Flashback *
"Chagi…" Tangannya terulur guna menyentuh pipi mulus seorang yeoja yang tengah berbaring diranjangnya dengan mata terpejam. Kelima jari tangannya menyusuri permukaan wajah cantik istrinya, belahan hatinya,serta ibu dari calon anak yang berada dalam perut buncit Choi Hana.
Bola matanya bergerak dibalik kelopak matanya yang terasa berat untuk dibuka. Rasa nyeri yang berada pada satu titik kepalanya menyebar hingga seluruh tubuhnya. Rasanya ia ingin lebih lama memejamkan matanya agar denyutan rasa sakit yang dirasakan kepalanya berkurang. Namun, yeoja yang semula memiliki nama marga Kim itu memilih melawan rasa sakit yang dialaminya.
Ketika kelopak matanya sedikit demi sedikit terbuka, sepasang mata indahnya langsung disuguhi raut wajah khawatir suaminya. "Siwonnie ~~" ucapnya lirih. Tenggorokannya terasa kering, sehingga ketika mengucapkan nama suaminya dengan penuh kelembutan, Hana masih bisa merasakan tusukan halus menyerang pita suaranya.
Siwon meraih gelas berisi air putih yang terletak di meja kecil dekat ranjang. Satu tangannya yang lain menuntun istrinya untuk duduk. "Minum…" titahnya sembari menempelkan tepian gelas pada bibir istrinya yang terlihat kering.
Yeoja berparas cantik itu menurut. Ia tidak ingin membantah serta membuat suaminya semakin khawatir dengan keadaannya. Satu tegukan air putih berhasil membasahi tenggorokannya. Hingga 3 kali tegukan, Hana menjauhkan bibirnya dari tepian gelas. "Sudah," balasnya saat kedua bola matanya bertemu pandang dengan mata tajam Siwon yang hendak melontarkan protes.
"Apa yang kamu rasakan ? Apa perutmu terasa sakit, chagi ?"
Hana sangat beruntung memiliki suami seperti Choi Siwon. Banyak yeoja diluar sana yang iri kepadanya karena sosok bertanggungjawab Siwon selalu berada disisinya setiap saat. Bahkan saat usia kehamilannya menginjak usia 6 bulan, namja tampan itu selalu siap siaga jika istrinya membutuhkan kehadirannya.
"Tidak ada. Hanya sedikit pusing saja karena tadi aku memaksakan diri untuk bergerak." Tangan kirinya bergerak merapikan rambut suaminya yang terlihat berantakan. Belum lagi kemeja kerjanya yang kusut. Bisa dipastikan ketika Siwon mendapatkan kabar jika istrinya pingsan, namja itu langsung berlari terbirit keluar dari ruang kerjanya dengan wajah luar biasa panik.
Jari telunjuknya menyentil pelan pucuk hidung istrinya. Sedikit gemas dengan sifat keras kepala istrinya. "Sudah aku katakan untuk berhenti melakukan pekerjaan berat. Dokter juga sudah memberimu peringatan untuk bedrest selama seminggu, Choi Hana."
Bibir mungilnya mengerucut imut. Kesal dan jengkel sekaligus karena selalu dilarang untuk melakukan suatu pekerjaan yang menurut dirinya terasa ringan. "Aku hanya menyiram tanaman di halaman rumah. Lagipula, jika bukan aku yang melakukannya, bisa dipastikan semua tanaman hias yang selama ini aku rawat akan mati sia-sia."
"Tapi sinar matahari di musim panas buruk untuk kesehatanmu,Hana." Siwon memainkan punggung tangannya pada pipi bulat istrinya. "Aku akan menyewa tukang kebun selama masa kehamilanmu," sambungnya.
Dengan cepat Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Kita harus belajar menghemat pengeluaran rumah tangga, Siwonnie. Kita harus menabung untuk anak-anak kita kelak."
"Ini demi kebaikanmu – " Telapak tangannya mengusap puncak kepala istrinya penuh dengan rasa sayang. " – dan juga anak kita." Telapak tangannya beralih mengusap perut buncit Hana.
"Baiklah. Kali ini aku mengalah." Bibir yeoja itu melengkungkan senyuman tipis saat Siwon menempelkan salah satu telinganya pada permukaan perutnya. "Tapi kamu harus berjanji akan membantuku membesarkan anak kita hingga tumbuh dewasa."
"Ya. Aku berjanji padamu, Choi Hana." Siwon mengecup lama dahi istrinya. Meresapi aroma kulit kepala yang menusuk hidungnya.
.
.
.
Catch My Heart
chapter 3
.
.
.
Cast : Choi Siwon x Kim Kibum
and little Minho
Rate : T
Genre : Romance, Family, and Humor too ^^
Desclaimer :
I own nothing, except this story.
All Super Junior members belong to GOD and their self.
If you don't like this story or couples, leave this site quitely.
! Genderswitch
.
.
.
"Sajangnim…" Ujung jarinya mengetuk bahu bidang pimpinan perusahaan dengan gerakan amat pelan. Takut jika suara serta ketukan jarinya bisa membuat sosok berwibawa Choi Siwon terlonjak kaget.
"Hana ~~" gumamnya samar. Bibirnya bergerak memanggil nama yeoja yang membawa separuh hidupnya pergi. Pergi dalam keabadian.
"Choi sajangnim…" panggilnya lagi. Kali ini dengan sedikit lebih keras karena sosok sang pimpinan perusahaan sedang dibutuhkan untuk menghadiri agenda rapat harian. Jemari tangannya menjauhi bahu itu ketika Siwon mulai menggerakkan kepalanya yang sengaja ditumpukan pada lipatan kedua lengannya diatas meja kerjanya.
"Ughh ~~" Lenguhan meluncur begitu saja ketika tengkuknya terasa pegal. Siwon mengarahkan telapak tangan kirinya untuk memijat leher bagian belakang.
"M – mianhada, Choi sajangnim." Buru-buru sang sekretaris dengan balutan kemeja sopan membungkukkan tubuhnya karena mengusik istirahat sang pimpinan perusahaan. Tapi karena tuntutan beberapa klien yang sudah menunggu kahadiran Choi Siwon, mau tidak mau dirinya harus mengingatkan agenda rapat sang pimpinan yang tampan.
Siwon sontak membuka matanya yang masih setengah terpejam. Pandangannya ia alihkan pada sosok sang sekretaris yang berdiri beberapa langkah dari kursinya dengan tubuh bergetar. Mata tajamnya menangkap tubuh yeoja dengan balutan kemeja putih itu terus membungkuk kearahnya, serta kepala yang tertunduk dalam.
"Ah, ada apa sekretaris Park ? Apa aku melewatkan jadwal rapat hari ini ?"
Buru-buru yeoja dengan nama Park Young Mi itu menggelengkan kepalanya. "Aniyo, sajangnim. Ada klien yang meminta rapat dimajukan satu jam lebih awal dari jadwal semula."
"Nuguya ?"
"Tuan Song dari Ilsan."
Siwon menganggukkan kepalanya samar sembari merapikan lilitan dasinya. "Jadi aku harus menemui Tuan Song jam berapa ?"
"Jam 2 siang. 30 menit lagi, sajangnim."
"Baiklah. Siapkan berkas pembaharuan kontrak dengan Tuan Song. Aku akan bersiap-siap terlebih dulu selama 10 menit."
"Mianhada, Choi sajangnim."
Suara interupsi dari sang sekretaris membuat kedua alis tebal Siwon menukik naik. Apa dirinya melewatkan hal lain ?
"Ne ?"
"15 menit yang lalu, salah seorang pengajar di playgroup tempat putera Anda bersekolah, meninggalkan pesan untuk Anda." Young Mi membuka buku agenda yang berada dalam genggaman tangannya kemudian menyerahkan selembar kertas note yang berisi pesan salah seorang seonsaengnim yang diperuntukkan bagi pimpinannya.
Selama beberapa puluh detik, Siwon menelaah pesan yang diperuntukkan kepadanya. Berbagai pikiran berkecamuk didalam tempurung kepalanya jika berkaitan dengan buah hatinya. Ia sudah berjanji kepada mendiang istrinya untuk memberikan perhatian lebih kepada Choi Minho.
"Alihkan jadwal rapat atau pertemuan mulai dari jam 4 nanti. Lalu hubungi pihak playgroup, dan katakan jika aku bisa bertemu dengannya."
"Arraseo, sajangnim."
.
.
.
Bel panjang berbunyi menandakan kegiatan belajar – mengajar telah selesai. Bocah-bocah dengan seragam senada berhamburan keluar dari kelas masing-masing dengan wajah ceria. Tentu saja mereka senang karena tidak lagi terkurung didalam kelas lebih lama lagi. Jika diibaratkan dengan kata, maka para murid playgroup itu terlihat seperti burung yang terbebas dari sangkarnya.
Kebanyakan bocah dengan wajah menggemaskan itu akan langsung menghambur memeluk orangtua mereka – yang seperti biasa selalu menjemputnya –. Tapi tidak jarang beberapa bocah malah berlari menuju arena bermain yang berada dihalaman playgroup, mengabaikan keberadaan sosok dewasa yang mengulurkan tangan. Bocah-bocah itu terlihat asyik dengan teman sebayanya tanpa peduli orangtua mereka sudah menunggu lama. Memang benar, dunia anak selalu dipenuhi dengan beraneka macam wahana permainan. Untuk itu, playgroup mulai mengenalkan anak dengan dunia baru melalui arena bermain.
Beberapa seonsaengnim turut mengantarkan anak didiknya keluar dari kelas, sembari memberikan laporan perkembangan harian anak didiknya kepada sang orangtua. Setiap orangtua memiliki hak untuk tau segala hal tentang buah hatinya. Tumbuh kembang seorang anak tidak bisa lepas begitu saja dari orangtua, meski sudah ada tenaga terlatih yang membimbing anak mereka menjejaki dunia baru. Orangtua dan guru saling bekerjasama dalam hal mendorong anak mencapai tugas tumbuh kembangnya.
Sementara salah seorang seonsaengnim populer dikalangan murid playgroup, Kim Kibum, keluar paling akhir dari kelasnya karena terlebih dulu membereskan mainan yang tak tertata rapi sesuai tempatnya. Merupakan hal yang wajar jika tidak semua anak berusia dengan rataan usia 5 tahun tidak betah berlama-lama menghuni bangkunya.
Menjadi tenaga pendidik untuk anak usia dini sudah diimpikan yeoja cantik itu sejak lama. Lingkungan tempat tinggal serta beberapa kerabat dari ayah maupun ibunya yang memiliki anak kecil, membuat Kibum memiliki ketertarikan berlebih dengan dunia anak. Tidak heran jika Kibum akan dengan mudah mendekatkan diri dengan anak didiknya. Tentu saja, ia membutuhkan kesabaran lebih jika harus dihadapkan dengan bocah polos nan menggemaskan itu.
"Seonsaenggg ~~"
Suara imut seorang bocah perempuan yang berdiri beberapa langkah darinya membuat Kibum termenung sejenak, sebelum akhirnya mengukir senyuman hangat pada anak didiknya. "Lee Sungmin. Kenapa belum pulang, hmm ?" Langkah kakinya berjalan semakin mendekati Sungmin yang merapatkan pelukannya pada boneka kelinci kesayangannya.
"Menemani ungg ~~ Minhonnieee ~~" jawabnya dengan suara yang lucu.
Dahi Kibum mengerut mendengar nama anak didik yang baru beberapa hari ini menjadi anggota baru dikelasnya. Karena didorong rasa penasaran yang tinggi, yeoja berpipi bulat itu menarik pergelangan tangan Sungmin lalu mendudukkan bocah itu diatas pangkuannya. "Minho ? Eodiga ?" tanyanya sembari mengelus rambut halus Sungmin.
"Minho cedang ngghh ~~ belmain cama Kyuhyunniee dan Changminnie ~~" Kelima jari tangan Sungmin bergerak menunjuk satu arah – kearea tempat bermain yang berada di halaman playgroup –.
Dari jarak jauh, bola mata cemerlang Kibum menangkap Minho terlihat asyik melihat Kyuhyun dan Changmin berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Kibum menangkap segaris senyum muncul pada bibir anggota baru dikelasnya itu.
Tapi tetap saja Kibum merasa ada satu hal yang membuat dirinya tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang kepribadian Choi Minho. Seorang guru harus memiliki arsip setiap anak didiknya. Sehingga, ketika berada dalam ruang kelas, Kibum mampu memberikan arahan yang sesuai dengan kondisi muridnya.
Latar belakang serta kondisi keluarga setiap murid harus diketahui oleh seorang guru. Tidak boleh satu titik informasi tercecer jika berkaitan dengan seorang anak yang menjadi tanggungjawab guru.
Untuk itu, sebelum bel pulang sekolah, Kibum berinisiatif menghubungi dan membuat janji dengan orangtua Minho. Mengingat pekerjaan ayah Minho yang memiliki jam kerja yang padat, Kibum memilih bertemu orangtua Minho sejak dini.
"Sonsaenggg ~~" Lagi. Suara Sungmin menghentikan lamunan guru muda tersebut.
Kibum mengulas senyum lalu menatap wajah cantik Sungmin yang memandangnya begitu intens. "Ne ?"
"Eomma cudah datang. Aku pulang dulu, Kim seonsaenggg ~~" Bocah menggemaskan itu beringsut turun dari pangkuan gurunya lalu memberikan satu lambaian tangan sebelum berjalan keluar dari pintu gedung playgroup.
Kibum balas melambaikan tangannya pada Sungmin. Sepasang matanya mengamati langkah tergesa bocah perempuan itu ketika menapaki halaman playgroup lalu menghampiri 3 temannya yang masih sibuk bermain sendiri. Terlihat Sungmin menarik ujung seragam Kyuhyun serta Changmin secara bersamaan. Selama ini, Sungmin – Kyuhyun – serta Changmin selalu pulang bersama karena lokasi rumah mereka yang berdekatan.
Sepeninggal Kyuhyun serta Changmin yang sudah ditarik paksa oleh Sungmin, kini hanya menyisakan sosok Minho. Bocah dengan wajah tampan – yang diyakini mengaliri gen ayahnya – nampak terduduk lesu. Bibir tebalnya dimajukan beberapa centi.
"Minhonnie ?" Dalam hitungan detik, Minho membalas tatapan seonsaengnim yang sudah duduk disampingnya. Bibirnya masih terkatup rapat dan membiarkan kepalanya merasakan sentuhan tangan halus sosok cantik Kibum. "Nam adjussi tidak menjemputmu ?"
Sudah beberapa terakhir ini, Kibum melihat Minho dijemput oleh seorang namja paruh baya. Nam adjussi adalah sopir keluarga Choi. Kibum hanya sekali berpapasan dengan sosok sang supir. Itupun ketika Kibum mengantarkan Minho hingga masuk kedalam mobil BMW keluaran terbaru.
Deru suara mesin mobil yang memasuki halaman playgroup langsung mengalihkan pandangan mata Kibum serta Minho.
"Nam adjussieee menjemputku, seonsaenggg ~~" jawabnya setelah mobil BMW mewah berhenti ditengah halaman.
Kibum tersenyum geli. "Arraseo. Cepat pulang dan jangan lupa untuk beristirahat, Minhonnie."
Yeoja dengan balutan dress sopan berwarna pink pucat segera beranjak dari duduknya. Kemudian kedua tangannya diulurkan didepan wajah Minho yang masih terdiam pada posisinya.
"Kajja. Jangan sampai membuat Nam adjussi menunggu terlalu lama."
Suara riang Kibum seolah menghipnotis sepasang mata bulat Minho. Tanpa sadar kedua tangannya menerima uluran tangan sang seonsaengnim. Bibirnya yang semula mengerucut sudah tertarik kesamping, membentuk sebuah senyuman lebar.
Sosok paruh baya Nam adjussi keluar dari mobil dan berjalan tergesa menghampiri Tuan Mudanya. "Mianhada, Kim seonsaengnim. Apa Minhonnie sudah lama menunggu ?"
"Aniyo." Kibum mengibaskan sebelah tangannya didepan wajahnya yang menahan senyuman ketika melihat ekspresi panik sosok namja didepannya.
"Hahhh ~~ Kajja, Minhonnie. Choi halmeoni sudah menunggumu." Satu tangan Nam adjussi terulur didepan wajah Minho.
Mengetahui genggaman tangan Minho semakin erat, yeoja berusia 23 tahun itu menuntun tangan mungil anak didiknya yang berada dalam genggamannya kearah telapak tangan Nam adjussi. "Ingat ucapan seonsaengnim, ne. Istirahat dan jangan lupa belajar. arraseo ?"
Minho menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Neee~~"
Kibum melengkungkan senyuman dibibirnya ketika melihat punggung Nam adjussi serta Minho semakin menjauh dari pandangan matanya. Rasanya ada sebuah dorongan aneh yang membuatnya jatuh hati dengan sosok Minho yang berbeda dengan muridnya yang lain. Minho tidak terlalu banyak bicara ketika didalam maupun diluar kelas.
Kibum belum beranjak dari posisinya saat melihat Nam adjussi menuntun bocah berusia 5 tahun itu memasuki mobil.
"Kim seonsaenggg ~~"
Seolah tau apa yang berada dalam pikiran bocah itu, Kibum segera merentangkan kedua tangannya. Bersiap menerima terjangan bocah tampan yang berlari kearahnya dengan langkah tergesa.
.
.
.
Mata indahnya melirik kedalam cangkir yang berada didepannya. Isinya sudah habis tak bersisa selama hampir setengah jam menunggu kedatangan orangtua Minho. Kibum sepenuhnya sadar dengan resiko yang dapatkan jika membuat janji dengan seorang pimpinan sebuah perusahaan besar, seperti Choi Siwon.
Demi membunuh rasa bosannya karena duduk seorang diri, Kibum mengangkat tangannya tinggi-tinggi ketika melihat seorang waitress berjalan didepan mejanya.
"Ingin memesan sesuatu, Noona ?" Seorang namja muda dengan pakaian bercorak senada dengan beberapa waitress di café tersebut, berdiri disamping meja yang dihuni Kibum.
"Aku memesan segelas cokelat hangat lagi."
"Ah, arraseo." Setelah menuliskan pesanan yang diinginkan Kibum pada selembar note kecil yang dibawanya, sang waitress segera meluncur menuju counter minuman dan meracik pesanan pengunjung café.
Sembari menunggu minuman hangat yang dipesannya, Kibum melemparkan tatapan keluar café yang nampak lalu – lalang manusia berjalan di trotoar jalan. Titik-titik air hujan tertangkap indera penglihatannya. Para pejalan kaki nampak tergesa menyusuri trotoar sempit dengan langkah terbirit. Berharap jika tetesan air dari langit tidak mengguyur tubuh mereka.
Hingga matanya menangkap sosok tinggi menjulang yang terlihat begitu mencolok diantara pejalan kaki yang lain. Sosoknya yang tampan dengan balutan mantel hitam, ditambah tinggi tubuhnya yang berada diatas rata-rata, akan dengan mudah menarik perhatian orang disekelilingnya.
Bertepatan saat sosok tinggi sang pimpinan perusahaan melangkahkan kakinya memasuki café, Kibum segera berdiri dari duduknya. Ia tidak ingin membuat Siwon susah payah mengedarkan pendangannya keseluruh sisi café hanya untuk menemukan sosok mungilnya.
"Mianhae, Kim seonsaengnim. Klienku menahanku berada di ruang rapat," ucapnya dengan nafas terengah. Tetesan air hujan membuat mahkota kepalanya nampak basah.
Mencoba memahami jadwal sibuk sang pimpinan perusahaan, Kibum tersenyum maklum. Harusnya dirinya beruntung karena namja super sibuk seperti Siwon masih mau meluangkan waktu untuk mengetahui perkembangan buah hatinya. "Gwenchana. Saya merasa terhormat karena Tuan Choi meluangkan waktu untuk bertemu."
"Sudah memesan makanan atau minuman, sonsaengnim ?" tanyanya disela kegiatannya mengeringkan wajahnya dengan saputangan yang selalu terselip dibalik jas kerjanya.
Tanpa menunggu jawaban dari sosok sang guru cantik, uluran segelas cokelat hangat yang baru saja disajikan waitress menjadi jawaban secara tak langsung bagi Siwon.
"Tuan ingin memesan makanan atau minuman ?" tawar sang waitress. Kali ini pandangan matanya beralih kepada Siwon yang masih tersenyum kaku.
Melalui ekor matanya, Siwon menangkap cangkir kosong yang berada disudut meja. Sepertinya Kibum sudah lama menunggunya di café.
"Tuan ?"
"Ah – umm – sama seperti yang dipesan Kim seonsaengnim saja."
Waitress itu mengangguk paham. "Baiklah. Satu cokelat hangat. Mohon ditunggu pesanannya, Tuan."
.
.
.
"Jadi, apakah Minho membuat ulah di playgroup ?" tanya Siwon selagi menyeka sudut bibirnya yang meninggalkan setitik cairan cokelat hangat.
"Tidak, Tuan Choi. Sebenarnya Minho cukup baik dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan barunya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu." Kibum memberi jeda sejenak ucapannya untuk mengatur nafasnya. "Hanya saja… Selama beberapa hari ini melakukan observasi kepada Minho, saya sering menangkap Minho melamun. Bahkan ketika dalam kondisi sekelilingnya yang ramai."
Tanpa sadar Kibum melingkarkan kesepuluh jarinya mengelilingi cangkirnya. Seolah ia memiliki firasat buruk yang akan menjadi jawaban dari semua pertanyaan yang berkaitan dengan anak didiknya, Choi Minho.
Bibir merahnya yang dilapisi lipgloss bening terkatup rapat. Dalam suasana yang sedikit kaku karena penjelasannya beberapa menit yang lalu, Kibum menghela nafas terputus-putus. "Mungkin Tuan Choi bisa memberikan sedikit penjelasan mengenai kondisi Minho." Lanjutnya lagi.
"Minho kehilangan sosok eommanya sejak bayi. Istriku, Choi Hana, meninggal saat melahirkan Minho. 5 tahun yang lalu, Kim seonsaengnim." Ekspresi wajah Siwon nampak berbeda. Terlihat sekali kepergian istrinya meninggalkan pukulan telak bagi kehidupannya. "Dan setiap aku ingin mengenalkan sosok pendamping hidup, yang kelak akan menjadi eommanya, Minho selalu menolak. Minho akan menangis histeris setiap aku membicarakan mengenai eomma baru untuknya."
.
.
.
CKLEK
Pintu ruangan berwarna putih itu terdorong dari luar. Menampilkan sosok cantik Kibum yang terlihat letih dan sedikit berjalan terhuyung menghampiri ranjangnya. Satu kenyataan buruk yang berkaitan dengan Minho sudah membuat kepalanya berdenyut sakit. Sekedar membayangkan beban mental yang diterima anak seusai Minho yang tidak mendapatkan figure seorang ibu dimasa pertumbuhannya. Terlebih kesibukan Siwon yang memimpin sebuah perusahaan besar, memastikan satu-satunya uluran kasih sayang yang tersisa kian terputus.
Tangannya melempar secara asal tas selempang yang sengaja ditentengnya sejak menginjakkan kaki di rumahnya. Penat yang menggelayut ditubuhnya benar-benar membuat Kibum ingin segera memejamkan matanya sejenak. Tapi mengingat tubuhnya juga terguyur air hujan, membuat Kibum mendesah kesal.
Dengan terpaksa, Kibum memutar langkah kakinya menuju pintu kamar mandi – yang letaknya berada didalam kamarnya –. Setidaknya Kibum harus membersihkan kotoran yang menempel ditubuhnya. Bukankah lebih baik manusia terlelap dalam tidurnya dengan kondisi fisik yang bersih ? Dan Kibum merupakan tipikal yeoja yang sudah sejak lama menerapkan prinsip kebersihan diri sejak kecil. Tuan dan Nyonya Kim sudah sejak dini mendidik Kibum menjadi pribadi yang disiplin. Jadi, tidak heran jika Kibum jarang sekali melanggar peraturan tak tertulis yang diterapkan keluarganya.
20 menit kemudian…
Kibum keluar dari kamar mandi dengan balutan bathrobe biru muda yang membalut tubuh segarnya. Sedangkan kedua tangannya menggosokkan handuk putih pada rambut panjangnya yang basah.
"Begini lebih baik…" ujar Kibum sembari terus mengeringkan ujung rambutnya yang masih meneteskan butiran air.
CKLEK
Kibum menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar suara derit pintu kamarnya yang terdorong kedalam. Diambang pintu, sosok cantik yeoja paruh baya sudah berdiri sambil menggenggam segelas susu hangat yang masih mengepulkan asap tipis.
Yeoja paruh baya itu adalah ibu dari Kim Kibum, Nyonya Kim. Usianya yang kini menginjak usia 45 tahun tidak membuat kecantikannya mengendur. Jika dibandingkan dengan wajah Kibum, sedikit banyak struktur wajah Nyonya Kim menurun pada Kibum, anak tunggalnya.
"Cepat minum selagi masih hangat, Kibummie…" Tangannya mengulurkan gelas berisi cairan putih itu dan segera diterima dengan senang hati oleh Kibum.
Setelah membasahi tenggorokannya dengan susu hangat buatan eommanya, Kibum tersenyum lembut menerima usapan sayang eommanya. "Gomawo, eomma," ucapnya pelan sebelum mendaratkan kecupan singkat dipipi eommanya.
Nyonya Kim tersenyum geli melihat putrinya sekarang. Sosok Kibum yang dulu sering digendongnya, kini sudah tumbuh menjadi sosok wanita dewasa. Memang benar jika banyak orang mengatakan jika seorang wanita sudah menginjak usia 20-an, maka kecantikan akan benar-benar terpancar sehingga menarik perhatian kaum adam.
Kibum menurut ketika kedua tangan eommanya membimbingnya agar duduk pada kursi yang sengaja diletakkan didepan meja riasnya.
"Rasanya baru tempo hari eomma menggendongmu, Kibummie." Nyonya Kim menempatkan dirinya berdiri dibelakang tubuh anaknya yang duduk berhadapan dengan cermin. Kedua tangannya menggantikan peran tangan Kibum yang mengeringkan rambut basahnya. "Dan sepertinya eomma baru kemarin melihatmu menangis tersedu karena eomma tidak membelikanmu boneka." Masih dengan tangan yang bergerak mengusap puncak kepala Kibum hingga menyentuh ujung rambutnya, Nyonya Kim menatap pantulan wajah cantik anak tunggalnya dari cermin. Sudut bibir yeoja itu sedikit tertarik kesamping.
"Eomma ~~" Kibum menggenggam tangan eommanya kemudian meremasnya pelan.
Dengan dada yang diselimuti perasaan sedih dan bahagia, Nyonya Kim tetap mencoba tersenyum lembut. Mati-matian ia membendung airmata yang sudah terkumpul disudut matanya. Nyonya Kim tidak ingin membuat Kibum menghentikan langkahnya menapaki masa depan.
"Waktu cepat sekali berlalu kan, Kibummie ?" Nyonya Kim mengusap pelan puncak kepala Kibum lalu merundukkan tubuhnya. Bibirnya memberikan kecupan cukup lama sembari menghirup aroma shampoo yang melekat pada kulit kepala putrinya.
Kibum bergegas memutar tubuhnya dan memeluk pinggang eommanya dengan erat. Melihat ekspresi sedih eommanya saja sudah membuat Kibum merasa was-was. "Aku menyayangi eomma. Sangat ~"
Nyonya Kim tertawa lirih. Ia merindukan sisi lain dari Kibum yang begitu manja dan sangat suka memeluknya. "Eomma tau, sayang."
"Malam ini aku ingin tidur dengan eomma, ne ?" Kibum mendongakkan wajahnya lalu dengan sengaja memasang kitty eyes agar keinginannya dituruti.
Yeoja dengan balutan piyama itu tergelak selama beberapa detik. Setelah mampu menguasai rasa geli yang menggelitik perutnya, tangannya terulur kedepan. Meraih dagu Kibum sambil mengelusnya perlahan. "Kamu sudah besar, Kim Kibum. Sebentar lagi ada orang lain yang akan berbaring disampingmu setiap malam."
Kibum dengan sengaja menyembulkan bibir bawahnya. "Kenapa eomma suka sekali menggodaku ?"
"Aish… Hentikan sikap kekanakanmu ini, eoh ! Cepat habiskan susumu dan tidur," titah Nyonya Kim sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Kibum.
Kibum sudah mengangkat gelas yang masih menyisakan setengah isinya, hendak meneguk cairan manis itu lagi. Namun suara eommanya yang masih tertahan diambang pintu membuat bibirnya terkatup.
"Jonghyun sejak tadi menghubungimu. Apa kamu sedang bertengkar dengannya, Kibummie ?"
Kibum dengan cepat menolehkan kepalanya kearah pintu kamar dan segera menggelengkan kepalanya pelan. "Aniyo, eomma."
"Hubungi dia. Sepertinya Jonghyun khawatir dengan keadaanmu."
Setelah sosok eommanya menghilang dibalik pintu kamarnya, Kibum meletakkan gelas berisi susu diatas meja rias. Kakinya berlari tergesa menghampiri tas selempangnya yang teronggok disudut ranjang.
Ketika tangannya mengaduk isi tasnya, Kibum secepat mungkin meraih smartphone berwarna putih miliknya. Kibum menepuk pelan dahinya. Sejak sepulang dari playgroup tadi, ia masih mengaktifkan mode silent sehingga ketika ada telepon atau pesan masuk, tidak disertai dengan suara.
Dan benar saja, ada lebih dari 20 missed calls serta 12 pesan masuk dari orang yang sama. Lee Jonghyun.
_TBC_
.
.
.
Jonghyun lagi Jonghyun lagi /
Salah apa sih cowok cakep seperti Lee Jonghyun selalu jadi orang ketiga dalam hubungan SiBum -_- Maaf yah semuaaaa ~~ Aku Jonghyun biased loh. Tapi entah kenapa suka banget kalo Jonghyun dijadiin sama Kibum. Wajah mereka cocok *ditampol pake bakiak*
Jika ada yang bertanya, kenapa akhir-akhir ini FF SiBum selalu menyisipkan nama Lee Jonghyun ? Mungkin karena faktor muka ganteng hehe… Kibum dan Jonghyun tidak memiliki interaksi apapun didunia nyata. Tapi siapa tau keduanya saling kenal tapi tidak diumbar didepan publik.
