Sebelumnya aku ingin berterima kasih pada reviewers, followers, fave-ers, dan para reader yang setia membaca fic ini sampai akhir. Chain of Destiny adalah fanfic romance pertama yang kutulis sampai akhir. Aku gak terlalu PD dengan kemampuanku, tapi kuharap kalian tidak kecewa dengan ending yang seperti ini. Setelah menulis fic ini, aku jadi ingin menggambar beberapa scene yang cukup menyentuh *memangnya ada?*. kalau penasaran, kunjungi saja anonimme dot deviantart dot com. Oke tanpa basa-basi lagi, here's the last chapter…!


=0=0=0=0=0=0=0=

Chain 17 : Unchained Fate

=0=0=0=0=0=0=0=

#Sasuke's POV#

"Hidup ini hanya sekali, Sasuke. Tidak ada yang namanya reinkarnasi, karena itu jangan sampai kau menyesali hidupmu…"

Dulu, Itachi mengatakan itu padaku dan sampai sekarang aku tetap mempercayainya. Hidup ini hanya sekali, dan kurasa hari ini hidupku berakhir. Jika perkataan Itachi itu benar, maka aku tidak mungkin terlahir kembali untuk bertemu dengan Sakura. Dari awak aku tahu itu memang mustahil. Tapi, aku tidak menyesal, ini adalah keputusanku sendiri.

Aku hanya memiliki dua pilihan. Jika aku memutuskan untuk bertahan hidup, Sakura akan menderita. Pilihan kedua adalah Sakura akan bertahan dengan bantuan Tsunade, tapi aku pasti akan tertangkap lagi dan mereka akan membunuhku. Aku sudah memutuskan untuk memilih yang kedua, meskipun aku tidak tahu apakah Sakura akan berhasil.

Sakura lebih berhak untuk melanjutkan hidupnya. Ia memiliki hati yang baik, keluarga dan teman yang sangat menyayanginya, dan aku tidak ingin dunia ini kehilangan senyumnya yang hangat. Aku yakin ini adalah hal yang benar, aku tidak perlu bersedih. Aku percaya, Sakura pasti bisa bahagia meskipun tanpa aku.

Ahh, jadi begini rasanya mati, kurasa tidak seburuk yang aku pikirkan selama ini. Aku tidak merasakan sakit atau tersiksa. Kuharap aku bisa bertemu dengan ayah, ibu, dan kakak. Aku ingin memiliki keluarga yang utuh seperti dulu. Aku ingin menjadi Sasuke kecil lagi, tinggal dengan keluarga yang menyayangiku, bermain dengan Nii-san, dan bahagia dalam kehangatan yang dulu pernah kurasakan. Aku ingin melupakan kalau aku pernah mendekam di penjara, aku ingin melupakan semua penderitaan yang pernah kualami. Aku pernah dengar soal ini, disaat terakhir seseorang akan mengingat semua hal yang pernah terjadi dalam hidupnya. Jadi begini rasanya, aku penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dimana ini? apakah ini surga? Atau neraka? Aku berdiri tapi aku tidak bisa melihat lantai yang aku pijak, semuanya berwarna putih. Tidak ada dinding pembatas, tidak ada angin yang berhembus. Ini adalah ruang kosong yang tak terbatas. Apa yang harus kulakukan? Tidak ada seorang pun disini.

Kucoba memejamkan mata dan aku merasa tubuhku semakin ringan. Perlahan aku mencoba untuk merentangkan kedua tanganku seolah ingin terbang. Kunaikkan kedua tanganku bersamaan, tapi hanya tangan kananku yang terangkat. Apa yang terjadi?, aku terkejut dan kuputuskan untuk membuka mata. Tubuhku seperti tertutup asap tebal. Aku tidak bisa melihat tangan kiriku, aku merasa ada yang menggenggam erat tanganku. Entah kenapa aku jadi merasa nyaman dan hangat. Dalam hati aku jadi bertanya-tanya, apa aku benar-benar sudah mati?

=0=0=0=0=0=0=0=

'Apa aku benar-benar sudah mati?'

Aku masih menanyakannya dan tanpa sadar aku sudah tidak di tempat itu lagi. Aku bisa melihat seseorang menggenggam erat tanganku dan ia ternyata adalah… Sakura?!. Kenapa ada Sakura di sampingku? Apa yang sebenarnya terjadi? Tempat apa ini?

Kupaksakan tubuhku untuk bangkit dan itu membuatku setengah berteriak kesakitan, tapi untunglah Sakura tetap tenang, tangannya masih menggenggamku dan aku tidak berusaha melepasnya. Aku tidak tahu ini tempat apa, tapi yang jelas ini masih di Konoha. Aku dan Sakura berbaring di dua ranjang berbeda yang didekatkan. Tubuhku terbalut kassa putih yang menutupi dada sampai perut, begitu pula bahu sampai lengan kiriku. Tidak ada lagi rantai di pergelangan tanganku, sedikit aneh rasanya, bisa menggerakkan tanganku seringan ini. Kemudian pandanganku beralih pada Sakura yang berbaring di sebelah kiriku. Tangan Sakura terasa hangat dan wajahnya sudah tidak pucat lagi, pipinya terlihat merona dan ia terlihat tenang, untuk beberapa lama aku terus memperhatikannya sampai aku tidak sadar kalau ada seseorang yang menghampiriku.

"Kau sudah bangun rupanya, jangan takut, semuanya baik-baik saja," ucap wanita berambut pirang yang berdiri di sampingku. Aku hanya menatapnya dengan heran dan mulut sedikit terbuka. Kalau tidak salah, ia adalah Tsunade,ia tidak terlihat seperti orang jahat, bahkan ia tersenyum padaku.

Aku tidak yakin apakah aku harus membalas senyumnya, aku tidak bisa langsung percaya pada orang yang kutemui dan pada akhirnya aku hanya memilih untuk diam.

"Oh ya, Naruto ingin bicara padamu," kata wanita itu sambil beranjak pergi menuju pintu keluar.

"Tunggu!" aku berkata dan wanita itupun menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arahku.

"Bagaimana keadaan Sakura?" aku bertanya dengan nada sedikit ketakutan. Aku tidak sanggup kalau harus mendengar kabar buruk. Tsunade tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, seolah sengaja membuatku semakin penasaran.

"Ia baik-baik saja," ucapnya dengan tersenyum.
"Sebenarnya operasi yang kulakukan saat itu berhasil, tapi sistem imunnya belum pulih. Karena itu, keadaan Sakura sangat menjadi lemah. Untunglah kau membawanya tepat waktu," lanjut Tsunade.

Aku tercengang mendengarnya, tapi dibalik raut wajah ini, hatiku melompat kegirangan. Aku masih tidak percaya dengan kalimat yang baru saja kudengar, aku benar-benar bersyukur karena doaku terkabul.

Tsunade melanjutkan langkahnya ke luar ruangan. Tidak lama setelah ia keluar, Naruto masuk. Jubah hokage yang ia pakai membuatnya terlihat lebih berwibawa. Naruto menghentikan langkahnya setelah berada di samping ranjangku, pandangannya tertuju pada tanganku dan Sakura yang saling berpegangan erat. Aku bisa membaca perasaan cemburu yang tertulis dengan jelas di wajahnya. Melihat itu, aku langsung berusaha melepaskan genggaman Sakura yang sangat erat.

"Tidak perlu," kata Naruto tiba-tiba.
"Sakura sendiri yang meminta agar kau berada di sampingnya," lanjutnya. Aku baru tahu kalau Sakura sudah sadar lebih dulu daripada aku.

Ekspresi Naruto masih tidak berubah setelah ia mengatakan kalimat yang baru saja kudengar. Kemudian kami hanya terdiam, aku merasa tidak nyaman berada dalam keadaan yang aneh ini.

"Selamat, kau sudah menjadi hokage…" kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan untuk lepas dari keheningan ini. Ekspresi naruto masih tetap sama dan itu membuatku sedikit kesal. Ia sama sekali tidak menanggapi apa yang kukatakan. Ah, baiklah, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi.

"Aku mendengar kabar bahwa kau telah mengalahkan Orochimaru, apa itu benar?" kata Naruto setelah kami terdiam cukup lama.

"Darimana kau tahu?" tanyaku heran. Aku tidak merasakan ada orang lain saat pertarungan itu.

"Saat itu, Kakashi mengutus anjingnya, Pakkun, untuk mengikutimu. Ia memutuskan untuk memberitahuku setelah tahu bahwa kau menyerahkan diri." Kata Naruto. Sekarang jelaslah sudah semuanya.

"Ya, aku membunuhnya karena ia menghalangiku," jawabku jujur.

"Aaaargh.., kau kabur dari penjara dan menjadi buronan, menyelamatkan Sakura, lalu mengalahkan Orochimaru sendirian. Apa maumu hah? Kenapa kau tiba-tiba bertindak sebagai pahlawan dan mengambil alih peran utama yang seharusnya menjadi milikku?" gerutu Naruto, ia terlihat kekanak-kanakan saat mengatakannya.

'Apa-apaan orang ini, tiba-tiba marah dengan alasan yang konyol, apa dia bodoh?' aku tertegun, tentu saja aku tidak berani mengatakan isi pikiranku di depan hokage.

"Ehrrmm.." Naruto membersihkan tenggorokannya dan kembali tenang.
"Itu adalah kalimat yang akan diucapkan oleh Naruto yang lama, tapi sekarang aku adalah seorang hokage dan kepentingan desa adalah hal yang utama. Jadi aku ingin berterimakasih padamu." Ia terlihat serius saat mengatakannya, tapi aku terlalu bingung untuk menanggapi sikapnya yang kupikir cukup aneh.

Aku masih tidak habis pikir kenapa aku masih dibiarkan hidup. Apa mungkin mereka mempunyai rencana lain, atau mungkin mereka ingin membuatku lebih menderita lagi dengan membiarkan aku sembuh seolah memberiku harapan, lalu mereka akan menghancurkanku sehancur-hancurnya. Pikiranku dipenuhi prasangka buruk, aku ingin penderitaan ini berakhir.

"Kenapa..? kenapa kau tidak mengambil mataku? Dari awal, mata ini yang kalian inginkan, kenapa kalian tidak langsung membunuhku saja?" ucapku sambil menunduk. Kali ini aku melepaskan genggaman Sakura dan tanganku beralih menggenggam seprei.

"Aku tidak ingin mengorbankan orang yang tidak bersalah…" ucap Naruto pelan.

"Bohong. Kau mengatakan bahwa kepentingan desa adalah yang utama, bukankah kalian menginginkan sharingan ini untuk tujuan itu?!" kali ini nada bicaraku terdengar lebih kasar dan aku tidak peduli.

"Ya, tapi itu tidak berarti bahwa kau harus mati. Karena itu, aku ingin memintamu untuk melindungi desa bersamaku." Naruto mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman.

Aku terkejut mendengar jawabannya. Apa-apaan ini?! Tiba-tiba saja ia memintaku membantunya melindungi desa seolah itu adalah hal mudah. Apa ia pikir aku akan langsung tergiur dengan tawaran konyolnya?

"Tidak. Aku bukan bagian dari desa ini. Tidak ada gunanya melindungi orang-orang yang selama ini membenciku." Balasku kasar. Aku mendepak tangannya yang masih menunggu untuk bersalaman.

"Itu hanya perasaanmu, aku bisa jelaskan pada semua orang. Kau tidak perlu khawatir." Kali ini suara Naruto terdengar lebih tegas. Anak ini benar-benar memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kalimat yang ia ucapkan seolah memiliki kekuatan yang absolut, tapi tetap saja aku tidak mau menurutinya.

"Keberadaanku bagi desa ini tidak penting. Lagipula aku sudah mempercayakan Sakura padamu, kau lah orang yang sempurna dan bisa membuatnya bahagia. Kalian sudah ditakdirkan untuk bersama, keberadaanku hanya akan menjadi pengganggu," ucapku setengah berteriak. Entah kenapa dadaku sedikit sesak saat mengatakannnya. Aku tidak perlu hidup lebih lama lagi karena aku sudah merelakan seseorang yang selama ini menjadi alasan bagiku untuk bertahan.

Aku tidak mendengar jawaban dari Naruto. Ia hanya menunduk sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Untuk beberapa menit kami terdiam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami. Keheningan ini terasa seperti berjam-jam lamanya.

=0=0=0=0=0=0=0=

"Apa kau berpikir bahwa aku bisa membuat Sakura bahagia?" kalimat itu tiba-tiba terlontar dari mulut Naruto. Aku bisa mendengar kalau suaranya sedikit gemetar.

"Ya," jawabku sambil mengangguk.
"Kau bisa menepati janjimu padanya dan kau adalah seorang hokage. Kau bisa melakukan segalanya."

"Mungkin kau benar. Aku adalah seorang hokage, semua orang menghormatiku. Aku memiliki kekuatan untuk mewujudkan apa yang aku inginkan. Tapi aku sadar kalau aku… tidak akan pernah bisa membuat Sakura mencintaiku sebagai kekasih. Sampai kapan pun perasaannya padaku tidak akan pernah berubah."

Deg… jantungku tersentak mendengar ucapannya. Aku menatapnya dengan membuka mata lebar-lebar. Aku masih tidak bisa melihat ekspresinya, ia masih tetap menunduk. Otakku masih berusaha mencerna kalimatnya, dan sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, Naruto melangkah mendekat ke arahku.

BUAGH…, rasa sakit tiba-tiba kurasakan saat Naruto melayangkan tinjunya ke pipi kiriku. Aku tidak terlalu menghiraukan rasa sakit ini karena aku lebih terfokus pada kalimat yang ia teriakkan.

"Karena itu, sebaiknya kau tetap hidup dan membahagiakan orang yang mencintaimu!" Naruto meredakan emosinya sambil menatapku yang sedang berusaha memperbaiki posisi setelah terkena pukulannya.

Aku hanya tercengang di hadapannya. 'Apa ia serius dengan ucapannya?' aku tidak ingin menyalahartikan kalimatnya, "A-apa maksudmu?"

"Aku juga ingin membuat Sakura bahagia. Kalau pun pada akhirnya Sakura mau hidup bersamaku, aku tetap tidak akan bisa memiliki hatinya. Mungkin ia akan tersenyum di depanku, tapi dalam hati ia akan selalu menangisi kepergianmu. Aku juga mencintainya, karena itulah aku mengerti." Naruto terengah-engah setelah mengatakannya. Ekspresinya tidak bisa kuterjemahkan, antara marah, sedih, dan lega.

Pandanganku beralih pada Sakura, wajahnya masih terlihat tenang seolah ia sedang bermimpi indah dalam tidurnya. Sakura sangat beruntung, ia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.

"Kalau kau membuat Sakura bersedih, aku sendiri yang akan langsung mengirimmu ke neraka." Setelah mengatakan kalimat itu Naruto membalikkan badannya, ia sengaja menyembunyikan raut wajahnya dariku.

"T-Tunggu!" ucapku menghentikan Naruto yang sedang beranjak pergi. Ia pun sedikit menoleh, menunjukkan mata birunya yang sedikit berkaca-kaca.

"Naruto, Arigatou…" dengan tulus aku mengatakannya. Aku tahu Naruto mendengarnya, tapi lagi-lagi ia menyembunyikan ekspresinya dan terus berjalan sampai akhirnya ia keluar dari ruangan ini. Ia menutup pintu rapat-rapat dan membiarkan aku berdua dengan Sakura.

Aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Dalam hati aku terus bersyukur. Tanganku kembali menggenggam tangan Sakura dengan erat dan itu membuatnya terusik dari tidurnya.

"S-Sasuke…" Sakura membuka matanya sambil menyebut namaku. Sinar mata emeraldnya telah kembali, aku bisa melihat semangat kehidupan yang terpancar dan itu membuatnya terlihat sangat mempesona. Perlahan sakura berusaha duduk dan aku pun membantunya.

"Sakura…" Tanpa berpikir panjang, aku langsung memeluknya, menyampaikan kehangatan di hatiku dengan mendekapnya erat-erat.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan melindungimu, selamanya." Tanpa sadar air mataku menetes. Tapi, ini adalah air mata bahagia. Aku membiarkan air mata ini mengalir dan aku tidak berusaha menghentikannya. Mungkin Sakura merasa bingung dengan yang aku katakan, tapi ia hanya diam dan membalas pelukanku, seolah ia bisa mendengar bisikan hatiku.

=0=0=0=0=0=0=0=

#Normal PoV#

Beberapa minggu kemudian…

Seorang gadis berambut merah jambu terlihat sedang duduk tenang di bawah sebuah pohon yang rindang. Raut wajahnya terlihat sedikit cemas, ia sedang menunggu seseorang. Seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.

Tempat ini adalah tempat yang penuh kenangan baginya. Dari tempatnya berteduh, ia bisa melihat tembok penjara yang berdiri kokoh, bahkan setelah penyerangan besar yang telah terjadi. Di tempat inilah ia menemukan cintanya.

Waktu terus berlalu, masa-masa yang menyedihkan telah terlewati. Kini semuanya telah berubah, menjadi lebih baik. Sakura mengingat kembali segala hal yang telah terjadi dalam beberapa minggu ini. Ia masih mengingat dengan jelas saat ia merasa putus asa dan berpikir bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan Sasuke, tapi kemudian ia terbangun dalam pelukan orang yang ia cintai.

Keadaan Sakura sudah jauh lebih baik. Penyakitnya sembuh total dan ia mulai belajar untuk menjadi ninja medis, ia berlatih dengan giat dan sudah menjadi lebih kuat, tapi ia masih belum diizinkan untuk menjalankan misi. Kini ia sedang menunggu kepulangan Sasuke yang sedang dalam misi. Ia sedikit khawatir, tapi ia tahu Sasuke pasti akan menepati janjinya.

Sasuke yang sekarang bukanlah seorang missing-nin yang diburu Konoha. Ia kini menempati posisi khusus. Secara sederhana bisa dibilang kalau ia adalah ksatria yang bekerja langsung di bawah komando Hokage. Ia memutuskan utuk menerima tawaran Naruto waktu itu, paling tidak itu ia lakukan untuk membalas kebaikannya. Hak-hak Sasuke sebagai sebagai seorang Uchiha juga telah dikembalikan. Ia diizinkan untuk menempati kediaman Uchiha yang dulu. Masyarakat juga mulai menerimanya dan tidak menganggapnya sebagai pengkhianat.

Hubungan Sasuke, Sakura, dan Naruto berjalan baik. Namun, Sasuke dan Naruto masih sering bertengkar karena berbeda pendapat atau karena Naruto sengaja menggoda Sakura untuk membuat Sasuke kesal. Sakura menanggapi hal ini dengan wajar karena memang pada dasarnya mereka adalah rival. Tapi, semua itu bukan masalah karena mereka akan mengakhirinya dengan tertawa bersama.

Sakura benar-benar bahagia karena ia tidak harus kehilangan siapa pun. Ia memiliki Sasuke yang ia cintai dan juga sahabat yang akan selalu menjaganya. Mungkin Naruto masih mencintainya, tapi Sakura tahu kalau sahabatnya itu adalah seseorang yang kuat. Ia pasti akan menemukan orang lain yang benar-benar mencintainya.

=0=0=0=0=0=0=0=

Sakura semakin tidak sabar menunggu. Misi Sasuke kali ini terjadi karena kekesalan Naruto. Hokage muda itu kadang memanfaatkan posisinya untuk melampiaskan kekesalannya dengan menyuruh Sasuke untuk menjalankan misi dan dengan wajah sebal Sasuke terpaksa menurutinya. Ini benar-benar menyusahkan, tapi Sasuke tahu kalau ia kesulitan, Naruto tidak akan ragu untuk menolongnya. Tanpa mereka sadari, muncul ikatan yang disebut persahabatan, dan semakin lama ikatan itu semakin erat.

Hanya satu orang yang hatinya masih belum luluh, Danzo. Dengan sekuat tenaga Sasuke menahan kebenciannya dan menghormati kakek tua itu. Namun Danzo terlihat masih tidak menyukai hubungan Sasuke dengan cucunya. Meskipun begitu, ia hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Mungkin waktu lah yang bisa mengubah kerasnya hati pria itu.

Lamunan Sakura tiba-tiba buyar saat sebuah pesawat kertas mendarat di depannya. Ini benar-benar mengingatkannya pada masa lalu dan ia sudah tahu siapa yang menerbangkan pesawat kertas itu. Ia membuka lipatan kertas biru itu tapi tidak ada kata-kata yang tertulis di dalamnya. Ia pun langsung berdiri dan menoleh pada orang yang ia tunggu sejak lama.

"Sasuke-kun…" gadis itu segera berlari ke arah Sasuke. Uchiha terakhir itu terlihat semakin gagah. Ia terlihat sangat tampan dengan baju putih berkrah tinggi yang ia kenakan. Kulitnya yang putih sudah tidak dipenuhi bekas luka. Tidak ada lagi rantai pengikat yang membuatnya menderita. Ia juga sudah tidak sekurus dulu lagi, dan yang terpenting wajahnya sudah lebih sering dihiasi dengan senyuman.

Sakura memeluk Sasuke dengan erat, ia bisa mendengar detak jantung Sasuke yang membuatnya tenang. Sasuke membalas pelukan gadis itu dan mencium rambut pinknya yang diterpa angin. Untuk beberapa saat mereka berpelukan untuk melepas kerinduan, mengabaikan pagar penjara yang berdiri kokoh yang dulu memisahkan dunia mereka. Kini pagar itu menjadi saksi berseminya cinta mereka berdua.

"Aku mencintaimu, Sakura…" ucap Sasuke sambil membelai rambut kekasihnya. Kini Sasuke bisa mengatakan kalimat itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Ia tidak lagi berpikir apakah ia pantas mendampingi Sakura karena kini ia telah bebas. Kebahagiaan ini adalah hasil dari kesungguhannya dan karena ia tidak putus asa. Kebahagiaan ini adalah awal dari hidupnya yang baru dan ia masih akan terus berjuang untuk mempertahankannya.

Pandangan Sasuke beralih ke langit yang luas. Langit itu terlihat kemerahan, sama seperti wajah mereka berdua yang merona. Dalam hati Sasuke menyampaikan kebahagiaannya pada keluarganya yang telah tiada. Mungkin selama ini mereka mengkhawatirkannya dari suatu tempat di langit. Kini mereka bisa beristirahat dengan tenang, nama baik Uchiha telah kembali.

Sakura memperhatikan Sasuke yang melamun ke arah langit. Tidak lama kemudian Sasuke tersadar lalu mata onixnya bertemu dengan mata emerald Sakura. Sasuke melepaskan pelukannya lalu mereka bergandengan tangan untuk pulang ke Konoha. Sebelum beranjak pergi Sakura menerbangkan pesawat kertas yang tadi ia dapat. Ia menerbangkannya melewati pagar penjara sebagai salam selamat tinggal. Ia tidak memerlukan pesawat kertas itu lagi karena kini orang yang ia cintai telah ada di sisinya.

=0=0=0=0=0=0=0=

The End…

=0=0=0=0=0=0=0=


.

.

.

A/N:

Huaaaaaaaaa ini benar-benar yang terakhir… hiks
Aku harap ini bukan ending yang buruk. Aku mungkin akan membuat fic Sasusaku lagi meskipun aku tidak terlalu yakin…

=0=0=0=0=0=0=0=

Hey, kamu! Ya, kamu yang baru saja selesai membaca fanficku…
Ini adalah yang terakhir dan kamu masih mengabaikan kotak review yang ada di bawah?
Teganya… hiks… paling tidak katakan sesuatu tentang fic ini…

Arigatou, minna… Arigatou gozaimasu…