A/N: Hei, hei~ Gimana prolognya? Enggak panjang`kan? Kena troll semua ternyata#plak! Dan ya, saya sedih juga gak bisa ngelanjutin multichap lain*nyenggol Hetalia Class Meeting*, tapi semoga aja yang satu ini bisa kelar sampai tamat- SEMOGA.
Disclaimer: Abang Himaruya (Plis, Bang... Indonesianya ;_;)
Warning: seperti sebelumnya *males nulis**dihajar massa*
.
.
His Name's Arthur
.
Chapter one: Ten Minutes
.
Seekor kelinci bersayap asyik menari-nari mengelilingi seorang pria yang sedang menyesap tehnya di malam bulan purnama. Ia duduk dengan sabit yang dapat melibas sesuatu pada jarak satu setengah meter. Ia terbang di udara. Tanpa pijakan.
Pria itu menatap cangkir tehnya yang hampir habis sambil mendesah. Di sana tersisa genangan berwarna coklat muda yang sama sekali tidak kental. Senyum terukir di wajahnya.
"Mint Bunny, maukah kau mengisi cangkir ini untukku?"
Permintaan itu segera disetujui oleh Mint Bunny. Ia berputar-putar senang dan cangkir itu menjadi penuh kembali. Beberapa detik setelahnya, ia melesat dan bertengger di pundak pria yang asyik melihat cangkir tehnya itu.
'Apakah kau akan meramal, Arthur?'
Arthur tersenyum mendengar suara Mint Bunnyyang samar terdengar. Ia membelai kepala peliharaan kesayangannya itu dengan lembut.
"Tidak, tidak. Aku hanya memastikan kalau pria bernama Gilbert Beilschmidt ini akan mati…" Arthur mengecek arloji kuno yang selalu ia simpan di saku yang ada di dadanya. Ia kembali tersenyum menatap arlojinya. 'Ada apa, Arthur?'
Dengan anggun jari-jarinya menggelitik dan menjelajahi tubuh Mint Bunny yang ditutupi oleh rambut halus yang lebat berwarna hijau kebiru-biruan.
"Tidak ada. Orang bernama Gilbert Beilschmidt itu akan mati beberapa jam lagi."
Telinga Mint Bunny segera menegak. 'Kau serius, Arthur? Sebegitu cepatnya perintah mencabut nyawa datang lagi…'
Arthur hanya tersenyum lagi dan lagi. Ia meluruskan tubuhnya dan terbang melayang menuju salah satu bangunan pencakar langit di Berlin diikuti oleh Mint Bunny. Ia menapakkan kakinya pada sabit tercintanya dan merenggangkan tubuhnya lagi.
"Yah, aku serius. Mereka memang senang membuatku lelah,"
Malaikat maut itu berbalik menuju bulan purnama.
"Dia akan mati kalau saja…"
Mata emerald malaikat maut itu menatap bulan yang kini memasuki fase purnama. Lagi-lagi senyum tersungging di wajahnya yang pucat. Mint Bunny terbang mengitari Arthur dan hinggap di telapak tangan pria itu. Mata Arthur kembali tertuju pada Mint Bunny.
"... kalau saja memang itu yang harus terjadi."
.
.
Foto kelas yang kupasang setelah upacara kelulusan benar-benar membuat dadaku terasa sesak. Tidak, bukan karena aku sedih jika aku tak dapat bertemu mereka lagi. Siapa bilang aku merasa sedih karena kami semua harus berpisah? Tepis segala macam pikiran orang melankolis seperti itu.
Aku merasa sesak karena ada seorang siswi yang sungguh ingin aku dekati, namun aku tidak bisa. Bukan, bukan karena aku pengecut atau apalah itu! Aku adalah seorang pria gentle yang berani mengajak berkenalan para gadis yang kusukai. Lagi pula aku seorang extrovert, bukan introvert.
Yang membuatku tak bisa mengajaknya berkenalan adalah karena begitu banyaknya faktor yang tidak mendukung. Waktu kami selalu salah. Keadaan juga salah. Menu makanan salah. Teman kami salah. Apapun itu semuanya salah.
"Selamat! Kau nyaris berhasil memacari seluruh siswi kelas 3 di SMA ini, Gil!"
Aku masih ingat ketika Francis mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan keberhasilanku (atau kegagalanku?), yaitu nyaris memacari seluruh siswi kelas 3 di SMAku. Sebenarnya ia sengaja merayakannya karena ingin mengejekku yang tidak bisa mendekati (mengetahui namanya saja tidak) seorang siswi dari Hungaria.
Hanya dia seorang saja yang tidak berhasil kudekati, lainnya kulibas sampai tuntas. Betapa menjengkelkannya. Rekor itu tercoreng karena gadis itu. Aku kesal padanya, namun rasa penasaran yang kupendam sejak dulu padanya terus muncul. Aku ingin mengenyahkan perasaan ini sebenarnya, buat apa coba? Kalau intensitas bertemu di sekolah saja jarang, bagaimana dengan sekarang? Sudah pasti mustahil.
Yah, sebenarnya aku sudah melihat wajah gadis itu. Dia cantik, aku mengakuinya. Rambutnya seperti benang-benang emas bercampur coklat karamel yang terpilih. Tubuhnya —aku tidak mesum—ideal, tinggi semampai. Kelopak bunga buatan selalu menempel pada rambut depan bagian kanannya, seakan tumbuh, berkembang, dan mati di sana. Namun sebenarnya aku paling suka matanya. Warna hijau matanya seakan berkilauan ketika terkena sinar matahari.
Aku mendekatinya sejak kelas 3, tepatnya pada akhir semester gasal. Saat itu aku sedang berpacaran dengan… oh, bukan. Aku sudah memutuskan semua pacarku supaya lebih fokus pada gadis ini. Entah berapa kali aku bertemu dengannya, mungkin hanya sekitar sepuluh kali. Kenapa jarang bertemu? Itu karena ia selalu muncul di tempat yang tak terduga, seperti UKS, toilet pria (aku tak tahu apa maksudnya ia sampai nyasar ke toilet pria), taman bunga, kelasku (aku tidak menduganya karena aku sering keluyuran), dan tempat 'aneh' lainnya.
Setiap kali aku menantinya dan ada minat untuk bertemu, ia tidak pernah berhasil kudapatkan. Namun ketika aku tak memikirkan dia sama sekali, dia bisa saja berdiri atau sekedar lewat di hadapanku dan aku hanya… speechless. Aku terpana akan kecantikan paras tubuhnya.
"Kak…"
Suara Ludwig menyadarkanku dari lamunan panjang.
"Kenapa? Ada yang kau perlukan?" Aku menengok dan menatap langsung matanya. Ludwig segera menggeleng pelan. Aku menggerakkan kepalaku, mengisyaratkan supaya ia bilang saja hal yang sebenarnya dengan simpel.
"Sebenarnya aku ingin minta kakak untuk menyetir mobil dan mencarikan buku-buku untuk anak kelas 3 yang sekarang. Aku dengar kurikulum sudah berganti lagi…" Ludwig berujar dengan wajah memohon. Yah, apapun boleh untuk adik tersayangku ini.
"Ludwiiig sayaaang… berikan aku daftar belanjaan dan aku akan melesat secepat angin!" Aku menyombongkan diri sambil mengulurkan tangan, meminta daftar belanjaan yang harus kupenuhi. Sambil mendesah lega Ludwig menyodorkan secarik kertas berisi daftar belanjaan yang ia perlukan. Aku membacanya sekilas dan tersenyum.
"Sip! Aku pergi dulu!"
Dan hal terakhir yang kudengar adalah teriakan Ludwig yang memohon agar aku lebih berhati-hati.
.
.
"Buku fisika sudah… kimia sudah… matematika… umm…" Aku mengabsen daftar belanjaan itu dan mencoba mencocokkan ciri buku yang telah disebutkan dengan telaten oleh Ludwig. "Oke. Sudah semua! Aku memang heba—"
Kata-kataku terpotong ketika melihat sekilas rambut brunette itu. Tepat berdiri di depan toko buku ini. Sial, lagi-lagi tubuhku tak dapat kugerakkan.
Gadis itu menoleh padaku dan kami saling bertatapan. Kontak kilat tersebut sungguh mengejutkanku sehingga tanpa sengaja kakiku melangkah ke belakang. Ia segera bergegas pergi sebelum aku kembali pada realita. Rupanya ia lincah juga, namun sekali ini aku tidak akan melepaskannya. Aku sudah mati-matian mengejarnya dan aku harus mendapatkannya, sekali ini atau tidak perlu untuk selama-lamanya.
Ini kesempatan terakhirku.
Aku segera menghentakkan kakiku dan berlari dengan kencang menembus kerumunan orang banyak. Sial, cepat sekali ia menghilang. Jika saja ia tak selincah ini, aku pasti mendapatkan gelar playboy sejati itu. Tanpa kusadari bibirku berkomat-kamit tak jelas saking terobsesinya pada perempuan itu.
"Elizaveta!"
Aku terhenti mendengar suara itu. Bukankah itu suara adik Willem, si Bella?
Siapa itu Elizaveta?
Aku terhenyak kembali ketika tersadar bahwa gadis yang kukejar tadi berbalik arah dan melangkah mendekatiku; tepatnya orang di belakangku. Mein Gott… dia cantik sekali, ya Tuhan. Aku dapat merasakan darahku mendidih dan wajahku memanas ketika ia berjalan makin dekat denganku… makin dekat… sangat dekat. Tubuh kami nyaris bersentuhan dan oh, aku dapat mencium wangi parfumnya yang membuat dadaku ingin meledak. Aku baru pertama kali merasakan perasaan aneh ini. Rasa aneh yang membuatku bahagia.
Apa ini… cinta?
Bisa jadi. Mungkin karena sudah terlalu lama mengejarnya, aku dapat sekalian belajar cara mencintai seseorang. Ya, aku menarik nafas sejenak. Aku yakin ini cinta. Aku tak dapat menahan senyumanku keluar. Memang aku mencintainya—
Dor.
Aku dapat melihat tubuh Elizaveta ambruk seketika.
"Ada orang yang tertembak! Cepat! Gadis ini! Gadis berambut coklat ini!"
Apa-apaan ini.
"Berhenti bergerak! Ini perampokan! Jika ada yang bergerak akan langsung kutembak!"
"Kemari Peter! Jangan kemana-mana!"
Aku bahkan belum mengajaknya bicara.
"Elizaveta!"
"Aku bilang berhenti bergerak!"
Kenapa semuanya gaduh?
"… Eliza…"
Kenapa suara Bella terdengar sungguh menyakitkan?
"… Pendarahannya parah sekali…"
"Banguuun! Bangun, Eliza!"
Apa dia tidak bisa bangun?
"Buat apa kau risaukan itu, nona? Jelas saja dia akan mati!"
"Mama… mama… kakak itu berdarah banyak…,"
"Eliza…"
Mati? Dia? Gadis yang kunanti sejak dulu?
.
"ARGH!"
Aku menghajar pria yang membawa senjata api itu menggunakan segenap kekuatanku dengan penuh amarah.
"SIALAAAAAN!"
.
Arthur menonton kejadian itu dengan wajah datar. Sesekali ia melirik arloji kunonya sambil mendesah. "Kalau begini aku bisa mencabut dua nyawa," desahnya sambil memangku wajah pada telapak tangannya. 'Tidak boleh, Arthur. Kau hanya boleh menjemput pria bermata merah itu,' Suara Mint Bunny samar terdengar. Arthur terkekeh. Ia membelai kepala Mint Bunny.
"Baik, baik… bagaimana kalau kita melihat dulu? Sedang seru, nih."
.
"Gilbert!"
Aku tak mau berhenti menghajarnya. Aku ingin mematahkan semua tulangnya, aku ingin memecahkan kepalanya, aku ingin melihatnya mati dengan penuh sengsara, aku ingin membunuh orang ini. Aku ingin dia mati—
Dor.
Apa… dia menembakku…?
Waktu seakan melambat ketika aku mulai merasakan betapa derasnya darah mengucur dari dadaku. Aku dapat melihat jelas wajah Bella yang sangat ketakutan. Bukan, bukan hanya Bella… bahkan mereka semua yang ada di sekitarku…
… apa justru aku yang akan mati?
.
Rambut pirang sang malaikat maut Britania Raya itu terlihat melambai pelan terkena hembusan angin sepoi. Dengan sigap Arthur merengkuh gagang sabitnya yang hitam dan melayang pelan-pelan.
"Berarti benar-benar akan tepat sepuluh menit…" desis Arthur pada diri sendiri. Singgungan senyum terukir di wajahnya.
"Baik, Mint Bunny… bersiaplah…"
.
Sialan.
Aku pikir aku akan berhasil. Apa-apaan ini… nafasku terasa sangat berat. Nyeri di dadaku terasa tak tertahankan. Seluruh tubuhku kesemutan. Darah, darah melumuri dadaku yang bidang.
Aku hanya dapat melihat samar, namun kenapa… kenapa raut wajah mereka masih sama seperti tadi? Tak bisakah mereka ubah raut itu? Aku tidak selemah itu! Aku tak akan mati di sini!
Dengan segenap kekuatan aku berusaha melirik ke samping.
Hmm… jika aku dapat tersenyum sekarang, aku akan tersenyum, lebar sekali. Jika aku boleh menangis, aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Mataku baru saja melihat pemandangan yang sungguh indah.
Gadis itu… gadis itu sudah sadar dan menerima perawatan pertama. Aku bersyukur gadis Hungaria itu kini sudah sadar. Rupanya ia tertembak pada bagian bahu. Sekarang ia mendekam dalam ambulans dengan wajah trauma. Meski begitu, aku bersyukur dapat melihat wajahnya yang ayu itu dan tentu saja… mata hijaunya yang bercahaya.
Tiba-tiba matanya menatap langsung pada mataku. Tatapannya menghujamku. Apa… kenapa matanya seakan kesakitan begitu? Seketika itu juga ia mendekap kedua tangannya dan… menangis?
Dia… menangis?
Samar-samar aku melihat Bella melangkah mendekatiku. Apa yang dia inginkan?
Dengan wajah bersimbah air mata ia mendekatkan bibirnya pada telingaku.
.
Kaki Arthur menapaki trotoar. Ia melangkah mendekati Gilbert yang terlihat tidak berdaya dikelilingi banyak orang. Tidak masalah, Arthur dapat menembus kerumunan orang itu. Sambil membungkuk ia menarik topinya dan memperkenalkan diri.
"Selamat siang. Aku adalah malaikat maut."
"Namaku Arthur Kirkland."
.
Siapa? Apa?
Arthur… Kirkland? Malaikat maut?
Dia ingin memanggilku? Mana mungkin! Aku hanya terluka kecil begini! Tidak mungkin secepat itu mati! Aku tak mau mati sekarang! Banyak orang yang mencintaiku dan mereka membutuhkanku! Aku tak mau mati! Aku yakin ia hanya sekedar lewat, lagi pula aku masih ingin mendengar ucapan Bella.
.
Arthur meraih catatan kecil dari saku di celananya. Ia termenung sambil melihat arlojinya.
"Hari ini, pukul 15.33, di sini, saya harus menjemput Anda. Sudah saatnya anda pergi… Gilbert Beilschmidt,"
.
Aku merasakan bulir-bulir air mata keluar secara perlahan dari mataku ini. Aku tak bisa mempercayai ucapannya…
Benarkah… benarkah hal itu yang ia katakan? Apa aku tak salah dengar?
Tuhan…
Aku tak tahu mau melakukan apa lagi.
.
Arthur melangkah mundur. Ia melirik kanan dan kirinya seakan menghitung pada ketukan berapa ia akan menebas sabitnya.
Satu, dua, tiga…
Cukup. Sekaranglah saatnya.
Ia menebaskan sabitnya pada tubuh Gilbert.
.
"Namanya Elizaveta Hedervary… ia hanya tak terlalu percaya diri untuk berteman denganmu…"
Aku merasakan suatu getaran hebat menerjang tubuhku. Aku benar-benar menangis sekarang.
.
Merasa sudah cukup, Arthur berjalan mundur diikuti oleh Mint Bunny.
"Sekarang kita tinggal menunggu saja,"
.
"Ia sayang padamu, Gil."
Aku tak mampu menahannya lagi. Aku tak mampu menahan senyuman ini keluar, namun aku juga tak dapat membendung air mata ini. Aku hanya ingin mengucapkan beberapa kata lagi, namun rasanya sulit sekali. Segera aku menggerakkan jari-jariku dengan sedikit paksaan dan kubuat simbol hati tepat di dadaku. Aku harap Bella mengerti karena tangisannya semakin deras setelah membaca arti simbol itu.
Kali ini aku hanya dapat merasakan air mata Bella makin deras menghujaniku.
Dalam sepersekian detik, kesadaranku perlahan-lahan menghilang.
Mereka semua, Elizaveta, Bella, malaikat maut sialan itu…
Hilang.
.
Arthur menjabat tangan Gilbert dengan penuh hormat. Mata keduanya saling beradu. Tanpa dikomando Gilbert tertawa, membuat Arthur kebingungan.
"Kenapa Anda tertawa?" tanya malaikat maut itu keheranan. Tangan Gilbert menyapu air mata yang keluar dari mata merahnya sambil menunjukkan senyum khasnya.
"Tidak apa… aku hanya kaget akan keformalanmu…"
Arthur mendengus. "Memang harus begitu. Kalau tidak, belum tentu arwah yang akan dipanggil mau pergi denganku."
Mendengar ucapan Arthur membuat Gilbert tertawa sekencang-kencangnya. "Waha! Serius, nih?"
Arthur mendengus menanggapinya. Malaikat maut itu berbalik dan menatap kerumunan orang yang sedang berkumpul. "Apa ada pesan terakhir yang dapat saya sampaikan?"
Gilbert tersenyum sembari menengok ke arah ambulans yang memuat Elizaveta. Sesaat ekspresinya menjadi hampa, namun segera berubah menjadi seperti biasa lagi.
"Yah, aku sudah menyampaikannya, sih. Bella pasti mengerti maksudku, hanya saja aku kesal…" jelas Gilbert sambil memonyongkan bibir. Mata hijau Arthur seketika mendelik pada lelaki itu. Sang pria Jerman tersebut dapat menangkap maksud tatapan itu.
"Well… aku kesal karena aku tak dapat menemaninya selama ia hidup dan aku hanya bertemu dengannya selama sepuluh menit… dan dia harus menyaksikanku mati… itu—"
Mata mereka saling bersinggungan.
"Menyakitkan, ya?" Arthur memotong omongan Gilbert. Pria berambut putih itu tertawa-tawa seraya menyikut tulang rusuk Arthur. Kontak itu sudah cukup untuk membuat Arthur mengeluarkan umpatannya.
"Sialan! Aku tidak mau mengurusi roh sepertimu la—"
'Arthur… tugas!'
Segera Arthur menghentikan omongan kasarnya. Mint Bunny hinggap di kepala tuannya yang naik pitam itu dan mengepakkan sayapnya, meminta Arthur segera mengajak Gilbert pergi ke alam sana. Arthur mengangguk setuju pada Mint Bunny.
"… Maaf…"
Gilbert terdiam sejenak dan kembali tersenyum. Arthur menatap senyuman tulus pria Jerman tersebut dan merasa bersalah. Seharusnya ia menghibur orang itu, bukannya justru berbicara kasar.
"Oh, ya… soal omonganmu tadi… omong kosong. Dalam sepuluh menit itu anda sudah menjadi seorang pahlawan. Aku yakin akan banyak orang yang mau mengenang anda. Anda juga dapat menemani perempuan itu, hanya saja anda tak dapat melakukan apapun," jelas Arthur sembari merapikan pakaiannya.
Sesekali ia melirik Gilbert yang terlihat agak kaget mendengar ucapannya. "Hmm…" Arthur mendesah dan segera menarik tangan Gilbert. Pria Jerman itu tercekat.
"Kita pergi? Jadwalku padat!" gerutu Arthur seraya menengok pada Gilbert dengan tatapan bertanya. Gilbert terdiam dan menyunggingkan senyum yang berubah menjadi tawa kencang seraya melangkahkan kakinya.
"Tentu, aku sudah tenang sekarang. Kenapa tidak?"
.
.
Chapter 1: End
HYAAAA! Halo semua! Sebuah kisah sad dari multichap ini (Tapi emang ff ini dirancang se-sad-sad-nya :P ) Saya mau curcol, saya sekarang lagi suka sama CSI :P Naksir berat sama penyelidikan itu. #digampar
Oke, sisanya tunggu ya :P dimohon reviewnya~
