mengatakan sesuatu padaku, ia mengeluh dada kirinya sakit. Ia memegangi dada kirinya seolah berusaha untuk memijat jantungnya. Ia juga menggigit bibirnya saat menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Aku… sudah tidak kuat lagi, Sasuke…" suara itu terdengar seperti sebuah bisikan. Aku bisa melihat air mata yang terkumpul di sudut matanya saat ia mengatakan hal itu. Sakura pasti sangat menderita selama ini. Aku bisa mengerti bagaimana rasanya berjuang melawan nasib untuk bertahan hidup. Meskipun begitu, Sakura selalu menjadi sosok yang selalu tersenyum di depanku.
"Kumohon bertahanlah, Sakura… Aku yakin kau pasti bisa sembuh." Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku hanya terus menggenggam tangannya dan berdoa agar Kami-sama masih memberi kesempatan.
"Terimakasih telah menjagaku selama ini, Sasuke…" Sakura berusaha menggenggam erat tanganku tapi tenaganya tidak cukup. Kali ini butiran-butiran air matanya berjatuhan membasahi wajahnya yang pucat. Kenapa Sakura mengatakan ini? Entah kenapa aku tidak ingin mendengar lanjutan kalimat itu.
"Sasuke, aku ingin kau terus melanjutkan hidupmu, meskipun tanpa aku…"
Tidak, tidak, tidak. Aku tidak ingin mendengar ini. Aku tidak bisa menerimanya. Kenapa Sakura harus mengatakannya? Padahal kita sudah bisa bertemu.
"Tidak bisa. Hidupku hanya berarti untuk melindungimu. Selama ini kau mengajariku untuk tidak menyerah pada nasib, karena itu kau juga tidak boleh menyerah, Sakura…"
Di dalam hati aku sadar kalau perkataanku itu egois, aku tidak mau menerima takdir yang seperti ini. Aku sangat mencintai Sakura dan aku tidak akan sanggup kalau harus kehilangannya.
"Aku lelah, Sasuke…, mungkin tidurku kali ini akan lebih lama dari biasanya…" Sakura perlahan memejamkan matanya setelah mengucapkan hal itu.
"Sakura.., Sakura.., bertahanlah.., Sakuraaaaa!" aku memaksanya bangun tapi sia-sia. Aku mulai panik, saat ini aku benar-benar ketakutan. Aku takut kalau Sakura akan tidur selamanya. Kenapa ini harus terjadi? Betapa tidak adilnya dunia ini.
Ku beranikan diri untuk memeriksa denyut nadinya, aku bisa merasakan getaran yang sangat lemah. Tangannya masih dingin dan demamnya masih tinggi. Dari situ aku tahu kalau Sakura masih hidup, tapi itu tidak membuat rasa takutku berkurang.
Apa yang harus kulakukan? Aku hanya bisa menyuruhnya bertahan, aku hanya memaksanya melawan takdir, padahal aku sendiri tidak bisa menjamin apa-apa. Bagaimana ini? Aku tidak bisa tinggal diam, tapi aku bingung. Aku bukan ninja medis, aku bukan dokter, dan aku bukan… Naruto. Entah mengapa nama itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Semalam Sakura menceritakan semuanya padaku, termasuk tentang Naruto. Tentang bagaimana ia membawa Tsunade, ninja medis yang bisa menyembuhkan Sakura. Danzo bahkan membanggakan anak berambut pirang itu. Dia terdengar seperti orang yang sempurna, ia bisa menepati janjinya, ia baik, dan ia adalah calon Hokage. Aku benci mengakui ini, tapi aku merasa kalau aku bukan apa-apa dibanding dengannya. Meskipun begitu, aku bersyukur karena Sakura mempercayai ku.
'Tsunade' kurasa itulah kata kuncinya. Aku harus menemukan orang bernama Tsunade itu untuk menyelamatkan Sakura. Tapi bagaimana caranya? Naruto pasti mengetahui keberadaannya. Tidak, tidak mungkin aku menemuinya. Dia adalah musuhku, menemuinya sama saja dengan menyerahkan diri. Kalau aku pergi ke kota, itu juga sama saja, mereka pasti tidak akan melepaskanku.
Aaaaargh, aku tidak punya waktu lagi. Aku pun menghampiri Sakura yang terbaring dan berusaha menggendongnya. Aku mendekapnya dengan erat dan melindungi tubuhnya dengan selimut. Sakura tidak bergeming sedikit pun saat aku mengangkatnya seperti ketika aku membawanya kesini. Tubuh Sakura lebih ringan dari sebelumnya, tapi tetap saja tangan kiriku terasa sakit seperti akan lepas dari persendiannya. Sekarang bukan waktunya untuk mengeluh. Aku harus segera menyelamatkannya bagaimana pun caranya, meskipun aku harus melawan seluruh dunia ini.
Kulangkahkan kakiku dengan yakin, sesampainya di luar kuil aku menarik napas panjang. Tekadku sudah bulat, aku tidak akan mundur lagi. Kutatap langit yang cerah hari ini sambil berdoa agar Sakura baik-baik saja. Aku tidak peduli jika ini adalah hari terakhir aku bisa melihat matahari, asalkan Sakura bisa kembali sehat aku rela mengorbankan apa pun. Apa pun…
Aku mulai berlari, bergegas menuju gedung hokage. Kukuatkan diri menahan rasa sakit di tubuh ini, karena akan lebih sakit lagi jika aku harus kehilangan Sakura.
=0=0=0=0=0=0=0=
'Aku sangat mencintai Sakura…'
'Aku ingin kita bisa bersama untuk selamanya…'
'Aku ingin Sakura bisa bahagia lebih dari siapa pun…'
'Tapi…'
'kalau perasaanku ini pada akhirnya hanya membuatnya menderita…'
'maka lebih baik aku mundur…'
'karena inilah caraku untuk melindunginya…'
=0=0=0=0=0=0=0=
To be continued
=0=0=0=0=0=0=0=
A/N : Gomen, telat update... karena tahun ajaran baru, jadi sibuk...
and please don't mind the typos
