.
.
.
Langkah kaki mungilnya – yang dibalut sepasang sepatu putih – berjalan tergesa menyusuri koridor sekolah barunya. Lebih tepatnya Minho sedang menyamakan langkah kakinya dengan guru barunya, yang berjalan bersisihan dengannya. Sesekali kepalanya mendongak untuk menatap dagu lancip Kibum. Seandainya Minho sudah dewasa, bisa dipastikan ia tidak perlu merasa kesulitan menatap wajah cantik Kibum setiap saat. Tapi mengingat usianya yang saat ini baru menginjak 5 tahun, tinggi tubuh Minho tidak lebih dari 90 cm. Sebenarnya tinggi bocah bermata bulat itu tergolong tinggi jika dibandingkan dengan anak yang seumuran dengannya. Beruntung juga Minho memiliki gen Choi yang terkenal dengan rataan tinggi menjulang. Itu artinya, didalam tubuhnya mengalir gen Choi yang kuat dari appanya.
"Seonsaenggg ~~~" ucapnya sedikit terengah karena kakinya terus dipaksa untuk mengejar langkah kaki panjang Kibum.
Guru muda itu sontak menghentikan langkah kakinya dan menatap murid barunya yang sudah mengeluarkan banyak keringat diwajahnya. "Wae, Minhonnie ? Kenapa kamu cepat sekali berkeringat hmm ?" Yeoja cantik itu merogoh saku dress selutut yang membalut tubuh sempurnanya. Setelah menemukan benda yang bersembunyi dibalik saku dressnya, tangan kanannya terulur menempelkan saputangan yang selalu ia bawa. Benda tipis itu terus menggesek permukaan wajah mulus Minho hingga bulir keringat itu menghilang.
Sementara itu, Minho hanya diam sembari menatap penuh kekaguman pada wajah memesona gurunya. Wajah cantik Kibum membuat sepasang mata tajamnya enggan mengalihkan pada pemandangan lain.
Tidak salah memang jika bocah seusia Minho langsung jatuh hati pada sosok keibuan yang melekat dalam diri Kibum. Banyak murid di playgroup yang senang dengan kehadiran Kibum. Sosok Kibum yang ramah dan selalu mengumbar senyum, membuat banyak murid betah jika berlama-lama di playgroup.
"Sonsaenggg ~~" Tangan mungil Minho menarik ujung dress yang dikenakan Kibum ketika yeoja cantik itu memberikan isyarat untuk kembali melanjutkan langkah kaki mereka.
Kibum sekali lagi menghentikan langkah kakinya dan menatap penuh rasa heran pada sosok penghuni baru di kelasnya. "Ne ?" Tangan rampingnya mengusap pelan puncak kepala Minho lalu merapikan poni tipis yang menutupi dahi bocah tampan itu.
"Bisakah kita bergandengantangan, sonsaenggg ? ~~" tanyanya dengan wajah penuh harap.
Kibum tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepalanya. Menyanggupi permintaan muridnya. Toh, Kibum tidak akan bisa menolak atau mengatakan 'tidak'. Sebagai guru yang sudah selama 2 tahun ini berkecimpung didunia yang dipenuhi anak-anak, Kibum bisa membaca pancaran mata yang ditampilkan Minho tadi. Sulit untuk mengartikan apa yang hendak Minho sampaikan melalui kontak mata dengannya beberapa menit yang lalu. Hanya saja, Kibum bisa merasakan selipan rasa rindu yang ia tangkap saat melihat Minho tempo hari.
"Kajjaaaaaaa ~~~" Dengan penuh semangat, Minho menggenggam tangan gurunya lalu menggoyangnya dengan riang. Senyuman lebar terpasang dibibir tebalnya saat indera pendengarannya menangkap senandung lagu yang dilantunkan Kibum. Kakinya yang semula lemas karena berusaha menyamakan langkah gurunya, kini memiliki nyawa tersendiri untuk berjalan.
.
.
.
Choi's Mansion
Choi halmeoni – si pemilik mansion mewah – tengah sibuk memotong tangkai mawar yang akan dijadikan hiasan di rumahnya. Dengan telaten, yeoja yang sudah menginjak usia 70 tahun itu nampak tenang memotong setiap tangkai mawar yang dipetik langsung dari kebun.
"Jika halmeoni tidak ingin berbicara denganku, lebih baik aku kembali ke kantor, ne," ucap namja tampan dengan balutan jas rapi itu. Tangannya meraih cangkir kopi miliknya yang berada diatas meja lalu meneguk minuman pahit itu hingga beberapa kali.
BRAK
Suara gebrakan yang terjadi akibat Choi halmeoni yang dengan sengaja menghentakkan kedua tangannya diatas permukaan meja. Langkah kaki Siwon yang sudah beberapa langkah menjauhi sosok neneknya, seketika terhenti dan langsung menatap kaget.
"Seharusnya kamu mempertimbangkan saran yang aku berikan, Choi Siwon !" Nada suaranya yang tajam membuat nyali Siwon untuk menginterupsi menjadi ciut. Jika yeoja tua itu sedang marah, maka ia tidak berani mengucapkan sepatah katapun. Menghiraukan getaran smartphone yang berada dalam saku celana kerjanya, Siwon berbalik arah dan kembali menghuni sofa yang beberapa menit yang lalu ia tinggalkan.
"Halmeoni, jangan memaksaku. Aku belum bisa melupakan keberadaan Hana disisiku."
"Omong kosong ! Hana sudah meninggal 5 tahun lalu. Kamu pikir Minho hanya cukup dengan sosokmu ? Demi Tuhan, Choi Siwon. Minhonnie juga membutuhkan sosok ibu. Jangan egois dengan perasaanmu pada Hana." Luapan amarah yang sudah lama dipendam sosok yeoja tua tadi meledak begitu saja. Emosinya dengan mudah membuncah jika dikaitkan dengan sosok Minho, cucu tunggal di keluarga Choi.
Kedua tangan Siwon mengacak rambutnya dengan kasar. Ia sudah lelah jika berdebat dengan neneknya mengenai calon pengganti Hana – ibu dari Minho –. Meski Siwon sudah berulangkali mencoba mencari sosok yeoja yang tepat untuk menggantikan peran Hana didunia, hal ini tetap saja mustahil bagi Siwon. Sosok sempurna Kim Hana terlalu sempurna untuk dibandingkan dengan yeoja manapun. Kim Hana adalah sosok yeoja yang menurut pandangan Siwon sudah memenuhi seluruh kriteria yang tidak dimiliki yeoja lain.
Siwon tidak mengelak jika dirinya memang membutuhkan belaian dan perhatian dari sosok pendamping hidupnya. Sayangnya, sosok yeoja yang ia cintai sudah terlebih dulu meninggalkannya. Belum lagi pekerjaannya sebagai pekerja kantoran membutuhkan konsentrasi lebih. Sebagian besar waktunya ia habiskan dengan tumpukan map yang memenuhi meja kerjanya. Padahal Siwon memiliki sosok malaikat kecil yang sedang dalam fase pertumbuhan. Yang tentunya membutuhkan perhatian lebih.
Selama ini saja, sosok Choi halmeoni yang sementara waktu mengisi kekosongan tempat yang ditinggalkan Hana. Yeoja tua itu sering kali mengunjungi rumah Siwon lalu menghabiskan waktu bersama Minho. Terkadang Choi halmeoni menginap di rumah cucunya karena Siwon yang menghabiskan waktu hingga larut malam untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku tidak memaksamu, Siwonnie." Choi halmeoni beranjak dari duduknya kemudian mengusap lembut kepala Siwon yang tertunduk lesu. "Hanya saja… Aku sudah tua. Aku tidak bisa setiap waktu menemani Minho. Kedua orangtuamu sibuk dengan bisnis yang keluarga kita jalankan." Selesai mengucapkan kalimatnya, Choi halmeoni segera melangkah keluar ruangan. Meninggalkan Siwon yang merenungi ucapan neneknya.
Bukan hal mudah dalam mencari sosok pendamping bagi namja setampan Siwon. Hanya saja, kriteria yeoja yang mengisi kekosongan tempat yang ditinggalkan Hana bukan sekedar untuk menemani Siwon saja. Tapi juga menerima keberadaan Minho. Mencurahkan seluruh perhatiannya pada bocah hasil pernikahannya dengan Hana.
Siwon tidak mau gegabah. Jika ia salah melangkah dalam memilih calon pendamping, sama halnya ia menghancurkan masa depan anaknya. Disisi lain, perasaannya tidak bisa dibohongi jika separuh jiwanya turut dibawa Hana pergi. Siwon begitu mengagumi dan memuja Kim Hana sebagai yeoja yang merebut hatinya. Sosok sederhana yang nampak dari penampilan Hana membuat Siwon langsung terkesan. Ditambah suara merdu Hana seketika menghentak dan membuat pacu jantungnya menjadi tidak normal.
Drrttt… Drrrttt…
Lamunan Siwon buyar ketika smartphonenya kembali bergetar. Baru saja ibu jarinya menyentuh tombol hijau yang muncul pada layar gadget canggihnya, lengkingan suara langsung membuat telinganya berdengung.
Siwon menjauhkan sejenak smartphonenya dari daun telinganya. Menunggu hingga lengkingan suara boss-nya mereda.
"Yoboseo…" sapanya dengan nada suara lembut dan tenang.
"CHOI SIWON ! KAMU INGIN AKU LEMPAR DARI LANTAI 16 HAH ? KAMU ADA RAPAT DENGAN KLIEN DARI ITAEWON, BODOHHHH !"
BEEP
Siwon menepuk dahinya hingga menimbulkan suara cukup nyaring. Padahal ia tadi sempat berpamitan kepada neneknya untuk segera kembali ke kantor karena ada rapat dengan klien penting perusahaannya.
Tanpa menunggu boss-nya kembali berteriak untuk yang kedua kalinya, namja gagah itu segera melesat keluar dari mansion mewah keluarganya. Jika ia terlambat terlalu lama, bisa dipastikan selama seminggu penuh ia akan mendapatkan sindiran dari boss-nya selama di kantor. Dan Siwon bersumpah, setiap ucapan yang keluar dari bibir pimpinan perusahaannya sangat tidak enak untuk didengarkan.
.
.
.
Hari pertama di playgroup barunya, Choi Minho tidak merasakan kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ataupun dengan teman barunya di kelas. Buktinya, sekarang ia bisa bergabung dengan sekelompok anak seusianya yang duduk melingkar. Ada 3 bocah laki-laki dan seorang anak perempuan. Dan menurut Minho, anak perempuan itu terlihat manis dan menggemaskan. Pipinya terlihat chubby ketika menyunggingkan senyuman.
Dihari pertamanya menghuni sekolah baru, Minho lebih pasif dari biasanya. Bocah laki-laki itu ingin mengamati kebiasaan teman-teman barunya.
"Minhonnie ~~ Kamu mau memakai ini ?" Anak perempuan dengan model rambut diikat tinggi layaknya ekor kuda itu menyodorkan pita berwarna pink didepan wajah Minho. Mata jernihnya mengerjap berulang-ulang sembari memberikan tatapan memohon.
"Unggg… Aku ingin pipis, Minnie," tolaknya dengan halus dan Minho segera berjalan menjauhi anak perempuan bernama Lee Sungmin itu. Sungmin menyembulkan bibir bawahnya dengan sengaja karena objek kelinci percobaannya lepas dari tangkapannya. Sungmin sedikit menggeser duduknya dan melirik sosok bocah yang tak mengeluarkan sepatah katapun sedari tadi.
"Kyunnie ~~ Mau kan memakai ini ?" Sungmin kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada bocah laki-laki yang duduk berdampingan dengannya. Bocah dengan tampilan wajah cenderung datar itu hanya diam sembari membuang wajahnya kesamping. Sepertinya menolak tawaran teman sekelasnya. Bocah bernama Cho Kyuhyun itu segera menarik headset yang terhubung dengan iPod yang terselip didalam saku celananya.
Senyuman yang terus dipamerkan Sungmin semakin melebar saat melihat satu-satunya objek yang tengah ditatapnya, sibuk menikmati cemilan dengan rakusnya. Setelah mendapat penolakan dari Minho dan Kyuhyun, ia yakin jika Shim Changmin satu-satunya harapan. "Changminnn ~~ Kamu mau memakai ungg ~~ ini ?" Telapak tangan Sungmin menyodorkan sebuah pita pink.
"Uhuukkk … Uhukkk …" Makanan yang tengah mengisi rongga mulut Changmin seketika mnyembur keluar saat bola matanya mendapati benda mengerikan itu. Oh ayolah, Kyuhyun – Sungmin – Changmin sudah berteman sejak awal masuk playgroup. Dan kedua bocah itu sudah teramat hafal dengan kebiasaan Sungmin yang teramat suka menarik-narik mahkota kepala mereka lalu dihiasi dengan pita mengerikan itu.
"Ahhh ~~ Gomawo, Minnieeee ~~" Tanpa persetujuan Changmin, kedua tangan Sungmin sudah bergerak meraih rambut pendek Changmin.
"YA ! Kepalaku sakit, Min." Changmin dengan sigap melindungi kepalanya yang sudah dijamah tangan Sungmin.
"Jadi, tidak mau ?" Pita yang berada dalam genggaman tangan Sungmin terjatuh. "Hiksss… Jahattt ~~huweeeeeeee…"
Kyuhyun melepas headsetnya kasar karena lengkingan suara tangisan Sungmin berhasil mengalahkan lantunan lagu yang sedang didengarkannya. Kedua matanya menatap Changmin yang sibuk menghentikan tangis Sungmin.
"Arraseo. Minnie boleh memasang benda itu dikepala Kyunnie."
Dalam sekejap, tangis Sungmin mereda dan digantikan dengan sunggingan senyum lebar. "Uwaaaa…. Gomawo, Kyunnie."
Tangan Sungmin dengan cekatan mengumpulkan beberapa helaian rambut cokelat Kyuhyun dan diikat dengan pita miliknya. 2 buah pita berwarna pink cerah sudah menghiasi kepala Kyuhyun. Jika bukan karena suara tangis Sungmin yang menarik perhatian teman sekelasnya, ia tidak akan mau mengorbankan rambutnya lagi.
.
.
.
Keesokan harinya…
Jam 7 tepat, sang ayah muda sudah duduk mengisi kursi yang berada paling ujung di meja makan. Diatas piring sudah ada setangkup sandwich serta secangkir cappuccino yang diletakkan sejajar dengan piring.
Tentunya yang menyiapkan semua ini bukan Siwon. Ia bahkan tidak tau bagaimana cara menggunakan roaster. Setiap pagi salah satu maid yang bekerja di mansion keluarga Choi akan menyiapkan semua dari sarapan hingga membantu Minho mengenakan pakaian seragamnya. Park adjumma – maid yang sudah lama bekerja di keluarga Choi – dengan sabar menjalankan tugasnya. Beruntung Minho tidak terlalu nakal dan cenderung penurut.
"Adjumma, Minho kenapa belum turun ?" Siwon melirik kursi yang biasa ditempati Minho tak berpenghuni.
"Ah, Minho sedang memakai seragamnya sendiri, Tuan."
Siwon menautkan kedua alisnya. Tidak biasanya Minho mau memakai seragamnya seorang diri. Biasanya Park adjumma selalu membantu anaknya mengenakan seluruh perlengkapan sekolahnya. Karena diselimuti rasa penasaran yang besar, Siwon memilih beranjak dari kursinya. Kakinya yang dibalut sandal rumah menapaki satu persatu anak tangga menuju slaah satu ruangan yang ada di lantai 2.
Tok. Tok. Tok…
Punggung jari tangan Siwon mengetuk pelan permukaan pintu kayu yang ada didepannya. Telinganya sengaja ditempelkan pada daun pintu karena tidak kunjung mendengar sahutan dari dalam ruangan.
"Minho… Boleh appa masuk ?" Siwon sengaja meninggikan nada suaranya agar mampu menelusup masuk menembus daun pintu kamar anaknya.
Grosakk… BRUK…
Siwon langsung menerobos masuk kamar anaknya ketika mendengar suara debum beruntun. Dan jantung ayah muda itu hampir lepas ketika melihat sosok bocah laki-laki tengah tersungkur diatas lantai kamar.
"Apa yang kamu lakukan, heh ?" Siwon berjongkok didepan anaknya dan membantu Minho berdiri. Kedua tangannya menepuk pelan seragam yang sudah melekat ditubuh Minho.
Jari telunjuk Minho diangkat tinggi lalu mengarah pada sebuah benda yang ada diatas lemarinya. "Appa… Tolong ambilkan ituuu ~~" Tangan Minho beralih menarik celana bahan yang membalut kaki panjang appanya.
"Parfum ? Tidak biasanya kamu memakai parfum." Dengan proporsi tubuh sempurnanya, Siwon mampu menjangkau letak satu set parfum dengan berbagai macam aroma. "Kamu menyukai salah satu teman di playgroupmu ?" tanyanya sembari menyerahkan satu set parfum yang sengaja ia belikan untuk Minho.
'Dengan Kim seonsaengnim kk ~~' gumam Minho sambil terkikik pelan ketika ia kembali membayangkan wajah cantik gurunya. Ia tidak sabar untuk kembali bertemu gurunya hari ini.
Sppprrttt… Sppprrrttt… Sprrtttt….
"Yah… Jangan terlalu banyak menyemprotkan parfumnya," cegah Siwon lalu merebut botol parfum yang dipegang anaknya.
"Wae ?" sahut bocah itu polos. Tangannya meraih sebuah botol parfum yang lain.
"Tentu baunya akan menyengat. Dan itu malah membuat nilai keindahan sebuah parfum rusak," balas Siwon sambil merengut kesal saat melihat Minho melongo mendengar jawaban darinya. "Intinya jangan menyemprotkan parfum lebih dari 3 kali. Arra ?"
"Ne, Choi appa."
.
.
.
"Adjumma… Aku ingin membawa bekal sandwich sepelti punya appa, ne," ucap bocah laki-laki itu ditengah kegiatannya menikmati sarapan yang dibuat Park adjumma.
"Arraseo. Tapi Minhonnie harus menghabiskan sarapan dulu."
"NE !" jawabnya dengan penuh semangat hingga membuat sang appa tersedak saat hendak menyeruput cappuccino-nya.
Hanya dalam hitungan menit, sandwich dengan porsi kecil yang ada dalam genggaman Minho sudah habis tak bersisa. Siwon yang melihat perubahan sikap anaknya yang lebih ceria dari biasanya, langsung mengulum senyum tipis. Seandainya istrinya masih hidup, pasti ia akan tertawa terbahak bersama melihat tumbuh kembang Minho.
Siwon kemudian menyodorkan segelas susu yang belum disentuh Minho. Ibu jarinya digunakan untuk membersihkan ceceran remah roti yang tertinggal disudut bibir Minho.
"Aigooo ~ Hari ini Choi Minho terlihat sangat bersemangat. Apa teman di playgroup-mu itu sangat cantik, heumhh ?" Siwon mencubit gemas pipi tembam Minho hingga menimbulkan bekas kemerahan.
Minho menggeleng. Takut jika Kim seonsaengnim direbut appanya. "Aniyo."
"Aaahh ~~ Apa seonsaengnim di playgroup-mu sangat cantik ? Kenapa tidak dikenalkan kepada appa ?"
Minho menatap horor sosok tampan appanya. Senyuman yang terpasang pada bibir tipis milik appanya terlihat seperti sebuah seringaian dimatanya. "ANDWAE !" jerit Minho histeris lalu berlari menghampiri Park adjumma yang masih sibuk membuatkan bekal untuk Minho.
Siwon terkekeh geli. Sudah lama ia tidak menggoda Minho seperti ini. Dulu ia sering mengajak Minho berbicara ketika masih berada dalam kandungan. Ya, itu dulu. Hampir 5 tahun yang lalu. Sebelum akhirnya Siwon kehilangan Hana yang tidak bisa bertahan hidup karena pendarahan saat melakukan persalinan anak pertama mereka.
Namun Siwon tidak mau egois. Ia bisa menerima jika Tuhan memiliki rencana indah dibalik kepergian Hana untuk selama-lamanya. Meski kadang ia harus direpotkan dengan aksi menggemaskan Minho yang selalu menyita perhatiannya.
"Minho ! Bus yang menjemputmu sudah datang," teriak Park adjumma ketika menyadari bus berwarna kuning menyala sudah membunyikan klakson berulangkali didepan gerbang rumah.
"Ne, adjumma." Minho menerima uluran tangan Park adjumma dan melangkah melewati appanya tanpa menyapa sepatah katapun.
'Kenapa bocah itu ?' gumam Siwon tanpa berniat menghampiri Minho yang sudah melewati pintu depan rumah.
Drrttt… Drrrttt…
Getaran yang berasal dari smartphone yang menghuni saku celananya membuat gumaman Siwon tidak berlangsung lama. Pesan yang berasal dari boss-nya, yang intinya Siwon harus membuat klien memperbaharui kontrak yang sudah terjalin dengan perusahaan.
"Apa ini milikmu, Siwonnie ?"
Siwon menerima kartu berbentuk persegi yang diulurkan Park adjumma padanya. Matanya bergerak membaca cetakan tulisan yang tertera pada permukaan kartu berwarna soft pink. "Bocah genit !"
.
.
.
Suara bel yang berbunyi nyaring dibarengi dengan teriakan bergemuruh dari seluruh murid di playgroup. Tak terkecuali 3 bocah laki-laki yang akhirnya bisa bebas dari siksaan 'pita pink' yang menghiasi mahkota kepala mereka.
"Kyunnie… Mau mampir minum teh di lumah Minnie ?" tawar Sungmin sambil mempraktekkan gerakan aegyo yang beberapa hari ini dipelajari dari sepupunya.
Bocah bernama Kyuhyun itu menggelengkan kepalanya cepat dan berjalan keluar kelas sambil menyeret tas sekolahnya. Disusul Changmin yang berjalan mengekor dibelakangnya.
"Eomma membuat banyakkkkkk – " Kedua tangan Sungmin direntangkan lebar-lebar. " – makanan."
Changmin yang mendengar kata 'makanan' langsung mencengkeram krah seragam Kyuhyun dan menyeretnya didepan Sungmin.
"Kyuhyun pasti mau, Min hehe…"
Setengah jam sudah berlalu. Keadaan playgroup terlihat sepi dan hanya ada beberapa orang dewasa yang terlihat masih melintasi koridor. Kibum terlihat memasukkan map yang berisi data siswa kedalam laci mejanya.
"Kim seonsaengnim…" Salah seorang petugas yang biasa membersihkan playgroup berdiri didepan meja Kibum.
"Ne ?"
"Salah satu murid Kim seonsaengnim berada didepan ruang guru."
"Mwo ?"
Kibum menggeser kursinya dan bergegas berjalan tergesa keluar dari ruangannya. Dan guru muda itu hanya bisa tersenyum geli melihat Minho yang berjongkok didepan ruangan guru.
"Heyy.. Minhonnie…" Kibum mengulurkan tangannya lalu mengacak rambut hitam muridnya dengan gerakan pelan.
"Kim seonsaenggg ~~~"
"Kenapa belum pulang ? Orangtuamu tidak menjemputmu hmm ?"
Minho menggeleng pelan. "Sonsaenggg ~~ Bisakah kita membeli ice cleam ? Aku ingin ice cleam …" Kedua tangan bocah bermata besar itu merogoh kedua sisi saku celananya dan menggenggam uang receh dikedua tangannya. "Uangku cukup untuk membeli ice cleam."
"Baiklah."
.
.
.
Minho berjalan riang menyusuri halaman playgroupnya sembari menggandeng tangan Kim seonsaengnim. Tubuhnya terlonjak mengikuti irama lagu yang dinyanyikan Kibum.
"Annyeonghaseyo…"
Dan ketika keduanya baru beberapa langkah keluar dari gerbang playgroup, sebuah suara yang terasa familiar di telinga Minho menginterupsi lantunan lagu yang dinyanyikan sang guru muda.
'Appa,' batin Minho.
Kibum membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok tampan Siwon sudah berdiri beberapa langkah didepannya. "Annyeonghaseyo Tuan Choi." Kibum membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat pada orangtua salah satu muridnya.
"Apa saya terlambat menjemput Minho, Kim seonsaengnim ?" Siwon tersenyum semanis mungkin saat berbicara dengan guru dari anaknya. Ekor matanya melirik Minho yang sedang memberikan deathglare padanya. Siwon bersorak senang saat mengetahui idenya untuk menggoda Minho berjalan lancar. Beruntung tadi pagi Park adjumma menyodorkan kartu nama milik Kibum. Didalam kartu nama itu, Kibum mencantumkan jika dirinya adalah staff pengajar di Sapphire playgroup. Pantas saja Minho merengek untuk pindah ke Sapphire playgroup, hal ini dikarenakan Kim Kibum merupakan salah satu staff pengajar.
"Aniyo. Saya berencana mengajak Minhonnie membeli ice cream lalu mengantarkannya pulang, Tuan Choi."
"Ah.. Bagaimana jika kita pergi bersama ke kedai ice cream ? Saya pikir Minhonnie akan senang."
"Oh, baiklah." Kibum mengangguk patuh. Ia bahkan tak menyadari sedang terjadi perang kontak mata antara Siwon dan Minho. Minho seolah tidak rela jika gurunya berdekatan dengan appanya.
Sooo…. Apakah Minho akan diam saja ? Membiarkan Kim seonsaengnim berdekatan dengan appanya ?
_TBC_
.
.
.
Thank's To ::
Gysnowers | wonnie | park minim | Cindyshim | tarry24792 | ita-chan |bumranger89 | Gaemgyu92 | Sung Hye Ah | reaRelf | heewonbum | MinnieBunny Lurv | kyurielf | min190196 | Brigitta Bukan Brigittiw | mayasiwonest. everlastingfriends | Princess kyumin | guest | bryan ryeohyun | Love Sibumppa | El Lavender | hee-yha | Andreychoi | Nina317Elf | Choi haemin | ndah. ddocghiel1 | sellinandrew | dindaR | SB. killersmile8687 | HIME 'SIBUM' SHIPPER | Caxiebum | najika bunny | Qhia503 | Seo Shin Young | Hikmajantapan | pratiwirahim | misskyu0604 | aniimin | indah yunjae | Reiini | anin arlunerz | BoPeepBoPeep137 | Baby Kim | zakurafrezee | lyaSiBum | blackwhite28 | mitade13 | lovelybummie | Unieq | Dewi Sestria Putri | meyy-chaan | is0live89 | Sibumxoxo | ~~
Selamat menikmati. Mianhae jika ada beberapa typo atau penjelasan akar permasalahan kurang jelas. Thankssssseuuuuuuu *HUG*
