Chain 16 : The Last Wish


=0=0=0=0=0=0=0=

#Normal POV#

"Siapa dia?"

"Apa yang dia lakukan?"

"Siapa orang yang dia bawa itu?

"Apa dia berasal dari desa ini?"

"Aku belum pernah melihatnya"

Sasuke terus berlari tanpa menggubris orang-orang desa yang membicarakannya. Ia tidak suka dengan tatapan orang-orang itu, Sasuke merasa kalau mereka membencinya, apalagi kalau mereka tahu bahwa ia adalah seorang Uchiha. Ia bukan bagian dari desa ini, itulah yang selama ini tertanam di pikirannya.

Gedung hokage sudah tampak, ia hanya tinggal berlari lurus ke depan. Entah darimana tenaga yang ia gunakan, Sasuke terus berlari secepat mungkin sambil menjaga Sakura tetap aman. Pintu masuk gedung itu tinggal beberapa meter lagi. Sasuke sudah menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada. Ia mempererat dekapannya pada Sakura. Apa pun yang terjadi, ia harus berhasil bertemu dengan Tsunade.

"Berhenti! Mau apa kau?" Dua orang chuunin yang menjaga pintu masuk serempak menghentikannya. Mereka bersiap untuk mengeluarkan senjata.

"Aku tidak punya waktu untuk berhenti disini, aku harus segera bertemu hokage," Sasuke mengaktifkan sharingannya dan menatap ke arah mereka. Dua orang shinobi yang kurang waspada itu pun tidak bisa mengelak dari doujutsu Sasuke. Mereka hanya berdiri mematung dan tidak bisa berbuat apa-apa saat Sasuke lewat.

Langkah Sasuke semakin lambat saat ia harus menaiki anak tangga. Sejauh ini ia berhasil melewati shinobi yang ia temui. Ia beruntung memiliki sharingan, sedangkan orang lain tidak pernah menyangka bahwa pengguna sharingan masih tersisa satu. Namun, menggunakan kekuatan itu cukup menguras tenaganya, bahkan saat ini pandangan Sasuke sudah mulai kabur dan ia mulai merasa ingin pingsan.

'Aku tidak boleh berhenti disini, aku pasti akan menyelamatkan Sakura…' kalimat itulah yang ia katakan berulang-ulang pada dirinya sendiri. Dari tekad yang kuat itulah ia masih memiliki kekuatan untuk maju.

Akhirnya Sasuke sampai di lantai teratas gedung itu. Pintu ruangan hokage berdiri kokoh di depannya. Tanpa ragu lagi ia menendang pintu itu dengan kaki kanannya dan mengagetkan enam orang yang ada di dalam. Sasuke berdiri terdiam sambil terengah-engah, ia terkejut melihat Naruto yang duduk di kursi hokage. Di ruang itu berdiri seorang wanita berambut pirang, seorang wanita berambut hitam yang menggendong seekor babi, selain itu juga ada dua orang tua yang sebenarnya adalah penasehat, dan seorang lagi kakek tua yang membuat Sasuke tiba-tiba ingin muntah. Sasuke sudah menguatkan tekadnya dan Ia tidak akan mundur meskipun Danzo ada di hadapannya.

"Apa yang kau lakuk-" Naruto mendadak berdiri sambil menggebrak meja di hadapannya. Namun kalimatnya terhenti saat ia menyadari bahwa orang yang mendobrak pintunya sedang menggendong Sakura yang sudah beberapa hari ini menghilang. Ketegangan memenuhi atmosfer ruangan itu, mereka menatap Sasuke dengan pandangan yang sinis.

Sasuke berjalan maju dengan yakin, para pejabat konoha yang ada dihadapannya terdiam dan menunggu Sasuke menyampaikan maksud kedatangannya. Namun, Naruto sudah tidak sabar, ia segera beranjak dari singgasananya dan menghampiri Sasuke dengan tatapan dingin.

"Kumohon, selamatkan Sakura… Aku yakin seseorang yang bernama Tsunade pasti bisa menolongnya." Sasuke langsung menyampaikan inti dari kedatangannya. Ia bicara dengan suara pelan sambil menunduk, tapi semua orang di ruangan itu bisa mendengarnya. Tanpa buang waktu Naruto memanggil Tsunade untuk membawa Sakura ke ruang perawatan.

Sasuke menatap gadis yang ia cintai itu lekat-lekat, ia bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya. Dengan berat hati ia merelakan Tsunade dan asistennya membawa belahan jiwanya itu. Dalam hati ia hanya berdoa agar Sakura selamat. Gadis itu semakin menjauh dari pandangannya dan pada akhirnya tidak terlihat lagi saat kedua kunoichi medis itu membawanya melewati pintu. Sasuke hanya terdiam, ia tidak akan menyesali keputusannya ini. Ia akan selalu mengenang senyuman dan kebaikan hati Sakura dalam memorinya.

Kini Sasuke hanya sendiri, ia hanya terpaku di ruangan itu. Air mata ingin mengalir dari pelupuk matanya, namun ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Naruto masih berdiri tegap dengan jubah hokagenya di depan Sasuke tanpa mengatakan apa-apa.

"Maafkan aku, ini semua terjadi karena kesalahanku…" Sasuke tiba-tiba mengatakannya sambil berlutut seolah ia menyembah Naruto. Dengan harga diri dan kehormatan Uchiha yang masih tersisa ia mengatakannya di depan hokage. Ekspresi Naruto terlihat marah, tangannya mengepal erat, namun ia masih tidak beranjak dan tidak mengatakan sepatah kata pun.

BUAGHHH…, di ruangan yang sunyi itu tiba-tiba terdengar suara hantaman yang sangat keras. Beberapa detik yang lalu, Danzo menghampiri Sasuke, menjambak rambutnya, dan menamparnya sekeras mungkin, ia masih tetap kejam seperti biasanya. Sasuke berusaha bangkit, ia mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Ia hanya menatap kakek itu dengan kebencian, tapi kali ini ia tidak bermaksud untuk membalas, ia akan mempersilakan kakek itu mencaci maki atau melakukan apa pun. Orang lain dalam ruangan itu hanya terkejut melihat Danzo yang tiba-tiba meledak dan mereka tidak berani ikut campur.

"Beraninya kau membuat cucuku menderita. Jangan harap kau bisa lari lagi, kali ini akan kupastikan kau membayar semuanya." Danzo mencekik Sasuke dan melemparnya ke lantai, membuat luka di bahu kiri Sasuke terbuka dan mengucurkan darah lagi.

"Aku tidak akan kabur lagi. Ambillah mataku, ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahan Uchiha," Sasuke berkata sambil berusaha bangkit dengan bertopang pada kedua lutut dan telapak tangannya.

"Cih, kau pikir kami akan memaafkan klanmu hanya karena kau tiba-tiba berpihak pada Konoha, hah?!" dengan angkuh kakek itu berkata.

"Aku tidak peduli pada Konoha, aku hanya ingin melakukannya untuk melindungi Sakura," Sasuke berkata sambil menundukkan kepala. Ia masih berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Aku tidak suka kau berhubungan dengan cucuku!" Danzo bersiap untuk melayangkan tinjunya lagi, tapi tiba-tiba Naruto berdiri di depannya.

"Sudah, hentikan!" dengan tegas Naruto memperingatkan kakek itu. Danzo tidak melawan perintah hokage, dengan terpaksa ia memadamkan kemarahannya yang nyaris meluap.

Sasuke tertegun melihat Naruto yang tiba-tiba berpihak padanya. Ia tidak pernah menginginkan hal itu, tapi paling tidak beginilah yang terbaik untuk saat ini. Tulisan Yondaime di punggung Naruto semakin pudar bagi Sasuke dan lama-lama semakin tak terbaca. Ia semakin lemah karena banyak kehilangan darah. Anggota tubuhnya sudah tidak mau lagi menuruti perintahnya untuk tetap berdiri tegak.

"Terimakasih, Naruto. T-Tolong sampaikan pada Sakura bahwa aku hanya.. ingin dia.. bahagia," itu adalah kalimat terakhir yang sanggup Sasuke ucapkan sebelum ia kembali jatuh ke lantai. Ia kini sudah tidak sanggup lagi menahan penderitaan fisik dan psikisnya. Kalimat itu seolah menjadi pesan terakhir yang tidak bisa ia ucapkan langsung pada Sakura. Kini ia tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada tubuhnya, ia sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi. Namun, paling tidak Sasuke tidak menyesal, ia tetap melindungi Sakura sampai akhir. Ini adalah jalan yang sudah ia pilih.

Setelah itu, Sasuke tidak tahu lagi dengan apa yang terjadi di ruangan itu. Dunianya tiba-tiba menjadi gelap gulita.

=0=0=0=0=0=0=0=

To be continued

=0=0=0=0=0=0=0=


A/N:

Kyaaaaa… satu chapter Cuma sekitar 1000 kata, gomen ne~

Sebenernya kupikir ini akan jadi the last chapter, tapi kayaknya kurang greget. Jadi, endingnya chapter depan aja deh… (mungkin)

Ayo katakan padaku, kalian ingin tragedy atau happy ending? Atau crappy ending mungkin?


=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=0=

#Omake#

Sasuke : "Hoy, author-yarou, mau berapa kali kau mengakhiri cerita dengan adegan aku pingsan, huh?"

Chierra : "A-aku tidak bermaksud melakukannya, ano… ini hanya trik supaya readers penasaran. Umm… lagipula Sasuke-kun terlihat manis saat pingsan… *teehee"

Sasuke : "Cihh.., sampai kapan kau akan membuatku menderita? Sampai kapan kau akan menyiksaku? Apa kali ini kau membuatku mati? Kau kelihatan sangat menikmati saat aku menderita, kau sengaja melakukannya, ya kan?!"

Chierra : "B-bukan begitu, aku hanya sedikit sadis, err.. soal akhir cerita itu rahasia, aku tidak bisa membongkarnya sekarang"

Sasuke : "Kusoooo! Aku tahu kau bohong. Selama ini kau terlalu banyak bermalas-malasan dan tidak segera menyelesaikan fanfic yang payah ini."

Chierra: (=3=) "Hah.. aku tidak dapat banyak review sihh, jadi aku tidak terlalu bersemangat untuk lanjut.."

Sasuke : "Kau tidak dapat review karena memang tidak ada orang yang mau membaca fanfic jelekmu ini."

Chierra : "mungkin kau benar…*sniff ..*sob… sebaiknya aku berhenti."

Sasuke : * sweatdrop* "Tapi sebagai author, kau harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan fic yang kau buat!"

Chierra : *Yawn~*

Sasuke : "Cepat kerjakan atau aku akan menghancurkan benda ini."

Chierra : "T-tunggu, Sasuke, sabar dulu, jangan hancurkan 'Toshiro' dengan amaterasu, semua fanfic dan fanartku tentangmu ada di situ."

Sasuke : "Oh, jadi netbook ini namanya Toshiro ka? Tenang, aku tidak akan menghancurkannya dengan amaterasu, dengan chidori saja sudah cukup."

Chierra : "Aaaaah, Ya-yamete kudasai… Sasuke-sama, yameteeeeeee… B-baiklah aku akan segera menyelesaikan chapter selanjutnya."